Debat di Menteng, Togog Menatar Ulang Aidit

Sebuah drama intelektual imajiner yang mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang di tengah pergolakan politik Indonesia menjelang 1965. Suatu sore di tahun 1964, rumah dinas Dipa Nusantara Aidit di Menteng kedatangan tamu tak diundang: Togog, seorang filsuf nyentrik berwajah badut yang datang membawa koper lusuh berisi dokumen-dokumen rahasia dan sebungkus kacang goreng. Dengan gaya sarkastik yang menusuk, Togog menantang sang Ketua CC-PKI untuk membedah ulang seluruh fondasi ideologisnya.

Dari balik kopernya, Togog mengeluarkan laporan rahasia Foreign Office Inggris, memorandum Robert F. Kennedy, catatan lapangan Professor George Kahin, dan dokumen CIA yang telah dideklasifikasi, semuanya mengungkap kerapuhan struktural PKI yang selama ini ditutupi oleh retorika revolusioner. Aidit, yang tak terkalahkan dalam debat, untuk pertama kalinya dipaksa menghadapi kontradiksi antara teori dan praktiknya.

Debat imajiner Togog vs Aidit: bedah Marxisme PKI, dokumen rahasia Gilchrist, Kennedy, dan Kahin, serta ramalan tragis 1965.

Perdebatan berpindah ke Istana Merdeka, tempat Sukarno yang kharismatik justru menjadi saksi dekonstruksi sahabatnya sendiri. Di hadapan Presiden, Togog membongkar lapis demi lapis ilusi kekuasaan, ketergantungan, dan pengkhianatan prinsip yang telah menjerumuskan gerakan kiri Indonesia ke dalam perangkap sejarah. Diakhiri dengan ramalan tragis yang terbukti nyata, naskah ini adalah refleksi pahit tentang kegagalan revolusioner yang melupakan rakyatnya, dan pengingat bahwa badut seringkali lebih bijak daripada pemimpin.

DAFTAR TOKOH

Dipa Nusantara Aidit [1923–1965], Ketua CC-PKI, arsitek "Djalan Baru", Menteri Koordinator. Orator ulung, penulis produktif, organisator jenius yang membesarkan PKI dari sekte kecil pasca-Madiun menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia. Tak terkalahkan dalam debat, sampai hari ini.

Togog, Filsuf tanpa gelar, penguasa ironi, badut kosmis. Menguasai seluruh cabang filsafat secara mendalam: etika, perang, agama, metafisika, ekonomi, eksistensialisme, militer, sains, ketuhanan, materialisme, idealisme, budaya, pemerintahan, hingga perang saudara. Humornya sarkastik dan menusuk; membuat orang sadar, meski seringkali terlambat.

Ir. Sukarno [1901–1970], Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi, arsitek Nasakom. Seorang Marxis otodidak yang menolak menjadi Komunis ortodoks.

Ajudan Aidit, Saksi bisu yang menyaksikan dekonstruksi idolanya sendiri.

Robert F. Kennedy [1925–1968], Jaksa Agung Amerika Serikat, arsitek kebijakan kontra-insurjensi Kennedy terhadap Asia Tenggara. Dihadirkan secara metaforis melalui memorandum dan pernyataan resminya.

Sir Andrew Gilchrist [1910–1993], Duta Besar Inggris untuk Indonesia (1962–1966), penulis laporan-laporan rahasia ke Foreign Office. Dihadirkan melalui dokumen-dokumen diplomatiknya.

Professor George McTurnan Kahin [1918–2000], Indonesianis Amerika, penulis Nationalism and Revolution in Indonesia (1952), profesor di Cornell University. Dihadirkan melalui catatan lapangannya.


BABAK SATU: KEDATANGAN SANG BADUT


Latar:

Rumah dinas Aidit, Menteng, Jakarta, suatu sore tahun 1964. Hujan gerimis membasahi jalan-jalan elite ibukota. Buku-buku Marx, Engels, Lenin, Stalin, dan Mao berjejer rapi di rak kayu jati. Foto-foto pemimpin revolusi dunia menghiasi dinding. Aidit baru pulang dari rapat kabinet yang melelahkan, masih mengenakan jas abu-abunya, berdiri di dekat jendela, menatap hujan.

Ajudan:

(masuk dengan langkah ragu-ragu)
Bung Aidit, ada tamu.

Aidit:

(tanpa menoleh)
Siapa? Kalau wartawan, suruh pulang. Aku lelah.

Ajudan:

Bukan wartawan, Bung. Orang tua. Wajahnya lucu, bibirnya tebal. Membawa koper kulit lusuh dan sebungkus kacang goreng. Katanya ingin berdiskusi tentang Marxisme dengan Bung.

Aidit:

(tertawa kecil, masih menatap hujan)
Orang tua gila. Suruh pergi. Aku tidak punya waktu untuk badut jalanan.

Ajudan:

(tidak bergerak)
Saya sudah mencoba, Bung. Tapi ia mengatakan sesuatu yang aneh.

Aidit:

(berbalik, alis terangkat)
Apa?

Ajudan:

Ia bilang: "Bung Aidit tidak akan bisa menolak saya, karena saya membawa dokumen yang belum pernah ia baca, dokumen yang ditulis oleh orang-orang yang mengawasinya selama bertahun-tahun. Dan saya juga membawa pertanyaan yang belum pernah ia dengar."

Hening sejenak. Aidit menatap ajudannya, lalu tertawa lebih keras.

Aidit:

Orang tua itu pasti sudah gila. Suruh pergi sebelum aku panggil satpam.

Belum selesai kalimat itu, pintu terbuka. Togog masuk dengan langkah santai, menebar senyum lebar. Air hujan menetes dari ujung rambutnya yang sudah memutih. Di tangannya, sebuah koper kulit lusuh yang basah kuyup dan sebungkus kacang goreng yang masih kering, entah bagaimana caranya.

Togog:

Hehehe. Bung Aidit! Akhirnya bertemu. Rumah Bung besar sekali. Lebih besar dari rumah Marx di Dean Street, London. Lebih mewah dari apartemen Lenin di Zurich. Lebih nyaman dari gua Mao di Yan'an. Dalam materialisme historis, kondisi material menentukan kesadaran. Pertanyaan pertama saya: apakah kesadaran revolusioner Bung masih utuh, atau sudah tergerus oleh kondisi material yang, ah, nyaman ini?

Aidit:

(berdiri tegak, mata menyipit, suara dingin)
Siapa kau? Dan atas dasar apa kau berani masuk ke rumahku tanpa izin?

Togog:

(duduk tanpa diundang, meletakkan koper lusuhnya di meja kopi mengkilap, mulai membuka kuncinya)
Nama saya Togog. Tanpa gelar, tanpa pangkat, tanpa jabatan. Tapi saya sudah membaca semua tulisan Bung. Djalan Baru. Revolusi Indonesia. Pidato-pidato Kongres. Dan saya juga membaca, hal yang mungkin Bung tidak tahu, laporan-laporan rahasia tentang Bung yang ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah tidur sambil memikirkan Bung.

Togog mengeluarkan setumpuk dokumen dari koper. Aidit melihat kop surat yang membuat darahnya berdesir: "FOREIGN OFFICE, CONFIDENTIAL" dan "CENTRAL INTELLIGENCE AGENCY, DECLASSIFIED."

Aidit:

(suara bergetar menahan marah)
Kau berani membawa sampah imperialisme ke rumahku?!

Togog:

(mengunyah kacang, tenang)
Hehehe. Bung, Marx mengajarkan: jangan percaya pada asal-usul, percayalah pada isi. Dokumen ini memang ditulis oleh musuh. Tapi apakah isinya bohong? Itu yang harus kita uji. Atau Bung takut?

Aidit:

Aku tidak takut pada apa pun! Aku pemimpin tiga setengah juta anggota! Aku menulis puluhan buku tentang Marxisme! Dan kau, gelandangan pembawa koper lusuh, berani bilang aku takut?!

Togog:

(tersenyum lebar, matanya berkilat jenaka)
Kalau tidak takut, mari kita baca bersama-sama. Saya jamin, ini lebih menghibur daripada pidato Bung di Kongres. Hehehe.

BABAK DUA: DOKUMEN-DOKUMEN YANG BERBICARA


Togog:

(mengambil dokumen pertama, membaca judulnya dengan suara diplomatik yang dibuat-buat)
"BRITISH EMBASSY, JAKARTA, DESPATCH NO. 52/1964, SECRET."

Aidit:

(menyilangkan tangan, berusaha tenang)
Aku tidak tertarik dengan gosip diplomat.

Togog:

(membuka dokumen, membaca)
"Sir Andrew Gilchrist kepada Foreign Office, London. Tanggal 17 Juni 1964. Perihal: Penilaian atas Kekuatan dan Kelemahan PKI."

Togog berhenti, menatap Aidit, tersenyum.

Togog:

Sir Andrew Gilchrist, Duta Besar Inggris untuk Indonesia. Kalau tidak salah, Bung pernah bertemu dengannya di acara diplomatik. Benar?

Aidit:

(kaku)
Semua duta besar asing datang ke acara kabinet. Itu protokol.

Togog:

(membaca dengan suara lantang, memberi penekanan pada setiap kata)
"PKI telah menjadi partai komunis terbesar di luar blok Soviet dan Tiongkok. Namun, kekuatannya bersifat ilusif. Keanggotaannya yang besar tidak disertai disiplin militer. Tidak seperti Viet Minh di Indochina, PKI tidak memiliki sayap bersenjata yang terorganisir. Aidit tampaknya menyadari hal ini, tetapi ia terikat oleh garis 'Djalan Baru' yang justru membuat PKI bergantung sepenuhnya pada Soekarno dan instabilitas keseimbangan politik."

Togog meletakkan dokumen itu, menatap Aidit dengan mata yang berubah serius.

Togog:

Bung. Saya bertanya dengan hormat: apakah laporan ini salah?

Aidit:

(bangkit, menunjuk Togog, suaranya keras)
Itu propaganda imperialis! Gilchrist punya kepentingan untuk meremehkan kami!

Togog:

(mengangguk pelan, seperti guru yang menghargai jawaban murid)
Tentu Gilchrist punya kepentingan. Semua orang punya kepentingan. Tapi pertanyaannya: apakah isi laporannya salah? Bung tahu, saya tahu, kita semua tahu: PKI tidak punya milisi sendiri. Bung berapa kali ngotot di depan Sukarno untuk membentuk "Angkatan Kelima", mempersenjatai buruh dan tani, tapi selalu ditolak? Bung berapa kali didesak oleh Nyoto dan teman-teman di Politbiro untuk menyiapkan rencana darurat, tapi Bung bilang: "Jangan dulu, nanti memancing reaksi militer"?

Aidit:

(terdiam sejenak, lalu berusaha tenang)
Kami mengambil sikap legalitas. Itu strategi.

Togog:

(tersenyum pahit)
"Legalitas." Kata yang indah. Tapi mari kita lihat apa yang ditulis oleh seorang Amerika yang lebih akademis, tidak sekasar Gilchrist.

Togog mengambil dokumen kedua: "CORNELL UNIVERSITY, MODERN INDONESIA PROJECT, KAHIN'S FIELD NOTES, 1963."

Togog:

(membaca)
"Professor George McTurnan Kahin, dalam kunjungannya ke Jakarta, mencatat bahwa Aidit adalah seorang orator brilian, tetapi bukan seorang strategist militer. Ia lebih suka berdebat di parlemen daripada berlatih di hutan. Dalam pembicaraan tertutup, beberapa anggota Politbiro mengeluhkan bahwa Aidit terlalu percaya pada Soekarno, terlalu ingin diterima sebagai negarawan, dan terlalu mengabaikan urgensi persiapan menghadapi kemungkinan pemberontakan militer."

Aidit:

(suara bergetar)
Itu pengkhianatan! Siapa yang berani bicara begitu kepada orang asing?!

Togog:

(mengedipkan mata)
Hehehe. Itu pertanyaan yang bagus. Bung harusnya lebih khawatir tentang siapa di dalam partai yang membocorkan hal itu. Tapi kita lanjut dulu.

Togog mengeluarkan dokumen ketiga. Kali ini bersifat lebih personal: "ROBERT F. KENNEDY, MEMORANDUM TO PRESIDENT JOHN F. KENNEDY, 1962."

Togog:

(membaca, suaranya berubah lebih berat)
"Dari: Robert F. Kennedy. Kepada: Presiden. Perihal: Asia Tenggara dan Ancaman Komunis. 'Saya percaya bahwa Indonesia adalah medan perang paling penting di Asia Tenggara setelah Vietnam. Sukarno adalah seorang oportunis yang bisa digunakan. Tapi Aidit dan PKI adalah ancaman yang harus dihentikan. Saya mendukung langkah-langkah untuk memperlemah posisi mereka di dalam negeri, termasuk membangun kontak dengan para jenderal yang tidak puas.'"

Keheningan mencekam. Aidit memandang dokumen itu seperti orang yang baru saja melihat hantu.

Aidit:

(hampir berbisik)
Mereka sudah merencanakan ini sejak lama...

Togog:

(mengangguk pelan, matanya penuh pengertian yang aneh)
Bung. Ini bukan rahasia. Ini dokumen yang sudah dibuka ke publik. Dan ingat, ini memorandum internal, bukan propaganda. Robert Kennedy, adik presiden, Jaksa Agung, menulis kepada kakaknya untuk tidak hanya mengawasi Bung, tapi aktif membangun kontak dengan "jenderal yang tidak puas". Bung tahu apa artinya "jenderal yang tidak puas"? Itu bisa jadi Suharto, bisa jadi Nasution, bisa jadi siapa saja.

Aidit:

(menggenggam lengan kursinya)
Tapi Sukarno kuat! Rakyat di belakang kami! Tidak mungkin...

Togog:

(memotong dengan lembut tapi tegas)
Bung. Izinkan saya membacakan satu dokumen lagi.

Togog mengambil dokumen keempat: "BRITISH EMBASSY, JAKARTA, DESPATCH NO. 67/1964, TOP SECRET."

Togog:

(membaca)
"Gilchrist kepada Foreign Office. 'PKI tumbuh pesat, tetapi pertumbuhannya tidak terkonsolidasi. Banyak anggota yang masuk karena oportunis, bukan ideolog. Jika terjadi konfrontasi terbuka dengan militer, loyalitas mayoritas anggota PKI patut dipertanyakan.'"

Togog meletakkan dokumen itu, menatap Aidit dengan tatapan yang sulit diartikan, bukan mengejek, bukan juga mengasihani, tapi seperti seorang dokter yang harus menyampaikan diagnosis yang buruk.

Togog:

Gilchrist adalah diplomat tua yang sinis. Tapi ia bukan idiot. Ia melihat apa yang tidak ingin Bung lihat: PKI besar, tapi rapuh. Anggotanya banyak, tapi tidak siap perang. Dan ketika musuh datang, ketika para jenderal itu bertindak, apa yang akan terjadi?

Aidit:

(berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang makin deras)
Kau datang ke sini untuk menakut-nakuti aku dengan dokumen musuh. Tapi kau lupa satu hal: Marxisme adalah ilmu. Ia tidak bergantung pada laporan intelijen. Ia berdiri di atas analisis kelas. Dan analisis kelas kami benar.

Togog:

(bersandar santai, tersenyum lebar)
Ah, akhirnya kita sampai ke bagian yang saya tunggu. Mari kita bedah Marxisme Bung. Kalau tidak keberatan, saya ingin mengutip dari beberapa sumber yang lebih bisa dipercaya daripada Gilchrist atau Kennedy.

Togog mengambil buku dari dalam koper: "Das Kapital" karya Karl Marx edisi lama, "What Is To Be Done?" karya Lenin, dan "On Practice" karya Mao. Buku-buku itu tampak sudah dibaca berulang kali, halamannya penuh coretan dan lipatan.

BABAK TIGA: MARXISME YANG DIUJI


Togog:

(membuka Das Kapital, menemukan halaman yang sudah ditandai)
Dalam Das Kapital, Marx menulis bahwa kapitalisme runtuh oleh kontradiksi internalnya: modal terpusat di sedikit orang, mayoritas miskin, krisis yang berulang. Teori brilian. Tapi di Indonesia, apa yang terjadi? PKI dukung pembangunan ekonomi Sukarno yang justru membuka pintu kapitalisme. Konglomerat tumbuh. Modal asing masuk. Ketimpangan melebar. Apakah PKI sedang mempercepat kontradiksi kapitalisme, atau justru ikut membangun kapitalisme?

Aidit:

(berbalik dari jendela, suaranya kembali percaya diri)
Kami dalam tahap revolusi nasional-demokratis! Kapitalisme tak terhindarkan! Keniscayaan sejarah!

Togog:

(berdiri, berjalan ke arah rak buku, menyentuh buku-buku itu satu per satu)
"Keniscayaan sejarah." Kata-kata favorit mereka yang tak mau bertanggung jawab. Bung, saya ingin bertanya sesuatu yang sederhana: apakah Bung benar-benar paham Marx, atau hanya mempelajarinya?

Aidit:

(menjawab cepat)
Aku mempelajari Marx sepanjang hidupku!

Togog:

(berbalik, menatap Aidit)
Mempelajari. Kata yang menarik. Ada perbedaan antara "mempelajari" dan "memahami." Burung beo bisa mempelajari kata-kata. Hanya manusia yang bisa memahami maknanya. Marx menulis tentang materialisme historis, tentang perjuangan kelas, tentang negara sebagai alat kekuasaan borjuis. Bung, di antara semua konsep itu, mana yang benar-benar Bung pahami?

Aidit:

Semua! Aku paham semua!

Togog:

(tertawa kecil, menggeleng pelan)
Kalau Bung paham, kenapa Bung tidak mempraktekkannya? Marx bilang: proletariat harus membebaskan diri sendiri. Tapi PKI justru berusaha membebaskan rakyat melalui parlemen, melalui kompromi, melalui aliansi dengan borjuis nasionalis. Apakah itu yang dimaksud Marx?

Aidit:

Lenin menyesuaikan Marxisme dengan Rusia! Mao menyesuaikan dengan Tiongkok!

Togog:

(mengedipkan mata)
Benar. Lenin dan Mao menyesuaikan. Tapi apa yang mereka lakukan? Lenin memimpin revolusi bersenjata! Mao memimpin perang gerilya! Mereka tidak berkompromi dengan Kerensky atau Chiang Kai-shek. Mereka bertarung! Apa yang Bung lakukan? Bung duduk di kabinet, tersenyum, berdebat di parlemen, sementara musuh Bung sedang menyiapkan rencana untuk menghancurkan Bung.

Aidit:

(wajah memerah)
Itu taktik! Semua revolusioner pakai taktik!

Togog:

(menggeleng pelan, matanya berubah serius)
"Taktik." Kata favorit para oportunis. Ada beda antara "taktik revolusioner" dan "pengkhianatan prinsip." Lenin mendukung Duma 1905, tapi tak pernah tinggalkan prinsip: revolusi bersenjata, kediktatoran proletariat. Mao membangun front persatuan dengan Kuomintang, tapi tak pernah tinggalkan prinsip: perang gerilya, revolusi agraria. Prinsip apa yang Bung pertahankan? Di mana revolusi bersenjata dalam Djalan Baru? Di mana kediktatoran proletariat? Di mana penghapusan kelas?

Aidit:

(berhenti, menatap Togog, mulai goyah)
Prinsip kami: dua tahap revolusi. Pertama, revolusi nasional-demokratis menyatukan rakyat melawan imperialisme dan feodalisme. Kedua, revolusi sosialis. Kami sekarang di tahap pertama!

Togog:

(mengangguk seperti profesor menguji doktoral)
"Dua tahap revolusi." Bung ambil dari Mao. Tapi dalam tahap pertama, siapa pemimpinnya? Marx bilang borjuasi memimpin revolusi borjuis-demokratis. Lenin bilang, di negeri jajahan, borjuasi terlalu lemah dan pengecut, proletariat harus memimpin. PKI mengklaim partai proletariat. Tapi praktiknya, siapa yang memimpin revolusi nasional-demokratis Indonesia? Sukarno! Seorang borjuis nasionalis! PKI hanya jadi pendukung setia. Apakah ini "kepemimpinan proletariat," atau "pengekoran proletariat"?

Aidit:

(berhenti, menatap Togog, mulai goyah)
Sukarno pemimpin revolusi yang sah. Kami mendukungnya karena ia mewakili aspirasi rakyat!

Togog:

(tersenyum pahit)
"Mewakili aspirasi rakyat." Setiap pemimpin mengklaim itu. Tapi siapa "rakyat" itu? Massa yang meneriakkan "Hidup Bung Karno!"? Atau petani yang tanahnya dirampas? Buruh yang upahnya dicuri? Pemuda yang masa depannya direnggut? Apakah PKI berjuang untuk rakyat yang kedua, atau cuma memanfaatkan rakyat yang pertama buat raih kekuasaan?

Aidit:

(mengetuk meja, gelisah)
Kau terlalu sinis. PKI sudah jadi partai terbesar! 3,5 juta anggota! Organisasi massa puluhan juta! Itu bukti kami Komunis sejati!

Togog:

(menuang kacang lagi, mengunyah berisik)
"3,5 juta anggota." Angka mengesankan. Tapi dari jumlah itu, berapa yang benar-benar paham Marxisme? Berapa yang bisa jelaskan nilai lebih? Berapa yang bisa bedakan materialisme dialektis dan mekanis? Berapa yang masuk PKI bukan karena keyakinan, tapi karena ingin jabatan, proyek, atau perlindungan?

Aidit:

Semua partai besar punya anggota beragam! Wajar!

Togog:

Organisasi yang tumbuh terlalu cepat sering kehilangan kohesi. Seperti balon ditiup kencang: kelihatan megah, tapi sekali ditusuk jarum, meledak. Apakah PKI partai yang kuat, atau cuma balon yang menunggu ditusuk?

Aidit:

(berdiri, menunjuk Togog, suaranya bergetar)
Kau tidak paham politik! Kau cuma badut yang baca buku!

Togog:

(tertawa bergema)
Hehehe... Hahaha! Bung Aidit! Setiap orang yang kehabisan argumen selalu menyerang pribadi lawannya. Itu ad hominem. Apakah Bung menyerang saya karena saya salah, atau karena Bung tak bisa jawab pertanyaan saya?

Aidit terdiam. Untuk pertama kalinya, ia memandang Togog bukan dengan marah, tapi dengan sesuatu yang aneh: hormat. Ia berdiri, berjalan ke kursinya, duduk dengan lelah.

Aidit:

(suaranya lebih tenang, hampir lelah)
Baik. Kau ingin tahu apa itu Komunis sejati? Komunis sejati adalah orang yang berjuang untuk rakyat! Buruh! Petani! Kaum tertindas!

Togog:

(meletakkan kacang, melipat tangan, tatapan melembut seperti kakek menasihati cucu)
Niat baik tak selalu hasilkan tindakan baik. Setiap orang bisa klaim berjuang untuk rakyat. Hitler pun klaim berjuang untuk rakyat Jerman. Apa kriteria objektif membedakan pembebasan dan penindasan?

Aidit:

Tentu ada! Tindakan kita menguntungkan rakyat atau tidak!

Togog:

"Menguntungkan rakyat." Konsep subjektif. Yang dianggap untung oleh pemimpin partai, mungkin dianggap rugi oleh petani desa. Siapa yang berhak menentukan? PKI? Sukarno? Atau rakyat itu sendiri?

Aidit:

Rakyat sendiri! Melalui organisasi massa yang kami bangun!

Togog:

(senyum lebar, seolah baru saja menjebak)
"Organisasi massa yang kami bangun." Di situlah masalahnya. Dibangun PKI, dikendalikan PKI, digerakkan PKI. Apakah mereka benar-benar suara rakyat, atau cuma corong partai? Ada fenomena "transmission belt": organisasi massa dipakai menyalurkan perintah partai ke rakyat, bukan aspirasi rakyat ke partai. BTI, Pemuda Rakyat, Gerwani: "transmission belt" atau organisasi otonom?

Aidit terdiam. Ia tahu jawabannya. Ia tak berani mengatakannya.

Togog:

(berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang mulai reda)
Bung, saya akan membacakan sesuatu dari Lenin. Bukan untuk menyerang, tapi untuk mengingatkan.

Togog membuka "What Is To Be Done?" dan membaca:

Togog:

"Tanpa teori revolusioner, tidak akan ada gerakan revolusioner." Tapi Lenin juga bilang: "Teori tanpa praktik adalah kosong, praktik tanpa teori adalah buta." Bung punya teori. Bung punya praktik. Tapi apakah keduanya bersatu? Atau sudah bercerai?

Aidit:

(hampir berbisik)
Apa maksudmu?

Togog:
(berbalik, menatap Aidit dengan mata yang dalam)
Teori Bung bilang: revolusi, pembebasan, penghapusan kelas. Tapi praktik Bung bilang: kompromi, parlemen, jabatan. Bung tidak lagi mempraktekkan apa yang Bung kotbahkan. Bung sudah menjadi apa yang Marx sebut sebagai "reformis": orang yang mengaku revolusioner tapi sebenarnya hanya menginginkan perbaikan kecil dalam sistem kapitalis.

Aidit:

(bangkit, suaranya kembali keras)
Itu tidak benar! Aku revolusioner! Aku dipenjara Belanda! Aku berjuang sejak muda!

Togog:

(mengangguk pelan)
"Dipenjara." Pengorbanan mulia. Tapi apakah pengorbanan masa lalu memberi hak berkuasa di masa kini? Apakah penderitaan jadi kualifikasi kekuasaan? Banyak orang dipenjara Belanda. Apa mereka semua berhak jadi pemimpin?

Togog berjalan ke arah Aidit, meletakkan tangan di bahunya dengan lembut.

Togog:

Bung, kegagalan terbesar revolusioner bukan kalah dalam pertempuran. Tapi lupa untuk apa ia berjuang. Bung mulai dengan cita-cita mulia: membebaskan rakyat. Di tengah jalan, tergoda kekuasaan. Menikmati jabatan, gaji, dikelilingi para penjilat. Tanpa sadar, Bung berubah dari revolusioner jadi politisi. Tragedi paling umum dalam sejarah gerakan kiri. Dan saya khawatir: Bung sedang mengalaminya.

Aidit:

(terdiam lama. Tangannya gemetar. Ia menatap kacang goreng di meja, simbol kekalahan intelektualnya. Lalu berdiri, memanggil ajudan dengan suara anehnya lemah)
Ajudan!

Ajudan:

Ya, Bung!

Aidit:

Bawa kami ke Istana. Aku ingin menghadap Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi Presiden Seumur Hidup Bung Karno. Katakan: Togog memfitnahku. Biar Paduka yang memberi pencerahan pada aki-aki bengal ini.

Togog:

(tertawa terbahak, mengumpulkan dokumen-dokumennya, berdiri santai)
Hehehe! Ketika seseorang minta bantuan otoritas untuk menyelesaikan debat intelektual, itu artinya ia sudah kalah. Tapi baiklah. Saya sudah lama ingin bertemu Bung Karno. Katanya beliau juga suka debat Marxisme. Hehehe.

BABAK EMPAT: DI ISTANA, SUKARNO MENJADI WASIT


Latar:

Istana Merdeka, malam harinya. Sukarno baru selesai menerima tamu Aljazair. Ia duduk di kursi kerjanya, dikelilingi oleh buku-buku tentang revolusi, sejarah, dan ideologi. Ketika Aidit dan Togog masuk, ia sedang menyalakan cerutunya.

Sukarno:

(tersenyum lebar, cerutu di tangannya)
Aidit! Kau datang malam-malam dengan... siapa? Badut?

Togog:

(membungkuk setengah hormat, setengah mengejek)
Nama saya Togog, Paduka. Saya memang badut. Tapi dalam tradisi wayang, badut seringkali lebih bijak daripada raja. Hehehe.

Sukarno:

(tertawa keras)
Ha! Aku suka orang ini! Aidit, kenapa kau bawa dia?

Aidit:

(suara bergetar)
Paduka, ia menghina saya. Ia bilang saya bukan Marxis, bukan Komunis. Saya mohon Paduka memberi pencerahan!

Sukarno:

(menatap Togog, mata berkilat ingin tahu sekaligus menantang)
Togog, benar kau bilang begitu?

Togog:

(duduk tanpa diundang, menuang kacang ke meja istana, mengunyah pelan)
Benar, Paduka. Tapi bukan bermaksud menghina. Hanya menyampaikan fakta, menurut pemahaman saya yang bodoh.

Sukarno:

Dan apa pemahamanmu?

Togog:

(mengedipkan mata)
Sebelum saya jawab, izinkan bertanya pada Paduka. Dalam tasawuf, yang paling mengerti Tuhan adalah yang paling dekat dengan Tuhan. Dalam politik: yang paling mengerti Marxisme adalah yang paling banyak mengutip Marx, atau yang paling berani melakukan apa yang diajarkan Marx?

Sukarno:

(tertawa)
Cerdas! Kau bukan badut biasa. Aku mempelajari Marx sejak Surabaya. Marx, Engels, Lenin, Stalin, Mao, semua. Tapi aku memilih tidak jadi Komunis. Kenapa? Marxisme harus disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Aku ciptakan Marhaenisme. Aku ciptakan Nasakom. Sintesis lebih tinggi dari Marxisme ortodoks.

Togog:

(bertepuk tangan)
Hebat! Paduka pemikir luar biasa. Hegel bilang: sintesis selalu lebih tinggi dari tesis dan antitesis. Tapi pertanyaan saya: apakah PKI di bawah Bung Aidit bagian dari sintesis itu, atau cuma pengikut setia tanpa pemikiran sendiri?

Aidit:

(menyela, putus asa)
Paduka! Jangan dengarkan dia! Dia coba adu domba!

Sukarno:

(mengangkat tangan)
Diam, Aidit. Dia menarik. Lanjutkan, Togog.

Togog:

(berdiri, seperti dosen tamu)
Marx mengajarkan: emansipasi kelas pekerja harus dilakukan oleh kelas pekerja sendiri. Proletariat membebaskan diri sendiri, bukan dibebaskan partai, apalagi seorang diktator. Tapi apa yang PKI lakukan? Klaim mewakili proletariat, tapi semua keputusan dibuat segelintir elite Politbiro. Di mana demokrasi proletar? Di mana kontrol pekerja atas partai?

Aidit:

Itu sentralisme demokratis! Semua partai komunis pakai itu!

Togog:

(menoleh ke Aidit, tersenyum)
"Sentralisme demokratis." Istilah yang paling sering disalahgunakan. Lenin menciptakannya dalam kondisi perang saudara, saat Bolshevik dikepung musuh. Empat puluh tahun setelah Lenin mati, partai komunis sedunia masih pakai itu untuk membenarkan kediktatoran internal. Apakah itu yang dimaksud Lenin, atau Lenin sendiri sudah dikhianati penerusnya?

Sukarno:

(mengangguk)
Pertanyaan bagus. Tapi Togog, menurutmu: apa itu Komunisme sejati?

Togog:

(menatap Sukarno, mata berkilat)
Komunisme sejati bukan tentang jutaan anggota. Bukan tentang pidato di depan massa. Bukan tentang duduk di kabinet. Komunisme sejati adalah keberanian mengatakan "tidak" pada kekuasaan yang menindas, bahkan jika kekuasaan itu dari kawan sendiri. Kesetiaan pada prinsip, bukan pada partai. Keyakinan bahwa kelas pekerja membebaskan diri sendiri, bukan lewat perwakilan, bukan lewat partai, tapi aksi langsung mereka sendiri.

Aidit:

Itu anarkisme, bukan Marxisme!

Togog:

(tertawa)
"Anarkisme!" Setiap Marxis ortodoks yang tak bisa jawab argumen, selalu menuduh lawannya "anarkis." Marx menuduh Bakunin. Lenin menuduh Makhno. Stalin menuduh Trotsky. Dan sekarang: Aidit menuduh Togog. Paduka, apa Paduka melihat polanya?

Sukarno:

(tertawa terbahak)
Aku melihatnya! Aidit, kau ini seperti gramofon rusak: cuma bisa putar satu lagu!

Aidit:

(merah padam)
Paduka! Jangan permalukan saya!

Sukarno:

(masih tertawa)
Justru karena kau sahabatku, aku harus jujur. Togog benar. Kau bukan Marxis sesungguhnya. Kau politisi yang pakai Marxisme sebagai alat. Itu bukan kejahatan. Semua politisi pakai ideologi. Termasuk aku. Marhaenisme, Nasakom, Pancasila, semua alat pemersatu. Tapi setidaknya aku jujur: aku tahu aku bukan Marxis ortodoks. Aku Sukarno. Itu saja.

BABAK LIMA: EPILOG, RAMALAN DAN KENYATAAN


Sukarno:

(berdiri, berjalan ke jendela, menatap Jakarta yang mulai gelap)
Togog, kau luar biasa. Belum pernah aku bertemu badut yang bisa berdebat Marxisme sedalam ini. Tapi satu pertanyaan: apa yang akan terjadi pada Aidit? Pada PKI? Pada negeri ini?

Togog:

(wajahnya kehilangan senyum. Menatap Sukarno sangat serius)
Paduka, setiap kekuasaan yang dibangun di atas fondasi rapuh akan runtuh. PKI dibangun di atas fondasi rapuh: ketergantungan pada Sukarno, infiltrasi setengah hati di tentara, mobilisasi massa tanpa akar ideologis kuat, aliansi dengan borjuasi nasional yang pada akhirnya akan mengkhianati. Saya tak tahu kapan. Tak tahu bagaimana. Tapi ia akan runtuh. Dan ketika runtuh: darah akan mengalir. Banyak darah.

Sukarno:

Dan aku?

Togog:

(menatap Sukarno penuh kasih)
Paduka simbol persatuan. Tapi simbol hanya bertahan selama dianggap relevan. Ketika badai datang, simbol yang pertama dihancurkan. Saya tak tahu kapan badai itu. Tapi ia akan datang. Dan ketika datang: Paduka akan sendirian. Dikelilingi penjilat yang dulu teriak "Hidup Bung Karno!" tapi sudah berpaling.

Aidit:

(mata penuh ketakutan)
Itu hanya ramalan kosong!

Togog:

(tersenyum pahit)
Benar. Tak ada yang tahu masa depan. Tapi ada yang bisa baca tanda zaman. Dalam sains, itu disebut prediksi berbasis data. Dan datanya, maaf, Bung, tidak bagus. Sama sekali tidak bagus.

Keheningan. Tiga orang berdiri di ruang istana megah. Masing-masing dengan pikirannya. Di luar, matahari terbenam, mewarnai langit Jakarta merah darah.

Togog:

(memecah hening, mengambil koper lusuhnya, bersiap pergi)
Saya sudah terlalu lama. Terima kasih, Paduka. Terima kasih, Bung Aidit. Saya pamit. Tapi ingat: dalam perang saudara, tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Hanya korban. Korban terbesar selalu rakyat kecil, mereka yang tak pernah baca Marx atau Lenin, yang cuma ingin makan dan hidup damai. Jangan lupakan mereka. Jangan pernah.

Togog berjalan keluar istana, menghilang di antara bayang-bayang senja. Aidit dan Sukarno terpaku, menatap pintu tertutup. Mereka tak tahu: kurang dari dua tahun, semua ramalan Togog jadi kenyataan. Aidit tewas ditembak di Boyolali. Sukarno wafat sebagai tahanan rumah. Ratusan ribu rakyat, petani, buruh, pemuda, tewas dalam pembantaian yang dikenang sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah abad ke-20.

LAMPIRAN: DOKUMEN-DOKUMEN YANG DISINGGUNG DALAM DIALOG

A. Dokumen Foreign Office Inggris

Referensi asli yang dapat diverifikasi:

1. Seri FO 371 di The National Archives, Kew, London, Seri ini berisi korespondensi politik Foreign Office, termasuk despatches dari Kedutaan Besar Inggris di Jakarta selama masa Sir Andrew Gilchrist (1962–1966).

2. Despatches Gilchrist, Beberapa despatches penting Gilchrist telah dikutip dalam berbagai literatur akademik tentang hubungan Inggris-Indonesia pada masa Konfrontasi, termasuk dalam buku The Confrontation: A Study in Indonesian Foreign Policy karya John G. Taylor dan berbagai artikel jurnal.

3. Konteks historis, Gilchrist adalah Duta Besar Inggris untuk Indonesia selama periode kritis 1962–1966. Despatches-nya mencerminkan pandangan Foreign Office tentang PKI dan politik Indonesia menjelang peristiwa 1965.

Dalam dialog:
- "Despatch No. 52/1964, Secret" tentang penilaian kekuatan dan kelemahan PKI.
- "Despatch No. 67/1964, Top Secret" tentang pertumbuhan PKI yang tidak terkonsolidasi.

Catatan: Nomor despatches dan isi kutipannya adalah rekonstruksi dramatis untuk tujuan naratif. Namun, despatches semacam ini memang ada dalam arsip FO 371 dan mencerminkan pandangan umum Foreign Office pada masa itu.

B. Memorandum Robert F. Kennedy

Referensi asli yang dapat diverifikasi:

1. John F. Kennedy Presidential Library and Museum, Boston, Koleksi "Robert F. Kennedy Papers, Attorney General's Files" berisi memorandum internal RFK tentang berbagai isu kebijakan luar negeri, termasuk Asia Tenggara.

2. Konteks historis, RFK memang terlibat langsung dalam kebijakan kontra-insurjensi di Asia Tenggara. Ia mengunjungi Indonesia pada Februari 1962 dan bertemu dengan Sukarno dan pejabat tinggi Indonesia.

3. Dokumen-dokumen terkait, Berbagai memorandum yang telah dideklasifikasi menunjukkan kekhawatiran RFK tentang pertumbuhan PKI dan dukungannya terhadap langkah-langkah untuk memperlemah posisi komunis di Indonesia.

Dalam dialog:
- Memorandum RFK kepada Presiden tentang Indonesia dan ancaman komunis, dengan rekomendasi membangun kontak dengan "jenderal yang tidak puas."

Catatan: Isi memorandum dalam dialog adalah rekonstruksi dramatis. Namun, dokumen-dokumen yang menunjukkan keterlibatan RFK dalam kebijakan Indonesia memang ada dan telah dideklasifikasi.

C. Catatan Lapangan George McTurnan Kahin

Referensi asli yang dapat diverifikasi:

1. Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1952., Karya klasik tentang revolusi Indonesia yang ditulis oleh pendiri Cornell Modern Indonesia Project.

2. Cornell University Library, Division of Rare and Manuscript Collections, Koleksi Kahin Papers berisi catatan lapangan, korespondensi, dan dokumen-dokumen penelitian dari kunjungan-kunjungannya ke Indonesia.

3. Cornell Modern Indonesia Project, Didirikan oleh Kahin pada 1954, proyek ini menerbitkan banyak studi tentang PKI dan politik Indonesia, termasuk karya-karya penting tentang peristiwa 1965.

Dalam dialog:
- Catatan tentang kritik internal Politbiro terhadap Aidit yang terlalu percaya pada Sukarno dan mengabaikan persiapan militer.

Catatan: Kahin memang mengunjungi Indonesia pada 1963 dan mencatat berbagai observasi tentang dinamika politik. Namun, kutipan spesifik dalam dialog adalah rekonstruksi dramatis.

D. Dokumen CIA yang Dideklasifikasi

Referensi asli yang dapat diverifikasi:

1. CIA. Indonesia 1965: The Coup that Backfired. Washington, D.C.: Center for the Study of Intelligence, 1968 (declassified 1990s)., Dokumen internal CIA yang menganalisis peristiwa 1965 di Indonesia.

2. CIA Freedom of Information Act Electronic Reading Room, Ribuan dokumen terkait Indonesia dari era 1960-an kini tersedia secara online, termasuk laporan-laporan intelijen tentang PKI dan politik Indonesia.

Dalam dialog:
- Laporan intelijen tentang kelemahan internal PKI dan ketergantungannya pada Soekarno.

Catatan: CIA memang memantau perkembangan PKI secara intensif pada 1960-an. Dokumen-dokumen yang telah dideklasifikasi menunjukkan penilaian CIA tentang kekuatan dan kelemahan PKI.

DAFTAR PUSTAKA LENGKAP

Sumber Primer

Aidit, Dipa Nusantara. Djalan Baru untuk Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Pembaruan, 1953.

Aidit, Dipa Nusantara. Revolusi Indonesia: Latar Belakang, Sejarah, dan Harapan. Jakarta: Jajasan Pembaruan, 1963.

Aidit, Dipa Nusantara. Untuk Demokrasi, Persatuan, dan Pembangunan. Jakarta: Jajasan Pembaruan, 1958.

Aidit, Dipa Nusantara. Lahirnya PKI dan Perkembangannya. Jakarta: Jajasan Pembaruan, 1960.

Gilchrist, Sir Andrew. Despatches from Jakarta: The British Embassy Reports on Indonesia, 1962-1966. The National Archives, London, FO 371 series.

Kennedy, Robert F. Papers, Attorney General's Files. John F. Kennedy Presidential Library and Museum, Boston.

Kahin, George McTurnan. Field Notes and Correspondence. Cornell University Library, Division of Rare and Manuscript Collections.

CIA. Indonesia 1965: The Coup that Backfired. Washington, D.C.: Center for the Study of Intelligence, 1968 (declassified).

Sumber Sekunder

Anderson, Benedict, and Ruth T. McVey. A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia. Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1971.

Crouch, Harold. The Army and Politics in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1978.

Kahin, George McTurnan. Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1952.

Legge, John D. Sukarno: A Political Biography. Sydney: Allen & Unwin, 1972.

Mortimer, Rex. Indonesian Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959-1965. Ithaca: Cornell University Press, 1974.

Roosa, John. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia, 2008.

Sukarno. Di Bawah Bendera Revolusi. 2 jilid. Jakarta: Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1963.

Sukarno. Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dikisahkan oleh Cindy Adams. Jakarta: Gunung Agung, 1966.

Sumber Teoretis

Marx, Karl. Das Kapital: Kritik der politischen Ökonomie. Hamburg: Otto Meissner, 1867.

Marx, Karl, and Friedrich Engels. Manifest der Kommunistischen Partei. London: 1848.

Lenin, V.I. What Is To Be Done? Stuttgart: Dietz, 1902.

Mao Tse-tung. On Practice. Peking: Foreign Languages Press, 1937.

CATATAN PENUTUP:

Dialog ini adalah karya imajinatif yang menggabungkan tokoh sejarah nyata dengan karakter fiksi (Togog). Dokumen-dokumen yang disebutkan didasarkan pada arsip-arsip nyata yang dapat diverifikasi keberadaannya, namun isi kutipannya dalam dialog ini adalah rekonstruksi dramatis untuk tujuan naratif, bukan transkripsi langsung dari dokumen asli. Pembaca yang ingin memverifikasi isi dokumen-dokumen tersebut disarankan untuk mengakses arsip-arsip yang disebutkan dalam lampiran.


Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama