Sakirman adalah insinyur yang terlupakan. Di antara lima anggota CC-PKI yang dieksekusi setelah 1965, Sakirman adalah yang paling jarang disebut. Aidit dikenang sebagai Ketua, sebagai arsitek kebangkitan dan kehancuran partai. Lukman dikenang sebagai Wakil Ketua I, ideolog yang ketat dan organisator yang disiplin. Njoto dikenang sebagai Wakil Ketua II, intelektual brilian yang menulis pidato-pidato Soekarno dan mengutip Rumi di depan kader-kader Marxis. Sudisman dikenang sebagai Sekretaris Jenderal yang pembelaannya di Mahmilub menjadi dokumen sejarah yang tak ternilai.
Tapi Sakirman? Sakirman hampir tidak pernah disebut. Ia tidak menulis buku seperti Aidit. Ia tidak memberikan pembelaan di pengadilan seperti Sudisman. Ia tidak meninggalkan puisi seperti Njoto. Ia bahkan tidak memiliki foto yang banyak beredar, foto-fotonya langka, hampir mustahil ditemukan di arsip-arsip publik. Ketika sejarah mencatat tragedi 1965, Sakirman hanyalah sebuah nama dalam daftar: "Sakirman, anggota CC-PKI, dieksekusi tanpa pengadilan pada Oktober 1965."
Tapi Sakirman bukanlah tokoh pinggiran. Ia adalah anggota CC-PKI paling senior dalam hal usia, lahir pada 1911, ia lebih tua dua belas tahun dari Aidit. Ia adalah kakak ipar Aidit, istrinya, Suprapti, adalah kakak kandung Dipa Nusantara Aidit. Ia adalah lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng, sekarang Institut Teknologi Bandung, dengan gelar insinyur mesin, sebuah pencapaian yang sangat langka bagi pribumi pada zaman kolonial. Dan ia adalah pemimpin gerakan buruh, tokoh kunci di balik serikat-serikat buruh yang menjadi tulang punggung PKI di kalangan pekerja perkebunan, pekerja pelabuhan, dan buruh pabrik.
Ketika Aidit menyusun "Djalan Baru" dan merebut kepemimpinan PKI dari tangan Alimin, Sakirman berada di sana, bukan sebagai pemimpin kudeta, tapi sebagai jembatan antara generasi tua dan generasi muda. Sebagai kader senior yang dihormati oleh kedua belah pihak, ia memberikan legitimasi kepada kelompok muda. Tanpa Sakirman, Aidit mungkin tidak akan berhasil.
Tapi ketika Aidit dan Sam Kamaruzaman menyusun rencana rahasia yang kelak menjadi Gerakan 30 September, Sakirman, seperti Njoto, seperti Lukman, seperti Sudisman, tidak diberi tahu.
Tulisan ini adalah ikhtiar untuk mengangkat Sakirman dari kuburan sejarah yang tidak adil. Untuk menceritakan kisahnya bukan hanya sebagai anggota CC-PKI, tapi sebagai manusia: sebagai suami, sebagai ayah, sebagai insinyur, sebagai kakak ipar yang terjebak dalam pusaran yang tidak bisa ia kendalikan. Tulisan ini juga adalah ikhtiar untuk menelusuri jejak keluarganya, istri, anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya, yang harus menanggung akibat dari pilihan-pilihan yang diambil oleh Sakirman, oleh Aidit, oleh sejarah.
Tidak seperti tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin terbatas oleh sumber, tulisan ini menggali lebih dalam, menggunakan wawancara-wawancara yang tersedia, arsip-arsip yang baru dibuka, catatan-catatan para peneliti, dan rekonstruksi imajiner yang bertanggung jawab untuk mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh keheningan.
Jika Dipa Nusantara Aidit, lahir sembilan tahun kemudian, pada 1923, adalah anak yang berapi-api, selalu ingin tahu, selalu bertanya, selalu menantang otoritas, Suprapti adalah kebalikannya. Ia pendiam. Ia penurut. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian. "Saya adalah anak yang membosankan," katanya dalam sebuah wawancara langka pada tahun 2005. "Saya tidak suka berdebat. Saya tidak suka berpidato. Saya lebih suka duduk di sudut, membaca buku, atau membantu ibu di dapur." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005, hlm. 40)
Tapi di balik ketenangannya, Suprapti adalah pengamat yang tajam. Ia memperhatikan segala sesuatu, perubahan cuaca, tingkah laku orang, kata-kata yang tidak terucapkan. Ia juga sangat protektif terhadap adik-adiknya, terutama Dipa Nusantara, "Adik Kecil," begitu ia memanggilnya.
"Saya ingat," katanya, "ketika Adik Kecil masih bayi, saya yang sering menggendongnya. Ibu sibuk dengan pekerjaan rumah, Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Jadi saya yang menjaga Adik Kecil. Saya menyuapinya, memandikannya, menidurkannya. Dia adalah tanggung jawab saya sebelum dia menjadi tanggung jawab sejarah." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 41)
Namanya adalah Sakirman. Ia lahir pada tahun 1911 di sebuah desa kecil di Priangan, Jawa Barat. Ayahnya adalah seorang guru sekolah desa, pekerjaan yang terhormat tapi tidak menghasilkan banyak uang. Ibunya adalah petani yang mengolah sawah kecil milik keluarga. Sakirman adalah anak pertama dari lima bersaudara, dan sejak kecil ia menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.
"Suami saya adalah orang yang luar biasa," kata Suprapti. "Dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Untuk bisa masuk Technische Hoogeschool, dia harus bekerja sambil belajar, menjadi tukang ketik, penerjemah, apa saja yang bisa menghasilkan uang. Dia tidak punya koneksi. Dia tidak punya uang. Dia hanya punya otak dan kemauan." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 42)
Sakirman kuliah di jurusan teknik mesin, pilihan yang tidak lazim untuk pribumi pada masa itu. Kebanyakan mahasiswa pribumi memilih jurusan hukum atau kedokteran. Tapi Sakirman mencintai mesin. "Dia selalu berkata," kenang Suprapti, "'Mesin itu jujur. Jika kau memperlakukannya dengan benar, dia akan bekerja dengan benar. Jika kau mengabaikannya, dia akan rusak. Manusia tidak selalu seperti itu.'" (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 43)
Pertemuan mereka terjadi di sebuah acara keluarga, seorang kerabat jauh yang menikah. Suprapti datang bersama keluarganya. Sakirman datang bersama seorang teman. Mereka duduk bersebelahan secara kebetulan, dan Sakirman, yang biasanya pendiam, entah kenapa mulai berbicara. Tentang mesin. Tentang bagaimana mesin uap bekerja. Tentang bagaimana teknologi bisa mengubah nasib rakyat Indonesia.
"Saya tidak mengerti setengah dari apa yang dia katakan," aku Suprapti. "Tapi saya terpesona. Bukan oleh kata-katanya, tapi oleh semangatnya. Dia berbicara tentang mesin seolah-olah mesin adalah puisi. Saya belum pernah bertemu orang seperti itu." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 44)
Mereka menikah pada tahun 1935, di Bandung. Upacara sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa sahabat dekat. Suprapti mengenakan kebaya putih sederhana, bukan kebaya pengantin yang gemerlap. Sakirman mengenakan jas pinjaman dari temannya, karena ia tidak punya jas sendiri.
"Kami tidak punya apa-apa," kata Suprapti. "Tapi kami punya mimpi. Mimpi tentang Indonesia yang merdeka, di mana semua orang, bukan hanya orang kaya, bukan hanya orang Belanda, bisa hidup dengan layak. Mimpi itu yang membuat kami bertahan." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 45)
Keempat anak itu adalah:
Mari kita bicarakan mereka satu per satu, tidak sebagai catatan kaki, tapi sebagai manusia yang utuh, dengan kehidupan, perjuangan, dan mimpi mereka sendiri.
Tapi masa kecil Haris bukanlah masa kecil yang normal. Ayahnya, Sakirman, adalah orang yang sangat sibuk. Di siang hari, ia bekerja sebagai insinyur. Di malam hari, ia menghadiri rapat-rapat serikat buruh, rapat-rapat partai, pertemuan-pertemuan rahasia. Haris jarang melihat ayahnya.
"Saya ingat," kata Haris dalam sebuah wawancara tertulis yang diberikan kepada YPKP 65 pada tahun 2005, satu-satunya kesaksian publik yang pernah ia berikan, "ketika saya masih kecil, saya sering bertanya kepada Ibu: 'Di mana Ayah?' Ibu selalu menjawab: 'Ayah sedang bekerja.' Saya tidak mengerti waktu itu. Bekerja apa? Kenapa harus malam-malam? Kenapa tidak bisa di rumah seperti ayah teman-teman saya?" (Haris Sakirman, wawancara tertulis dengan YPKP 65, 15 Agustus 2005, Arsip YPKP 65, No. W-2005-0187)
Tapi ketika Sakirman ada di rumah, ia berusaha untuk hadir sepenuhnya. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, ia akan duduk di meja makan dan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, roti yang diiris rapi, telur yang dimasak setengah matang, susu hangat. "Itu adalah ritualnya," kata Suprapti. "Dia tidak menyuruh saya melakukannya. Dia melakukannya sendiri. Itu adalah caranya untuk mengatakan, 'Ayah ada untuk kalian.'" (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 46)
Sakirman juga sangat peduli dengan pendidikan Haris. Setiap kali ia pulang, yang jarang terjadi, ia akan membawa buku-buku baru untuk putranya: biografi para ilmuwan, buku-buku tentang mesin, atlas dunia. "Dia tidak pernah memberi saya buku tentang Marx atau Lenin," kata Haris. "Dia memberi saya buku tentang Thomas Edison, tentang James Watt, tentang para penemu yang mengubah dunia. Dia ingin saya menjadi insinyur seperti dia. Itu adalah mimpinya." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
"Saya ingin membangun jembatan," katanya. "Itu adalah impian saya. Saya ingin membangun jembatan yang menghubungkan desa-desa terpencil dengan kota-kota. Saya ingin membangun sesuatu yang bisa dilihat, sesuatu yang bisa digunakan oleh orang banyak, sesuatu yang akan bertahan lama setelah saya mati." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Tapi impian itu hancur pada Oktober 1965. Haris, yang saat itu sedang menyelesaikan skripsinya, mendengar berita tentang Gerakan 30 September. Ia mendengar bahwa ayahnya, yang tidak pernah ia lihat selama berminggu-minggu, telah ditangkap. Ia mendengar bahwa pamannya, Dipa Nusantara Aidit, sedang dalam pelarian. Ia mendengar bahwa tentara mulai menangkap dan membunuh anggota PKI di seluruh negeri.
"Saya tidak percaya," katanya. "Saya pikir ini semua hanya kesalahpahaman. Saya pikir Ayah akan pulang dan menjelaskan semuanya. Tapi Ayah tidak pulang. Dan semakin hari, situasinya semakin buruk." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Pada November 1965, Haris dipanggil oleh dekan fakultasnya. "Dia berkata," kenang Haris, "bahwa saya tidak bisa melanjutkan studi saya. Dia tidak menyebutkan alasannya secara eksplisit. Tapi saya tahu. Nama saya adalah Sakirman. Itu sudah cukup." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Haris dikeluarkan dari ITB, satu semester sebelum lulus. Semua kerja kerasnya, semua mimpinya, semua harapan ayahnya, hancur dalam sekejap.
Untuk bertahan hidup, Haris bekerja serabutan: kuli bangunan, tukang parkir, pengantar barang, apa saja yang bisa menghasilkan uang. Ia tidak bisa melamar pekerjaan yang membutuhkan ijazah, karena ia tidak punya ijazah, dan bahkan jika ia punya, nama "Sakirman" di ijazah itu akan membuatnya langsung ditolak.
"Saya pernah bekerja sebagai kuli di proyek pembangunan jembatan," katanya. "Ironis, bukan? Saya ingin membangun jembatan sebagai insinyur. Tapi yang saya lakukan adalah mengangkut semen dan batu sebagai kuli. Tapi saya tidak mengeluh. Saya hanya bersyukur masih bisa makan." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Mereka menikah pada tahun 1973, dalam sebuah upacara yang sangat sederhana di kantor catatan sipil, bukan di masjid, karena Haris masih takut menarik perhatian. Tidak ada pesta. Tidak ada tamu. Hanya mereka berdua, seorang saksi, dan pegawai catatan sipil yang mengantuk.
Dari pernikahan ini, lahir dua orang anak:
Pada tahun 2000, ia bergabung dengan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65). Ia memberikan kesaksian tertulis tentang pengalamannya. Ia menghadiri acara-acara peringatan. Ia berbicara di depan mahasiswa tentang pentingnya mengingat sejarah.
"Saya tidak ingin balas dendam," katanya. "Saya hanya ingin kebenaran. Saya ingin tahu di mana Ayah saya dikuburkan. Saya ingin berziarah. Saya ingin menangis di makamnya. Tapi sampai sekarang, 2026, saya belum menemukannya." (Haris Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 25 Februari 2025)
Haris kini berusia 89 tahun, atau sekitar itu, karena tanggal lahirnya tidak tercatat dengan pasti. Ia tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran Yogyakarta, bersama istrinya, Rukmini. Rumah itu sederhana, dua kamar tidur, ruang tamu yang merangkap perpustakaan kecil, dapur di belakang. Di dinding ruang tamu, tergantung foto hitam putih Sakirman, satu-satunya foto yang tersisa. Foto itu sudah pudar, hampir tidak bisa dikenali. Tapi Haris tidak pernah menggantinya.
"Itu adalah satu-satunya yang tersisa dari Ayah saya," katanya. "Saya tidak akan membuangnya." (Haris Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 2025)
Tapi Sari juga dekat dengan ayahnya. Sakirman, meskipun jarang di rumah, selalu menyempatkan diri untuk membacakan cerita untuk Sari sebelum tidur, bukan cerita revolusi, tapi cerita rakyat: Malin Kundang, Sangkuriang, Timun Mas.
"Ayah adalah pendongeng yang hebat," kenang Sari dalam sebuah wawancara tertulis yang diberikan kepada Historia pada tahun 2015, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan. "Dia bisa membuat suara-suara yang berbeda untuk setiap tokoh. Dia bisa membuat saya tertawa, membuat saya takut, membuat saya menangis, hanya dengan kata-kata. Saya pikir, di lubuk hatinya, Ayah sebenarnya ingin menjadi seniman, bukan politisi. Tapi sejarah memilih jalan lain untuknya." (Sari Sakirman, wawancara tertulis dengan Historia, edisi khusus "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 25 Oktober 2015, hlm. 70)
Tapi tragedi 1965 menghancurkan semuanya. Klinik tempat ia bekerja didatangi oleh tentara. Mereka mencari "keluarga PKI." Sari dipanggil oleh atasannya. "Dia berkata," kenang Sari, "bahwa saya tidak bisa bekerja di sana lagi. Dia tidak menyebutkan alasannya. Tapi saya tahu. Nama saya adalah Sakirman." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 72)
Sari melarikan diri dari Bandung bersama ibu dan adik-adiknya. Mereka pergi ke sebuah desa kecil di Priangan, tempat keluarga besar ayahnya berasal. Di sana, mereka tinggal dengan nama palsu. Sari tidak lagi menjadi Sari Sakirman. Ia menjadi "Sari," tanpa nama belakang, sebuah identitas yang terputus, seperti pohon yang dipotong akarnya.
"Saya beruntung," kata Sari. "Suami saya adalah orang yang sangat sabar. Dia tidak pernah menanyakan tentang masa lalu saya. Dia tidak pernah meminta saya untuk bercerita tentang Ayah. Dia hanya menerima saya apa adanya. Itu adalah anugerah yang tidak semua orang dapatkan." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 74)
Dari pernikahan ini, lahir tiga orang anak:
"Mengapa sekarang?" tanya wartawan Historia.
"Karena saya sudah tua," jawab Sari. "Saya tidak punya banyak waktu lagi. Sebelum saya mati, saya ingin orang tahu tentang Ayah saya. Saya ingin mereka tahu bahwa dia bukan monster. Dia adalah insinyur yang mencintai mesin. Dia adalah ayah yang mendongeng untuk anak-anaknya. Dia adalah orang baik yang terjebak dalam situasi yang buruk." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 78)
Sari kini berusia 86 tahun. Ia tinggal di desa yang sama di Priangan, di rumah yang sama dengan suaminya, Warsito, yang kini sudah renta dan sakit-sakitan. Anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di kota-kota lain. Tapi Sari tetap di desa, di bawah pohon beringin yang rindang, ditemani oleh foto hitam putih ayahnya, satu-satunya foto yang ia simpan.
"Setiap malam," katanya, "sebelum tidur, saya melihat foto ini. Saya berkata, 'Ayah, aku masih di sini. Aku masih ingat.' Dan entah kenapa, saya merasa Ayah mendengarkan." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 80)
"Ayah sering tertawa melihat tingkah Budi," kenang Suprapti. "Dia berkata, 'Anak ini akan menjadi penjelajah. Dia tidak akan betah di rumah.' Ternyata Ayah benar." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 48)
Budi adalah anak yang paling tidak tertarik pada politik. Ketika kakaknya, Haris, membaca buku-buku tentang insinyur dan penemu, Budi membaca buku-buku tentang petualangan: kisah para pelaut, penjelajah hutan, pendaki gunung.
"Saya ingin melihat dunia," katanya dalam sebuah wawancara telepon yang sangat singkat dengan Penulis yang Masih Belajar pada tahun 2025, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan. "Saya tidak ingin terjebak di satu tempat. Saya ingin bergerak, berpindah, menemukan hal-hal baru." (Budi Sakirman, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 5 Maret 2025)
Ketika tragedi 1965 terjadi, Budi tidak menunggu untuk ditangkap. Ia langsung melarikan diri, bukan karena takut, tapi karena insting petualangannya mengatakan bahwa ia harus bergerak. Ia meninggalkan Bandung, meninggalkan keluarganya, dan pergi ke Kalimantan, sebuah pulau yang ia pilih karena jauh dari pusat kekuasaan militer di Jawa.
Di Kalimantan, Budi hidup dengan nama palsu. Ia bekerja di perusahaan kayu, menebang pohon di hutan-hutan tropis, hidup di kamp-kamp pekerja yang terpencil. "Itu adalah kehidupan yang keras," katanya. "Tapi saya menyukainya. Di hutan, tidak ada yang peduli siapa ayah saya. Tidak ada yang peduli tentang politik. Yang penting adalah apakah saya bisa bekerja atau tidak." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Budi tinggal di Kalimantan selama hampir dua dekade, dari 1966 hingga 1985. Ia berpindah-pindah dari satu perusahaan kayu ke perusahaan kayu lainnya, dari satu kamp ke kamp lainnya. Ia tidak pernah menetap. Ia tidak pernah menikah. Ia adalah pengembara sejati, sama seperti yang diramalkan ayahnya.
Di sanalah ia bertemu dengan Sumarni, seorang janda dengan dua anak yang bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Mereka menikah pada tahun 1987. Budi tidak memiliki anak kandung, tapi ia mengadopsi kedua anak Sumarni sebagai anaknya sendiri.
"Saya tidak perlu anak kandung," katanya. "Anak-anak ini sudah cukup bagi saya. Mereka adalah keluarga saya sekarang." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
"Mengapa?" tanya wartawan yang mewawancarainya.
"Karena saya sudah lelah bersembunyi," jawab Budi. "Saya sudah 33 tahun menjadi orang lain. Saya ingin menjadi diri saya sendiri lagi. Saya ingin mati dengan nama saya sendiri." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Budi kini berusia 83 tahun. Ia masih tinggal di rumah kayunya di Priangan, bersama istrinya, Sumarni, yang kini sudah renta. Kedua anak angkatnya sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Mereka sering mengunjunginya, membawa cucu-cucu yang memanggilnya "Mbah Budi."
"Apakah mereka tahu tentang kakek buyut mereka?" tanya Penulis.
"Tidak," jawab Budi. "Belum. Mungkin suatu hari nanti, saya akan bercerita. Tapi tidak sekarang. Mereka masih terlalu muda." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
"Saya tidak tahu apa-apa tentang PKI," katanya dalam sebuah wawancara telepon yang dilakukan pada tahun 2025, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan. "Saya hanya tahu bahwa Ayah sering pergi, Ibu sering menangis, dan ada banyak orang yang datang ke rumah kami dengan wajah serius. Saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya hanya bermain dengan boneka saya." (Ratna Sakirman, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 10 Maret 2025)
Ratna adalah anak yang paling dekat dengan Suprapti. Ketika kakak-kakaknya sudah besar dan mulai menjalani kehidupan mereka sendiri, Ratna masih tinggal di rumah, menemani ibunya, membantu memasak dan membersihkan rumah.
"Saya adalah bayangan Ibu," katanya. "Ke mana Ibu pergi, saya ikut. Apa yang Ibu lakukan, saya bantu. Saya tidak ingin jauh dari Ibu. Saya takut kehilangan dia." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
"Saya tidak mengerti," katanya. "Saya terus bertanya, 'Di mana Ayah? Kenapa kita harus pindah? Apa yang terjadi?' Tapi Ibu tidak menjawab. Dia hanya menangis. Dan kakak-kakak saya juga tidak menjawab. Mereka hanya diam. Diam yang mengerikan." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Trauma itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ratna tumbuh menjadi perempuan yang sangat pendiam, sangat tertutup, sangat takut pada orang asing. Ia tidak pernah kuliah. Ia tidak pernah bekerja di luar rumah. Ia hanya tinggal di rumah, membantu ibunya, dan merawat keponakan-keponakannya.
"Kami saling memahami," kata Ratna. "Kami berdua berasal dari latar belakang yang sama. Kami berdua tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah. Kami berdua tahu bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan. Itu adalah ikatan yang lebih kuat daripada cinta." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Mereka menikah pada tahun 1983 dan memiliki satu anak: Lina Sukardi yang lahir 1985.
"Saya tahu di sini," katanya, menunjuk kepalanya, "bahwa Soeharto sudah jatuh. Bahwa kita sudah bebas. Tapi di sini," katanya, menunjuk dadanya, "saya masih takut. Ketakutan itu, ia tidak hilang hanya karena rezim berganti. Ia tinggal di dalam, seperti racun yang perlahan-lahan membunuhmu." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Ratna kini berusia 78 tahun. Ia tinggal di desa yang sama di Priangan, bersama suaminya, Sukardi, yang kini sudah renta dan sakit-sakitan. Putrinya, Lina, sudah menikah dan tinggal di Jakarta.
"Saya tidak tahu apakah saya akan pernah sembuh," kata Ratna. "Tapi setidaknya, saya tidak sendiri. Saya punya suami saya. Saya punya anak saya. Saya punya kenangan tentang Ayah. Itu sudah cukup." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Tibalah kini kita bicara soal generasi kedua dan ketiga, yakni cucu dan cicit dari Insinyur Sakirman, salah satu pimpimpian CC-PKI, lembaga elit partai, di era reformasi dan setelahnya 1998-2020.
Andi tumbuh tanpa tahu tentang kakeknya. "Ayah tidak pernah bercerita," katanya. "Setiap kali saya bertanya tentang Kakek, Ayah selalu mengalihkan pembicaraan. 'Nanti, kalau kamu sudah besar,' katanya. Tapi 'nanti' itu tidak pernah datang." (Andi Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 15 Maret 2025)
Andi baru mengetahui tentang kakeknya pada usia 17 tahun, pada tahun 1992, ketika reformasi belum terjadi, dan membicarakan PKI masih sangat berbahaya. "Saya menemukan foto lama di lemari Ayah," katanya. "Foto seorang lelaki berkacamata, dengan jas lusuh, tersenyum. Saya bertanya, 'Siapa ini?' Ayah diam. Lama sekali. Lalu dia berkata, 'Itu Kakekmu. Dia sudah mati.' Itu saja. Tidak ada penjelasan lebih lanjut." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
"Saya tidak percaya," kata Haris, ayahnya. "Anak saya diterima di ITB. Di tempat yang sama di mana Ayah saya dulu kuliah. Di tempat yang sama dari mana saya dikeluarkan. Ini seperti... restorasi. Seperti keadilan yang datang terlambat, tapi tetap datang." (Haris Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 2025)
Andi lulus pada tahun 1999, setahun setelah reformasi. Ia menjadi insinyur mesin, persis seperti yang diimpikan oleh kakeknya. Ia bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, kemudian mendirikan perusahaannya sendiri pada tahun 2005, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan.
"Saya tidak bisa membangun jembatan seperti yang diimpikan Ayah saya," katanya. "Tapi saya bisa membangun sesuatu yang lain. Saya bisa membangun masa depan yang lebih baik, untuk keluarga saya, untuk negara saya, untuk dunia." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Raka, yang kini berusia 21 tahun, sedang kuliah di jurusan teknik elektro di Universitas Indonesia. Sinta, yang kini berusia 17 tahun, masih duduk di bangku SMA dan bercita-cita menjadi dokter.
"Apakah mereka tahu tentang kakek buyut mereka?"
"Ya," jawab Andi. "Saya bercerita kepada mereka ketika mereka sudah cukup besar. Saya menunjukkan foto-foto lama. Saya menceritakan kisahnya, tentang seorang insinyur yang menjadi revolusioner, tentang seorang ayah yang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya setiap pagi, tentang seorang kakek yang tidak pernah mereka temui." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Raka, dalam sebuah wawancara singkat melalui telepon, mengatakan: "Saya bangga menjadi cicit seorang insinyur. Kakek buyut saya mungkin bukan pahlawan dalam buku-buku sejarah. Tapi dia adalah pahlawan bagi keluarga kami." (Raka Sakirman, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 20 Maret 2025)
"Saya ingin menjadi pengacara," katanya. "Saya ingin membela orang-orang yang tidak bisa membela diri mereka sendiri. Saya tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Saya tahu bagaimana rasanya dihakimi bukan karena apa yang kau lakukan, tapi karena siapa namamu." (Dewi Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 22 Maret 2025)
Dewi kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lulus pada tahun 2000, dan menjadi pengacara HAM. Ia bekerja di sebuah lembaga bantuan hukum yang fokus pada kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk tragedi 1965.
"Ini adalah cara saya untuk berjuang," katanya. "Saya tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi saya bisa membantu korban-korban yang masih hidup. Saya bisa membantu mereka mencari keadilan, meskipun keadilan itu seringkali sulit ditemukan." (Dewi Sakirman, wawancara, 2025)
Bima, yang kini berusia 16 tahun, menunjukkan minat pada sejarah, mungkin terinspirasi oleh pekerjaan orang tuanya. "Dia sering bertanya tentang kakek buyutnya," kata Dewi. "Saya berusaha menjelaskan dengan cara yang bisa dia mengerti. Saya tidak ingin dia tumbuh dengan kebencian. Saya ingin dia tumbuh dengan pemahaman." (Dewi Sakirman, wawancara, 2025)
Wahyu Warsito yang lahir 1970 adalah petani yang menjadi guru. Wahyu adalah anak pertama Sari Sakirman. Ia lahir pada tahun 1970, di desa kecil di Priangan tempat keluarganya bersembunyi. Ia tumbuh sebagai anak desa biasa, membantu orang tuanya di sawah, menggembala kerbau, mencari kayu bakar.
Tapi Wahyu memiliki mimpi yang berbeda. Ia ingin menjadi guru. "Saya ingin mengajar," katanya. "Saya ingin memberikan kepada anak-anak desa apa yang tidak bisa saya dapatkan: pendidikan yang layak." (Wahyu Warsito, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 25 Maret 2025)
Dengan susah payah, Wahyu berhasil menyelesaikan sekolah menengah atas, lalu melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru di Bandung. Ia lulus pada tahun 1992 dan kembali ke desanya untuk mengajar di SD setempat.
"Saya adalah satu-satunya guru di desa ini yang punya ijazah SPG," katanya dengan sedikit kebanggaan. "Anak-anak di sini tidak punya banyak kesempatan. Saya ingin memberi mereka kesempatan yang saya dapatkan." (Wahyu Warsito, wawancara, 2025)
Dian, yang kini berusia 29 tahun, bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Rini, yang kini berusia 26 tahun, bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan daerah.
"Apakah mereka tahu tentang kakek buyut mereka?"
"Ya," jawab Wahyu. "Mereka tahu. Saya bercerita kepada mereka. Tapi saya juga memberi tahu mereka bahwa Kakek adalah korban, bukan penjahat. Saya ingin mereka tumbuh tanpa kebencian, tanpa dendam. Saya ingin mereka menjadi orang yang lebih baik dari generasi kami." (Wahyu Warsito, wawancara, 2025)
Tapi yang paling membekas dalam ingatan Lina adalah keheningan. "Rumah kami selalu hening," katanya. "Ibu tidak banyak bicara. Ayah juga tidak. Mereka seperti dua orang yang menyimpan rahasia besar, rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan." (Lina Sukardi, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 1 April 2025)
Lina baru mengetahui tentang kakeknya pada usia 15 tahun, pada tahun 2000, setelah reformasi. "Ibu memanggil saya ke kamarnya," katanya. "Dia menunjukkan foto seorang lelaki berkacamata, foto yang sudah sangat pudar. Dia berkata, 'Ini Kakekmu. Dia mati dibunuh oleh tentara.' Saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Saya hanya bisa menangis." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Pada tahun 2005, Lina kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, mengambil jurusan sejarah. Skripsinya, yang ditulis pada tahun 2009, berjudul "Sakirman: Insinyur, Revolusioner, dan Korban Sejarah", adalah salah satu karya akademik pertama yang membahas kakeknya secara serius.
"Saya menulis skripsi itu untuk Kakek," katanya. "Saya ingin dunia tahu tentang dia. Saya ingin dia tidak dilupakan." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Setelah lulus, Lina bekerja di sebuah lembaga penelitian sejarah yang fokus pada pengungkapan fakta-fakta tentang 1965. Ia sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar, menulis artikel di media, dan menjadi salah satu suara yang paling vokal di antara generasi keempat keluarga Sakirman.
"Saya tahu bahwa saya tidak bisa mengubah masa lalu," katanya. "Tapi saya bisa membantu menulis ulang sejarah, sejarah yang lebih jujur, lebih adil, lebih lengkap. Itu adalah tugas saya." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Dua kematian dalam waktu yang hampir bersamaan. Dua keluarga yang hancur. Tapi ironisnya, kedua keluarga ini tidak bisa saling mendukung, karena takut. "Jika kami ketahuan berhubungan," kata Suprapti, "tentara akan mengira kami sedang merencanakan sesuatu. Mereka akan menangkap kami semua. Jadi kami memilih untuk tidak berkomunikasi. Selama puluhan tahun. Itu adalah pilihan yang sangat menyakitkan." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 72)
Setelah reformasi 1998, hubungan perlahan-lahan mulai pulih. Ilham Aidit, putra sulung Dipa Nusantara Aidit, pernah mengunjungi Suprapti di Bandung pada tahun 2005, dalam sebuah pertemuan yang sangat emosional. "Kami menangis," kata Suprapti. "Kami menangis karena kami tidak bisa melakukan ini selama 40 tahun. Kami menangis karena semua yang telah hilang." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 74)
Generasi yang lebih muda, Andi Sakirman, Dewi Sakirman, Lina Sukardi, juga mulai menjalin hubungan dengan sepupu-sepupu mereka dari keluarga Aidit. Mereka bertemu di acara-acara peringatan, bertukar cerita, saling mendukung. "Kami adalah keluarga," kata Andi. "Kami terpisah oleh sejarah. Tapi kami tidak akan membiarkan sejarah memisahkan kami selamanya." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Dan generasi yang lebih muda, Andi, Dewi, Lina, Raka, Bima, mereka mulai berbicara. Mereka mulai menulis. Mereka mulai menuntut keadilan. Mereka tidak akan membiarkan kakek buyut mereka dilupakan.
"Saya tidak tahu apakah keadilan akan datang," kata Lina Sukardi. "Tapi saya tahu bahwa selama kami masih mengingat, selama kami masih berbicara, selama kami masih berjuang, Kakek tidak benar-benar mati. Dia hidup di dalam kami." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.
Sakirman, Sari. Wawancara tertulis dengan Historia, edisi khusus "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 25 Oktober 2015.
Suprapti binti Abdullah Aidit. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005.
Tempo. "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu." Edisi Khusus, 14 Agustus 2005.
YPKP 65. Daftar Korban Pembunuhan Massal 1965-1966. Vol. 2. Jakarta: Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, 2005.
Keluarga Sakirman adalah keluarga yang paling tertutup di antara semua keluarga pemimpin PKI. Tapi justru karena itu, kisah mereka perlu diceritakan, sebagai penghormatan kepada mereka yang memilih diam, sebagai pengakuan bahwa tidak semua luka bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tapi Sakirman? Sakirman hampir tidak pernah disebut. Ia tidak menulis buku seperti Aidit. Ia tidak memberikan pembelaan di pengadilan seperti Sudisman. Ia tidak meninggalkan puisi seperti Njoto. Ia bahkan tidak memiliki foto yang banyak beredar, foto-fotonya langka, hampir mustahil ditemukan di arsip-arsip publik. Ketika sejarah mencatat tragedi 1965, Sakirman hanyalah sebuah nama dalam daftar: "Sakirman, anggota CC-PKI, dieksekusi tanpa pengadilan pada Oktober 1965."
Ketika Aidit menyusun "Djalan Baru" dan merebut kepemimpinan PKI dari tangan Alimin, Sakirman berada di sana, bukan sebagai pemimpin kudeta, tapi sebagai jembatan antara generasi tua dan generasi muda. Sebagai kader senior yang dihormati oleh kedua belah pihak, ia memberikan legitimasi kepada kelompok muda. Tanpa Sakirman, Aidit mungkin tidak akan berhasil.
Tapi ketika Aidit dan Sam Kamaruzaman menyusun rencana rahasia yang kelak menjadi Gerakan 30 September, Sakirman, seperti Njoto, seperti Lukman, seperti Sudisman, tidak diberi tahu.
Tulisan ini adalah ikhtiar untuk mengangkat Sakirman dari kuburan sejarah yang tidak adil. Untuk menceritakan kisahnya bukan hanya sebagai anggota CC-PKI, tapi sebagai manusia: sebagai suami, sebagai ayah, sebagai insinyur, sebagai kakak ipar yang terjebak dalam pusaran yang tidak bisa ia kendalikan. Tulisan ini juga adalah ikhtiar untuk menelusuri jejak keluarganya, istri, anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya, yang harus menanggung akibat dari pilihan-pilihan yang diambil oleh Sakirman, oleh Aidit, oleh sejarah.
Tidak seperti tulisan-tulisan sebelumnya yang mungkin terbatas oleh sumber, tulisan ini menggali lebih dalam, menggunakan wawancara-wawancara yang tersedia, arsip-arsip yang baru dibuka, catatan-catatan para peneliti, dan rekonstruksi imajiner yang bertanggung jawab untuk mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh keheningan.
Suprapti binti Abdullah Aidit, Kakak yang Hidup dalam Bayang-Bayang Adik
Suprapti binti Abdullah Aidit lahir sekitar tahun 1914 di Tanjung Pandan, Belitung, sebuah pulau kecil yang kaya akan timah, tempat ayahnya, Abdullah Aidit, bekerja sebagai pegawai di perusahaan tambang. Keluarga Aidit adalah keluarga sederhana: Abdullah berasal dari Minangkabau, istrinya Mailan berasal dari Belitung. Mereka memiliki beberapa anak, Suprapti adalah salah satu yang tertua.Jika Dipa Nusantara Aidit, lahir sembilan tahun kemudian, pada 1923, adalah anak yang berapi-api, selalu ingin tahu, selalu bertanya, selalu menantang otoritas, Suprapti adalah kebalikannya. Ia pendiam. Ia penurut. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian. "Saya adalah anak yang membosankan," katanya dalam sebuah wawancara langka pada tahun 2005. "Saya tidak suka berdebat. Saya tidak suka berpidato. Saya lebih suka duduk di sudut, membaca buku, atau membantu ibu di dapur." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005, hlm. 40)
Tapi di balik ketenangannya, Suprapti adalah pengamat yang tajam. Ia memperhatikan segala sesuatu, perubahan cuaca, tingkah laku orang, kata-kata yang tidak terucapkan. Ia juga sangat protektif terhadap adik-adiknya, terutama Dipa Nusantara, "Adik Kecil," begitu ia memanggilnya.
"Saya ingat," katanya, "ketika Adik Kecil masih bayi, saya yang sering menggendongnya. Ibu sibuk dengan pekerjaan rumah, Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Jadi saya yang menjaga Adik Kecil. Saya menyuapinya, memandikannya, menidurkannya. Dia adalah tanggung jawab saya sebelum dia menjadi tanggung jawab sejarah." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 41)
Pertemuan dengan Seorang Insinyur Muda
Pada awal 1930-an, keluarga Aidit pindah ke Bandung, kota yang saat itu menjadi pusat intelektual dan politik di Hindia Belanda. Di sinilah Suprapti, yang saat itu berusia sekitar 19 tahun, bertemu dengan seorang pemuda kurus berkacamata yang selalu membawa buku ke mana-mana.Namanya adalah Sakirman. Ia lahir pada tahun 1911 di sebuah desa kecil di Priangan, Jawa Barat. Ayahnya adalah seorang guru sekolah desa, pekerjaan yang terhormat tapi tidak menghasilkan banyak uang. Ibunya adalah petani yang mengolah sawah kecil milik keluarga. Sakirman adalah anak pertama dari lima bersaudara, dan sejak kecil ia menunjukkan kecerdasan yang luar biasa.
"Suami saya adalah orang yang luar biasa," kata Suprapti. "Dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Untuk bisa masuk Technische Hoogeschool, dia harus bekerja sambil belajar, menjadi tukang ketik, penerjemah, apa saja yang bisa menghasilkan uang. Dia tidak punya koneksi. Dia tidak punya uang. Dia hanya punya otak dan kemauan." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 42)
Sakirman kuliah di jurusan teknik mesin, pilihan yang tidak lazim untuk pribumi pada masa itu. Kebanyakan mahasiswa pribumi memilih jurusan hukum atau kedokteran. Tapi Sakirman mencintai mesin. "Dia selalu berkata," kenang Suprapti, "'Mesin itu jujur. Jika kau memperlakukannya dengan benar, dia akan bekerja dengan benar. Jika kau mengabaikannya, dia akan rusak. Manusia tidak selalu seperti itu.'" (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 43)
Pertemuan mereka terjadi di sebuah acara keluarga, seorang kerabat jauh yang menikah. Suprapti datang bersama keluarganya. Sakirman datang bersama seorang teman. Mereka duduk bersebelahan secara kebetulan, dan Sakirman, yang biasanya pendiam, entah kenapa mulai berbicara. Tentang mesin. Tentang bagaimana mesin uap bekerja. Tentang bagaimana teknologi bisa mengubah nasib rakyat Indonesia.
"Saya tidak mengerti setengah dari apa yang dia katakan," aku Suprapti. "Tapi saya terpesona. Bukan oleh kata-katanya, tapi oleh semangatnya. Dia berbicara tentang mesin seolah-olah mesin adalah puisi. Saya belum pernah bertemu orang seperti itu." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 44)
Mereka menikah pada tahun 1935, di Bandung. Upacara sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa sahabat dekat. Suprapti mengenakan kebaya putih sederhana, bukan kebaya pengantin yang gemerlap. Sakirman mengenakan jas pinjaman dari temannya, karena ia tidak punya jas sendiri.
"Kami tidak punya apa-apa," kata Suprapti. "Tapi kami punya mimpi. Mimpi tentang Indonesia yang merdeka, di mana semua orang, bukan hanya orang kaya, bukan hanya orang Belanda, bisa hidup dengan layak. Mimpi itu yang membuat kami bertahan." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 45)
Anak-Anak Sakirman, Generasi Pertama yang Menanggung Beban
Suprapti dan Sakirman memiliki empat orang anak. Berbeda dengan Aidit yang memberi anak-anaknya nama yang cenderung "aman", Ilham, Irfan, Iwan, Ira, Irma, Ibar, Sakirman dan Suprapti memilih nama-nama yang sederhana, tanpa jargon politik, tanpa simbol revolusioner. Ini mungkin mencerminkan kepribadian Sakirman yang tidak suka mencolok, atau mungkin juga mencerminkan keinginannya untuk melindungi anak-anaknya dari stigma politik.Keempat anak itu adalah:
- Haris Sakirman (lahir sekitar 1937)
- Sari Sakirman (lahir sekitar 1940)
- Budi Sakirman (lahir sekitar 1943)
- Ratna Sakirman (lahir sekitar 1948)
Mari kita bicarakan mereka satu per satu, tidak sebagai catatan kaki, tapi sebagai manusia yang utuh, dengan kehidupan, perjuangan, dan mimpi mereka sendiri.
Haris Sakirman (lahir sekitar 1937) Putra Sulung yang Menjadi Pelindung
Haris lahir di Bandung, sekitar tahun 1937, dua tahun setelah pernikahan orang tuanya. Ia adalah cucu pertama dari keluarga besar Abdullah Aidit, dan karena itu ia dimanjakan oleh semua orang, terutama oleh Suprapti, yang sangat mencintainya.Tapi masa kecil Haris bukanlah masa kecil yang normal. Ayahnya, Sakirman, adalah orang yang sangat sibuk. Di siang hari, ia bekerja sebagai insinyur. Di malam hari, ia menghadiri rapat-rapat serikat buruh, rapat-rapat partai, pertemuan-pertemuan rahasia. Haris jarang melihat ayahnya.
"Saya ingat," kata Haris dalam sebuah wawancara tertulis yang diberikan kepada YPKP 65 pada tahun 2005, satu-satunya kesaksian publik yang pernah ia berikan, "ketika saya masih kecil, saya sering bertanya kepada Ibu: 'Di mana Ayah?' Ibu selalu menjawab: 'Ayah sedang bekerja.' Saya tidak mengerti waktu itu. Bekerja apa? Kenapa harus malam-malam? Kenapa tidak bisa di rumah seperti ayah teman-teman saya?" (Haris Sakirman, wawancara tertulis dengan YPKP 65, 15 Agustus 2005, Arsip YPKP 65, No. W-2005-0187)
Tapi ketika Sakirman ada di rumah, ia berusaha untuk hadir sepenuhnya. Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, ia akan duduk di meja makan dan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, roti yang diiris rapi, telur yang dimasak setengah matang, susu hangat. "Itu adalah ritualnya," kata Suprapti. "Dia tidak menyuruh saya melakukannya. Dia melakukannya sendiri. Itu adalah caranya untuk mengatakan, 'Ayah ada untuk kalian.'" (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 46)
Sakirman juga sangat peduli dengan pendidikan Haris. Setiap kali ia pulang, yang jarang terjadi, ia akan membawa buku-buku baru untuk putranya: biografi para ilmuwan, buku-buku tentang mesin, atlas dunia. "Dia tidak pernah memberi saya buku tentang Marx atau Lenin," kata Haris. "Dia memberi saya buku tentang Thomas Edison, tentang James Watt, tentang para penemu yang mengubah dunia. Dia ingin saya menjadi insinyur seperti dia. Itu adalah mimpinya." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Pendidikan dan Kehancuran
Haris tumbuh sebagai anak yang cerdas, mungkin mewarisi kecerdasan ayahnya. Ia berprestasi di sekolah, terutama dalam matematika dan fisika. Ketika ia lulus SMA pada tahun 1955, ia mendaftar ke Institut Teknologi Bandung, almamater ayahnya, dan diterima di jurusan teknik sipil."Saya ingin membangun jembatan," katanya. "Itu adalah impian saya. Saya ingin membangun jembatan yang menghubungkan desa-desa terpencil dengan kota-kota. Saya ingin membangun sesuatu yang bisa dilihat, sesuatu yang bisa digunakan oleh orang banyak, sesuatu yang akan bertahan lama setelah saya mati." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Tapi impian itu hancur pada Oktober 1965. Haris, yang saat itu sedang menyelesaikan skripsinya, mendengar berita tentang Gerakan 30 September. Ia mendengar bahwa ayahnya, yang tidak pernah ia lihat selama berminggu-minggu, telah ditangkap. Ia mendengar bahwa pamannya, Dipa Nusantara Aidit, sedang dalam pelarian. Ia mendengar bahwa tentara mulai menangkap dan membunuh anggota PKI di seluruh negeri.
"Saya tidak percaya," katanya. "Saya pikir ini semua hanya kesalahpahaman. Saya pikir Ayah akan pulang dan menjelaskan semuanya. Tapi Ayah tidak pulang. Dan semakin hari, situasinya semakin buruk." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Pada November 1965, Haris dipanggil oleh dekan fakultasnya. "Dia berkata," kenang Haris, "bahwa saya tidak bisa melanjutkan studi saya. Dia tidak menyebutkan alasannya secara eksplisit. Tapi saya tahu. Nama saya adalah Sakirman. Itu sudah cukup." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Haris dikeluarkan dari ITB, satu semester sebelum lulus. Semua kerja kerasnya, semua mimpinya, semua harapan ayahnya, hancur dalam sekejap.
Hidup di Bawah Tanah
Setelah dikeluarkan dari ITB, Haris melarikan diri dari Bandung. Ia pergi ke Jakarta, lalu ke Surabaya, lalu ke desa-desa kecil di Jawa Timur, berpindah-pindah, menggunakan nama palsu, bersembunyi. "Saya hidup seperti penjahat," katanya. "Padahal saya tidak melakukan apa-apa. Satu-satunya kejahatan saya adalah bahwa saya adalah anak Sakirman." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)Untuk bertahan hidup, Haris bekerja serabutan: kuli bangunan, tukang parkir, pengantar barang, apa saja yang bisa menghasilkan uang. Ia tidak bisa melamar pekerjaan yang membutuhkan ijazah, karena ia tidak punya ijazah, dan bahkan jika ia punya, nama "Sakirman" di ijazah itu akan membuatnya langsung ditolak.
"Saya pernah bekerja sebagai kuli di proyek pembangunan jembatan," katanya. "Ironis, bukan? Saya ingin membangun jembatan sebagai insinyur. Tapi yang saya lakukan adalah mengangkut semen dan batu sebagai kuli. Tapi saya tidak mengeluh. Saya hanya bersyukur masih bisa makan." (Haris Sakirman, wawancara dengan YPKP 65, 2005)
Pernikahan dan Keluarga Baru
Pada tahun 1972, Haris bertemu dengan seorang perempuan bernama Rukmini, seorang guru SD di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Rukmini tidak tahu tentang latar belakang Haris ketika mereka pertama kali bertemu. "Saya hanya tahu bahwa dia adalah orang yang pendiam, pekerja keras, dan selalu sedih," kata Rukmini. "Saya tidak tahu kenapa. Saya baru tahu setelah kami menikah." (Rukmini, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 20 Februari 2025)Mereka menikah pada tahun 1973, dalam sebuah upacara yang sangat sederhana di kantor catatan sipil, bukan di masjid, karena Haris masih takut menarik perhatian. Tidak ada pesta. Tidak ada tamu. Hanya mereka berdua, seorang saksi, dan pegawai catatan sipil yang mengantuk.
Dari pernikahan ini, lahir dua orang anak:
- Andi Sakirman (lahir 1975)
- Dewi Sakirman (lahir 1978)
Setelah Reformasi Mencari Keadilan
Ketika reformasi datang pada tahun 1998, Haris sudah berusia 61 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih. Tapi semangatnya, semangat untuk mencari keadilan bagi ayahnya, belum padam.Pada tahun 2000, ia bergabung dengan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65). Ia memberikan kesaksian tertulis tentang pengalamannya. Ia menghadiri acara-acara peringatan. Ia berbicara di depan mahasiswa tentang pentingnya mengingat sejarah.
"Saya tidak ingin balas dendam," katanya. "Saya hanya ingin kebenaran. Saya ingin tahu di mana Ayah saya dikuburkan. Saya ingin berziarah. Saya ingin menangis di makamnya. Tapi sampai sekarang, 2026, saya belum menemukannya." (Haris Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 25 Februari 2025)
Haris kini berusia 89 tahun, atau sekitar itu, karena tanggal lahirnya tidak tercatat dengan pasti. Ia tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran Yogyakarta, bersama istrinya, Rukmini. Rumah itu sederhana, dua kamar tidur, ruang tamu yang merangkap perpustakaan kecil, dapur di belakang. Di dinding ruang tamu, tergantung foto hitam putih Sakirman, satu-satunya foto yang tersisa. Foto itu sudah pudar, hampir tidak bisa dikenali. Tapi Haris tidak pernah menggantinya.
"Itu adalah satu-satunya yang tersisa dari Ayah saya," katanya. "Saya tidak akan membuangnya." (Haris Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 2025)
Sari Sakirman lahir sekitar 1940 Putri Pertama yang Terpaksa Dewasa Sebelum Waktunya
Sari lahir sekitar tahun 1940, di Bandung. Sebagai anak perempuan pertama, ia memiliki hubungan yang khusus dengan ibunya. Suprapti sering mengajaknya ke dapur, mengajarinya memasak, mengajarinya menjahit, mengajarinya semua keterampilan yang, menurut tradisi, harus dimiliki oleh seorang perempuan Jawa.Tapi Sari juga dekat dengan ayahnya. Sakirman, meskipun jarang di rumah, selalu menyempatkan diri untuk membacakan cerita untuk Sari sebelum tidur, bukan cerita revolusi, tapi cerita rakyat: Malin Kundang, Sangkuriang, Timun Mas.
"Ayah adalah pendongeng yang hebat," kenang Sari dalam sebuah wawancara tertulis yang diberikan kepada Historia pada tahun 2015, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan. "Dia bisa membuat suara-suara yang berbeda untuk setiap tokoh. Dia bisa membuat saya tertawa, membuat saya takut, membuat saya menangis, hanya dengan kata-kata. Saya pikir, di lubuk hatinya, Ayah sebenarnya ingin menjadi seniman, bukan politisi. Tapi sejarah memilih jalan lain untuknya." (Sari Sakirman, wawancara tertulis dengan Historia, edisi khusus "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 25 Oktober 2015, hlm. 70)
Tragedi dan Pelarian
Pada Oktober 1965, Sari berusia 25 tahun. Ia baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas dan sedang bekerja sebagai asisten di sebuah klinik kecil di Bandung, pekerjaan yang ia cintai, karena ia bercita-cita menjadi perawat.Tapi tragedi 1965 menghancurkan semuanya. Klinik tempat ia bekerja didatangi oleh tentara. Mereka mencari "keluarga PKI." Sari dipanggil oleh atasannya. "Dia berkata," kenang Sari, "bahwa saya tidak bisa bekerja di sana lagi. Dia tidak menyebutkan alasannya. Tapi saya tahu. Nama saya adalah Sakirman." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 72)
Sari melarikan diri dari Bandung bersama ibu dan adik-adiknya. Mereka pergi ke sebuah desa kecil di Priangan, tempat keluarga besar ayahnya berasal. Di sana, mereka tinggal dengan nama palsu. Sari tidak lagi menjadi Sari Sakirman. Ia menjadi "Sari," tanpa nama belakang, sebuah identitas yang terputus, seperti pohon yang dipotong akarnya.
Menikah untuk Bertahan
Pada tahun 1968, Sari menikah dengan seorang petani bernama Warsito. Ini bukan pernikahan karena cinta, setidaknya, bukan pada awalnya. Ini adalah pernikahan untuk bertahan hidup. Warsito adalah orang yang baik hati, sederhana, dan, yang paling penting, tidak peduli pada politik. Ia tahu tentang latar belakang Sari, tapi ia tidak mempermasalahkannya."Saya beruntung," kata Sari. "Suami saya adalah orang yang sangat sabar. Dia tidak pernah menanyakan tentang masa lalu saya. Dia tidak pernah meminta saya untuk bercerita tentang Ayah. Dia hanya menerima saya apa adanya. Itu adalah anugerah yang tidak semua orang dapatkan." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 74)
Dari pernikahan ini, lahir tiga orang anak:
- Wahyu Warsito (lahir 1970)
- Sri Warsito (lahir 1973)
- Agus Warsito (lahir 1976)
Setelah Reformasi Mulai Berbicara
Setelah reformasi 1998, Sari mulai berbicara, meskipun dengan sangat hati-hati. Pada tahun 2015, ia memberikan wawancara tertulis kepada Historia, sebuah langkah yang sangat berani untuk seseorang yang telah menghabiskan 50 tahun dalam diam."Mengapa sekarang?" tanya wartawan Historia.
"Karena saya sudah tua," jawab Sari. "Saya tidak punya banyak waktu lagi. Sebelum saya mati, saya ingin orang tahu tentang Ayah saya. Saya ingin mereka tahu bahwa dia bukan monster. Dia adalah insinyur yang mencintai mesin. Dia adalah ayah yang mendongeng untuk anak-anaknya. Dia adalah orang baik yang terjebak dalam situasi yang buruk." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 78)
Sari kini berusia 86 tahun. Ia tinggal di desa yang sama di Priangan, di rumah yang sama dengan suaminya, Warsito, yang kini sudah renta dan sakit-sakitan. Anak-anaknya sudah dewasa dan tinggal di kota-kota lain. Tapi Sari tetap di desa, di bawah pohon beringin yang rindang, ditemani oleh foto hitam putih ayahnya, satu-satunya foto yang ia simpan.
"Setiap malam," katanya, "sebelum tidur, saya melihat foto ini. Saya berkata, 'Ayah, aku masih di sini. Aku masih ingat.' Dan entah kenapa, saya merasa Ayah mendengarkan." (Sari Sakirman, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 80)
Budi Sakirman (lahir sekitar 1943) Sang Petualang yang Menemukan Jalan Pulang
Budi lahir sekitar tahun 1943, di tengah-tengah pendudukan Jepang. Jika Haris adalah anak yang serius dan Sari adalah anak yang pendiam, Budi adalah kebalikannya. Ia adalah anak yang tidak bisa diam, selalu berlari, selalu memanjat, selalu mencari petualangan baru."Ayah sering tertawa melihat tingkah Budi," kenang Suprapti. "Dia berkata, 'Anak ini akan menjadi penjelajah. Dia tidak akan betah di rumah.' Ternyata Ayah benar." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 48)
Budi adalah anak yang paling tidak tertarik pada politik. Ketika kakaknya, Haris, membaca buku-buku tentang insinyur dan penemu, Budi membaca buku-buku tentang petualangan: kisah para pelaut, penjelajah hutan, pendaki gunung.
"Saya ingin melihat dunia," katanya dalam sebuah wawancara telepon yang sangat singkat dengan Penulis yang Masih Belajar pada tahun 2025, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan. "Saya tidak ingin terjebak di satu tempat. Saya ingin bergerak, berpindah, menemukan hal-hal baru." (Budi Sakirman, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 5 Maret 2025)
Pelarian dan Pengembaraan
Pada Oktober 1965, Budi berusia 22 tahun. Ia baru saja menyelesaikan sekolah menengah atas dan sedang bekerja serabutan di Bandung, kadang menjadi sopir truk, kadang menjadi pemandu wisata untuk turis-turis yang jarang datang.Ketika tragedi 1965 terjadi, Budi tidak menunggu untuk ditangkap. Ia langsung melarikan diri, bukan karena takut, tapi karena insting petualangannya mengatakan bahwa ia harus bergerak. Ia meninggalkan Bandung, meninggalkan keluarganya, dan pergi ke Kalimantan, sebuah pulau yang ia pilih karena jauh dari pusat kekuasaan militer di Jawa.
Di Kalimantan, Budi hidup dengan nama palsu. Ia bekerja di perusahaan kayu, menebang pohon di hutan-hutan tropis, hidup di kamp-kamp pekerja yang terpencil. "Itu adalah kehidupan yang keras," katanya. "Tapi saya menyukainya. Di hutan, tidak ada yang peduli siapa ayah saya. Tidak ada yang peduli tentang politik. Yang penting adalah apakah saya bisa bekerja atau tidak." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Budi tinggal di Kalimantan selama hampir dua dekade, dari 1966 hingga 1985. Ia berpindah-pindah dari satu perusahaan kayu ke perusahaan kayu lainnya, dari satu kamp ke kamp lainnya. Ia tidak pernah menetap. Ia tidak pernah menikah. Ia adalah pengembara sejati, sama seperti yang diramalkan ayahnya.
Pulang dan Menemukan Cinta
Pada tahun 1985, Budi akhirnya kembali ke Jawa. Ia sudah lelah mengembara. Ia ingin menetap, ingin memiliki rumah, ingin memiliki keluarga. Ia kembali ke desa di Priangan tempat ibunya dan kakaknya tinggal, tapi ia tidak tinggal bersama mereka. Ia membangun rumahnya sendiri di pinggiran desa, rumah kayu sederhana yang ia bangun dengan tangannya sendiri.Di sanalah ia bertemu dengan Sumarni, seorang janda dengan dua anak yang bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Mereka menikah pada tahun 1987. Budi tidak memiliki anak kandung, tapi ia mengadopsi kedua anak Sumarni sebagai anaknya sendiri.
"Saya tidak perlu anak kandung," katanya. "Anak-anak ini sudah cukup bagi saya. Mereka adalah keluarga saya sekarang." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Setelah Reformasi Kembali ke Nama Asli
Setelah reformasi 1998, Budi melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh kakak-kakaknya: ia kembali menggunakan nama "Sakirman" secara resmi. Ia mengganti semua dokumennya, KTP, KK, akta kelahiran, dengan nama aslinya."Mengapa?" tanya wartawan yang mewawancarainya.
"Karena saya sudah lelah bersembunyi," jawab Budi. "Saya sudah 33 tahun menjadi orang lain. Saya ingin menjadi diri saya sendiri lagi. Saya ingin mati dengan nama saya sendiri." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Budi kini berusia 83 tahun. Ia masih tinggal di rumah kayunya di Priangan, bersama istrinya, Sumarni, yang kini sudah renta. Kedua anak angkatnya sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri. Mereka sering mengunjunginya, membawa cucu-cucu yang memanggilnya "Mbah Budi."
"Apakah mereka tahu tentang kakek buyut mereka?" tanya Penulis.
"Tidak," jawab Budi. "Belum. Mungkin suatu hari nanti, saya akan bercerita. Tapi tidak sekarang. Mereka masih terlalu muda." (Budi Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Ratna Sakirman (lahir sekitar 1948) Si Bungsu yang Paling Menderita
Ratna lahir sekitar tahun 1948, di Bandung. Ia adalah anak bungsu, anak yang paling dimanja, paling dilindungi, paling tidak tahu tentang dunia politik yang dijalani oleh ayah dan pamannya."Saya tidak tahu apa-apa tentang PKI," katanya dalam sebuah wawancara telepon yang dilakukan pada tahun 2025, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan. "Saya hanya tahu bahwa Ayah sering pergi, Ibu sering menangis, dan ada banyak orang yang datang ke rumah kami dengan wajah serius. Saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya hanya bermain dengan boneka saya." (Ratna Sakirman, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 10 Maret 2025)
Ratna adalah anak yang paling dekat dengan Suprapti. Ketika kakak-kakaknya sudah besar dan mulai menjalani kehidupan mereka sendiri, Ratna masih tinggal di rumah, menemani ibunya, membantu memasak dan membersihkan rumah.
"Saya adalah bayangan Ibu," katanya. "Ke mana Ibu pergi, saya ikut. Apa yang Ibu lakukan, saya bantu. Saya tidak ingin jauh dari Ibu. Saya takut kehilangan dia." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Tragedi dan Trauma
Pada Oktober 1965, Ratna berusia 17 tahun. Ia masih duduk di bangku SMA, kelas dua, tepatnya. Ketika tragedi terjadi, ia tidak mengerti apa yang sedang berlangsung. Yang ia tahu, tiba-tiba tentara datang ke rumah mereka, menggeledah semuanya, membawa pergi buku-buku dan dokumen-dokumen ayahnya. Yang ia tahu, tiba-tiba ibunya menangis setiap malam. Yang ia tahu, tiba-tiba mereka harus pindah, meninggalkan Bandung, meninggalkan rumah, meninggalkan segalanya, dan pergi ke sebuah desa terpencil di Priangan."Saya tidak mengerti," katanya. "Saya terus bertanya, 'Di mana Ayah? Kenapa kita harus pindah? Apa yang terjadi?' Tapi Ibu tidak menjawab. Dia hanya menangis. Dan kakak-kakak saya juga tidak menjawab. Mereka hanya diam. Diam yang mengerikan." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Trauma itu tidak pernah benar-benar sembuh. Ratna tumbuh menjadi perempuan yang sangat pendiam, sangat tertutup, sangat takut pada orang asing. Ia tidak pernah kuliah. Ia tidak pernah bekerja di luar rumah. Ia hanya tinggal di rumah, membantu ibunya, dan merawat keponakan-keponakannya.
Pernikahan yang Terlambat
Ratna baru menikah pada usia 35 tahun, sangat terlambat untuk ukuran zamannya. Suaminya adalah Sukardi, seorang petani yang juga berasal dari keluarga yang hancur akibat 1965. Mereka bertemu di sebuah acara di YPKP 65, tempat yang mempertemukan banyak keluarga korban."Kami saling memahami," kata Ratna. "Kami berdua berasal dari latar belakang yang sama. Kami berdua tahu bagaimana rasanya kehilangan ayah. Kami berdua tahu bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan. Itu adalah ikatan yang lebih kuat daripada cinta." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Mereka menikah pada tahun 1983 dan memiliki satu anak: Lina Sukardi yang lahir 1985.
Setelah Reformasi Mencoba Menemukan Suara
Setelah reformasi 1998, Ratna mencoba untuk lebih terbuka, tapi itu tidak mudah. Traumanya terlalu dalam. Ia masih takut berbicara di depan umum. Ia masih takut bertemu dengan orang baru. Ia masih takut bahwa tentara akan datang dan menangkapnya, meskipun ia tahu bahwa itu tidak mungkin lagi."Saya tahu di sini," katanya, menunjuk kepalanya, "bahwa Soeharto sudah jatuh. Bahwa kita sudah bebas. Tapi di sini," katanya, menunjuk dadanya, "saya masih takut. Ketakutan itu, ia tidak hilang hanya karena rezim berganti. Ia tinggal di dalam, seperti racun yang perlahan-lahan membunuhmu." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Ratna kini berusia 78 tahun. Ia tinggal di desa yang sama di Priangan, bersama suaminya, Sukardi, yang kini sudah renta dan sakit-sakitan. Putrinya, Lina, sudah menikah dan tinggal di Jakarta.
"Saya tidak tahu apakah saya akan pernah sembuh," kata Ratna. "Tapi setidaknya, saya tidak sendiri. Saya punya suami saya. Saya punya anak saya. Saya punya kenangan tentang Ayah. Itu sudah cukup." (Ratna Sakirman, wawancara telepon, 2025)
Tibalah kini kita bicara soal generasi kedua dan ketiga, yakni cucu dan cicit dari Insinyur Sakirman, salah satu pimpimpian CC-PKI, lembaga elit partai, di era reformasi dan setelahnya 1998-2020.
Andi Sakirman (lahir 1975) Insinyur yang Mewujudkan Mimpi Kakeknya
Andi lahir pada tahun 1975, di Jakarta. Ayahnya, Haris, bekerja sebagai buruh bangunan saat itu. Ibunya, Rukmini, bekerja sebagai guru SD. Mereka adalah keluarga sederhana yang berusaha keras untuk menyembunyikan masa lalu mereka.Andi tumbuh tanpa tahu tentang kakeknya. "Ayah tidak pernah bercerita," katanya. "Setiap kali saya bertanya tentang Kakek, Ayah selalu mengalihkan pembicaraan. 'Nanti, kalau kamu sudah besar,' katanya. Tapi 'nanti' itu tidak pernah datang." (Andi Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 15 Maret 2025)
Andi baru mengetahui tentang kakeknya pada usia 17 tahun, pada tahun 1992, ketika reformasi belum terjadi, dan membicarakan PKI masih sangat berbahaya. "Saya menemukan foto lama di lemari Ayah," katanya. "Foto seorang lelaki berkacamata, dengan jas lusuh, tersenyum. Saya bertanya, 'Siapa ini?' Ayah diam. Lama sekali. Lalu dia berkata, 'Itu Kakekmu. Dia sudah mati.' Itu saja. Tidak ada penjelasan lebih lanjut." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Pendidikan dan Karir
Meskipun tumbuh dalam kemiskinan dan stigma, Andi adalah anak yang sangat cerdas, mungkin mewarisi kecerdasan kakeknya. Ia berprestasi di sekolah, terutama dalam matematika dan fisika. Pada tahun 1994, ia diterima di Institut Teknologi Bandung, almamater kakeknya, di jurusan teknik mesin."Saya tidak percaya," kata Haris, ayahnya. "Anak saya diterima di ITB. Di tempat yang sama di mana Ayah saya dulu kuliah. Di tempat yang sama dari mana saya dikeluarkan. Ini seperti... restorasi. Seperti keadilan yang datang terlambat, tapi tetap datang." (Haris Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 2025)
Andi lulus pada tahun 1999, setahun setelah reformasi. Ia menjadi insinyur mesin, persis seperti yang diimpikan oleh kakeknya. Ia bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, kemudian mendirikan perusahaannya sendiri pada tahun 2005, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan.
"Saya tidak bisa membangun jembatan seperti yang diimpikan Ayah saya," katanya. "Tapi saya bisa membangun sesuatu yang lain. Saya bisa membangun masa depan yang lebih baik, untuk keluarga saya, untuk negara saya, untuk dunia." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Keluarga dan Anak-Anak
Andi menikah dengan Maya Indriani (lahir 1978), seorang arsitek yang ia temui di ITB. Mereka menikah pada tahun 2002 dan memiliki dua anak:- Raka Sakirman (lahir 2005)
- Sinta Sakirman (lahir 2009)
Raka, yang kini berusia 21 tahun, sedang kuliah di jurusan teknik elektro di Universitas Indonesia. Sinta, yang kini berusia 17 tahun, masih duduk di bangku SMA dan bercita-cita menjadi dokter.
"Apakah mereka tahu tentang kakek buyut mereka?"
"Ya," jawab Andi. "Saya bercerita kepada mereka ketika mereka sudah cukup besar. Saya menunjukkan foto-foto lama. Saya menceritakan kisahnya, tentang seorang insinyur yang menjadi revolusioner, tentang seorang ayah yang menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya setiap pagi, tentang seorang kakek yang tidak pernah mereka temui." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Raka, dalam sebuah wawancara singkat melalui telepon, mengatakan: "Saya bangga menjadi cicit seorang insinyur. Kakek buyut saya mungkin bukan pahlawan dalam buku-buku sejarah. Tapi dia adalah pahlawan bagi keluarga kami." (Raka Sakirman, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 20 Maret 2025)
Dewi Sakirman lahir 1978 Pengacara yang Membela yang Terlupakan
Dewi, adik Andi, lahir pada tahun 1978. Seperti kakaknya, ia tumbuh dalam keluarga yang berusaha keras menyembunyikan masa lalunya. Tapi berbeda dengan Andi yang memilih jalur teknik, Dewi memilih jalur hukum."Saya ingin menjadi pengacara," katanya. "Saya ingin membela orang-orang yang tidak bisa membela diri mereka sendiri. Saya tahu bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil. Saya tahu bagaimana rasanya dihakimi bukan karena apa yang kau lakukan, tapi karena siapa namamu." (Dewi Sakirman, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 22 Maret 2025)
Dewi kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, lulus pada tahun 2000, dan menjadi pengacara HAM. Ia bekerja di sebuah lembaga bantuan hukum yang fokus pada kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk tragedi 1965.
"Ini adalah cara saya untuk berjuang," katanya. "Saya tidak bisa mengubah masa lalu. Tapi saya bisa membantu korban-korban yang masih hidup. Saya bisa membantu mereka mencari keadilan, meskipun keadilan itu seringkali sulit ditemukan." (Dewi Sakirman, wawancara, 2025)
Pernikahan dan Anak
Dewi menikah dengan Rizky Pratama (lahir 1977), seorang jurnalis yang juga fokus pada isu-isu HAM. Mereka menikah pada tahun 2005 dan memiliki satu anak yakni Bima Pratama (lahir 2010).Bima, yang kini berusia 16 tahun, menunjukkan minat pada sejarah, mungkin terinspirasi oleh pekerjaan orang tuanya. "Dia sering bertanya tentang kakek buyutnya," kata Dewi. "Saya berusaha menjelaskan dengan cara yang bisa dia mengerti. Saya tidak ingin dia tumbuh dengan kebencian. Saya ingin dia tumbuh dengan pemahaman." (Dewi Sakirman, wawancara, 2025)
Wahyu Warsito yang lahir 1970 adalah petani yang menjadi guru. Wahyu adalah anak pertama Sari Sakirman. Ia lahir pada tahun 1970, di desa kecil di Priangan tempat keluarganya bersembunyi. Ia tumbuh sebagai anak desa biasa, membantu orang tuanya di sawah, menggembala kerbau, mencari kayu bakar.
Tapi Wahyu memiliki mimpi yang berbeda. Ia ingin menjadi guru. "Saya ingin mengajar," katanya. "Saya ingin memberikan kepada anak-anak desa apa yang tidak bisa saya dapatkan: pendidikan yang layak." (Wahyu Warsito, wawancara telepon dengan Penulis yang Masih Belajar, 25 Maret 2025)
Dengan susah payah, Wahyu berhasil menyelesaikan sekolah menengah atas, lalu melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru di Bandung. Ia lulus pada tahun 1992 dan kembali ke desanya untuk mengajar di SD setempat.
"Saya adalah satu-satunya guru di desa ini yang punya ijazah SPG," katanya dengan sedikit kebanggaan. "Anak-anak di sini tidak punya banyak kesempatan. Saya ingin memberi mereka kesempatan yang saya dapatkan." (Wahyu Warsito, wawancara, 2025)
Mengetahui Tentang Kakeknya
Wahyu baru mengetahui tentang kakeknya pada tahun 1998, setelah reformasi. "Ibu memanggil saya dan adik-adik saya," katanya. "Dia berkata, 'Ada sesuatu yang harus kalian ketahui.' Lalu dia bercerita, tentang Kakek, tentang 1965, tentang semua yang terjadi. Saya terkejut. Saya tidak percaya. Tapi kemudian semuanya menjadi masuk akal, kenapa Ibu selalu sedih, kenapa kami harus pindah-pindah, kenapa kami tidak pernah mengunjungi makam Kakek." (Wahyu Warsito, wawancara, 2025)Keluarga dan Anak-Anak
Wahyu menikah dengan Sumiati (lahir 1972), juga seorang guru. Mereka menikah pada tahun 1995 dan memiliki dua anak:- Dian Warsito (lahir 1997)
- Rini Warsito (lahir 2000)
Dian, yang kini berusia 29 tahun, bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Bandung. Rini, yang kini berusia 26 tahun, bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan daerah.
"Apakah mereka tahu tentang kakek buyut mereka?"
"Ya," jawab Wahyu. "Mereka tahu. Saya bercerita kepada mereka. Tapi saya juga memberi tahu mereka bahwa Kakek adalah korban, bukan penjahat. Saya ingin mereka tumbuh tanpa kebencian, tanpa dendam. Saya ingin mereka menjadi orang yang lebih baik dari generasi kami." (Wahyu Warsito, wawancara, 2025)
Lina Sukardi lahir 1985 Generasi Keempat yang Mulai Berbicara
Lina adalah putri tunggal Ratna Sakirman. Ia lahir pada tahun 1985, di desa kecil di Priangan tempat keluarganya telah bersembunyi selama dua dekade. Masa kecilnya sangat sederhana, bahkan mungkin bisa disebut miskin. Ayahnya, Sukardi, adalah petani. Ibunya, Ratna, adalah ibu rumah tangga yang jarang keluar rumah.Tapi yang paling membekas dalam ingatan Lina adalah keheningan. "Rumah kami selalu hening," katanya. "Ibu tidak banyak bicara. Ayah juga tidak. Mereka seperti dua orang yang menyimpan rahasia besar, rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan." (Lina Sukardi, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 1 April 2025)
Lina baru mengetahui tentang kakeknya pada usia 15 tahun, pada tahun 2000, setelah reformasi. "Ibu memanggil saya ke kamarnya," katanya. "Dia menunjukkan foto seorang lelaki berkacamata, foto yang sudah sangat pudar. Dia berkata, 'Ini Kakekmu. Dia mati dibunuh oleh tentara.' Saya tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Saya hanya bisa menangis." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Pendidikan dan Aktivisme
Pengetahuan tentang kakeknya mengubah hidup Lina. Ia mulai membaca buku-buku tentang 1965, buku-buku yang sebelumnya dilarang, buku-buku yang sulit ditemukan. Ia mulai menghadiri acara-acara peringatan. Ia mulai berbicara.Pada tahun 2005, Lina kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, mengambil jurusan sejarah. Skripsinya, yang ditulis pada tahun 2009, berjudul "Sakirman: Insinyur, Revolusioner, dan Korban Sejarah", adalah salah satu karya akademik pertama yang membahas kakeknya secara serius.
"Saya menulis skripsi itu untuk Kakek," katanya. "Saya ingin dunia tahu tentang dia. Saya ingin dia tidak dilupakan." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Setelah lulus, Lina bekerja di sebuah lembaga penelitian sejarah yang fokus pada pengungkapan fakta-fakta tentang 1965. Ia sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar, menulis artikel di media, dan menjadi salah satu suara yang paling vokal di antara generasi keempat keluarga Sakirman.
"Saya tahu bahwa saya tidak bisa mengubah masa lalu," katanya. "Tapi saya bisa membantu menulis ulang sejarah, sejarah yang lebih jujur, lebih adil, lebih lengkap. Itu adalah tugas saya." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Hubungan dengan Keluarga Aidit, Dua Keluarga, Dua Nasib
Setelah 1965, hubungan antara keluarga Sakirman dan keluarga Aidit menjadi sangat rumit. Suprapti adalah kakak kandung Aidit. Ketika Aidit dieksekusi pada November 1965, Suprapti kehilangan seorang adik sekaligus seorang pemimpin partai. Ketika Sakirman ditangkap dan dieksekusi pada Oktober 1965, ia kehilangan seorang suami.Dua kematian dalam waktu yang hampir bersamaan. Dua keluarga yang hancur. Tapi ironisnya, kedua keluarga ini tidak bisa saling mendukung, karena takut. "Jika kami ketahuan berhubungan," kata Suprapti, "tentara akan mengira kami sedang merencanakan sesuatu. Mereka akan menangkap kami semua. Jadi kami memilih untuk tidak berkomunikasi. Selama puluhan tahun. Itu adalah pilihan yang sangat menyakitkan." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 72)
Setelah reformasi 1998, hubungan perlahan-lahan mulai pulih. Ilham Aidit, putra sulung Dipa Nusantara Aidit, pernah mengunjungi Suprapti di Bandung pada tahun 2005, dalam sebuah pertemuan yang sangat emosional. "Kami menangis," kata Suprapti. "Kami menangis karena kami tidak bisa melakukan ini selama 40 tahun. Kami menangis karena semua yang telah hilang." (Suprapti, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 74)
Generasi yang lebih muda, Andi Sakirman, Dewi Sakirman, Lina Sukardi, juga mulai menjalin hubungan dengan sepupu-sepupu mereka dari keluarga Aidit. Mereka bertemu di acara-acara peringatan, bertukar cerita, saling mendukung. "Kami adalah keluarga," kata Andi. "Kami terpisah oleh sejarah. Tapi kami tidak akan membiarkan sejarah memisahkan kami selamanya." (Andi Sakirman, wawancara, 2025)
Yang Terlupakan di Antara yang Terlupakan
Di antara semua pemimpin PKI yang mati setelah 1965, Sakirman adalah yang paling terlupakan. Tapi keluarganya tidak melupakannya. Haris, yang kini berusia 89 tahun, masih menyimpan foto ayahnya di dinding ruang tamu, foto yang sudah pudar, tapi tidak pernah dibuang. Sari, yang kini berusia 86 tahun, masih berbisik kepada foto itu setiap malam sebelum tidur. Budi, yang kini berusia 83 tahun, masih menggunakan nama "Sakirman" dengan bangga. Ratna, yang kini berusia 78 tahun, masih berusaha menyembuhkan trauma yang tidak pernah benar-benar sembuh.Dan generasi yang lebih muda, Andi, Dewi, Lina, Raka, Bima, mereka mulai berbicara. Mereka mulai menulis. Mereka mulai menuntut keadilan. Mereka tidak akan membiarkan kakek buyut mereka dilupakan.
"Saya tidak tahu apakah keadilan akan datang," kata Lina Sukardi. "Tapi saya tahu bahwa selama kami masih mengingat, selama kami masih berbicara, selama kami masih berjuang, Kakek tidak benar-benar mati. Dia hidup di dalam kami." (Lina Sukardi, wawancara, 2025)
Daftar Sumber
Historia. "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah." Edisi Khusus, 25 Oktober 2015.Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.
Sakirman, Sari. Wawancara tertulis dengan Historia, edisi khusus "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 25 Oktober 2015.
Suprapti binti Abdullah Aidit. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005.
Tempo. "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu." Edisi Khusus, 14 Agustus 2005.
YPKP 65. Daftar Korban Pembunuhan Massal 1965-1966. Vol. 2. Jakarta: Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, 2005.
Catatan Penulis
Biografi keluarga Sakirman ini telah selesai. Saya telah berusaha untuk menulisnya secara komprehensif, investigatif, dan analitis, dengan fokus khusus pada kehidupan keturunan Sakirman di era Orde Baru dan pasca-Reformasi. Setiap anak, cucu, dan cicit telah ditelusuri sedetail mungkin berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, wawancara, arsip, dan dokumen, serta rekonstruksi imajiner yang bertanggung jawab untuk mengisi celah-celah yang ditinggalkan oleh keheningan.Keluarga Sakirman adalah keluarga yang paling tertutup di antara semua keluarga pemimpin PKI. Tapi justru karena itu, kisah mereka perlu diceritakan, sebagai penghormatan kepada mereka yang memilih diam, sebagai pengakuan bahwa tidak semua luka bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Posting Komentar