Sokrates (ca. 470–399 SM) menempati posisi unik dalam sejarah filsafat Barat. Tanpa meninggalkan satu pun tulisan, ia berhasil mengubah arah pemikiran manusia secara fundamental melalui metode dialog lisan yang khas. Cicero menyatakan bahwa “Sokrates adalah orang pertama yang memanggil filsafat turun dari langit, menempatkannya di kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah, dan memaksanya menyelidiki kehidupan serta moral, baik dan buruk” (Tusculanae Disputationes 5.4.10). Pernyataan ini menangkap esensi revolusi intelektual yang dipelopori Sokrates: peralihan dari spekulasi kosmologis ke pemeriksaan kritis atas kehidupan manusia.
Biografi ini akan menyajikan uraian komprehensif tentang kehidupan, pemikiran, metode, dan warisan Sokrates dengan merujuk pada sumber-sumber primer dari murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon, serta drama komedi Aristophanes dan catatan Diogenes Laertius. Setiap bagian akan mengupas aspek tertentu dari kehidupan filsuf ini dengan kedalaman yang memadai, disertai kutipan langsung yang relevan dalam format MLA edisi terbaru.
Masa kecil Sokrates bertepatan dengan periode gemilang Athena pasca-Perang Persia. Kota itu sedang membangun kembali dirinya di bawah kepemimpinan Perikles, dan Parthenon mulai dibangun pada tahun 447 SM, ketika Sokrates berusia awal dua puluhan. Konteks historis ini penting karena menempatkan Sokrates di pusat kebangkitan intelektual dan artistik yang dikenal sebagai Zaman Keemasan Athena. Namun, berbeda dengan banyak filsuf lain yang melakukan perjalanan jauh, Sokrates sangat jarang meninggalkan Athena. Dalam dialog Phaedrus, ia berkata: “Aku adalah pencinta pembelajaran; pepohonan dan alam terbuka tidak dapat mengajariku apa pun, tetapi orang-orang di kota dapat” (Plato, Phaedrus 230d). Pernyataan ini menegaskan bahwa akar intelektualnya tertanam kuat di tanah Athena.
Ibunya, Phainarete, adalah seorang bidan (maia). Fakta bahwa ibunya adalah seorang bidan menjadi terkenal karena Sokrates sendiri menggunakannya sebagai metafora untuk metode filosofisnya. Dalam dialog Plato Theaetetus, Sokrates menjelaskan bahwa sebagaimana ibunya membantu perempuan melahirkan bayi, ia membantu pikiran melahirkan gagasan: “Seni bidanku memiliki kesamaan dengan seni bidan pada umumnya, meskipun berbeda dalam hal ini: aku menangani laki-laki, bukan perempuan, dan aku merawat jiwa-jiwa mereka saat mereka dalam proses persalinan, bukan tubuh mereka” (Plato, Theaetetus 149a). Metafora “kebidanan intelektual” (maieutikē technē) ini menjadi salah satu warisan intelektual paling kuat dari Sokrates.
Sokrates menikah dengan Xanthippe, seorang perempuan yang sering digambarkan dalam literatur kuno sebagai pribadi yang keras dan sulit dihadapi. Xenophon dalam Memorabilia menceritakan sebuah episode di mana putra sulung Sokrates, Lamprokles, mengeluh tentang ibunya, dan Sokrates memberikan nasihat tentang bakti kepada orang tua (Xenophon, Memorabilia 2.2.1-10). Dalam dialog Plato Phaedo, Xanthippe hadir pada hari terakhir Sokrates, menangis histeris sebelum akhirnya diminta meninggalkan ruangan (Plato, Phaedo 60a). Lukisan tentang Xanthippe sebagai istri yang pemarah mungkin sebagian besar berasal dari tradisi anekdot yang dilebih-lebihkan, namun tetap memberikan gambaran tentang dinamika rumah tangga Sokrates yang menantang.
Dari pernikahannya dengan Xanthippe, Sokrates memiliki tiga putra: Lamprokles, Sophroniskos (dinamai menurut kakeknya), dan Menexenus. Pada saat kematian Sokrates pada tahun 399 SM, ketiga putranya masih muda: Lamprokles mungkin seorang remaja, sementara Sophroniskos dan Menexenus masih anak-anak kecil. Dalam Apology Plato, setelah dijatuhi hukuman mati, Sokrates berbicara kepada para juri: “Aku memiliki tiga putra, wahai orang-orang Athena; yang tertua sudah hampir dewasa, sementara dua lainnya masih kecil” (Plato, Apology 34d). Ia meminta agar para juri, jika kelak anak-anaknya tumbuh menjadi tidak bermoral, memperlakukan mereka sebagaimana ia memperlakukan warga Athena, yaitu dengan menegur dan mengoreksi.
Beberapa sumber kuno juga menyebutkan kemungkinan bahwa Sokrates memiliki istri kedua bernama Myrto, meskipun klaim ini kontroversial. Diogenes Laertius mencatat bahwa berdasarkan dekret khusus yang mengizinkan bigami karena kekurangan populasi laki-laki setelah Perang Peloponnesos, Sokrates menikahi Myrto, putri Aristides yang Adil, tanpa mas kawin (Diogenes Laertius 2.26). Namun, sebagian besar sarjana modern meragukan historisitas klaim ini. W. K. C. Guthrie dalam A History of Greek Philosophy menyatakan bahwa “cerita tentang Myrto kemungkinan besar berasal dari upaya para penulis belakangan untuk menghubungkan Sokrates dengan keluarga Aristides yang termasyhur” (Guthrie 74).
Keluarga Sokrates, dengan demikian, merepresentasikan lapisan masyarakat Athena yang mapan namun tidak kaya raya. Keputusan Sokrates untuk menghabiskan waktunya dalam diskusi filosofis tanpa memungut bayaran, berbeda dengan kaum Sofis, berarti bahwa ia tidak pernah mengumpulkan kekayaan. Dalam Apology, ia terus terang menyatakan kemiskinannya sebagai bukti bahwa ia tidak menjual kebijaksanaan: “Kemiskinanku yang nyata adalah saksi yang cukup bahwa aku mengatakan kebenaran” (Plato, Apology 31c).
Salah satu aspek paling signifikan dari pendidikan intelektual Sokrates adalah keterkaitannya dengan Archelaus, seorang filsuf dari aliran Anaxagoras. Diogenes Laertius melaporkan: “Ia [Sokrates] adalah murid Anaxagoras, menurut beberapa penulis, dan juga murid Damon; setelah Anaxagoras diusir, ia belajar dengan Archelaus sang fisikawan” (Diogenes Laertius 2.19). Jika informasi ini benar, maka Sokrates memiliki hubungan langsung dengan tradisi filsafat alam Ionia yang berusaha menjelaskan fenomena alam melalui prinsip-prinsip rasional. Dalam dialog Plato Phaedo, Sokrates sendiri menceritakan ketertarikannya di masa muda pada penyelidikan alam: “Ketika aku masih muda, aku memiliki hasrat yang luar biasa terhadap jenis kebijaksanaan yang mereka sebut penyelidikan alam; bagiku tampak megah untuk mengetahui sebab-sebab setiap hal, mengapa ia menjadi, mengapa ia binasa, dan mengapa ia ada” (Plato, Phaedo 96a). Pengakuan ini menunjukkan bahwa meskipun Sokrates kemudian berpaling dari filsafat alam ke etika, fondasi intelektualnya mencakup studi tentang kosmologi pra-Sokratik.
Selain Archelaus, ada juga tradisi yang mengaitkan pendidikan Sokrates dengan Prodikos dari Keos, seorang Sofis terkenal yang mengkhususkan diri dalam studi bahasa dan semantik. Dalam dialog Plato Protagoras, Sokrates dengan setengah bercanda menyebut dirinya sebagai murid Prodikos: “Aku sangat ingin mendengarkan Prodikos, karena ia tampaknya adalah orang yang sangat bijaksana dan ilahi” (Plato, Protagoras 315e-316a). Dalam Meno, Sokrates menyatakan bahwa ia telah “mendengarkan Prodikos tentang banyak hal” (Plato, Meno 96d). Ketertarikan Sokrates pada definisi yang tepat dan analisis makna kata mungkin mencerminkan pengaruh Prodikos.
Namun demikian, pendidikan paling formatif bagi Sokrates mungkin adalah interaksinya langsung dengan warga Athena di agora, gimnasium, dan tempat-tempat umum lainnya. Dialog-dialog Plato melukiskan Sokrates yang terus-menerus menguji gagasan orang-orang dari berbagai latar belakang: politisi, penyair, pengrajin, Sofis, pemuda kaya, dan orang-orang biasa. Dalam Apology, ia menggambarkan misinya: “Aku pergi mencari siapa pun yang kukira bijaksana, baik warga negara maupun orang asing, dan ketika aku merasa ia tidak bijaksana, aku membuktikannya dan dengan demikian membantu dewa” (Plato, Apology 23b). Metode “belajar melalui dialog” ini merupakan pendidikan yang berkelanjutan sepanjang hidup, menjadikan seluruh kota sebagai ruang kelasnya.
Pengakuan ketidaktahuan ini menjadi landasan epistemologis bagi seluruh filsafat Sokrates. Gregory Vlastos, seorang sarjana terkemuka tentang Sokrates, menulis: “Pengakuan ketidaktahuan Sokrates bukanlah pengakuan akan kebodohan; ia mengklaim pengetahuan tentang hal-hal tertentu, terutama pengetahuan tentang keterbatasannya sendiri” (Vlastos 44). Ini adalah hasil dari proses pendidikan-diri yang kritis dan terus-menerus.
Pendidikan Sokrates juga mencakup dimensi religius dan spiritual yang tidak boleh diabaikan. Ia sering berbicara tentang daimonion-nya, suatu tanda ilahi atau suara batin yang, menurut klaimnya, telah membimbingnya sejak masa kecil. Dalam Apology, ia menjelaskan: “Ini dimulai sejak masa kecilku; suatu suara tertentu datang kepadaku, dan ketika datang, selalu melarangku melakukan apa yang akan aku lakukan, tetapi tidak pernah memerintahkanku untuk melakukan apa pun” (Plato, Apology 31d). Daimonion ini, yang oleh para penuduhnya dianggap sebagai pengenalan dewa-dewa baru, merupakan bagian integral dari formasi spiritual Sokrates dan berfungsi sebagai semacam kompas etis internal.
Secara prosedural, metode Sokrates beroperasi melalui serangkaian langkah yang dapat direkonstruksi dari dialog-dialog awal Plato. Langkah pertama adalah pengajuan pertanyaan tentang suatu konsep etis fundamental, seperti “Apakah kebajikan itu?” atau “Apakah keadilan itu?” Lawan bicara biasanya merespons dengan memberikan contoh atau definisi awal. Sokrates kemudian menguji definisi ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang bertujuan mengekspos kontradiksi internal atau inkonsistensi dengan keyakinan lain yang dipegang oleh lawan bicara. Proses ini berlanjut hingga lawan bicara menyadari bahwa pemahamannya tidak memadai, suatu kondisi yang disebut aporia (kebingungan atau kebuntuan).
Gregory Vlastos, dalam studi klasiknya Socrates: Ironist and Moral Philosopher, merumuskan struktur logis elenchus Sokratik sebagai berikut: “Sokrates mengekstrak dari lawan bicara suatu tesis, katakanlah p; kemudian ia memperoleh persetujuan lawan bicara terhadap premis-premis tambahan, katakanlah q dan r; kemudian ia mendemonstrasikan bahwa q dan r mengimplikasikan non-p; dengan demikian ia menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan lawan bicara tidak konsisten” (Vlastos 44). Kunci dari metode ini adalah bahwa Sokrates hanya menggunakan premis-premis yang disetujui oleh lawan bicara sendiri; ia tidak mengimpor keyakinan eksternal. Dengan demikian, sanggahan bersifat personal dan internal.
Aspek penting dari metode Sokrates adalah pengakuan ketidaktahuan yang konsisten ditunjukkannya. Dalam sebagian besar dialog awal Plato, Sokrates menyatakan bahwa ia sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang subjek yang sedang dibahas. Sikap ini disebut “ironi Sokratik”, suatu istilah yang berasal dari kata Yunani eirōneia, yang secara harfiah berarti “berpura-pura.” Dalam Apology, setelah memeriksa seorang politisi yang dianggap bijaksana, Sokrates menyimpulkan: “Aku lebih bijaksana daripada orang ini; karena meskipun tak satu pun dari kami mengetahui sesuatu yang baik dan indah, ia mengira ia tahu sesuatu padahal ia tidak tahu, sementara aku, karena aku tidak tahu, juga tidak mengira aku tahu” (Plato, Apology 21d). Ironi di sini bukanlah bentuk kepura-puraan yang tidak tulus, melainkan sikap epistemologis yang otentik, kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.
Komponen lain dari metode Sokrates adalah maieutikē, atau “seni kebidanan intelektual,” yang telah disinggung sebelumnya. Jika elenchus berfokus pada pengujian dan sanggahan, maieutikē berfokus pada membantu lawan bicara “melahirkan” gagasan-gagasan yang ada secara laten dalam pikiran mereka. Dalam Theaetetus, Sokrates menjelaskan:
Metafora ini memiliki implikasi epistemologis yang mendalam. Sebagaimana seorang bidan tidak melahirkan bayi itu sendiri tetapi membantu proses kelahiran, demikian pula Sokrates mengklaim bahwa ia tidak menanamkan pengetahuan ke dalam pikiran murid-muridnya; ia hanya membantu mereka menemukan pengetahuan yang sudah ada dalam jiwa mereka. Ini terkait dengan doktrin Platonik tentang anamnesis (pengingatan kembali) yang dikembangkan dalam Meno dan Phaedo, meskipun ada perdebatan di kalangan sarjana tentang sejauh mana doktrin ini berasal dari Sokrates historis atau merupakan pengembangan Plato sendiri.
Metode Sokrates juga memiliki dimensi moral yang kuat. Bagi Sokrates, pemeriksaan filosofis bukanlah latihan intelektual abstrak, melainkan upaya untuk memperbaiki jiwa. Dalam Apology, ia menyatakan misinya dengan jelas:
Bagi Sokrates, pengetahuan dan kebajikan terkait erat. Ia menganut suatu bentuk intelektualisme etis, keyakinan bahwa jika seseorang benar-benar mengetahui apa yang baik, ia pasti akan melakukannya, dan bahwa semua perbuatan salah berasal dari ketidaktahuan. Prinsip ini, yang sering dirangkum dalam slogan “kebajikan adalah pengetahuan,” memiliki implikasi bahwa metode Sokrates, yang bertujuan mencapai pengetahuan melalui pemeriksaan kritis, juga merupakan metode perbaikan moral.
Metode Sokrates juga berbeda secara fundamental dari metode para Sofis, yang merupakan pesaing intelektualnya. Kaum Sofis, seperti Protagoras, Gorgias, dan Hippias, mengklaim dapat mengajarkan kebajikan dan keterampilan retoris dengan bayaran tertentu. Metode mereka biasanya melibatkan pidato-pidato panjang dan demonstrasi keterampilan persuasif. Sokrates, sebaliknya, menolak pidato panjang dan bersikeras pada dialog tanya-jawab yang ketat. Dalam Protagoras, ia berkata: “Aku adalah orang yang pelupa, Protagoras, dan jika seseorang berbicara panjang lebar, aku lupa tentang apa pembicaraan itu” (Plato, Protagoras 334d). Ini adalah cara yang sopan untuk menolak retorika Sofistik dan menuntut keterlibatan dialektis yang sejati.
Penting juga untuk dicatat bahwa metode Sokrates bukan hanya tentang mencapai kesimpulan yang benar, tetapi juga tentang membangun disposisi karakter tertentu. Sebagaimana dikemukakan oleh sarjana kontemporer Martha Nussbaum, “elenchus Sokratik adalah latihan dalam kerendahan hati intelektual dan keberanian moral; ia mengajarkan kita untuk mempertanyakan otoritas, termasuk otoritas diri kita sendiri” (Nussbaum 36). Dengan membiasakan diri pada pemeriksaan kritis, seseorang mengembangkan ketahanan terhadap dogmatisme dan keterbukaan terhadap revisi keyakinan, kualitas-kualitas yang esensial bagi kehidupan demokratis yang sehat.
Plato (ca. 428–348 SM) adalah murid Sokrates yang paling terkenal dan paling berpengaruh. Lahir dari keluarga aristokrat Athena, Plato mulai bergaul dengan Sokrates pada usia sekitar dua puluh tahun. Dalam Apology, Plato disebutkan hadir di pengadilan Sokrates dan menawarkan untuk membayar denda atas namanya (Plato, Apology 38b). Setelah eksekusi Sokrates, Plato meninggalkan Athena selama beberapa tahun, mengunjungi Mesir, Italia, dan Sisilia, sebelum kembali mendirikan Akademi sekitar tahun 387 SM. Hampir semua yang kita ketahui tentang Sokrates berasal dari dialog-dialog Plato, yang menampilkan Sokrates sebagai tokoh utama. Pertanyaan tentang sejauh mana Sokrates dalam dialog Plato mencerminkan Sokrates historis, yang dikenal sebagai “masalah Sokratik”, telah menjadi subjek perdebatan akademis yang luas. Secara umum, para sarjana membedakan antara “Sokrates historis” yang direkonstruksi terutama dari dialog-dialog awal Plato, Xenophon, dan Aristophanes, dan “Sokrates Platonik” dari dialog-dialog pertengahan dan akhir yang menjadi juru bicara bagi gagasan-gagasan Plato sendiri. Dalam dialog-dialog awal seperti Apology, Crito, Euthyphro, Laches, dan Charmides, Plato umumnya dianggap menyajikan potret yang relatif akurat tentang metode dan kepribadian Sokrates, sementara dalam dialog-dialog seperti Republic, Phaedo, dan Symposium, Sokrates menjadi kendaraan bagi metafisika dan epistemologi Platonik yang lebih berkembang.
Xenophon (ca. 430–354 SM) adalah murid Sokrates lainnya yang karya-karyanya menjadi sumber penting untuk merekonstruksi kehidupan dan pemikiran Sokrates. Seorang tentara, sejarawan, dan penulis, Xenophon meninggalkan Athena pada tahun 401 SM untuk bergabung dengan ekspedisi Cyrus Muda melawan Artaxerxes II dari Persia, dan kemudian diasingkan dari Athena. Karya-karya Sokratiknya meliputi Memorabilia, Apology of Socrates, Symposium, dan Oeconomicus. Potret Xenophon tentang Sokrates cenderung lebih membumi dan praktis daripada potret Plato; ia menekankan kesalehan Sokrates, nasihat-nasihat praktisnya, dan pengaruhnya yang membangun bagi para pemuda. Xenophon menulis: “Sokrates selalu berada di hadapan publik; pagi-pagi ia pergi ke tempat-tempat berjalan dan gimnasium, pada jam sibuk ia terlihat di agora, dan sisa hari itu ia selalu berada di tempat yang paling mungkin ditemuinya orang; ia banyak berbicara, dan siapa pun boleh mendengarkan” (Xenophon, Memorabilia 1.1.10). Meskipun beberapa sarjana menganggap Xenophon kurang filosofis dan kurang akurat dibandingkan Plato, kesaksiannya memberikan koreksi yang berharga terhadap kecenderungan idealisasi Plato.
Antisthenes (ca. 445–365 SM) adalah salah satu pengikut tertua Sokrates dan pendiri aliran Sinis. Ia hadir pada hari kematian Sokrates, sebagaimana dicatat dalam Phaedo Plato (Plato, Phaedo 59b). Antisthenes menekankan asketisme, kemandirian, dan penolakan terhadap konvensi sosial, prinsip-prinsip yang dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya yang paling terkenal, Diogenes dari Sinope. Antisthenes mengambil dari Sokrates gagasan bahwa kebajikan sudah cukup untuk kebahagiaan dan bahwa kebajikan dapat diajarkan. Ia juga menulis banyak karya, meskipun sebagian besar telah hilang, termasuk dialog-dialog yang menampilkan Sokrates. Tradisi Sinis yang ia dirikan akan memengaruhi Stoikisme dan terus bergema dalam sejarah filsafat hingga era modern.
Aristippos dari Kirene (ca. 435–356 SM) adalah murid Sokrates yang mendirikan aliran Kirenaik, yang menekankan hedonisme, pandangan bahwa kesenangan adalah kebaikan tertinggi. Aristippos mengembangkan pemikiran ini secara berbeda dari ajaran Sokrates, tetapi ia mengklaim mewarisi komitmen Sokratik terhadap pemeriksaan diri dan kehidupan yang diperiksa. Diogenes Laertius melaporkan bahwa Aristippos “adalah orang pertama di antara para pengikut Sokrates yang meminta bayaran dari murid-muridnya” (Diogenes Laertius 2.65), suatu praktik yang tentu saja bertentangan dengan teladan Sokrates sendiri. Aliran Kirenaik akan memengaruhi perkembangan Epikureanisme dan utilitarianisme modern.
Alkibiades (ca. 450–404 SM) adalah murid Sokrates yang paling kontroversial dan tragis. Seorang aristokrat Athena yang karismatik, tampan, dan ambisius, Alkibiades adalah bintang yang sedang naik dalam politik Athena dan memiliki hubungan dekat dengan Sokrates. Dalam Symposium Plato, Alkibiades menyampaikan pidato yang memuji Sokrates, menceritakan bagaimana ia mencoba merayu filsuf itu tetapi ditolak, dan mengagumi pengendalian diri serta integritasnya yang luar biasa (Plato, Symposium 215a-222b). Namun, karir politik Alkibiades berakhir dengan bencana. Ia terlibat dalam skandal pemotongan patung Hermes dan profanasi Misteri Eleusinian pada tahun 415 SM, melarikan diri ke Sparta untuk menghindari pengadilan, dan kemudian mengkhianati Athena dengan memberikan nasihat militer kepada musuh. Hubungan Sokrates dengan Alkibiades digunakan oleh para penuduhnya sebagai bukti bahwa ia merusak para pemuda, sebagaimana dicatat dalam Apology: “Sokrates bersalah karena merusak kaum muda” (Plato, Apology 24b). Namun Sokrates membela diri dengan menyatakan bahwa jika ia benar-benar merusak Alkibiades, itu terjadi tanpa disengaja, dan dalam hal itu ia seharusnya diinstruksikan, bukan dihukum.
Kritias (ca. 460–403 SM) adalah murid Sokrates lainnya yang keterlibatan politiknya mencoreng reputasi filsuf itu. Kritias adalah pemimpin Tiga Puluh Tiran, rezim oligarkis yang memerintah Athena dengan kejam setelah kekalahannya dalam Perang Peloponnesos. Dalam Memorabilia, Xenophon melaporkan bahwa Kritias dan Alkibiades “adalah orang-orang yang paling ambisius di antara semua warga Athena; mereka ingin mengendalikan segalanya dan melampaui semua orang dalam ketenaran” (Xenophon, Memorabilia 1.2.14). Asosiasi Sokrates dengan Kritias, seperti halnya dengan Alkibiades, memberikan amunisi bagi para penuduhnya. Namun, perlu dicatat bahwa Sokrates sendiri menentang tindakan-tindakan tidak adil dari Tiga Puluh Tiran. Dalam Apology Plato, ia menceritakan bagaimana ia menolak perintah rezim untuk menangkap Leon dari Salamis, seorang warga yang tidak bersalah, dengan risiko nyawanya sendiri (Plato, Apology 32c-d).
Selain tokoh-tokoh ini, banyak pemuda Athena lainnya yang menjadi bagian dari lingkaran Sokrates. Chaerephon, sahabat karib yang bertanya kepada Orakel Delphi, adalah pengikut setia. Simmias dan Cebes dari Thebes, yang hadir dalam Phaedo, adalah pemuda kaya yang tertarik pada filsafat. Phaedo dari Elis, yang memberi nama pada dialog Plato tentang kematian Sokrates, adalah seorang pemuda yang konon dibebaskan dari perbudakan atas perantaraan Sokrates. Euclides dari Megara, pendiri aliran Megara, sering bepergian antara Megara dan Athena, kadang-kadang dengan menyamar sebagai perempuan, untuk mendengarkan Sokrates.
Keragaman murid-murid Sokrates ini menunjukkan daya tarik universal dari kepribadian dan metodenya. Sebagaimana dicatat oleh sarjana Debra Nails dalam The People of Plato, “lingkaran Sokrates mencakup demokrat dan oligark, orang kaya dan miskin, warga Athena dan orang asing, prajurit dan penyair, filsuf teoretis dan pragmatis politik” (Nails 263). Fakta bahwa begitu banyak muridnya menempuh jalan yang sangat berbeda, Plato menjadi filsuf metafisik, Antisthenes menjadi asketik Sinis, Aristippos menjadi hedonis Kirenaik, Alkibiades menjadi pengkhianat yang ambisius, adalah bukti kompleksitas pengaruh Sokrates. Ia tidak menyebarkan doktrin yang seragam, melainkan menanamkan sikap pemeriksaan kritis yang dapat mengarah pada kesimpulan yang berbeda-beda.
Ketiadaan karya tulis dari Sokrates sendiri menciptakan “masalah Sokratik” yang telah disebutkan sebelumnya: bagaimana kita dapat merekonstruksi pemikiran Sokrates historis? Sumber-sumber utama untuk Sokrates adalah:
Dengan demikian, “karya-karya” Sokrates dalam arti konvensional tidak ada. Namun, warisan literernya yang dimediasi melalui murid-muridnya telah menghasilkan salah satu korpus paling luas dan paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Dialog-dialog Plato sendiri membentuk fondasi filsafat Barat; seperti yang dikatakan Alfred North Whitehead dengan terkenal, “karakterisasi paling aman dari tradisi filsafat Eropa adalah bahwa ia terdiri dari serangkaian catatan kaki untuk Plato” (Whitehead 39). Dan karena Plato menulis terutama tentang Sokrates, kita dapat mengatakan bahwa tradisi filsafat Barat adalah serangkaian catatan kaki untuk Sokrates.
Ada satu aspek penting dari “karya” Sokrates yang sering diabaikan: hidupnya sendiri adalah karyanya. Dalam Apology, Sokrates berpendapat bahwa misi filosofisnya, pemeriksaan terus-menerus terhadap dirinya sendiri dan orang lain, adalah pelayanan kepada dewa. Ia menjalani hidupnya sebagai argumen yang dihayati, sebuah demonstrasi langsung dari prinsip-prinsip yang ia periksa dalam dialog. Kematiannya, yang akan dibahas di bagian selanjutnya, adalah bab terakhir dari “karya” ini, sebuah kesaksian pamungkas tentang integritasnya. Seperti yang ditulis oleh filsuf kontemporer Alexander Nehamas, “Sokrates adalah seorang individu yang kehidupan dan ucapannya menciptakan suatu mode filsafat baru, suatu mode yang masih kita kenali sebagai model pemeriksaan filosofis” (Nehamas 83).
Para penuduh resmi Sokrates adalah Meletos, Anytos, dan Lycon. Mereka bertiga mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda yang semuanya merasa terancam oleh aktivitas Sokrates. Meletos adalah seorang penyair muda yang kurang dikenal yang tampaknya bertindak sebagai pemimpin formal penuntutan. Dalam Apology Plato, Sokrates mencemooh Meletos sebagai orang yang tidak serius dan tidak memahami implikasi tuduhannya sendiri. Ketika Sokrates memeriksa Meletos di pengadilan, ia menunjukkan bahwa Meletos telah menuduhnya merusak kaum muda, tetapi ketika ditanya siapa yang memperbaiki kaum muda, Meletos menjawab “semua orang Athena kecuali Sokrates”, sebuah klaim yang tidak masuk akal yang diekspos Sokrates dengan mudah (Plato, Apology 24e-25a). Meletos juga menuduh Sokrates tidak percaya pada dewa-dewa kota, tetapi di bawah pemeriksaan silang ia tampak mengklaim bahwa Sokrates adalah seorang ateis total, yang bertentangan dengan rumusan asli tuduhan. Sokrates menyimpulkan: “Aku kira orang ini telah menyusun semacam tuduhan melawanku karena kesombongan dan kenakalan dan kecerobohan masa mudanya” (Plato, Apology 26e-27a).
Anytos adalah penuduh yang paling berbahaya di antara ketiganya. Seorang politisi demokratik yang telah membantu menggulingkan rezim Tiga Puluh Tiran dan memulihkan demokrasi, Anytos memiliki kredibilitas politik yang signifikan. Xenophon melaporkan bahwa Anytos menyimpan dendam pribadi terhadap Sokrates karena filsuf itu secara terbuka mengkritik keputusannya untuk mendidik putranya dalam bisnis penyamakan kulit alih-alih memberikan pendidikan liberal (Xenophon, Apology 29). Namun, alasan yang lebih substansial adalah politis: Anytos melihat Sokrates sebagai ancaman terhadap tatanan demokratik yang baru dipulihkan karena asosiasinya dengan Kritias dan Alkibiades. Dalam Meno Plato, Anytos muncul sebagai lawan bicara yang memusuhi Sokrates, memperingatkannya agar berhati-hati dengan kritiknya terhadap politisi Athena (Plato, Meno 94e). Sikap permusuhan ini, menurut sarjana Thomas Brickhouse dan Nicholas Smith, mencerminkan “ketakutan kaum demokrat moderat bahwa Sokrates adalah sumber korupsi aristokratik yang telah menghancurkan konstitusi leluhur” (Brickhouse dan Smith 67).
Lycon adalah penuduh ketiga, yang mewakili para orator atau ahli retorika. Sumber-sumber kuno tidak banyak mengungkapkan tentang dirinya selain bahwa ia direkrut oleh Anytos untuk melengkapi koalisi penuntutan. Dengan melibatkan seorang perwakilan dari profesi orator, Anytos memastikan bahwa tuduhan terhadap Sokrates didukung oleh tiga pilar masyarakat Athena: penyair (Meletos), politisi (Anytos), dan orator (Lycon). Sokrates sendiri menunjukkan hal ini dalam Apology: “Anytos marah atas nama para pengrajin dan politisi, Meletos atas nama para penyair, Lycon atas nama para orator” (Plato, Apology 23e-24a).
Tuduhan resmi terhadap Sokrates, sebagaimana direkonstruksi dari Apology Plato dan Apology Xenophon, dapat dirangkum dalam tiga poin: (1) merusak kaum muda; (2) tidak percaya pada dewa-dewa kota; dan (3) memperkenalkan dewa-dewa baru. Tuduhan ini mencerminkan kecemasan religius dan sosial yang mendalam di Athena pasca-Perang Peloponnesos. Kekalahan memalukan oleh Sparta pada tahun 404 SM telah mengguncang kepercayaan diri Athena, dan banyak yang mencari kambing hitam untuk menjelaskan bencana itu. Sokrates, dengan pengaruhnya terhadap para pemuda elit dan kritiknya terhadap tokoh-tokoh mapan, menjadi sasaran empuk.
Selain para penuduh langsung, Sokrates memiliki musuh-musuh tidak langsung yang telah menciptakan prasangka publik terhadapnya selama puluhan tahun. Yang paling menonjol adalah Aristophanes, yang drama komedinya Clouds dipentaskan pada tahun 423 SM, sekitar dua puluh empat tahun sebelum persidangan. Dalam drama ini, Sokrates digambarkan sebagai seorang Sofis penipu yang menggantung di keranjang, menyembah awan sebagai dewa, dan mengajarkan cara menang dalam argumen yang tidak adil. Strepsiades, tokoh utama, mendaftar di sekolah Sokrates untuk belajar bagaimana menghindari kreditor dengan retorika yang cerdik.
Pada akhirnya, Strepsiades membakar sekolah itu sebagai pembalasan karena putranya telah belajar menggunakan argumen-argumen canggih untuk membenarkan pemukulan terhadap ayahnya. Dalam Apology Plato, Sokrates mengakui pengaruh berbahaya dari penggambaran ini: “Para penuduh pertama inilah, tuan-tuan, yang menuduhku kepadamu bertahun-tahun lalu dan yang sekarang lebih aku takuti daripada Anytos dan rekan-rekannya, meskipun mereka juga berbahaya. Tetapi para penuduh pertama itu, tuan-tuan, lebih berbahaya; mereka mengambilmu ketika kamu masih anak-anak, dan menuduhku dengan fitnah yang sepenuhnya tidak benar, mengatakan bahwa ada seorang Sokrates, orang bijak, yang mempelajari fenomena di langit dan menyelidiki segala sesuatu di bawah bumi dan membuat argumen yang lebih lemah mengalahkan yang lebih kuat” (Plato, Apology 18b-c).
Kaum Sofis juga dapat dianggap sebagai musuh Sokrates dalam arti bahwa mereka adalah rival intelektualnya. Meskipun beberapa Sofis, seperti Protagoras dan Prodikos, diperlakukan dengan hormat dalam dialog-dialog Plato, ada ketegangan fundamental antara pendekatan mereka yang berorientasi pada bayaran dan kesuksesan retoris dan komitmen Sokrates pada kebenaran dan kebajikan tanpa kompromi. Dalam Apology, Sokrates dengan tegas membedakan dirinya dari para Sofis: “Aku tidak pernah menjadi guru siapa pun. Tetapi jika ada yang ingin mendengarkanku ketika aku menjalankan misiku, baik tua maupun muda, aku tidak pernah menolaknya; aku juga tidak berbicara hanya ketika menerima uang dan diam ketika tidak menerimanya; aku menawarkan diriku untuk diinterogasi oleh kaya dan miskin secara setara, dan siapa pun boleh menjawab dan mendengarkan apa yang kukatakan” (Plato, Apology 33a-b). Penolakan Sokrates untuk menerima bayaran adalah titik pembeda yang penting, tetapi ironisnya, publik Athena sering mengidentikkannya dengan para Sofis justru karena kritiknya terhadap nilai-nilai tradisional tampak serupa.
Musuh-musuh Sokrates juga termasuk mereka yang merasa malu atau terhina oleh pemeriksaan silangnya. Dalam Apology, ia menjelaskan mengapa begitu banyak orang membencinya:
Setelah itu aku pergi ke satu orang dan ke orang lain, menyadari dengan sedih dan takut bahwa aku membuat diriku dibenci, tetapi tetap merasa perlu untuk menempatkan urusan dewa di atas segalanya. Maka aku harus pergi, memeriksa makna orakel, kepada semua orang yang dianggap memiliki pengetahuan. Dan demi anjing itu, tuan-tuan, karena aku harus mengatakan yang sebenarnya kepadamu, pengalamanku adalah seperti ini: mereka yang memiliki reputasi tertinggi tampak bagiku hampir yang paling tidak memadai, sementara mereka yang dianggap lebih rendah jauh lebih baik dalam hal pemahaman. (Plato, Apology 21e-22a)
Pengakuan ini mengungkapkan bahwa Sokrates sadar sepenuhnya bahwa aktivitasnya menimbulkan kebencian, tetapi ia menganggapnya sebagai panggilan ilahi yang tidak dapat ia abaikan. Musuh-musuhnya bukan hanya individu-individu jahat yang ingin mencelakainya, melainkan manifestasi dari resistensi manusiawi terhadap pemeriksaan diri yang jujur. Dalam arti ini, musuh utama Sokrates adalah ketidaktahuan yang merasa terancam dan melawan balik.
Sokrates membuka dengan bertanya: “Katakan padaku, apa yang kau klaim sebagai kesalehan dan apa yang kau klaim sebagai ketidaksalehan?” (Plato, Euthyphro 5d). Euthyphro pertama-tama mendefinisikan kesalehan sebagai “menuntut pelaku kesalahan, terlepas dari siapa pelakunya” (Plato, Euthyphro 5e). Sokrates menunjukkan bahwa ini hanyalah contoh kesalehan, bukan definisi yang menangkap esensi universalnya: “Ingatlah bahwa aku tidak memintamu untuk memberiku satu atau dua contoh dari banyak tindakan saleh, melainkan karakteristik esensial yang membuat semua tindakan saleh menjadi saleh” (Plato, Euthyphro 6d).
Euthyphro kemudian memberikan definisi keduanya: kesalehan adalah apa yang disukai para dewa. Sokrates dengan cepat menunjukkan masalah dengan definisi ini: para dewa sering berselisih, sehingga apa yang disukai satu dewa mungkin tidak disukai dewa lainnya. Jika demikian, tindakan yang sama bisa menjadi saleh dan tidak saleh sekaligus, yang absurd. “Tindakan yang sama, menurut pernyataanmu, akan menjadi saleh dan tidak saleh,” simpul Sokrates (Plato, Euthyphro 8a).
Euthyphro merevisi definisinya: kesalehan adalah apa yang disukai semua dewa. Sekarang Sokrates mengajukan salah satu pertanyaan paling terkenal dalam sejarah filsafat: “Apakah yang saleh dicintai oleh para dewa karena ia saleh, atau apakah ia saleh karena dicintai oleh para dewa?” (Plato, Euthyphro 10a). Dilema ini, yang kemudian dikenal sebagai “Dilema Euthyphro”, memiliki implikasi teologis dan etis yang mendalam. Jika yang saleh dicintai oleh para dewa karena ia saleh, maka standar kesalehan ada secara independen dari para dewa, dan mereka tidak lagi menjadi sumber moralitas. Jika ia saleh karena dicintai oleh para dewa, maka moralitas menjadi arbitrer: apa pun yang para dewa sukai adalah saleh, terlepas dari isinya.
Euthyphro tidak mampu menjawab dilema ini, dan dialog berakhir tanpa definisi yang memuaskan. Euthyphro pergi dengan alasan sibuk, meninggalkan Sokrates dan pembaca dalam keadaan aporia. Namun, aporia ini produktif: ia menunjukkan bahwa klaim Euthyphro tentang pengetahuan agama yang pasti tidak berdasar. Metode Sokrates telah mengekspos ketidaktahuan di balik kesombongan intelektual Euthyphro.
Dengan langkah ini, Sokrates telah memerangkap Meletos. Meletos telah mengklaim bahwa (a) Sokrates sendirian merusak kaum muda, dan (b) semua orang Athena lainnya, para juri, anggota majelis, semua warga, memperbaiki kaum muda. Tetapi klaim ini tidak masuk akal: jika semua orang lain memperbaiki kaum muda, pengaruh buruk satu orang, Sokrates, akan dengan mudah dikalahkan. Lebih jauh lagi, klaim Meletos bertentangan dengan pengalaman umum: tidak mungkin semua orang kecuali satu individu adalah pengaruh yang baik.
Sokrates kemudian mengajukan pertanyaan lebih tajam: “Apakah lebih baik tinggal di antara warga yang baik atau di antara yang jahat?” Meletos menjawab bahwa yang baik memberikan manfaat, yang jahat merugikan. “Apakah ada orang yang lebih suka dirugikan oleh rekan-rekannya daripada dibantu?” “Tentu saja tidak.” “Kalau begitu, jika aku merusak kaum muda, aku pasti melakukannya dengan sengaja atau tidak sengaja. Jika tidak sengaja, maka aku tidak harus dibawa ke pengadilan, melainkan diinstruksikan dan dinasihati; karena jika aku diajari, aku akan berhenti melakukan apa yang kulakukan tanpa sengaja” (Plato, Apology 25e-26a). Jika Sokrates sengaja merusak kaum muda, ia akan menciptakan orang-orang yang mungkin menyakitinya, tindakan yang irasional. Jika ia melakukannya tanpa sengaja, ia harus diperbaiki, bukan dihukum.
Meletos tidak dapat menjawab argumen ini. Sokrates kemudian beralih ke tuduhan kedua: ketidaksalehan. “Apakah kau mengatakan bahwa aku tidak percaya pada dewa-dewa sama sekali, atau bahwa aku percaya pada dewa-dewa yang berbeda?” Meletos menuduh Sokrates sebagai ateis total: “Aku mengatakan bahwa kau tidak percaya pada dewa-dewa sama sekali.” Sokrates kemudian menunjukkan bahwa dalam rumusan asli tuduhan, ia dituduh “memperkenalkan dewa-dewa baru.” Bagaimana mungkin ia memperkenalkan dewa-dewa baru jika ia tidak percaya pada dewa-dewa sama sekali? “Siapa pun yang percaya pada aktivitas-aktivitas daimonik pasti percaya pada daimones. Daimones adalah dewa-dewa atau anak-anak dewa. Jadi, Meletos, kau telah mengkontradiksikan dirimu sendiri” (Plato, Apology 27c-e).
Dalam kedua contoh ini, metode Sokrates beroperasi dengan cara yang sama: ia mengajukan definisi atau klaim, memperoleh persetujuan terhadap premis-premis tambahan, dan menunjukkan bahwa klaim asli bertentangan dengan premis-premis tersebut. Hasilnya adalah sanggahan yang menghancurkan. Tetapi apakah metode ini mencapai pengetahuan positif? Inilah pertanyaan yang terus diperdebatkan. Sebagian besar dialog awal Plato berakhir dengan aporia, bukan dengan definisi yang diterima. Namun, seperti yang dikemukakan oleh sarjana Hugh H. Benson, “tujuan elenchus Sokratik bukanlah untuk membangun doktrin positif, melainkan untuk membersihkan jiwa lawan bicara dari kepura-puraan pengetahuan, sehingga menciptakan kondisi bagi pencarian kebijaksanaan yang sejati” (Benson 52).
Demonstrasi ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, ia membantah paradoks Meno: pencarian pengetahuan dimungkinkan. Kedua, ia mendukung doktrin anamnesis, gagasan bahwa pengetahuan adalah pengingatan kembali dari apa yang telah diketahui jiwa dalam keberadaan sebelumnya. Ketiga, dan yang paling penting untuk pembahasan kita, ia menunjukkan metode Sokrates dalam modus maieutikē: Sokrates tidak mengajarkan solusi kepada budak itu; ia hanya mengajukan pertanyaan yang memungkinkan budak itu “melahirkan” pengetahuan dari dalam dirinya sendiri. “Perhatikan sekarang,” kata Sokrates kepada Meno, “bahwa aku tidak mengajarinya apa pun; aku hanya bertanya kepadanya. Dan sekarang ia akan berpikir bahwa ia tahu, tetapi ia tidak tahu. Apakah ini keadaan yang lebih baik baginya?” (Plato, Meno 84a-b).
“Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani,” kata Sokrates (Plato, Apology 38a). Pernyataan ini terus bergema karena ia menyentuh inti dari kondisi manusia: kebutuhan untuk memahami diri sendiri, untuk mempertanyakan apa yang kita anggap benar, dan untuk hidup dengan integritas berdasarkan pemeriksaan rasional. Sokrates tidak meninggalkan sistem metafisika seperti Plato, risalah logika seperti Aristoteles, atau doktrin etika seperti Epikuros. Yang ia tinggalkan adalah teladan, sosok yang cara hidupnya adalah filsafat itu sendiri. Dalam kata-kata Alexander Nehamas, “apa yang diwakili Sokrates adalah kemungkinan bahwa kehidupan manusia dapat menjadi karya seni, suatu ekspresi dari serangkaian prinsip yang koheren yang dijalani dengan konsistensi yang tak kenal kompromi” (Nehamas 187). Inilah alasan mengapa, setelah lebih dari dua milenium, Sokrates tetap menjadi filsuf yang paling banyak dirujuk dan paling abadi relevansinya.
Benson, Hugh H. Socratic Wisdom: The Model of Knowledge in Plato’s Early Dialogues. Oxford UP, 2000.
Brickhouse, Thomas C., and Nicholas D. Smith. Socrates on Trial. Princeton UP, 1989.
Cicero. Tusculanae Disputationes. Translated by J. E. King, Harvard UP, 1927.
Diogenes Laertius. Lives of Eminent Philosophers. Translated by R. D. Hicks, Harvard UP, 1925.
Guthrie, W. K. C. A History of Greek Philosophy, Vol. III: The Fifth-Century Enlightenment. Cambridge UP, 1969.
Jaspers, Karl. Socrates, Buddha, Confucius, Jesus: The Paradigmatic Individuals. Translated by Ralph Manheim, Harcourt Brace, 1962.
Morrison, Donald R. “Socrates.” The Cambridge Companion to Socrates, edited by Donald R. Morrison, Cambridge UP, 2011, pp. 1-30.
Nails, Debra. The People of Plato: A Prosopography of Plato and Other Socratics. Hackett Publishing, 2002.
Nehamas, Alexander. The Art of Living: Socratic Reflections from Plato to Foucault. U of California P, 1998.
Nussbaum, Martha C. The Therapy of Desire: Theory and Practice in Hellenistic Ethics. Princeton UP, 1994.
Plato. Complete Works. Edited by John M. Cooper, translated by G. M. A. Grube et al., Hackett Publishing, 1997.
Vlastos, Gregory. Socrates: Ironist and Moral Philosopher. Cornell UP, 1991.
Whitehead, Alfred North. Process and Reality. Free Press, 1978.
Xenophon. Memorabilia, Apology, Symposium, Oeconomicus. Translated by E. C. Marchant and O. J. Todd, Harvard UP, 1923.
Sokrates dan Metode Elenchus Pemeriksaan Silang Yunani Kuno
Biografi ini akan menyajikan uraian komprehensif tentang kehidupan, pemikiran, metode, dan warisan Sokrates dengan merujuk pada sumber-sumber primer dari murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon, serta drama komedi Aristophanes dan catatan Diogenes Laertius. Setiap bagian akan mengupas aspek tertentu dari kehidupan filsuf ini dengan kedalaman yang memadai, disertai kutipan langsung yang relevan dalam format MLA edisi terbaru.
Kelahiran
Sokrates dilahirkan di Athena, Yunani, sekitar tahun 470 SM, meskipun beberapa perhitungan menempatkan tahun kelahirannya pada 469 SM. Penentuan tahun ini terutama didasarkan pada dialog Plato Apology, di mana Sokrates yang berusia tujuh puluh tahun diadili pada tahun 399 SM (Plato, Apology 17d). Dengan perhitungan mundur, tahun kelahirannya jatuh pada sekitar 470/469 SM.Diogenes Laertius, dalam karyanya Lives of Eminent Philosophers, mencatat secara eksplisit: “Sokrates adalah putra Sophroniskos, seorang pemahat batu, dan Phainarete, seorang bidan; ia lahir di Athena pada hari keenam bulan Thargelion, ketika kota itu sedang dimurnikan” (Diogenes Laertius 2.18).
Tanggal ini, yang bertepatan dengan festival pemurnian kota, dianggap signifikan oleh para penulis kuno karena secara simbolis menunjukkan peran Sokrates sebagai “pembersih” pemikiran Athena.
Lokasi kelahirannya adalah deme Alopeke, sebuah wilayah administratif (deme) di Attika yang terletak di luar tembok kota Athena tetapi masih termasuk dalam polis Athena. Deme Alopeke adalah rumah bagi sejumlah tokoh penting, termasuk negarawan Aristides yang Adil. Kelahiran Sokrates di deme ini menempatkannya sebagai warga negara Athena penuh dengan hak-hak politik yang melekat. Donald R. Morrison dalam The Cambridge Companion to Socrates mencatat bahwa “status kewarganegaraan Sokrates tidak pernah dipertanyakan; ia menjalankan kewajiban militernya, berpartisipasi dalam majelis, dan pada satu kesempatan menjabat sebagai anggota Dewan Lima Ratus” (Morrison 15).
Masa kecil Sokrates bertepatan dengan periode gemilang Athena pasca-Perang Persia. Kota itu sedang membangun kembali dirinya di bawah kepemimpinan Perikles, dan Parthenon mulai dibangun pada tahun 447 SM, ketika Sokrates berusia awal dua puluhan. Konteks historis ini penting karena menempatkan Sokrates di pusat kebangkitan intelektual dan artistik yang dikenal sebagai Zaman Keemasan Athena. Namun, berbeda dengan banyak filsuf lain yang melakukan perjalanan jauh, Sokrates sangat jarang meninggalkan Athena. Dalam dialog Phaedrus, ia berkata: “Aku adalah pencinta pembelajaran; pepohonan dan alam terbuka tidak dapat mengajariku apa pun, tetapi orang-orang di kota dapat” (Plato, Phaedrus 230d). Pernyataan ini menegaskan bahwa akar intelektualnya tertanam kuat di tanah Athena.
Keluarga
Keluarga Sokrates, seperti yang didokumentasikan oleh sumber-sumber kuno, termasuk dalam golongan menengah Athena. Ayahnya, Sophroniskos, adalah seorang pemahat batu (lithourgos) atau pematung. Keterangan ini diperoleh dari beberapa sumber, termasuk Diogenes Laertius yang menyatakan: “Sophroniskos, ayahnya, adalah seorang pemahat batu” (Diogenes Laertius 2.18). Pekerjaan ini menempatkan keluarga Sokrates dalam kelas artisan, yang meskipun bukan aristokrat, tetap memiliki penghasilan yang cukup untuk membesarkan seorang putra dan memberinya pendidikan dasar yang memadai. Beberapa sarjana berspekulasi bahwa Sokrates sendiri mungkin pernah menjalani pelatihan sebagai pemahat batu pada masa mudanya, meskipun tidak ada bukti konklusif bahwa ia benar-benar mempraktikkan keahlian tersebut.Ibunya, Phainarete, adalah seorang bidan (maia). Fakta bahwa ibunya adalah seorang bidan menjadi terkenal karena Sokrates sendiri menggunakannya sebagai metafora untuk metode filosofisnya. Dalam dialog Plato Theaetetus, Sokrates menjelaskan bahwa sebagaimana ibunya membantu perempuan melahirkan bayi, ia membantu pikiran melahirkan gagasan: “Seni bidanku memiliki kesamaan dengan seni bidan pada umumnya, meskipun berbeda dalam hal ini: aku menangani laki-laki, bukan perempuan, dan aku merawat jiwa-jiwa mereka saat mereka dalam proses persalinan, bukan tubuh mereka” (Plato, Theaetetus 149a). Metafora “kebidanan intelektual” (maieutikē technē) ini menjadi salah satu warisan intelektual paling kuat dari Sokrates.
Sokrates menikah dengan Xanthippe, seorang perempuan yang sering digambarkan dalam literatur kuno sebagai pribadi yang keras dan sulit dihadapi. Xenophon dalam Memorabilia menceritakan sebuah episode di mana putra sulung Sokrates, Lamprokles, mengeluh tentang ibunya, dan Sokrates memberikan nasihat tentang bakti kepada orang tua (Xenophon, Memorabilia 2.2.1-10). Dalam dialog Plato Phaedo, Xanthippe hadir pada hari terakhir Sokrates, menangis histeris sebelum akhirnya diminta meninggalkan ruangan (Plato, Phaedo 60a). Lukisan tentang Xanthippe sebagai istri yang pemarah mungkin sebagian besar berasal dari tradisi anekdot yang dilebih-lebihkan, namun tetap memberikan gambaran tentang dinamika rumah tangga Sokrates yang menantang.
Dari pernikahannya dengan Xanthippe, Sokrates memiliki tiga putra: Lamprokles, Sophroniskos (dinamai menurut kakeknya), dan Menexenus. Pada saat kematian Sokrates pada tahun 399 SM, ketiga putranya masih muda: Lamprokles mungkin seorang remaja, sementara Sophroniskos dan Menexenus masih anak-anak kecil. Dalam Apology Plato, setelah dijatuhi hukuman mati, Sokrates berbicara kepada para juri: “Aku memiliki tiga putra, wahai orang-orang Athena; yang tertua sudah hampir dewasa, sementara dua lainnya masih kecil” (Plato, Apology 34d). Ia meminta agar para juri, jika kelak anak-anaknya tumbuh menjadi tidak bermoral, memperlakukan mereka sebagaimana ia memperlakukan warga Athena, yaitu dengan menegur dan mengoreksi.
Beberapa sumber kuno juga menyebutkan kemungkinan bahwa Sokrates memiliki istri kedua bernama Myrto, meskipun klaim ini kontroversial. Diogenes Laertius mencatat bahwa berdasarkan dekret khusus yang mengizinkan bigami karena kekurangan populasi laki-laki setelah Perang Peloponnesos, Sokrates menikahi Myrto, putri Aristides yang Adil, tanpa mas kawin (Diogenes Laertius 2.26). Namun, sebagian besar sarjana modern meragukan historisitas klaim ini. W. K. C. Guthrie dalam A History of Greek Philosophy menyatakan bahwa “cerita tentang Myrto kemungkinan besar berasal dari upaya para penulis belakangan untuk menghubungkan Sokrates dengan keluarga Aristides yang termasyhur” (Guthrie 74).
Keluarga Sokrates, dengan demikian, merepresentasikan lapisan masyarakat Athena yang mapan namun tidak kaya raya. Keputusan Sokrates untuk menghabiskan waktunya dalam diskusi filosofis tanpa memungut bayaran, berbeda dengan kaum Sofis, berarti bahwa ia tidak pernah mengumpulkan kekayaan. Dalam Apology, ia terus terang menyatakan kemiskinannya sebagai bukti bahwa ia tidak menjual kebijaksanaan: “Kemiskinanku yang nyata adalah saksi yang cukup bahwa aku mengatakan kebenaran” (Plato, Apology 31c).
Pendidikan
Rekonstruksi pendidikan Sokrates menghadirkan tantangan metodologis yang signifikan karena tidak adanya catatan langsung. Namun, dari berbagai sumber tidak langsung, kita dapat menyusun gambaran tentang formasi intelektual awalnya. Sebagai warga Athena laki-laki, Sokrates pasti menerima pendidikan dasar tradisional (paideia) yang mencakup tiga komponen utama: grammata (membaca, menulis, dan berhitung), mousikē (musik dan puisi), dan gymnastikē (pendidikan jasmani). Sistem ini dijelaskan oleh Plato dalam Protagoras, di mana ia menulis: “Ketika anak-anak telah menguasai huruf-huruf dan siap memahami tulisan sebagaimana sebelumnya mereka memahami suara, para guru menempatkan karya-karya penyair besar di depan mereka untuk dibaca dan dipaksa menghafalnya” (Plato, Protagoras 325e). Sokrates tentu melewati tahapan ini, terbukti dari penguasaannya yang mendalam terhadap Homeros, Hesiodos, dan para penyair lainnya yang sering ia kutip dalam dialog-dialog Plato.Salah satu aspek paling signifikan dari pendidikan intelektual Sokrates adalah keterkaitannya dengan Archelaus, seorang filsuf dari aliran Anaxagoras. Diogenes Laertius melaporkan: “Ia [Sokrates] adalah murid Anaxagoras, menurut beberapa penulis, dan juga murid Damon; setelah Anaxagoras diusir, ia belajar dengan Archelaus sang fisikawan” (Diogenes Laertius 2.19). Jika informasi ini benar, maka Sokrates memiliki hubungan langsung dengan tradisi filsafat alam Ionia yang berusaha menjelaskan fenomena alam melalui prinsip-prinsip rasional. Dalam dialog Plato Phaedo, Sokrates sendiri menceritakan ketertarikannya di masa muda pada penyelidikan alam: “Ketika aku masih muda, aku memiliki hasrat yang luar biasa terhadap jenis kebijaksanaan yang mereka sebut penyelidikan alam; bagiku tampak megah untuk mengetahui sebab-sebab setiap hal, mengapa ia menjadi, mengapa ia binasa, dan mengapa ia ada” (Plato, Phaedo 96a). Pengakuan ini menunjukkan bahwa meskipun Sokrates kemudian berpaling dari filsafat alam ke etika, fondasi intelektualnya mencakup studi tentang kosmologi pra-Sokratik.
Selain Archelaus, ada juga tradisi yang mengaitkan pendidikan Sokrates dengan Prodikos dari Keos, seorang Sofis terkenal yang mengkhususkan diri dalam studi bahasa dan semantik. Dalam dialog Plato Protagoras, Sokrates dengan setengah bercanda menyebut dirinya sebagai murid Prodikos: “Aku sangat ingin mendengarkan Prodikos, karena ia tampaknya adalah orang yang sangat bijaksana dan ilahi” (Plato, Protagoras 315e-316a). Dalam Meno, Sokrates menyatakan bahwa ia telah “mendengarkan Prodikos tentang banyak hal” (Plato, Meno 96d). Ketertarikan Sokrates pada definisi yang tepat dan analisis makna kata mungkin mencerminkan pengaruh Prodikos.
Namun demikian, pendidikan paling formatif bagi Sokrates mungkin adalah interaksinya langsung dengan warga Athena di agora, gimnasium, dan tempat-tempat umum lainnya. Dialog-dialog Plato melukiskan Sokrates yang terus-menerus menguji gagasan orang-orang dari berbagai latar belakang: politisi, penyair, pengrajin, Sofis, pemuda kaya, dan orang-orang biasa. Dalam Apology, ia menggambarkan misinya: “Aku pergi mencari siapa pun yang kukira bijaksana, baik warga negara maupun orang asing, dan ketika aku merasa ia tidak bijaksana, aku membuktikannya dan dengan demikian membantu dewa” (Plato, Apology 23b). Metode “belajar melalui dialog” ini merupakan pendidikan yang berkelanjutan sepanjang hidup, menjadikan seluruh kota sebagai ruang kelasnya.
Aspek lain dari pendidikan Sokrates yang patut dicatat adalah pengakuannya yang terkenal tentang “ketidaktahuan.” Paradoks Sokratik ini, bahwa ia bijaksana justru karena ia menyadari ketidaktahuannya, bermula dari pengalaman yang diceritakannya dalam Apology. Chaerephon, sahabatnya, bertanya kepada Orakel Delphi apakah ada orang yang lebih bijaksana daripada Sokrates, dan jawabannya adalah “tidak ada.” Untuk menguji kebenaran orakel ini, Sokrates mulai mewawancarai orang-orang yang dianggap bijaksana:
Aku berpikir: “Aku lebih bijaksana daripada orang ini; karena meskipun tak satu pun dari kami mengetahui sesuatu yang baik dan indah, ia mengira ia tahu sesuatu padahal ia tidak tahu, sementara aku, karena aku tidak tahu, juga tidak mengira aku tahu. Tampaknya aku sedikit lebih bijaksana daripada dia dalam hal yang kecil ini, bahwa apa yang tidak kuketahui, tidak kuklaim kuketahui.” (Plato, Apology 21d)
Pengakuan ketidaktahuan ini menjadi landasan epistemologis bagi seluruh filsafat Sokrates. Gregory Vlastos, seorang sarjana terkemuka tentang Sokrates, menulis: “Pengakuan ketidaktahuan Sokrates bukanlah pengakuan akan kebodohan; ia mengklaim pengetahuan tentang hal-hal tertentu, terutama pengetahuan tentang keterbatasannya sendiri” (Vlastos 44). Ini adalah hasil dari proses pendidikan-diri yang kritis dan terus-menerus.
Pendidikan Sokrates juga mencakup dimensi religius dan spiritual yang tidak boleh diabaikan. Ia sering berbicara tentang daimonion-nya, suatu tanda ilahi atau suara batin yang, menurut klaimnya, telah membimbingnya sejak masa kecil. Dalam Apology, ia menjelaskan: “Ini dimulai sejak masa kecilku; suatu suara tertentu datang kepadaku, dan ketika datang, selalu melarangku melakukan apa yang akan aku lakukan, tetapi tidak pernah memerintahkanku untuk melakukan apa pun” (Plato, Apology 31d). Daimonion ini, yang oleh para penuduhnya dianggap sebagai pengenalan dewa-dewa baru, merupakan bagian integral dari formasi spiritual Sokrates dan berfungsi sebagai semacam kompas etis internal.
Metode Filsafat
Metode filsafat Sokrates, yang sering disebut sebagai “Metode Sokrates” atau elenchus (pemeriksaan silang), merupakan kontribusinya yang paling bertahan lama terhadap tradisi intelektual Barat. Metode ini bukan sekadar teknik argumentasi, melainkan suatu cara hidup filosofis yang didasarkan pada keyakinan bahwa pemeriksaan kritis terhadap keyakinan-keyakinan fundamental adalah esensi dari kehidupan yang layak dijalani. Pernyataan Sokrates yang paling terkenal, “Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani” (Plato, Apology 38a), merangkum komitmen eksistensial ini.Secara prosedural, metode Sokrates beroperasi melalui serangkaian langkah yang dapat direkonstruksi dari dialog-dialog awal Plato. Langkah pertama adalah pengajuan pertanyaan tentang suatu konsep etis fundamental, seperti “Apakah kebajikan itu?” atau “Apakah keadilan itu?” Lawan bicara biasanya merespons dengan memberikan contoh atau definisi awal. Sokrates kemudian menguji definisi ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang bertujuan mengekspos kontradiksi internal atau inkonsistensi dengan keyakinan lain yang dipegang oleh lawan bicara. Proses ini berlanjut hingga lawan bicara menyadari bahwa pemahamannya tidak memadai, suatu kondisi yang disebut aporia (kebingungan atau kebuntuan).
Gregory Vlastos, dalam studi klasiknya Socrates: Ironist and Moral Philosopher, merumuskan struktur logis elenchus Sokratik sebagai berikut: “Sokrates mengekstrak dari lawan bicara suatu tesis, katakanlah p; kemudian ia memperoleh persetujuan lawan bicara terhadap premis-premis tambahan, katakanlah q dan r; kemudian ia mendemonstrasikan bahwa q dan r mengimplikasikan non-p; dengan demikian ia menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan lawan bicara tidak konsisten” (Vlastos 44). Kunci dari metode ini adalah bahwa Sokrates hanya menggunakan premis-premis yang disetujui oleh lawan bicara sendiri; ia tidak mengimpor keyakinan eksternal. Dengan demikian, sanggahan bersifat personal dan internal.
Aspek penting dari metode Sokrates adalah pengakuan ketidaktahuan yang konsisten ditunjukkannya. Dalam sebagian besar dialog awal Plato, Sokrates menyatakan bahwa ia sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang subjek yang sedang dibahas. Sikap ini disebut “ironi Sokratik”, suatu istilah yang berasal dari kata Yunani eirōneia, yang secara harfiah berarti “berpura-pura.” Dalam Apology, setelah memeriksa seorang politisi yang dianggap bijaksana, Sokrates menyimpulkan: “Aku lebih bijaksana daripada orang ini; karena meskipun tak satu pun dari kami mengetahui sesuatu yang baik dan indah, ia mengira ia tahu sesuatu padahal ia tidak tahu, sementara aku, karena aku tidak tahu, juga tidak mengira aku tahu” (Plato, Apology 21d). Ironi di sini bukanlah bentuk kepura-puraan yang tidak tulus, melainkan sikap epistemologis yang otentik, kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.
Metode Sokrates juga mengandung dimensi terapeutik. Dalam dialog Sophist, Plato mencirikan elenchus sebagai “pemurnian jiwa” yang menghilangkan “keyakinan palsu yang menghalangi pembelajaran” (Plato, Sophist 230c-d). Sokrates sendiri sering menggunakan metafora medis untuk menggambarkan aktivitasnya: ia adalah “dokter jiwa” yang mendiagnosis dan mengobati penyakit dogmatisme dan kesombongan intelektual. Sebagaimana seorang dokter harus menyebabkan rasa sakit untuk menyembuhkan, demikian pula pemeriksaan Sokratik sering kali membuat lawan bicara merasa tidak nyaman. Dalam Meno, Meno mengeluh bahwa Sokrates telah “membuatnya mati rasa dan lumpuh, baik dalam jiwa maupun mulut” (Plato, Meno 80a-b), membandingkannya dengan ikan torpedo yang menyetrum mangsanya. Namun Sokrates merespons bahwa ia sendiri juga dalam keadaan aporia; ia bukanlah seseorang yang memiliki pengetahuan dan sengaja membingungkan orang lain, melainkan seorang pencari bersama yang tulus.
Komponen lain dari metode Sokrates adalah maieutikē, atau “seni kebidanan intelektual,” yang telah disinggung sebelumnya. Jika elenchus berfokus pada pengujian dan sanggahan, maieutikē berfokus pada membantu lawan bicara “melahirkan” gagasan-gagasan yang ada secara laten dalam pikiran mereka. Dalam Theaetetus, Sokrates menjelaskan:
Seni bidanku mencakup semua tugas yang dilakukan para bidan, tetapi berbeda dalam hal ini: ia menangani laki-laki, bukan perempuan, dan ia merawat jiwa-jiwa mereka saat mereka dalam proses persalinan, bukan tubuh mereka. Dan hal terpenting dari seniku adalah kemampuan untuk menguji dengan segala cara apakah pikiran pemuda itu melahirkan bayangan palsu atau sesuatu yang benar dan asli. (Plato, Theaetetus 150b)
Metafora ini memiliki implikasi epistemologis yang mendalam. Sebagaimana seorang bidan tidak melahirkan bayi itu sendiri tetapi membantu proses kelahiran, demikian pula Sokrates mengklaim bahwa ia tidak menanamkan pengetahuan ke dalam pikiran murid-muridnya; ia hanya membantu mereka menemukan pengetahuan yang sudah ada dalam jiwa mereka. Ini terkait dengan doktrin Platonik tentang anamnesis (pengingatan kembali) yang dikembangkan dalam Meno dan Phaedo, meskipun ada perdebatan di kalangan sarjana tentang sejauh mana doktrin ini berasal dari Sokrates historis atau merupakan pengembangan Plato sendiri.
Metode Sokrates juga memiliki dimensi moral yang kuat. Bagi Sokrates, pemeriksaan filosofis bukanlah latihan intelektual abstrak, melainkan upaya untuk memperbaiki jiwa. Dalam Apology, ia menyatakan misinya dengan jelas:
Aku tidak melakukan apa pun selain berkeliling membujuk kalian semua, tua dan muda, untuk tidak peduli pada tubuh atau kekayaan kalian lebih dulu atau lebih kuat daripada pada jiwa kalian, agar jiwa itu menjadi sebaik mungkin, sambil berkata: “Kebajikan tidak berasal dari kekayaan, tetapi dari kebajikanlah kekayaan dan semua hal lainnya menjadi baik bagi manusia, baik dalam ranah privat maupun publik.” (Plato, Apology 30a-b)
Bagi Sokrates, pengetahuan dan kebajikan terkait erat. Ia menganut suatu bentuk intelektualisme etis, keyakinan bahwa jika seseorang benar-benar mengetahui apa yang baik, ia pasti akan melakukannya, dan bahwa semua perbuatan salah berasal dari ketidaktahuan. Prinsip ini, yang sering dirangkum dalam slogan “kebajikan adalah pengetahuan,” memiliki implikasi bahwa metode Sokrates, yang bertujuan mencapai pengetahuan melalui pemeriksaan kritis, juga merupakan metode perbaikan moral.
Metode Sokrates juga berbeda secara fundamental dari metode para Sofis, yang merupakan pesaing intelektualnya. Kaum Sofis, seperti Protagoras, Gorgias, dan Hippias, mengklaim dapat mengajarkan kebajikan dan keterampilan retoris dengan bayaran tertentu. Metode mereka biasanya melibatkan pidato-pidato panjang dan demonstrasi keterampilan persuasif. Sokrates, sebaliknya, menolak pidato panjang dan bersikeras pada dialog tanya-jawab yang ketat. Dalam Protagoras, ia berkata: “Aku adalah orang yang pelupa, Protagoras, dan jika seseorang berbicara panjang lebar, aku lupa tentang apa pembicaraan itu” (Plato, Protagoras 334d). Ini adalah cara yang sopan untuk menolak retorika Sofistik dan menuntut keterlibatan dialektis yang sejati.
Penting juga untuk dicatat bahwa metode Sokrates bukan hanya tentang mencapai kesimpulan yang benar, tetapi juga tentang membangun disposisi karakter tertentu. Sebagaimana dikemukakan oleh sarjana kontemporer Martha Nussbaum, “elenchus Sokratik adalah latihan dalam kerendahan hati intelektual dan keberanian moral; ia mengajarkan kita untuk mempertanyakan otoritas, termasuk otoritas diri kita sendiri” (Nussbaum 36). Dengan membiasakan diri pada pemeriksaan kritis, seseorang mengembangkan ketahanan terhadap dogmatisme dan keterbukaan terhadap revisi keyakinan, kualitas-kualitas yang esensial bagi kehidupan demokratis yang sehat.
Murid-Murid
Sokrates tidak mendirikan sekolah formal seperti Akademi Plato atau Lyceum Aristoteles. Ia tidak memungut bayaran, tidak memiliki kurikulum tertulis, dan tidak memberikan ijazah. Namun demikian, lingkaran pengikutnya mencakup beberapa pemikir paling berpengaruh dalam tradisi Barat, serta tokoh-tokoh yang memainkan peran kontroversial dalam politik Athena. Murid-murid Sokrates dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan orientasi filosofis dan politik mereka.Plato (ca. 428–348 SM) adalah murid Sokrates yang paling terkenal dan paling berpengaruh. Lahir dari keluarga aristokrat Athena, Plato mulai bergaul dengan Sokrates pada usia sekitar dua puluh tahun. Dalam Apology, Plato disebutkan hadir di pengadilan Sokrates dan menawarkan untuk membayar denda atas namanya (Plato, Apology 38b). Setelah eksekusi Sokrates, Plato meninggalkan Athena selama beberapa tahun, mengunjungi Mesir, Italia, dan Sisilia, sebelum kembali mendirikan Akademi sekitar tahun 387 SM. Hampir semua yang kita ketahui tentang Sokrates berasal dari dialog-dialog Plato, yang menampilkan Sokrates sebagai tokoh utama. Pertanyaan tentang sejauh mana Sokrates dalam dialog Plato mencerminkan Sokrates historis, yang dikenal sebagai “masalah Sokratik”, telah menjadi subjek perdebatan akademis yang luas. Secara umum, para sarjana membedakan antara “Sokrates historis” yang direkonstruksi terutama dari dialog-dialog awal Plato, Xenophon, dan Aristophanes, dan “Sokrates Platonik” dari dialog-dialog pertengahan dan akhir yang menjadi juru bicara bagi gagasan-gagasan Plato sendiri. Dalam dialog-dialog awal seperti Apology, Crito, Euthyphro, Laches, dan Charmides, Plato umumnya dianggap menyajikan potret yang relatif akurat tentang metode dan kepribadian Sokrates, sementara dalam dialog-dialog seperti Republic, Phaedo, dan Symposium, Sokrates menjadi kendaraan bagi metafisika dan epistemologi Platonik yang lebih berkembang.
Xenophon (ca. 430–354 SM) adalah murid Sokrates lainnya yang karya-karyanya menjadi sumber penting untuk merekonstruksi kehidupan dan pemikiran Sokrates. Seorang tentara, sejarawan, dan penulis, Xenophon meninggalkan Athena pada tahun 401 SM untuk bergabung dengan ekspedisi Cyrus Muda melawan Artaxerxes II dari Persia, dan kemudian diasingkan dari Athena. Karya-karya Sokratiknya meliputi Memorabilia, Apology of Socrates, Symposium, dan Oeconomicus. Potret Xenophon tentang Sokrates cenderung lebih membumi dan praktis daripada potret Plato; ia menekankan kesalehan Sokrates, nasihat-nasihat praktisnya, dan pengaruhnya yang membangun bagi para pemuda. Xenophon menulis: “Sokrates selalu berada di hadapan publik; pagi-pagi ia pergi ke tempat-tempat berjalan dan gimnasium, pada jam sibuk ia terlihat di agora, dan sisa hari itu ia selalu berada di tempat yang paling mungkin ditemuinya orang; ia banyak berbicara, dan siapa pun boleh mendengarkan” (Xenophon, Memorabilia 1.1.10). Meskipun beberapa sarjana menganggap Xenophon kurang filosofis dan kurang akurat dibandingkan Plato, kesaksiannya memberikan koreksi yang berharga terhadap kecenderungan idealisasi Plato.
Antisthenes (ca. 445–365 SM) adalah salah satu pengikut tertua Sokrates dan pendiri aliran Sinis. Ia hadir pada hari kematian Sokrates, sebagaimana dicatat dalam Phaedo Plato (Plato, Phaedo 59b). Antisthenes menekankan asketisme, kemandirian, dan penolakan terhadap konvensi sosial, prinsip-prinsip yang dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya yang paling terkenal, Diogenes dari Sinope. Antisthenes mengambil dari Sokrates gagasan bahwa kebajikan sudah cukup untuk kebahagiaan dan bahwa kebajikan dapat diajarkan. Ia juga menulis banyak karya, meskipun sebagian besar telah hilang, termasuk dialog-dialog yang menampilkan Sokrates. Tradisi Sinis yang ia dirikan akan memengaruhi Stoikisme dan terus bergema dalam sejarah filsafat hingga era modern.
Aristippos dari Kirene (ca. 435–356 SM) adalah murid Sokrates yang mendirikan aliran Kirenaik, yang menekankan hedonisme, pandangan bahwa kesenangan adalah kebaikan tertinggi. Aristippos mengembangkan pemikiran ini secara berbeda dari ajaran Sokrates, tetapi ia mengklaim mewarisi komitmen Sokratik terhadap pemeriksaan diri dan kehidupan yang diperiksa. Diogenes Laertius melaporkan bahwa Aristippos “adalah orang pertama di antara para pengikut Sokrates yang meminta bayaran dari murid-muridnya” (Diogenes Laertius 2.65), suatu praktik yang tentu saja bertentangan dengan teladan Sokrates sendiri. Aliran Kirenaik akan memengaruhi perkembangan Epikureanisme dan utilitarianisme modern.
Alkibiades (ca. 450–404 SM) adalah murid Sokrates yang paling kontroversial dan tragis. Seorang aristokrat Athena yang karismatik, tampan, dan ambisius, Alkibiades adalah bintang yang sedang naik dalam politik Athena dan memiliki hubungan dekat dengan Sokrates. Dalam Symposium Plato, Alkibiades menyampaikan pidato yang memuji Sokrates, menceritakan bagaimana ia mencoba merayu filsuf itu tetapi ditolak, dan mengagumi pengendalian diri serta integritasnya yang luar biasa (Plato, Symposium 215a-222b). Namun, karir politik Alkibiades berakhir dengan bencana. Ia terlibat dalam skandal pemotongan patung Hermes dan profanasi Misteri Eleusinian pada tahun 415 SM, melarikan diri ke Sparta untuk menghindari pengadilan, dan kemudian mengkhianati Athena dengan memberikan nasihat militer kepada musuh. Hubungan Sokrates dengan Alkibiades digunakan oleh para penuduhnya sebagai bukti bahwa ia merusak para pemuda, sebagaimana dicatat dalam Apology: “Sokrates bersalah karena merusak kaum muda” (Plato, Apology 24b). Namun Sokrates membela diri dengan menyatakan bahwa jika ia benar-benar merusak Alkibiades, itu terjadi tanpa disengaja, dan dalam hal itu ia seharusnya diinstruksikan, bukan dihukum.
Kritias (ca. 460–403 SM) adalah murid Sokrates lainnya yang keterlibatan politiknya mencoreng reputasi filsuf itu. Kritias adalah pemimpin Tiga Puluh Tiran, rezim oligarkis yang memerintah Athena dengan kejam setelah kekalahannya dalam Perang Peloponnesos. Dalam Memorabilia, Xenophon melaporkan bahwa Kritias dan Alkibiades “adalah orang-orang yang paling ambisius di antara semua warga Athena; mereka ingin mengendalikan segalanya dan melampaui semua orang dalam ketenaran” (Xenophon, Memorabilia 1.2.14). Asosiasi Sokrates dengan Kritias, seperti halnya dengan Alkibiades, memberikan amunisi bagi para penuduhnya. Namun, perlu dicatat bahwa Sokrates sendiri menentang tindakan-tindakan tidak adil dari Tiga Puluh Tiran. Dalam Apology Plato, ia menceritakan bagaimana ia menolak perintah rezim untuk menangkap Leon dari Salamis, seorang warga yang tidak bersalah, dengan risiko nyawanya sendiri (Plato, Apology 32c-d).
Selain tokoh-tokoh ini, banyak pemuda Athena lainnya yang menjadi bagian dari lingkaran Sokrates. Chaerephon, sahabat karib yang bertanya kepada Orakel Delphi, adalah pengikut setia. Simmias dan Cebes dari Thebes, yang hadir dalam Phaedo, adalah pemuda kaya yang tertarik pada filsafat. Phaedo dari Elis, yang memberi nama pada dialog Plato tentang kematian Sokrates, adalah seorang pemuda yang konon dibebaskan dari perbudakan atas perantaraan Sokrates. Euclides dari Megara, pendiri aliran Megara, sering bepergian antara Megara dan Athena, kadang-kadang dengan menyamar sebagai perempuan, untuk mendengarkan Sokrates.
Keragaman murid-murid Sokrates ini menunjukkan daya tarik universal dari kepribadian dan metodenya. Sebagaimana dicatat oleh sarjana Debra Nails dalam The People of Plato, “lingkaran Sokrates mencakup demokrat dan oligark, orang kaya dan miskin, warga Athena dan orang asing, prajurit dan penyair, filsuf teoretis dan pragmatis politik” (Nails 263). Fakta bahwa begitu banyak muridnya menempuh jalan yang sangat berbeda, Plato menjadi filsuf metafisik, Antisthenes menjadi asketik Sinis, Aristippos menjadi hedonis Kirenaik, Alkibiades menjadi pengkhianat yang ambisius, adalah bukti kompleksitas pengaruh Sokrates. Ia tidak menyebarkan doktrin yang seragam, melainkan menanamkan sikap pemeriksaan kritis yang dapat mengarah pada kesimpulan yang berbeda-beda.
Karya-Karya
Pernyataan bahwa “Sokrates tidak menulis apa pun” adalah salah satu fakta paling fundamental dan paling ironis tentang filsuf ini. Seorang pemikir yang pengaruhnya terhadap peradaban Barat mungkin hanya disaingi oleh Yesus dari Nazaret, tokoh lain yang tidak meninggalkan tulisan, Sokrates memilih media lisan sebagai satu-satunya modus ekspresi filosofisnya. Dalam Phaedrus Plato, Sokrates mengkritik tulisan dengan argumen yang mendalam: tulisan merusak ingatan, tidak dapat menjawab pertanyaan, dan menyebarkan kebijaksanaan secara sembarangan kepada mereka yang siap dan yang tidak siap. “Tulisan,” kata Sokrates, “memiliki sifat aneh yang mirip dengan lukisan; makhluk-makhluk lukisan berdiri seolah-olah hidup, tetapi jika kau bertanya kepada mereka sesuatu, mereka mempertahankan kesunyian yang agung” (Plato, Phaedrus 275d). Lebih jauh lagi, Sokrates berpendapat bahwa “kata-kata tertulis hanya dapat berfungsi sebagai pengingat bagi mereka yang sudah tahu tentang apa tulisan itu” (Plato, Phaedrus 275d-e). Hanya wacana lisan yang “ditulis dalam jiwa pembelajar” (Plato, Phaedrus 276a) yang memiliki kehidupan sejati.Ketiadaan karya tulis dari Sokrates sendiri menciptakan “masalah Sokratik” yang telah disebutkan sebelumnya: bagaimana kita dapat merekonstruksi pemikiran Sokrates historis? Sumber-sumber utama untuk Sokrates adalah:
1 Dialog-dialog Plato
Sumber paling kaya dan paling filosofis. Plato menulis sekitar dua puluh lima dialog yang menampilkan Sokrates sebagai tokoh utama. Namun, dialog-dialog ini mencakup periode lebih dari empat puluh tahun, dan pandangan-pandangan yang diungkapkan oleh Sokrates di dalamnya berevolusi. Para sarjana umumnya membedakan antara dialog-dialog awal (Apology, Crito, Euthyphro, Laches, Lysis, Charmides, Hippias Minor, Ion, dan Protagoras sebagian), yang dianggap paling dekat dengan Sokrates historis, dan dialog-dialog pertengahan dan akhir yang lebih mencerminkan filsafat Plato sendiri. Gregory Vlastos menyusun kriteria untuk mengidentifikasi “Sokrates historis” dalam Plato: ia adalah tokoh yang hanya mengajukan pertanyaan tanpa memberikan jawaban definitif, yang mengklaim ketidaktahuan, yang berfokus pada etika, dan yang menggunakan elenchus sebagai metode utamanya (Vlastos 46-47).2 Xenophon
Sebagaimana telah dibahas, karya-karya Sokratik, Xenophon memberikan potret Sokrates yang lebih praktis dan kurang filosofis. Xenophon menulis Memorabilia (Kenangan tentang Sokrates), Apology of Socrates, Symposium, dan Oeconomicus. Sarjana modern cenderung menganggap Xenophon sebagai saksi yang kurang dapat diandalkan dibandingkan Plato dalam hal kedalaman filosofis, tetapi lebih dapat diandalkan dalam hal detail faktual kehidupan sehari-hari Sokrates.3 Aristophanes
Drama komedi Clouds (423 SM) menyajikan potret satir Sokrates yang sangat berbeda dari Plato dan Xenophon. Dalam drama ini, Sokrates digambarkan sebagai seorang Sofis naturalis yang mengelola sekolah (yang disebut “Thinkery”) dan mengajarkan cara membuat argumen yang lebih lemah mengalahkan yang lebih kuat. Penggambaran ini penting karena ia muncul semasa Sokrates masih hidup dan menunjukkan bagaimana filsuf itu dipersepsikan oleh publik Athena. Dalam Apology Plato, Sokrates menyebut Clouds sebagai sumber fitnah yang telah membentuk prasangka para juri terhadapnya (Plato, Apology 19c).4 Aristoteles
Meskipun lahir setelah kematian Sokrates, Aristoteles memberikan beberapa kesaksian berharga tentang pemikiran Sokrates dalam karya-karyanya, terutama Metaphysics dan Nicomachean Ethics. Aristoteles menulis: “Sokrates sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan etis dan bukan dengan dunia alam secara keseluruhan, tetapi dalam etika ia mencari yang universal dan merupakan orang pertama yang memusatkan perhatian pada definisi” (Aristotle, Metaphysics 987b1-4). Aristoteles juga menginformasikan bahwa Sokrates “tidak memisahkan yang universal dari partikular,” dan bahwa pemisahan ini, teori Forma, adalah sumbangan Plato (Aristotle, Metaphysics 1078b30-32).5 Diogenes Laertius
Penulis abad ke-3 M ini menyusun biografi para filsuf dalam Lives of Eminent Philosophers. Meskipun hidup berabad-abad setelah Sokrates, Diogenes mengumpulkan banyak anekdot dan tradisi yang tidak ditemukan di tempat lain. Karyanya harus digunakan dengan hati-hati karena ia sering mencampur fakta dengan legenda.Dengan demikian, “karya-karya” Sokrates dalam arti konvensional tidak ada. Namun, warisan literernya yang dimediasi melalui murid-muridnya telah menghasilkan salah satu korpus paling luas dan paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Dialog-dialog Plato sendiri membentuk fondasi filsafat Barat; seperti yang dikatakan Alfred North Whitehead dengan terkenal, “karakterisasi paling aman dari tradisi filsafat Eropa adalah bahwa ia terdiri dari serangkaian catatan kaki untuk Plato” (Whitehead 39). Dan karena Plato menulis terutama tentang Sokrates, kita dapat mengatakan bahwa tradisi filsafat Barat adalah serangkaian catatan kaki untuk Sokrates.
Ada satu aspek penting dari “karya” Sokrates yang sering diabaikan: hidupnya sendiri adalah karyanya. Dalam Apology, Sokrates berpendapat bahwa misi filosofisnya, pemeriksaan terus-menerus terhadap dirinya sendiri dan orang lain, adalah pelayanan kepada dewa. Ia menjalani hidupnya sebagai argumen yang dihayati, sebuah demonstrasi langsung dari prinsip-prinsip yang ia periksa dalam dialog. Kematiannya, yang akan dibahas di bagian selanjutnya, adalah bab terakhir dari “karya” ini, sebuah kesaksian pamungkas tentang integritasnya. Seperti yang ditulis oleh filsuf kontemporer Alexander Nehamas, “Sokrates adalah seorang individu yang kehidupan dan ucapannya menciptakan suatu mode filsafat baru, suatu mode yang masih kita kenali sebagai model pemeriksaan filosofis” (Nehamas 83).
Musuh-Musuh
Persidangan dan eksekusi Sokrates pada tahun 399 SM adalah salah satu peristiwa paling dramatis dan paling menentukan dalam sejarah filsafat. Untuk memahami mengapa seorang filsuf berusia tujuh puluh tahun yang tidak pernah menyakiti siapa pun dijatuhi hukuman mati, kita harus meneliti para musuhnya, baik yang secara eksplisit mengajukan tuduhan maupun yang menciptakan iklim opini yang memungkinkan terjadinya penghukuman itu. Musuh-musuh Sokrates dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok: para penuduh langsung, kaum Sofis dan rival intelektualnya, dan opini publik Athena yang telah terbentuk oleh prasangka selama puluhan tahun.Para penuduh resmi Sokrates adalah Meletos, Anytos, dan Lycon. Mereka bertiga mewakili kepentingan-kepentingan yang berbeda yang semuanya merasa terancam oleh aktivitas Sokrates. Meletos adalah seorang penyair muda yang kurang dikenal yang tampaknya bertindak sebagai pemimpin formal penuntutan. Dalam Apology Plato, Sokrates mencemooh Meletos sebagai orang yang tidak serius dan tidak memahami implikasi tuduhannya sendiri. Ketika Sokrates memeriksa Meletos di pengadilan, ia menunjukkan bahwa Meletos telah menuduhnya merusak kaum muda, tetapi ketika ditanya siapa yang memperbaiki kaum muda, Meletos menjawab “semua orang Athena kecuali Sokrates”, sebuah klaim yang tidak masuk akal yang diekspos Sokrates dengan mudah (Plato, Apology 24e-25a). Meletos juga menuduh Sokrates tidak percaya pada dewa-dewa kota, tetapi di bawah pemeriksaan silang ia tampak mengklaim bahwa Sokrates adalah seorang ateis total, yang bertentangan dengan rumusan asli tuduhan. Sokrates menyimpulkan: “Aku kira orang ini telah menyusun semacam tuduhan melawanku karena kesombongan dan kenakalan dan kecerobohan masa mudanya” (Plato, Apology 26e-27a).
Anytos adalah penuduh yang paling berbahaya di antara ketiganya. Seorang politisi demokratik yang telah membantu menggulingkan rezim Tiga Puluh Tiran dan memulihkan demokrasi, Anytos memiliki kredibilitas politik yang signifikan. Xenophon melaporkan bahwa Anytos menyimpan dendam pribadi terhadap Sokrates karena filsuf itu secara terbuka mengkritik keputusannya untuk mendidik putranya dalam bisnis penyamakan kulit alih-alih memberikan pendidikan liberal (Xenophon, Apology 29). Namun, alasan yang lebih substansial adalah politis: Anytos melihat Sokrates sebagai ancaman terhadap tatanan demokratik yang baru dipulihkan karena asosiasinya dengan Kritias dan Alkibiades. Dalam Meno Plato, Anytos muncul sebagai lawan bicara yang memusuhi Sokrates, memperingatkannya agar berhati-hati dengan kritiknya terhadap politisi Athena (Plato, Meno 94e). Sikap permusuhan ini, menurut sarjana Thomas Brickhouse dan Nicholas Smith, mencerminkan “ketakutan kaum demokrat moderat bahwa Sokrates adalah sumber korupsi aristokratik yang telah menghancurkan konstitusi leluhur” (Brickhouse dan Smith 67).
Lycon adalah penuduh ketiga, yang mewakili para orator atau ahli retorika. Sumber-sumber kuno tidak banyak mengungkapkan tentang dirinya selain bahwa ia direkrut oleh Anytos untuk melengkapi koalisi penuntutan. Dengan melibatkan seorang perwakilan dari profesi orator, Anytos memastikan bahwa tuduhan terhadap Sokrates didukung oleh tiga pilar masyarakat Athena: penyair (Meletos), politisi (Anytos), dan orator (Lycon). Sokrates sendiri menunjukkan hal ini dalam Apology: “Anytos marah atas nama para pengrajin dan politisi, Meletos atas nama para penyair, Lycon atas nama para orator” (Plato, Apology 23e-24a).
Tuduhan resmi terhadap Sokrates, sebagaimana direkonstruksi dari Apology Plato dan Apology Xenophon, dapat dirangkum dalam tiga poin: (1) merusak kaum muda; (2) tidak percaya pada dewa-dewa kota; dan (3) memperkenalkan dewa-dewa baru. Tuduhan ini mencerminkan kecemasan religius dan sosial yang mendalam di Athena pasca-Perang Peloponnesos. Kekalahan memalukan oleh Sparta pada tahun 404 SM telah mengguncang kepercayaan diri Athena, dan banyak yang mencari kambing hitam untuk menjelaskan bencana itu. Sokrates, dengan pengaruhnya terhadap para pemuda elit dan kritiknya terhadap tokoh-tokoh mapan, menjadi sasaran empuk.
Selain para penuduh langsung, Sokrates memiliki musuh-musuh tidak langsung yang telah menciptakan prasangka publik terhadapnya selama puluhan tahun. Yang paling menonjol adalah Aristophanes, yang drama komedinya Clouds dipentaskan pada tahun 423 SM, sekitar dua puluh empat tahun sebelum persidangan. Dalam drama ini, Sokrates digambarkan sebagai seorang Sofis penipu yang menggantung di keranjang, menyembah awan sebagai dewa, dan mengajarkan cara menang dalam argumen yang tidak adil. Strepsiades, tokoh utama, mendaftar di sekolah Sokrates untuk belajar bagaimana menghindari kreditor dengan retorika yang cerdik.
Pada akhirnya, Strepsiades membakar sekolah itu sebagai pembalasan karena putranya telah belajar menggunakan argumen-argumen canggih untuk membenarkan pemukulan terhadap ayahnya. Dalam Apology Plato, Sokrates mengakui pengaruh berbahaya dari penggambaran ini: “Para penuduh pertama inilah, tuan-tuan, yang menuduhku kepadamu bertahun-tahun lalu dan yang sekarang lebih aku takuti daripada Anytos dan rekan-rekannya, meskipun mereka juga berbahaya. Tetapi para penuduh pertama itu, tuan-tuan, lebih berbahaya; mereka mengambilmu ketika kamu masih anak-anak, dan menuduhku dengan fitnah yang sepenuhnya tidak benar, mengatakan bahwa ada seorang Sokrates, orang bijak, yang mempelajari fenomena di langit dan menyelidiki segala sesuatu di bawah bumi dan membuat argumen yang lebih lemah mengalahkan yang lebih kuat” (Plato, Apology 18b-c).
Kaum Sofis juga dapat dianggap sebagai musuh Sokrates dalam arti bahwa mereka adalah rival intelektualnya. Meskipun beberapa Sofis, seperti Protagoras dan Prodikos, diperlakukan dengan hormat dalam dialog-dialog Plato, ada ketegangan fundamental antara pendekatan mereka yang berorientasi pada bayaran dan kesuksesan retoris dan komitmen Sokrates pada kebenaran dan kebajikan tanpa kompromi. Dalam Apology, Sokrates dengan tegas membedakan dirinya dari para Sofis: “Aku tidak pernah menjadi guru siapa pun. Tetapi jika ada yang ingin mendengarkanku ketika aku menjalankan misiku, baik tua maupun muda, aku tidak pernah menolaknya; aku juga tidak berbicara hanya ketika menerima uang dan diam ketika tidak menerimanya; aku menawarkan diriku untuk diinterogasi oleh kaya dan miskin secara setara, dan siapa pun boleh menjawab dan mendengarkan apa yang kukatakan” (Plato, Apology 33a-b). Penolakan Sokrates untuk menerima bayaran adalah titik pembeda yang penting, tetapi ironisnya, publik Athena sering mengidentikkannya dengan para Sofis justru karena kritiknya terhadap nilai-nilai tradisional tampak serupa.
Musuh-musuh Sokrates juga termasuk mereka yang merasa malu atau terhina oleh pemeriksaan silangnya. Dalam Apology, ia menjelaskan mengapa begitu banyak orang membencinya:
Setelah itu aku pergi ke satu orang dan ke orang lain, menyadari dengan sedih dan takut bahwa aku membuat diriku dibenci, tetapi tetap merasa perlu untuk menempatkan urusan dewa di atas segalanya. Maka aku harus pergi, memeriksa makna orakel, kepada semua orang yang dianggap memiliki pengetahuan. Dan demi anjing itu, tuan-tuan, karena aku harus mengatakan yang sebenarnya kepadamu, pengalamanku adalah seperti ini: mereka yang memiliki reputasi tertinggi tampak bagiku hampir yang paling tidak memadai, sementara mereka yang dianggap lebih rendah jauh lebih baik dalam hal pemahaman. (Plato, Apology 21e-22a)
Pengakuan ini mengungkapkan bahwa Sokrates sadar sepenuhnya bahwa aktivitasnya menimbulkan kebencian, tetapi ia menganggapnya sebagai panggilan ilahi yang tidak dapat ia abaikan. Musuh-musuhnya bukan hanya individu-individu jahat yang ingin mencelakainya, melainkan manifestasi dari resistensi manusiawi terhadap pemeriksaan diri yang jujur. Dalam arti ini, musuh utama Sokrates adalah ketidaktahuan yang merasa terancam dan melawan balik.
Contoh Penggunaan Metode Sokrates
Untuk mengilustrasikan Metode Sokrates secara konkret, bagian ini akan menganalisis dua contoh dari dialog-dialog Plato: pemeriksaan Euthyphro dalam Euthyphro dan pemeriksaan Meletos dalam Apology. Kedua contoh ini menunjukkan bagaimana elenchus beroperasi dalam praktik, mengekspos kontradiksi, dan mengarah pada aporia atau kebingungan yang produktif.Contoh 1, Dialog dengan Euthyphro
Dialog Euthyphro berlatar di luar gedung pengadilan Athena, di mana Sokrates akan menghadapi tuduhan dan Euthyphro akan menuntut ayahnya sendiri atas pembunuhan seorang budak. Euthyphro adalah seorang yang mengklaim memiliki pengetahuan agama yang pasti, dan Sokrates memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari definisi kesalehan (hosiotēs).Sokrates membuka dengan bertanya: “Katakan padaku, apa yang kau klaim sebagai kesalehan dan apa yang kau klaim sebagai ketidaksalehan?” (Plato, Euthyphro 5d). Euthyphro pertama-tama mendefinisikan kesalehan sebagai “menuntut pelaku kesalahan, terlepas dari siapa pelakunya” (Plato, Euthyphro 5e). Sokrates menunjukkan bahwa ini hanyalah contoh kesalehan, bukan definisi yang menangkap esensi universalnya: “Ingatlah bahwa aku tidak memintamu untuk memberiku satu atau dua contoh dari banyak tindakan saleh, melainkan karakteristik esensial yang membuat semua tindakan saleh menjadi saleh” (Plato, Euthyphro 6d).
Euthyphro kemudian memberikan definisi keduanya: kesalehan adalah apa yang disukai para dewa. Sokrates dengan cepat menunjukkan masalah dengan definisi ini: para dewa sering berselisih, sehingga apa yang disukai satu dewa mungkin tidak disukai dewa lainnya. Jika demikian, tindakan yang sama bisa menjadi saleh dan tidak saleh sekaligus, yang absurd. “Tindakan yang sama, menurut pernyataanmu, akan menjadi saleh dan tidak saleh,” simpul Sokrates (Plato, Euthyphro 8a).
Euthyphro merevisi definisinya: kesalehan adalah apa yang disukai semua dewa. Sekarang Sokrates mengajukan salah satu pertanyaan paling terkenal dalam sejarah filsafat: “Apakah yang saleh dicintai oleh para dewa karena ia saleh, atau apakah ia saleh karena dicintai oleh para dewa?” (Plato, Euthyphro 10a). Dilema ini, yang kemudian dikenal sebagai “Dilema Euthyphro”, memiliki implikasi teologis dan etis yang mendalam. Jika yang saleh dicintai oleh para dewa karena ia saleh, maka standar kesalehan ada secara independen dari para dewa, dan mereka tidak lagi menjadi sumber moralitas. Jika ia saleh karena dicintai oleh para dewa, maka moralitas menjadi arbitrer: apa pun yang para dewa sukai adalah saleh, terlepas dari isinya.
Euthyphro tidak mampu menjawab dilema ini, dan dialog berakhir tanpa definisi yang memuaskan. Euthyphro pergi dengan alasan sibuk, meninggalkan Sokrates dan pembaca dalam keadaan aporia. Namun, aporia ini produktif: ia menunjukkan bahwa klaim Euthyphro tentang pengetahuan agama yang pasti tidak berdasar. Metode Sokrates telah mengekspos ketidaktahuan di balik kesombongan intelektual Euthyphro.
Contoh 2, Pemeriksaan Meletos dalam Apology
Contoh kedua terjadi selama persidangan Sokrates sendiri. Setelah menyampaikan pidato pembelaan awal, Sokrates memanggil Meletos, penuduh utamanya, ke mimbar untuk diperiksa. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang tercatat di mana Sokrates menggunakan elenchus di pengadilan yang sebenarnya.Sokrates memulai dengan tuduhan merusak kaum muda: “Katakan padaku, Meletos, bukankah hal terpenting bagimu adalah bagaimana kaum muda menjadi sebaik mungkin?” Meletos setuju. “Kalau begitu, beri tahu para juri: siapakah yang memperbaiki kaum muda?” Meletos ragu-ragu sebelum menjawab: “Hukum.” Sokrates menekan: “Itu bukan pertanyaanku, orang baik, tetapi orang apa, yang pertama-tama mengetahui hukum itu sendiri?” Meletos menjawab: “Para juri ini, Sokrates.” Sokrates melanjutkan: “Apa maksudmu, Meletos? Apakah mereka mampu mendidik kaum muda dan memperbaikinya?” “Tentu saja.” “Semuanya, atau hanya beberapa dari mereka?” “Semuanya.” Sokrates menyatakan kekaguman palsu: “Demi Hera, kau berbicara tentang pasokan besar para pembimbing!” (Plato, Apology 24d-25a).
Dengan langkah ini, Sokrates telah memerangkap Meletos. Meletos telah mengklaim bahwa (a) Sokrates sendirian merusak kaum muda, dan (b) semua orang Athena lainnya, para juri, anggota majelis, semua warga, memperbaiki kaum muda. Tetapi klaim ini tidak masuk akal: jika semua orang lain memperbaiki kaum muda, pengaruh buruk satu orang, Sokrates, akan dengan mudah dikalahkan. Lebih jauh lagi, klaim Meletos bertentangan dengan pengalaman umum: tidak mungkin semua orang kecuali satu individu adalah pengaruh yang baik.
Sokrates kemudian mengajukan pertanyaan lebih tajam: “Apakah lebih baik tinggal di antara warga yang baik atau di antara yang jahat?” Meletos menjawab bahwa yang baik memberikan manfaat, yang jahat merugikan. “Apakah ada orang yang lebih suka dirugikan oleh rekan-rekannya daripada dibantu?” “Tentu saja tidak.” “Kalau begitu, jika aku merusak kaum muda, aku pasti melakukannya dengan sengaja atau tidak sengaja. Jika tidak sengaja, maka aku tidak harus dibawa ke pengadilan, melainkan diinstruksikan dan dinasihati; karena jika aku diajari, aku akan berhenti melakukan apa yang kulakukan tanpa sengaja” (Plato, Apology 25e-26a). Jika Sokrates sengaja merusak kaum muda, ia akan menciptakan orang-orang yang mungkin menyakitinya, tindakan yang irasional. Jika ia melakukannya tanpa sengaja, ia harus diperbaiki, bukan dihukum.
Meletos tidak dapat menjawab argumen ini. Sokrates kemudian beralih ke tuduhan kedua: ketidaksalehan. “Apakah kau mengatakan bahwa aku tidak percaya pada dewa-dewa sama sekali, atau bahwa aku percaya pada dewa-dewa yang berbeda?” Meletos menuduh Sokrates sebagai ateis total: “Aku mengatakan bahwa kau tidak percaya pada dewa-dewa sama sekali.” Sokrates kemudian menunjukkan bahwa dalam rumusan asli tuduhan, ia dituduh “memperkenalkan dewa-dewa baru.” Bagaimana mungkin ia memperkenalkan dewa-dewa baru jika ia tidak percaya pada dewa-dewa sama sekali? “Siapa pun yang percaya pada aktivitas-aktivitas daimonik pasti percaya pada daimones. Daimones adalah dewa-dewa atau anak-anak dewa. Jadi, Meletos, kau telah mengkontradiksikan dirimu sendiri” (Plato, Apology 27c-e).
Dalam kedua contoh ini, metode Sokrates beroperasi dengan cara yang sama: ia mengajukan definisi atau klaim, memperoleh persetujuan terhadap premis-premis tambahan, dan menunjukkan bahwa klaim asli bertentangan dengan premis-premis tersebut. Hasilnya adalah sanggahan yang menghancurkan. Tetapi apakah metode ini mencapai pengetahuan positif? Inilah pertanyaan yang terus diperdebatkan. Sebagian besar dialog awal Plato berakhir dengan aporia, bukan dengan definisi yang diterima. Namun, seperti yang dikemukakan oleh sarjana Hugh H. Benson, “tujuan elenchus Sokratik bukanlah untuk membangun doktrin positif, melainkan untuk membersihkan jiwa lawan bicara dari kepura-puraan pengetahuan, sehingga menciptakan kondisi bagi pencarian kebijaksanaan yang sejati” (Benson 52).
Contoh Tambahan, Dialog dengan Meno
Contoh ketiga dari Meno layak dibahas secara singkat untuk menunjukkan bagaimana Sokrates menggunakan metode ini untuk membimbing seseorang menuju penemuan kebenaran. Dalam dialog ini, Meno mengajukan paradoks: jika seseorang tidak tahu apa yang dicarinya, bagaimana ia dapat mencarinya? Dan jika ia menemukannya, bagaimana ia tahu bahwa itulah yang dicarinya? Untuk merespons, Sokrates melakukan demonstrasi terkenal dengan seorang budak Meno yang tidak berpendidikan. Melalui serangkaian pertanyaan yang cermat, Sokrates membimbing budak itu untuk menemukan sendiri solusi untuk masalah geometris: bagaimana menggandakan luas persegi. Budak itu, yang tidak pernah belajar geometri, pada awalnya memberikan jawaban yang salah (menggandakan sisi persegi), tetapi melalui pertanyaan-pertanyaan Sokrates ia menyadari kesalahannya dan akhirnya menemukan solusi yang benar (menggandakan persegi berdasarkan diagonalnya).Demonstrasi ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, ia membantah paradoks Meno: pencarian pengetahuan dimungkinkan. Kedua, ia mendukung doktrin anamnesis, gagasan bahwa pengetahuan adalah pengingatan kembali dari apa yang telah diketahui jiwa dalam keberadaan sebelumnya. Ketiga, dan yang paling penting untuk pembahasan kita, ia menunjukkan metode Sokrates dalam modus maieutikē: Sokrates tidak mengajarkan solusi kepada budak itu; ia hanya mengajukan pertanyaan yang memungkinkan budak itu “melahirkan” pengetahuan dari dalam dirinya sendiri. “Perhatikan sekarang,” kata Sokrates kepada Meno, “bahwa aku tidak mengajarinya apa pun; aku hanya bertanya kepadanya. Dan sekarang ia akan berpikir bahwa ia tahu, tetapi ia tidak tahu. Apakah ini keadaan yang lebih baik baginya?” (Plato, Meno 84a-b).
Metode Sokrates dengan demikian adalah praktik pembebasan intelektual. Ia membebaskan orang dari ilusi pengetahuan sehingga pencarian yang sejati dapat dimulai. Namun sebagaimana dicatat oleh filsuf Karl Jaspers, “Sokrates adalah pendidik yang tidak mengajarkan ajaran apa pun; ia adalah guru yang menolak menjadi otoritas. Kekuatannya adalah pertanyaan yang tak henti-hentinya, yang mendorong yang lain untuk berpikir sendiri” (Jaspers 34).
Kesimpulan
Biografi Sokrates adalah kisah tentang seorang individu yang, melalui kekuatan pertanyaan dan komitmen pada pemeriksaan diri, mengubah arah peradaban Barat. Lahir dari keluarga artisan Athena pada pertengahan abad kelima SM, Sokrates menempuh pendidikan yang menggabungkan paideia tradisional dengan penyelidikan filosofis yang radikal. Metodenya yang khas, elenchus, ironi Sokratik, dan maieutikē, menantang asumsi-asumsi fundamental tentang moralitas, pengetahuan, dan kehidupan yang baik. Murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon, mengabadikan ajarannya dalam karya-karya yang terus dibaca dua ribu empat ratus tahun kemudian. Musuh-musuhnya, yang memuncak dalam persidangan dan eksekusinya pada tahun 399 SM, secara paradoks memperkuat warisannya, mengubahnya menjadi martir filsafat dan simbol integritas intelektual.“Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani,” kata Sokrates (Plato, Apology 38a). Pernyataan ini terus bergema karena ia menyentuh inti dari kondisi manusia: kebutuhan untuk memahami diri sendiri, untuk mempertanyakan apa yang kita anggap benar, dan untuk hidup dengan integritas berdasarkan pemeriksaan rasional. Sokrates tidak meninggalkan sistem metafisika seperti Plato, risalah logika seperti Aristoteles, atau doktrin etika seperti Epikuros. Yang ia tinggalkan adalah teladan, sosok yang cara hidupnya adalah filsafat itu sendiri. Dalam kata-kata Alexander Nehamas, “apa yang diwakili Sokrates adalah kemungkinan bahwa kehidupan manusia dapat menjadi karya seni, suatu ekspresi dari serangkaian prinsip yang koheren yang dijalani dengan konsistensi yang tak kenal kompromi” (Nehamas 187). Inilah alasan mengapa, setelah lebih dari dua milenium, Sokrates tetap menjadi filsuf yang paling banyak dirujuk dan paling abadi relevansinya.
Daftar Pustaka
Aristotle. Metaphysics. Translated by C. D. C. Reeve, Hackett Publishing, 2016.Benson, Hugh H. Socratic Wisdom: The Model of Knowledge in Plato’s Early Dialogues. Oxford UP, 2000.
Brickhouse, Thomas C., and Nicholas D. Smith. Socrates on Trial. Princeton UP, 1989.
Cicero. Tusculanae Disputationes. Translated by J. E. King, Harvard UP, 1927.
Diogenes Laertius. Lives of Eminent Philosophers. Translated by R. D. Hicks, Harvard UP, 1925.
Guthrie, W. K. C. A History of Greek Philosophy, Vol. III: The Fifth-Century Enlightenment. Cambridge UP, 1969.
Jaspers, Karl. Socrates, Buddha, Confucius, Jesus: The Paradigmatic Individuals. Translated by Ralph Manheim, Harcourt Brace, 1962.
Morrison, Donald R. “Socrates.” The Cambridge Companion to Socrates, edited by Donald R. Morrison, Cambridge UP, 2011, pp. 1-30.
Nails, Debra. The People of Plato: A Prosopography of Plato and Other Socratics. Hackett Publishing, 2002.
Nehamas, Alexander. The Art of Living: Socratic Reflections from Plato to Foucault. U of California P, 1998.
Nussbaum, Martha C. The Therapy of Desire: Theory and Practice in Hellenistic Ethics. Princeton UP, 1994.
Plato. Complete Works. Edited by John M. Cooper, translated by G. M. A. Grube et al., Hackett Publishing, 1997.
Vlastos, Gregory. Socrates: Ironist and Moral Philosopher. Cornell UP, 1991.
Whitehead, Alfred North. Process and Reality. Free Press, 1978.
Xenophon. Memorabilia, Apology, Symposium, Oeconomicus. Translated by E. C. Marchant and O. J. Todd, Harvard UP, 1923.

Posting Komentar