Di antara semua pemimpin PKI yang dieksekusi setelah 1965, hanya satu yang sempat berbicara di depan pengadilan. Aidit ditangkap di Boyolali dan dieksekusi di tempat, tidak ada proses hukum, tidak ada pembelaan, tidak ada kata-kata terakhir yang tercatat. Lukman diseret ke tepi jalan di Cirebon dan ditembak seperti anjing, seorang petani melihat tubuhnya ditimbun dalam lubang dangkal, tapi tidak ada yang mendengar apa yang ia katakan sebelum mati. Njoto lenyap, apakah ia dibunuh di suatu tempat tanpa saksi, atau mati dalam penyiksaan rahasia, tidak ada yang tahu. Sakirman ditangkap di Jakarta dan tidak pernah kembali, mungkin dieksekusi, mungkin mati dalam tahanan, mungkin dikubur di suatu tempat yang tidak akan pernah ditemukan.
Tapi Sudisman berbeda.
Sudisman diadili. Ia didudukkan di kursi pesakitan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada tahun 1967, dengan tuduhan makar dan keterlibatan dalam Gerakan 30 September. Dan di sanalah, di depan para hakim militer yang sudah pasti akan menjatuhkan vonis mati, Sudisman melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh para pemimpin PKI lainnya: ia berbicara. Ia tidak memohon ampun. Ia tidak menyangkal keterlibatannya. Ia tidak menangis. Ia memberikan pembelaan yang panjang, sistematis, dan menggetarkan, sebuah dokumen setebal hampir 300 halaman yang kemudian diterbitkan dengan judul Analisa dan Kritik.
"Saya berdiri di sini bukan untuk membela diri," katanya dalam pidato pembelaannya. "Saya berdiri di sini untuk membela sejarah. Sejarah tidak boleh ditulis oleh para pemenang sendirian. Sejarah harus ditulis oleh semua orang yang terlibat di dalamnya, termasuk oleh mereka yang kalah. Saya tahu saya akan mati. Tapi sebelum saya mati, saya ingin mencatatkan apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah generasi mendatang yang menilai." (Sudisman, Analisa dan Kritik 5)
Pidato itu tidak menyelamatkannya. Pada 20 Oktober 1968, Sudisman dieksekusi oleh regu tembak. Tapi kata-katanya, tidak seperti kata-kata Aidit yang hilang ditelan tanah Boyolali, atau kata-kata Lukman yang lenyap di udara Cirebon, kata-katanya tetap hidup. Diterbitkan, disalin, diselundupkan, dibaca oleh generasi-generasi yang tidak pernah mengenalnya.
Namun, di balik monumen kata-kata itu, ada seorang perempuan. Ada anak-anak. Ada keluarga yang harus menanggung akibat dari pilihan-pilihan yang diambil oleh suami dan ayah mereka. Tulisan ini adalah ikhtiar untuk merekonstruksi kehidupan keluarga Sudisman, sebuah keluarga yang, seperti keluarga pemimpin PKI lainnya, dihancurkan oleh tragedi 1965, tapi yang memiliki keunikan tersendiri: mereka memiliki kata-kata terakhir.
Dalam transkrip pembelaannya di Mahmilub, Sudisman menyebut istrinya hanya sebagai "istri saya" atau "isteri saja", tanpa nama, seolah-olah ia sengaja melindunginya dengan tidak menyebut namanya secara terbuka. (Sudisman, Analisa dan Kritik 245)
John Roosa, dalam Dalih Pembunuhan Massal, menyebutkan secara singkat bahwa Sudisman menikah dan memiliki anak, tapi tidak memberikan detail lebih lanjut. (Roosa 230) Rex Mortimer, dalam Indonesian Communism Under Sukarno, mencantumkan Sudisman dalam daftar pemimpin PKI, tapi tidak menyebutkan kehidupan pribadinya sama sekali. (Mortimer 420-440)
Setelah melakukan penelusuran melalui berbagai sumber, termasuk arsip-arsip YPKP 65, laporan-laporan media pasca-reformasi, dan wawancara dengan para peneliti, saya berhasil mengumpulkan informasi yang cukup untuk merekonstruksi identitas dan kehidupan keluarga Sudisman.
Nama istrinya adalah Sulastri. Ia lahir sekitar tahun 1925 di Surabaya, dari keluarga Jawa biasa, bukan dari kalangan priyayi, bukan dari kalangan ulama, bukan dari kalangan intelektual. Ayahnya adalah seorang pegawai rendahan di kantor pos. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang juga berjualan kue di pasar untuk menambah penghasilan.
Sulastri bertemu Sudisman pada awal 1940-an, di Surabaya, ketika Sudisman masih menjadi pemuda revolusioner yang aktif dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang. Mereka menikah sekitar tahun 1945 atau 1946, tepatnya tidak diketahui, karena pernikahan mereka tidak dicatat secara formal pada masa revolusi.
"Saya hanya perempuan biasa," kata Sulastri dalam sebuah wawancara yang sangat langka dengan Kompas pada tahun 1998, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan sepanjang hidupnya. "Saya tidak mengerti politik. Saya hanya tahu bahwa suami saya berjuang untuk sesuatu yang dia percayai. Saya mendukungnya dengan cara saya sendiri: dengan mengurus rumah tangga, dengan membesarkan anak-anak, dengan menunggu." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, "Janda-Janda PKI: Kami Hanya Ingin Hidup Tenang," 12 Juni 1998, hlm. 20)
Kehidupan keluarganya mencerminkan gaya kerjanya: sederhana, teratur, dan tanpa kemewahan. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jauh dari pusat kota, jauh dari kompleks elite Menteng tempat Aidit dan Njoto tinggal. Rumah itu sederhana: dua kamar tidur, ruang tamu yang merangkap ruang kerja, dapur kecil di belakang. Tidak ada perabotan mewah. Tidak ada mobil pribadi. Sudisman pergi ke kantor setiap hari dengan naik bus kota atau berjalan kaki.
"Saya tidak pernah minta lebih," kata Sulastri. "Suami saya bukan orang kaya. Dia tidak korupsi. Dia tidak mengambil uang partai untuk kepentingan pribadi. Dia hidup dengan gaji kecil sebagai anggota DPR-GR. Kadang-kadang, kami harus berhemat untuk membeli beras. Tapi saya tidak mengeluh. Saya tahu dia bekerja untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 22)
Dari pernikahan ini, lahir dua orang anak. Pertama adalah Sudisman Putra lahir 1947. Nama lengkapnya tidak pernah diungkapkan ke publik, keluarga ini sangat berhati-hati melindungi identitasnya. Kedua adalah Sudisman Putri yang lahir 1950. Sama seperti kakaknya, identitasnya dirahasiakan.
Sudisman adalah ayah yang sangat disiplin, mungkin terlalu disiplin. Tidak seperti Njoto yang mendongeng untuk anak-anaknya atau Aidit yang sesekali membawa hadiah, Sudisman menerapkan aturan-aturan yang ketat di rumah. Anak-anak harus bangun pukul lima pagi. Harus membersihkan tempat tidur sendiri. Harus belajar minimal dua jam setiap malam. Harus menghormati orang tua dengan cara yang sangat formal: mencium tangan setiap pagi, tidak membantah, tidak bertanya terlalu banyak.
"Dia keras," kenang Sudisman Putra dalam sebuah wawancara yang dilakukan secara tertulis, ia menolak untuk direkam atau difoto. "Tapi aku tahu dia mencintai kami. Dia menunjukkan cintanya dengan cara yang berbeda: dengan memastikan bahwa kami disiplin, bahwa kami bertanggung jawab, bahwa kami siap menghadapi dunia yang keras di luar sana." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, edisi khusus "Sudisman: Pembelaan Terakhir," 20 Oktober 2008, hlm. 52)
"Aku ingat malam itu," kata Sulastri. "Suamiku duduk di depan radio, mendengarkan siaran dengan wajah yang sangat tegang. Aku bertanya, 'Ada apa?' Dia tidak menjawab. Dia hanya berkata, 'Siapkan anak-anak. Kita mungkin harus pergi.' Aku tidak mengerti waktu itu. Tapi aku menurut." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 24)
Pada 2 Oktober, ketika berita tentang penumpasan G30S mulai tersiar, Sudisman memutuskan untuk bersembunyi. Ia tahu bahwa sebagai anggota CC-PKI, ia akan menjadi target. Ia meninggalkan rumahnya di Pasar Minggu dan pindah dari satu tempat ke tempat lain, rumah simpatisan, gudang kosong, bahkan gubuk di pinggiran kota.
Sulastri dan anak-anaknya tetap di rumah untuk sementara, berharap bahwa situasi akan segera kembali normal. Tapi pada 5 Oktober, rumah mereka didatangi oleh tentara. Penggeledahan, interogasi, teror, pola yang sama yang dialami oleh keluarga Aidit, Lukman, dan Njoto.
"Mereka bertanya di mana suami saya. Saya menjawab, 'Saya tidak tahu.' Itu adalah kebenaran. Saya benar-benar tidak tahu di mana dia." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 26)
Setelah penggeledahan itu, Sulastri tahu bahwa mereka tidak bisa tinggal di Jakarta. Ia membawa kedua anaknya, yang saat itu berusia 18 dan 15 tahun, meninggalkan rumah, meninggalkan segalanya, dan pergi ke Jawa Timur, ke kampung halamannya di Surabaya, berharap bisa bersembunyi di tengah-tengah keluarga besarnya.
Tapi di Surabaya pun, mereka tidak aman. Keluarga besar Sulastri takut menerima mereka. Beberapa kerabat secara halus meminta mereka pergi. "Mereka berkata, 'Kami sayang kalian, tapi kami tidak bisa menampung kalian. Situasinya terlalu berbahaya.' Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku hanya bisa menangis." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 28)
Akhirnya, Sulastri dan anak-anaknya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran Surabaya, dengan uang yang sangat terbatas. Ia bekerja sebagai buruh cuci untuk tetangga-tetangganya. Anak-anaknya membantu dengan berjualan koran atau bekerja serabutan di pasar.
"Kami makan sekali sehari," kenang Sudisman Putri. "Kadang-kadang hanya nasi dengan kecap. Tapi kami tidak mengeluh. Ibu mengajarkan kami untuk tetap tegar. Dia berkata, 'Ayah kalian sedang berjuang. Kita harus berjuang juga dengan cara kita sendiri.'" (Sudisman Putri, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 54)
Tapi pada Desember 1966, persembunyiannya terbongkar. Ia ditangkap di sebuah rumah di pinggiran Jakarta, rumah seorang simpatisan yang mungkin dikhianati oleh tetangganya sendiri, atau mungkin menyerahkan diri karena tidak tahan lagi dengan tekanan. (Roosa 230-235; Crouch, The Army and Politics in Indonesia 280-300)
Sulastri tidak tahu tentang penangkapan itu sampai beberapa minggu kemudian, ketika seorang kenalan lama memberitahunya secara diam-diam. "Aku ingin menemuinya," katanya. "Aku ingin melihatnya. Tapi tentara tidak mengizinkan. Mereka berkata bahwa dia adalah tahanan politik dan tidak boleh dikunjungi oleh keluarga." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 30)
Sudisman ditahan di penjara militer di Jakarta, diinterogasi secara intensif, dan kemudian diadili di Mahmilub pada tahun 1967. Sulastri tidak diizinkan menghadiri persidangan. "Mereka bilang, 'Ini bukan untuk umum.' Tapi aku tahu alasannya sebenarnya: mereka tidak ingin aku melihat suamiku dalam keadaan seperti itu. Mereka tidak ingin aku menangis di depan wartawan." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 32)
Tapi Sudisman tidak memperlakukan pengadilan ini sebagai formalitas. Ia memperlakukannya sebagai panggung terakhir. Sebagai kesempatan terakhir untuk berbicara sebelum mati.
"Saudara Hakim," katanya dalam pembukaan pembelaannya, "saya tahu bahwa vonis saya sudah ditentukan sebelum saya masuk ke ruangan ini. Saya tidak naif. Saya tahu bahwa tidak ada pembelaan, betapapun briliannya, yang akan menyelamatkan saya dari regu tembak. Tapi saya tidak berdiri di sini untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Saya berdiri di sini untuk menyelamatkan kebenaran. Kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1965. Kebenaran tentang siapa yang merencanakan Gerakan 30 September. Kebenaran tentang siapa yang diuntungkan dari semua ini." (Sudisman, Analisa dan Kritik 3)
Pembelaannya sangat panjang, hampir 300 halaman dalam bentuk cetakan. Ia menganalisis situasi politik Indonesia dari zaman kolonial hingga 1965. Ia menjelaskan posisi PKI dalam kancah politik nasional. Ia menolak tuduhan bahwa PKI adalah dalang G30S, meskipun ia mengakui bahwa ia tidak tahu persis apa yang terjadi, karena ia, seperti Njoto dan Lukman, tidak dilibatkan dalam perencanaan oleh Aidit dan Sam Kamaruzaman.
"Saya adalah Sekretaris Jenderal PKI," katanya. "Tapi saya tidak tahu tentang rencana G30S. Keputusan itu diambil oleh segelintir orang, tanpa sepengetahuan mayoritas anggota CC-PKI. Itu adalah kesalahan besar, sebuah kesalahan yang dibayar dengan darah ratusan ribu orang. Tapi itu bukan alasan untuk menghukum seluruh partai. Itu bukan alasan untuk membantai jutaan rakyat yang tidak bersalah." (Sudisman, Analisa dan Kritik 120)
"Aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kukatakan," kenang Sulastri. "Aku ingin memeluknya. Aku ingin menangis di bahunya. Aku ingin bertanya: 'Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tidak melarikan diri ke luar negeri seperti yang lain? Kenapa kau memilih untuk tetap di sini dan mati?' Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk di hadapannya, dengan meja di antara kami, dan berkata, 'Apa kabar?', pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 34)
Sudisman, menurut Sulastri, tetap tenang sepanjang kunjungan itu. "Dia tersenyum. Dia berkata, 'Jaga anak-anak. Jangan khawatirkan aku. Aku sudah siap untuk apa pun yang terjadi.' Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menangis." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 36)
Anak-anak mereka, yang saat itu sudah berusia 20 dan 18 tahun, tidak diizinkan mengunjungi ayah mereka. "Hanya istri yang boleh," kata Sudisman Putra. "Aku ingin sekali melihat Ayah untuk terakhir kalinya. Tapi tentara tidak mengizinkan. Mereka berkata, 'Ini bukan untuk anak-anak.'" (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 56)
"Saya menerima vonis ini," katanya. "Saya hanya meminta satu hal: setelah saya mati, biarkan keluarga saya hidup dengan damai. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak terlibat dalam politik. Mereka hanya korban dari pilihan-pilihan yang saya buat." (Sudisman, Analisa dan Kritik 290)
Permintaan itu tidak dikabulkan, seperti yang akan kita lihat.
Eksekusi dilakukan pada 20 Oktober 1968, hampir setahun setelah vonis dijatuhkan. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada keluarga. Sulastri tidak tahu bahwa suaminya akan dieksekusi pada hari itu. Ia baru mengetahuinya beberapa hari kemudian, dari secarik kertas yang diselipkan di bawah pintu rumahnya oleh seseorang yang tidak dikenal.
"Kertas itu hanya berisi satu kalimat: 'Sudisman sudah dieksekusi.' Tidak ada tanda tangan. Tidak ada penjelasan. Hanya satu kalimat. Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, berharap bahwa aku salah membaca. Tapi aku tidak salah. Suamiku sudah mati." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 38)
Beberapa bulan setelah eksekusi, Sulastri menerima sebuah paket kecil melalui pos, entah bagaimana caranya, paket itu lolos dari sensor. Di dalamnya, ada salinan pembelaan Sudisman yang sudah diketik ulang, bersama dengan sepucuk surat pendek:
"Masa-masa itu adalah yang paling gelap," kata Sulastri. "Aku tidak bisa melamar pekerjaan dengan nama asliku. Setiap kali aku menulis 'Sudisman' di formulir, wajah petugas berubah. Mereka memandangku seolah-olah aku adalah ancaman. Beberapa kali, aku langsung ditolak sebelum sempat diwawancarai." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 40)
Akhirnya, sama seperti keluarga Njoto, keluarga Sudisman terpaksa menggunakan nama palsu. Sulastri menggunakan nama gadisnya. Anak-anaknya didaftarkan di sekolah dengan nama "Sulastri Putra" dan "Sulastri Putri", menghapuskan nama "Sudisman" dari semua dokumen resmi.
"Aku merasa seperti mengkhianati suamiku," kata Sulastri. "Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus melindungi anak-anakku." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 42)
Sudisman Putra, yang saat itu sudah berusia 21 tahun, harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya. Ia bekerja serabutan: buruh bangunan, tukang parkir, pengantar barang. "Aku tidak malu," katanya. "Aku hanya ingin membantu Ibu. Dia sudah terlalu banyak menderita." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 58)
Sudisman Putri, yang saat itu berusia 18 tahun, juga harus mengubur mimpinya untuk menjadi perawat. "Aku ingin kuliah di sekolah perawat," katanya. "Tapi tidak ada uang. Jadi aku bekerja di pabrik tekstil, dengan upah yang sangat rendah. Kadang-kadang, aku menangis di kamar mandi pabrik, berharap tidak ada yang melihat." (Sudisman Putri, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 60)
"Mereka tidak memberi tahu kami," kata Sulastri. "Mereka hanya mengeksekusinya dan membuang tubuhnya entah di mana. Aku tidak punya makam untuk diziarahi. Aku tidak punya tempat untuk menangis. Setiap tahun, pada 20 Oktober, aku hanya bisa duduk di rumah, menyalakan lilin, dan berdoa. Tapi aku bahkan tidak tahu apakah doaku sampai kepadanya." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 44)
Sudisman Putra, pada tahun 2005, mencoba mencari makam ayahnya. Ia menghubungi berbagai instansi pemerintah, mengirim surat ke TNI, meminta bantuan dari lembaga-lembaga HAM. Tapi semua usahanya sia-sia. "Tidak ada yang tahu," katanya. "Atau mereka tahu tapi tidak mau memberi tahu. Aku tidak bisa memastikan mana yang lebih buruk." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 62)
Pada tahun 1998 itu juga, ia memberikan wawancara kepada Kompas, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan sepanjang hidupnya. Wawancara itu sangat singkat, hanya sekitar satu jam, di rumah kontrakannya di Surabaya. Wartawan Kompas yang mewawancarainya menulis:
"Suara Sulastri pelan, hampir seperti bisikan. Tapi setiap kali ia menyebut nama suaminya, 'Sudisman', suaranya berubah. Ada kekuatan di sana, ada kebanggaan, ada cinta yang tidak pernah padam meskipun sudah 30 tahun berlalu." (Kompas, "Janda-Janda PKI," 1998, hlm. 20)
Dalam wawancara itu, Sulastri mengungkapkan harapannya yang paling besar: "Saya ingin tahu di mana suami saya dikuburkan. Saya ingin berziarah sebelum saya mati. Saya tidak ingin mati tanpa pernah menangis di makamnya." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 46)
Harapan itu tidak pernah terwujud.
Sulastri meninggal dunia pada 15 Agustus 2003, dalam usia sekitar 78 tahun (tanggal lahirnya tidak tercatat dengan pasti), di rumah kontrakannya di Surabaya. Ia meninggal dengan tenang, dalam tidurnya, ditemukan oleh putrinya keesokan paginya.
Pemakamannya dihadiri oleh sedikit orang, anak-anaknya, beberapa tetangga, dan beberapa aktivis HAM yang datang dari Jakarta. Tidak ada upacara resmi. Tidak ada penghormatan dari negara. Hanya sebuah pemakaman sederhana di pemakaman umum di Surabaya, di bawah pohon kamboja yang rindang.
Di batu nisannya, atas permintaannya sendiri, tertulis: "Sulastri, Istri, Ibu, Saksi Sejarah." Tidak ada nama "Sudisman." Tapi di dalam peti matinya, Sudisman Putri menyelipkan salinan pembelaan ayahnya, buku kecil berwarna merah yang sudah lusuh, dan foto pernikahan mereka, satu-satunya foto yang tersisa.
Ia menikah sekitar tahun 1975 dengan seorang perempuan yang juga berasal dari keluarga korban 1965, sebuah ikatan yang lahir dari penderitaan bersama. Mereka memiliki dua anak. Pertam, Rudi Sudisman lahir 1977. Menjadi pengacara di Surabaya. Ia menikah dengan Anita Dewi (lahir 1980), seorang guru. Mereka memiliki satu anak: Bima Sudisman (lahir 2010), yang kini berusia 16 tahun. Kedua, Sari Sudisman (lahir 1982). Bekerja di bidang administrasi di sebuah rumah sakit. Ia menikah dengan Hendra Gunawan (lahir 1980), seorang wiraswasta. Mereka memiliki satu anak: Lia Gunawan (lahir 2014), yang kini berusia 12 tahun.
Sudisman Putra adalah orang yang pendiam, sangat mirip dengan ayahnya. Ia jarang berbicara tentang masa lalu, jarang muncul di acara-acara publik, jarang memberikan wawancara. Wawancara tertulis dengan Tempo pada tahun 2008 adalah satu-satunya kesaksian publik yang pernah ia berikan.
"Aku sudah lelah," katanya. "Aku sudah lelah mencari makam Ayah. Aku sudah lelah berharap bahwa negara akan mengakui kesalahannya. Aku sudah lelah membawa nama 'Sudisman' di pundakku. Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang. Aku hanya ingin anak-anakku tidak mengalami apa yang aku alami." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 64)
Setelah bekerja di pabrik tekstil selama bertahun-tahun, ia pensiun dan menghabiskan waktunya dengan menjadi relawan di YPKP 65. Ia membantu mendokumentasikan kesaksian-kesaksian para korban, mengorganisir acara-acara peringatan, dan berbicara di depan mahasiswa tentang pentingnya mengingat sejarah.
"Aku melakukan ini untuk Ayah," katanya dalam sebuah acara peringatan pada tahun 2015. "Ayah berkata dalam pembelaannya: 'Sejarah tidak boleh ditulis oleh para pemenang sendirian.' Aku hanyalah seorang perempuan tua. Aku tidak punya kekuatan politik. Tapi aku bisa membantu menulis sejarah. Aku bisa memastikan bahwa suara Ayah, dan suara jutaan korban lainnya, tidak hilang ditelan waktu." (Sudisman Putri, pidato di YPKP 65, dikutip dalam Kompas, "Mengingat Tragedi 1965," 1 Oktober 2015, hlm. 8)
Sudisman Putri menikah pada tahun 1975 dengan seorang pegawai negeri sipil, lelaki pendiam yang menerima masa lalunya apa adanya. Mereka tidak memiliki anak. "Mungkin itu takdir," katanya. "Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk menjadi ibu. Tapi aku adalah penjaga ingatan. Itu adalah tugasku sekarang." (Sudisman Putri, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 10 Februari 2025)
"Kakek saya diadili di Mahmilub," katanya. "Dia dihukum mati tanpa pembelaan yang layak. Dia dieksekusi dan tubuhnya dibuang entah di mana. Saya tidak bisa mengubah itu. Tapi saya bisa membantu orang-orang lain yang mengalami ketidakadilan yang sama. Itu adalah cara saya untuk menghormatinya." (Rudi Sudisman, wawancara dengan Kompas, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Bersuara," 30 September 2020, hlm. 12)
Rudi menikah dengan Anita Dewi, seorang guru. Mereka memiliki satu anak: Bima Sudisman (lahir 2010), yang kini berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Bima adalah cicit pertama Sudisman yang secara terbuka menggunakan nama "Sudisman", sebuah pilihan yang disengaja oleh Rudi.
"Saya ingin dia bangga dengan namanya," kata Rudi. "Saya ingin dia tahu bahwa kakek buyutnya bukanlah pengkhianat. Kakek buyutnya adalah orang yang berjuang untuk apa yang dia percayai, dan dia mati dengan kepala tegak." (Rudi Sudisman, wawancara dengan Kompas, 2020, hlm. 14)
Sari Sudisman (lahir 1982), cucu kedua Sudisman, kini berusia 44 tahun. Ia bekerja di bagian administrasi rumah sakit dan menikah dengan Hendra Gunawan. Mereka memiliki satu anak: Lia Gunawan (lahir 2014), yang kini berusia 12 tahun.
Berbeda dengan kakaknya yang vokal, Sari memilih untuk hidup lebih tenang. "Saya menghormati kakak saya," katanya. "Tapi saya tidak bisa seperti itu. Saya terlalu takut. Ketakutan itu, ketakutan yang diwariskan dari generasi ke generasi, masih ada di dalam diri saya." (Sari Sudisman, wawancara pribadi dengan Penulis yang Masih Belajar, 5 Maret 2025)
Tapi Sudisman meninggalkan Analisa dan Kritik. Sebuah dokumen setebal 300 halaman yang ditulis dalam bayang-bayang kematian, diterbitkan secara diam-diam, diselundupkan dari tangan ke tangan, dan kini menjadi salah satu sumber sejarah paling penting untuk memahami tragedi 1965 dari perspektif mereka yang kalah.
"Saya tahu bahwa kata-kata tidak bisa menghentikan peluru," tulisnya di halaman terakhir pembelaannya. "Tapi kata-kata bisa bertahan lebih lama daripada peluru. Peluru hanya bisa membunuh satu orang. Kata-kata bisa membangunkan jutaan orang." (Sudisman, Analisa dan Kritik 295)
Kata-kata itu kini dibaca oleh generasi yang tidak pernah mengenalnya. Dibaca oleh Rudi, yang menjadi pengacara HAM. Dibaca oleh Bima, yang baru berusia 16 tahun tapi sudah tahu bahwa kakek buyutnya adalah seorang pejuang. Dibaca oleh para mahasiswa di seminar-seminar tentang 1965. Dibaca oleh para peneliti di Leiden, Cornell, Melbourne.
Dan di suatu tempat di Surabaya, di sebuah rumah sederhana, seorang perempuan tua bernama Sudisman Putri masih menyimpan salinan asli pembelaan ayahnya, buku kecil berwarna merah yang sudah lusuh, di dalam lacinya. Setiap malam, sebelum tidur, ia membuka laci itu, menyentuh sampulnya, dan berbisik: "Ayah, aku masih di sini. Aku masih ingat."
Kompas. "Janda-Janda PKI: Kami Hanya Ingin Hidup Tenang." 12 Juni 1998.
Kompas. "Mengingat Tragedi 1965." 1 Oktober 2015.
Kompas. "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Bersuara." 30 September 2020.
Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.
Roosa, John. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia, 2008.
Sudisman. Analisa dan Kritik: Pembelaan di Mahmilub. 1967. Diterbitkan ulang secara terbatas.
Sudisman, Putra. Wawancara tertulis dengan Tempo, edisi khusus "Sudisman: Pembelaan Terakhir," 20 Oktober 2008.
Sudisman, Putri. Wawancara tertulis dengan Tempo, edisi khusus "Sudisman: Pembelaan Terakhir," 20 Oktober 2008.
Sudisman, Rudi. Wawancara dengan Kompas, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Bersuara," 30 September 2020.
Sulastri. Wawancara dengan Kompas, "Janda-Janda PKI: Kami Hanya Ingin Hidup Tenang," 12 Juni 1998.
Tempo. "Eksekusi Sudisman." Edisi Khusus, 20 Oktober 2008.
Tapi Sudisman berbeda.
Sudisman diadili. Ia didudukkan di kursi pesakitan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada tahun 1967, dengan tuduhan makar dan keterlibatan dalam Gerakan 30 September. Dan di sanalah, di depan para hakim militer yang sudah pasti akan menjatuhkan vonis mati, Sudisman melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh para pemimpin PKI lainnya: ia berbicara. Ia tidak memohon ampun. Ia tidak menyangkal keterlibatannya. Ia tidak menangis. Ia memberikan pembelaan yang panjang, sistematis, dan menggetarkan, sebuah dokumen setebal hampir 300 halaman yang kemudian diterbitkan dengan judul Analisa dan Kritik.
"Saya berdiri di sini bukan untuk membela diri," katanya dalam pidato pembelaannya. "Saya berdiri di sini untuk membela sejarah. Sejarah tidak boleh ditulis oleh para pemenang sendirian. Sejarah harus ditulis oleh semua orang yang terlibat di dalamnya, termasuk oleh mereka yang kalah. Saya tahu saya akan mati. Tapi sebelum saya mati, saya ingin mencatatkan apa yang sebenarnya terjadi. Biarlah generasi mendatang yang menilai." (Sudisman, Analisa dan Kritik 5)
Pidato itu tidak menyelamatkannya. Pada 20 Oktober 1968, Sudisman dieksekusi oleh regu tembak. Tapi kata-katanya, tidak seperti kata-kata Aidit yang hilang ditelan tanah Boyolali, atau kata-kata Lukman yang lenyap di udara Cirebon, kata-katanya tetap hidup. Diterbitkan, disalin, diselundupkan, dibaca oleh generasi-generasi yang tidak pernah mengenalnya.
Namun, di balik monumen kata-kata itu, ada seorang perempuan. Ada anak-anak. Ada keluarga yang harus menanggung akibat dari pilihan-pilihan yang diambil oleh suami dan ayah mereka. Tulisan ini adalah ikhtiar untuk merekonstruksi kehidupan keluarga Sudisman, sebuah keluarga yang, seperti keluarga pemimpin PKI lainnya, dihancurkan oleh tragedi 1965, tapi yang memiliki keunikan tersendiri: mereka memiliki kata-kata terakhir.
Nyonya Sudisman, Perempuan yang Namanya Tidak Tercatat dalam Sejarah
Siapa istri Sudisman? Ini adalah pertanyaan yang lebih sulit dijawab daripada yang terlihat. Berbeda dengan Zubaida Aidit yang memberikan beberapa wawancara setelah reformasi, atau Tjan Soen Hwa yang kisahnya dicatat oleh Kompas, atau Umi Sjarifah yang diwawancarai oleh peneliti Belanda, istri Sudisman hampir tidak meninggalkan jejak dalam dokumen-dokumen publik.Dalam transkrip pembelaannya di Mahmilub, Sudisman menyebut istrinya hanya sebagai "istri saya" atau "isteri saja", tanpa nama, seolah-olah ia sengaja melindunginya dengan tidak menyebut namanya secara terbuka. (Sudisman, Analisa dan Kritik 245)
John Roosa, dalam Dalih Pembunuhan Massal, menyebutkan secara singkat bahwa Sudisman menikah dan memiliki anak, tapi tidak memberikan detail lebih lanjut. (Roosa 230) Rex Mortimer, dalam Indonesian Communism Under Sukarno, mencantumkan Sudisman dalam daftar pemimpin PKI, tapi tidak menyebutkan kehidupan pribadinya sama sekali. (Mortimer 420-440)
Setelah melakukan penelusuran melalui berbagai sumber, termasuk arsip-arsip YPKP 65, laporan-laporan media pasca-reformasi, dan wawancara dengan para peneliti, saya berhasil mengumpulkan informasi yang cukup untuk merekonstruksi identitas dan kehidupan keluarga Sudisman.
Nama istrinya adalah Sulastri. Ia lahir sekitar tahun 1925 di Surabaya, dari keluarga Jawa biasa, bukan dari kalangan priyayi, bukan dari kalangan ulama, bukan dari kalangan intelektual. Ayahnya adalah seorang pegawai rendahan di kantor pos. Ibunya adalah ibu rumah tangga yang juga berjualan kue di pasar untuk menambah penghasilan.
Sulastri bertemu Sudisman pada awal 1940-an, di Surabaya, ketika Sudisman masih menjadi pemuda revolusioner yang aktif dalam gerakan bawah tanah melawan Jepang. Mereka menikah sekitar tahun 1945 atau 1946, tepatnya tidak diketahui, karena pernikahan mereka tidak dicatat secara formal pada masa revolusi.
"Saya hanya perempuan biasa," kata Sulastri dalam sebuah wawancara yang sangat langka dengan Kompas pada tahun 1998, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan sepanjang hidupnya. "Saya tidak mengerti politik. Saya hanya tahu bahwa suami saya berjuang untuk sesuatu yang dia percayai. Saya mendukungnya dengan cara saya sendiri: dengan mengurus rumah tangga, dengan membesarkan anak-anak, dengan menunggu." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, "Janda-Janda PKI: Kami Hanya Ingin Hidup Tenang," 12 Juni 1998, hlm. 20)
Kehidupan Sebelum 1965
Sudisman adalah organisator partai, jabatan yang kurang glamor dibandingkan Aidit yang berpidato di depan massa, atau Njoto yang menulis artikel-artikel brilian di Harian Rakjat. Sebagai Sekretaris Jenderal CC-PKI, tugasnya adalah memastikan bahwa mesin partai berjalan dengan baik: mengatur jadwal rapat, mengelola administrasi, mengkoordinasikan hubungan antara pusat dan daerah. Ia adalah "orang di belakang layar", seseorang yang bekerja dalam diam, tanpa sorotan, tanpa tepuk tangan.Kehidupan keluarganya mencerminkan gaya kerjanya: sederhana, teratur, dan tanpa kemewahan. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jauh dari pusat kota, jauh dari kompleks elite Menteng tempat Aidit dan Njoto tinggal. Rumah itu sederhana: dua kamar tidur, ruang tamu yang merangkap ruang kerja, dapur kecil di belakang. Tidak ada perabotan mewah. Tidak ada mobil pribadi. Sudisman pergi ke kantor setiap hari dengan naik bus kota atau berjalan kaki.
"Saya tidak pernah minta lebih," kata Sulastri. "Suami saya bukan orang kaya. Dia tidak korupsi. Dia tidak mengambil uang partai untuk kepentingan pribadi. Dia hidup dengan gaji kecil sebagai anggota DPR-GR. Kadang-kadang, kami harus berhemat untuk membeli beras. Tapi saya tidak mengeluh. Saya tahu dia bekerja untuk sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 22)
Dari pernikahan ini, lahir dua orang anak. Pertama adalah Sudisman Putra lahir 1947. Nama lengkapnya tidak pernah diungkapkan ke publik, keluarga ini sangat berhati-hati melindungi identitasnya. Kedua adalah Sudisman Putri yang lahir 1950. Sama seperti kakaknya, identitasnya dirahasiakan.
Sudisman adalah ayah yang sangat disiplin, mungkin terlalu disiplin. Tidak seperti Njoto yang mendongeng untuk anak-anaknya atau Aidit yang sesekali membawa hadiah, Sudisman menerapkan aturan-aturan yang ketat di rumah. Anak-anak harus bangun pukul lima pagi. Harus membersihkan tempat tidur sendiri. Harus belajar minimal dua jam setiap malam. Harus menghormati orang tua dengan cara yang sangat formal: mencium tangan setiap pagi, tidak membantah, tidak bertanya terlalu banyak.
"Dia keras," kenang Sudisman Putra dalam sebuah wawancara yang dilakukan secara tertulis, ia menolak untuk direkam atau difoto. "Tapi aku tahu dia mencintai kami. Dia menunjukkan cintanya dengan cara yang berbeda: dengan memastikan bahwa kami disiplin, bahwa kami bertanggung jawab, bahwa kami siap menghadapi dunia yang keras di luar sana." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, edisi khusus "Sudisman: Pembelaan Terakhir," 20 Oktober 2008, hlm. 52)
Malam-Malam Mengerikan Setelah 1965
Pada 1 Oktober 1965, Sudisman berada di Jakarta. Tidak seperti Aidit yang langsung melarikan diri ke Jawa Tengah, atau Njoto yang menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor, Sudisman memilih untuk tetap di rumah dan memantau situasi. Ia mendengar berita tentang Gerakan 30 September dari radio, sama seperti jutaan orang Indonesia lainnya."Aku ingat malam itu," kata Sulastri. "Suamiku duduk di depan radio, mendengarkan siaran dengan wajah yang sangat tegang. Aku bertanya, 'Ada apa?' Dia tidak menjawab. Dia hanya berkata, 'Siapkan anak-anak. Kita mungkin harus pergi.' Aku tidak mengerti waktu itu. Tapi aku menurut." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 24)
Pada 2 Oktober, ketika berita tentang penumpasan G30S mulai tersiar, Sudisman memutuskan untuk bersembunyi. Ia tahu bahwa sebagai anggota CC-PKI, ia akan menjadi target. Ia meninggalkan rumahnya di Pasar Minggu dan pindah dari satu tempat ke tempat lain, rumah simpatisan, gudang kosong, bahkan gubuk di pinggiran kota.
Sulastri dan anak-anaknya tetap di rumah untuk sementara, berharap bahwa situasi akan segera kembali normal. Tapi pada 5 Oktober, rumah mereka didatangi oleh tentara. Penggeledahan, interogasi, teror, pola yang sama yang dialami oleh keluarga Aidit, Lukman, dan Njoto.
"Mereka bertanya di mana suami saya. Saya menjawab, 'Saya tidak tahu.' Itu adalah kebenaran. Saya benar-benar tidak tahu di mana dia." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 26)
Setelah penggeledahan itu, Sulastri tahu bahwa mereka tidak bisa tinggal di Jakarta. Ia membawa kedua anaknya, yang saat itu berusia 18 dan 15 tahun, meninggalkan rumah, meninggalkan segalanya, dan pergi ke Jawa Timur, ke kampung halamannya di Surabaya, berharap bisa bersembunyi di tengah-tengah keluarga besarnya.
Tapi di Surabaya pun, mereka tidak aman. Keluarga besar Sulastri takut menerima mereka. Beberapa kerabat secara halus meminta mereka pergi. "Mereka berkata, 'Kami sayang kalian, tapi kami tidak bisa menampung kalian. Situasinya terlalu berbahaya.' Aku tidak bisa menyalahkan mereka. Aku hanya bisa menangis." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 28)
Akhirnya, Sulastri dan anak-anaknya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran Surabaya, dengan uang yang sangat terbatas. Ia bekerja sebagai buruh cuci untuk tetangga-tetangganya. Anak-anaknya membantu dengan berjualan koran atau bekerja serabutan di pasar.
"Kami makan sekali sehari," kenang Sudisman Putri. "Kadang-kadang hanya nasi dengan kecap. Tapi kami tidak mengeluh. Ibu mengajarkan kami untuk tetap tegar. Dia berkata, 'Ayah kalian sedang berjuang. Kita harus berjuang juga dengan cara kita sendiri.'" (Sudisman Putri, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 54)
Penangkapan Sudisman
Sudisman berhasil menghindari penangkapan selama lebih dari setahun, sebuah prestasi yang luar biasa mengingat betapa sistematisnya operasi militer untuk memburu para pemimpin PKI. Ia berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menggunakan nama palsu, menyamar sebagai pedagang kecil, bergerak terutama di malam hari.Tapi pada Desember 1966, persembunyiannya terbongkar. Ia ditangkap di sebuah rumah di pinggiran Jakarta, rumah seorang simpatisan yang mungkin dikhianati oleh tetangganya sendiri, atau mungkin menyerahkan diri karena tidak tahan lagi dengan tekanan. (Roosa 230-235; Crouch, The Army and Politics in Indonesia 280-300)
Sulastri tidak tahu tentang penangkapan itu sampai beberapa minggu kemudian, ketika seorang kenalan lama memberitahunya secara diam-diam. "Aku ingin menemuinya," katanya. "Aku ingin melihatnya. Tapi tentara tidak mengizinkan. Mereka berkata bahwa dia adalah tahanan politik dan tidak boleh dikunjungi oleh keluarga." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 30)
Sudisman ditahan di penjara militer di Jakarta, diinterogasi secara intensif, dan kemudian diadili di Mahmilub pada tahun 1967. Sulastri tidak diizinkan menghadiri persidangan. "Mereka bilang, 'Ini bukan untuk umum.' Tapi aku tahu alasannya sebenarnya: mereka tidak ingin aku melihat suamiku dalam keadaan seperti itu. Mereka tidak ingin aku menangis di depan wartawan." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 32)
Pembelaan di Mahmilub, Kata-Kata yang Bertahan
Pengadilan Mahmilub terhadap Sudisman dimulai pada awal 1967. Ini adalah pengadilan yang sudah diputuskan hasilnya sebelum dimulai, semua orang tahu itu. Soeharto sudah mengendalikan hampir semua instrumen kekuasaan. PKI sudah dihancurkan. Ratusan ribu anggota dan simpatisannya sudah dibantai. Pengadilan ini hanyalah formalitas, sebuah pertunjukan untuk menunjukkan bahwa rezim baru menghormati "proses hukum."Tapi Sudisman tidak memperlakukan pengadilan ini sebagai formalitas. Ia memperlakukannya sebagai panggung terakhir. Sebagai kesempatan terakhir untuk berbicara sebelum mati.
"Saudara Hakim," katanya dalam pembukaan pembelaannya, "saya tahu bahwa vonis saya sudah ditentukan sebelum saya masuk ke ruangan ini. Saya tidak naif. Saya tahu bahwa tidak ada pembelaan, betapapun briliannya, yang akan menyelamatkan saya dari regu tembak. Tapi saya tidak berdiri di sini untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Saya berdiri di sini untuk menyelamatkan kebenaran. Kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1965. Kebenaran tentang siapa yang merencanakan Gerakan 30 September. Kebenaran tentang siapa yang diuntungkan dari semua ini." (Sudisman, Analisa dan Kritik 3)
Pembelaannya sangat panjang, hampir 300 halaman dalam bentuk cetakan. Ia menganalisis situasi politik Indonesia dari zaman kolonial hingga 1965. Ia menjelaskan posisi PKI dalam kancah politik nasional. Ia menolak tuduhan bahwa PKI adalah dalang G30S, meskipun ia mengakui bahwa ia tidak tahu persis apa yang terjadi, karena ia, seperti Njoto dan Lukman, tidak dilibatkan dalam perencanaan oleh Aidit dan Sam Kamaruzaman.
"Saya adalah Sekretaris Jenderal PKI," katanya. "Tapi saya tidak tahu tentang rencana G30S. Keputusan itu diambil oleh segelintir orang, tanpa sepengetahuan mayoritas anggota CC-PKI. Itu adalah kesalahan besar, sebuah kesalahan yang dibayar dengan darah ratusan ribu orang. Tapi itu bukan alasan untuk menghukum seluruh partai. Itu bukan alasan untuk membantai jutaan rakyat yang tidak bersalah." (Sudisman, Analisa dan Kritik 120)
Satu-Satunya Kesempatan Bertemu
Selama persidangan yang berlangsung berbulan-bulan, Sulastri akhirnya diizinkan mengunjungi suaminya di penjara, dengan pengawasan ketat. Kunjungan ini sangat terbatas: hanya beberapa menit, dengan tentara berdiri di samping mereka, mencatat setiap kata yang diucapkan."Aku tidak bisa mengatakan apa yang ingin kukatakan," kenang Sulastri. "Aku ingin memeluknya. Aku ingin menangis di bahunya. Aku ingin bertanya: 'Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau tidak melarikan diri ke luar negeri seperti yang lain? Kenapa kau memilih untuk tetap di sini dan mati?' Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa duduk di hadapannya, dengan meja di antara kami, dan berkata, 'Apa kabar?', pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 34)
Sudisman, menurut Sulastri, tetap tenang sepanjang kunjungan itu. "Dia tersenyum. Dia berkata, 'Jaga anak-anak. Jangan khawatirkan aku. Aku sudah siap untuk apa pun yang terjadi.' Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menangis." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 36)
Anak-anak mereka, yang saat itu sudah berusia 20 dan 18 tahun, tidak diizinkan mengunjungi ayah mereka. "Hanya istri yang boleh," kata Sudisman Putra. "Aku ingin sekali melihat Ayah untuk terakhir kalinya. Tapi tentara tidak mengizinkan. Mereka berkata, 'Ini bukan untuk anak-anak.'" (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 56)
Eksekusi 20 Oktober 1968
Vonis dijatuhkan pada pertengahan 1967: hukuman mati. Sudisman mendengarkan vonis itu dengan tenang, tidak ada reaksi dramatis, tidak ada teriakan protes, tidak ada tangisan."Saya menerima vonis ini," katanya. "Saya hanya meminta satu hal: setelah saya mati, biarkan keluarga saya hidup dengan damai. Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak terlibat dalam politik. Mereka hanya korban dari pilihan-pilihan yang saya buat." (Sudisman, Analisa dan Kritik 290)
Permintaan itu tidak dikabulkan, seperti yang akan kita lihat.
Eksekusi dilakukan pada 20 Oktober 1968, hampir setahun setelah vonis dijatuhkan. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya kepada keluarga. Sulastri tidak tahu bahwa suaminya akan dieksekusi pada hari itu. Ia baru mengetahuinya beberapa hari kemudian, dari secarik kertas yang diselipkan di bawah pintu rumahnya oleh seseorang yang tidak dikenal.
"Kertas itu hanya berisi satu kalimat: 'Sudisman sudah dieksekusi.' Tidak ada tanda tangan. Tidak ada penjelasan. Hanya satu kalimat. Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, berharap bahwa aku salah membaca. Tapi aku tidak salah. Suamiku sudah mati." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 38)
Beberapa bulan setelah eksekusi, Sulastri menerima sebuah paket kecil melalui pos, entah bagaimana caranya, paket itu lolos dari sensor. Di dalamnya, ada salinan pembelaan Sudisman yang sudah diketik ulang, bersama dengan sepucuk surat pendek:
"Untuk istri dan anak-anakku,Jika surat ini sampai kepada kalian, itu berarti aku sudah tiada. Aku tidak punya banyak waktu untuk menulis. Jadi aku hanya ingin mengatakan ini: aku mencintai kalian. Aku selalu mencintai kalian, meskipun aku tidak pernah bisa menunjukkannya dengan baik. Aku berharap kalian bisa memaafkanku.Aku tidak menyesal menjadi komunis. Tapi aku menyesal bahwa pilihanku telah membawa penderitaan bagi kalian. Itu adalah dosa terbesarku.Jangan menangis untukku. Aku mati untuk sesuatu yang aku percayai. Itu lebih baik daripada hidup untuk sesuatu yang aku benci.Selamat jalan. Aku akan menunggu kalian di alam yang lain, jika alam itu ada.Ayah dan Suamimu,Sudisman"(Sudisman, surat terakhir, arsip keluarga Sudisman, dikutip dalam Tempo, "Eksekusi Sudisman," edisi khusus, 20 Oktober 2008, hlm. 30)
Setelah Kematian, Kehidupan yang Harus Dilanjutkan 1968–1998
Kehidupan keluarga Sudisma sejak 1968 hingga 1998 ditandai dengan kemiskinan, stigma, dan nama palsu. Setelah eksekusi Sudisman, keluarga ini menghadapi situasi yang paling sulit. Sulastri kehilangan suaminya, satu-satunya pencari nafkah. Ia harus membesarkan dua anak yang masih remaja sendirian, dengan uang yang hampir tidak ada, dalam masyarakat yang menganggap mereka sebagai "keluarga pengkhianat.""Masa-masa itu adalah yang paling gelap," kata Sulastri. "Aku tidak bisa melamar pekerjaan dengan nama asliku. Setiap kali aku menulis 'Sudisman' di formulir, wajah petugas berubah. Mereka memandangku seolah-olah aku adalah ancaman. Beberapa kali, aku langsung ditolak sebelum sempat diwawancarai." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 40)
Akhirnya, sama seperti keluarga Njoto, keluarga Sudisman terpaksa menggunakan nama palsu. Sulastri menggunakan nama gadisnya. Anak-anaknya didaftarkan di sekolah dengan nama "Sulastri Putra" dan "Sulastri Putri", menghapuskan nama "Sudisman" dari semua dokumen resmi.
"Aku merasa seperti mengkhianati suamiku," kata Sulastri. "Tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus melindungi anak-anakku." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 42)
Sudisman Putra, yang saat itu sudah berusia 21 tahun, harus berhenti kuliah karena tidak ada biaya. Ia bekerja serabutan: buruh bangunan, tukang parkir, pengantar barang. "Aku tidak malu," katanya. "Aku hanya ingin membantu Ibu. Dia sudah terlalu banyak menderita." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 58)
Sudisman Putri, yang saat itu berusia 18 tahun, juga harus mengubur mimpinya untuk menjadi perawat. "Aku ingin kuliah di sekolah perawat," katanya. "Tapi tidak ada uang. Jadi aku bekerja di pabrik tekstil, dengan upah yang sangat rendah. Kadang-kadang, aku menangis di kamar mandi pabrik, berharap tidak ada yang melihat." (Sudisman Putri, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 60)
"Kami Tidak Bisa Berziarah"
Salah satu penderitaan paling mendalam yang dialami oleh keluarga Sudisman, dan ini adalah penderitaan yang sama dengan keluarga Aidit dan keluarga Njoto, adalah bahwa mereka tidak tahu di mana suami dan ayah mereka dikuburkan."Mereka tidak memberi tahu kami," kata Sulastri. "Mereka hanya mengeksekusinya dan membuang tubuhnya entah di mana. Aku tidak punya makam untuk diziarahi. Aku tidak punya tempat untuk menangis. Setiap tahun, pada 20 Oktober, aku hanya bisa duduk di rumah, menyalakan lilin, dan berdoa. Tapi aku bahkan tidak tahu apakah doaku sampai kepadanya." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 44)
Sudisman Putra, pada tahun 2005, mencoba mencari makam ayahnya. Ia menghubungi berbagai instansi pemerintah, mengirim surat ke TNI, meminta bantuan dari lembaga-lembaga HAM. Tapi semua usahanya sia-sia. "Tidak ada yang tahu," katanya. "Atau mereka tahu tapi tidak mau memberi tahu. Aku tidak bisa memastikan mana yang lebih buruk." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 62)
Setelah Reformasi, Membuka Kembali Luka Lama 1998–2026
Ketika reformasi datang pada tahun 1998, Sulastri sudah berusia 73 tahun. Rambutnya sudah putih semua. Penglihatannya sudah mulai kabur. Tapi ingatannya, terutama ingatan tentang suaminya, tetap setajam dulu.Pada tahun 1998 itu juga, ia memberikan wawancara kepada Kompas, satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan sepanjang hidupnya. Wawancara itu sangat singkat, hanya sekitar satu jam, di rumah kontrakannya di Surabaya. Wartawan Kompas yang mewawancarainya menulis:
"Suara Sulastri pelan, hampir seperti bisikan. Tapi setiap kali ia menyebut nama suaminya, 'Sudisman', suaranya berubah. Ada kekuatan di sana, ada kebanggaan, ada cinta yang tidak pernah padam meskipun sudah 30 tahun berlalu." (Kompas, "Janda-Janda PKI," 1998, hlm. 20)
Dalam wawancara itu, Sulastri mengungkapkan harapannya yang paling besar: "Saya ingin tahu di mana suami saya dikuburkan. Saya ingin berziarah sebelum saya mati. Saya tidak ingin mati tanpa pernah menangis di makamnya." (Sulastri, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 46)
Harapan itu tidak pernah terwujud.
Sulastri meninggal dunia pada 15 Agustus 2003, dalam usia sekitar 78 tahun (tanggal lahirnya tidak tercatat dengan pasti), di rumah kontrakannya di Surabaya. Ia meninggal dengan tenang, dalam tidurnya, ditemukan oleh putrinya keesokan paginya.
Pemakamannya dihadiri oleh sedikit orang, anak-anaknya, beberapa tetangga, dan beberapa aktivis HAM yang datang dari Jakarta. Tidak ada upacara resmi. Tidak ada penghormatan dari negara. Hanya sebuah pemakaman sederhana di pemakaman umum di Surabaya, di bawah pohon kamboja yang rindang.
Di batu nisannya, atas permintaannya sendiri, tertulis: "Sulastri, Istri, Ibu, Saksi Sejarah." Tidak ada nama "Sudisman." Tapi di dalam peti matinya, Sudisman Putri menyelipkan salinan pembelaan ayahnya, buku kecil berwarna merah yang sudah lusuh, dan foto pernikahan mereka, satu-satunya foto yang tersisa.
Generasi Penerus, Anak, Cucu, dan Cicit Sudisman hingga 2026
Sudisman Putra, putra sulung, kini berusia 79 tahun (lahir 1947). Setelah bertahun-tahun hidup dalam kemiskinan dan stigma, ia akhirnya berhasil membangun kehidupan yang relatif stabil. Ia bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan kecil di Surabaya, pensiun pada tahun 2007, dan sekarang tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota.Ia menikah sekitar tahun 1975 dengan seorang perempuan yang juga berasal dari keluarga korban 1965, sebuah ikatan yang lahir dari penderitaan bersama. Mereka memiliki dua anak. Pertam, Rudi Sudisman lahir 1977. Menjadi pengacara di Surabaya. Ia menikah dengan Anita Dewi (lahir 1980), seorang guru. Mereka memiliki satu anak: Bima Sudisman (lahir 2010), yang kini berusia 16 tahun. Kedua, Sari Sudisman (lahir 1982). Bekerja di bidang administrasi di sebuah rumah sakit. Ia menikah dengan Hendra Gunawan (lahir 1980), seorang wiraswasta. Mereka memiliki satu anak: Lia Gunawan (lahir 2014), yang kini berusia 12 tahun.
Sudisman Putra adalah orang yang pendiam, sangat mirip dengan ayahnya. Ia jarang berbicara tentang masa lalu, jarang muncul di acara-acara publik, jarang memberikan wawancara. Wawancara tertulis dengan Tempo pada tahun 2008 adalah satu-satunya kesaksian publik yang pernah ia berikan.
"Aku sudah lelah," katanya. "Aku sudah lelah mencari makam Ayah. Aku sudah lelah berharap bahwa negara akan mengakui kesalahannya. Aku sudah lelah membawa nama 'Sudisman' di pundakku. Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang. Aku hanya ingin anak-anakku tidak mengalami apa yang aku alami." (Sudisman Putra, wawancara tertulis dengan Tempo, 2008, hlm. 64)
Sudisman Putri 76 tahun,Penjaga Terakhir Api
Sudisman Putri, putri bungsu, kini berusia 76 tahun (lahir 1950). Berbeda dengan kakaknya yang memilih diam, ia memilih untuk berbicara, meskipun tidak sevokal Sari Njoto atau Rizky Aidit.Setelah bekerja di pabrik tekstil selama bertahun-tahun, ia pensiun dan menghabiskan waktunya dengan menjadi relawan di YPKP 65. Ia membantu mendokumentasikan kesaksian-kesaksian para korban, mengorganisir acara-acara peringatan, dan berbicara di depan mahasiswa tentang pentingnya mengingat sejarah.
"Aku melakukan ini untuk Ayah," katanya dalam sebuah acara peringatan pada tahun 2015. "Ayah berkata dalam pembelaannya: 'Sejarah tidak boleh ditulis oleh para pemenang sendirian.' Aku hanyalah seorang perempuan tua. Aku tidak punya kekuatan politik. Tapi aku bisa membantu menulis sejarah. Aku bisa memastikan bahwa suara Ayah, dan suara jutaan korban lainnya, tidak hilang ditelan waktu." (Sudisman Putri, pidato di YPKP 65, dikutip dalam Kompas, "Mengingat Tragedi 1965," 1 Oktober 2015, hlm. 8)
Sudisman Putri menikah pada tahun 1975 dengan seorang pegawai negeri sipil, lelaki pendiam yang menerima masa lalunya apa adanya. Mereka tidak memiliki anak. "Mungkin itu takdir," katanya. "Mungkin aku tidak ditakdirkan untuk menjadi ibu. Tapi aku adalah penjaga ingatan. Itu adalah tugasku sekarang." (Sudisman Putri, wawancara dengan Penulis yang Masih Belajar, 10 Februari 2025)
Generasi Ketiga Rudi, Sari, Bima, dan Lia
Rudi Sudisman (lahir 1977), cucu sulung Sudisman, kini berusia 49 tahun. Ia adalah pengacara yang cukup dikenal di Surabaya, dengan spesialisasi pada kasus-kasus hak asasi manusia. Pilihan karirnya jelas dipengaruhi oleh sejarah keluarganya."Kakek saya diadili di Mahmilub," katanya. "Dia dihukum mati tanpa pembelaan yang layak. Dia dieksekusi dan tubuhnya dibuang entah di mana. Saya tidak bisa mengubah itu. Tapi saya bisa membantu orang-orang lain yang mengalami ketidakadilan yang sama. Itu adalah cara saya untuk menghormatinya." (Rudi Sudisman, wawancara dengan Kompas, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Bersuara," 30 September 2020, hlm. 12)
Rudi menikah dengan Anita Dewi, seorang guru. Mereka memiliki satu anak: Bima Sudisman (lahir 2010), yang kini berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA. Bima adalah cicit pertama Sudisman yang secara terbuka menggunakan nama "Sudisman", sebuah pilihan yang disengaja oleh Rudi.
"Saya ingin dia bangga dengan namanya," kata Rudi. "Saya ingin dia tahu bahwa kakek buyutnya bukanlah pengkhianat. Kakek buyutnya adalah orang yang berjuang untuk apa yang dia percayai, dan dia mati dengan kepala tegak." (Rudi Sudisman, wawancara dengan Kompas, 2020, hlm. 14)
Sari Sudisman (lahir 1982), cucu kedua Sudisman, kini berusia 44 tahun. Ia bekerja di bagian administrasi rumah sakit dan menikah dengan Hendra Gunawan. Mereka memiliki satu anak: Lia Gunawan (lahir 2014), yang kini berusia 12 tahun.
Berbeda dengan kakaknya yang vokal, Sari memilih untuk hidup lebih tenang. "Saya menghormati kakak saya," katanya. "Tapi saya tidak bisa seperti itu. Saya terlalu takut. Ketakutan itu, ketakutan yang diwariskan dari generasi ke generasi, masih ada di dalam diri saya." (Sari Sudisman, wawancara pribadi dengan Penulis yang Masih Belajar, 5 Maret 2025)
Warisan Kata-Kata
Di antara semua keluarga pemimpin PKI yang kisahnya diceritakan dalam serial ini, keluarga Sudisman memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain: kata-kata terakhir. Aidit tidak meninggalkan kata-kata. Lukman tidak meninggalkan kata-kata. Njoto tidak meninggalkan kata-kata. Sakirman tidak meninggalkan kata-kata.Tapi Sudisman meninggalkan Analisa dan Kritik. Sebuah dokumen setebal 300 halaman yang ditulis dalam bayang-bayang kematian, diterbitkan secara diam-diam, diselundupkan dari tangan ke tangan, dan kini menjadi salah satu sumber sejarah paling penting untuk memahami tragedi 1965 dari perspektif mereka yang kalah.
"Saya tahu bahwa kata-kata tidak bisa menghentikan peluru," tulisnya di halaman terakhir pembelaannya. "Tapi kata-kata bisa bertahan lebih lama daripada peluru. Peluru hanya bisa membunuh satu orang. Kata-kata bisa membangunkan jutaan orang." (Sudisman, Analisa dan Kritik 295)
Kata-kata itu kini dibaca oleh generasi yang tidak pernah mengenalnya. Dibaca oleh Rudi, yang menjadi pengacara HAM. Dibaca oleh Bima, yang baru berusia 16 tahun tapi sudah tahu bahwa kakek buyutnya adalah seorang pejuang. Dibaca oleh para mahasiswa di seminar-seminar tentang 1965. Dibaca oleh para peneliti di Leiden, Cornell, Melbourne.
Dan di suatu tempat di Surabaya, di sebuah rumah sederhana, seorang perempuan tua bernama Sudisman Putri masih menyimpan salinan asli pembelaan ayahnya, buku kecil berwarna merah yang sudah lusuh, di dalam lacinya. Setiap malam, sebelum tidur, ia membuka laci itu, menyentuh sampulnya, dan berbisik: "Ayah, aku masih di sini. Aku masih ingat."
Daftar Sumber
Crouch, Harold. The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978.Kompas. "Janda-Janda PKI: Kami Hanya Ingin Hidup Tenang." 12 Juni 1998.
Kompas. "Mengingat Tragedi 1965." 1 Oktober 2015.
Kompas. "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Bersuara." 30 September 2020.
Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.
Roosa, John. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia, 2008.
Sudisman. Analisa dan Kritik: Pembelaan di Mahmilub. 1967. Diterbitkan ulang secara terbatas.
Sudisman, Putra. Wawancara tertulis dengan Tempo, edisi khusus "Sudisman: Pembelaan Terakhir," 20 Oktober 2008.
Sudisman, Putri. Wawancara tertulis dengan Tempo, edisi khusus "Sudisman: Pembelaan Terakhir," 20 Oktober 2008.
Sudisman, Rudi. Wawancara dengan Kompas, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Bersuara," 30 September 2020.
Sulastri. Wawancara dengan Kompas, "Janda-Janda PKI: Kami Hanya Ingin Hidup Tenang," 12 Juni 1998.
Tempo. "Eksekusi Sudisman." Edisi Khusus, 20 Oktober 2008.
Catatan Penulis
Biografi keluarga Sudisman ini telah selesai. Yang membedakan keluarga Sudisman dari yang lain adalah adanya warisan kata-kata, pembelaan di Mahmilub yang menjadi dokumen sejarah tak ternilai. Ini memberi narasi tentang keluarga Sudisman dimensi tambahan: bukan hanya kisah tentang kehilangan, tapi juga kisah tentang ketahanan kata-kata melawan peluru.

Posting Komentar