Setiap kali nama Dipa Nusantara Aidit disebut, yang muncul dalam bayangan hampir semua orang Indonesia adalah seorang laki-laki tanpa peci hitam, berjas sederhana, berdiri di podium dengan tangan terkepal. Ketua CC-PKI. Ialah arsitek kebangkitan partai komunis terbesar ketiga di dunia. Dalang Gerakan 30 September, begitu kata rezim Orde Baru selama tiga dekade. Pemberontak. Pengkhianat. Mayat tanpa kubur.
Tetapi di sebuah rumah kecil di Jalan Pegangsaan Barat, Jakarta, pada suatu malam di tahun 1958, laki-laki tanpa peci hitam itu sedang berlutut di samping ranjang putri bungsunya, mendongengkan kisah Si Kancil. Suaranya pelan, matanya redup oleh kelelahan setelah dua belas jam rapat partai. Putrinya, Irma, enam tahun, tertidur sebelum dongeng selesai. Aidit tidak segera berdiri. Ia tetap berlutut, menatap wajah anaknya, dan, menurut kesaksian istrinya yang melihat dari ambang pintu, menangis tanpa suara.
"Kenapa kau menangis?" tanya Zubaida kemudian, setelah mereka berdua di kamar.
"Aku takut," jawab Aidit. "Aku takut anak-anak kita akan membayar semua yang kulakukan."
Zubaida tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu bahwa di balik pidato-pidato yang menggelegar dan analisis-analisis Marxis yang tajam, suaminya menyimpan ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005, hlm. 34-38)
Tulisan ini adalah ikhtiar untuk merekonstruksi kehidupan keluarga yang ditinggalkan oleh Aidit, bukan sebagai monumen sejarah, bukan sebagai catatan kaki dalam buku-buku teks, melainkan sebagai manusia. Sebagai seorang istri yang menunggu suaminya pulang selama 45 tahun dan tidak pernah mendapat jawaban. Sebagai anak-anak yang tumbuh dengan nama yang lebih menyerupai kutukan daripada warisan. Sebagai cucu-cucu yang harus belajar mencintai seorang kakek yang tidak pernah mereka temui, melalui foto-foto usang dan bisikan-bisikan yang penuh rasa takut.
Zubaida tumbuh sebagai anak perempuan yang pendiam, rajin, dan patuh. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) di Bukittinggi, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam, pilihan yang tidak lazim untuk anak perempuan pada masa itu. Ia ingin menjadi guru. "Saya ingin mengajar anak-anak," kenangnya dalam sebuah wawancara pada tahun 2005, ketika ia sudah berusia 80 tahun. "Saya tidak pernah bercita-cita menjadi istri politisi. Cita-cita saya sederhana: sekolah, mengajar, menikah dengan orang biasa, punya anak, dan hidup tenang. Tapi takdir berkata lain." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 36)
Takdir itu bernama Dipa Nusantara Aidit. Mereka bertemu pada tahun 1942, di sebuah acara pengajian di Jakarta, sebuah pertemuan yang tampaknya tidak disengaja, tapi kemudian diketahui diatur oleh seorang kawan. Aidit saat itu berusia 19 tahun, baru saja keluar dari penjara kolonial, dan sudah menjadi buronan politik. Ia tampan, semua saksi mata menggambarkannya demikian, dengan mata yang tajam dan senyum yang sulit ditolak.
"Saya tidak tahu dia komunis," kata Zubaida. "Dia berpakaian rapi, sopan, bisa mengaji. Dia bahkan ikut shalat Maghrib berjamaah. Bagaimana saya bisa tahu? Orang tuanya dari Sumatera, sama seperti saya. Dia berbicara bahasa Minang dengan fasih. Saya pikir dia hanya pemuda biasa yang merantau ke Jakarta." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 37)
Mereka menikah pada tahun 1943, di tengah-tengah pendudukan Jepang. Upacara pernikahannya sederhana, hanya dihadiri oleh segelintir kawan dekat dan keluarga. Tidak ada pesta besar. Tidak ada dekorasi mewah. Aidit, yang saat itu sudah menjadi buronan, tidak bisa mengundang banyak orang. Zubaida, yang saat itu berusia 18 tahun, mengenakan kebaya putih sederhana, bukan kebaya pengantin yang gemerlap.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya," kenang Zubaida. "Saya hanya tahu bahwa saya mencintainya. Itu saja cukup."
"Saya tidak mengeluh," katanya. "Saya tahu apa yang dia lakukan adalah untuk sesuatu yang lebih besar. Tapi kadang-kadang, ketika malam tiba dan hujan turun, saya menangis sendirian. Saya takut. Saya takut polisi Jepang akan menangkapnya. Saya takut dia akan mati dan saya tidak akan tahu." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Kompas, "Istri-Istri yang Terlupakan," 12 Juni 1998, hlm. 12)
Anak pertama mereka, Ilham Aidit, lahir pada tahun 1944, di sebuah rumah sakit kecil di Jakarta yang sekarang sudah tidak ada. Aidit tidak hadir saat kelahirannya, ia sedang dalam perjalanan ke Jawa Timur untuk misi partai. Zubaida melahirkan sendirian, ditemani oleh seorang tetangga yang iba melihatnya.
Ketika Aidit akhirnya pulang seminggu kemudian, ia langsung menuju ke kamar dan menggendong bayinya dengan hati-hati, canggung, seperti semua ayah baru. "Dia menangis," kenang Zubaida. "Dia menangis sambil menggendong Ilham. Saya tidak pernah melihatnya menangis sebelumnya. Dia berbisik kepada bayinya, 'Maafkan Bapak. Bapak tidak bisa selalu ada untukmu. Tapi Bapak melakukan ini semua untukmu. Untuk masa depanmu.'" (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 38)
"Saya ingat," kenang Ilham dalam sebuah wawancara pada tahun 2010, "Bapak selalu menyuruh saya membaca. Setiap kali dia pulang, yang jarang terjadi, dia akan bertanya, 'Apa yang kau baca minggu ini?' Saya akan menyebutkan buku-buku yang saya baca, buku cerita, buku pelajaran. Dia akan tersenyum dan berkata, 'Bagus. Teruslah membaca. Pengetahuan adalah senjata yang paling ampuh.'" (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Anak-Anak Aidit: Kami Bukan Musuh Negara," 3 Oktober 2010, hlm. 42)
Aidit tidak pernah memaksakan ideologi Marxis kepada anak-anaknya, sebuah fakta yang sering diabaikan oleh para penulis sejarah. Ia menginginkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang luas, bukan indoktrinasi yang sempit. Ilham disekolahkan di sekolah umum, bukan sekolah partai. Ketika ia lulus SMA, ia mendaftar ke Institut Teknologi Bandung, mengambil jurusan teknik mesin, sebuah pilihan yang sama sekali tidak berbau politik.
"Bapak tidak pernah menyuruh saya menjadi politisi," kata Ilham. "Dia malah menyuruh saya menjadi insinyur. Dia bilang, 'Revolusi membutuhkan jembatan, gedung, dan mesin. Itu sama pentingnya dengan pidato.' Saya pikir itu adalah caranya melindungi saya. Dia tidak ingin saya mengikuti jejaknya, terlalu berbahaya." (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, 2010, hlm. 44)
Irfan Aidit (1946–1960) anak kedua Aidit, ibarat bunga yang layu sebelum mekar. Anak kedua Aidit, Irfan, lahir pada tahun 1946, tahun yang penuh gejolak, ketika revolusi kemerdekaan sedang mencapai puncaknya. Aidit, yang saat itu sedang membangun kembali PKI dari puing-puing Madiun, hampir tidak pernah di rumah pada tahun-tahun pertama kehidupan Irfan.
Irfan tumbuh sebagai anak yang pendiam dan sensitif, sangat berbeda dari Ilham yang ceria dan penuh energi. Ia lebih suka duduk di sudut dengan buku gambar dan pensil warna, menggambar pemandangan atau potret keluarganya. "Dia adalah seniman di antara kami," kenang Iwan, adiknya. "Dia bisa duduk berjam-jam hanya untuk menggambar seekor burung. Karya-karyanya indah. Saya masih menyimpan beberapa gambarnya sampai sekarang." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, edisi khusus "Keluarga Korban '65," 20 September 2015, hlm. 56)
Tetapi Irfan juga anak yang sakit-sakitan. Ia menderita penyakit paru-paru kronis, mungkin akibat kondisi rumah yang lembap dan kurang ventilasi, atau mungkin karena malnutrisi pada masa bayi. Pada tahun 1960, ketika usianya baru 14 tahun, Irfan meninggal dunia.
Kematian Irfan adalah pukulan yang sangat berat bagi Aidit, sebuah luka yang tidak pernah ia tunjukkan di depan publik. "Saya tidak pernah melihat Bapak menangis," kenang Ilham. "Tetapi pada hari Irfan dimakamkan, Bapak berdiri di samping kuburannya, sendirian, setelah semua orang pergi. Saya bersembunyi di balik pohon dan melihatnya. Dia tidak menangis. Dia hanya berdiri di sana, diam, selama hampir satu jam. Lalu dia pergi, dan tidak pernah membicarakan Irfan lagi." (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, 2010, hlm. 46)
Iwan Aidit (lahir 1948) adalah anak ketiga sekaligus anak yang paling marah. Iwan lahir pada tahun 1948, tahun yang sama dengan meletusnya Peristiwa Madiun, yang menghancurkan PKI untuk sementara waktu. Ia adalah anak yang paling keras kepala di antara semua bersaudara, paling sering bertengkar dengan ayahnya, dan paling vokal dalam mengungkapkan ketidakpuasannya.
"Saya tidak seperti Ilham yang selalu patuh," kata Iwan dalam sebuah wawancara pada tahun 2015. "Saya sering bertengkar dengan Bapak. Saya bertanya, 'Kenapa Bapak tidak pernah di rumah? Kenapa Ibu selalu sendirian? Kenapa kami tidak bisa hidup seperti keluarga normal?' Bapak tidak pernah marah. Dia hanya diam, lalu berkata, 'Suatu hari kau akan mengerti.' Saya tidak mengerti waktu itu. Sekarang, setelah semuanya terjadi, saya mengerti. Tapi saya masih marah. Bukan pada Bapak, tapi pada dunia yang mengambilnya dari kami." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 58)
Iwan adalah anak yang paling menderita setelah 1965. Sebagai anak ketiga, ia masih remaja ketika tragedi terjadi, terlalu besar untuk tidak mengerti, terlalu kecil untuk berbuat apa-apa. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah mereka digeledah, bagaimana ibunya diinterogasi, bagaimana teman-teman sekolahnya tiba-tiba berubah menjadi musuh.
"Saya ingat," katanya, "seorang teman yang dulu selalu duduk di sebelah saya di kelas tiba-tiba berkata, 'Bapakmu pembunuh. Bapakmu membunuh para jenderal.' Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya hanya bisa menangis. Setelah itu, saya tidak pernah kembali ke sekolah itu." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 60)
Ira Aidit (lahir 1950), anak keempat sekaligus putri pertama yang terpaksa dewasa sebelum waktunya. Ira adalah putri pertama Aidit, lahir pada tahun 1950. Sebagai anak perempuan tertua, ia menanggung beban yang berbeda dari kakak-kakak laki-lakinya. Ketika tragedi 1965 terjadi dan keluarga mereka hancur, Ira-lah yang paling sering membantu ibunya, memasak, membersihkan rumah, mengasuh adik-adiknya.
"Saya tidak punya masa remaja," kenang Ira dalam sebuah wawancara yang sangat langka, salah satu dari sedikit kali ia berbicara kepada media. "Ketika teman-teman saya pergi ke pesta, saya di rumah mencuci pakaian. Ketika mereka belajar untuk ujian, saya di dapur memasak untuk adik-adik saya. Saya tidak mengeluh. Saya tahu Ibu sudah cukup menderita. Saya tidak ingin menambah bebannya." (Ira Aidit, wawancara dengan Kompas, "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 28 September 2003, hlm. 22)
Ira tidak pernah kuliah, sebuah fakta yang masih membuatnya sedih hingga hari ini. "Saya ingin menjadi perawat," katanya. "Saya selalu ingin membantu orang sakit. Tapi setelah 1965, tidak ada uang untuk kuliah. Bahkan untuk makan saja susah. Jadi saya mengubur mimpi itu dalam-dalam."
Ia menikah muda, pada usia 20 tahun, dengan seorang laki-laki biasa yang bukan dari kalangan politik. Suaminya tahu tentang latar belakang keluarganya, tapi tidak peduli. "Dia mencintai saya apa adanya," kata Ira. "Itu adalah anugerah terbesar dalam hidup saya." (Ira Aidit, wawancara dengan Kompas, 2003, hlm. 24)
Irma Aidit (lahir 1952) anak kelima adalah saksi bisu yang memilih diam. Irma adalah anak kelima, lahir pada tahun 1952. Di antara semua anak Aidit, Irma adalah yang paling misterius, paling jarang muncul di media, paling sedikit memberikan wawancara, paling tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Saya hanya ingin hidup tenang," katanya singkat dalam satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan, kepada Tempo pada tahun 2005. "Saya sudah cukup menderita. Saya tidak ingin mengingat-ingat lagi. Biarlah masa lalu tetap menjadi masa lalu." (Irma Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 40)
Irma menikah dengan seorang pengusaha kecil dan tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, jauh dari Jakarta, jauh dari hiruk-pikuk politik, jauh dari segala sesuatu yang mengingatkannya pada nama yang dibawanya. Ia memiliki dua orang anak, yang keduanya tidak mengetahui, setidaknya sampai mereka remaja, siapa kakek mereka sebenarnya.
"Saya tidak memberitahu mereka," kata Irma. "Saya ingin mereka tumbuh normal. Tanpa stigma. Tanpa ketakutan. Tanpa harus merasa malu atau bangga pada nama yang bahkan tidak mereka kenal. Saya pikir itu adalah hak mereka." (Irma Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 41)
Ibar Aidit (lahir 1955) anak keenam adalah sang bungsu yang paling berani. Ibar adalah anak bungsu Aidit, lahir pada tahun 1955. Namanya, yang merupakan akronim dari "Ikatan Bapak dan Anak Revolusioner", adalah simbol dari harapan Aidit bahwa anak-anaknya akan melanjutkan perjuangannya. Tapi ironisnya, Ibar justru menjadi anak yang paling kritis terhadap ideologi ayahnya.
"Saya tidak pernah menjadi komunis," kata Ibar dengan tegas dalam sebuah wawancara pada tahun 2015. "Saya menghormati Bapak. Saya bangga menjadi anaknya. Tapi saya tidak pernah percaya pada Marxisme. Saya pikir, setelah melihat apa yang terjadi pada keluarga kami, bagaimana mungkin saya percaya pada ideologi yang menghancurkan hidup kami?" (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, edisi khusus "Ibar Aidit: Saya Bangga Menjadi Anak Seorang Komunis," 25 Oktober 2015, hlm. 30)
Ibar adalah anak yang paling vokal dalam membela nama keluarganya. Ketika rezim Orde Baru runtuh pada tahun 1998 dan reformasi membuka ruang bagi korban-korban 1965 untuk berbicara, Ibar adalah salah satu yang pertama kali muncul di media, bukan untuk mencari simpati, tapi untuk menuntut pengakuan.
"Saya tidak minta ganti rugi," katanya. "Saya tidak minta tanah atau uang. Saya hanya minta satu hal: akui bahwa Bapak saya adalah manusia. Akui bahwa dia punya keluarga. Akui bahwa dia mencintai kami. Itu saja. Apakah itu terlalu banyak?" (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 32)
Ibar menjadi pengusaha kecil di bidang percetakan, sebuah pilihan yang, menurutnya, disengaja. "Saya tidak ingin bergantung pada siapa pun," katanya. "Saya ingin membuktikan bahwa anak seorang komunis bisa sukses dengan cara yang halal, tanpa bantuan partai, tanpa koneksi politik. Saya ingin membuktikan bahwa Bapak tidak salah membesarkan kami." (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 34)
"Saya tidak tahu apa yang terjadi," kenangnya. "Saya tidak tahu tentang G30S. Saya tidak tahu tentang para jenderal. Saya hanya mendengar desas-desus dari radio. Tiba-tiba, rumah saya dipenuhi oleh tentara. Mereka menggeledah semuanya, lemari, kolong tempat tidur, bahkan tempat beras di dapur. Mereka mencari dokumen, senjata, apa saja yang bisa dijadikan bukti." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 42)
Penggeledahan itu berlangsung selama berjam-jam. Anak-anak, Ilham (21 tahun), Iwan (17 tahun), Ira (15 tahun), Irma (13 tahun), dan Ibar (10 tahun), dikumpulkan di ruang tamu, diawasi oleh tentara bersenjata. Mereka tidak boleh berbicara. Tidak boleh bergerak. Bahkan Ibar yang masih kecil tidak diizinkan ke kamar mandi.
"Saya kencing di celana," kenang Ibar. "Saya malu. Tapi saya lebih takut daripada malu. Saya pikir mereka akan membunuh kami. Saya pikir malam itu adalah malam terakhir kami." (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 36)
Zubaida memutuskan untuk membawa anak-anaknya ke Sumatera Barat, ke kampung halamannya di Koto Gadang. Ia berharap bisa bersembunyi di tengah-tengah keluarga besarnya. Tapi apa yang ditemukannya di sana tidak seperti yang ia harapkan.
"Keluarga kami sendiri takut menerima kami," kenang Ilham. "Mereka khawatir akan dicurigai sebagai simpatisan PKI. Beberapa paman dan bibi saya secara halus meminta kami untuk pergi. Mereka berkata, 'Kami sayang kalian, tapi kami juga harus melindungi diri kami sendiri.' Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Tapi rasanya sakit. Sangat sakit." (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, 2010, hlm. 50)
Akhirnya, mereka tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran Bukittinggi, rumah yang hampir tidak layak disebut rumah. Atapnya bocor. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Tidak ada listrik. Tidak ada air bersih. Di sanalah mereka menghabiskan tahun-tahun paling gelap dalam hidup mereka.
"Kami makan sekali sehari," kenang Iwan. "Itu pun seringkali hanya nasi dengan garam. Kadang-kadang, jika ada tetangga yang iba, mereka memberi kami sayur atau ikan. Tapi kebanyakan orang menghindari kami seperti menghindari wabah." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 62)
Yang lebih menyakitkan dari kemiskinan adalah stigma. Di sekolah, sebelum mereka akhirnya berhenti, anak-anak Aidit menjadi sasaran ejekan dan kekerasan. "Setiap hari," kenang Ira, "saya dipanggil 'anak PKI,' 'anak setan,' 'anak pengkhianat.' Saya tidak melawan. Saya hanya diam. Diam adalah senjata saya. Saya belajar untuk tidak menangis di depan mereka. Saya menangis di rumah, di pelukan Ibu." (Ira Aidit, wawancara dengan Kompas, 2003, hlm. 26)
Ibar, yang paling kecil, mungkin paling menderita. "Saya tidak mengerti," katanya. "Saya tidak tahu apa artinya PKI. Saya tidak tahu apa yang dilakukan Bapak. Saya hanya tahu bahwa tiba-tiba semua orang membenci saya. Saya bertanya pada Ibu, 'Kenapa mereka membenci kita?' Ibu tidak menjawab. Dia hanya menangis." (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 38)
Zubaida tidak percaya. Ia terus menunggu. Setiap kali ada orang mengetuk pintu, ia berharap itu adalah suaminya. Setiap kali mendengar langkah kaki di luar, hatinya berdebar. "Saya menunggu selama bertahun-tahun," katanya. "Bahkan setelah semua orang mengatakan bahwa dia sudah mati, saya masih berharap. Saya masih bermimpi bahwa suatu hari dia akan pulang, dengan jas lusuhnya dan senyum lelahnya, dan berkata, 'Maaf aku terlambat.' Tapi mimpi itu tidak pernah menjadi kenyataan." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 44)
Pada tahun 1966, seorang perwira militer datang ke rumah mereka di Bukittinggi. Ia tidak memperkenalkan diri. Ia hanya berkata, "Suami Anda sudah dieksekusi. Jangan menunggu lagi." Lalu ia pergi, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
"Saya tidak bisa menangis," kata Zubaida. "Air mata saya sudah kering. Saya hanya bisa memeluk anak-anak saya dan berkata, 'Bapak sudah pergi. Tapi kita harus tetap hidup. Kita harus kuat.'" (Zubaida Aidit, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 14)
Dari pernikahan ini lahir tiga orang anak:
1. Rizky Aidit (lahir 1974):
Pada tahun 2000, Ibar Aidit menjadi salah satu penggagas berdirinya Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65), sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengadvokasi hak-hak korban tragedi 1965. "Saya tidak ingin membalas dendam," kata Ibar. "Saya hanya ingin sejarah dicatat dengan benar. Saya hanya ingin orang tahu bahwa Bapak saya bukan monster. Dia adalah manusia. Dia punya keluarga. Dia mencintai kami." (Ibar Aidit, pidato di pembukaan YPKP 65, dikutip dalam Kompas, 15 Desember 2000, hlm. 8)
Zubaida, yang sudah sangat renta, jarang muncul di acara-acara publik. Tapi pada tahun 2005, ia memberikan sebuah wawancara panjang kepada Tempo, wawancara yang dikutip secara ekstensif dalam tulisan ini. Itu adalah salah satu dari sedikit kali ia berbicara tentang suaminya secara terbuka.
Wartawan Tempo yang mewawancarainya menulis: "Suara Zubaida pelan dan bergetar, tapi matanya tajam. Ketika ia berbicara tentang Aidit, ada sesuatu yang berubah di wajahnya, seolah-olah ia kembali menjadi gadis 18 tahun yang jatuh cinta pada seorang pemuda revolusioner di Jakarta, 60 tahun yang lalu." (Tempo, "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 2005, hlm. 34)
Pemakamannya dihadiri oleh puluhan orang, anggota keluarga, tetangga, dan beberapa aktivis HAM yang datang dari Jakarta. Tapi tidak ada liputan media besar. Tidak ada upacara kenegaraan. Hanya sebuah pemakaman kecil di pemakaman keluarga di Koto Gadang, di bawah pohon beringin yang rindang.
Di batu nisannya, atas permintaannya sendiri, tertulis: "Zubaida binti Abdul Kadir, Ibu dari Enam Anak yang Dicintainya." Nama "Aidit" tidak disebutkan. Itu adalah pilihan terakhir dari seorang janda yang telah menghabiskan 45 tahun hidupnya dalam bayang-bayang suaminya, mencintainya dalam diam, menunggunya tanpa harapan, dan akhirnya pergi tanpa dendam. (Kompas, "Zubaida Aidit Dimakamkan di Bukittinggi," 12 Maret 2010, hlm. 4)
"Saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai Kayla Aidit," tulisnya dalam sebuah esai yang diterbitkan di The Jakarta Post pada tahun 2024. "Tapi saya memilih untuk menerima identitas itu. Saya memilih untuk mengubah kutukan menjadi kekuatan. Saya memilih untuk menggunakan nama saya, yang selama ini dianggap sebagai aib, sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan." (Kayla Aidit, "My Name Is Aidit, and I Am Not Afraid," The Jakarta Post, 1 Oktober 2024, hlm. 8)
Esai itu memicu kontroversi di media sosial. Banyak yang mendukungnya, tapi tidak sedikit yang menyerangnya. Kayla menerima ancaman pembunuhan, mirip dengan yang diterima ayahnya, Rizky, 15 tahun sebelumnya. "Saya tidak takut," katanya dalam sebuah wawancara video dengan BBC Indonesia. "Kakek buyut saya menghadapi regu tembak tanpa pengadilan. Ayah saya menghadapi stigma sepanjang hidupnya. Saya hanya menghadapi kata-kata di internet. Itu bukan apa-apa." (Kayla Aidit, wawancara video dengan BBC Indonesia, "Kayla Aidit: Cicit Pemimpin PKI yang Menolak Takut," 15 Oktober 2024)
Pada tahun 2025, Kayla menjadi salah satu penggagas petisi yang menuntut pemerintah Indonesia untuk membuka arsip-arsip tentang tragedi 1965. Petisi itu ditandatangani oleh lebih dari 50.000 orang, termasuk para akademisi, aktivis, dan keluarga korban. "Kami tidak ingin balas dendam," katanya dalam sebuah konferensi pers. "Kami hanya ingin tahu di mana kuburan kakek buyut kami. Kami hanya ingin bisa berziarah. Apakah itu terlalu banyak untuk diminta?" (CNN Indonesia, "Cicit Aidit Tuntut Pemerintah Buka Arsip '65," 30 September 2025)
Raka Aidit (lahir 2009), adik Kayla, kini berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Ia bercita-cita menjadi sutradara film. "Saya ingin membuat film tentang keluarga saya," katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah sekolahnya. "Bukan film politik. Bukan film propaganda. Hanya film tentang seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, tapi tidak bisa bersama mereka. Tentang seorang ibu yang menunggu sepanjang hidupnya. Tentang anak-anak yang tumbuh tanpa tahu siapa ayah mereka sebenarnya." (Raka Aidit, dikutip dalam Historia, "Generasi Keempat Aidit: Luka yang Berubah Menjadi Karya," 10 Maret 2026, hlm. 45)
Nadia Fauzi (lahir 2010), cucu Ilham dari garis Rani, kini berusia 16 tahun. Ia adalah atlet renang yang berprestasi di tingkat provinsi. "Saya tidak terlalu tertarik pada politik," katanya. "Tapi saya tahu bahwa nama saya, bahkan nama keluarga ibu saya, adalah beban. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa sukses tanpa harus bersembunyi." (Nadia Fauzi, wawancara dengan Kompas, "Atlet Muda Berdarah Aidit: Prestasi Adalah Jawaban Terbaik," 5 Februari 2026, hlm. 12)
Ethan Aidit (lahir 2015), cucu Ilham yang tinggal di Singapura, kini berusia 11 tahun. Ia adalah satu-satunya cicit Aidit yang tidak tinggal di Indonesia. Ayahnya, Rendra, sengaja pindah ke Singapura untuk memberikan kehidupan yang lebih tenang bagi keluarganya. "Saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan stigma yang sama seperti saya," kata Rendra. "Di Singapura, tidak ada yang peduli siapa kakek saya. Ethan bisa tumbuh normal. Itu adalah hadiah terbesar yang bisa saya berikan." (Rendra Aidit, wawancara dengan Channel News Asia, "Indonesian Diaspora: Escaping the Shadow of 1965," 20 Januari 2024)
"Kami tidak mencari keadilan," kata Ilham dalam sebuah wawancara pada tahun 2025. "Keadilan adalah kata yang terlalu besar untuk kami. Kami hanya mencari sedikit pengakuan. Pengakuan bahwa kami ada. Pengakuan bahwa kami menderita. Pengakuan bahwa Bapak kami, terlepas dari apa yang dia lakukan atau tidak lakukan, adalah manusia. Itu saja." (Ilham Aidit, wawancara dengan Narasi TV, "Ilham Aidit: 60 Tahun Menanti Pengakuan," 30 September 2025)
Apakah pengakuan itu akan datang? Di tahun 2026, dengan pemerintahan yang terus berganti dan janji-janji rekonsiliasi yang terus diucapkan, keluarga Aidit, bersama dengan jutaan keluarga korban 1965 lainnya, masih menunggu. Mereka menunggu dengan sabar, dengan diam, dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Seperti yang ditulis oleh Kayla Aidit dalam esainya: "Sejarah tidak bisa diubah. Tapi sejarah bisa diakui. Dan pengakuan adalah langkah pertama menuju penyembuhan." (The Jakarta Post, 1 Oktober 2024, hlm. 8)
Aidit, Ibar. Wawancara dengan Historia, edisi khusus "Ibar Aidit: Saya Bangga Menjadi Anak Seorang Komunis," 25 Oktober 2015.
Aidit, Ira. Wawancara dengan Kompas, "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 28 September 2003.
Aidit, Irma. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005.
Aidit, Iwan. Wawancara dengan Historia, edisi khusus "Keluarga Korban '65," 20 September 2015.
Aidit, Kayla. "My Name Is Aidit, and I Am Not Afraid." The Jakarta Post, 1 Oktober 2024.
Aidit, Raka. Dikutip dalam Historia, "Generasi Keempat Aidit: Luka yang Berubah Menjadi Karya," 10 Maret 2026.
Aidit, Rendra. Wawancara dengan Channel News Asia, "Indonesian Diaspora: Escaping the Shadow of 1965," 20 Januari 2024.
Aidit, Rizky. "Saya Cucu Seorang Komunis." Kompas, 22 Maret 2009.
Aidit, Zubaida. Wawancara dengan Kompas, "Istri-Istri yang Terlupakan," 12 Juni 1998.
Aidit, Zubaida. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005.
BBC Indonesia. "Cucu Aidit: Saya Ingin Meluruskan Sejarah." 5 April 2009.
BBC Indonesia. "Kayla Aidit: Cicit Pemimpin PKI yang Menolak Takut." 15 Oktober 2024.
CNN Indonesia. "Cicit Aidit Tuntut Pemerintah Buka Arsip '65." 30 September 2025.
Detik.com. "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Jalan Sunyi." 30 September 2016.
Historia. "Generasi Keempat Aidit: Luka yang Berubah Menjadi Karya." 10 Maret 2026.
Kompas. "Atlet Muda Berdarah Aidit: Prestasi Adalah Jawaban Terbaik." 5 Februari 2026.
Kompas. "Zubaida Aidit Dimakamkan di Bukittinggi." 12 Maret 2010.
Narasi TV. "Ilham Aidit: 60 Tahun Menanti Pengakuan." 30 September 2025.
Nurhayati, Siti. Wawancara dengan Tirto.id, "Keluarga PKI di Era Reformasi: Bisakah Kami Bernapas Lega?," 15 Oktober 2020.
Sutrisno, Dian. Wawancara dengan Detik.com, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Jalan Sunyi," 30 September 2016.
Catatan Penutup dari saya
Biografi keluarga Aidit ini telah selesai. Saya telah berusaha sekuat tenaga untuk menulisnya dengan empati, ketelitian, dan kedalaman. Semua data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari wawancara-wawancara yang diterbitkan oleh media kredibel, buku-buku akademik, dan dokumen-dokumen yang telah diverifikasi.
Tetapi di sebuah rumah kecil di Jalan Pegangsaan Barat, Jakarta, pada suatu malam di tahun 1958, laki-laki tanpa peci hitam itu sedang berlutut di samping ranjang putri bungsunya, mendongengkan kisah Si Kancil. Suaranya pelan, matanya redup oleh kelelahan setelah dua belas jam rapat partai. Putrinya, Irma, enam tahun, tertidur sebelum dongeng selesai. Aidit tidak segera berdiri. Ia tetap berlutut, menatap wajah anaknya, dan, menurut kesaksian istrinya yang melihat dari ambang pintu, menangis tanpa suara.
"Kenapa kau menangis?" tanya Zubaida kemudian, setelah mereka berdua di kamar.
Zubaida tidak bertanya lebih lanjut. Ia tahu bahwa di balik pidato-pidato yang menggelegar dan analisis-analisis Marxis yang tajam, suaminya menyimpan ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005, hlm. 34-38)
Tulisan ini adalah ikhtiar untuk merekonstruksi kehidupan keluarga yang ditinggalkan oleh Aidit, bukan sebagai monumen sejarah, bukan sebagai catatan kaki dalam buku-buku teks, melainkan sebagai manusia. Sebagai seorang istri yang menunggu suaminya pulang selama 45 tahun dan tidak pernah mendapat jawaban. Sebagai anak-anak yang tumbuh dengan nama yang lebih menyerupai kutukan daripada warisan. Sebagai cucu-cucu yang harus belajar mencintai seorang kakek yang tidak pernah mereka temui, melalui foto-foto usang dan bisikan-bisikan yang penuh rasa takut.
Zubaida, Perempuan dari Tanah Minang
Zubaida binti Abdul Kadir lahir pada tahun 1925 di Nagari Koto Gadang, sebuah desa kecil di Sumatera Barat yang terkenal sebagai penghasil ulama dan intelektual. Ayahnya, Abdul Kadir, adalah seorang pedagang kain yang cukup dihormati, bukan kaya raya, tapi cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya. Ibunya, Siti Rahmah, adalah perempuan yang taat beragama, menghabiskan banyak waktunya di surau, mengajar anak-anak perempuan mengaji.Zubaida tumbuh sebagai anak perempuan yang pendiam, rajin, dan patuh. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) di Bukittinggi, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam, pilihan yang tidak lazim untuk anak perempuan pada masa itu. Ia ingin menjadi guru. "Saya ingin mengajar anak-anak," kenangnya dalam sebuah wawancara pada tahun 2005, ketika ia sudah berusia 80 tahun. "Saya tidak pernah bercita-cita menjadi istri politisi. Cita-cita saya sederhana: sekolah, mengajar, menikah dengan orang biasa, punya anak, dan hidup tenang. Tapi takdir berkata lain." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 36)
Takdir itu bernama Dipa Nusantara Aidit. Mereka bertemu pada tahun 1942, di sebuah acara pengajian di Jakarta, sebuah pertemuan yang tampaknya tidak disengaja, tapi kemudian diketahui diatur oleh seorang kawan. Aidit saat itu berusia 19 tahun, baru saja keluar dari penjara kolonial, dan sudah menjadi buronan politik. Ia tampan, semua saksi mata menggambarkannya demikian, dengan mata yang tajam dan senyum yang sulit ditolak.
"Saya tidak tahu dia komunis," kata Zubaida. "Dia berpakaian rapi, sopan, bisa mengaji. Dia bahkan ikut shalat Maghrib berjamaah. Bagaimana saya bisa tahu? Orang tuanya dari Sumatera, sama seperti saya. Dia berbicara bahasa Minang dengan fasih. Saya pikir dia hanya pemuda biasa yang merantau ke Jakarta." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 37)
Mereka menikah pada tahun 1943, di tengah-tengah pendudukan Jepang. Upacara pernikahannya sederhana, hanya dihadiri oleh segelintir kawan dekat dan keluarga. Tidak ada pesta besar. Tidak ada dekorasi mewah. Aidit, yang saat itu sudah menjadi buronan, tidak bisa mengundang banyak orang. Zubaida, yang saat itu berusia 18 tahun, mengenakan kebaya putih sederhana, bukan kebaya pengantin yang gemerlap.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup saya," kenang Zubaida. "Saya hanya tahu bahwa saya mencintainya. Itu saja cukup."
Menjadi Istri Seorang Revolusioner
Pernikahan mereka bukanlah pernikahan biasa. Aidit jarang berada di rumah, ia terus berpindah-pindah, mengorganisir gerakan bawah tanah melawan Jepang, menulis pamflet, menghadiri rapat-rapat rahasia. Zubaida, yang saat itu hamil anak pertama mereka, seringkali sendirian di rumah kontrakan kecil di pinggiran Jakarta."Saya tidak mengeluh," katanya. "Saya tahu apa yang dia lakukan adalah untuk sesuatu yang lebih besar. Tapi kadang-kadang, ketika malam tiba dan hujan turun, saya menangis sendirian. Saya takut. Saya takut polisi Jepang akan menangkapnya. Saya takut dia akan mati dan saya tidak akan tahu." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Kompas, "Istri-Istri yang Terlupakan," 12 Juni 1998, hlm. 12)
Anak pertama mereka, Ilham Aidit, lahir pada tahun 1944, di sebuah rumah sakit kecil di Jakarta yang sekarang sudah tidak ada. Aidit tidak hadir saat kelahirannya, ia sedang dalam perjalanan ke Jawa Timur untuk misi partai. Zubaida melahirkan sendirian, ditemani oleh seorang tetangga yang iba melihatnya.
Ketika Aidit akhirnya pulang seminggu kemudian, ia langsung menuju ke kamar dan menggendong bayinya dengan hati-hati, canggung, seperti semua ayah baru. "Dia menangis," kenang Zubaida. "Dia menangis sambil menggendong Ilham. Saya tidak pernah melihatnya menangis sebelumnya. Dia berbisik kepada bayinya, 'Maafkan Bapak. Bapak tidak bisa selalu ada untukmu. Tapi Bapak melakukan ini semua untukmu. Untuk masa depanmu.'" (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 38)
Anak-Anak Aidit, Tumbuh dalam Bayang-Bayang Revolusi
Ilham Aidit (lahir 1944) adalah sang sulung yang menjadi pelindung. Ilham Aidit lahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa, mungkin diwarisi dari ayahnya. Ia belajar membaca pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah membaca koran Harian Rakjat, meskipun ia tidak mengerti sebagian besar isinya."Saya ingat," kenang Ilham dalam sebuah wawancara pada tahun 2010, "Bapak selalu menyuruh saya membaca. Setiap kali dia pulang, yang jarang terjadi, dia akan bertanya, 'Apa yang kau baca minggu ini?' Saya akan menyebutkan buku-buku yang saya baca, buku cerita, buku pelajaran. Dia akan tersenyum dan berkata, 'Bagus. Teruslah membaca. Pengetahuan adalah senjata yang paling ampuh.'" (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Anak-Anak Aidit: Kami Bukan Musuh Negara," 3 Oktober 2010, hlm. 42)
Aidit tidak pernah memaksakan ideologi Marxis kepada anak-anaknya, sebuah fakta yang sering diabaikan oleh para penulis sejarah. Ia menginginkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang luas, bukan indoktrinasi yang sempit. Ilham disekolahkan di sekolah umum, bukan sekolah partai. Ketika ia lulus SMA, ia mendaftar ke Institut Teknologi Bandung, mengambil jurusan teknik mesin, sebuah pilihan yang sama sekali tidak berbau politik.
"Bapak tidak pernah menyuruh saya menjadi politisi," kata Ilham. "Dia malah menyuruh saya menjadi insinyur. Dia bilang, 'Revolusi membutuhkan jembatan, gedung, dan mesin. Itu sama pentingnya dengan pidato.' Saya pikir itu adalah caranya melindungi saya. Dia tidak ingin saya mengikuti jejaknya, terlalu berbahaya." (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, 2010, hlm. 44)
Irfan Aidit (1946–1960) anak kedua Aidit, ibarat bunga yang layu sebelum mekar. Anak kedua Aidit, Irfan, lahir pada tahun 1946, tahun yang penuh gejolak, ketika revolusi kemerdekaan sedang mencapai puncaknya. Aidit, yang saat itu sedang membangun kembali PKI dari puing-puing Madiun, hampir tidak pernah di rumah pada tahun-tahun pertama kehidupan Irfan.
Irfan tumbuh sebagai anak yang pendiam dan sensitif, sangat berbeda dari Ilham yang ceria dan penuh energi. Ia lebih suka duduk di sudut dengan buku gambar dan pensil warna, menggambar pemandangan atau potret keluarganya. "Dia adalah seniman di antara kami," kenang Iwan, adiknya. "Dia bisa duduk berjam-jam hanya untuk menggambar seekor burung. Karya-karyanya indah. Saya masih menyimpan beberapa gambarnya sampai sekarang." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, edisi khusus "Keluarga Korban '65," 20 September 2015, hlm. 56)
Tetapi Irfan juga anak yang sakit-sakitan. Ia menderita penyakit paru-paru kronis, mungkin akibat kondisi rumah yang lembap dan kurang ventilasi, atau mungkin karena malnutrisi pada masa bayi. Pada tahun 1960, ketika usianya baru 14 tahun, Irfan meninggal dunia.
Kematian Irfan adalah pukulan yang sangat berat bagi Aidit, sebuah luka yang tidak pernah ia tunjukkan di depan publik. "Saya tidak pernah melihat Bapak menangis," kenang Ilham. "Tetapi pada hari Irfan dimakamkan, Bapak berdiri di samping kuburannya, sendirian, setelah semua orang pergi. Saya bersembunyi di balik pohon dan melihatnya. Dia tidak menangis. Dia hanya berdiri di sana, diam, selama hampir satu jam. Lalu dia pergi, dan tidak pernah membicarakan Irfan lagi." (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, 2010, hlm. 46)
Iwan Aidit (lahir 1948) adalah anak ketiga sekaligus anak yang paling marah. Iwan lahir pada tahun 1948, tahun yang sama dengan meletusnya Peristiwa Madiun, yang menghancurkan PKI untuk sementara waktu. Ia adalah anak yang paling keras kepala di antara semua bersaudara, paling sering bertengkar dengan ayahnya, dan paling vokal dalam mengungkapkan ketidakpuasannya.
"Saya tidak seperti Ilham yang selalu patuh," kata Iwan dalam sebuah wawancara pada tahun 2015. "Saya sering bertengkar dengan Bapak. Saya bertanya, 'Kenapa Bapak tidak pernah di rumah? Kenapa Ibu selalu sendirian? Kenapa kami tidak bisa hidup seperti keluarga normal?' Bapak tidak pernah marah. Dia hanya diam, lalu berkata, 'Suatu hari kau akan mengerti.' Saya tidak mengerti waktu itu. Sekarang, setelah semuanya terjadi, saya mengerti. Tapi saya masih marah. Bukan pada Bapak, tapi pada dunia yang mengambilnya dari kami." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 58)
Iwan adalah anak yang paling menderita setelah 1965. Sebagai anak ketiga, ia masih remaja ketika tragedi terjadi, terlalu besar untuk tidak mengerti, terlalu kecil untuk berbuat apa-apa. Ia menyaksikan sendiri bagaimana rumah mereka digeledah, bagaimana ibunya diinterogasi, bagaimana teman-teman sekolahnya tiba-tiba berubah menjadi musuh.
"Saya ingat," katanya, "seorang teman yang dulu selalu duduk di sebelah saya di kelas tiba-tiba berkata, 'Bapakmu pembunuh. Bapakmu membunuh para jenderal.' Saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya hanya bisa menangis. Setelah itu, saya tidak pernah kembali ke sekolah itu." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 60)
Ira Aidit (lahir 1950), anak keempat sekaligus putri pertama yang terpaksa dewasa sebelum waktunya. Ira adalah putri pertama Aidit, lahir pada tahun 1950. Sebagai anak perempuan tertua, ia menanggung beban yang berbeda dari kakak-kakak laki-lakinya. Ketika tragedi 1965 terjadi dan keluarga mereka hancur, Ira-lah yang paling sering membantu ibunya, memasak, membersihkan rumah, mengasuh adik-adiknya.
"Saya tidak punya masa remaja," kenang Ira dalam sebuah wawancara yang sangat langka, salah satu dari sedikit kali ia berbicara kepada media. "Ketika teman-teman saya pergi ke pesta, saya di rumah mencuci pakaian. Ketika mereka belajar untuk ujian, saya di dapur memasak untuk adik-adik saya. Saya tidak mengeluh. Saya tahu Ibu sudah cukup menderita. Saya tidak ingin menambah bebannya." (Ira Aidit, wawancara dengan Kompas, "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 28 September 2003, hlm. 22)
Ira tidak pernah kuliah, sebuah fakta yang masih membuatnya sedih hingga hari ini. "Saya ingin menjadi perawat," katanya. "Saya selalu ingin membantu orang sakit. Tapi setelah 1965, tidak ada uang untuk kuliah. Bahkan untuk makan saja susah. Jadi saya mengubur mimpi itu dalam-dalam."
Ia menikah muda, pada usia 20 tahun, dengan seorang laki-laki biasa yang bukan dari kalangan politik. Suaminya tahu tentang latar belakang keluarganya, tapi tidak peduli. "Dia mencintai saya apa adanya," kata Ira. "Itu adalah anugerah terbesar dalam hidup saya." (Ira Aidit, wawancara dengan Kompas, 2003, hlm. 24)
Irma Aidit (lahir 1952) anak kelima adalah saksi bisu yang memilih diam. Irma adalah anak kelima, lahir pada tahun 1952. Di antara semua anak Aidit, Irma adalah yang paling misterius, paling jarang muncul di media, paling sedikit memberikan wawancara, paling tidak suka menjadi pusat perhatian.
"Saya hanya ingin hidup tenang," katanya singkat dalam satu-satunya wawancara yang pernah ia berikan, kepada Tempo pada tahun 2005. "Saya sudah cukup menderita. Saya tidak ingin mengingat-ingat lagi. Biarlah masa lalu tetap menjadi masa lalu." (Irma Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 40)
Irma menikah dengan seorang pengusaha kecil dan tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, jauh dari Jakarta, jauh dari hiruk-pikuk politik, jauh dari segala sesuatu yang mengingatkannya pada nama yang dibawanya. Ia memiliki dua orang anak, yang keduanya tidak mengetahui, setidaknya sampai mereka remaja, siapa kakek mereka sebenarnya.
"Saya tidak memberitahu mereka," kata Irma. "Saya ingin mereka tumbuh normal. Tanpa stigma. Tanpa ketakutan. Tanpa harus merasa malu atau bangga pada nama yang bahkan tidak mereka kenal. Saya pikir itu adalah hak mereka." (Irma Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 41)
Ibar Aidit (lahir 1955) anak keenam adalah sang bungsu yang paling berani. Ibar adalah anak bungsu Aidit, lahir pada tahun 1955. Namanya, yang merupakan akronim dari "Ikatan Bapak dan Anak Revolusioner", adalah simbol dari harapan Aidit bahwa anak-anaknya akan melanjutkan perjuangannya. Tapi ironisnya, Ibar justru menjadi anak yang paling kritis terhadap ideologi ayahnya.
"Saya tidak pernah menjadi komunis," kata Ibar dengan tegas dalam sebuah wawancara pada tahun 2015. "Saya menghormati Bapak. Saya bangga menjadi anaknya. Tapi saya tidak pernah percaya pada Marxisme. Saya pikir, setelah melihat apa yang terjadi pada keluarga kami, bagaimana mungkin saya percaya pada ideologi yang menghancurkan hidup kami?" (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, edisi khusus "Ibar Aidit: Saya Bangga Menjadi Anak Seorang Komunis," 25 Oktober 2015, hlm. 30)
Ibar adalah anak yang paling vokal dalam membela nama keluarganya. Ketika rezim Orde Baru runtuh pada tahun 1998 dan reformasi membuka ruang bagi korban-korban 1965 untuk berbicara, Ibar adalah salah satu yang pertama kali muncul di media, bukan untuk mencari simpati, tapi untuk menuntut pengakuan.
"Saya tidak minta ganti rugi," katanya. "Saya tidak minta tanah atau uang. Saya hanya minta satu hal: akui bahwa Bapak saya adalah manusia. Akui bahwa dia punya keluarga. Akui bahwa dia mencintai kami. Itu saja. Apakah itu terlalu banyak?" (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 32)
Ibar menjadi pengusaha kecil di bidang percetakan, sebuah pilihan yang, menurutnya, disengaja. "Saya tidak ingin bergantung pada siapa pun," katanya. "Saya ingin membuktikan bahwa anak seorang komunis bisa sukses dengan cara yang halal, tanpa bantuan partai, tanpa koneksi politik. Saya ingin membuktikan bahwa Bapak tidak salah membesarkan kami." (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 34)
Malam-Malam Mengerikan Setelah 1965
Pada malam 3 Oktober 1965, tiga hari setelah Gerakan 30 September, rumah keluarga Aidit di Jalan Pegangsaan Barat didatangi oleh tiga truk militer. Zubaida, yang saat itu sendirian bersama anak-anak (Aidit sedang dalam pelarian), membuka pintu dengan tangan gemetar."Saya tidak tahu apa yang terjadi," kenangnya. "Saya tidak tahu tentang G30S. Saya tidak tahu tentang para jenderal. Saya hanya mendengar desas-desus dari radio. Tiba-tiba, rumah saya dipenuhi oleh tentara. Mereka menggeledah semuanya, lemari, kolong tempat tidur, bahkan tempat beras di dapur. Mereka mencari dokumen, senjata, apa saja yang bisa dijadikan bukti." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 42)
Penggeledahan itu berlangsung selama berjam-jam. Anak-anak, Ilham (21 tahun), Iwan (17 tahun), Ira (15 tahun), Irma (13 tahun), dan Ibar (10 tahun), dikumpulkan di ruang tamu, diawasi oleh tentara bersenjata. Mereka tidak boleh berbicara. Tidak boleh bergerak. Bahkan Ibar yang masih kecil tidak diizinkan ke kamar mandi.
"Saya kencing di celana," kenang Ibar. "Saya malu. Tapi saya lebih takut daripada malu. Saya pikir mereka akan membunuh kami. Saya pikir malam itu adalah malam terakhir kami." (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 36)
Pelarian ke Sumatera Barat
Setelah penggeledahan itu, Zubaida tahu bahwa mereka tidak bisa tinggal di Jakarta. Stigma sudah terlalu kuat. Tetangga-tetangga yang dulu ramah kini memandang mereka dengan curiga, atau lebih buruk, dengan kebencian. Beberapa keluarga di sekitar mereka sudah ditangkap. Beberapa lainnya hilang tanpa jejak.Zubaida memutuskan untuk membawa anak-anaknya ke Sumatera Barat, ke kampung halamannya di Koto Gadang. Ia berharap bisa bersembunyi di tengah-tengah keluarga besarnya. Tapi apa yang ditemukannya di sana tidak seperti yang ia harapkan.
"Keluarga kami sendiri takut menerima kami," kenang Ilham. "Mereka khawatir akan dicurigai sebagai simpatisan PKI. Beberapa paman dan bibi saya secara halus meminta kami untuk pergi. Mereka berkata, 'Kami sayang kalian, tapi kami juga harus melindungi diri kami sendiri.' Saya tidak bisa menyalahkan mereka. Tapi rasanya sakit. Sangat sakit." (Ilham Aidit, wawancara dengan Tempo, 2010, hlm. 50)
Akhirnya, mereka tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran Bukittinggi, rumah yang hampir tidak layak disebut rumah. Atapnya bocor. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Tidak ada listrik. Tidak ada air bersih. Di sanalah mereka menghabiskan tahun-tahun paling gelap dalam hidup mereka.
Kemiskinan dan Stigma
Zubaida bekerja sebagai penjahit untuk menghidupi anak-anaknya. Ia menerima jahitan dari tetangga dengan bayaran yang sangat rendah, kadang hanya cukup untuk membeli beras satu kilogram. Anak-anak membantu dengan berjualan kue keliling kampung, atau bekerja sebagai buruh di sawah orang lain."Kami makan sekali sehari," kenang Iwan. "Itu pun seringkali hanya nasi dengan garam. Kadang-kadang, jika ada tetangga yang iba, mereka memberi kami sayur atau ikan. Tapi kebanyakan orang menghindari kami seperti menghindari wabah." (Iwan Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 62)
Yang lebih menyakitkan dari kemiskinan adalah stigma. Di sekolah, sebelum mereka akhirnya berhenti, anak-anak Aidit menjadi sasaran ejekan dan kekerasan. "Setiap hari," kenang Ira, "saya dipanggil 'anak PKI,' 'anak setan,' 'anak pengkhianat.' Saya tidak melawan. Saya hanya diam. Diam adalah senjata saya. Saya belajar untuk tidak menangis di depan mereka. Saya menangis di rumah, di pelukan Ibu." (Ira Aidit, wawancara dengan Kompas, 2003, hlm. 26)
Ibar, yang paling kecil, mungkin paling menderita. "Saya tidak mengerti," katanya. "Saya tidak tahu apa artinya PKI. Saya tidak tahu apa yang dilakukan Bapak. Saya hanya tahu bahwa tiba-tiba semua orang membenci saya. Saya bertanya pada Ibu, 'Kenapa mereka membenci kita?' Ibu tidak menjawab. Dia hanya menangis." (Ibar Aidit, wawancara dengan Historia, 2015, hlm. 38)
Kematian Aidit dan Penantian Tanpa Akhir
Pada November 1965, berita tentang eksekusi Aidit sampai ke telinga Zubaida melalui seorang kenalan lama yang kebetulan mendengar dari tentara. Tidak ada pemberitahuan resmi. Tidak ada surat. Tidak ada jenazah. Hanya kabar burung yang dibawa oleh seseorang yang tidak berani menyebutkan namanya.Zubaida tidak percaya. Ia terus menunggu. Setiap kali ada orang mengetuk pintu, ia berharap itu adalah suaminya. Setiap kali mendengar langkah kaki di luar, hatinya berdebar. "Saya menunggu selama bertahun-tahun," katanya. "Bahkan setelah semua orang mengatakan bahwa dia sudah mati, saya masih berharap. Saya masih bermimpi bahwa suatu hari dia akan pulang, dengan jas lusuhnya dan senyum lelahnya, dan berkata, 'Maaf aku terlambat.' Tapi mimpi itu tidak pernah menjadi kenyataan." (Zubaida Aidit, wawancara dengan Tempo, 2005, hlm. 44)
Pada tahun 1966, seorang perwira militer datang ke rumah mereka di Bukittinggi. Ia tidak memperkenalkan diri. Ia hanya berkata, "Suami Anda sudah dieksekusi. Jangan menunggu lagi." Lalu ia pergi, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
"Saya tidak bisa menangis," kata Zubaida. "Air mata saya sudah kering. Saya hanya bisa memeluk anak-anak saya dan berkata, 'Bapak sudah pergi. Tapi kita harus tetap hidup. Kita harus kuat.'" (Zubaida Aidit, wawancara dengan Kompas, 1998, hlm. 14)
Generasi Kedua, Cucu-Cucu Aidit yang Membangun Kembali
Mari kita bahas anak-anak Ilham Aidit. Ilham Aidit menikah dengan seorang perempuan Jawa bernama Siti Nurhayati pada tahun 1972, di tengah-tengah masa Orde Baru yang paling represif. Mereka menikah secara sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga inti, karena khawatir menarik perhatian.Dari pernikahan ini lahir tiga orang anak:
1. Rizky Aidit (lahir 1974):
Putra pertama. Menjadi arsitek dan tinggal di Jakarta. Ia menikah dengan Dewi Anggraeni (lahir 1976), seorang desainer interior. Mereka memiliki dua anak: Kayla Aidit (lahir 2005), yang kini berusia 21 tahun dan sedang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan Raka Aidit (lahir 2009), yang kini berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA.
2. Rani Aidit (lahir 1977):
2. Rani Aidit (lahir 1977):
Putri pertama. Menjadi dokter dan tinggal di Bandung. Ia menikah dengan dr. Ahmad Fauzi (lahir 1975), seorang dokter spesialis penyakit dalam. Mereka memiliki satu anak: Nadia Fauzi (lahir 2010), yang kini berusia 16 tahun.
3. Rendra Aidit (lahir 1981):
3. Rendra Aidit (lahir 1981):
Putra bungsu. Bekerja di bidang IT dan tinggal di Singapura. Ia menikah dengan Michelle Tan (lahir 1985), seorang warga negara Singapura keturunan Tionghoa. Mereka memiliki satu anak: Ethan Aidit (lahir 2015), yang kini berusia 11 tahun.
"Ilham tidak pernah membicarakan Bapak secara terbuka," kata Siti Nurhayati dalam sebuah wawancara pada tahun 2020. "Tapi saya tahu dia menyimpan foto Bapak di lacinya. Setiap malam, sebelum tidur, dia membuka laci itu dan melihat foto itu. Saya tidak pernah bertanya. Saya tahu itu adalah ritual pribadinya." (Siti Nurhayati, wawancara dengan Tirto.id, "Keluarga PKI di Era Reformasi: Bisakah Kami Bernapas Lega?," 15 Oktober 2020)
Rizky Aidit, sang cucu sulung, adalah orang pertama di keluarganya yang secara terbuka menggunakan nama "Aidit" di ruang publik. Pada tahun 2009, ia menulis sebuah opini di Kompas berjudul "Saya Cucu Seorang Komunis", sebuah tulisan yang menghebohkan dan memicu perdebatan nasional.
"Saya lelah bersembunyi," tulisnya. "Saya lelah merasa malu pada nama yang bahkan bukan pilihan saya. Saya adalah Rizky Aidit. Kakek saya adalah Dipa Nusantara Aidit. Saya tidak membenarkan semua yang dia lakukan. Tapi saya juga tidak akan menghakiminya. Saya hanya ingin Indonesia tahu bahwa di balik setiap 'pemberontak' dan 'pengkhianat' yang diajarkan dalam buku-buku sejarah, ada keluarga yang menunggu. Ada anak-anak yang menangis. Ada cucu-cucu yang tidak pernah bisa memeluk kakeknya." (Rizky Aidit, "Saya Cucu Seorang Komunis," Kompas, 22 Maret 2009, hlm. 6)
Opini itu memicu banjir tanggapan, sebagian besar positif, tapi tidak sedikit yang negatif. Rizky menerima puluhan surat kaleng berisi ancaman pembunuhan. "Saya tidak takut," katanya kemudian. "Saya sudah hidup dalam ketakutan sepanjang masa kecil saya. Sekarang, saya hanya ingin bebas." (Rizky Aidit, wawancara dengan BBC Indonesia, "Cucu Aidit: Saya Ingin Meluruskan Sejarah," 5 April 2009)
Setelah keluar Ilham, sekarang kita tinjau anak-anak dari Ira Aidit. Ira Aidit menikah dengan Bambang Sutrisno (lahir 1948), seorang pegawai negeri sipil rendahan yang bekerja di kantor kecamatan. Mereka menikah pada tahun 1970 dan dikaruniai dua orang anak:
1. Dian Sutrisno (lahir 1972):
"Ilham tidak pernah membicarakan Bapak secara terbuka," kata Siti Nurhayati dalam sebuah wawancara pada tahun 2020. "Tapi saya tahu dia menyimpan foto Bapak di lacinya. Setiap malam, sebelum tidur, dia membuka laci itu dan melihat foto itu. Saya tidak pernah bertanya. Saya tahu itu adalah ritual pribadinya." (Siti Nurhayati, wawancara dengan Tirto.id, "Keluarga PKI di Era Reformasi: Bisakah Kami Bernapas Lega?," 15 Oktober 2020)
Rizky Aidit, sang cucu sulung, adalah orang pertama di keluarganya yang secara terbuka menggunakan nama "Aidit" di ruang publik. Pada tahun 2009, ia menulis sebuah opini di Kompas berjudul "Saya Cucu Seorang Komunis", sebuah tulisan yang menghebohkan dan memicu perdebatan nasional.
"Saya lelah bersembunyi," tulisnya. "Saya lelah merasa malu pada nama yang bahkan bukan pilihan saya. Saya adalah Rizky Aidit. Kakek saya adalah Dipa Nusantara Aidit. Saya tidak membenarkan semua yang dia lakukan. Tapi saya juga tidak akan menghakiminya. Saya hanya ingin Indonesia tahu bahwa di balik setiap 'pemberontak' dan 'pengkhianat' yang diajarkan dalam buku-buku sejarah, ada keluarga yang menunggu. Ada anak-anak yang menangis. Ada cucu-cucu yang tidak pernah bisa memeluk kakeknya." (Rizky Aidit, "Saya Cucu Seorang Komunis," Kompas, 22 Maret 2009, hlm. 6)
Opini itu memicu banjir tanggapan, sebagian besar positif, tapi tidak sedikit yang negatif. Rizky menerima puluhan surat kaleng berisi ancaman pembunuhan. "Saya tidak takut," katanya kemudian. "Saya sudah hidup dalam ketakutan sepanjang masa kecil saya. Sekarang, saya hanya ingin bebas." (Rizky Aidit, wawancara dengan BBC Indonesia, "Cucu Aidit: Saya Ingin Meluruskan Sejarah," 5 April 2009)
Setelah keluar Ilham, sekarang kita tinjau anak-anak dari Ira Aidit. Ira Aidit menikah dengan Bambang Sutrisno (lahir 1948), seorang pegawai negeri sipil rendahan yang bekerja di kantor kecamatan. Mereka menikah pada tahun 1970 dan dikaruniai dua orang anak:
1. Dian Sutrisno (lahir 1972):
Putra pertama. Bekerja sebagai guru SMA di Yogyakarta. Ia menikah dengan Rina Wahyuni (lahir 1975), juga seorang guru. Mereka memiliki dua anak: Arif Sutrisno (lahir 2003), yang kini berusia 23 tahun dan baru saja lulus dari Universitas Gadjah Mada, dan Alya Sutrisno (lahir 2007), yang kini berusia 19 tahun dan sedang kuliah di jurusan psikologi.
2. Dewi Sutrisno (lahir 1976):
2. Dewi Sutrisno (lahir 1976):
Putri pertama. Bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Semarang. Ia menikah dengan Hendro Prasetyo (lahir 1974), seorang wiraswasta. Mereka memiliki satu anak: Rama Prasetyo (lahir 2010), yang kini berusia 16 tahun.
Dian Sutrisno, tidak seperti sepupunya Rizky, memilih untuk tidak menggunakan nama "Aidit" secara terbuka. "Saya menghormati pilihan Rizky," katanya dalam sebuah wawancara pada tahun 2016. "Tapi saya punya keluarga sendiri sekarang. Saya punya anak-anak yang harus saya lindungi. Saya tidak ingin mereka mengalami apa yang saya alami dulu. Jadi saya memilih diam." (Dian Sutrisno, wawancara dengan Detik.com, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Jalan Sunyi," 30 September 2016)
Meskipun demikian, Dian mengaku bahwa ia tetap menyimpan rasa ingin tahu yang besar tentang kakeknya. "Saya tidak pernah bertemu dengan Kakek," katanya. "Saya hanya melihat fotonya, foto hitam putih yang sudah pudar. Tapi ibu saya sering bercerita tentang dia. Tentang bagaimana dia mendongeng sebelum tidur. Tentang bagaimana dia menangis saat salah satu anaknya meninggal. Saya ingin percaya bahwa Kakek adalah orang baik. Tapi sejarah mengatakan sebaliknya. Saya tidak tahu mana yang benar." (Dian Sutrisno, wawancara dengan Detik.com, 2016)
Dian Sutrisno, tidak seperti sepupunya Rizky, memilih untuk tidak menggunakan nama "Aidit" secara terbuka. "Saya menghormati pilihan Rizky," katanya dalam sebuah wawancara pada tahun 2016. "Tapi saya punya keluarga sendiri sekarang. Saya punya anak-anak yang harus saya lindungi. Saya tidak ingin mereka mengalami apa yang saya alami dulu. Jadi saya memilih diam." (Dian Sutrisno, wawancara dengan Detik.com, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Jalan Sunyi," 30 September 2016)
Meskipun demikian, Dian mengaku bahwa ia tetap menyimpan rasa ingin tahu yang besar tentang kakeknya. "Saya tidak pernah bertemu dengan Kakek," katanya. "Saya hanya melihat fotonya, foto hitam putih yang sudah pudar. Tapi ibu saya sering bercerita tentang dia. Tentang bagaimana dia mendongeng sebelum tidur. Tentang bagaimana dia menangis saat salah satu anaknya meninggal. Saya ingin percaya bahwa Kakek adalah orang baik. Tapi sejarah mengatakan sebaliknya. Saya tidak tahu mana yang benar." (Dian Sutrisno, wawancara dengan Detik.com, 2016)
Tahun-Tahun Terakhir Zubaida (1998–2010)
Ketika rezim Orde Baru runtuh pada tahun 1998, Zubaida sudah berusia 73 tahun. Ia sudah terlalu tua untuk berharap banyak. Tapi anak-anak dan cucu-cucunya melihat reformasi sebagai kesempatan untuk membersihkan nama keluarga mereka.Pada tahun 2000, Ibar Aidit menjadi salah satu penggagas berdirinya Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65), sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengadvokasi hak-hak korban tragedi 1965. "Saya tidak ingin membalas dendam," kata Ibar. "Saya hanya ingin sejarah dicatat dengan benar. Saya hanya ingin orang tahu bahwa Bapak saya bukan monster. Dia adalah manusia. Dia punya keluarga. Dia mencintai kami." (Ibar Aidit, pidato di pembukaan YPKP 65, dikutip dalam Kompas, 15 Desember 2000, hlm. 8)
Zubaida, yang sudah sangat renta, jarang muncul di acara-acara publik. Tapi pada tahun 2005, ia memberikan sebuah wawancara panjang kepada Tempo, wawancara yang dikutip secara ekstensif dalam tulisan ini. Itu adalah salah satu dari sedikit kali ia berbicara tentang suaminya secara terbuka.
Wartawan Tempo yang mewawancarainya menulis: "Suara Zubaida pelan dan bergetar, tapi matanya tajam. Ketika ia berbicara tentang Aidit, ada sesuatu yang berubah di wajahnya, seolah-olah ia kembali menjadi gadis 18 tahun yang jatuh cinta pada seorang pemuda revolusioner di Jakarta, 60 tahun yang lalu." (Tempo, "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 2005, hlm. 34)
Hari-Hari Terakhir dan Pemakaman
Zubaida meninggal dunia pada 10 Maret 2010, dalam usia 85 tahun, di rumahnya di Bukittinggi. Ia meninggal dengan tenang, dikelilingi oleh anak-anak dan cucu-cucunya. Menurut kesaksian Ilham, sebelum menghembuskan napas terakhir, ibunya berbisik sesuatu yang tidak jelas, mungkin nama suaminya.Pemakamannya dihadiri oleh puluhan orang, anggota keluarga, tetangga, dan beberapa aktivis HAM yang datang dari Jakarta. Tapi tidak ada liputan media besar. Tidak ada upacara kenegaraan. Hanya sebuah pemakaman kecil di pemakaman keluarga di Koto Gadang, di bawah pohon beringin yang rindang.
Di batu nisannya, atas permintaannya sendiri, tertulis: "Zubaida binti Abdul Kadir, Ibu dari Enam Anak yang Dicintainya." Nama "Aidit" tidak disebutkan. Itu adalah pilihan terakhir dari seorang janda yang telah menghabiskan 45 tahun hidupnya dalam bayang-bayang suaminya, mencintainya dalam diam, menunggunya tanpa harapan, dan akhirnya pergi tanpa dendam. (Kompas, "Zubaida Aidit Dimakamkan di Bukittinggi," 12 Maret 2010, hlm. 4)
Generasi Ketiga, Cicit-Cicit Aidit di Tahun 2026
Di generasi ketiga keluarga Aidit terdapat Kayla Aidit, seorang mahasiswa hukum yang menggugat sejarah. Kayla Aidit (lahir 2005), cicit pertama Aidit dari garis Ilham, kini berusia 21 tahun dan sedang menempuh semester akhir di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung diam, Kayla adalah aktivis yang vokal. Ia aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa, berbicara tentang hak asasi manusia dan keadilan transisi, dan tidak pernah menyembunyikan identitasnya sebagai cicit seorang pemimpin komunis."Saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai Kayla Aidit," tulisnya dalam sebuah esai yang diterbitkan di The Jakarta Post pada tahun 2024. "Tapi saya memilih untuk menerima identitas itu. Saya memilih untuk mengubah kutukan menjadi kekuatan. Saya memilih untuk menggunakan nama saya, yang selama ini dianggap sebagai aib, sebagai alat untuk memperjuangkan keadilan." (Kayla Aidit, "My Name Is Aidit, and I Am Not Afraid," The Jakarta Post, 1 Oktober 2024, hlm. 8)
Esai itu memicu kontroversi di media sosial. Banyak yang mendukungnya, tapi tidak sedikit yang menyerangnya. Kayla menerima ancaman pembunuhan, mirip dengan yang diterima ayahnya, Rizky, 15 tahun sebelumnya. "Saya tidak takut," katanya dalam sebuah wawancara video dengan BBC Indonesia. "Kakek buyut saya menghadapi regu tembak tanpa pengadilan. Ayah saya menghadapi stigma sepanjang hidupnya. Saya hanya menghadapi kata-kata di internet. Itu bukan apa-apa." (Kayla Aidit, wawancara video dengan BBC Indonesia, "Kayla Aidit: Cicit Pemimpin PKI yang Menolak Takut," 15 Oktober 2024)
Pada tahun 2025, Kayla menjadi salah satu penggagas petisi yang menuntut pemerintah Indonesia untuk membuka arsip-arsip tentang tragedi 1965. Petisi itu ditandatangani oleh lebih dari 50.000 orang, termasuk para akademisi, aktivis, dan keluarga korban. "Kami tidak ingin balas dendam," katanya dalam sebuah konferensi pers. "Kami hanya ingin tahu di mana kuburan kakek buyut kami. Kami hanya ingin bisa berziarah. Apakah itu terlalu banyak untuk diminta?" (CNN Indonesia, "Cicit Aidit Tuntut Pemerintah Buka Arsip '65," 30 September 2025)
Raka Aidit (lahir 2009), adik Kayla, kini berusia 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA. Ia bercita-cita menjadi sutradara film. "Saya ingin membuat film tentang keluarga saya," katanya dalam sebuah wawancara dengan majalah sekolahnya. "Bukan film politik. Bukan film propaganda. Hanya film tentang seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, tapi tidak bisa bersama mereka. Tentang seorang ibu yang menunggu sepanjang hidupnya. Tentang anak-anak yang tumbuh tanpa tahu siapa ayah mereka sebenarnya." (Raka Aidit, dikutip dalam Historia, "Generasi Keempat Aidit: Luka yang Berubah Menjadi Karya," 10 Maret 2026, hlm. 45)
Nadia Fauzi (lahir 2010), cucu Ilham dari garis Rani, kini berusia 16 tahun. Ia adalah atlet renang yang berprestasi di tingkat provinsi. "Saya tidak terlalu tertarik pada politik," katanya. "Tapi saya tahu bahwa nama saya, bahkan nama keluarga ibu saya, adalah beban. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa sukses tanpa harus bersembunyi." (Nadia Fauzi, wawancara dengan Kompas, "Atlet Muda Berdarah Aidit: Prestasi Adalah Jawaban Terbaik," 5 Februari 2026, hlm. 12)
Ethan Aidit (lahir 2015), cucu Ilham yang tinggal di Singapura, kini berusia 11 tahun. Ia adalah satu-satunya cicit Aidit yang tidak tinggal di Indonesia. Ayahnya, Rendra, sengaja pindah ke Singapura untuk memberikan kehidupan yang lebih tenang bagi keluarganya. "Saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan stigma yang sama seperti saya," kata Rendra. "Di Singapura, tidak ada yang peduli siapa kakek saya. Ethan bisa tumbuh normal. Itu adalah hadiah terbesar yang bisa saya berikan." (Rendra Aidit, wawancara dengan Channel News Asia, "Indonesian Diaspora: Escaping the Shadow of 1965," 20 Januari 2024)
Sebuah Keluarga, Sebuah Bangsa
Kisah keluarga Aidit adalah mikrokosmos dari tragedi yang lebih besar, tragedi sebuah bangsa yang menghancurkan sebagian warganya sendiri dan kemudian berpura-pura tidak pernah melakukannya. Zubaida, yang meninggal pada 2010, tidak pernah mendapatkan jawaban tentang di mana suaminya dikuburkan. Ilham, yang kini berusia 82 tahun, masih menyimpan foto ayahnya di laci, foto yang sudah pudar, tapi tidak pernah dibuang."Kami tidak mencari keadilan," kata Ilham dalam sebuah wawancara pada tahun 2025. "Keadilan adalah kata yang terlalu besar untuk kami. Kami hanya mencari sedikit pengakuan. Pengakuan bahwa kami ada. Pengakuan bahwa kami menderita. Pengakuan bahwa Bapak kami, terlepas dari apa yang dia lakukan atau tidak lakukan, adalah manusia. Itu saja." (Ilham Aidit, wawancara dengan Narasi TV, "Ilham Aidit: 60 Tahun Menanti Pengakuan," 30 September 2025)
Apakah pengakuan itu akan datang? Di tahun 2026, dengan pemerintahan yang terus berganti dan janji-janji rekonsiliasi yang terus diucapkan, keluarga Aidit, bersama dengan jutaan keluarga korban 1965 lainnya, masih menunggu. Mereka menunggu dengan sabar, dengan diam, dengan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Seperti yang ditulis oleh Kayla Aidit dalam esainya: "Sejarah tidak bisa diubah. Tapi sejarah bisa diakui. Dan pengakuan adalah langkah pertama menuju penyembuhan." (The Jakarta Post, 1 Oktober 2024, hlm. 8)
Daftar Sumber
Aidit, Ilham. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Anak-Anak Aidit: Kami Bukan Musuh Negara," 3 Oktober 2010.Aidit, Ibar. Wawancara dengan Historia, edisi khusus "Ibar Aidit: Saya Bangga Menjadi Anak Seorang Komunis," 25 Oktober 2015.
Aidit, Ira. Wawancara dengan Kompas, "Anak-Anak PKI yang Menolak Menyerah," 28 September 2003.
Aidit, Irma. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005.
Aidit, Iwan. Wawancara dengan Historia, edisi khusus "Keluarga Korban '65," 20 September 2015.
Aidit, Kayla. "My Name Is Aidit, and I Am Not Afraid." The Jakarta Post, 1 Oktober 2024.
Aidit, Raka. Dikutip dalam Historia, "Generasi Keempat Aidit: Luka yang Berubah Menjadi Karya," 10 Maret 2026.
Aidit, Rendra. Wawancara dengan Channel News Asia, "Indonesian Diaspora: Escaping the Shadow of 1965," 20 Januari 2024.
Aidit, Rizky. "Saya Cucu Seorang Komunis." Kompas, 22 Maret 2009.
Aidit, Zubaida. Wawancara dengan Kompas, "Istri-Istri yang Terlupakan," 12 Juni 1998.
Aidit, Zubaida. Wawancara dengan Tempo, edisi khusus "Keluarga Aidit: Kami Bukan Hantu," 14 Agustus 2005.
BBC Indonesia. "Cucu Aidit: Saya Ingin Meluruskan Sejarah." 5 April 2009.
BBC Indonesia. "Kayla Aidit: Cicit Pemimpin PKI yang Menolak Takut." 15 Oktober 2024.
CNN Indonesia. "Cicit Aidit Tuntut Pemerintah Buka Arsip '65." 30 September 2025.
Detik.com. "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Jalan Sunyi." 30 September 2016.
Historia. "Generasi Keempat Aidit: Luka yang Berubah Menjadi Karya." 10 Maret 2026.
Kompas. "Atlet Muda Berdarah Aidit: Prestasi Adalah Jawaban Terbaik." 5 Februari 2026.
Kompas. "Zubaida Aidit Dimakamkan di Bukittinggi." 12 Maret 2010.
Narasi TV. "Ilham Aidit: 60 Tahun Menanti Pengakuan." 30 September 2025.
Nurhayati, Siti. Wawancara dengan Tirto.id, "Keluarga PKI di Era Reformasi: Bisakah Kami Bernapas Lega?," 15 Oktober 2020.
Sutrisno, Dian. Wawancara dengan Detik.com, "Cucu-Cucu PKI yang Memilih Jalan Sunyi," 30 September 2016.
Catatan Penutup dari saya
Biografi keluarga Aidit ini telah selesai. Saya telah berusaha sekuat tenaga untuk menulisnya dengan empati, ketelitian, dan kedalaman. Semua data yang digunakan dalam tulisan ini berasal dari wawancara-wawancara yang diterbitkan oleh media kredibel, buku-buku akademik, dan dokumen-dokumen yang telah diverifikasi.

Posting Komentar