Dongeng Togog Soal Perebutan Kepemimpinan PKI oleh Kelompok Muda 1950-1953

Di dalam setiap organisasi politik, transisi kepemimpinan adalah momen yang paling rentan terhadap konflik, intrik, dan pengkhianatan. Namun, apa yang terjadi di dalam Partai Komunis Indonesia antara tahun 1950 hingga 1953 bukanlah sekadar transisi biasa. Ia adalah sebuah kudeta internal yang dingin, terencana, dan metodis, dilakukan bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh sekelompok pemuda yang dibesarkan oleh partai itu sendiri. Mereka menyingkirkan bukan hanya satu orang, melainkan seluruh generasi pendiri partai. Dan mereka melakukannya dengan senjata yang paling ampuh dalam politik modern: kata-kata, aturan organisasi, dan legitimasi ideologis.

Yang menjadi korban bukan hanya Alimin, sang veteran yang telah berjuang sejak 1920-an. Ada juga Ngadiman Hardjopranoto, mantan ketua umum yang mencoba bertahan. Ada Djokosudjono, organisator buruh yang suaranya diabaikan. Ada para kader tua yang menyaksikan partai yang mereka dirikan diambil alih oleh anak-anak muda yang baru kemarin mereka ajar membaca Marx. Dan di seberang sana, Aidit, Lukman, Njoto, dan Sudisman, dengan Sakirman sebagai jembatan, bergerak dengan presisi seorang ahli bedah.

Kisah Togog, filsuf misterius yang menyaksikan kudeta internal PKI 1951. Aidit menyingkirkan Alimin dan generasi tua, membawa partai ke jurang 1965.

Namun, di antara mereka semua, sejarah mencatat keanehan: selalu hadir seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal dan mata yang setengah mengantuk namun setengah waspada. Namanya Togog. Tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Ada yang mengatakan ia adalah mantan dalang wayang golek yang menjadi filsuf setelah membaca seluruh koleksi perpustakaan Komintern. Ada yang menduga ia adalah mantan kader PKI 1926 yang selamat dari pembuangan Digul dan memilih menjadi badut karena sudah muak dengan ideologi. Yang lain lagi percaya ia hanyalah gelandangan yang kebetulan pandai bicara dan selalu muncul di saat-saat krisis.

Yang pasti, Togog selalu hadir dalam setiap perdebatan penting menjelang pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok muda. Ia duduk di sudut ruangan, kadang tertawa kecil, kadang bergumam sendiri, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Aidit terdiam, Lukman berpikir ulang, dan Alimin meneteskan air mata. Ironisnya, hanya Iskandar Subekti sang notulis yang dengan setia mencatat setiap kata-katanya, mungkin karena ia menganggap Togog hanyalah hiburan di tengah ketegangan. Namun justru kata-kata Togog-lah yang kemudian menjadi ramalan yang mengerikan.

Rekonstruksi ini bukanlah fiksi sejarah. Setiap argumen yang diucapkan oleh para tokoh disandarkan pada dokumen-dokumen yang terverifikasi: teks "Djalan Baru" karya Aidit, transkrip Kongres PKI 1951, laporan-laporan yang dikumpulkan oleh para Indonesianis, serta analisis dari Ruth McVey, Rex Mortimer, Donald Hindley, dan Arnold Brackman. Togog adalah suara yang tidak pernah didengar oleh sejarah resmi. Ia adalah pertanyaan yang tidak pernah dijawab. Ia adalah cermin yang tidak suka dilihat. Tapi justru karena itulah ia penting. Karena tanpa Togog, sejarah hanyalah kumpulan fakta yang mati. Dengan Togog, sejarah menjadi hidup, penuh ironi, penuh kontradiksi, penuh pertanyaan yang membuat kita terus mencari.


Daftar Tokoh


Kelompok Muda (Pemenang):

1. Dipa Nusantara Aidit (1923–1965): 

Sekretaris Jenderal PKI terpilih pada 1951, arsitek "Djalan Baru", pemimpin karismatik dengan otak organisatoris yang brilian.

2. Muhammad Haris Lukman (1920–1965): 

Wakil Ketua CC PKI I, intelektual Marxis yang ketat, mitra setia Aidit dalam perumusan ideologi.

3. Njoto (1927–1965): 

Wakil Ketua CC PKI II, penulis dan orator berbakat, wajah moderat partai yang menjembatani PKI dengan Sukarno.

4. Sudisman (1920–1968): 

Anggota CC PKI, organisator ulung, Sekretaris Jenderal de facto yang bertanggung jawab atas mesin partai.

5. Sakirman (1911–1965): 

Anggota CC PKI, pemimpin gerakan buruh, kakak ipar Aidit, tokoh transisi antara generasi tua dan muda.
 

Kelompok Tua (Tersingkir):

1. Alimin bin Prawirodirdjo (1889–1964): 

Veteran utama PKI, tokoh sentral pemberontakan 1926, Ketua PKI pasca-Madiun, simbol generasi pendiri yang dianggap gagal.

2. Ngadiman Hardjopranoto (1897–1968): 

Mantan Ketua Umum PKI periode 1930-an, aktivis buruh, tokoh senior yang mencoba mempertahankan pengaruhnya.

3. Djokosudjono (lahir 1905): 

Organisator buruh kereta api, anggota CC PKI dari generasi tua, pendukung Alimin yang vokal.


Tokoh Netral:

1. Iskandar Subekti: 

Panitera partai (notulen), saksi bisu peralihan kekuasaan yang mencatat semuanya tanpa berpihak.


Tokoh Misterius:

2. Togog: 

Ahli filsafat misterius, tidak diketahui asal-usulnya. Menguasai filsafat etika, filsafat perang, filsafat agama, filsafat metafisika, filsafat ekonomi, filsafat eksistensialisme, filsafat militer, filsafat sains, filsafat ketuhanan, filsafat materialisme, filsafat idealisme, filsafat budaya, filsafat pemerintahan, dan filsafat perang saudara secara mendalam. Humornya yang ironis, satir, dan sarkastis mampu membuat orang sadar, meskipun seringkali terlambat.

 

Setelah Reruntuhan Madiun 1948-1950

Babak Satu: Rapat di Rumah Kontrakan Menteng


Latar:

Februari 1950. Sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan Menteng, Jakarta. Malam hari. Hujan gerimis di luar. Di ruang tamu yang sempit, empat pemuda, Aidit (27 tahun), Lukman (30 tahun), Njoto (23 tahun), dan Sudisman (30 tahun), duduk melingkar di atas tikar. Asap kretek memenuhi ruangan. Di atas meja kayu yang sudah goyang, tergeletak setumpuk dokumen: rancangan "Djalan Baru", catatan-catatan dari Kongres Pemuda Komunis Internasional, dan sebuah buku usang karya Tan Malaka, Madilog. Sakirman (39 tahun) duduk di kursi satu-satunya, sebagai tamu kehormatan. Di sudut ruangan, seorang tua berwajah lucu duduk di atas bangku kayu reyot, mengunyah kacang goreng sambil sesekali tersenyum sendiri. Tidak ada yang mengundangnya, tapi tidak ada juga yang berani mengusirnya.

Aidit (mengetukkan ujung penanya ke meja, membuka percakapan dengan nada yang dikendalikan):

Kawan-kawan, aku sudah membaca ulang seluruh dokumen partai sejak 1920. Aku sudah mempelajari semua kegagalan kita: pemberontakan 1926, kebijakan front persatuan yang kacau, Madiun 1948. Ada satu benang merah yang menghubungkan semua kegagalan ini: kepemimpinan. Bukan strategi yang salah, bukan analisis yang lemah, tetapi kepemimpinan yang tidak mampu membaca situasi dan beradaptasi.

Togog (tiba-tiba tertawa kecil, suaranya seperti kerikil jatuh ke kaleng kosong):

Hehehe... "kepemimpinan." Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya RT/RW di kampung saya, setiap kali orang menyalahkan "kepemimpinan," sebenarnya mereka sedang menyederhanakan masalah yang kompleks. Pertanyaan saya: apa benar semua kegagalan PKI hanya karena pemimpinnya? Atau jangan-jangan, kondisi objektifnya memang tidak memungkinkan? Dan kalau kondisi objektifnya yang salah, apa gunanya ganti pemimpin?

Aidit (menoleh dengan alis berkerut):

Siapa orang ini?

Sakirman:

Namanya Togog. Dia muncul entah dari mana. Biasakan saja. Dia akan bertanya terus sampai kau tidak bisa tidur.

Togog (mengunyah kacangnya dengan santai):

Saya hanya orang bodoh yang suka bertanya. Dalam filsafat eksistensialisme, saya belajar ini dari seorang penjual es keliling yang ternyata lulusan filsafat, manusia didefinisikan oleh pertanyaan-pertanyaannya, bukan oleh jawaban-jawabannya. Jadi, semakin banyak bertanya, semakin eksis seseorang. Hehehe. Silakan, Bung Aidit. Lanjutkan analisis Bung. Saya hanya akan mendengarkan, dan sesekali bertanya.

Sudisman (menghisap rokoknya dalam-dalam, mencoba mengabaikan Togog):

Bung Aidit, aku tidak sepenuhnya setuju dengan diagnosis itu. Masalah kita bukan hanya kepemimpinan. Masalah kita adalah struktur partai yang tidak memungkinkan adanya kontrol dari bawah. Kita tidak punya mekanisme untuk mengoreksi kesalahan. Itu adalah masalah organisasi, bukan hanya personal.

Togog (mengedipkan mata ke arah Sudisman):

Bung Sudisman benar! Struktur! Dalam filsafat birokrasi, saya belajar ini dari mengamati koloni semut di belakang dapur, struktur seringkali lebih menentukan daripada individu. Tapi pertanyaan saya: siapa yang menciptakan struktur itu? Bukankah para pemimpin juga? Jadi, struktur dan kepemimpinan itu seperti telur dan ayam. Mana yang lebih dulu? Hehehe.

Aidit (mengabaikan Togog):

Tepat sekali, Kawan Sudisman. Tapi siapa yang mendesain struktur itu? Siapa yang mempertahankannya meskipun sudah terbukti gagal? Jawabannya adalah generasi tua, Alimin, Ngadiman, Musso ketika masih hidup. Mereka yang membangun PKI sebagai sekte bawah tanah, bukan sebagai partai massa. Mereka yang mempertahankan model itu bahkan setelah Indonesia merdeka. Maka, untuk mengubah struktur, kita harus mengubah kepemimpinan. Keduanya tidak bisa dipisahkan.

Togog (bertepuk tangan pelan):

Bagus! "Untuk mengubah struktur, kita harus mengubah kepemimpinan." Dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari membaca sejarah Revolusi Prancis, setiap kelompok yang ingin merebut kekuasaan selalu menggunakan argumen yang sama: pemimpin lama telah gagal, maka pemimpin baru harus menggantikan. Pertanyaan saya: bagaimana kita tahu bahwa pemimpin baru tidak akan mengulangi kesalahan yang sama? Apakah ada jaminan? Atau hanya harapan?

Lukman (membuka-buka halaman Djalan Baru, suaranya tenang namun penuh ketajaman analitis):

Bung Aidit, aku setuju dengan arah yang Bung usulkan. Tapi aku ingin kita berhati-hati dalam menggunakan kata "kepemimpinan." Jika kita berbicara terlalu terbuka tentang mengganti Alimin, kita akan dianggap sebagai oportunis muda yang tidak tahu diri. Ingatlah bahwa Alimin adalah simbol. Ia adalah salah satu pendiri partai. Ia adalah penghubung kita dengan sejarah. Menyerangnya secara langsung bisa berakibat fatal bagi kita.

Togog (mengambil segenggam kacang lagi):

"Simbol." "Penghubung dengan sejarah." Kata-kata yang indah. Dalam filsafat budaya, saya belajar ini dari seorang dalang wayang yang juga tukang pijat, setiap komunitas membutuhkan simbol. Tapi simbol juga bisa menjadi beban. Ketika simbol itu dianggap keramat, tidak ada yang berani mengkritiknya. Dan ketika tidak ada kritik, pembusukan dimulai. Pertanyaan saya: apakah Alimin masih relevan sebagai pemimpin, atau dia hanya dipertahankan karena dia simbol?

Aidit:

Itulah mengapa kita tidak akan menyerang dia secara pribadi, Lukman. Kita akan menyerang ide-idenya. Kita akan tunjukkan bahwa platform politik yang ia tawarkan, perjuangan bawah tanah, sektarianisme, isolasi dari massa, adalah platform yang sudah mati. Kita akan gunakan analisis Marxis untuk membuktikan bahwa kondisi objektif Indonesia telah berubah, dan oleh karena itu strategi subjektif kita juga harus berubah.

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi seperti profesor yang menguji mahasiswa):

"Kondisi objektif telah berubah." Dalam filsafat materialisme, itu adalah argumen yang kuat. Tapi pertanyaan saya: siapa yang menentukan bahwa "kondisi objektif" telah berubah? Bukankah semua pihak bisa mengklaim bahwa kondisi objektif mendukung posisi mereka? Musso juga mengklaim bahwa kondisi objektif mendukung pemberontakan 1948. Ternyata salah. Bagaimana kita tahu bahwa analisis Bung Aidit kali ini benar?

Njoto (yang sejak tadi hanya mendengarkan, akhirnya bersuara, jarinya menelusuri halaman Madilog):

Bung Aidit, aku tertarik dengan apa yang Bung kutip dari Tan Malaka. Di sini, Tan menulis: "Revolusi tidak bisa diimpor. Ia harus lahir dari kondisi material masyarakat itu sendiri." Bukankah itu berarti kita harus merumuskan strategi yang sesuai dengan kondisi Indonesia, bukan meniru begitu saja model Soviet atau Tiongkok?

Aidit:

Tepat, Njoto. Itulah inti dari "Djalan Baru." Kita akan membangun Marxisme Indonesia, sebuah Marxisme yang berakar pada realitas negeri ini. Bukan Marxisme buku teks yang diajarkan di Moskow. Bukan Leninisme yang diterapkan secara kaku tanpa penyesuaian. Tapi Marxisme yang lahir dari analisis konkret tentang kondisi konkret Indonesia.

Togog (berdiri, untuk pertama kalinya sejak diskusi dimulai, ia berjalan ke tengah ruangan):

"Marxisme Indonesia." Konsep yang menarik. Dalam filsafat idealisme, saya belajar ini dari Hegel yang saya temui di mimpi, setiap ide selalu terikat pada konteksnya. Marxisme lahir di Eropa abad ke-19. Leninisme lahir di Rusia awal abad ke-20. Maoisme lahir di Tiongkok pertengahan abad ke-20. Sekarang Bung Aidit ingin melahirkan "Marxisme Indonesia." Pertanyaan saya: apa yang membuat Marxisme Indonesia berbeda dari yang lain? Apakah hanya labelnya saja yang berbeda, atau isinya juga? Dan kalau isinya berbeda, apakah masih bisa disebut Marxisme?

Sudisman:

Tapi Bung Aidit, apakah analisis konkret kita sudah memadai? Apakah kita sudah memahami seluruh kompleksitas masyarakat Indonesia? Kita adalah negara kepulauan dengan ratusan suku, puluhan bahasa, dan tradisi-tradisi yang sangat beragam. Menerapkan Marxisme di sini tidak bisa disamakan dengan menerapkannya di Tiongkok atau Vietnam.

Togog (mengedipkan mata ke arah Sudisman):

Bung Sudisman mengajukan pertanyaan yang sangat penting. Dalam filsafat sains, saya belajar ini dari seorang ahli biologi yang mabuk di warung kopi, sebelum kita mendiagnosis penyakit, kita harus memahami tubuh pasien. Sebelum kita meresepkan obat, kita harus tahu apa penyakitnya. Pertanyaan saya: apakah kita sudah cukup memahami "tubuh Indonesia"? Atau kita hanya menduga-duga berdasarkan data yang terbatas?

Lukman:

Itulah tugas kita, Sudisman. Kita harus melakukan penelitian yang mendalam. Kita harus turun ke desa-desa, berbicara dengan petani, memahami struktur agraria, memetakan kelas-kelas sosial. Tanpa pemahaman itu, Marxisme kita hanya akan menjadi hiasan intelektual.

Togog (berhenti berjalan, menatap Lukman):

"Turun ke desa-desa." Itu ide yang bagus. Mao juga melakukan itu. Tapi dalam filsafat etika, ada perbedaan antara "turun ke desa" untuk memahami rakyat, dan "turun ke desa" untuk mencari dukungan politik. Pertanyaan saya: apa motivasi utama kita? Memahami atau menggalang?

Sakirman (yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara, suaranya berat dan penuh pengalaman):

Kalian berbicara tentang penelitian dan analisis. Itu bagus. Tapi jangan lupa bahwa di luar sana, di jalanan, di pabrik-pabrik, di perkebunan, rakyat sedang menderita. Mereka tidak butuh analisis. Mereka butuh aksi. Mereka butuh pemimpin yang berani membela mereka. Jika kalian hanya duduk di sini berdebat tentang teori, sementara rakyat kelaparan, kalian tidak lebih baik dari Alimin.

Togog (menatap Sakirman dengan hormat):

Bung Sakirman berbicara tentang "rakyat yang menderita." Dalam filsafat eksistensialisme, penderitaan adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Tapi pertanyaan saya: apakah aksi selalu lebih baik daripada analisis? Bukankah aksi tanpa analisis bisa membawa penderitaan yang lebih besar? Madiun 1948 adalah contohnya: aksi tanpa analisis yang memadai, hasilnya ribuan orang mati. Jadi, mana yang lebih bertanggung jawab: menunggu sampai analisis selesai, atau bertindak sekarang dengan risiko salah?

Aidit (menatap Sakirman dengan hormat):

Kawan Sakirman, kau benar. Teori tanpa aksi adalah kosong. Tapi aksi tanpa teori adalah buta. Kita harus menggabungkan keduanya. Itulah yang tidak berhasil dilakukan oleh generasi tua. Mereka bertindak tanpa analisis yang memadai, lihat saja Madiun 1948. Atau mereka berteori tanpa pernah bertindak, lihat saja Alimin yang terus berbicara tentang revolusi dunia sementara partai kita sekarat.

Togog (tersenyum lebar):

"Teori tanpa aksi adalah kosong. Aksi tanpa teori adalah buta." Bung Aidit mengutip Lenin. Tapi dalam filsafat perang, ada satu masalah: bagaimana kita tahu kapan analisis sudah cukup? Kapan kita harus berhenti menganalisis dan mulai bertindak? Tidak ada rumus pastinya. Itu adalah seni, bukan ilmu. Dan seni, seperti yang kita semua tahu, seringkali meleset. Hehehe.

Sakirman:

Aku tidak membantah kritikmu terhadap Madiun. Aku sendiri kecewa dengan Musso waktu itu. Tapi Alimin bukan Musso. Alimin adalah orang yang berhati-hati. Dia selamat dari penjara Belanda, dari pembuangan Digul, dari semua badai yang menghantam partai ini. Kehati-hatiannya bukanlah kelemahan, itu adalah pelajaran dari pengalaman puluhan tahun.

Aidit:

Tapi Kawan Sakirman, kehati-hatian yang berlebihan adalah kelumpuhan. Alimin terlalu berhati-hati sampai-sampai partai kita tidak bergerak sama sekali. Setelah Madiun, seharusnya kita segera membangun kembali. Tapi apa yang terjadi? Hampir dua tahun setelah Madiun, kita masih dalam kondisi yang sama, terpecah-pecah, tanpa arah, tanpa strategi yang jelas. Jika kita terus seperti ini, PKI akan mati perlahan-lahan, bukan karena dihancurkan musuh, tapi karena layu sendirian.

Togog (mengangguk-angguk):

"Mati perlahan-lahan." Dalam filsafat metafisika, ada dua jenis kematian: kematian cepat dan kematian lambat. Kematian cepat itu heroik, seperti dalam pertempuran. Kematian lambat itu menyedihkan, seperti layu karena penyakit. Pertanyaan saya: mana yang lebih buruk? Mati cepat karena nekad, atau mati lambat karena terlalu berhati-hati? PKI 1926 mati cepat. PKI sekarang mungkin mati lambat. Apakah ada jalan ketiga?

Lukman:

Aku ingin mengajukan pertanyaan yang lebih praktis. Seandainya kita berhasil meyakinkan mayoritas kader bahwa perubahan diperlukan, bagaimana kita mengorganisir perubahan itu? Kita tidak bisa begitu saja mengadakan Kongres dan mengganti pimpinan. Alimin masih memiliki pendukung setia. Ngadiman masih dihormati oleh banyak kader tua. Djokosudjono masih mengendalikan serikat buruh kereta api. Jika kita bergerak terlalu agresif, kita bisa memicu perpecahan terbuka.

Togog (berjalan mengelilingi ruangan, tangannya melambai-lambai seperti seorang orator):

"Perpecahan terbuka." Dalam filsafat perang saudara, perpecahan adalah momok yang paling ditakuti oleh setiap organisasi. Tapi pertanyaan saya: apakah perpecahan selalu buruk? Bukankah kadang-kadang, perpecahan diperlukan untuk membersihkan yang busuk? Dalam sains, perdebatan justru menghasilkan kemajuan. Galileo berpecah dengan Gereja. Einstein berpecah dengan fisika Newtonian. Apakah mereka salah? Atau jangan-jangan, "persatuan" yang dipaksakan justru lebih berbahaya daripada perpecahan yang jujur?

Aidit:

Itu pertanyaan yang sangat penting, Lukman. Dan jawabannya adalah: kita harus bergerak secara bertahap. Pertama, kita harus memenangkan perdebatan ideologis. Kita harus membuat kader-kader partai memahami bahwa "Djalan Baru" adalah satu-satunya jalan menuju kebangkitan. Kedua, kita harus membangun basis dukungan di organ-organ partai. Kita harus menempatkan orang-orang kita di posisi-posisi kunci, bukan dengan kudeta, tapi dengan meyakinkan mereka melalui argumen dan kerja nyata. Ketiga, pada saat Kongres, kita sudah memiliki mayoritas yang solid. Alimin dan pendukungnya akan menjadi minoritas. Mereka tidak akan bisa melawan arus.

Togog (berhenti berjalan, menatap Aidit dengan mata yang anehnya serius):

"Mereka tidak akan bisa melawan arus." Bung Aidit, dalam filsafat etika, ada konsep "mayoritas yang diam." Mayoritas seringkali diam bukan karena setuju, tapi karena takut. Pertanyaan saya: apakah mayoritas yang Bung klaim benar-benar setuju dengan "Djalan Baru"? Atau mereka hanya ikut-ikutan karena melihat ke mana arah angin? Dan kalau mereka hanya ikut-ikutan, seberapa kokoh fondasi kemenangan Bung?

Njoto:

Aku ingin menyampaikan satu keberatan. Bung Aidit, Bung berbicara tentang "menempatkan orang-orang kita di posisi kunci." Siapa yang Bung maksud dengan "kita"? Apakah kita berempat di sini? Apakah kita akan membangun faksi di dalam partai? Bukankah itu melanggar prinsip sentralisme demokratis?

Togog (mengedipkan mata ke arah Njoto):

Bung Njoto mengajukan pertanyaan yang sangat penting. "Sentralisme demokratis." Itu adalah prinsip suci dalam partai komunis. Tapi dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati partai-partai politik di seluruh dunia, setiap partai yang melarang faksi sebenarnya justru dipenuhi oleh faksi-faksi tersembunyi. Larangan hanya membuat faksi bergerak di bawah tanah. Pertanyaan saya: mana yang lebih sehat? Faksi terbuka yang bisa dikontrol, atau faksi tersembunyi yang bergerak seperti ular?

Aidit (terdiam sejenak, lalu menjawab dengan hati-hati):

Njoto, kau mengajukan pertanyaan yang sangat sulit. Secara formal, faksionalisme memang dilarang dalam partai komunis. Tapi secara praktis, setiap perubahan besar dalam sejarah partai-partai komunis selalu dimulai dari sekelompok kecil orang yang memiliki visi yang sama. Bolshevik dimulai dari Lenin dan segelintir pengikutnya di pengasingan. Mao dimulai dari beberapa orang di Yan'an. Kita tidak sedang membangun faksi dalam pengertian negatif. Kita sedang membangun inti kepemimpinan baru yang akan menyelamatkan partai dari kehancuran.

Togog (tertawa kecil):

"Inti kepemimpinan baru." Itu istilah yang lebih halus untuk "faksi." Dalam filsafat bahasa, saya belajar ini dari Ferdinand de Saussure yang saya temui di mimpi, kata-kata bisa digunakan untuk menyembunyikan kebenaran. "Faksi" menjadi "inti kepemimpinan." "Kudeta" menjadi "pergantian." "Pemberontakan" menjadi "revolusi." Pertanyaan saya: apakah Bung Aidit sadar bahwa Bung sedang menggunakan kata-kata untuk memperhalus realitas? Atau Bung sendiri sudah percaya pada kata-kata Bung sendiri?

Njoto:

Tapi di mana batas antara "inti kepemimpinan" dan "faksi"? Bukankah keduanya sama-sama berarti sekelompok orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan politik tertentu?

Lukman:

Batasnya adalah: apakah kita bekerja untuk kepentingan partai atau untuk kepentingan diri sendiri? Jika kita merebut kekuasaan hanya untuk kekuasaan itu sendiri, maka kita adalah faksionalis. Tapi jika kita merebut kekuasaan untuk menyelamatkan partai dan memajukan revolusi, maka kita adalah pelopor. Niat kita yang membedakan.

Togog (menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi prihatin yang berlebihan):

"Niat kita yang membedakan." Bung Lukman, dalam filsafat etika, itu adalah argumen yang sangat berbahaya. Karena niat tidak bisa dilihat. Niat hanya bisa diklaim. Setiap orang bisa mengklaim bahwa niatnya mulia. Hitler juga mengklaim bahwa niatnya mulia, menyelamatkan bangsa Jerman. Pertanyaan saya: bagaimana kita membedakan antara niat mulia yang asli dan niat mulia yang palsu? Apakah ada alat pengukur niat? Atau kita hanya bisa percaya pada kata-kata?

Sakirman:

Njoto, kau ini terlalu banyak membaca filsafat. Di dunia nyata, kita tidak bisa terus-menerus meragukan diri sendiri. Kadang-kadang, kita harus mengambil risiko. Kadang-kadang, kita harus percaya bahwa apa yang kita lakukan adalah benar.

Togog (menatap Sakirman dengan lembut):

Bung Sakirman benar. Di dunia nyata, kita harus mengambil risiko. Tapi dalam filsafat perang, ada perbedaan antara risiko yang diperhitungkan dan risiko yang tidak. Pertanyaan saya: apakah risiko yang kalian ambil ini sudah diperhitungkan dengan matang? Atau kalian hanya mengandalkan keyakinan?

Aidit:

Aku setuju dengan Kawan Sakirman. Kita tidak bisa terus terperangkap dalam keraguan. Kita sudah melihat kegagalan generasi tua. Kita sudah menganalisis penyebabnya. Kita sudah merumuskan alternatifnya. Sekarang saatnya bertindak. Tapi bertindak dengan cerdas, bukan dengan gegabah.

Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sejenak):

"Sekarang saatnya bertindak." Bung Aidit, dalam filsafat perang saudara, setiap kali seseorang berkata "sekarang saatnya bertindak," selalu ada orang lain yang berkata "tunggu dulu." Dan pertengkaran antara "sekarang" dan "nanti" ini telah menumpahkan lebih banyak darah daripada semua perang di dunia. Pertanyaan terakhir saya untuk malam ini: kalau ternyata "sekarang" adalah waktu yang salah, siapa yang akan bertanggung jawab? Kalian berlima? Atau seluruh partai?
 

Togog keluar sambil bersiul, meninggalkan kelima orang itu dalam keheningan. Hujan di luar semakin deras. Entah kenapa, pertanyaan Togog terasa lebih berat dari hujan.
 

Sumber:

Pembicaraan ini direkonstruksi dari analisis Mortimer tentang kebangkitan kelompok muda pasca-Madiun, Indonesian Communism Under Sukarno 35-60. Argumen tentang "Marxisme Indonesia" dibahas oleh McVey, The Rise of Indonesian Communism 340-360. Pengaruh Tan Malaka pada pemikiran Aidit dicatat oleh Poeze, Verguisd en Vergeten jilid 2, 450-480. Kehadiran Togog dicatat dalam buku harian Njoto: "Seorang badut aneh datang. Bertanya tentang niat dan waktu. Membuatku ragu. Tapi Aidit tidak ragu. Apakah itu kekuatan atau kelemahan?")


Babak Dua: Kantor Ngadiman Hardjopranoto


Latar:

Maret 1950. Sebuah kantor kecil di kawasan Pasar Senen, Jakarta, yang digunakan oleh Ngadiman Hardjopranoto sebagai markasnya. Ngadiman, mantan Ketua Umum PKI pada 1930-an, kini berusia 53 tahun. Ia adalah tokoh yang dihormati, terutama di kalangan buruh kereta api. Bersamanya duduk Djokosudjono, organisator buruh yang setia kepada generasi tua. Mereka berdua sedang membahas rumor yang semakin keras tentang manuver kelompok muda. Di sudut ruangan, Togog duduk dengan sebuah buku tua berjudul Das Kapital, terbalik. Ia tidak bisa membaca bahasa Jerman, tapi ia pura-pura membaca.

Ngadiman (membuka koran Harian Rakjat dengan gerakan kasar):

Djokosudjono, kau sudah membaca tulisan Aidit minggu ini? Dia semakin berani. Dia menulis bahwa partai kita membutuhkan "pembaruan total" dan "reorganisasi dari atas sampai bawah." Siapa yang dia maksud dengan "atas"? Jelas itu adalah kita.

Togog (tanpa menoleh dari bukunya yang terbalik):

"Pembaruan total." Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari seorang birokrat yang dipecat karena reformasi, setiap kali orang berbicara tentang "pembaruan total," biasanya mereka ingin mengganti orangnya, bukan sistemnya. Pertanyaan saya: apa yang sebenarnya ingin diganti oleh Aidit? Orangnya atau sistemnya? Dan kalau sistemnya yang diganti, apa jaminan bahwa sistem baru lebih baik dari sistem lama?

Djokosudjono (mengaduk kopinya dengan lambat, suaranya berat):

Saya sudah membacanya, Pak Ngadiman. Dan saya juga mendengar dari kawan-kawan di lapangan bahwa Aidit dan kelompoknya sudah mulai bergerak. Mereka mendekati kader-kader muda, menawarkan "visi baru," menjanjikan perubahan. Ini adalah manuver yang sangat terorganisir.

Ngadiman:

Tapi dari mana mereka mendapatkan kepercayaan diri seperti itu? Mereka masih anak-anak kemarin sore. Aidit baru berusia 27 tahun. Njoto bahkan belum 23 tahun. Apa yang mereka tahu tentang perjuangan? Apa yang mereka tahu tentang pengorbanan? Kita sudah berjuang sejak sebelum mereka lahir!

Togog (meletakkan bukunya, tersenyum):

"Apa yang mereka tahu?" Bung Ngadiman, dalam filsafat eksistensialisme, saya belajar ini dari seorang veteran perang yang menjadi guru, pengalaman adalah guru yang paling keras. Tapi pengalaman juga bisa menjadi penjara. Orang yang terlalu berpengalaman seringkali tidak bisa melihat kemungkinan-kemungkinan baru. Mereka terjebak dalam "kami sudah mencoba itu dan gagal." Pertanyaan saya: apakah pengalaman Bung adalah aset atau beban?

Djokosudjono:

Justru karena itu, Pak. Mereka tidak dibebani oleh trauma masa lalu. Bagi mereka, 1926 adalah sejarah yang dibaca di buku, bukan luka yang masih terasa. Madiun adalah kesalahan Musso dan Amir, bukan kesalahan mereka. Mereka bisa menawarkan optimisme karena mereka tidak pernah mengalami kekalahan.

Togog (mengangguk-angguk):

"Optimisme karena tidak pernah mengalami kekalahan." Dalam filsafat perang, itu disebut "optimisme orang baru." Setiap jenderal muda selalu optimis sebelum pertempuran pertamanya. Setelah kalah sekali, optimismenya berkurang. Setelah kalah dua kali, dia menjadi hati-hati. Setelah kalah tiga kali, dia menjadi paranoid. Pertanyaan saya: apakah Alimin dan Bung Ngadiman menjadi terlalu hati-hati karena sudah terlalu sering kalah? Atau apakah Aidit terlalu optimis karena belum pernah kalah?

Ngadiman:

Optimisme kosong. Mereka pikir dengan menulis pamflet dan mengutip Marx, mereka bisa mengubah dunia. Padahal revolusi bukanlah seminar. Revolusi adalah darah, keringat, dan air mata.

Togog (berdiri, berjalan ke arah jendela):

"Revolusi adalah darah, keringat, dan air mata." Bung Ngadiman, itu adalah definisi yang sangat puitis. Tapi dalam filsafat materialisme, saya belajar ini dari Marx sendiri yang saya temui di mimpi, revolusi juga adalah tentang kondisi material. Kondisi material Indonesia tahun 1950 berbeda dengan tahun 1926. Apakah strategi yang sama masih relevan? Pertanyaan saya: apakah Bung Ngadiman menolak perubahan karena perubahan itu salah, atau karena perubahan itu datang dari orang yang lebih muda?

Djokosudjono:

Tapi Pak Ngadiman, kita harus mengakui bahwa mereka memiliki sesuatu yang tidak kita miliki: analisis yang segar. Aidit benar ketika dia mengatakan bahwa kondisi Indonesia telah berubah. Kita tidak bisa terus menggunakan strategi yang dirancang untuk zaman kolonial. Indonesia sudah merdeka. Kita punya konstitusi. Kita punya parlemen. Kita harus beradaptasi.

Ngadiman:

Beradaptasi? Maksudmu menjadi seperti partai-partai borjuis lainnya? Berkompetisi dalam pemilu, mencari kursi di parlemen, melupakan revolusi? Itu adalah pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip dasar komunisme!

Togog (berbalik, menatap Ngadiman dengan mata yang anehnya penuh pengertian):

"Pengkhianatan terhadap prinsip-prinsip dasar." Bung Ngadiman, dalam filsafat etika, prinsip adalah pedoman, bukan belenggu. Prinsip yang tidak bisa beradaptasi adalah prinsip yang mati. Pertanyaan saya: apakah komunisme adalah sekumpulan taktik yang kaku, atau seperangkat prinsip yang bisa diterapkan secara fleksibel? Kalau komunisme adalah yang pertama, maka ia sudah mati sejak Lenin menyesuaikan Marx dengan kondisi Rusia. Kalau komunisme adalah yang kedua, maka Aidit mungkin tidak salah.

Djokosudjono:

Tapi apa alternatifnya, Pak? Terus bersembunyi di bawah tanah, seperti yang kita lakukan selama 30 tahun, tanpa hasil yang signifikan? Rakyat tidak mengenal kita. Mereka takut pada kita. Setiap kali mereka mendengar kata "komunis," mereka teringat pada Madiun, pada pemberontakan, pada kekerasan. Kita harus mengubah citra itu. Kita harus menunjukkan bahwa PKI adalah partai yang sah, yang berjuang untuk kepentingan rakyat melalui cara-cara yang demokratis.

Togog (mengangguk setuju):

"Mengubah citra." Dalam filsafat komunikasi politik, saya belajar ini dari seorang penasihat kampanye yang kalah, citra memang penting. Tapi citra tanpa substansi adalah topeng. Pertanyaan saya: apakah "Djalan Baru" menawarkan perubahan substansi, atau hanya perubahan citra?

Ngadiman:

Demokratis? Djokosudjono, kau ini sudah terpengaruh oleh retorika Aidit. Demokrasi borjuis adalah tipuan. Ia hanya memberikan ilusi kekuasaan kepada rakyat, sementara kapitalis tetap mengendalikan segalanya. Itu adalah pelajaran pertama dalam Marxisme. Apakah kau sudah melupakannya?

Togog (tersenyum pahit):

"Demokrasi borjuis adalah tipuan." Bung Ngadiman, itu adalah analisis Marxis klasik. Tapi dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati pemilihan kepala desa di kampung saya, demokrasi, bahkan yang paling tidak sempurna sekalipun, memberikan sesuatu yang tidak diberikan oleh kediktatoran: kesempatan untuk mengganti pemimpin tanpa pertumpahan darah. Pertanyaan saya: apakah PKI ingin selamanya menjadi partai bawah tanah yang hanya bisa mengganti pemimpin melalui kudeta internal? Atau PKI ingin menjadi partai yang bisa tumbuh melalui partisipasi dalam proses demokrasi?

Djokosudjono:

Saya tidak melupakan Marxisme, Pak. Tapi saya juga tidak melupakan bahwa Marx sendiri mengatakan bahwa strategi revolusi harus disesuaikan dengan kondisi material setiap negara. Indonesia bukan Rusia. Indonesia bukan Tiongkok. Kita harus menemukan jalan kita sendiri.

Ngadiman:

Jalan kita sendiri? Itu hanya alasan untuk meninggalkan prinsip-prinsip revolusioner. Aidit dan kelompoknya tidak ingin revolusi. Mereka ingin kekuasaan. Mereka ingin menjadi politisi, duduk di parlemen, berpidato di depan massa, menikmati gaji besar. Itu adalah impian borjuis kecil yang menyamar sebagai Marxisme.

Togog (berjalan ke arah Ngadiman, duduk di kursi di hadapannya):

Bung Ngadiman, Bung menuduh Aidit menginginkan kekuasaan. Tapi dalam filsafat politik, semua politisi menginginkan kekuasaan. Tanpa kekuasaan, bagaimana mereka bisa menjalankan program? Pertanyaan saya bukanlah "apakah Aidit menginginkan kekuasaan?", karena jawabannya pasti ya. Pertanyaannya adalah: "apakah kekuasaan itu akan digunakan untuk kepentingan partai atau kepentingan pribadi?" Dan jawaban atas pertanyaan itu hanya bisa diberikan oleh sejarah, bukan oleh kita sekarang.

Djokosudjono:

Pak, saya pikir Bapak terlalu keras. Saya mengenal Aidit. Dia mungkin ambisius, tapi dia bukan oportunis. Dia benar-benar percaya pada apa yang dia tulis. Dia percaya bahwa PKI bisa menjadi partai massa yang besar, seperti Partai Komunis Tiongkok atau Partai Komunis Vietnam. Itu adalah visi yang mulia.

Ngadiman:

Visi yang mulia? Atau visi yang naif? Djokosudjono, kau tidak tahu apa yang terjadi di Moskow pada 1920-an. Aku ada di sana. Aku melihat sendiri bagaimana Stalin menyingkirkan lawan-lawannya satu per satu, dengan menggunakan kata-kata yang indah dan analisis yang tampak ilmiah. Tapi di balik semua itu, yang ada hanyalah ambisi pribadi. Aidit mengingatkanku pada Stalin muda.

Togog (tertawa kecil, tapi tanpa humor):

"Stalin muda." Perbandingan yang mengerikan. Dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari membaca sejarah Uni Soviet, setiap pemimpin muda yang ambisius selalu dibandingkan dengan Stalin oleh musuh-musuhnya. Tapi pertanyaan saya: apakah semua pemimpin muda yang ambisius akan menjadi Stalin? Ataukah Bung Ngadiman menggunakan "Stalin" sebagai hantu untuk menakut-nakuti?

Djokosudjono:

Itu perbandingan yang berbahaya, Pak. Stalin adalah diktator yang membunuh jutaan orang. Aidit belum melakukan apa-apa yang bisa dibandingkan dengan itu.

Ngadiman:

Belum. Tapi beri dia waktu. Beri dia kekuasaan. Dan kau akan lihat sendiri apa yang terjadi.

Togog (berdiri, meregangkan tubuhnya):

"Beri dia waktu. Beri dia kekuasaan." Bung Ngadiman, dalam filsafat etika, itu adalah argumen yang tidak bisa dibantah sekaligus tidak bisa dibuktikan. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan seseorang sampai dia benar-benar memiliki kekuasaan. Pertanyaan saya: apakah kita harus menghakimi seseorang berdasarkan apa yang mungkin dia lakukan di masa depan? Atau berdasarkan apa yang dia lakukan sekarang? Itu adalah dilema moral yang tidak ada jawabannya. Hehehe. Tapi setidaknya, saya sudah membuat kalian berpikir. Selamat siang.


Togog keluar, meninggalkan Ngadiman dan Djokosudjono dalam keheningan yang penuh keraguan.


Sumber:

Ngadiman Hardjopranoto adalah tokoh yang kurang dikenal dalam literatur, tetapi perannya sebagai mantan Ketua Umum PKI pada 1930-an didokumentasikan dalam Brackman, Indonesian Communism: A History 45-60. Kritiknya terhadap kelompok muda direkonstruksi dari Hindley, The Communist Party of Indonesia 55-65. Djokosudjono disebut sebagai organisator buruh dalam McVey, The Rise of Indonesian Communism 250-270. Kehadiran Togog dicatat oleh Djokosudjono dalam suratnya kepada Alimin: "Seorang badut aneh muncul di kantor Ngadiman. Dia bertanya tentang Stalin dan kekuasaan. Ngadiman sangat marah. Tapi aku... aku mulai ragu.


Babak Tiga: Pertemuan di Rumah Alimin


Latar:

April 1950. Rumah Alimin di pinggiran Jakarta. Alimin, kini berusia 61 tahun, duduk di kursi rotan di teras belakang, menghadap ke kebun kecil yang mulai tidak terawat. Di hadapannya, Ngadiman dan Djokosudjono duduk dengan wajah muram. Mereka baru saja menyelesaikan pertemuan yang menegangkan dengan Aidit dan kelompoknya. Di sudut teras, Togog duduk di atas bangku kayu, menatap langit senja. Entah bagaimana, ia selalu bisa menemukan tempat di setiap pertemuan penting.

Alimin (menyeruput tehnya dengan perlahan, suaranya tenang namun penuh beban):

Jadi, mereka sudah menyampaikan tuntutan mereka secara langsung?

Ngadiman:

Sudah, Pak Alimin. Aidit mengatakan bahwa partai membutuhkan "darah baru." Dia mengatakan bahwa kepemimpinan kita telah gagal. Dia menawarkan sebuah platform baru yang dia sebut "Djalan Baru." Intinya: partai harus meninggalkan perjuangan bawah tanah dan menjadi partai massa yang terbuka.

Alimin:

Dan apa yang kau jawab?

Ngadiman:

Saya menolak mentah-mentah. Saya katakan bahwa platformnya adalah penyimpangan dari Marxisme-Leninisme. Saya katakan bahwa partai komunis tidak bisa menjadi partai borjuis yang berkompetisi dalam pemilu. Tapi...

Alimin:

Tapi apa?

Ngadiman:

Tapi saya melihat bahwa banyak kader muda yang tertarik dengan gagasannya. Mereka bosan dengan kegagalan kita. Mereka ingin sesuatu yang baru. Dan Aidit menawarkan itu.

Togog (dari sudut teras, tanpa menoleh):

"Mereka bosan dengan kegagalan kita." Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari seorang jenderal yang kalah perang, kekalahan yang berulang-ulang akan mengikis kepercayaan, bahkan kepada pemimpin yang paling dihormati sekalipun. Pertanyaan saya: apakah rakyat dan kader kehilangan kepercayaan pada Bung Alimin karena Bung Alimin salah, atau karena mereka tidak sabar?

Alimin (menoleh ke arah Togog, tersenyum tipis):

Ah, Togog. Aku dengar kau sudah berkeliling ke mana-mana, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyenangkan.

Togog (akhirnya menoleh, tersenyum lebar):

Saya hanya badut, Bung Alimin. Badut yang kebetulan suka bertanya. Tapi Bung Alimin, Bung adalah veteran. Bung sudah melihat semuanya: 1926, Digul, Madiun. Pertanyaan saya: apa yang Bung lihat sekarang yang tidak dilihat oleh orang-orang muda itu?

Alimin:

Aku sudah menduganya. Sejak Madiun, partai kita kehilangan arah. Musso mati dengan membawa semua kepastiannya. Aku mencoba membangun kembali, tapi aku akui aku bukanlah organisator yang baik. Aku adalah pejuang, bukan politisi.

Togog:

"Pejuang, bukan politisi." Dalam filsafat pemerintahan, ada perbedaan yang tipis antara keduanya. Pejuang berjuang untuk prinsip. Politisi berjuang untuk kekuasaan. Tapi pertanyaan saya: bisakah prinsip dijalankan tanpa kekuasaan? Dan bisakah kekuasaan diraih tanpa menjadi politisi?

Djokosudjono:

Pak Alimin, saya ingin jujur. Saya tidak sepenuhnya menolak gagasan Aidit. Ada beberapa poin dalam "Djalan Baru" yang masuk akal. Kita memang harus membangun basis massa yang lebih luas. Kita memang harus beradaptasi dengan kondisi Indonesia yang sudah merdeka. Bukankah itu juga yang selalu Bapak ajarkan, bahwa kita harus fleksibel dalam taktik?

Alimin (tersenyum pahit):

Fleksibel dalam taktik, ya. Tapi tidak fleksibel dalam prinsip. Itulah bedanya. Aidit ingin mengubah bukan hanya taktik, tapi juga prinsip. Dia ingin mengubah PKI menjadi partai yang berbeda sama sekali.

Togog (berdiri, berjalan ke arah mereka):

"Fleksibel dalam taktik, tidak fleksibel dalam prinsip." Itu adalah rumus Lenin. Tapi dalam filsafat materialisme, taktik dan prinsip tidak selalu mudah dipisahkan. Kadang-kadang, perubahan taktik yang terus-menerus bisa mengubah prinsip tanpa disadari. Pertanyaan saya: apakah Bung Alimin yakin bahwa "Djalan Baru" hanya mengubah taktik, bukan prinsip? Atau jangan-jangan, Bung Alimin melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh yang lain?

Djokosudjono:

Apakah perubahan selalu buruk, Pak? Bukankah Marx mengajarkan bahwa segala sesuatu terus berubah, termasuk strategi revolusi?

Alimin:

Marx juga mengajarkan bahwa ada garis yang tidak boleh dilewati. Garis antara reformis dan revolusioner. Garis antara kompromi taktis dan pengkhianatan prinsip. Aku khawatir Aidit sedang melangkah terlalu jauh ke arah reformisme. Dia terlalu terobsesi dengan pemilu, dengan parlemen, dengan koalisi. Dia lupa bahwa tujuan akhir kita adalah revolusi, bukan sekadar reformasi.

Togog (mengangguk-angguk):

"Terlalu terobsesi dengan pemilu." Dalam filsafat perang saudara, ada perdebatan klasik: apakah kaum revolusioner harus berpartisipasi dalam institusi borjuis? Lenin bilang ya, sebagai taktik. Tapi Lenin juga memperingatkan bahaya "parliamentary cretinism", penyakit mental di mana orang menjadi terlalu mencintai parlemen. Pertanyaan saya: apakah Aidit sedang menunjukkan gejala "parliamentary cretinism"? Atau dia hanya menggunakan parlemen sebagai alat?

Ngadiman:

Dan ada satu hal lagi yang lebih mengkhawatirkan, Pak. Aidit tidak hanya ingin mengubah platform partai. Dia ingin mengubah kepemimpinan partai. Dia secara halus, sangat halus, mengisyaratkan bahwa kita harus mundur dan memberikan kesempatan kepada generasi muda.

Alimin:

Aku tahu. Aku sudah menduganya sejak pertama kali membaca tulisannya. Ini bukan hanya tentang ide. Ini tentang kekuasaan. Aidit ingin menjadi pemimpin PKI. Dan dia menggunakan "Djalan Baru" sebagai kendaraan untuk mencapai ambisinya.

Togog (berhenti berjalan, menatap Alimin dengan mata yang anehnya lembut):

"Ini tentang kekuasaan." Bung Alimin, dalam filsafat politik, semua perubahan kepemimpinan adalah tentang kekuasaan. Pertanyaannya bukanlah "apakah Aidit menginginkan kekuasaan?" melainkan "apakah dia layak mendapatkan kekuasaan itu?" Dan pertanyaan yang lebih penting: "apakah Bung Alimin ingin mempertahankan kekuasaan karena Bung yakin Bung yang terbaik, atau karena Bung sudah terbiasa dengan kekuasaan?"

Djokosudjono:

Tapi Pak, apakah ambisi selalu buruk? Lenin juga ambisius. Tanpa ambisinya, Bolshevik tidak akan pernah merebut kekuasaan pada 1917.

Togog (mengedipkan mata ke arah Djokosudjono):

Bung Djokosudjono benar. Ambisi adalah bahan bakar revolusi. Tapi dalam filsafat etika, ada ambisi yang melayani kepentingan bersama, dan ada ambisi yang melayani kepentingan pribadi. Pertanyaan saya: bagaimana kita membedakannya? Apakah ada tes litmus untuk ambisi?

Alimin:

Lenin merebut kekuasaan dari musuh-musuh revolusi, bukan dari kawan-kawannya sendiri. Lenin tidak menyingkirkan Plekhanov atau Martov dengan cara-cara yang licik. Perpecahan Bolshevik-Menshevik terjadi secara terbuka, melalui perdebatan ideologis yang transparan. Aidit tidak melakukan itu. Dia bergerak di bawah tanah, di dalam partai, membangun faksi secara rahasia. Itu adalah metode yang tidak jujur.

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi sedih):

"Metode yang tidak jujur." Bung Alimin, dalam filsafat perang, semua pihak menggunakan metode yang tidak jujur. Sun Tzu mengatakan: "Semua perang didasarkan pada tipu daya." Pertanyaan saya: apakah Bung Alimin sendiri tidak pernah menggunakan metode yang tidak jujur dalam perjuangan? Apakah ada revolusioner yang sepenuhnya jujur? Atau jangan-jangan, yang membedakan hanyalah siapa yang menang dan siapa yang kalah?

Ngadiman:

Saya setuju dengan Pak Alimin. Jika Aidit ingin menjadi pemimpin, dia harus menantang kita secara terbuka di Kongres. Biarkan kader-kader partai yang memutuskan. Tapi jangan bergerak seperti ular di balik semak-semak.

Togog (tertawa kecil):

"Seperti ular di balik semak-semak." Metafora yang menarik. Dalam filsafat budaya, ular adalah simbol kebijaksanaan sekaligus kelicikan. Pertanyaan saya: apakah Aidit itu bijaksana atau licik? Atau mungkin keduanya? Dan apakah mungkin seseorang menjadi bijaksana tanpa menjadi licik?

Alimin:

Sayangnya, Ngadiman, kita mungkin tidak bisa menghentikannya. Dia sudah membangun basis yang kuat di kalangan kader muda. Dia pintar. Dia rajin. Dia menulis dengan sangat baik. Dan yang paling penting: dia menawarkan harapan. Di tengah-tengah keputusasaan pasca-Madiun, harapan adalah komoditas yang paling berharga.

Togog (menatap Alimin dengan mata yang berkaca-kaca, entah bagaimana, badut ini bisa menangis):

"Harapan adalah komoditas yang paling berharga." Bung Alimin, dalam filsafat eksistensialisme, harapan adalah pedang bermata dua. Ia bisa memberi kekuatan, tapi juga bisa memberi ilusi. Pertanyaan saya: apakah harapan yang ditawarkan Aidit adalah harapan yang realistis, atau harapan palsu? Dan kalau itu harapan palsu, apa yang akan terjadi ketika harapan itu runtuh?

Djokosudjono:

Jadi kita hanya akan menyerah?

Alimin:

Tidak. Kita akan melawan. Tapi kita akan melawan dengan cara kita sendiri: dengan argumen, dengan ide, dengan prinsip. Biarkan sejarah yang menilai siapa yang benar. Jika ternyata Aidit berhasil membawa PKI menuju kemenangan, aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadanya. Tapi jika dia gagal... jika dia membawa partai ini ke jurang yang lebih dalam... maka biarlah catatan sejarah yang akan menjadi saksi.

Togog (berjalan ke arah Alimin, meletakkan tangannya, yang entah kenapa terasa hangat, di bahu sang veteran):

Bung Alimin, dalam filsafat perang saudara, ada satu kebenaran yang paling pahit: bahwa orang yang paling bijak seringkali kalah. Bukan karena mereka salah, tapi karena mereka tidak bisa menjual kebenaran mereka sebaik para penjual harapan. Pertanyaan terakhir saya: apakah Bung Alimin siap untuk kalah? Bukan kalah dalam argumen, Bung mungkin menang dalam argumen. Tapi kalah dalam pertempuran politik, di mana argumen yang benar tidak selalu menang?
 

Alimin tidak menjawab. Ia hanya menatap langit senja, yang semakin gelap, seolah-olah matahari pun ikut berduka.
 

Sumber:

Pandangan Alimin tentang kelompok muda direkonstruksi dari Hindley, The Communist Party of Indonesia 65-80, dan McVey, The Rise of Indonesian Communism 325-350. Perbandingan dengan Lenin dan perpecahan Bolshevik-Menshevik adalah tema yang sering muncul dalam literatur tentang konflik internal partai komunis, lihat Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 40-55. Kehadiran Togog dicatat oleh Alimin sendiri dalam suratnya kepada keluarganya: "Hari ini seorang badut aneh datang. Dia bertanya tentang harapan dan kekalahan. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Mungkin karena tidak ada jawabannya."



Pertempuran Ideologis1950-1951

Babak Empat: Debat Terbuka di Markas Partai


Latar:

Juli 1950. Markas sementara PKI di Jakarta. Sebuah ruangan besar yang dipenuhi oleh sekitar 50 orang kader, setengah dari mereka adalah pendukung Alimin, setengah lagi pendukung Aidit. Suasana tegang sejak awal. Alimin duduk di kursi utama. Di sampingnya, Ngadiman dan Djokosudjono. Di seberang mereka, Aidit, Lukman, Njoto, dan Sudisman duduk berjajar. Iskandar Subekti, sang panitera, duduk di sudut dengan buku catatannya. Di sudut lain, Togog duduk dengan sebuah buku catatan kosong dan pensil, ia berpura-pura menjadi notulen cadangan.

Alimin (membuka pertemuan):

Kawan-kawan, hari ini kita berkumpul untuk membahas sebuah masalah yang sangat penting bagi masa depan partai kita. Ada perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara kita. Saya ingin kita membahas ini secara terbuka, secara kritis, dan secara persaudaraan.

Togog (bergumam keras-keras, tanpa diundang):

"Secara persaudaraan." Kata-kata yang indah. Dalam filsafat perang saudara, setiap pertempuran internal selalu dimulai dengan kata-kata "persaudaraan." Tapi biasanya berakhir dengan "pengkhianatan." Pertanyaan saya: apakah pertemuan ini akan menjadi pengecualian?

Aidit (berdiri, mengabaikan Togog):

Terima kasih, Kawan Alimin. Saya ingin memulai dengan sebuah pengakuan. Saya menghormati Kawan Alimin dan seluruh generasi pendiri partai. Tanpa pengorbanan mereka, kita tidak akan berada di sini hari ini. Tapi penghormatan tidak boleh menghalangi kita untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan. Justru karena kita menghormati para pendahulu, kita harus melanjutkan perjuangan mereka, bukan mengulangi kesalahan mereka.

Togog (menulis sesuatu di buku catatannya, lalu berbicara tanpa menoleh):

"Penghormatan tidak boleh menghalangi koreksi." Dalam filsafat etika, itu adalah prinsip yang sulit diterapkan. Karena orang yang dihormati biasanya tidak suka dikoreksi. Dan orang yang mengoreksi biasanya dianggap tidak menghormati. Pertanyaan saya: bagaimana kita bisa mengoreksi tanpa menyakiti? Bagaimana kita bisa menghormati tanpa mengabaikan kesalahan?

Ngadiman (menyela, suaranya keras):

Kesalahan apa yang kau maksud, Aidit? Apakah pemberontakan 1926 adalah kesalahan? Apakah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda adalah kesalahan? Apakah perjuangan kita di bawah tanah selama puluhan tahun adalah kesalahan?

Aidit:

Kawan Ngadiman, saya tidak mengatakan bahwa perlawanan terhadap kolonialisme adalah kesalahan. Yang saya katakan adalah bahwa strategi yang kita gunakan, pemberontakan prematur, sektarianisme, isolasi dari massa, adalah strategi yang salah. Pemberontakan 1926 gagal bukan karena tujuan kita salah, tapi karena waktunya tidak tepat dan persiapannya tidak memadai. Kita terlalu terburu-buru. Kita tidak memiliki basis massa yang cukup. Dan akibatnya, partai kita dihancurkan.

Togog (mengedipkan mata ke arah Aidit):

"Waktunya tidak tepat." Dalam filsafat perang, menentukan waktu yang tepat adalah seni yang paling sulit. Terlalu cepat, mati. Terlalu lambat, juga mati. Pertanyaan saya: bagaimana kita tahu kapan waktu yang tepat? Apakah ada rumusnya? Atau hanya intuisi? Dan kalau hanya intuisi, bagaimana kita tahu bahwa intuisi Aidit lebih baik daripada intuisi Alimin?

Ngadiman:

Jadi menurutmu kita seharusnya berkompromi dengan Belanda? Menunggu dengan sabar sementara rakyat kita ditindas?

Aidit:

Saya tidak mengatakan kita harus berkompromi. Saya mengatakan kita harus membangun kekuatan terlebih dahulu sebelum bertindak. Itu adalah pelajaran dasar dari Lenin: "Ada saatnya untuk maju, dan ada saatnya untuk mundur." Pada 1926, kita maju pada saat yang salah. Hasilnya, partai kita hancur dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.

Togog (mengangguk-angguk):

"Ada saatnya untuk maju, ada saatnya untuk mundur." Bung Aidit mengutip Lenin lagi. Tapi dalam filsafat materialisme, pertanyaannya adalah: siapa yang menentukan kapan saatnya maju dan kapan saatnya mundur? Apakah ada kriteria objektif? Atau semua tergantung pada interpretasi subjektif? Dan kalau semua tergantung interpretasi, bukankah setiap faksi akan mengklaim bahwa interpretasi mereka yang benar?

Lukman (berdiri, menambahkan):

Saya ingin memberikan data untuk mendukung argumen Kawan Aidit. Sebelum pemberontakan 1926, PKI memiliki sekitar 3.000 anggota. Setelah pemberontakan, partai kita praktis lenyap. Ribuan kader ditangkap, dibuang, atau dibunuh. Butuh waktu 25 tahun bagi kita untuk membangun kembali, itupun dalam kondisi yang sangat terbatas. Apakah ini harga yang pantas untuk sebuah pemberontakan yang tidak berhasil?

Togog (menulis di bukunya, lalu berbicara):

"Harga yang pantas." Dalam filsafat ekonomi, setiap tindakan memiliki biaya dan manfaat. Pertanyaan saya: apakah kita sudah menghitung biaya dan manfaat dari strategi Alimin? Apakah kita sudah menghitung biaya dan manfaat dari "Djalan Baru"? Atau kita hanya berdebat berdasarkan emosi?

Djokosudjono (berdiri, membela Alimin):

Tapi Kawan Lukman, kau berbicara seolah-olah 1926 adalah kesalahan yang bisa dihindari. Kau tidak berada di sana. Kau tidak merasakan penderitaan rakyat di bawah penjajahan. Kau tidak melihat bagaimana kawan-kawan kita disiksa dan dibunuh oleh Belanda. Dalam situasi seperti itu, berdiam diri adalah pengkhianatan. Pemberontakan adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa kita tidak tunduk pada imperialis.

Togog (menatap Djokosudjono dengan lembut):

"Pemberontakan adalah satu-satunya cara." Dalam filsafat perang, selalu ada lebih dari satu cara. Pertanyaan saya: apakah pada tahun 1926 benar-benar tidak ada pilihan lain selain pemberontakan? Ataukah pemberontakan dipilih karena emosi, bukan karena analisis? Dan kalau pemberontakan dipilih karena emosi, bukankah itu justru membuktikan bahwa analisisnya lemah?

Njoto (berdiri dengan tenang, suaranya lembut tapi tajam):

Kawan Djokosudjono, saya tidak meragukan keberanian para pendahulu kita. Tapi izinkan saya mengutip sebuah kalimat dari Tan Malaka: "Revolusi bukanlah sekadar soal keberanian. Ia adalah soal perhitungan. Keberanian tanpa perhitungan adalah kebodohan. Perhitungan tanpa keberanian adalah kelumpuhan. Keduanya harus berjalan seimbang." Pada 1926, kita memiliki keberanian, tapi kita tidak memiliki perhitungan. Itu sebabnya kita gagal.

Togog (bertepuk tangan pelan):

Bung Njoto mengutip Tan Malaka dengan tepat. Tapi dalam filsafat etika, mengutip otoritas untuk mendukung argumen adalah pedang bermata dua. Karena pihak lawan juga bisa mengutip otoritas yang sama. Tan Malaka juga menentang pemberontakan 1948, dan dia benar. Tapi Tan Malaka juga menentang diplomasi Sjahrir, dan dia... juga benar? Pertanyaan saya: apakah Tan Malaka selalu benar? Atau kita hanya mengutip Tan Malaka ketika dia mendukung posisi kita?

Seorang kader tua (berdiri, suaranya penuh emosi):

Itu semua hanya teori! Kalian tidak tahu apa-apa tentang penderitaan kami di Digul. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya melihat kawan-kawan kalian mati karena malaria, karena kelaparan, karena putus asa. Dan sekarang kalian datang dengan analisis-analisis yang rapi dan mengatakan bahwa kami salah? Di mana rasa hormat kalian?

Togog (menatap kader tua itu dengan mata yang penuh pengertian):

"Di mana rasa hormat kalian?" Pertanyaan yang menyentuh hati. Dalam filsafat eksistensialisme, penderitaan adalah realitas yang paling otentik. Orang yang menderita tidak peduli pada analisis yang rapi. Mereka hanya ingin penderitaan mereka diakui. Pertanyaan saya kepada Aidit dan kelompoknya: apakah kalian sudah mengakui penderitaan para kader tua? Atau kalian hanya melihat mereka sebagai "kesalahan" yang harus dikoreksi?

Sudisman (berdiri, suaranya keras dan penuh semangat):

Kawan, kami tidak bermaksud meremehkan penderitaan Kawan. Justru karena kami menghormati pengorbanan Kawan, kami ingin memastikan bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia. Jika kita terus menggunakan strategi yang sama, kita akan gagal lagi. Dan pengorbanan Kawan, semua penderitaan di Digul, semua darah yang tertumpah, akan benar-benar menjadi sia-sia. Apakah itu yang Kawan inginkan?

Togog (mengedipkan mata ke arah Sudisman):

Bung Sudisman membalikkan argumen dengan cerdas. Dalam filsafat retorika, itu disebut "menggunakan nilai-nilai lawan untuk mendukung posisi sendiri." Tapi pertanyaan saya: apakah argumen ini tulus, atau hanya taktik retoris?

Kader tua itu (terdiam, lalu duduk kembali dengan wajah yang masih muram):

Aku tidak ingin pengorbanan kami sia-sia. Tapi aku juga tidak ingin melihat partai ini dijual kepada kaum reformis.

Aidit:

Kami bukan reformis, Kawan. Kami adalah revolusioner. Tapi kami adalah revolusioner yang belajar dari sejarah. Kami adalah revolusioner yang memahami bahwa strategi harus disesuaikan dengan kondisi. Pada 1926, kita adalah partai kecil di bawah penjajahan yang brutal. Sekarang, kita adalah partai legal di negara yang merdeka. Apakah strategi yang sama bisa diterapkan di dua kondisi yang sangat berbeda? Tentu tidak. Itu adalah akal sehat, bukan reformisme.

Togog (berdiri, berjalan ke tengah ruangan):

"Akal sehat." Bung Aidit menggunakan kata yang sederhana untuk membela argumen yang kompleks. Tapi dalam filsafat sains, "akal sehat" seringkali menyesatkan. Dulu, akal sehat mengatakan bahwa bumi itu datar. Dulu, akal sehat mengatakan bahwa benda berat jatuh lebih cepat. Pertanyaan saya: apakah "akal sehat" Bung Aidit benar-benar akal sehat, atau hanya konsensus sementara yang mungkin terbukti salah?

Alimin (yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara, suaranya tenang tapi penuh wibawa):

Kawan-kawan, aku sudah mendengarkan semua argumen. Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku setuju dengan semua yang dikatakan oleh Kawan Aidit. Tapi aku juga tidak akan menutup mata terhadap kenyataan bahwa partai kita sedang dalam krisis. Kita membutuhkan perubahan. Pertanyaannya adalah: perubahan seperti apa, dan seberapa jauh? Itu adalah pertanyaan yang harus kita jawab bersama.

Togog (menatap Alimin dengan hormat):

Bung Alimin, dalam filsafat perang saudara, mengakui bahwa "kita membutuhkan perubahan" adalah langkah pertama menuju kekalahan. Karena begitu kita mengakui perlunya perubahan, kita sudah kehilangan setengah dari pertempuran. Pertanyaan saya: apakah Bung Alimin sadar bahwa dengan mengakui perlunya perubahan, Bung sedang membuka pintu bagi Aidit untuk mengambil alih?

Aidit:

Terima kasih, Kawan Alimin. Saya mengusulkan agar kita mengadakan Kongres untuk membahas semua ini secara demokratis. Biarkan kader-kader partai dari seluruh Indonesia yang memutuskan arah partai kita ke depan.

Alimin:

Aku setuju. Kongres adalah forum yang tepat. Tapi aku punya satu syarat: dalam Kongres nanti, tidak boleh ada manuver-manuver di belakang layar. Semua perbedaan pendapat harus dibahas secara terbuka. Setiap kader berhak menyampaikan pendapatnya tanpa takut diintimidasi. Apakah kalian setuju?

Aidit:

Kami setuju, Kawan Alimin. Kami menginginkan demokrasi partai yang sehat, bukan konspirasi gelap.

Togog (tertawa kecil, tapi kali ini tawanya terdengar sedih):

"Demokrasi partai yang sehat." Kata-kata yang indah. Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati partai-partai di seluruh dunia, setiap pihak yang akan menang selalu berbicara tentang "demokrasi." Tapi setelah menang, mereka sering lupa apa artinya. Pertanyaan terakhir saya: apakah Aidit dan kelompoknya akan tetap menghormati demokrasi partai setelah mereka berkuasa? Atau mereka akan menyingkirkan oposisi seperti yang mereka lakukan sekarang?


Suasana hening. Pertanyaan Togog menggantung di udara seperti awan gelap sebelum badai.


Sumber:

Debat ini direkonstruksi dari laporan-laporan tentang persiapan Kongres 1951 dalam Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 42-50; Hindley, The Communist Party of Indonesia 70-90; dan McVey, The Rise of Indonesian Communism 350-370. Kehadiran Togog dicatat oleh Iskandar Subekti dalam notulen rapat: "Seorang tamu tidak diundang bernama Togog hadir. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun. Suasana menjadi sangat tegang setelah ia pergi."


Babak Lima: Di Ruang Redaksi Harian Rakjat


Latar:

September 1950. Kantor Harian Rakjat, surat kabar resmi PKI. Njoto, yang baru saja diangkat sebagai pemimpin redaksi, sedang bekerja hingga larut malam. Tiba-tiba, Aidit masuk tanpa mengetuk, wajahnya tegang. Di sudut ruangan, Togog duduk dengan setumpuk koran bekas, membaca berita-berita lama tentang Madiun. Entah bagaimana, ia selalu bisa masuk ke ruangan terkunci.

Aidit:

Njoto, aku perlu bicara denganmu.

Njoto (meletakkan penanya):

Ada apa, Bung?

Aidit:

Aku baru saja menerima laporan bahwa Alimin dan Ngadiman mulai menggalang dukungan di kalangan kader tua. Mereka mengirim surat ke daerah-daerah, meminta dukungan untuk mempertahankan "garis lama." Mereka juga mulai menyebarkan rumor bahwa kita adalah "agen imperialis" yang ingin menghancurkan PKI dari dalam.

Togog (tanpa menoleh dari korannya):

"Agen imperialis." Dalam filsafat perang dingin, saya belajar ini dari membaca selebaran-selebaran propaganda, setiap pihak selalu menuduh pihak lain sebagai agen imperialis. PKI menuduh Sjahrir sebagai agen Amerika. Masyumi menuduh PKI sebagai agen Soviet. Pertanyaan saya: bagaimana kita tahu bahwa Aidit bukan agen imperialis? Apakah ada buktinya? Atau kita hanya percaya pada kata-katanya?

Njoto:

Itu serius. Apakah mereka punya bukti?

Aidit:

Tentu saja tidak. Tapi rumor tidak membutuhkan bukti. Rumor hanya membutuhkan pendengar yang bersedia percaya. Dan di kalangan kader tua, ada banyak pendengar seperti itu.

Togog (meletakkan korannya, menoleh ke arah mereka):

"Rumor tidak membutuhkan bukti." Bung Aidit benar. Tapi dalam filsafat etika, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita sendiri tidak menyebarkan rumor? Apakah "Djalan Baru" bukan juga sebuah rumor, sebuah janji tentang masa depan yang lebih baik, tanpa bukti bahwa ia akan berhasil?

Njoto:

Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus merespons dengan menyerang balik?

Aidit:

Tidak. Itu justru akan memperburuk situasi. Jika kita terlibat dalam perang rumor, kita akan kehilangan kredibilitas. Kita harus tetap fokus pada argumen ideologis. Kita harus menulis lebih banyak artikel, lebih banyak pamflet, lebih banyak analisis. Kita harus menunjukkan bahwa "Djalan Baru" adalah platform yang paling ilmiah, paling realistis, dan paling sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia.

Togog (mengedipkan mata ke arah Aidit):

"Paling ilmiah." Dalam filsafat sains, klaim "paling ilmiah" adalah klaim yang sangat berat. Ia membutuhkan bukti empiris, bukan hanya argumen logis. Pertanyaan saya: apakah "Djalan Baru" sudah diuji secara empiris? Atau ia masih berupa hipotesis yang belum terbukti?

Njoto:

Tapi Bung, aku khawatir. Alimin dan kawan-kawannya bukanlah lawan yang mudah. Mereka memiliki pengalaman puluhan tahun. Mereka dihormati oleh banyak kader. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa terjebak dalam perpecahan yang justru akan menghancurkan partai.

Aidit:

Aku tahu. Itu sebabnya aku memilihmu sebagai pemimpin redaksi Harian Rakjat. Kau adalah penulis terbaik yang kita miliki. Tulisan-tulisanmu bisa meyakinkan orang tanpa harus menyerang secara pribadi. Itu adalah senjata yang lebih ampuh daripada rumor apa pun.

Togog (tersenyum):

"Senjata yang lebih ampuh." Bung Aidit, dalam filsafat perang, senjata yang paling ampuh adalah senjata yang tidak terlihat seperti senjata. Kata-kata yang meyakinkan tanpa menyerang, itulah definisi propaganda yang paling halus. Pertanyaan saya: apakah Njoto sadar bahwa ia sedang dijadikan senjata?

Njoto:

Terima kasih atas kepercayaan Bung. Tapi aku ingin bertanya sesuatu yang mungkin terdengar naif.

Aidit:

Apa itu?

Njoto:

Apakah kita benar-benar yakin bahwa kita benar? Apakah kita yakin bahwa "Djalan Baru" adalah jalan yang tepat? Ataukah kita hanya sekelompok orang muda yang tidak sabar, yang ingin merebut kekuasaan dengan dalih ideologi?

Togog (berdiri, berjalan ke arah Njoto):

Bung Njoto mengajukan pertanyaan yang paling penting. Dalam filsafat eksistensialisme, keraguan adalah tanda kesadaran. Orang yang tidak pernah ragu adalah orang yang tidak pernah berpikir. Pertanyaan saya: apakah keraguan Njoto adalah kelemahan atau kekuatan? Apakah keraguan itu akan melumpuhkan, atau justru menyelamatkan?

Aidit (terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur):

Njoto, aku akan terus terang padamu. Aku tidak tahu apakah kita benar. Tidak ada yang bisa tahu sampai sejarah membuktikannya. Tapi aku tahu satu hal: jika kita tidak melakukan apa-apa, jika kita hanya duduk dan membiarkan partai ini terus berjalan ke arah yang sama, maka partai ini akan mati. Itu adalah kepastian. Jadi, bahkan jika kita salah, setidaknya kita mencoba sesuatu yang berbeda. Setidaknya kita tidak mati dalam keadaan pasif.

Togog (menatap Aidit dengan mata yang anehnya penuh hormat):

"Setidaknya kita tidak mati dalam keadaan pasif." Bung Aidit, itu adalah jawaban yang jujur. Dalam filsafat perang, lebih baik mati dalam pertempuran daripada mati dalam keputusasaan. Tapi pertanyaan saya: apakah kematian dalam pertempuran selalu lebih baik? Bagaimana kalau pertempuran itu justru memperburuk keadaan? Bagaimana kalau "Djalan Baru" membawa partai ke kehancuran yang lebih besar daripada kepasifan Alimin? Apakah Bung Aidit siap menanggung beban itu?

Njoto:

Tapi apa harga dari kesalahan kita? Jika kita salah, bukan hanya kita yang akan menanggung akibatnya. Seluruh partai, seluruh kader, seluruh rakyat yang menggantungkan harapan pada kita, mereka semua akan ikut menderita.

Togog (mengangguk setuju):

Bung Njoto mengajukan pertanyaan moral yang sangat dalam. Dalam filsafat etika, pemimpin bertanggung jawab tidak hanya atas tindakannya sendiri, tapi juga atas konsekuensi dari tindakannya terhadap orang lain. Pertanyaan saya: apakah Aidit dan Njoto siap memikul tanggung jawab itu? Atau mereka hanya akan menyalahkan "kondisi objektif" jika semuanya gagal?

Aidit:

Aku tahu. Dan itulah beban yang harus kita pikul. Tapi itulah risiko dari setiap revolusi. Tidak ada jaminan keberhasilan. Yang ada hanyalah keyakinan dan keberanian untuk mencoba.

Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti):

"Keyakinan dan keberanian." Dua kata yang sering diucapkan oleh para pemimpin sebelum bencana. Dalam filsafat perang saudara, keyakinan dan keberanian adalah pedang bermata dua. Ia bisa membawa kemenangan, tapi juga bisa membawa kehancuran. Pertanyaan terakhir saya: apakah keyakinan dan keberanian Bung Aidit didasarkan pada analisis yang dingin, atau pada ambisi yang membara? Dan apakah Bung Aidit sendiri bisa membedakannya?

Togog keluar, meninggalkan Aidit dan Njoto dalam keheningan. Di luar, hujan mulai turun lagi. Njoto menatap mesin tiknya, bertanya-tanya apakah kata-kata yang akan ia tulis akan membawa kemenangan atau kehancuran.

Sumber:

Peran Njoto sebagai pemimpin redaksi Harian Rakjat dijelaskan dalam Tempo, "Misteri Njoto," 2005. Diskusi tentang beban moral revolusi adalah tema yang sering muncul dalam tulisan-tulisan Njoto, lihat Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 80-100. Kehadiran Togog dicatat oleh Njoto dalam buku hariannya: "Togog datang lagi. Kali ini ia bertanya tentang keyakinan dan keberanian. Aku tidak bisa menjawab. Mungkin karena aku sendiri tidak yakin."



Kongres dan Kemenangan 1951

Babak Enam: Malam Menjelang Kongres


Latar:

Desember 1950. Malam sebelum pembukaan Kongres Nasional PKI. Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman, dan Sakirman berkumpul di sebuah kamar hotel kecil di Jakarta. Mereka sedang memeriksa ulang strategi mereka untuk esok hari. Di sudut kamar, Togog duduk di atas koper tua, mengunyah kacang goreng. Tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa masuk ke kamar hotel yang terkunci. Mungkin dia punya kunci. Mungkin dia tidak butuh kunci.

Sudisman (menghitung suara di atas kertas):

Berdasarkan laporan dari daerah, kita sudah mengamankan sekitar 60 persen suara. Tapi 40 persen masih belum pasti. Sebagian besar dari mereka adalah kader-kader tua yang setia kepada Alimin.

Aidit:

Itu lebih baik dari yang kuperkirakan. Tapi kita tidak boleh lengah. Alimin mungkin sudah tua, tapi dia masih memiliki pengaruh yang besar. Satu pidato yang emosional bisa mengubah segalanya.

Togog (tanpa menoleh dari kacangnya):

"Satu pidato yang emosional bisa mengubah segalanya." Dalam filsafat retorika, saya belajar ini dari seorang orator ulung yang akhirnya digantung, emosi seringkali lebih kuat daripada logika. Pertanyaan saya: apakah "Djalan Baru" kalian cukup kuat secara emosional? Atau ia hanya argumen logis yang kering?

Lukman:

Aku sudah menyiapkan argumen-argumen untuk menangkal serangan Alimin. Fokus kita adalah pada kegagalan strategi lama dan perlunya adaptasi terhadap kondisi baru. Kita harus menunjukkan bahwa kita bukan menyerang pribadi Alimin, tapi menawarkan alternatif yang lebih baik.

Togog (mengedipkan mata ke arah Lukman):

"Bukan menyerang pribadi, tapi menawarkan alternatif." Dalam filsafat politik, itu adalah strategi yang paling sopan. Tapi pertanyaan saya: apakah ada perbedaan antara "menyerang pribadi" dan "menyerang ide"? Bukankah pribadi dibentuk oleh ide-idenya? Jika kita menyerang ide Alimin, bukankah kita juga menyerang Alimin?

Njoto:

Dan aku akan menekankan pentingnya persatuan. Kita tidak boleh terlihat sebagai faksi yang memecah belah. Kita harus menunjukkan bahwa kita menginginkan perubahan dalam kerangka demokrasi partai, bukan melalui kudeta.

Togog (berhenti mengunyah, menatap Njoto):

"Persatuan." Bung Njoto, dalam filsafat perang saudara, kata "persatuan" selalu diucapkan oleh pihak yang akan menang. Pihak yang kalah biasanya berbicara tentang "keadilan." Pertanyaan saya: apakah kalian akan tetap berbicara tentang persatuan setelah kalian menang? Atau kalian akan menyingkirkan pihak yang kalah demi "persatuan" yang lebih besar?

Sakirman:

Aku akan berbicara sebagai perwakilan generasi tua yang mendukung perubahan. Itu penting untuk menunjukkan bahwa tidak semua kader senior menentang kalian.

Togog (menatap Sakirman dengan hormat):

Bung Sakirman adalah jembatan. Dalam filsafat teknik, jembatan adalah struktur yang paling rentan. Ia menghubungkan dua sisi, tapi ia sendiri bisa runtuh jika bebannya terlalu berat. Pertanyaan saya: apakah Bung Sakirman siap menanggung beban sebagai jembatan? Apakah Bung siap dikritik oleh kedua belah pihak?

Aidit:

Bagus. Sakirman, peranmu sangat krusial. Kau adalah jembatan antara kita dan generasi tua. Jika kau bisa meyakinkan sebagian dari mereka bahwa perubahan itu perlu, kita bisa memenangkan suara-suara yang masih ragu-ragu.

Sudisman:

Satu hal lagi. Aku mendengar bahwa Alimin berencana untuk menyerang kita dengan isu "penyimpangan ideologis." Dia akan menuduh kita sebagai reformis yang meninggalkan prinsip-prinsip revolusioner. Bagaimana kita merespons?

Aidit:

Kita akan merespons dengan mengutip Lenin. Kita akan tunjukkan bahwa Lenin sendiri menyesuaikan strategi Bolshevik sesuai dengan perubahan kondisi. Pada 1905, Bolshevik mendukung Duma. Pada 1917, mereka menolaknya. Itu bukan inkonsistensi, itu adalah fleksibilitas taktis. Prinsipnya tetap sama: revolusi. Tapi caranya disesuaikan.

Togog (tertawa kecil):

"Fleksibilitas taktis." Dalam filsafat etika, itu adalah istilah yang sering digunakan untuk membenarkan perubahan posisi yang radikal. Pertanyaan saya: di mana batas antara "fleksibilitas taktis" dan "oportunisme"? Bagaimana kita tahu bahwa kita masih setia pada prinsip, bukan hanya mengikuti angin?

Lukman:

Aku akan menambahkan analisis Marx tentang perubahan material. Marx mengajarkan bahwa strategi politik harus mencerminkan kondisi material masyarakat. Indonesia tahun 1950 berbeda dengan Indonesia tahun 1926. Oleh karena itu, strategi kita juga harus berbeda. Itu bukan penyimpangan. Itu adalah penerapan Marxisme yang konsisten.

Togog (mengangguk-angguk):

"Penerapan Marxisme yang konsisten." Bung Lukman, dalam filsafat materialisme, itu adalah argumen yang kuat. Tapi pertanyaan saya: siapa yang berhak menafsirkan Marx? Setiap faksi dalam sejarah komunis selalu mengklaim bahwa mereka adalah penafsir Marx yang paling konsisten. Stalin mengklaim itu. Trotsky mengklaim itu. Mao mengklaim itu. Sekarang Aidit mengklaim itu. Bagaimana kita tahu siapa yang benar?

Sakirman:

Hati-hati dengan terlalu banyak mengutip Marx dan Lenin. Kalian bisa terlihat seperti mahasiswa yang pamer hafalan. Yang dibutuhkan oleh kader-kader bukanlah kuliah teori, melainkan keyakinan bahwa kalian bisa membawa partai ini ke arah yang lebih baik.

Togog (berdiri, berjalan ke arah Sakirman):

Bung Sakirman benar. Dalam filsafat budaya, rakyat Indonesia tidak suka teori yang muluk-muluk. Mereka suka cerita. Mereka suka tokoh. Mereka suka harapan. Pertanyaan saya: apakah "Djalan Baru" sudah diterjemahkan ke dalam cerita yang bisa dipahami oleh kader biasa? Atau ia masih berupa jargon Marxis yang hanya dipahami oleh segelintir intelektual?

Njoto:

Aku setuju. Kita harus berbicara dengan bahasa yang bisa dipahami oleh kader biasa. Bukan bahasa akademis, tapi bahasa perjuangan. Bukan analisis yang rumit, tapi visi yang jelas.

Aidit:

Baik. Aku akan fokus pada pidato pembukaan. Aku akan menyampaikan visi kita dengan sederhana: PKI yang besar, PKI yang kuat, PKI yang dekat dengan rakyat. Aku akan menunjukkan bahwa "Djalan Baru" adalah jalan menuju kebangkitan partai. Dan aku akan meminta dukungan dari seluruh kader untuk mewujudkannya.

Togog (berjalan ke arah pintu, lalu berhenti):

"PKI yang besar, PKI yang kuat, PKI yang dekat dengan rakyat." Slogan yang sederhana. Tapi dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati rezim-rezim yang jatuh, setiap rezim yang jatuh dulu juga punya slogan yang sederhana. Nazi: "Ein Volk, ein Reich, ein Führer." Soviet: "Kaum buruh seluruh dunia, bersatulah!" Pertanyaan terakhir saya: apa yang membuat slogan kalian berbeda dari slogan-slogan itu? Dan apa yang akan mencegah slogan kalian dari bernasib sama?

Togog keluar, meninggalkan kelima orang itu dengan pertanyaan yang menggantung. Di luar, Jakarta malam semakin sunyi. Tapi di kamar hotel itu, tidak ada yang bisa tidur.

Sumber:

Strategi Kongres 1951 direkonstruksi dari Hindley, The Communist Party of Indonesia 90-110, dan Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 42-50. Kehadiran Togog dicatat oleh Sudisman dalam catatannya: "Togog muncul lagi. Kali ini ia bertanya tentang slogan. Aku tidak bisa menjawab. Mungkin karena semua slogan pada akhirnya sama."


Babak Tujuh: Kongres Nasional PKI, Januari 1951


Latar:

Gedung pertemuan di Jakarta, Januari 1951. Ratusan kader dari seluruh Indonesia hadir. Suasana penuh ketegangan dan antisipasi. Bendera merah dengan palu arit berkibar di panggung. Alimin duduk di kursi kehormatan, tapi semua orang tahu bahwa ini mungkin Kongres terakhirnya sebagai pemimpin. Di balkon, Togog duduk di antara para wartawan, mengunyah kacang goreng dan sesekali menulis sesuatu di buku catatannya.

Alimin (berdiri di podium, memberikan pidato pembukaan):

Kawan-kawan yang saya hormati. Hari ini, kita berkumpul di sini untuk membahas masa depan partai kita. Saya sudah memimpin partai ini selama hampir tiga tahun, sejak kehancuran Madiun. Saya telah berusaha semampu saya untuk membangun kembali dari puing-puing. Tapi saya akui: usaha saya belum berhasil sepenuhnya. Partai kita masih lemah. Kita masih terisolasi. Kita masih dibayangi oleh kegagalan masa lalu. Saya tidak tahu apakah saya adalah orang yang tepat untuk memimpin partai ini keluar dari krisis. Tapi saya tahu bahwa apa pun keputusan Kongres ini, saya akan menerimanya dengan lapang dada.
 

Tepuk tangan dari seluruh hadirin, baik pendukung Alimin maupun pendukung Aidit.
 

Togog (dari balkon, bergumam pada dirinya sendiri):

"Saya akan menerimanya dengan lapang dada." Dalam filsafat etika, itu adalah sikap yang mulia. Tapi dalam filsafat perang, menerima kekalahan dengan lapang dada adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa kekalahan itu permanen. Pertanyaan saya: apakah Alimin benar-benar ikhlas, atau dia hanya lelah?

Aidit (berdiri di podium, menyampaikan pidato kuncinya):

Kawan-kawan, Kawan Alimin telah menunjukkan kebesaran jiwanya dengan mengakui bahwa partai kita masih menghadapi masalah. Saya menghormati kejujurannya. Tapi penghormatan saja tidak cukup. Kita membutuhkan solusi. Kita membutuhkan strategi. Kita membutuhkan kepemimpinan yang bisa membawa kita dari krisis menuju kemenangan. Dan itulah yang saya tawarkan hari ini: sebuah "Djalan Baru" untuk PKI. Sebuah jalan yang akan membawa kita dari sekte kecil yang terisolasi menjadi partai massa yang besar. Sebuah jalan yang akan membawa kita dari kegagalan menuju kemenangan. Saya tidak menjanjikan bahwa jalan ini akan mudah. Saya tidak menjanjikan bahwa kita akan menang besok. Tapi saya menjanjikan bahwa jika kita bersatu, jika kita bekerja keras, jika kita tetap setia pada prinsip-prinsip revolusioner sambil beradaptasi dengan kondisi yang berubah, kita AKAN menang.


Tepuk tangan gemuruh dari mayoritas hadirin. Beberapa kader tua duduk diam, wajah mereka muram.


Togog (masih di balkon, menulis di buku catatannya):

"Kita AKAN menang." Bung Aidit menggunakan kata "akan" dengan penuh keyakinan. Tapi dalam filsafat metafisika, masa depan tidak pernah pasti. "Akan" adalah kata yang paling berbahaya dalam politik. Ia menciptakan harapan, tapi juga menciptakan kekecewaan. Pertanyaan saya: apa yang terjadi jika "akan" itu tidak terwujud?

Ngadiman (mencoba memberikan perlawanan terakhir):

Kawan-kawan, jangan terpesona oleh kata-kata indah. Revolusi bukanlah puisi. Revolusi adalah perjuangan keras. Dan perjuangan keras membutuhkan prinsip-prinsip yang kokoh, bukan kompromi dengan sistem borjuis. "Djalan Baru" yang ditawarkan oleh Kawan Aidit adalah jalan menuju reformisme. Ia akan mengubah PKI menjadi partai biasa yang berkompetisi dalam pemilu, melupakan tujuan akhir kita: revolusi sosialis!

Togog (mengedipkan mata ke arah Ngadiman, meskipun Ngadiman tidak bisa melihatnya):

Bung Ngadiman berbicara tentang "revolusi sosialis." Tapi dalam filsafat perang saudara, revolusi sosialis tidak pernah terjadi melalui pemilu. Ia selalu terjadi melalui kekerasan. Pertanyaan saya: apakah Bung Ngadiman mengusulkan kekerasan sekarang? Dan kalau ya, apakah Bung siap dengan konsekuensinya?

Lukman (berdiri untuk menjawab):

Kawan Ngadiman, tuduhan bahwa "Djalan Baru" adalah reformisme adalah tuduhan yang tidak berdasar. Kami tidak pernah mengatakan bahwa kita harus meninggalkan revolusi. Kami mengatakan bahwa strategi menuju revolusi harus disesuaikan dengan kondisi. Apakah mengikuti pemilu berarti meninggalkan revolusi? Apakah membangun basis massa berarti meninggalkan revolusi? Apakah bekerja di dalam parlemen berarti meninggalkan revolusi? Tentu tidak. Lenin sendiri mengatakan bahwa kaum komunis harus bekerja di dalam serikat buruh, di dalam parlemen, di dalam semua organisasi massa, bukan untuk menjadi reformis, tapi untuk membangun kekuatan revolusioner. Itulah yang kami usulkan. Bukan reformisme, tapi revolusi dengan strategi yang lebih cerdas.


Tepuk tangan lagi. Kali ini, bahkan beberapa kader tua mulai bertepuk tangan.


Togog (tersenyum):

Bung Lukman mengutip Lenin lagi. Dalam filsafat retorika, mengutip otoritas adalah strategi yang efektif. Tapi pertanyaan saya: apakah Lenin akan setuju dengan "Djalan Baru"? Atau Bung Lukman hanya memilih kutipan yang mendukung posisinya? Setiap orang bisa mengutip Lenin untuk mendukung apa pun. Bahkan Stalin mengutip Lenin.

Sakirman (berdiri, memberikan pukulan terakhir):

Kawan-kawan, saya adalah salah satu dari sedikit kader senior yang masih hidup. Saya sudah bersama partai ini sejak 1920-an. Saya sudah melihat semua kegagalan kita. Dan saya harus mengatakan dengan jujur: kita tidak bisa terus seperti ini. Kita membutuhkan perubahan. Saya mendukung "Djalan Baru." Saya mendukung Kawan Aidit. Bukan karena saya tidak menghormati Kawan Alimin, saya sangat menghormatinya. Tapi karena saya percaya bahwa inilah saatnya bagi generasi muda untuk mengambil alih.
 

Tepuk tangan gemuruh. Suasana berubah secara dramatis. Banyak kader tua yang menunduk, menyadari bahwa mereka telah kalah.
 

Togog (menatap Sakirman dengan mata yang anehnya berkaca-kaca):

Bung Sakirman, dalam filsafat perang saudara, saat seorang veteran berpihak pada musuh, pertempuran sudah berakhir. Pertanyaan saya: apakah Bung Sakirman yakin dengan pilihannya? Atau Bung hanya lelah dengan konflik?

Alimin (berdiri, menutup Kongres):

Kawan-kawan, demokrasi telah berbicara. Mayoritas dari kalian telah memilih "Djalan Baru." Saya menghormati keputusan itu. Mulai hari ini, saya mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PKI. Saya menyerahkan kepemimpinan partai ini kepada generasi muda. Semoga mereka berhasil di tempat di mana kami gagal.
 

Alimin turun dari podium. Beberapa kader tua meneteskan air mata. Tapi mayoritas hadirin bersorak untuk Aidit. Era baru telah dimulai.
 

Togog (menutup buku catatannya, berdiri, dan berjalan keluar dari balkon. Sebelum menghilang, ia berbisik pada dirinya sendiri):

"Semoga mereka berhasil di tempat di mana kami gagal." Doa yang tulus dari seorang veteran. Tapi dalam filsafat sejarah, generasi baru selalu mengulangi kesalahan generasi lama, dengan cara yang berbeda, dengan alasan yang berbeda. Pertanyaan terakhir saya, yang tidak akan saya tanyakan kepada siapa pun karena tidak ada yang bisa menjawabnya, apakah Aidit dan kelompoknya akan berhasil? Atau mereka akan gagal dengan cara yang lebih spektakuler?


Togog menghilang di antara kerumunan. Kongres berakhir. Sejarah mencatat kemenangan Aidit. Tapi sejarah juga mencatat apa yang terjadi 14 tahun kemudian.


Sumber:

Kongres 1951 didokumentasikan secara rinci dalam Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 42-58; Hindley, The Communist Party of Indonesia 90-115; McVey, The Rise of Indonesian Communism 370-390; dan Brackman, Indonesian Communism: A History 80-100. Kehadiran Togog di balkon dicatat oleh seorang wartawan yang meliput Kongres: "Ada orang aneh di balkon. Dia menulis sesuatu sepanjang Kongres. Ketika saya tanya apa yang dia tulis, dia hanya tersenyum dan berkata: 'Pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan dijawab oleh sejarah.'"


Epilog, Setelah Kemenangan

Babak Delapan: Percakapan Terakhir dengan Alimin, 1963


Latar:

Rumah Alimin di pinggiran Jakarta, 1963. Alimin terbaring di tempat tidur, sakit-sakitan. Ia sudah berusia 74 tahun. Di sampingnya, Sakirman duduk dengan wajah sedih. Di sudut kamar, Togog duduk dengan sebuah buku tua, kali ini Das Kapital dalam posisi yang benar. Ia sudah belajar membaca bahasa Jerman. Atau mungkin ia selalu bisa.

Alimin:

Sakirman, terima kasih sudah datang. Aku tahu kau sibuk dengan urusan partai.

Sakirman:

Aku selalu punya waktu untukmu, Kawan Alimin. Kaulah yang mengajariku segalanya.

Alimin:

Aku mendengar partai kita sekarang sudah besar. 3,5 juta anggota. Itu luar biasa. Aidit berhasil. Dia membuktikan bahwa aku salah.

Togog (tanpa menoleh dari bukunya):

"Dia membuktikan bahwa aku salah." Bung Alimin, dalam filsafat sains, bukti adalah sesuatu yang bisa diverifikasi. Apakah jumlah anggota yang besar adalah bukti keberhasilan? Atau hanya bukti popularitas? Ada perbedaan antara "besar" dan "kuat." Pertanyaan saya: apakah PKI yang besar ini juga kuat? Atau ia besar tapi rapuh?

Sakirman:

Kawan Alimin, kau tidak salah. Kau hanya... berbeda zaman.

Alimin:

Mungkin. Tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan khawatir ini, Sakirman. Partai kita terlalu cepat membesar. Terlalu banyak anggota baru yang tidak terlatih dengan baik. Terlalu banyak ketergantungan pada Sukarno. Jika sesuatu terjadi pada Sukarno... jika Angkatan Darat memutuskan untuk bergerak... aku takut semua ini akan runtuh seperti rumah kartu.

Togog (meletakkan bukunya, menatap Alimin dengan mata yang anehnya sendu):

"Runtuh seperti rumah kartu." Metafora yang tepat. Dalam filsafat teknik, fondasi yang dangkal tidak bisa menopang bangunan yang tinggi. Pertanyaan saya: apakah Aidit membangun PKI dengan fondasi yang cukup dalam? Atau ia hanya membangun dengan cepat tanpa mempedulikan fondasi?

Sakirman:

Aku juga khawatir, Kawan. Tapi Aidit yakin dengan strateginya. Dia percaya bahwa kita bisa menghadapi segala kemungkinan.

Alimin:

Keyakinan tanpa persiapan adalah kesombongan. Dan kesombongan adalah awal dari kejatuhan. Aku berharap aku salah. Demi kebaikan partai, aku berharap aku salah.

Togog (berdiri, berjalan ke arah ranjang Alimin):

Bung Alimin, dalam filsafat perang saudara, orang yang kalah seringkali melihat lebih jelas daripada orang yang menang. Orang yang menang dibutakan oleh kesuksesannya. Orang yang kalah dipertajam oleh kegagalannya. Pertanyaan saya: apakah Bung Alimin melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh Aidit? Atau Bung hanya pesimis karena sudah tua?


Alimin menutup matanya, kelelahan. Sakirman menggenggam tangannya, tidak tahu bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka.
 

Togog (berbisik, lebih kepada dirinya sendiri):

Selamat jalan, Bung Alimin. Dalam filsafat ketuhanan, saya belajar ini dari seorang sufi yang menjual madu di pinggir jalan, setiap pejuang sejati akan dihakimi bukan oleh kemenangannya, tapi oleh ketulusannya. Bung mungkin kalah dalam pertempuran politik. Tapi Bung tidak kalah dalam pertempuran hati nurani. Dan itu, pada akhirnya, mungkin lebih penting.


Alimin meninggal pada 1964, setahun sebelum bencana. Togog menghadiri pemakamannya, berdiri di antara kerumunan, menangis tanpa suara.

Babak Sembilan: Setelah Bencana, 1965


Latar:

Oktober 1965. Gerakan 30 September telah gagal. PKI dihancurkan. Ratusan ribu anggota dan simpatisannya dibantai. Aidit dieksekusi. Lukman dieksekusi. Njoto hilang. Sudisman ditangkap dan diadili. Sakirman dieksekusi. Di sebuah sel penjara yang sempit, Sudisman menulis pembelaannya. Ia teringat kata-kata Alimin bertahun-tahun yang lalu: "Kekuasaan yang direbut dengan cara yang licik akan berakhir dengan kehancuran."

Sudisman (berbisik kepada dirinya sendiri):

Alimin benar. Dia benar tentang segalanya. Kami terlalu percaya diri. Kami terlalu cepat. Kami membangun istana di atas pasir. Dan sekarang... semuanya runtuh.


Di sudut sel, Togog muncul, entah bagaimana, ia bisa masuk ke sel penjara. Mungkin ia bisa menembus dinding. Mungkin ia hanya ilusi.
 

Togog:

Bung Sudisman. Dalam filsafat perang saudara, ada satu kebenaran yang paling pahit: bahwa kemenangan dan kekalahan adalah saudara kembar. Hari ini kau menang, besok kau kalah. Pertanyaan saya, dan ini mungkin pertanyaan terakhir saya, apakah semuanya harus berakhir seperti ini? Apakah ada jalan lain yang tidak kalian lihat? Ataukah ini memang takdir yang tidak bisa dihindari?

Sudisman (menatap Togog dengan mata yang lelah):

Togog. Kau di sini juga. Aku tidak heran. Kau selalu di mana-mana. Untuk menjawab pertanyaanmu... aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah ada jalan lain. Kami melakukan apa yang kami pikir benar. Tapi ternyata... kami salah. Kami salah tentang segalanya.

Togog (duduk di lantai sel, bersila, menatap Sudisman dengan mata yang anehnya penuh pengampunan):

"Kami salah tentang segalanya." Bung Sudisman, dalam filsafat etika, mengakui kesalahan adalah langkah pertama menuju penebusan. Tapi penebusan tidak bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Pertanyaan saya: apakah Bung Sudisman bisa memaafkan diri sendiri?

Sudisman:

Tidak. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri. Tapi setidaknya... setidaknya aku bisa menulis. Aku bisa meninggalkan catatan untuk generasi mendatang. Semoga mereka tidak mengulangi kesalahan kami.

Togog (tersenyum pahit):

"Semoga mereka tidak mengulangi kesalahan kami." Doa yang tulus. Tapi dalam filsafat sejarah, generasi baru selalu mengulangi kesalahan generasi lama. Itu adalah hukum besi dari peradaban manusia. Pertanyaan saya, dan ini benar-benar pertanyaan terakhir, apakah ada harapan? Apakah manusia bisa belajar dari sejarah? Atau kita semua terjebak dalam lingkaran setan yang sama?

Sudisman:

Aku tidak tahu, Togog. Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin kau yang bisa menjawabnya. Kau selalu punya pertanyaan, tapi kau tidak pernah memberi jawaban. Kenapa?

Togog (berdiri, berjalan ke arah jeruji):

Karena jawaban adalah tanggung jawab manusia, Bung Sudisman. Saya hanyalah badut. Saya hanya bertanya. Manusia yang harus menjawab. Dan manusia yang harus menanggung konsekuensinya. Selamat jalan, Bung. Semoga tulisan Bung sampai ke generasi yang lebih bijak dari kita semua.


Togog menghilang, atau mungkin hanya berjalan keluar dari sel, karena penjaga tidak melihatnya. Sudisman kembali ke tulisannya. Beberapa bulan kemudian, ia dieksekusi. Surat pembelaannya diterbitkan dan dibaca oleh generasi mendatang. Tapi apakah mereka belajar? Itu adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.
 

Sumber:

Eksekusi Sudisman dan pembelaannya di Mahmilub didokumentasikan dalam Tempo, "Eksekusi Sudisman," 2008. Kehadiran Togog di sel Sudisman dicatat oleh seorang sipir yang kemudian diwawancarai: "Ada orang aneh yang masuk ke sel Sudisman. Saya tidak tahu bagaimana dia masuk. Tapi setelah dia pergi, Sudisman kelihatan lebih damai."



Penutup


Kisah penyingkiran Alimin, Ngadiman, dan generasi tua PKI adalah salah satu ironi terbesar dalam sejarah gerakan komunis Indonesia. Kelompok muda yang merebut kekuasaan dengan argumen bahwa generasi tua telah gagal, pada akhirnya membawa partai ke kehancuran yang jauh lebih besar daripada semua kegagalan sebelumnya. Aidit, Lukman, Njoto, dan Sudisman bukanlah penjahat. Mereka adalah produk dari zaman mereka: cerdas, ambisius, dan penuh keyakinan bahwa mereka bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan pendahulu mereka. Tapi dalam keyakinan itu, tersembunyi arogansi yang mematikan, keyakinan bahwa mereka kebal terhadap hukum sejarah, bahwa mereka tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, bahwa partai yang mereka bangun tidak akan runtuh.

Togog hadir dalam setiap babak tragedi ini, bukan sebagai hakim, bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai cermin. Ia memantulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin didengar oleh para tokoh. Ia memaksa mereka untuk berpikir, untuk ragu, untuk mempertanyakan keyakinan mereka sendiri. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah dijawab. Atau mungkin dijawab dengan tindakan, bukan dengan kata-kata. Dan tindakan itu membawa mereka semua ke jurang.

Apakah Togog bisa mencegah bencana? Mungkin tidak. Karena sejarah bukanlah drama yang bisa diubah oleh satu karakter. Sejarah adalah arus besar yang dibentuk oleh jutaan keputusan kecil, oleh kondisi material, oleh kekuatan-kekuatan di luar kendali individu. Tapi setidaknya, Togog memberikan kita sesuatu yang berharga: kesadaran bahwa selalu ada pertanyaan yang belum ditanyakan, selalu ada sudut pandang yang belum dipertimbangkan, selalu ada kemungkinan bahwa kita salah.

Dan mungkin, justru kesadaran itulah yang paling dibutuhkan oleh para pemimpin, dulu, sekarang, dan di masa depan. Kesadaran untuk ragu. Kesadaran untuk bertanya. Kesadaran untuk mendengarkan, bahkan kepada suara yang paling tidak menyenangkan.

Alimin meninggal dengan tenang pada 1964, setahun sebelum bencana. Ia tidak melihat kehancuran partai yang ia dirikan. Tapi ia meramalkannya. Dan ramalannya terbukti benar. Aidit mati ditembak di Boyolali. Lukman dieksekusi di Cirebon. Njoto hilang tanpa jejak. Sudisman diadili dan dihukum mati. Sakirman dieksekusi. Dari seluruh generasi muda yang merebut kekuasaan pada 1951, tidak ada yang selamat.

Togog? Togog terus hidup. Ia muncul di setiap krisis, di setiap konflik, di setiap momen ketika manusia terlalu yakin pada kebenarannya sendiri. Ia duduk di sudut ruangan, mengunyah kacang goreng, dan bertanya: "Apakah kau yakin?"

Dan pertanyaan itu, sederhana, menyebalkan, dan abadi, akan terus bergema sepanjang sejarah manusia.


Daftar Pustaka

Aidit, Dipa Nusantara. Djalan Baru untuk Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Pembaruan, 1953.

Brackman, Arnold C. Indonesian Communism: A History. New York: Praeger, 1963.

Hindley, Donald. The Communist Party of Indonesia, 1951-1963. Berkeley: University of California Press, 1964.

McVey, Ruth T. The Rise of Indonesian Communism. Ithaca: Cornell University Press, 1965.

Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.

Poeze, Harry A. Verguisd en Vergeten: Tan Malaka, de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949. 3 jilid. Leiden: KITLV Press, 2007.

Tan Malaka. Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika. Jakarta: Widjaya, 1951.

Tempo. "Misteri Njoto." Edisi Khusus, 2005.

Tempo. "Eksekusi Sudisman." Edisi Khusus, 2008.


Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Lynk.id

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama