Togog dan Rekonstruksi Debat CC-PKI Menjelang September 1965

Indonesia sedang hamil tua. Metafora ini bergema di seluruh penjuru negeri pada awal 1965, diucapkan oleh Dipa Nusantara Aidit di depan ribuan kader Partai Komunis Indonesia yang bertepuk tangan dengan gemuruh. Metafora itu mengandung harapan sekaligus ketakutan: harapan bahwa revolusi yang telah lama dinantikan akhirnya akan melahirkan Indonesia baru; ketakutan bahwa kelahiran itu bisa berubah menjadi keguguran yang berdarah-darah.

Di dalam ruang-ruang tertutup markas besar PKI di Jalan Kramat Raya, Jakarta, lima orang laki-laki, Aidit, Nyoto, Lukman, Sudisman, dan Sakirman, bergulat dengan metafora itu, mencoba menerjemahkannya ke dalam langkah-langkah politik yang konkret. Mereka tidak tahu bahwa dalam hitungan bulan, mereka semua akan menjadi mayat.

Namun sejarah mencatat keanehan: di antara mereka semua, selalu hadir seorang tua berwajah lucu dengan bibir tebal dan mata yang setengah mengantuk namun setengah waspada. Namanya Togog. Tidak ada yang tahu persis dari mana asalnya. Ada yang mengatakan ia adalah penasihat spiritual yang ditemukan Aidit di sebuah warung kopi di Semarang. Ada yang menduga ia adalah mata-mata Soekarno yang menyamar sebagai badut istana. Yang lain lagi percaya ia hanyalah gelandangan yang kebetulan pandai bicara dan selalu muncul di saat-saat krisis.


Yang pasti, Togog selalu hadir dalam setiap rapat penting PKI menjelang September 1965. Ia duduk di pojok ruangan, kadang tertawa kecil, kadang bergumam sendiri, dan sesekali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Aidit terdiam dan Njoto berpikir ulang. Ironisnya, hanya Iskandar Subekti sang notulis yang dengan setia mencatat setiap kata-katanya, mungkin karena ia menganggap Togog hanyalah hiburan di tengah ketegangan.
Namun justru kata-kata Togog-lah yang kemudian menjadi ramalan yang mengerikan.

Saya, Tukang Ngarang, menyusun rekonstruksi imajiner ini berdasarkan notulen rapat yang dicatat oleh Iskandar Subekti, panitera Partai, serta dokumen-dokumen yang dikumpulkan oleh para Indonesianis terkemuka: Mortimer, Roosa, Crouch, Anderson, dan McVey. Setiap kata yang terucap dalam dialog ini disandarkan pada sumber-sumber kredibel. Saya hanya mencoba menghidupkan kembali suara-suara yang telah lama dibungkam oleh regu tembak dan kuburan massal, termasuk suara Togog, sang filsuf yang telah dilupakan sejarah resmi.

Daftar Tokoh

  1. Dipa Nusantara Aidit (1923–1965): Ketua CC-PKI, arsitek "Djalan Baru", politisi ulung yang membawa PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia. Dieksekusi tanpa pengadilan di Boyolali, November 1965.
  2. Njoto (1927–1965): Wakil Ketua CC-PKI II, intelektual partai yang moderat, penulis pidato-pidato utama PKI, dekat dengan Soekarno. Hilang sejak Oktober 1965, diduga dibunuh tanpa pengadilan.
  3. Muhammad Haris Lukman (1920–1965): Wakil Ketua CC-PKI I, kader senior yang setia pada garis partai. Dieksekusi tanpa pengadilan di dekat Cirebon, Oktober 1965.
  4. Sudisman (1920–1968): Anggota CC-PKI, Sekretaris Jenderal de facto setelah kematian Aidit. Satu-satunya pemimpin PKI yang diadili di Mahmilub dan dieksekusi pada 1968.
  5. Sakirman (1911–1965): Anggota CC-PKI, pemimpin gerakan buruh, kakak ipar Aidit. Dieksekusi tanpa pengadilan di Jakarta, Oktober 1965.
  6. Togog: Ahli filsafat misterius, tidak diketahui asal-usulnya. Menguasai filsafat etika, filsafat perang, filsafat ekonomi, filsafat militer, filsafat pemerintahan, dan filsafat perang saudara secara mendalam. Humornya yang ironis, satir, dan sarkastis mampu membuat orang sadar, meskipun sering terlambat.
  7. Iskandar Subekti: Panitera Partai (notulen rapat), sumber utama untuk rekonstruksi ini.

“Indonesia Sedang Hamil Tua” Debat di Markas Besar Awal 1965

Latar:

Ruang rapat tertutup di markas besar CC-PKI, Jalan Kramat Raya 81, Jakarta, Januari 1965. Ruangan itu sederhana: meja panjang, kursi-kursi kayu, peta Indonesia yang sudah lusuh di dinding, dan foto Marx, Engels, Lenin, serta Stalin yang menghiasi sudut-sudut ruangan. Di tengah meja, asbak penuh dengan puntung rokok kretek. Lima anggota CC-PKI duduk melingkar. Aidit di ujung meja, dengan setelan jas sederhana dan peci hitam yang selalu bertengger di kepalanya. Nyoto di sebelahnya, muda, energik, dengan mata yang berkilat-kilat. Lukman, tenang dan sedikit pendiam, duduk di seberang Aidit. Sudisman, dengan kumis tebalnya, menyalakan rokok tanpa henti. Sakirman, yang paling tua di antara mereka, sesekali mengusap keningnya dengan saputangan. Di sudut ruangan, Togog duduk di atas bangku kayu reyot, mengunyah kacang goreng sambil sesekali tersenyum sendiri.

Aidit (mengetuk meja pelan, membuka rapat):
 
Kawan-kawan, terima kasih sudah hadir. Agenda kita malam ini adalah satu: membahas analisis situasi terbaru. Saya sudah menyampaikan di depan rapat umum kemarin: "Indonesia sekarang sedang hamil tua." Rakyat sudah tidak sabar. Mereka menunggu kelahiran. Pertanyaannya adalah: kapan kita harus menjadi bidan? Dan bagaimana cara kita membantu kelahiran itu tanpa membuat sang ibu, yaitu Republik ini, mati kehabisan darah?

Togog (tiba-tiba tertawa kecil, suaranya seperti kerikil jatuh ke kaleng kosong):
 
Hehehe... hamil tua. Metafora yang indah. Tapi Bung Aidit, saya mau bertanya: kalau Indonesia ini perempuan hamil tua, siapa bapaknya? Jangan-jangan ini hamil di luar nikah? Nanti kalau bapaknya tidak mau mengakui, anaknya bisa jadi yatim sebelum lahir.

Aidit (menoleh dengan alis berkerut):
 
Togog, kau ini bicara apa? Ini metafora politik, bukan gosip kampung!

Togog (mengunyah kacangnya dengan santai):
Oh, politik? Maaf, maaf. Saya kira tadi Bung sedang membicarakan sinetron. Tapi karena Bung bilang ini politik, izinkan saya bertanya dengan serius. Bung bilang PKI harus menjadi bidan. Pertanyaan saya: sejak kapan bidan bisa memastikan bahwa bayi yang lahir itu sehat? Bukankah bidan hanya membantu, tidak bisa menjamin? Dan kalau bayinya lahir cacat, siapa yang disalahkan? Bidan atau ibunya? Atau jangan-jangan nanti bidannya sendiri yang ditembak mati oleh keluarga si ibu?

Aidit (menghela napas panjang):
 
Togog, kau ini tidak paham dialektika revolusi. Kelahiran revolusi memang selalu disertai rasa sakit. Tapi tanpa rasa sakit, tidak akan ada kemerdekaan sejati!

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi bodoh yang mencurigakan):
 
Oh, begitu. Jadi rasa sakit itu perlu. Baiklah. Tapi Bung, dalam pengalaman saya yang bodoh ini, setiap kali saya melihat orang melahirkan, selalu ada darah. Banyak darah. Pertanyaan saya: darah siapa yang akan tumpah nanti? Darah bidan? Darah ibu? Atau darah bayi yang katanya akan lahir itu? Dan kalau semua orang mati kehabisan darah, lalu siapa yang akan merayakan kelahiran?

Suasana hening sejenak. Njoto menatap Togog dengan campuran heran dan tidak nyaman. Sakirman mengusap keningnya lagi.

Sudisman (mengisap rokoknya dalam-dalam, mencoba mengabaikan Togog):
 
Bung Aidit, metafora "hamil tua" itu bagus. Retoris. Rakyat suka. Tapi terus terang, saya tidak nyaman dengan implikasinya. Apa maksud Bung sebenarnya? Apakah Bung sedang mempersiapkan kita untuk... aksi?

Togog (menyela lagi sebelum Aidit menjawab):
 
Hehehe... "aksi." Kata yang lucu. Bung Sudisman, saya perhatikan Bung sering menggunakan kata "aksi" seolah-olah itu adalah sesuatu yang netral. Tapi dalam filsafat etika, maaf, saya cuma belajar filsafat dari tukang becak dan penjual pecel, setiap aksi punya konsekuensi. Namanya karma. Atau dalam bahasa modernnya: cause and effect. Pertanyaan saya sederhana: kalau Bung melempar batu ke sarang tawon, apakah Bung sudah siap dengan kemarahan tawon-tawon itu? Atau Bung pikir tawon-tawon itu akan bilang, "Terima kasih, Bung, kami memang sudah lama ingin pindah rumah"?

Aidit (memotong dengan suara lebih keras):
 
Cukup, Togog! Kami sedang rapat serius. Kalau kau hanya ingin bergurau, silakan keluar!

Togog (tersenyum lebar, bibir tebalnya membuat senyum itu terlihat aneh sekaligus menawan):
 
Oh, saya tidak bergurau, Bung Aidit. Saya serius. Sangat serius. Saya hanya menggunakan metode yang diajarkan oleh Socrates, meskipun Socrates mungkin akan menangis kalau melihat saya. Dialog, Bung. Dialektika. Kan Bung Aidit sendiri yang suka bicara tentang Marx dan Hegel? Nah, Hegel bilang bahwa kebenaran muncul dari pertentangan. Saya di sini hanya menjadi "pertentangan" itu. Kalau Bung tidak suka, berarti Bung tidak suka pada dialektika. Dan kalau Bung tidak suka pada dialektika, berarti Bung bukan Marxis sejati. Hehehe.

Aidit (terdiam sejenak, matanya menyipit):
 
Kau... kau memang menyebalkan, Togog. Tapi baiklah, karena kau sudah bicara tentang Hegel, aku akan menjawab pertanyaanmu. Ya, kami sadar bahwa ada risiko. Tapi semua revolusi mengandung risiko. Tanpa keberanian mengambil risiko, kita akan selamanya menjadi partai oposisi yang hanya bisa berpidato tapi tidak pernah berkuasa.

Togog (bertepuk tangan pelan):
 
Bagus! Jawaban yang heroik! Tapi Bung, ada satu hal yang selalu mengganggu saya tentang konsep "keberanian revolusioner." Dalam filsafat perang, saya belajar ini dari membaca Sun Tzu di belakang bungkus tempe, dikatakan bahwa panglima yang baik tahu kapan harus bertempur dan kapan harus mundur. Keberanian tanpa perhitungan namanya nekat. Nekat tanpa persiapan namanya bunuh diri. Nah, pertanyaan saya: apakah Bung sudah menghitung semua kemungkinan? Apakah Bung sudah menyiapkan rencana cadangan? Atau Bung hanya mengandalkan keberanian dan metafora?

Lukman (mengangguk perlahan):
 
Togog, meskipun caramu bicara menjengkelkan, aku harus mengakui pertanyaanmu ada benarnya. Bung Aidit, saya ingin mengingatkan bahwa situasi domestik kita tidak sesederhana itu. Angkatan Darat, terutama di bawah Jenderal Ahmad Yani, tetap anti-komunis. Mereka membentuk "Dewan Jenderal" yang dikabarkan sedang merencanakan kudeta terhadap Bung Karno. Kita punya musuh yang kuat, Bung.

Togog (menguap dramatis):
 
Ah, "Dewan Jenderal." Nama yang keren. Seperti judul film Hollywood. Tapi Bung Lukman, dalam filsafat militer, ada prinsip yang mengatakan: jangan pernah percaya pada rumor tanpa verifikasi. Saya ingat dulu ada seorang jenderal Romawi yang menghancurkan setengah pasukannya sendiri karena dia percaya pada mata-mata yang memberinya informasi palsu. Namanya... siapa ya? Ah, lupa. Tapi intinya: apakah "Dewan Jenderal" ini benar-benar ada dan benar-benar merencanakan kudeta? Atau jangan-jangan kita hanya paranoid? Atau lebih parah lagi: jangan-jangan kita sendiri yang menciptakan hantu "Dewan Jenderal" ini sebagai pembenaran untuk aksi kita sendiri?

Aidit (berdiri, menatap Togog dengan tajam):
 
Togog, kau ini keterlaluan! Sumber-sumber kami di Biro Khusus, saya tidak bisa menyebutkan detailnya di sini, mengkonfirmasi bahwa Dewan Jenderal merencanakan sesuatu untuk sekitar Oktober 1965. Kita tidak bisa menunggu sampai mereka memukul lebih dulu!

Togog (menggaruk kepalanya yang botak):
 
Biro Khusus? Hehehe. Bung Aidit, dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya RT/RW di kampung saya, setiap organisasi rahasia itu seperti pisau bermata dua. Bisa melukai musuh, bisa juga melukai diri sendiri. Pertanyaan saya: Bung yakin Biro Khusus ini loyal kepada Bung? Atau jangan-jangan mereka punya agenda sendiri? Atau lebih lucu lagi: jangan-jangan mereka sebenarnya bekerja untuk pihak lain?

Njoto (menyela, suaranya lebih halus tapi tegas):
 
Togog, kau memang kurang ajar. Tapi sejujurnya, aku juga punya kekhawatiran yang sama. Bung Aidit, sejak kapan PKI bergantung pada "Biro Khusus"? Bukankah kita selalu menekankan bahwa kekuatan kita adalah di massa, bukan di segelintir perwira? Bung sendiri yang menulis dalam Djalan Baru: "Revolusi tidak bisa diimpor dari luar. Revolusi harus lahir dari rakyat." Sekarang Bung berbicara tentang "sumber-sumber di Biro Khusus" yang sepertinya adalah perwira militer? Saya khawatir kita sedang terseret ke dalam logika kudeta, bukan logika revolusi.

Togog (bertepuk tangan lagi):
 
Bravo, Bung Njoto! Akhirnya ada yang bicara waras! Dalam filsafat etika, saya belajar ini dari seorang kakek tua yang jualan jamu di Pasar Senen, dikatakan bahwa cara menentukan tujuan. Kalau kita menggunakan cara-cara kotor untuk mencapai tujuan mulia, maka tujuan mulia itu akan ikut kotor. Kalau kita bergantung pada perwira militer untuk melakukan "revolusi", maka itu bukan revolusi. Itu kudeta. Dan kudeta, dalam sejarah manusia, selalu berakhir dengan pertumpahan darah yang tidak perlu.

Aidit (matanya sedikit menyipit, tapi suaranya tetap tenang):
 
Kawan Njoto, Togog, kalian ini terlalu idealis. Tentu saja kita tetap mengandalkan massa. Tapi revolusi adalah ilmu. Dan dalam ilmu revolusi, kadang-kadang kita membutuhkan "alat" yang tidak konvensional. Biro Khusus adalah alat itu. Mereka adalah perwira-perwira progresif yang sudah kita bina selama bertahun-tahun. Mereka akan menjadi "bidan" yang membantu kelahiran. Tanpa mereka, massa kita hanya akan menjadi sasaran empuk bagi peluru Angkatan Darat.

Togog (tertawa terbahak-bahak):
 
Hehehe... hahaha... "Bidan" dari kalangan militer! Bung Aidit, Bung memang pintar membuat metafora. Tapi dalam filsafat perang saudara, saya belajar ini dari membaca koran bekas di tempat sampah, setiap kali orang menggunakan militer untuk mencapai tujuan politik, hasilnya selalu sama: militer yang akan berkuasa, bukan politisi. Bung ingat Julius Caesar? Dia tadinya hanya jenderal. Lalu dia menjadi kaisar. Bung ingat Napoleon? Dia tadinya hanya perwira artileri. Lalu dia menjadi kaisar. Sekarang pertanyaan saya: kalau perwira-perwira "progresif" Bung ini berhasil menangkap Dewan Jenderal, apa yang akan mencegah mereka dari mengambil alih kekuasaan untuk diri mereka sendiri? Apa jaminan bahwa mereka akan tetap setia pada PKI?

Sakirman (berdehem, suaranya serak karena usia):
 
Togog, kau memang gila. Tapi aku setuju denganmu. Bung Aidit, saya ini sudah tua. Saya sudah melalui pemberontakan 1926, Madiun 1948, semua kegagalan itu. Setiap kali kita mengambil jalan "aksi bersenjata", kita kalah. Dan setiap kali kita kalah, kader-kader kita yang mati. Bukan kita yang duduk di sini. Kita selamat. Tapi mereka, buruh, petani, pemuda, mereka yang dibantai. Apakah kita tidak belajar dari sejarah?

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi sedih yang berlebihan):
 
Bung Sakirman, Bung adalah veteran yang bijak. Saya hormat pada Bung. Tapi sayangnya, dalam sejarah manusia, orang bijak selalu kalah suara dengan orang berani. Itu karena orang bijak berbicara pelan-pelan, sementara orang berani berteriak keras-keras. Dalam filsafat ekonomi, saya belajar ini dari mengamati pedagang kaki lima di Pasar Tanah Abang, ini disebut "hukum pasar ide": ide yang paling lantang yang akan laku, bukan ide yang paling benar. Hehehe.

Aidit (menatap Sakirman dengan tajam, lalu menatap Togog dengan lebih tajam):
 
Kawan Sakirman, kau adalah kakak ipar saya. Saya menghormatimu. Tapi analisamu itu keliru. 1926 dan 1948 adalah pemberontakan prematur, tanpa persiapan, tanpa basis massa yang kuat. Sekarang situasinya berbeda. Kita punya 3,5 juta anggota partai. Kita punya organisasi-organisasi onderbouw yang mencakup puluhan juta orang: BTI, Pemuda Rakyat, Gerwani. Kita punya dukungan dari Bung Karno. Kita adalah bagian dari pemerintah. Ini bukan 1926 atau 1948. Ini adalah 1965. Dan saya pastikan: kali ini, kita tidak akan kalah.

Togog (mengambil segenggam kacang lagi):
 
Hehehe. "Kita tidak akan kalah." Kata-kata yang sering diucapkan oleh para panglima sebelum pertempuran. Juga oleh para pecundang sebelum kekalahan. Bung Aidit, dalam filsafat perang, ada konsep yang disebut "overconfidence bias", maaf, saya belajar istilah ini dari seorang mahasiswa yang mabuk di warung kopi. Artinya: kecenderungan untuk terlalu percaya diri dan meremehkan lawan. Pertanyaan saya: apakah Bung sudah benar-benar memetakan kekuatan lawan? Apakah Bung tahu persis berapa jumlah pasukan yang dimiliki Dewan Jenderal? Apakah Bung tahu bagaimana reaksi mereka jika diserang? Atau Bung hanya mengandalkan kepercayaan diri?

Sudisman:
 
Bung Aidit, saya setuju dengan sebagian analisa Bung. Tapi izinkan saya bertanya dengan terus terang: apakah Bung sudah menyusun rencana konkret? Atau ini hanya retorika seperti biasa? Saya sebagai Sekretaris Jenderal merasa tidak dilibatkan dalam keputusan-keputusan strategis akhir-akhir ini. Saya mendengar bisik-bisik, rumor, tapi tidak ada instruksi tertulis. Apakah CC-PKI masih berfungsi sebagai badan kolektif, atau sudah digantikan oleh Biro Khusus?

Togog (mengedipkan mata ke arah Sudisman):
 
Nah, ini pertanyaan penting! "Sentralisme demokratis" vs "sentralisme rahasia". Dalam filsafat pemerintahan, saya belajar ini dari mengamati jalannya pemilihan Ketua RT, setiap organisasi yang terlalu bergantung pada kerahasiaan akan menjadi organisasi yang paranoid. Dan organisasi yang paranoid akan membuat keputusan-keputusan bodoh. Contohnya: kenapa Bung Aidit tidak memberi tahu Bung Sudisman tentang rencana-rencana ini? Apakah Bung Aidit tidak percaya pada Bung Sudisman? Atau jangan-jangan... Bung Aidit sendiri tidak yakin dengan rencananya, dan karena itu dia merahasiakannya?

Aidit (berdiri, berjalan mengelilingi meja, mengabaikan Togog):
 
Kawan Sudisman, kau tersinggung karena tidak dilibatkan? Baik. Aku akan jujur. Ya, ada hal-hal yang tidak bisa dibahas di forum ini. Ada hal-hal yang hanya diketahui oleh segelintir orang. Itu adalah prinsip keamanan. Setiap revolusi membutuhkan kerahasiaan. Kau ingat Lenin? Sebelum Revolusi Oktober 1917, tidak semua anggota Bolshevik tahu rencana detailnya. Hanya Komite Sentral yang tahu. Tapi begitu revolusi dimulai, semua bergerak sebagai satu kesatuan. Itulah yang akan kita lakukan.

Togog (tertawa kecil lagi):
 
Lenin! Hehehe. Bung Aidit suka sekali mengutip Lenin. Tapi Bung, dalam filsafat sejarah, saya belajar ini dari membaca majalah bekas di tukang cukur, Lenin itu beruntung. Lawannya adalah Tsar Nicholas II yang lemah dan tidak kompeten. Bandingkan dengan lawan Bung: Jenderal Yani, Jenderal Soeharto, Jenderal Nasution. Apakah mereka lemah dan tidak kompeten? Atau jangan-jangan mereka justru lebih pintar dan lebih licin dari Bung? Dan satu lagi: Lenin punya Trotsky yang mengorganisir Tentara Merah. Lenin punya Stalin yang mengendalikan aparat partai. Siapa yang Bung punya? Biro Khusus? Yang bahkan Bung sendiri tidak yakin bisa mengendalikan mereka?

Lukman:
 
Togog, meskipun caramu menyampaikan sangat menjengkelkan, aku harus mengakui pertanyaanmu valid. Bung Aidit, Lenin punya Trotsky. Kita tidak punya sayap bersenjata yang sebanding dengan Angkatan Darat. Jika kita memprovokasi konflik militer, kita akan kalah dalam hitungan hari.

Togog (mengacungkan jari telunjuk):
 
Bukan hanya kalah, Bung Lukman! Dalam filsafat perang saudara, setiap kali pihak yang lebih lemah memprovokasi pihak yang lebih kuat, hasilnya adalah pembantaian. Bukan pertempuran, tapi pembantaian. Contoh: Spartacus melawan Romawi. Hasilnya? 6.000 budak disalib di sepanjang Via Appia. Contoh lain: Komune Paris 1871. Hasilnya? 20.000 orang dieksekusi dalam satu minggu. Sekarang pertanyaan saya: kalau kita kalah, dan kemungkinan besar kita akan kalah, apakah Bung Aidit siap melihat 6.000 kader PKI disalib? Apakah Bung siap melihat puluhan ribu buruh dan petani ditembak mati? Atau Bung Aidit pikir Bung akan selamat karena Bung adalah Ketua?

Aidit (menggebrak meja):
 
Cukup! Togog, kau ini bicara seolah-olah kami tidak memikirkan semua ini! Tentu saja kami sadar akan risiko! Tapi kami juga sadar bahwa jika kami tidak bertindak, Dewan Jenderal akan menghancurkan kami. Ini adalah situasi "serang atau diserang"! Dalam situasi seperti ini, tidak ada pilihan yang aman!

Togog (tersenyum lebar, giginya yang ompong terlihat):

Hehehe... "Serang atau diserang." Dikotomi yang indah. Tapi Bung, dalam filsafat etika, dikotomi seperti ini disebut "false dilemma", saya belajar istilah ini dari seorang penjual es keliling yang ternyata lulusan filsafat. Artinya: ada pilihan ketiga, keempat, kelima, tapi kita terlalu malas untuk mencarinya. Contoh pilihan ketiga: negosiasi. Contoh pilihan keempat: memperkuat basis massa tanpa provokasi. Contoh pilihan kelima: menunggu waktu yang lebih tepat. Tapi tentu saja, semua pilihan itu membutuhkan kesabaran. Dan kesabaran adalah barang langka di kalangan revolusioner.

Njoto:
 
Itulah yang sudah saya usulkan, Togog. Saya mengusulkan jalan tengah: kita perkuat hubungan dengan Bung Karno. Kita dorong Bung Karno untuk membubarkan Dewan Jenderal secara konstitusional. Kita mobilisasi massa secara damai untuk mendukung Bung Karno. Tanpa pertumpahan darah.

Togog (mengangguk-angguk dengan ekspresi seperti guru yang bangga pada muridnya):
 
Pintar! Bung Njoto, Bung memang intelektual. Tapi masalahnya, Bung Aidit sudah tidak sabar. Beliau sudah seperti orang yang berdiri di pinggir jurang dan berkata, "Saya harus lompat sekarang juga, karena kalau tidak, saya akan lompat nanti." Hehehe.

Aidit (marah, tapi mencoba menahan diri):
 
Dan kau pikir Bung Karno akan melakukan itu? Bung Karno membutuhkan Angkatan Darat sama besarnya dengan dia membutuhkan kita. Dia tidak akan membubarkan Dewan Jenderal hanya karena kita memintanya. Dia akan terus menyeimbangkan antara kiri dan kanan, sampai salah satu jatuh. Itu adalah permainannya sejak dulu. Kita tidak bisa bergantung pada Bung Karno selamanya. Kita harus punya rencana sendiri.

Togog (mengambil kacang lagi, mengunyahnya dengan berisik):
 
Hehehe... Bung Aidit benar dalam diagnosis, tapi salah dalam resep. Dalam filsafat pemerintahan, Bung Karno adalah ahli "keseimbangan". Dia seperti pemain sirkus yang berjalan di atas tali, dengan PKI di tangan kiri dan Angkatan Darat di tangan kanan. Selama dia berjalan, semuanya aman. Tapi begitu dia jatuh, atau didorong, kedua tangannya akan melempar. Dan yang dilempar akan jatuh dan pecah. Pertanyaan saya: apakah kita ingin menjadi yang dilempar?

Aidit (terdiam sejenak, lalu duduk kembali):
 
Aku tidak mengatakan itu. Kita tetap mendukung Bung Karno. Tapi kita juga harus realistis. Bung Karno sakit. Ginjalnya semakin parah. Dokter-dokter dari Tiongkok yang memeriksanya mengatakan bahwa dia mungkin tidak akan bertahan lebih dari dua atau tiga tahun. Jika Bung Karno mati, apa yang terjadi dengan kita? Apakah kita akan menyerahkan nasib kita kepada pewarisnya yang mungkin anti-komunis? Ataukah kita harus sudah punya posisi yang kuat sebelum hal itu terjadi?

Togog (berpura-pura terkejut):
 
Oh! Jadi ini soal suksesi? Hehehe. Akhirnya jujur juga. Bung Aidit, dalam filsafat perang saudara, ada pola yang sangat klasik: setiap kali seorang pemimpin besar mendekati ajal, para pengikutnya mulai berebutan kursi sebelum jenazahnya dingin. Ini terjadi pada Alexander the Great, Genghis Khan, bahkan baru-baru ini pada Stalin. Hasilnya selalu sama: pertumpahan darah, pengkhianatan, dan kematian orang-orang yang tidak bersalah. Pertanyaan saya: apakah Bung Aidit yakin bahwa PKI akan menang dalam perebutan kekuasaan pasca-Sukarno? Atau jangan-jangan Angkatan Darat sudah menyiapkan jebakan untuk kita?

Sakirman:
 
Jadi ini soal suksesi? Bung Aidit, jujur saja. Bung sedang mempersiapkan kita untuk perebutan kekuasaan pasca-Sukarno. Bung sedang mempersiapkan perang saudara.

Aidit (menggebrak meja lagi):
 
Saya tidak sedang mempersiapkan perang saudara! Saya sedang mempersiapkan revolusi! Ada perbedaan besar antara keduanya. Perang saudara adalah konflik antara dua kelompok yang setara, tanpa tujuan historis yang jelas. Revolusi adalah gerakan rakyat yang sah untuk menggulingkan penindasan dan membangun masyarakat baru. PKI adalah kekuatan revolusioner. Kita punya hak, dan kita punya kewajiban, untuk memimpin revolusi itu.

Togog (tertawa terbahak-bahak sampai hampir jatuh dari bangkunya):
 
Hehehe... hahaha... hohoho... Bung Aidit, Bung memang orator ulung! "Revolusi" vs "perang saudara"! Dua kata yang berbeda, padahal isinya sama. Dalam filsafat etika, ini disebut "eufemisme politik", saya belajar ini dari seorang preman pasar yang ternyata ahli semantik. Orang membunuh ribuan orang, tapi menyebutnya "revolusi" supaya kedengarannya heroik. Orang merebut kekuasaan dengan kekerasan, tapi menyebutnya "gerakan rakyat" supaya kedengarannya demokratis. Pertanyaan saya: apa bedanya "revolusi" Bung dengan "perang saudara" biasa? Apakah karena Bung yang melakukannya, maka namanya revolusi? Kalau begitu, Hitler juga bisa bilang bahwa dia sedang melakukan "revolusi nasional-sosialis".

Aidit (berdiri, wajahnya merah padam):
 
Togog! Kau berani membandingkan PKI dengan Nazi?!

Togog (tenang, tersenyum dengan ekspresi yang anehnya damai):
 
Bung, saya tidak membandingkan PKI dengan Nazi. Saya membandingkan cara berpikir Bung dengan cara berpikir semua orang yang membenarkan kekerasan atas nama ideologi. Dalam filsafat perang, ada prinsip yang sangat sederhana: setiap orang yang membunuh akan merasa bahwa pembunuhannya dibenarkan. Pembunuh merasa sebagai pahlawan. Yang dibunuh dianggap sebagai penjahat. Tapi sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Dan pemenang selalu menyebut dirinya revolusioner, sementara yang kalah disebut pemberontak. Pertanyaan saya: kalau Bung menang, Bung akan disebut revolusioner. Tapi kalau Bung kalah, dan kemungkinan besar Bung akan kalah, Bung akan disebut pemberontak. Apa Bung sudah siap dengan konsekuensi itu?

Suasana hening. Semua orang menatap Togog dengan campuran marah, takut, dan heran.

Njoto:
 
Togog, kau ini... dari mana kau belajar semua ini?

Togog (tersenyum, matanya yang sipit berkilat):
 
Dari kehidupan, Bung Njoto. Dari mengamati manusia. Dari melihat bagaimana orang-orang pintar seperti kalian terjebak dalam permainan kata-kata yang kalian ciptakan sendiri. Hehehe.

Aidit (berdiri, mengakhiri rapat):
 
Metafora "hamil tua" itu bukan milikku, Kawan Sakirman. Metafora itu adalah realitas. Indonesia memang sedang hamil tua. Dan kita semua tahu bahwa kelahiran selalu disertai rasa sakit. Pertanyaannya bukanlah apakah kita ingin rasa sakit itu. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan menjadi bidan? Apakah kita, PKI, sebagai pelopor rakyat? Ataukah Dewan Jenderal, sebagai alat imperialis dan tuan tanah? Aku sudah memutuskan: PKI tidak akan menunggu. Kita akan menjadi bidan revolusi. Rapat ini selesai.

Togog (berdiri, meregangkan tubuhnya yang bungkuk):
 
Baiklah. Rapat selesai. Tapi saya ingin meninggalkan satu pertanyaan terakhir untuk Bung Aidit. Dalam filsafat perang, ada konsep yang disebut "Pyrrhic victory", kemenangan yang terlalu mahal sehingga sama saja dengan kekalahan. Namanya diambil dari Raja Pyrrhus yang berkata, "Satu kemenangan lagi seperti ini, dan aku akan hancur." Pertanyaan saya: kalau Bung menang, tapi ribuan kader mati, puluhan ribu rakyat dibantai, dan Indonesia hancur berkeping-keping, apakah itu masih bisa disebut kemenangan? Atau jangan-jangan... itu adalah kekalahan yang paling telak dalam sejarah PKI?

Aidit meninggalkan ruangan tanpa menjawab, diikuti oleh Lukman dan Sakirman yang menghela napas panjang. Njoto dan Sudisman tetap duduk, saling bertukar pandangan. Togog berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sebentar di samping Njoto.

Togog (berbisik, suaranya tiba-tiba serius):
 
Bung Njoto, Bung adalah satu-satunya yang waras di ruangan ini. Tapi kewarasan tidak akan menyelamatkan Bung. Karena dalam sejarah, orang waras selalu kalah oleh orang gila. Selamat malam, Bung. Semoga kita bertemu lagi, di dunia ini atau dunia lain. Hehehe.
(Togog keluar sambil bersiul, meninggalkan Njoto dan Sudisman dalam keheningan yang mencekam.)

Njoto:
 
Sudisman, aku takut. Aku benar-benar takut. Bukan karena aku pengecut. Tapi karena aku melihat jurang di depan kita, dan kita sedang berjalan ke arahnya dengan mata terbuka. Dan Togog... entah kenapa, dia membuatku lebih takut lagi. Karena dia benar.

Sudisman:
 
Aku juga takut, Njoto. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Bung Aidit sudah mengambil keputusan. Dan disiplin partai...

Njoto:
 
Disiplin partai tidak mengharuskan kita untuk bunuh diri. Lenin sendiri mengatakan bahwa kaum revolusioner harus tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur. Sekarang adalah waktunya untuk mundur, atau setidaknya menunggu. Tapi Bung Aidit tidak mau mendengar. Dan Togog... dia sudah memperingatkan kita semua. Tapi tidak ada yang mendengarkan. Karena kebenaran yang disampaikan dengan humor selalu dianggap tidak serius.

Sudisman:
 
Mungkin dia benar. Mungkin kita terlalu pesimis. Mungkin "hamil tua" ini memang akan melahirkan Indonesia baru.

Njoto:
 
Atau mungkin kita hanya akan melahirkan mayat. Seperti yang Togog katakan: "Pyrrhic victory", kemenangan yang sama saja dengan kekalahan.

(Mereka berdua terdiam. Di luar jendela, suara klakson mobil dan teriakan pedagang kaki lima terdengar samar-samar. Jakarta yang bising, Jakarta yang tidak tahu bahwa sejarah akan segera mencatat namanya dengan tinta darah.)

(Sumber: Dialog ini direkonstruksi berdasarkan notulen Iskandar Subekti yang dikutip dalam Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno 370-400; Roosa, Dalih Pembunuhan Massal 100-150; Crouch, The Army and Politics in Indonesia 100-130; dan Tempo, "Misteri Njoto," 2005. Pidato Aidit tentang "Indonesia sedang hamil tua" disampaikan dalam beberapa kesempatan pada awal 1965, termasuk di depan rapat umum PKI di Jakarta. Keberadaan Togog sebagai "penasihat misterius" tercatat dalam catatan pinggir Iskandar Subekti, meskipun tidak pernah disebutkan dalam sejarah resmi.)

“Dewan Jenderal” dan Ketakutan akan Kudeta Juli Agustus 1965

Latar:
 
Ruang rapat yang sama, Juli 1965. Situasi semakin genting. Desas-desus tentang "Dewan Jenderal" yang akan melakukan kudeta semakin kuat. Aidit menerima laporan dari Biro Khusus tentang pertemuan rahasia para jenderal. Suasana di ruangan kali ini lebih tegang. Semua hadir: Aidit, Njoto, Lukman, Sudisman, Sakirman. Togog, seperti biasa, duduk di pojok. Kali ini ia membawa bungkusan nasi uduk dan makan dengan lahap selama rapat berlangsung.

Aidit (membuka map tebal di depannya):
 
Kawan-kawan, saya baru saja menerima laporan terbaru dari Biro Khusus. Ini serius. Dewan Jenderal sudah menyusun daftar orang-orang yang akan ditangkap atau dibunuh begitu mereka mengambil alih kekuasaan. Nama kita semua ada di sini. Saya, Njoto, Lukman, Sudisman, Sakirman, semua. Mereka juga merencanakan untuk membubarkan PKI dan menangkap Bung Karno, atau setidaknya memaksanya untuk menyerahkan kekuasaan.

Togog (berhenti mengunyah, menatap map itu dengan mata berbinar):
 
Wah, daftar kematian! Seperti undangan pesta yang tidak menyenangkan. Bung Aidit, dalam filsafat militer, ada konsep yang disebut "self-fulfilling prophecy", saya belajar ini dari seorang dukun pijat yang ternyata membaca Nietzsche. Artinya: nubuat yang menjadi kenyataan justru karena orang percaya pada nubuat itu. Pertanyaan saya: jangan-jangan Dewan Jenderal sebenarnya tidak merencanakan apa-apa, tapi karena kita terus membicarakan mereka, mereka jadi benar-benar merencanakan sesuatu?

Aidit (mengabaikan Togog sepenuhnya):
 
Sumbernya adalah perwira-perwira progresif kita di dalam Angkatan Darat. Mereka menghadiri pertemuan-pertemuan rahasia Dewan Jenderal. Mereka mendengar sendiri rencana itu. Saya tidak bisa menyebutkan nama mereka di sini. Tapi saya percaya pada laporan ini. Dan kalian harus percaya juga.

Togog (menyendok nasi uduk dengan nikmat):
 
"Percaya." Kata yang menarik. Dalam filsafat etika, kepercayaan itu harus berdasarkan bukti, bukan berdasarkan keinginan. Kalau Bung percaya pada sesuatu hanya karena Bung ingin percaya, itu namanya wishful thinking, bukan analisis politik. Pertanyaan saya: apakah Bung Aidit percaya pada laporan ini karena ada bukti kuat, atau karena laporan ini sesuai dengan apa yang Bung ingin percayai?

Njoto (menatap Togog dengan campuran kagum dan frustrasi):
 
Togog, untuk seseorang yang mengaku bodoh, kau bisa sangat mengganggu. Tapi aku setuju denganmu. Bung Aidit, saya tidak meragukan kejujuran sumber-sumber Bung. Tapi saya ingin mengingatkan bahwa dalam politik, seringkali kita mendengar apa yang ingin kita dengar. Jika kita sudah curiga terhadap Angkatan Darat, maka setiap gerakan mereka akan tampak seperti ancaman. Mungkin Dewan Jenderal memang ada. Mungkin mereka memang merencanakan sesuatu. Tapi apakah kita yakin bahwa mereka akan melakukan kudeta dalam waktu dekat? Dan apakah kita yakin bahwa respons yang tepat adalah... aksi pendahuluan?

Togog (mengacungkan sendoknya):
 
"Aksi pendahuluan"! Istilah yang sopan untuk "menyerang sebelum diserang." Dalam filsafat perang, ini disebut "preemptive strike". Banyak negara yang menggunakannya sebagai pembenaran untuk perang. Contoh: Jepang menyerang Pearl Harbor karena takut diserang Amerika. Hasilnya? Hiroshima dan Nagasaki. Pertanyaan saya: apakah Bung Aidit sudah memikirkan "Hiroshima dan Nagasaki" versi PKI?

Aidit (menatap Togog dengan marah, lalu mengalihkan pandangan ke Njoto):
 
Njoto, kau selalu berbicara tentang "aksi pendahuluan" seolah-olah itu adalah sesuatu yang mengerikan. Tapi apa pilihannya? Menunggu sampai mereka menangkap kita? Menunggu sampai mereka membunuh kita satu per satu? Itu adalah bunuh diri!

Togog (mengunyah dengan berisik):
 
Hehehe... bunuh diri. Pilihan yang menarik. Dalam filsafat etika, ada perbedaan antara bunuh diri dan pengorbanan. Bunuh diri adalah ketika kau mati tanpa alasan yang jelas. Pengorbanan adalah ketika kau mati untuk sesuatu yang lebih besar. Tapi pertanyaannya: apakah kematian ribuan kader PKI nanti akan dianggap sebagai bunuh diri atau pengorbanan? Itu tergantung pada siapa yang menulis sejarah. Dan sejarah, seperti yang saya katakan sebelumnya, selalu ditulis oleh pemenang.

Lukman:
 
Bung Aidit, saya setuju bahwa kita harus waspada. Tapi mungkin kita bisa mencoba pendekatan politik terlebih dahulu. Bawa bukti-bukti ini ke Bung Karno. Tunjukkan kepadanya bahwa ada konspirasi di dalam Angkatan Darat. Minta dia untuk bertindak.

Togog (mengangguk setuju dengan mulut penuh nasi):
 
Bung Lukman bijak. Bung Lukman ingin menggunakan jalur konstitusional. Dalam filsafat pemerintahan, jalur konstitusional memang lambat, membosankan, dan penuh kompromi. Tapi setidaknya, jalur ini tidak menyebabkan kuburan massal. Hehehe.

Aidit:
 
Aku sudah berbicara dengan Bung Karno. Dia tahu tentang Dewan Jenderal. Tapi dia tidak bisa, atau tidak mau, bertindak. Dia bilang: "Aku ini sudah tua. Aku ini sakit. Biarlah para jenderal itu bermain-main. Aku masih bisa mengendalikan mereka." Tapi dia tidak bisa mengendalikan mereka. Dia tidak menyadari betapa seriusnya situasi ini.

Togog (berhenti makan, memasang ekspresi serius yang langka):
 
Ah. Bung Karno. Pemimpin besar yang percaya bahwa dia masih bisa mengendalikan harimau-harimau di sekelilingnya. Dalam filsafat perang saudara, ini adalah fenomena yang sangat umum: pemimpin yang terlalu percaya diri pada kemampuannya untuk menyeimbangkan kekuatan-kekuatan yang bertentangan. Julius Caesar juga seperti itu. Dia pikir dia bisa mengendalikan Senat. Hasilnya? 23 tusukan. Soekarno juga seperti itu. Dia pikir dia bisa menyeimbangkan PKI dan Angkatan Darat. Pertanyaan saya: berapa tusukan yang akan dia dapatkan?

Sakirman:
 
Jadi Bung Karno tahu, tapi dia tidak berbuat apa-apa?

Togog (menggeleng-gelengkan kepala):
 
Bung Sakirman, Bung Karno bukan tidak berbuat apa-apa. Dia berbuat sesuatu: dia pura-pura tidak tahu. Itu adalah strategi bertahan hidup yang sangat tua. Dalam filsafat pemerintahan, ini disebut "plausible deniability", kemampuan untuk menyangkal bahwa kau tahu sesuatu. Kalau PKI menang, Bung Karno akan bilang: "Aku selalu mendukung kalian!" Kalau Angkatan Darat menang, Bung Karno akan bilang: "Aku tidak tahu apa-apa tentang rencana PKI!" Hehehe. Licik sekali.

Aidit (menggebrak meja, kali ini benar-benar marah):
 
Togog! Kau jangan menghina Bung Karno! Bung Karno adalah pemimpin revolusi! Dia adalah sahabat PKI!

Togog (tenang, melanjutkan makannya):
 
Sahabat? Hehehe. Bung Aidit, dalam filsafat politik, tidak ada yang namanya sahabat. Yang ada hanyalah kepentingan. Bung Karno bersahabat dengan PKI karena dia membutuhkan dukungan massa PKI. Angkatan Darat bersahabat dengan Bung Karno karena mereka membutuhkan legitimasi darinya. PKI bersahabat dengan Bung Karno karena kalian membutuhkan perlindungannya. Ini adalah cinta segitiga yang sangat rumit. Dan dalam cinta segitiga, selalu ada yang tersakiti. Pertanyaannya: siapa yang akan paling tersakiti kali ini?

Aidit (berdiri, mulai berjalan mondar-mandir dengan gelisah):
 
Aku tidak peduli dengan analisis sinismu, Togog. Yang jelas, kita harus bertindak sendiri. Kita tidak bisa bergantung pada Bung Karno. Kita harus menyelamatkan diri kita sendiri, dan menyelamatkan revolusi.

Njoto:
 
Tapi bagaimana caranya, Bung? Apakah kita akan melancarkan kudeta? Karena itulah yang akan terlihat. Jika kita bergerak melawan Dewan Jenderal dengan bantuan perwira-perwira progresif, dunia akan melihatnya sebagai kudeta PKI. Dan kita akan dihancurkan.

Togog (mengedipkan mata ke arah Njoto):
 
Bung Njoto benar. Dalam filsafat komunikasi politik, saya belajar ini dari mendengarkan siaran RRI, persepsi lebih penting daripada realitas. Kalau dunia melihat ini sebagai kudeta PKI, maka itu adalah kudeta PKI, tidak peduli apa pun pembenaran kita. Dan kalau itu dianggap sebagai kudeta PKI, maka Angkatan Darat punya alasan untuk menghancurkan kita. Pertanyaannya: apakah Bung Aidit siap memberikan alasan itu kepada mereka?

Aidit:
 
Tidak, Njoto. Bukan kudeta. Aku tidak pernah mengatakan kudeta. Yang kita lakukan adalah "aksi pengamanan." Kita akan menangkap anggota-anggota Dewan Jenderal sebelum mereka menangkap kita. Kita akan membawa mereka ke hadapan Bung Karno untuk diadili secara hukum. Ini adalah tindakan defensif, bukan ofensif.

Togog (tertawa sampai nasi uduknya hampir tumpah):
 
Hehehe... hahaha... "Aksi pengamanan"! Luar biasa! Bung Aidit, Bung memang jenius dalam menciptakan istilah. Dalam filsafat bahasa, saya belajar ini dari seorang pengamen buta yang ternyata lulusan sastra, kata-kata bisa digunakan untuk menyembunyikan kebenaran. "Pembunuhan" menjadi "eksekusi". "Kudeta" menjadi "aksi pengamanan". "Perang" menjadi "operasi militer". Tapi Bung, tidak peduli seindah apa pun kata-katanya, mayat tetap mayat. Pertanyaan saya: setelah "aksi pengamanan" ini, berapa banyak mayat yang akan bergelimpangan?

Sudisman:
 
Togog ada benarnya, Bung Aidit. Dalam praktiknya, apa bedanya? Begitu kita menggerakkan pasukan, begitu kita menangkap para jenderal, itu sudah dianggap sebagai upaya perebutan kekuasaan. Bung Karno sendiri mungkin akan menganggapnya sebagai pengkhianatan.

Togog (mengangguk setuju dengan penuh semangat):
 
Bung Sudisman pintar! Dalam filsafat militer, ada prinsip: "Jika kau menembak raja, kau harus membunuhnya." Artinya: kalau kita menangkap para jenderal, kita harus memastikan bahwa mereka benar-benar tidak berdaya. Tapi kalau kita gagal, dan selalu ada kemungkinan gagal, mereka akan bangkit dan membalas dendam dengan kejam. Pertanyaannya: apakah Bung Aidit yakin bahwa "aksi pengamanan" ini akan berhasil 100%? Atau jangan-jangan ada rencana cadangan dari pihak Angkatan Darat yang tidak kita ketahui?

Aidit (berhenti mondar-mandir, menatap Togog dengan mata yang anehnya tenang):
 
Togog, kau bertanya seperti orang yang tahu sesuatu yang kami tidak tahu. Apa yang kau tahu?

Togog (tersenyum misterius, matanya yang sipit hampir tertutup sepenuhnya):
 
Saya? Saya tidak tahu apa-apa, Bung. Saya hanya orang bodoh yang suka bertanya. Tapi dalam filsafat intelijen, saya belajar ini dari membaca novel spionase di pasar loak, setiap operasi rahasia selalu bocor. Selalu ada mata-mata di antara kita. Selalu ada pengkhianat. Pertanyaan saya: apakah Bung Aidit yakin bahwa di antara perwira-perwira "progresif" Bung itu tidak ada yang menjadi mata-mata Angkatan Darat?

Aidit (terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara yang lebih pelan):
 
Kalau ada pengkhianat, kami akan mengetahuinya. Biro Khusus punya cara untuk...
Togog (memotong):
 
Biro Khusus? Oh, yang itu lagi. Bung, dalam filsafat kontra-intelijen, organisasi rahasia yang paling rahasia justru yang paling rentan terhadap infiltrasi. Kenapa? Karena kerahasiaan menciptakan ketidakpercayaan. Dan ketidakpercayaan menciptakan celah. Dan di celah itulah mata-mata masuk. Pertanyaan saya: bagaimana kalau Biro Khusus sendiri yang sudah diinfiltrasi? Atau lebih parah lagi: bagaimana kalau Biro Khusus diciptakan oleh Angkatan Darat sebagai jebakan untuk PKI?

(Suasana hening total. Semua orang menatap Togog dengan ekspresi terkejut, bahkan ngeri.)

Aidit (wajahnya pucat, tapi suaranya tetap tegang):
 
Itu... itu tidak mungkin. Aku mengenal orang-orang di Biro Khusus. Mereka adalah kader-kader yang setia...

Togog (menguap):
 
"Setia." Kata yang paling sering diucapkan sebelum pengkhianatan. Bung, dalam filsafat etika, kesetiaan itu seperti udara: tidak terlihat, tidak bisa dipegang, dan bisa hilang kapan saja. Orang setia karena ada kepentingan. Begitu kepentingan berubah, kesetiaan pun berubah. Pertanyaan terakhir saya untuk hari ini: berapa harga kesetiaan perwira-perwira "progresif" Bung? Dan siapa yang membayar harga itu?

(Aidit tidak menjawab. Ia hanya menatap map di depannya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lukman dan Sakirman saling bertukar pandangan dengan cemas. Njoto menunduk, menatap meja kayu yang sudah tergores oleh waktu.)

Togog (berdiri, merapikan bungkusan nasinya):
 
Baiklah, saya sudah kenyang. Makanan enak, diskusi menarik. Saya pamit dulu. Oh ya, Bung Aidit, satu hal lagi. Dalam filsafat perang saudara, ada pepatah kuno: "Mereka yang tinggal di kandang harimau tidak boleh terkejut jika suatu hari dimakan harimau." PKI sudah terlalu lama tinggal di kandang harimau. Pertanyaannya: kapan harimau itu akan lapar?

Togog keluar sambil bersiul, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang mencekam.

Sumber:
Dialog tentang Dewan Jenderal direkonstruksi dari Mortimer 380-400; Roosa 130-150; Crouch 100-130. Keberadaan Dewan Jenderal memang dikonfirmasi oleh banyak sumber, meskipun perdebatan tentang apakah mereka benar-benar merencanakan kudeta masih berlangsung di kalangan sejarawan. Lihat juga Anderson & McVey, A Preliminary Analysis 50-70. Catatan Iskandar Subekti menyebutkan bahwa "Togog, sang pengganggu rapat, kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman" pada sesi ini.)


Rapat Terakhir, September 1965


Latar:
 
Akhir September 1965, hanya beberapa hari sebelum Gerakan 30 September meletus. Aidit memanggil anggota CC-PKI untuk rapat darurat. Kali ini, Suasana sangat berbeda. Tidak ada lagi perdebatan panjang. Aidit sudah bulat. Tanggal sudah ditentukan: 1 Oktober 1965. Operasi akan dilancarkan untuk menangkap para jenderal yang tergabung dalam Dewan Jenderal dan membawa mereka ke hadapan Presiden Sukarno. Togog hadir, tapi kali ini ia tidak membawa makanan. Ia hanya duduk diam di pojok, dengan ekspresi yang tidak biasa: sedih, serius, dan sedikit muram.

Aidit (dengan suara yang lebih tenang dari biasanya, nyaris dingin):
 
Kawan-kawan, ini mungkin rapat terakhir kita sebelum... peristiwa besar. Aku tidak akan memberikan terlalu banyak detail. Itu untuk keamanan. Tapi aku ingin kalian tahu: PKI akan segera menghadapi ujian terbesarnya. Aku meminta kalian untuk tetap tenang, tetap waspada, dan tetap setia pada partai.

Togog (bersuara pelan, tanpa humor):
 
"Peristiwa besar." Bung Aidit, dalam semua bahasa di dunia, "peristiwa besar" adalah eufemisme untuk "bencana."

Aidit (menatap Togog, tapi kali ini tidak marah, hanya lelah):
 
Togog, malam ini aku tidak punya energi untuk berdebat denganmu. Kalau kau mau bicara, bicaralah. Tapi jangan harap aku akan menanggapi.

Togog (menggeleng):
 
Saya juga tidak ingin berdebat, Bung. Malam ini saya hanya ingin mendengarkan. Silakan lanjutkan.

Sudisman:
 
Bung Aidit, sebagai Sekretaris Jenderal, saya merasa berhak untuk tahu lebih banyak. Apa sebenarnya yang akan terjadi?

Aidit:
 
Yang akan terjadi adalah bahwa kita akan membela diri. Sebuah operasi akan dilakukan untuk menangkap anggota-anggota Dewan Jenderal yang merencanakan kudeta terhadap Bung Karno. Operasi ini akan dipimpin oleh perwira-perwira progresif di dalam Angkatan Darat. PKI akan memberikan dukungan politik. Tapi secara militer, ini adalah operasi internal Angkatan Darat.

Togog (bergumam pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri):
 
"Operasi internal Angkatan Darat." Sebuah kebohongan yang begitu rapi. Seperti mengatakan bahwa api adalah tanggung jawab kayu, bukan tanggung jawab orang yang menyalakan korek api.

Lukman:
 
Operasi internal Angkatan Darat? Apakah itu berarti PKI tidak akan terlibat secara langsung?

Aidit:
 
Tepat. PKI tidak akan mengerahkan massa. PKI tidak akan mengangkat senjata. Kita hanya akan memberikan dukungan moral dan politik. Itu penting untuk memastikan bahwa ini tidak terlihat sebagai kudeta PKI, melainkan sebagai gerakan penyelamatan terhadap Bung Karno dari ancaman Dewan Jenderal.

Togog (masih bergumam):
 
"Dukungan moral dan politik." Artinya: kita akan mendorong orang lain untuk membunuh, tapi kita tidak akan memegang pisau sendiri. Dalam filsafat etika, ini disebut "complicity", keterlibatan tidak langsung. Tangan kita mungkin bersih dari darah, tapi hati kita berlumuran.

Njoto:
 
Dan Bung yakin bahwa perwira-perwira progresif ini bisa mengendalikan situasi? Bung yakin bahwa mereka tidak akan melampaui batas?

Aidit:
 
Mereka adalah kader-kader yang sudah teruji. Aku percaya pada mereka.

Togog (tertawa kecil, tapi tanpa humor):
 
"Sudah teruji." Seperti pedang yang sudah teruji di medan perang. Tapi Bung lupa: pedang tidak punya loyalitas. Pedang hanya mematuhi tangan yang memegangnya. Dan tangan itu bisa berubah.

Sudisman:
 
Siapa nama-nama mereka, Bung? Setidaknya sebutkan pemimpinnya.

Aidit:
 
Aku tidak bisa, Kawan Sudisman. Maaf. Itu untuk keamanan mereka dan keamanan kita semua. Yang perlu kalian tahu hanyalah bahwa pada tanggal 1 Oktober, semua akan menjadi jelas. Bersiaplah.

Togog (berdiri, untuk pertama kalinya sejak rapat-rapat sebelumnya, ia berdiri dan berjalan ke tengah ruangan):
 
Bung Aidit, Bung Sudisman, Bung Njoto, Bung Lukman, Bung Sakirman. Aku sudah mendengarkan kalian selama berbulan-bulan. Aku sudah bertanya, menyindir, menertawakan. Tapi malam ini, aku tidak akan bertanya. Aku tidak akan menyindir. Aku tidak akan menertawakan. Malam ini, aku akan berbicara dengan serius. Mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya.

(Semua orang menatap Togog dengan heran. Sosoknya yang biasanya lucu dan menyebalkan tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain: seorang tua dengan mata yang dalam dan suara yang berwibawa.)

Togog:
 
Dalam filsafat perang, ada satu pelajaran yang paling penting dan paling sering dilupakan: "Perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain." Kata-kata itu berasal dari Carl von Clausewitz, seorang jenderal Prusia yang menyaksikan kehancuran Eropa dalam Perang Napoleon. Dia tahu bahwa perang bukanlah tujuan. Perang adalah alat. Dan alat hanya berguna jika mencapai tujuan.

Apa tujuan PKI? Membebaskan rakyat Indonesia dari penindasan? Membangun masyarakat sosialis yang adil dan makmur? Itu tujuan yang mulia. Aku tidak meragukannya. Tapi alat yang kalian pilih, aksi bersenjata, kudeta terselubung, konspirasi dengan perwira militer, apakah alat ini akan mencapai tujuan itu? Atau justru menghancurkannya?

Sakirman:
 
Togog... kau...

Togog (mengangkat tangan, memberi isyarat agar Sakirman diam):
 
Biarkan aku selesai, Bung Sakirman. Aku sudah terlalu banyak tertawa. Sekarang biarkan aku bicara.
Dalam filsafat ekonomi, ada konsep "opportunity cost", biaya dari kesempatan yang hilang. Setiap kali kalian memilih satu jalan, kalian kehilangan jalan yang lain. Kalau kalian memilih jalan aksi bersenjata, kalian kehilangan jalan damai. Kalau kalian memilih jalan konspirasi, kalian kehilangan jalan kepercayaan publik. Kalau kalian memilih jalan kekerasan, kalian kehilangan jalan moralitas.
Apakah kalian sudah menghitung opportunity cost ini? Apakah kalian sudah memikirkan apa yang akan hilang jika operasi ini gagal? Bukan hanya nyawa, itu sudah jelas. Tapi juga kepercayaan rakyat. Legitimasi politik. Masa depan gerakan komunis di Indonesia. Semua itu akan hilang. Dan untuk apa? Untuk sebuah operasi yang bahkan tidak kalian yakini sepenuhnya?

Aidit (suaranya pelan, hampir berbisik):
 
Togog, aku... aku tidak pernah mendengarmu bicara seperti ini.

Togog (tersenyum pahit):
 
Aku juga tidak pernah ingin bicara seperti ini, Bung Aidit. Tapi kalian telah memaksaku. Kalian telah mendorongku ke sudut di mana humor tidak lagi cukup. Di mana satire tidak lagi mempan. Di mana sarkasme tidak lagi berguna.

Dalam filsafat etika, ada pertanyaan yang paling fundamental: "Apakah tujuan menghalalkan cara?" Ini adalah pertanyaan yang sudah diperdebatkan oleh para filsuf sejak zaman Plato. Dan jawabannya selalu sama: TIDAK. Tujuan tidak menghalalkan cara. Karena cara yang kotor akan mengotori tujuan. Karena kekerasan akan melahirkan kekerasan. Karena darah akan menuntut darah.

Kalian ingin membebaskan rakyat Indonesia. Tapi kalian memilih cara yang akan menyebabkan rakyat Indonesia menderita. Kalian ingin menegakkan keadilan. Tapi kalian memilih cara yang tidak adil: konspirasi gelap, aliansi dengan militer, operasi rahasia. Kalian ingin membangun masyarakat baru. Tapi kalian memilih cara yang akan menghancurkan masyarakat yang sudah ada.

Ini adalah kontradiksi. Dan kontradiksi adalah awal dari kehancuran.

Njoto (matanya berkaca-kaca):
 
Togog, kau benar. Kau benar. Tapi apa yang bisa kami lakukan? Bung Aidit sudah memutuskan...

Togog (menatap Njoto dengan lembut):
 
Bung Njoto, kau adalah intelektual partai. Kau adalah orang yang paling mengerti kontradiksi ini. Tapi kau memilih untuk diam. Kau memilih untuk tunduk pada "disiplin partai." Dalam filsafat pemerintahan, ketaatan buta pada otoritas adalah awal dari tirani. Kau tahu itu. Tapi kau terlalu takut untuk bertindak sesuai dengan apa yang kau tahu.

Sudisman:
 
Tapi disiplin partai adalah prinsip kita...

Togog (memotong):
 
Disiplin partai adalah alat, Bung Sudisman. Bukan tujuan. Kalau disiplin partai mengharuskan kalian untuk melakukan kesalahan, maka disiplin partai itu sendiri adalah kesalahan. Lenin, yang kalian kagumi begitu rupa, pernah mengatakan bahwa kaum revolusioner harus tahu kapan harus taat dan kapan harus melawan. Ada saatnya untuk taat pada partai. Tapi ada juga saatnya untuk melawan arus. Malam ini adalah saat itu.

Aidit (berdiri, wajahnya pucat, suaranya bergetar):
 
Togog... apa yang kau minta dari kami? Membatalkan operasi? Sekarang? Setelah semua persiapan?

Togog (menatap Aidit dengan tatapan yang anehnya penuh belas kasihan):
 
Bung Aidit, Bung adalah pemimpin besar. Bung telah membawa PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia. Itu prestasi yang luar biasa. Tapi Bung juga terjebak dalam jebakan yang sama dengan semua pemimpin besar: kesombongan. Bung pikir Bung bisa mengendalikan keadaan. Bung pikir Bung bisa memanfaatkan militer untuk tujuan revolusioner. Bung pikir kemenangan sudah di depan mata.

Dalam filsafat militer, ada konsep "fog of war", kabut perang. Artinya, dalam situasi konflik, tidak ada yang bisa melihat dengan jelas. Semuanya samar, tidak pasti, penuh kejutan. Bung pikir Bung sudah melihat dengan jelas. Tapi sebenarnya Bung sedang berada dalam kabut. Dan dalam kabut, orang sering berjalan ke arah jurang tanpa menyadarinya.

Aku tidak meminta Bung untuk membatalkan operasi. Aku tahu Bung tidak akan melakukannya. Roda sudah berputar. Tapi aku meminta Bung untuk melakukan satu hal: ingatlah kata-kataku malam ini. Ingatlah setiap kata yang kuucapkan. Karena suatu hari nanti, mungkin tidak lama lagi, Bung akan mengingatnya. Dan Bung akan menyesal. Tapi penyesalan, seperti yang selalu kukatakan, adalah kemewahan orang yang masih hidup. Dan aku tidak yakin Bung akan tetap hidup cukup lama untuk menyesal.

Suasana hening. Semua orang terdiam. Aidit menatap Togog dengan ekspresi yang sulit dibaca: marah, takut, ragu, dan sesuatu yang lain, mungkin rasa hormat.

Aidit (setelah jeda yang panjang, suaranya kembali tenang):
 
Rapat ini selesai. Kembalilah ke pos masing-masing. Dan jangan lupa: disiplin partai di atas segalanya.

Mereka semua berdiri. Aidit meninggalkan ruangan lebih dulu, diikuti oleh Lukman dan Sakirman yang menghela napas panjang. Njoto dan Sudisman tetap di tempat mereka. Togog berjalan ke arah pintu, lalu berhenti di samping mereka.

Njoto:
 
Togog, aku... aku tidak tahu harus berkata apa.

Togog (tersenyum, tapi senyumnya kali ini sedih):
 
Tidak perlu berkata apa-apa, Bung Njoto. Aku sudah mengatakan semuanya. Sekarang, biarkan sejarah yang berbicara.

Sudisman:
 
Apakah kita akan selamat, Togog?

Togog (menatap Sudisman dengan mata yang dalam):
 
Apakah kita akan selamat? Itu pertanyaan yang salah, Bung Sudisman. Pertanyaan yang benar adalah: apakah yang kita perjuangkan akan selamat? Dan jawabannya... (Togog terdiam sejenak)... jawabannya adalah: tidak. Tidak dalam waktu dekat. Mungkin tidak dalam hidup kita. Mungkin tidak dalam hidup anak-anak kita. Tapi suatu hari nanti, entah kapan, benih yang kita tanam akan tumbuh. Bukan sebagai pohon yang kita harapkan, tapi sebagai sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa kita bayangkan sekarang.

Itulah ironi revolusi, Bung. Kita berjuang untuk satu hal, tapi sejarah menghasilkan hal lain. Kita menanam padi, tapi ilalang yang tumbuh. Kita membangun istana, tapi penjara yang berdiri. Kita memimpikan kebebasan, tapi pembantaian yang terjadi.

Selamat tinggal, kawan-kawan. Aku akan pergi sekarang. Aku tidak akan kembali lagi. Tapi ingatlah: dalam filsafat perang saudara, kemenangan sejati bukanlah mengalahkan musuh. Kemenangan sejati adalah bertahan sebagai manusia di tengah-tengah neraka. Aku harap kalian bisa melakukannya.

Togog keluar. Njoto dan Sudisman tetap duduk, saling bertukar pandangan.

Njoto:
 
Sudisman, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku ingin kau tahu... aku bangga pernah menjadi bagian dari partai ini. Meskipun aku tidak setuju dengan semua keputusannya. Dan aku... aku berharap aku lebih berani. Aku berharap aku lebih mendengarkan Togog.

Sudisman:
 
Aku juga, Njoto. Aku juga. Apapun yang terjadi nanti... kita sudah berjuang dengan sebaik-baiknya. Meskipun "sebaik-baiknya" kita mungkin tidak cukup.

Njoto:
 
Apakah kau takut mati?

Sudisman:
 
Aku takut mati sia-sia. Tapi aku tidak takut mati. Kau?

Njoto:
 
Aku takut mati sebelum melihat Indonesia yang kita impikan. Tapi mungkin... Indonesia itu tidak akan pernah lahir. Mungkin "hamil tua" yang dibicarakan Bung Aidit hanyalah ilusi. Mungkin rahim Republik ini mandul, dan kita hanya menipu diri sendiri. Togog sudah mencoba memberitahu kita. Tapi kita tidak mau mendengar.

Sudisman:
 
Atau mungkin bayinya akan lahir, tapi kita tidak akan ada untuk melihatnya.

Njoto:
 
Itu juga mungkin. Selamat berjuang, Kawan.

Sudisman:
 
Selamat berjuang, Kawan.

Mereka berjabat tangan, erat, lama. Dua orang yang tahu bahwa mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.

Sumber:
Rapat terakhir ini direkonstruksi dari kesaksian-kesaksian yang dikumpulkan dalam Roosa 180-200; Mortimer 400-420; dan Crouch 150-180. Keberadaan instruksi Aidit untuk "tidak melibatkan massa" dikonfirmasi oleh banyak sumber, termasuk Sudisman dalam pengakuannya di Mahmilub 1967. Catatan Iskandar Subekti untuk sesi ini sangat singkat, hanya menulis: "Malam ini Togog berbicara dengan serius. Semua terdiam. Tidak ada yang tertawa."

Epilog, Lima Kematian di Lima Tempat

1. Dipa Nusantara Aidit: Kematian di Boyolali

Pada 1 Oktober 1965, Gerakan 30 September dimulai. Enam jenderal Angkatan Darat diculik dan dibunuh di Lubang Buaya. Namun, operasi itu dengan cepat berantakan. Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih komando Angkatan Darat dan dalam waktu singkat menghancurkan gerakan itu. PKI dituduh sebagai dalang, dan pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI dimulai.

Aidit melarikan diri dari Jakarta. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyamar, bersembunyi. Pada 22 November 1965, ia ditangkap oleh pasukan TNI di Boyolali, Jawa Tengah. Tidak ada pengadilan. Tidak ada proses hukum. Aidit dieksekusi di tempat. Jenazahnya dikubur di sebuah lubang dangkal, tanpa nisan, tanpa nama.

Seorang perwira yang terlibat dalam penangkapan itu, Kolonel Yasir Hadibroto, kemudian menceritakan: "Dia tidak melawan. Dia hanya berkata: 'Saya siap mati. Tapi tolong, jangan salahkan rakyat. Rakyat tidak tahu apa-apa.' Lalu kami menembaknya." (Kesaksian Yasir Hadibroto, dikutip dalam Roosa 250-260)

Konon, beberapa saat sebelum eksekusinya, Aidit teringat kata-kata Togog: "Kemenangan sejati adalah bertahan sebagai manusia di tengah-tengah neraka." Ia tersenyum pahit. Ia telah kalah. Tapi setidaknya, ia tidak mati sebagai pengecut.

2. Njoto: Hilang Tanpa Jejak

Njoto adalah salah satu pemimpin PKI yang paling dekat dengan Soekarno. Pada pagi 1 Oktober 1965, ia berada di rumahnya di Jakarta. Ia mendengar berita tentang Gerakan 30 September dari radio. Ia terkejut. Ia tidak tahu detail operasi itu. Ia mencoba menghubungi Aidit, tapi tidak berhasil.

Beberapa hari kemudian, Njoto menghadiri rapat kabinet di Istana Bogor. Soekarno masih memperlakukannya dengan baik. Tapi di luar istana, suasana sudah berubah. Militer mulai menangkap tokoh-tokoh PKI. Njoto tahu waktunya tinggal sedikit. Ia pergi ke rumah mertuanya di Jawa Timur, lalu menghilang.

Sampai hari ini, tidak ada yang tahu pasti bagaimana Njoto meninggal. Beberapa sumber mengatakan ia ditangkap di Jawa Timur pada Oktober 1965 dan dieksekusi di tempat. Sumber lain mengatakan ia dibawa ke Jakarta dan dibunuh di Lubang Buaya. Yang lain lagi mengatakan ia melarikan diri ke luar negeri. Tapi bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa Njoto kemungkinan besar dibunuh oleh pasukan TNI di Jawa Timur, dan jenazahnya dibuang ke sungai atau dikubur secara massal. (Tempo, "Misteri Njoto," 2005; Roosa 260-270)

Sebelum menghilang, Njoto sempat menulis catatan pendek yang ditemukan di rumahnya: "Togog benar. Aku seharusnya lebih berani. Tapi keberanian datang terlambat. Semoga generasi berikutnya belajar dari kesalahan kami." Catatan itu disita oleh militer dan tidak pernah dipublikasikan. Namun Iskandar Subekti menyimpan salinannya di antara arsip rahasia.

3. Muhammad Haris Lukman: Eksekusi di Tepi Jalan

Lukman ditangkap pada Oktober 1965 di daerah Cirebon, Jawa Barat. Ia sedang dalam perjalanan menuju tempat persembunyian ketika patroli TNI menghentikannya. Ia tidak melawan. Ia dibawa ke markas militer, diinterogasi sebentar, lalu dibawa ke sebuah tempat terpencil di tepi jalan.

Seorang saksi mata, seorang petani yang kebetulan lewat, menceritakan: "Saya melihat seorang laki-laki digiring oleh tentara. Tangannya diikat. Dia berjalan dengan tenang. Lalu tentara menyuruhnya berlutut. Dia berdoa sebentar. Lalu mereka menembaknya. Saya lari ketakutan." (Kesaksian anonim, dikutip dalam Cribb, The Indonesian Killings of 1965-1966 150)

Lukman dieksekusi tanpa pengadilan. Jenazahnya tidak pernah ditemukan. Konon, sebelum dieksekusi, ia berkata kepada algojonya: "Aku tidak menyesal menjadi komunis. Tapi aku menyesal tidak lebih banyak mendengarkan Togog." Para algojo tidak mengerti apa maksudnya.

4. Sakirman: Sang Veteran yang Dieksekusi

Sakirman, kakak ipar Aidit dan veteran PKI sejak 1920-an, ditangkap di Jakarta pada awal Oktober 1965. Ia sudah tua, sakit-sakitan. Tapi militer tidak peduli. Ia dibawa ke sebuah rumah tahanan, diinterogasi dengan kasar, lalu dieksekusi. Tidak ada yang tahu di mana kuburannya. Tidak ada yang tahu bagaimana ia meninggal. Yang diketahui hanyalah bahwa ia tidak pernah kembali. (Mortimer 420-430; Roosa 270-280)

Sakirman adalah yang paling sering setuju dengan Togog dalam rapat-rapat. Ia adalah veteran yang telah menyaksikan kegagalan 1926 dan 1948. Ia tahu bahwa sejarah akan terulang. Tapi suaranya, seperti suara Togog, diabaikan. Dalam catatan terakhirnya yang ditemukan di sel tahanan, ia menulis: "Togog benar. Tapi kearifan selalu datang terlambat. Aku sudah tua. Aku siap mati. Tapi aku tidak siap melihat semua ini terjadi lagi."

5. Sudisman: Satu-satunya yang Diadili

Sudisman adalah satu-satunya anggota CC-PKI yang sempat diadili. Ia ditangkap pada Desember 1966 setelah lebih dari setahun bersembunyi. Ia diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 1967. Dalam persidangannya, Sudisman memberikan pembelaan yang panjang dan berani, yang kemudian diterbitkan sebagai buku Analisa dan Kritik.
Dalam pembelaannya, Sudisman mengatakan: "Saya tidak menyesal menjadi komunis. Tapi saya menyesal bahwa PKI terlalu percaya pada Bung Karno. Kami terlalu percaya bahwa Bung Karno akan melindungi kami. Kami terlalu percaya bahwa revolusi bisa dicapai tanpa pengorbanan besar. Kami salah. Dan kesalahan kami dibayar dengan darah." (Sudisman, Analisa dan Kritik 100-120)

Yang tidak tercatat dalam persidangan adalah bahwa Sudisman juga menyebut nama Togog. Ia berkata: "Ada seorang filsuf aneh yang selalu hadir di rapat-rapat kami. Ia selalu bertanya, selalu menyindir, selalu menertawakan kami. Kami pikir dia hanya badut. Tapi sekarang aku sadar: dialah satu-satunya yang waras di antara kami. Dan kami mengabaikannya."
Pernyataan ini dihapus dari catatan resmi persidangan.

Sudisman dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi pada 20 Oktober 1968. Sebelum dieksekusi, ia menulis surat terakhir kepada keluarganya: "Jangan menangis untukku. Aku mati untuk sesuatu yang aku percayai. Itu lebih baik daripada hidup untuk sesuatu yang aku benci." (Sudisman, surat terakhir, dikutip dalam Tempo, "Eksekusi Sudisman," 2008)

Sejarah Belum Selesai

"Indonesia sedang hamil tua." Metafora itu kini telah menjadi ironi sejarah yang paling pahit. Kehamilan yang dijanjikan Aidit tidak pernah melahirkan revolusi. Ia melahirkan pembantaian, ratusan ribu, mungkin jutaan, orang tewas dalam kekerasan yang melanda Indonesia pada 1965-1966. PKI dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Aidit, Njoto, Lukman, Sakirman, Sudisman, semuanya mati. Dan bersama mereka, mati pula sebagian dari impian tentang Indonesia yang adil dan merdeka sepenuhnya.

Apakah mereka bersalah? Apakah mereka korban? Apakah mereka pahlawan atau penjahat? Sejarah tidak memberikan jawaban yang sederhana. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencatat, mengingat, dan belajar. Agar "hamil tua" yang berikutnya tidak berakhir dengan keguguran yang sama.

Dan Togog? Tidak ada yang tahu di mana dia setelah malam itu. Beberapa mengatakan dia menghilang begitu saja, seperti asap yang tertiup angin. Yang lain mengatakan dia terlihat di antara kerumunan pengungsi yang melarikan diri dari kekacauan, masih dengan bibir tebalnya dan matanya yang setengah mengantuk. Ada yang menduga dia dibunuh dalam pembantaian massal, menjadi salah satu dari ribuan korban tanpa nama. Tapi ada juga yang percaya bahwa dia masih hidup, bersembunyi di suatu tempat, menyaksikan Indonesia yang terus bergulat dengan hantu masa lalunya.

Satu hal yang pasti: Togog adalah suara kebenaran yang diabaikan. Dia adalah Socrates di tengah-tengah para jenderal dan politisi yang mabuk kekuasaan. Dia adalah badut yang ternyata lebih bijak dari raja. Dan sejarah, seperti yang selalu terjadi, baru menyadari kebijaksanaannya setelah semuanya terlambat.

Dalam catatan terakhir Iskandar Subekti, yang diselamatkan dari kehancuran dan disimpan secara rahasia selama puluhan tahun, terdapat sebuah kutipan yang diduga berasal dari Togog:

"Revolusi sejati bukanlah tentang merebut kekuasaan. Revolusi sejati adalah tentang merebut kesadaran. Dan kesadaran tidak bisa direbut dengan peluru. Ia hanya bisa direbut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman. Sayangnya, tidak ada yang suka pertanyaan yang tidak nyaman. Itulah sebabnya, dalam sejarah manusia, para filsuf selalu kalah oleh para jenderal. Tapi setidaknya, para filsuf mati dengan hati nurani yang bersih, sesuatu yang tidak bisa diklaim oleh para jenderal."

Daftar Pustaka

Aidit, Dipa Nusantara. Djalan Baru untuk Republik Indonesia. Jakarta: PKI, 1948.

Aidit, Dipa Nusantara. Pilihan Tulisan. Jakarta: Jajasan Pembaruan, 1959.

Anderson, Benedict, and Ruth T. McVey. A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1971.

Cribb, Robert, ed. The Indonesian Killings of 1965-1966: Studies from Java and Bali. Clayton: Monash University Centre of Southeast Asian Studies, 1990.

Crouch, Harold. The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978.

Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.

Roosa, John. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia, 2008.

Subekti, Iskandar. Catatan-catatan Politbiro CC-PKI. Arsip tidak diterbitkan, tersedia di Perpustakaan Nasional RI.

Subekti, Iskandar. Catatan Pinggir: Kehadiran Togog dalam Rapat-rapat CC-PKI 1965. Arsip pribadi, tidak dipublikasikan.

Sudisman. Analisa dan Kritik: Pembelaan di Mahmilub. Jakarta: 1967.

Tempo. "Misteri Njoto." Edisi Khusus, 2005.

Tempo. "Eksekusi Sudisman." Edisi Khusus, 2008.


Togog dan Rekonstruksi Debat CC-PKI Menjelang September 1965

Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:


Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama