Raja yang Mati Pelan-Pelan: Kudeta Merangkak dari Senopati ke Soeharto, Pola Kekuasaan Jawa yang Berulang

Buku ini adalah sebuah tulisan panjang rekonstruksi peralihan kekuasaan yang berlangsung halus, tanpa alpha male status quo berhadapan secara diametral dengan alpha male contenter. Buku ini berawal dari sebuah kebetulan. Bertahun-tahun silam, ketika penulis masih menjadi mahasiswa yang gemar menyusuri lorong-lorong sunyi perpustakaan, penulis menemukan dua teks yang tampaknya tak berkaitan. 

Yang pertama adalah sebuah disertasi tua karya Soemarsaid Moertono tentang State and Statecraft in Old Java, kajian mendalam tentang bagaimana raja-raja Mataram memahami dan menjalankan kekuasaan. Yang kedua adalah A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, yang lebih dikenal sebagai "Cornell Paper", ditulis oleh Benedict Anderson dan Ruth McVey dalam panasnya kontroversi pasca-1965. Dua bacaan itu terpaut jauh dalam ruang dan waktu: yang satu tentang raja-raja abad ke-17, yang lain tentang perwira militer abad ke-20.

Membongkar pola kudeta merangkak: dari Senopati melawan Hadiwijaya hingga Soeharto merebut kuasa dari Sukarno. Kekuasaan Jawa yang berulang tanpa pera

Namun, semakin penulis membaca keduanya secara bolak-balik, semakin penulis merasakan adanya irama yang sama. Sebuah pola yang berulang. Sebuah logika kekuasaan yang, anehnya, tidak lekang oleh modernitas.

Anderson dalam esainya yang terkenal, The Idea of Power in Javanese Culture (1972), berargumen bahwa orang Jawa tradisional memandang kekuasaan bukan sebagai hubungan sosial yang dinegosiasikan, melainkan sebagai zat konkret yang jumlahnya tetap di alam semesta. Kekuasaan tidak diciptakan; ia hanya bisa diserap, dikumpulkan, atau dialihkan dari satu wadah ke wadah lain. Maka, dalam tradisi politik Jawa, cara terhormat untuk memperoleh kekuasaan bukanlah dengan membunuh sang pemilik sebelumnya secara terbuka, itu akan menumpahkan "cairan" kekuasaan yang berharga, melainkan dengan menyedotnya pelan-pelan, membiarkan wadah yang lama mengering dengan sendirinya, sementara wadah yang baru perlahan-lahan terisi penuh.

Ketika membaca babad-babad Jawa, terutama Babad Tanah Jawi dan Serat Babad Nitik yang kurang dikenal, penulis menyaksikan bagaimana argumen Anderson itu bekerja di atas panggung sejarah yang sesungguhnya. Danang Sutawijaya, pendiri Dinasti Mataram, tidak pernah menyatakan perang kepada Sultan Hadiwijaya. Ia tidak mengirim pasukan besar ke Pajang. Ia tidak membunuh raja yang telah membesarkannya itu. Ia hanya... berhenti datang. Berhenti mengirim upeti. Berhenti menunjukkan kepatuhan. Dan ketika Hadiwijaya wafat, entah karena sakit, entah karena patah hati, takhta itu sudah tersedia, tanpa setetes darah pun menodai tangan Sutawijaya.

Kemudian penulis menengok ke sejarah yang lebih dekat: 1965-1967. Di sana penulis menemukan Soeharto. Dan penulis dikejutkan oleh betapa miripnya koreografi politik yang dimainkan.
Soeharto tidak menembak Sukarno. Ia tidak menggelar mahkamah militer untuk presiden pertama Republik Indonesia itu. Sebaliknya, ia melakukan apa yang oleh para pengamat politik disebut sebagai creeping coup d'état, kudeta merangkak. Supersemar 11 Maret 1966 menjadi titik balik: selembar surat perintah yang tampak biasa saja, yang dalam hitungan bulan berubah menjadi mandat tak terbatas untuk membubarkan partai, menangkap menteri, dan akhirnya, melalui Sidang Istimewa MPRS 1967, mencabut kekuasaan Sukarno tanpa pemakzulan formal. Sukarno tetap hidup. Ia bahkan tetap menyandang gelar presiden untuk beberapa waktu. Tetapi kekuasaannya sudah mati. Diserap. Dipindahkan. Persis seperti yang terjadi pada Hadiwijaya hampir empat abad sebelumnya.

Dua kisah, dua zaman, satu pola.

Buku yang Anda pegang ini adalah upaya penulis untuk menelusuri pola itu, bukan dari menara gading akademik, melainkan dari tanah yang paling mungkin: narasi. Penulis memilih untuk menulis buku ini sebagai cerita paralel, mempertemukan Senopati dan Soeharto dalam setiap bab, bukan untuk memaksakan kesamaan yang artifisial, melainkan untuk menunjukkan bahwa sejarah kadang memiliki rima yang tak terduga.

Di Bab 1, kita akan langsung masuk ke dua adegan pembuka. Di Bab 2, kita akan menggali pemahaman Jawa tentang kekuasaan, bukan sebagai "teori" yang dingin, melainkan sebagai kepercayaan yang hidup, yang membuat jutaan orang bisa menerima pergantian rezim tanpa perlawanan berarti. Bab 3 hingga 11 akan membawa Anda dalam perjalanan bolak-balik antara Mataram abad ke-16 dan Jakarta abad ke-20, menyaksikan bagaimana tahap demi tahap kudeta merangkak dijalankan: penundaan kepatuhan, isolasi simbolik, pengambilalihan aparat, hingga penulisan ulang sejarah yang memastikan bahwa versi pemenanglah yang dikenang.

Tapi buku ini bukan sekadar perbandingan. Ia juga sebuah interogasi terhadap keterbatasannya sendiri.
Di Bab 12, penulis secara sengaja memberikan ruang kepada suara-suara yang menolak pendekatan kultural ini. Para ilmuwan politik seperti Richard Robison dan Harold Crouch, yang kebetulan juga guru-guru imajiner penulis secara intelektual, telah lama memperingatkan bahaya menjelaskan segalanya dengan "budaya". Bagi mereka, naiknya Soeharto tidak bisa dilepaskan dari tekanan modal internasional, dari restrukturisasi ekonomi global pasca-1965, dari kepentingan militer sebagai kelas tersendiri. Budaya Jawa, kata mereka, hanyalah lapisan legitimasi yang ditempelkan belakangan. Penulis mendengarkan kritik itu dengan serius. Dan penulis mengajak Anda, para pembaca, untuk juga mendengarkannya, bukan untuk membingungkan, melainkan untuk menunjukkan bahwa sejarah bukanlah teka-teki dengan satu jawaban benar.

Mengapa buku ini ditulis sekarang?

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto menandatangani Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025 yang menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Keputusan itu langsung membelah publik. Survei KedaiKOPI menunjukkan mayoritas responden mendukung, terutama karena narasi swasembada pangan dan pembangunan ekonomi Orde Baru. Namun keluarga korban pelanggaran HAM 1965, organisasi masyarakat sipil, dan sejumlah tokoh nasional menyuarakan penolakan keras, bahkan menuntut pencabutan keppres tersebut.

Di tengah kontestasi ingatan yang belum selesai inilah, buku ini hadir. Bukan untuk mendukung atau menolak gelar itu. Bukan untuk menghakimi Soeharto atau memuja Senopati. Melainkan untuk mengajak kita semua mundur selangkah, melihat bentang sejarah yang lebih panjang, dan bertanya: bagaimana cara kita memahami kekuasaan yang berulang? Jika pola ini memang ada, jika kudeta merangkak adalah kemungkinan yang selalu terbuka dalam lanskap politik kita, bukankah kita perlu mengenalinya agar tidak lagi menjadi korban bisunya?

Tentang sumber dan pendekatan

Salah satu hal yang membuat buku ini berbeda adalah penggunaan sumber-sumber yang selama ini jarang disentuh. Serat Babad Nitik, misalnya, adalah manuskrip dari koleksi Museum Radya Pustaka yang lebih detail melukiskan strategi politik Senopati ketimbang versi Babad Tanah Jawi yang sudah lazim dikutip. Penulis juga menggunakan fragmen catatan harian ajudan Soeharto dari masa transisi 1965-1967 yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, serta surat-surat internal perwira TNI AD pasca-Supersemar dari Perpustakaan Sesko AD. Bahan-bahan ini, sepanjang pengetahuan penulis, belum pernah digunakan dalam kerangka perbandingan Mataram-Orde Baru sebelumnya. Dengan demikian, buku ini menawarkan pembacaan yang segar, meskipun temanya sendiri setua republik.

Tentu, menulis kisah lintas zaman seperti ini penuh jebakan. Penulis sadar betul akan bahaya esensialisme budaya: menggambarkan "orang Jawa" sebagai entitas yang statis, seolah-olah apa yang berlaku di abad ke-16 otomatis berlaku di abad ke-20. Penulis juga sadar bahwa sumber-sumber babad bukanlah "fakta sejarah" dalam pengertian modern; ia adalah sastra yang ditulis oleh pemenang, oleh para pujangga yang digaji istana untuk melegitimasi dinasti yang berkuasa. Itulah sebabnya penulis memperlakukan babad bukan sebagai rekaman objektif, melainkan sebagai artefak politik itu sendiri, sebagai cara kekuasaan menarasikan dirinya.

Untuk siapa buku ini ditulis?

Buku ini penulis tulis untuk pembaca umum yang ingin memahami sejarah bangsanya dengan cara yang lebih segar, lebih bercerita, tetapi tidak kehilangan ketajaman analitis. Anda tidak perlu menjadi sejarawan atau ilmuwan politik untuk menikmati buku ini. Yang Anda perlukan hanyalah rasa ingin tahu: bagaimana bisa seorang raja jatuh tanpa perang? Bagaimana bisa seorang presiden kehilangan segalanya sementara ia tetap tinggal di istananya?

Jika Anda adalah pembaca yang selama ini merasa bahwa sejarah itu kering dan jauh, penuh angka tahun dan nama yang sulit diingat, penulis berharap buku ini bisa mengubah persepsi Anda. Sejarah, pada akhirnya, adalah tentang manusia. Tentang ambisi, ketakutan, strategi, dan kadang, kebetulan-kebetulan yang mengubah arah zaman.

Dan jika setelah membaca buku ini Anda merasa sedikit lebih waspada, sedikit lebih peka terhadap tanda-tanda kekuasaan yang bergerak diam-diam di sekitar kita, maka buku ini telah mencapai tujuannya.

Daftar Isi

Imprint ii
CopyRight iii
Prakata iv
Daftar Isi 12

BAB 1 DUA KUDETA SATU POLA, KETIKA JAWA MENGGANTI RAJANYA TANPA PERANG 22
1. Pajang Tahun 1582, Sebuah Ketidakhadiran 22
2. Jakarta 11 Maret 1966, Sebuah Surat 25
3. Creeping Coup, Memberi Nama pada Sesuatu yang Tak Kasat Mata 27
4. Dua Panggung Satu Lakon, Mataram 1582 dan Jakarta 1966 31
5. Mengapa Perbandingan Ini Penting? 33
6. Peta Jalan Buku Ini 36
7. Tentang Sumber dan Metode, Sebuah Catatan Singkat 38
8. Sebuah Undangan 40
Rujukan 41

BAB 2 LELUHUR, WAHYU, DAN MANDAT LANGIT, MENGAPA ORANG JAWA PERCAYA KEKUASAAN ITU SATU? 43
1. Pusaka di Balik Kaca 43
2. Kekuasaan sebagai Zat, Anderson dan Revolusi Cara Pandang 46
3. Wahyu, Pulung, dan Ndaru, Bagaimana Kekuasaan Turun dari Langit 50
4. Laku dan Puasa, Bagaimana Kekuasaan Dikumpulkan 54
5. Kontras dengan Barat, Kekuasaan yang Tidak Bisa Diciptakan 56
6. Kritik atas Anderson, Apakah Ini Terlalu Esensialis? 61
7. Kekuasaan yang Tidak Pernah Mati 62
Rujukan 64

BAB 3 PAJANG MENANTI MATARAM MENUNDA, KISAH TANAH MENTAOK DAN LAHIRNYA SEBUAH AMBISI 66
1. Darah di Tepi Sungai, Runtuhnya Demak dan Lahirnya Dendam 66
2. Para Wali yang Terbelah, Ketika Kepentingan Politik Mengalahkan Dakwah 68
3. Pembunuhan Sunan Prawoto dan Spiral Kekerasan yang Tak Terkendali 71
4. Jaka Tingkir dan Sayembara, Politik di Balik Pertumpahan Darah 72
5. Kematian Arya Penangsang, Sebuah Pembunuhan Politik yang Direkayasa 73
6. Hadiwijaya Naik, Pajang Berdiri, dan Janji yang Belum Dibayar 77
7. Ramalan Sunan Prapen, Ketika Langit Ikut Bermain 78
8. Sunan Kalijaga, Penengah yang Mengubah Arah Sejarah 79
9. Ki Juru Martani, Arsitek Bayangan di Balik Mataram 82
10. Mentaok Berubah, Sutawijaya Menunggu, dan Babak Baru Dimulai 84
Rujukan 87

BAB 4 DANANG SUTAWIJAYA MENGAMBIL JARAK, TAHAP PERTAMA KUDETA MERANGKAK 88
1. 1575 Sebuah Kematian, Sebuah Kelahiran 88
2. Penundaan Pertama, Ketika Seba Tidak Lagi Dianggap Wajib 90
3. Upeti yang Berhenti Mengalir, Membangun Ekonomi Paralel 92
4. Mengisolasi Sultan Tanpa Mengurungnya, Strategi Sosial dan Simbolik 95
5. Ki Juru Martani, Dalang di Balik Panggung 98
6. 1581–1582, Eskalasi dalam Senyap 100
7. Deklarasi Terselubung, Gelar yang Belum Diucapkan 101
8. Perang yang Tak Terhindarkan, Ekspedisi Pajang ke Mataram 103
9. Menjelang 1586, Mataram di Ambang Kemerdekaan Penuh 108
Rujukan 109

BAB 5 SUKARNO DI PUNCAK SOEHARTO DI BAYANGAN, KERAPUHAN SEORANG RAJA MODERN 111
1. Jakarta 1963, Seorang Presiden di Atas Singgasana Retak 111
2. Dua Raksasa di Bawah Satu Atap, PKI dan Angkatan Darat 113
3. Soeharto, Seorang Jenderal yang Tidak Pernah Jadi Pusat Perhatian 115
4. Sukarno, NASAKOM, dan Ilusi Keseimbangan 118
5. Pertanda-Pertanda yang Diabaikan, Januari–September 1965 119
6. Soeharto di Bayang-Bayang, Jaringan yang Tidak Terlihat 122
7. Ekonomi di Ujung Jurang, Inflasi, Kelaparan, dan Kemarahan 124
8. September 1965, Tenang Sebelum Badai 126
9. Menjelang Malam, Pajang 1586 dan Jakarta 1965 128
Rujukan 129

BAB 6 MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA, TIGA VERSI KEMATIAN HADIWIJAYA DAN G30S 131
1. Dua Malam, Dua Misteri 131
2. Hadiwijaya, Tiga Versi tentang Kematian Seorang Sultan 132
Versi Pertama: Kematian Alamiah 132
Versi Kedua, Keracunan 135
Versi Ketiga, Patah Hati (Serik) 136
3. Malam 30 September 1965, Kronologi dalam Bayang-Bayang 143
4. Tiga Narasi tentang G30S, Siapa Dalangnya? 144
Narasi Pertama Versi Orde Baru, PKI sebagai Dalang Tunggal 144
Narasi Kedua Cornell Paper, Gerakan Internal Militer 148
Narasi Ketiga, John Roosa dan Pretext for Mass Murder 152
5. Dokumen-Dokumen yang Terlupakan, Petunjuk dari Bayang-Bayang Intelijen 156
6. Soeharto pada 1 Oktober, Pria yang Tidak Panik 162
7. Perbandingan, Dua Malam, Dua Korban, Satu Pola 164
8. Menjelang Bab 7, Dalang di Balik Panggung 166
Rujukan 166

BAB 7 PAMAN DI BELAKANG SINGGASANA, KI JURU MARTANI DAN ALI MOERTOPO SEBAGAI DALANG SUNYI 168
1. Orang-Orang yang Tidak Ingin Dikenang 168
2. Ki Juru Martani, Otak di Balik Keheningan Mentaok 169
3. Catatan VOC yang Terlupakan, "Seorang Penasihat Tua yang Sangat Dihormati" 172
4. Ali Moertopo, Dalang di Ruang Berasap 174
5. Opsus, Mesin Intelijen di Luar Struktur Resmi 176
6. Perbandingan Sistematis, Dua Dalang, Satu Metode 183
7. Mengapa Dalang Selalu Disingkirkan? 185
8. Penutup, Bisikan di Telinga Kekuasaan 187
Rujukan 188

BAB 8 DARI SUPERSEMAR KE MPRS, MANUAL KUDETA MERANGKAK ABAD 20 189
1. Bogor 11 Maret 1966, Sebuah Penandatanganan yang Direkayasa 189
2. Ambiguitas yang Disengaja, Anatomi Sebuah Surat Sakti 191
3. Dua Belas Hari yang Mengguncang Istana 194
12 Maret 1966, Pembubaran PKI 194
18 Maret 1966, Penangkapan Lima Belas Menteri 195
4. Operasi di Balik Tirai, Bagaimana MPRS Ditundukkan 196
5. Telegram No. 015/III/1966, Instruksi Rahasia yang Terlupakan 198
6. Isolasi Simbolik Membungkam Presiden Tanpa Mengurungnya 200
7. Sidang Istimewa MPRS 1967, Panggung Terakhir 201
8. Penutup, Enam Tahap, Satu Pola 205
Rujukan 206

BAB 9 SABUK KESAKTIAN DAN SUPERSEMAR GAIB, KETIKA SIMBOL LEBIH KUAT DARI PELURU 209
1. Kekuasaan yang Bisa Disentuh, Warisan Anderson 209
2. Peta Spiritual Panembahan Senopati, Dari Merapi ke Parangkusumo 210
Gua Sigandu, Lereng Merapi 210
Gua Langse, Pegunungan Sewu 211
Parangkusumo, Pantai Selatan 212
Petilasan Tambahan dari Sumber Babad dan Lontar 213
3. Peta Spiritual Soeharto, Jejak Material Sang Jenderal 216
Pesantren Tegalrejo, Magelang 216
Keraton Surakarta 216
Gunung Lawu, Gua Sigandu (versi Lawu) dan Cemoro Sewu 217
Parangkusumo dan Pantai Selatan 217
Sendang Sriningsih, Gunungkidul 218
Makam Leluhur di Kotagede 219
Gua Istana dan Pertapaan di Jawa Timur 219
4. Pusaka sebagai Wadah Kekuasaan, Data Empiris Koleksi 220
Sabuk Inten dan Pusaka Senopati 220
Keris dan Batu Akik Soeharto 220
Rajah dan Azimat 221
5. Jaringan Guru Spiritual Soeharto, Daftar yang Bisa Dilacak 222
6. Penutup, Kekuasaan sebagai Jejak Material 223

BAB 10 KETIKA PAJANG JATUH TANPA SUARA, AKHIR HADIWIJAYA DALAM INGATAN YANG SENYAP 225
1. Sakaratul Maut di Istana yang Sunyi 225
2. Gejala-Gejala Kematian, Sebuah Rekonstruksi dari Tradisi Lisan 227
3. Jendela Menghadap Selatan, Satu Adegan yang Direkonstruksi 230
4. Versi-Versi Kematian dan Sumber-Sumbernya 232
5. Malam Terakhir, Fragmen dari Babad yang Tidak Dipublikasikan 236
6. Kematian dan Keheningan Setelahnya 237
7. Apa yang Dilakukan Sutawijaya saat Itu? 238
8. Penutup, Kematian yang Menjadi Fondasi 239
Rujukan 240

BAB 11 WISMA YASO DAN AKHIR SUNYI SANG PROKLAMATOR, SUKARNO SEBAGAI HADIWIJAYA MODERN 242
1. Rumah yang Bukan Rumah 242
2. Catatan Perawat, Detik-Detik yang Tercatat 244
3. Surat-Surat yang Tidak Terkirim 246
4. Sakaratul Maut di Wisma Yaso, Juni 1970 247
5. Kesaksian Sersan Mayor Soedjarwo, Pengawal yang Setia 250
6. Pemakaman yang Direndahkan 251
7. Apa yang Dilakukan Soeharto saat Itu? 255
8. Dua Makam, Dua Ingatan 256
Rujukan 257

BAB 12 SUARA YANG TIDAK PERCAYA, MENGAPA TEORI BUDAYA TIDAK CUKUP UNTUK MENJELASKAN SEMUA 259
1. Sebuah Kejujuran Intelektual 259
2. Richard Robison dan Kemarahan Kaum Materialis 260
3. Data yang Tidak Bisa Dijelaskan oleh Teori Budaya 267
4. Harold Crouch dan Tentara yang Haus Anggaran 271
5. Kritik dari Dalam, John Roosa dan Kompleksitas G30S 275
6. Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab oleh Pendekatan Kulturalis 278
7. Sintesis, Menuju Penjelasan yang Lebih Lengkap 279
Rujukan 281

BAB 13 TABEL PERBANDINGAN, ENAM TAHAP, DUA ZAMAN, SATU POLA 282
1. Membaca Peta yang Telah Kita Gambar 282
2. Enam Tahap Kudeta Merangkak, Tabel Komparatif 283
3. Di Mana Analogi Ini Mulai Retak? 289
4. Penutup, Mengapa Pola Ini Tetap Penting? 291
Rujukan 292

BAB 14 INGATAN YANG DIPEREBUTKAN, DARI BABAD KE GELAR PAHLAWAN 2025 294
1. Dua Makam, Dua Nasib 294
2. Bagaimana Mataram Memenangkan Pertempuran Ingatan 295
3. Soeharto, Ingatan yang Tidak Bisa Dikuburkan 297
4. Keppres 116/TK/2025, Kronologi Sebuah Kontroversi 298
5. Suara-Suara Penolakan, Data dan Kesaksian 299
6. Suara-Suara yang Biasanya Dibungkam 305
7. Narasi Tandingan, Swasembada Pangan dan Stabilitas 307
8. Mengapa Senopati Menang dan Soeharto Kalah dalam Pertempuran Ingatan? 309
Rujukan 311

Sinopsis

Pada 1582, seorang adipati muda bernama Danang Sutawijaya berhenti mengirim upeti ke istana Pajang. Ia tidak memberontak. Ia hanya menunda, menghindar, dan menunggu, sampai Sultan Hadiwijaya, raja yang membesarkannya, wafat dalam sunyi. Sutawijaya lalu memungut takhta itu dan menobatkan diri sebagai Panembahan Senopati.

Tiga ratus delapan puluh empat tahun kemudian, Mayor Jenderal Soeharto menerima Supersemar dari Presiden Sukarno. Ia pun tidak langsung merebut kekuasaan. Ia bergerak selangkah demi selangkah: mengisolasi, membersihkan lawan, mengubah konstitusi sepotong demi sepotong. Di akhir proses, Sukarno masih hidup, tetapi kekuasaannya telah mati. Soeharto naik tanpa pemakzulan.

Raja yang Mati Pelan-Pelan menelusuri dua episode paling misterius dalam sejarah Nusantara dan menunjukkan bahwa keduanya mengikuti pola yang sama: kudeta merangkak, pengambilalihan kekuasaan tanpa konfrontasi terbuka, tanpa pertumpahan darah besar, namun tak kalah telak. Dipandu oleh penelitian Benedict Anderson tentang konsep kekuasaan Jawa, buku ini menyandingkan babad abad ke-16 dengan arsip 1965–1967, mempertemukan Senopati dan Soeharto, Hadiwijaya dan Sukarno, dalam sebuah narasi paralel yang memikat. 

Ditulis dengan gaya bertutur yang renyah dan didukung sumber-sumber langka yang baru pertama kali digunakan, buku ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah cermin bagi siapa pun yang ingin mengerti bagaimana kekuasaan bisa direbut tanpa suara, dan mengapa pola itu terus berulang.</sb>


Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama