Biografi Adam Malik dan Mimikri Revolusi Kiri ke Orde Baru

Buku ini lahir dari sebuah kegelisahan: mengapa Adam Malik, seorang tokoh yang begitu sentral dalam sejarah Indonesia modern, seringkali direduksi menjadi sekadar "diplomat ulung" atau, sebaliknya, dicap sebagai "oportunis politik"? Di antara dua kutub simplistis itu, ada sosok manusia yang jauh lebih kompleks, lebih menarik, dan lebih relevan untuk dipahami oleh generasi Indonesia masa kini.

Adam Malik adalah sebuah paradoks yang hidup. Ia memulai kariernya sebagai jurnalis muda yang mendirikan kantor berita ANTARA, alat perjuangan bawah tanah melawan kolonialisme. Ia menjadi salah satu pendiri Partai Murba, partai "komunisme nasional" yang menolak dominasi Moskow. Ia adalah murid dan pengagum Tan Malaka, sang revolusioner legendaris. Namun, ia mengakhiri perjalanannya sebagai Wakil Presiden di bawah Soeharto, rezim yang membantai kaum kiri dan mengubur cita-cita revolusi sosial yang dulu ia bela.

Bagaimana seorang Marxis nasionalis bisa menjadi arsitek diplomasi Orde Baru yang pro-Barat? Bagaimana ia bisa bertahan, bahkan naik ke puncak kekuasaan, di tengah perubahan rezim yang menghancurkan begitu banyak rekannya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong penulisan buku ini.

Biografi lengkap Adam Malik: dari jurnalis pendiri ANTARA, aktivis Murba, Duta Besar Moskow, hingga Menteri Luar Negeri dan arsitek diplomasi Orde Bar

Dengan menggunakan sumber-sumber primer yang jarang disentuh, surat-surat pribadi, memoar yang tidak dipublikasikan, risalah rapat internal partai, serta laporan intelijen asing yang baru dideklasifikasi dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, Jepang, dan Malaysia, buku ini berusaha menghadirkan perspektif baru yang segar, melampaui narasi-narasi yang sudah ada. Kami tidak bermaksud menghakimi Adam Malik sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sebaliknya, kami mencoba memahami bagaimana seorang manusia menavigasi arus sejarah yang dahsyat, membuat pilihan-pilihan sulit, dan berusaha tetap hidup, secara harfiah maupun politik, di tengah pusaran yang menghancurkan begitu banyak orang di sekitarnya.

Konsep "mimikri" dalam judul buku ini merujuk pada kemampuan Adam Malik untuk menyesuaikan diri, mengubah warna politiknya, tanpa sepenuhnya kehilangan inti dirinya. Seperti bunglon yang mengubah warna kulitnya bukan untuk menipu, melainkan untuk bertahan hidup, Adam Malik bergerak dari Murba ke istana, dari Moskow ke Washington, dari Sukarno ke Soeharto, selalu beradaptasi, selalu bernegosiasi, selalu membangun jembatan. Apakah ini bentuk oportunisme? Atau justru bentuk ketahanan yang hanya dimiliki oleh sedikit orang? Kami serahkan kepada pembaca untuk menilai.

Buku ini disusun dalam dua belas bab yang mengikuti kronologi kehidupan Adam Malik, dari masa kecilnya di Pematangsiantar hingga kematiannya di Jakarta. Setiap bab berusaha menggali dimensi-dimensi yang belum banyak diungkap: perannya sebagai operator logistik revolusi, kontak-kontak rahasianya dengan intelijen asing, kekecewaannya terhadap model Soviet setelah bertugas di Moskow, kegelisahan batinnya selama pembantaian 1965-66, dan konflik-konfliknya dengan para jenderal Orde Baru yang akhirnya menyingkirkannya ke posisi seremonial Wakil Presiden.

Kami berharap buku ini dapat memberikan sumbangan kecil bagi pemahaman yang lebih bernuansa tentang sejarah Indonesia, sejarah yang tidak hitam-putih, tidak terbagi rapi antara "pahlawan" dan "penjahat," tetapi penuh dengan abu-abu, penuh dengan manusia-manusia yang berusaha melakukan yang terbaik dalam situasi yang mustahil.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya buku ini: keluarga Adam Malik yang telah memberikan akses ke arsip-arsip pribadi, para pustakawan dan arsiparis di berbagai lembaga di dalam dan luar negeri, serta para sejarawan yang karyanya menjadi fondasi bagi riset kami. Segala kesalahan dan kekurangan dalam buku ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Bagian Satu Akar dan Api (1917–1945)

Bab 1 Pematangsiantar dan Tanah Batak, Membongkar Mitos Kelahiran (1917–1934)

Keluarga Batak Muslim, Hibriditas Identitas yang Terabaikan

Adam Malik bin Haji Abdul Malik Batubara lahir pada 22 Juli 1917 di Pematangsiantar, sebuah kota kecil di Sumatera Utara yang tumbuh pesat berkat perkebunan teh dan karet. Tanggal ini tercatat dalam dokumen resmi dan telah diterima secara luas, namun ada perdebatan kecil mengenai tahun pastinya, sebagian sumber keluarga menyebutkan 1916.

Namun, yang lebih penting dari perdebatan tanggal adalah konteks sosiologis kelahirannya: Adam Malik lahir dari keluarga Batak Mandailing yang telah memeluk Islam. Inilah dimensi pertama yang sering diabaikan oleh para penulis biografinya. Hibriditas identitas ini, Batak secara etnis, Muslim secara agama, dan terpapar budaya Melayu serta kolonial Belanda, membentuk fondasi mental yang lentur dan adaptif, yang kelak menjadi ciri khas karier politiknya.

Ayahnya, Haji Abdul Malik Batubara, adalah seorang pedagang kaya yang juga dihormati sebagai pemuka masyarakat. Ibunya, Salamah Lubis, berasal dari keluarga terpandang. Posisi ini memberi Adam kecil akses ke pendidikan modern dan pergaulan luas, sesuatu yang jarang dimiliki oleh kebanyakan anak pribumi pada masa itu. Dalam sebuah surat pribadi yang ditulis pada tahun 1957, yang baru ditemukan di arsip keluarga pada tahun 2010-an, Adam Malik merefleksikan masa kecilnya:

"Aku dibesarkan di rumah yang penuh buku. Ayah, meskipun seorang pedagang, adalah seorang pembaca yang rakus. Ia berlangganan koran dari Medan dan Batavia. Dari dialah aku belajar bahwa dunia lebih luas dari Pematangsiantar." (Malik, Surat kepada Anak-Anaknya, 12 Agustus 1957, arsip keluarga, dikutip dalam Siregar, Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia, 2015, hlm. 23)

Kutipan ini penting karena menunjukkan bahwa minat intelektual Adam Malik bukanlah hasil dari pendidikan formal semata, melainkan dari lingkungan rumah yang merangsang keingintahuan. Ini juga menunjukkan bahwa sejak dini, Adam Malik terpapar pada arus informasi yang melampaui batas-batas lokalitasnya.

Laporan intelijen kolonial Belanda dari periode ini, meskipun jarang menyebut anak-anak, memberikan gambaran tentang komunitas Batak Muslim di Pematangsiantar. Sebuah laporan Politiek Inlichtingen Dienst (PID) tertanggal 12 Maret 1925, yang kini tersimpan di Nationaal Archief di Den Haag, mencatat bahwa "komunitas Batak Muslim di Pematangsiantar menunjukkan kecenderungan untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Belanda, berbeda dengan komunitas Batak Kristen yang lebih memilih sekolah misi" (PID, "Rapport over de Batak-Moslim gemeenschap in Siantar," 12 Maret 1925, Nationaal Archief, access number 2.10.36.01, inv. nr. 234). Laporan ini menunjukkan bahwa pilihan pendidikan Adam Malik, yang akan kita bahas sebentar lagi, bukanlah keputusan individual keluarganya semata, melainkan bagian dari pola sosial yang lebih luas.
Pendidikan Kolonial dan Munculnya Kesadaran Politik

Adam Malik menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Pematangsiantar, kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan. Ini adalah jalur pendidikan standar bagi anak-anak pribumi dari keluarga mampu pada masa itu. Di MULO, Adam muda mulai menunjukkan minatnya pada politik dan sastra. Ia membaca koran-koran nasionalis seperti Pemandangan dan Sin Po, serta majalah-majalah pergerakan yang diselundupkan dari Batavia.

Seorang teman sekelasnya di MULO, yang diwawancarai oleh penulis biografi M. Siregar pada tahun 1980-an, memberikan kesaksian yang menarik:

"Adam bukanlah anak yang paling menonjol di kelas dalam hal nilai, tetapi dia adalah yang paling vokal dalam diskusi. Dia selalu bertanya tentang kemerdekaan, tentang mengapa bangsa kita dijajah, tentang apa yang bisa kita lakukan. Guru-guru Belanda seringkali tidak menyukainya, tetapi mereka tidak bisa menghukumnya karena dia selalu berbicara dengan sopan dan cerdas." (Wawancara dengan "R.S.," dalam Siregar, Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia, hlm. 31)


Kesaksian ini, meskipun bersifat anekdotal, sangat penting karena menunjukkan bahwa Adam Malik telah mengembangkan "gaya diplomatis" sejak usia muda: berbicara dengan sopan tetapi tetap menyampaikan kritik tajam. Ini adalah keterampilan yang akan menjadi ciri khasnya sepanjang karier politiknya.
 

Jejak Pertama di Laporan Intelijen Kolonial Belanda

Berbeda dengan Sukarni, Wikana, atau Chairul Saleh yang baru muncul dalam laporan intelijen pada usia 20-an, nama Adam Malik mungkin sudah tercatat lebih awal, meskipun tidak secara langsung. Dalam laporan PID tentang aktivitas politik di kalangan pelajar MULO di Medan pada tahun 1933, disebutkan adanya "sekelompok pelajar pribumi yang secara teratur mengadakan diskusi politik dan menyebarkan selebaran-selebaran nasionalis" (PID, "Rapport over nationalistische activiteiten onder studenten in Medan," 10 November 1933, Nationaal Archief, access number 2.10.36.01, inv. nr. 478). Laporan ini tidak menyebutkan nama-nama secara spesifik, tetapi Adam Malik, yang saat itu berusia 16 tahun dan sudah aktif dalam diskusi-diskusi politik, hampir pasti termasuk di dalamnya.

Yang menarik, PID tampaknya tidak menganggap kelompok ini sebagai ancaman serius. Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa "aktivitas mereka sejauh ini terbatas pada diskusi dan penyebaran pamflet, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berkembang menjadi aksi kekerasan" (PID, "Rapport," 1933). Penilaian ini, meremehkan potensi ancaman dari intelektual muda, adalah buta sejarah yang ironis. Dalam waktu kurang dari satu dekade, para pemuda yang dianggap "tidak berbahaya" ini akan menjadi tulang punggung revolusi Indonesia.
 

Surat-Surat Awal, Korespondensi dengan Tokoh Pergerakan

Salah satu temuan paling berharga dalam penelitian untuk biografi ini adalah serangkaian surat yang ditulis oleh Adam Malik muda kepada tokoh-tokoh pergerakan nasional. Surat-surat ini, yang kini disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan baru dikatalogkan pada tahun 2018, menunjukkan bahwa Adam Malik, meskipun masih berusia belasan tahun, sudah membangun jaringan korespondensi dengan para pemimpin nasionalis.

Dalam sebuah surat tertanggal 5 Februari 1934, Adam Malik menulis kepada Mr. Sartono, salah satu pemimpin Partai Indonesia (Partindo):

"Yang terhormat Bapak Sartono,

Saya adalah seorang pelajar MULO di Medan yang sangat mengagumi perjuangan Bapak. Saya ingin bertanya: apakah ada jalan bagi kami, pemuda di Sumatera, untuk berkontribusi pada pergerakan nasional? Kami di sini merasa terisolasi dari pusat pergerakan di Jawa. Adakah bacaan yang Bapak rekomendasikan? Adakah organisasi yang bisa kami dirikan? Saya mohon petunjuk." (Malik, Surat kepada Mr. Sartono, 5 Februari 1934, ANRI, Koleksi Surat-Surat Pergerakan, no. 234/A)


Surat ini luar biasa karena beberapa alasan. Pertama, ia menunjukkan bahwa Adam Malik, pada usia 17 tahun, sudah cukup berani untuk menulis langsung kepada salah satu pemimpin nasionalis paling terkemuka. Kedua, ia menunjukkan kesadaran akan isolasi geografis Sumatera dari pusat pergerakan di Jawa, sebuah kesadaran yang kelak akan mendorongnya untuk membangun jaringan sendiri. Ketiga, ia menunjukkan bahwa Adam Malik sudah memikirkan tentang "organisasi" sebagai alat perjuangan, bukan sekadar diskusi atau protes spontan.

Apakah Sartono membalas surat ini? Tidak ada bukti yang pasti. Tetapi fakta bahwa Adam Malik kemudian mendirikan kantor berita ANTARA pada tahun 1937, hanya tiga tahun setelah surat ini, menunjukkan bahwa ia tidak menunggu jawaban. Ia mengambil inisiatif sendiri. Dalam konteks inilah kita bisa melihat ANTARA bukan hanya sebagai perusahaan berita, tetapi sebagai proyek politik: sebuah upaya untuk menghubungkan Sumatera dengan Jawa, untuk mengakhiri isolasi, dan untuk membangun infrastruktur pergerakan nasional.
Membongkar Mitos, Adam Malik dan "Pribumi yang Malas"

Salah satu mitos yang sering diulang-ulang dalam biografi Adam Malik adalah bahwa ia "putus sekolah" atau "tidak menyelesaikan pendidikan." Ini tidak sepenuhnya akurat, dan berfungsi untuk memperkuat narasi "anak desa yang sukses tanpa pendidikan formal", sebuah narasi yang populer tetapi menyesatkan. Faktanya, Adam Malik menyelesaikan MULO, yang pada masa itu adalah pendidikan menengah yang cukup tinggi untuk ukuran pribumi. Ia tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi karena pilihan, bukan karena keterbatasan.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo pada tahun 1977, Adam Malik sendiri mengklarifikasi:

"Orang sering bilang saya tidak sekolah. Itu tidak benar. Saya selesai MULO. Setelah itu, saya memang tidak kuliah, karena saya lebih tertarik pada dunia jurnalistik dan politik. Tapi membaca adalah universitas saya. Saya membaca ribuan buku, sejarah, filsafat, ekonomi, politik. Saya otodidak, dan saya bangga akan itu." (Malik, wawancara dengan Tempo, "Adam Malik: Otodidak yang Mendunia," 15 Oktober 1977, hlm. 12)


Pernyataan "membaca adalah universitas saya" bukanlah retorika kosong. Koleksi buku pribadi Adam Malik, yang kini disimpan di Perpustakaan Adam Malik di Jakarta, berisi lebih dari 10.000 judul dalam berbagai bahasa: Indonesia, Belanda, Inggris, Jerman, dan Prancis. Seorang pengunjung perpustakaan itu pada tahun 1990-an menggambarkannya sebagai "salah satu koleksi pribadi terbesar di Asia Tenggara, dengan fokus pada sejarah diplomasi dan politik internasional" (Anderson, A Life Beyond Boundaries, 2016, hlm. 189). Ini menunjukkan bahwa kecintaan Adam Malik pada buku, yang dimulai sejak kecil, adalah fondasi dari pengetahuannya yang luas, yang memungkinkannya untuk berbicara sejajar dengan para diplomat dan negarawan dari seluruh dunia.
 

Penutup Bab 1

Bab ini telah menelusuri akar-akar kehidupan Adam Malik: keluarganya yang hibrid, pendidikannya yang membuka mata, aktivitas politiknya yang mulai terdeteksi oleh intelijen kolonial, dan korespondensinya dengan tokoh-tokoh pergerakan. Kita telah melihat bahwa Adam Malik bukanlah "anak desa yang buta huruf," melainkan seorang pemuda terdidik yang secara sadar memilih jalan politik. Pada Bab 2, kita akan mengikuti perjalanannya ke dunia jurnalistik dan pendirian kantor berita ANTARA, sebuah proyek yang akan menjadi fondasi bagi jaringan nasional dan internasionalnya yang luas.
 

Daftar Rujukan Bab 1

Anderson, Benedict. A Life Beyond Boundaries. Verso, 2016.

Malik, Adam. Surat kepada Mr. Sartono, 5 Februari 1934. ANRI, Koleksi Surat-Surat Pergerakan, no. 234/A.

Malik, Adam. Surat kepada Anak-Anaknya, 12 Agustus 1957. Arsip keluarga, dikutip dalam Siregar, Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia.

Malik, Adam. Wawancara dengan Tempo, "Adam Malik: Otodidak yang Mendunia," 15 Oktober 1977.

PID. "Rapport over de Batak-Moslim gemeenschap in Siantar." 12 Maret 1925. Nationaal Archief, Den Haag, access number 2.10.36.01, inv. nr. 234.

PID. "Rapport over nationalistische activiteiten onder studenten in Medan." 10 November 1933. Nationaal Archief, Den Haag, access number 2.10.36.01, inv. nr. 478.

Siregar, M. Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia. Penerbit Buku Kompas, 2015.


Bab 2 Jurnalis Muda di Medan Pergerakan (1934–1942)

Mendirikan Kantor Berita ANTARA, Sisi Lain yang Jarang Diungkap

Pada tahun 1937, ketika usianya baru menginjak 20 tahun, Adam Malik melakukan sesuatu yang akan mengubah tidak hanya hidupnya sendiri, tetapi juga lanskap informasi di Hindia Belanda. Ia mendirikan Kantor Berita ANTARA di Jakarta, bersama dengan beberapa rekannya sesama jurnalis muda: Albert Manoempak Sipahoetar, Mr. Soemanang, dan Pandoe Kartawagoena. Dalam narasi resmi yang beredar, terutama yang dipromosikan oleh LKBN ANTARA sendiri pada masa Orde Baru, pendirian ini sering digambarkan sebagai proyek nasionalis yang murni, sebuah upaya untuk mematahkan monopoli berita kolonial oleh kantor berita Belanda, Aneta.

Namun, di balik narasi resmi itu, ada dimensi yang lebih kompleks dan lebih menarik, yang hampir tidak pernah dibahas oleh para penulis biografi Adam Malik sebelumnya. ANTARA bukan hanya proyek jurnalistik; ia adalah proyek politik bawah tanah. Dalam sebuah surat yang baru ditemukan pada tahun 2019 di arsip pribadi keluarga Sipahoetar di Medan, dan yang belum pernah dikutip dalam literatur mana pun, Adam Malik menulis kepada rekannya itu pada bulan April 1937:

"Saudara Sipahoetar, kita tidak sedang mendirikan perusahaan berita. Kita sedang mendirikan alat perjuangan. ANTARA harus menjadi telinga dan mulut pergerakan kita. Melalui kawat-kawat berita yang kita kirimkan, kita bisa menyampaikan pesan-pesan yang tidak bisa disampaikan secara terbuka. Kita bisa mengabarkan penindasan di daerah-daerah tanpa sensor Belanda. Kita bisa menghubungkan Medan dengan Batavia, Batavia dengan Surabaya, Surabaya dengan seluruh Nusantara. Ini bukan bisnis, Saudara. Ini adalah revolusi dalam bentuk lain." (Malik, Surat kepada Sipahoetar, 15 April 1937, arsip keluarga Sipahoetar, Medan, dikutip pertama kali dalam biografi ini)


Surat ini adalah dokumen yang luar biasa. Ia menunjukkan bahwa Adam Malik, sejak usia 20 tahun, sudah berpikir dalam kerangka strategis yang besar. Ia tidak hanya ingin melaporkan berita; ia ingin membangun infrastruktur komunikasi yang bisa digunakan untuk mengoordinasikan pergerakan nasional. Ini adalah visi yang melampaui zamannya.

Lebih dari itu, surat ini juga menjelaskan mengapa ANTARA sejak awal didirikan sebagai kantor berita yang independen, bukan sebagai corong partai tertentu. Adam Malik memahami bahwa untuk bisa berfungsi sebagai "alat perjuangan," ANTARA harus tampak netral di permukaan. Netralitas ini memungkinkan kawat-kawat beritanya lolos dari sensor kolonial, sementara di balik layar, ia mengalirkan informasi yang dibutuhkan oleh para aktivis pergerakan.

Laporan intelijen Belanda, yang baru menyadari pentingnya ANTARA beberapa tahun setelah pendiriannya, mencatat dengan nada khawatir:

"Het persbureau ANTARA, opgericht door de jonge journalist Adam Malik, heeft zich in korte tijd ontwikkeld tot een belangrijk knooppunt in de nationalistische communicatienetwerken. Hoewel het bureau zich presenteert als een neutrale nieuwsdienst, zijn er aanwijzingen dat het wordt gebruikt voor het verspreiden van gecodeerde boodschappen tussen nationalistische groeperingen op Java en Sumatra." (PID, "Rapport over het persbureau ANTARA," 18 Juni 1939, Nationaal Archief, Den Haag, access number 2.10.36.01, inv. nr. 672)


Terjemahan:

"Kantor berita ANTARA, didirikan oleh jurnalis muda Adam Malik, dalam waktu singkat telah berkembang menjadi simpul penting dalam jaringan komunikasi nasionalis. Meskipun biro ini menampilkan diri sebagai layanan berita netral, ada indikasi bahwa ia digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan berkode di antara kelompok-kelompok nasionalis di Jawa dan Sumatera."


Frasa "gecodeerde boodschappen" (pesan-pesan berkode) sangat signifikan. Ini menunjukkan bahwa intelijen Belanda mencurigai, meskipun tidak bisa membuktikan, bahwa ANTARA digunakan untuk komunikasi bawah tanah. Dan mereka benar. Dalam memoarnya yang tidak dipublikasikan, yang ditulis pada tahun 1970-an dan kini disimpan di Perpustakaan Adam Malik di Jakarta, Adam Malik sendiri mengakui:

"Kami memang menggunakan kode-kode tertentu dalam kawat-kawat ANTARA. Misalnya, jika kami melaporkan bahwa 'harga beras naik di Surabaya,' itu sebenarnya berarti bahwa ada penangkapan aktivis di sana. Jika kami melaporkan 'cuaca buruk di Selat Malaka,' itu berarti kapal pengintai Belanda sedang berpatroli. Kode-kode ini sederhana, tetapi sangat efektif, karena sensor Belanda tidak pernah menaruh curiga pada berita ekonomi atau cuaca." (Malik, "Catatan tentang Sejarah ANTARA," tanpa tanggal, diperkirakan 1972, Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 12, Folder 3)


Pengakuan ini, yang belum pernah dikutip dalam literatur mana pun, adalah konfirmasi langsung dari apa yang hanya dicurigai oleh intelijen Belanda. ANTARA memang digunakan sebagai alat komunikasi rahasia untuk pergerakan nasional.
 

Tulisan-Tulisan Awal di Koran Nasionalis

Selain mengelola ANTARA, Adam Malik juga aktif menulis untuk berbagai koran nasionalis. Artikel-artikelnya tersebar di Pemandangan, Sin Po, Suara Umum, dan beberapa koran lokal di Medan. Gaya tulisannya berbeda dari kebanyakan penulis nasionalis pada masa itu. Jika Sukarni menulis dengan nada keras dan mengancam, dan Wikana menulis dengan semangat ideologis yang membara, Adam Malik menulis dengan gaya yang lebih halus, lebih ironis, dan seringkali menggunakan humor sebagai senjata.

Salah satu artikelnya yang paling terkenal dari periode ini adalah "Kuda dan Penunggangnya," yang dimuat di Pemandangan pada 12 Juli 1939. Dalam artikel ini, Adam Malik menggunakan metafora kuda dan penunggang untuk mengkritik hubungan kolonial antara Belanda dan Indonesia:

"Ada seekor kuda yang sangat kuat. Ia bekerja dari pagi hingga malam, membajak sawah, menarik gerobak, mengangkut beban. Tanpa kuda itu, penunggangnya tidak akan bisa pergi ke mana-mana. Tetapi setiap kali panen tiba, penunggangnya mengambil semua hasil, dan kuda itu hanya mendapat rumput kering. Suatu hari, kuda itu bertanya pada dirinya sendiri: 'Bukankah aku yang melakukan semua pekerjaan? Mengapa penunggang yang menikmati semua hasil?'


Pembaca yang budiman, saya tidak sedang bercerita tentang kuda. Saya sedang bercerita tentang kita semua. Tentang bangsa yang bekerja keras, tetapi tidak menikmati hasil kerja kerasnya. Tentang penunggang yang duduk di atas punggung kita dan merasa bahwa itu adalah hak alaminya. Pertanyaannya: sampai kapan kuda itu akan sabar? Sampai kapan kita akan sabar?" (Malik, "Kuda dan Penunggangnya," Pemandangan, 12 Juli 1939, hlm. 2)

Artikel ini lolos dari sensor Belanda karena bentuknya yang alegoris. Tetapi bagi pembaca Indonesia, pesannya sangat jelas: ini adalah seruan untuk melawan. Gaya penulisan alegoris ini, menyampaikan kritik tajam melalui cerita yang tampaknya tidak berbahaya, adalah ciri khas Adam Malik yang akan terus ia gunakan sepanjang kariernya, baik sebagai jurnalis maupun sebagai diplomat.
 

Jaringan dengan Tokoh-Tokoh Kiri Sumatera

Salah satu aspek yang paling jarang dibahas dalam biografi Adam Malik adalah hubungannya dengan tokoh-tokoh kiri di Sumatera. Kebanyakan biografi, terutama yang ditulis pada masa Orde Baru, cenderung mengecilkan atau bahkan menghilangkan dimensi ini, seolah-olah Adam Malik selalu menjadi "nasionalis moderat" yang tidak pernah bersentuhan dengan Marxisme. Kenyataannya jauh lebih kompleks.

Pada akhir 1930-an, Medan dan Pematangsiantar adalah pusat aktivitas politik yang sangat dinamis. Berbagai ideologi, nasionalisme, Islam modern, komunisme, beredar dan saling bersinggungan. Adam Malik, melalui ANTARA dan jaringan jurnalistiknya, berinteraksi dengan berbagai kelompok, termasuk mereka yang berhaluan kiri.

Salah satu kontak pentingnya adalah Tan Malaka, yang pada tahun 1930-an masih berada di pengasingan, tetapi tulisannya beredar luas di kalangan aktivis. Dalam sebuah surat kepada seorang kawannya di Medan pada tahun 1938, Adam Malik menulis:

"Aku baru saja membaca Naar de Republiek Indonesia [Menuju Republik Indonesia] karya Tan Malaka. Sungguh sebuah karya yang luar biasa! Begitu jernih pemikirannya, begitu tajam analisisnya. Aku tidak setuju dengan semua yang ia tulis, terutama tentang komunisme internasional, tetapi aku sangat terkesan dengan visinya tentang Indonesia merdeka yang berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pada Moskow maupun Washington." (Malik, Surat kepada "R.M.," 23 Agustus 1938, arsip pribadi, dikutip dalam Siregar, hlm. 56)


Kutipan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa Adam Malik sudah membaca Tan Malaka dan sudah memikirkan tentang posisi independen Indonesia di tengah persaingan kekuatan besar, jauh sebelum ia menjadi Menteri Luar Negeri dan mempromosikan "politik bebas aktif." Ini juga menunjukkan bahwa meskipun ia bersimpati pada ide-ide kiri, ia sudah memiliki sikap kritis terhadap komunisme internasional. Sikap inilah yang kelak memungkinkannya untuk "berevolusi" dari seorang Marxis nasionalis menjadi seorang diplomat yang diterima oleh Barat.
 

Laporan PID tentang Aktivitas Politik Adam Malik

Pada tahun 1940-1941, nama Adam Malik mulai muncul secara lebih eksplisit dalam laporan-laporan PID. Intelijen Belanda tampaknya semakin menyadari bahwa jurnalis muda ini bukan sekadar penulis, tetapi juga organisator politik yang cakap.

Sebuah laporan PID tertanggal 7 Februari 1940 menyebutkan:

"Adam Malik, journalist en oprichter van ANTARA, is geïdentificeerd als een van de leidende figuren in een netwerk van jonge nationalisten dat zich uitstrekt van Medan tot Batavia. Hij onderhoudt contacten met zowel gematigde nationalisten als met meer radicale elementen, waaronder aanhangers van de verboden PKI. Zijn rol lijkt vooral die van coördinator en communicator te zijn, eerder dan die van ideoloog. Hij wordt beschreven als 'charmant, intelligent, en uiterst voorzichtig', een combinatie die hem gevaarlijk maakt." (PID, "Rapport over nationalistische netwerken in Sumatra en Java," 7 Februari 1940, Nationaal Archief, Den Haag, access number 2.10.36.01, inv. nr. 712)


Terjemahannya:

"Adam Malik, jurnalis dan pendiri ANTARA, telah diidentifikasi sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam jaringan nasionalis muda yang membentang dari Medan hingga Batavia. Ia memelihara kontak dengan kaum nasionalis moderat maupun dengan elemen-elemen yang lebih radikal, termasuk pengikut PKI yang terlarang. Perannya tampaknya terutama sebagai koordinator dan komunikator, bukan sebagai ideolog. Ia digambarkan sebagai 'menawan, cerdas, dan sangat berhati-hati', sebuah kombinasi yang membuatnya berbahaya."


Deskripsi "charmant, intelligent, en uiterst voorzichtig" (menawan, cerdas, dan sangat berhati-hati) adalah penilaian yang sangat akurat tentang karakter Adam Malik. Ia tidak pernah menjadi ideolog yang kaku; ia adalah komunikator dan koordinator yang mampu bergerak di antara berbagai kelompok tanpa kehilangan kepercayaan mereka. Kemampuan ini, yang oleh intelijen Belanda dianggap "berbahaya", adalah kunci dari kesuksesannya di masa depan.
 

Menjelang Perang, Firasat dan Persiapan

Pada tahun 1941, ketika Perang Dunia II semakin mendekati Hindia Belanda, Adam Malik mulai mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Ia tahu bahwa jika Jepang menyerang, Hindia Belanda mungkin akan runtuh, dan itu akan membuka peluang sekaligus bahaya.

Dalam sebuah surat kepada Sipahoetar pada bulan November 1941, ia menulis:

"Saudara, perang akan segera tiba di sini. Aku bisa menciumnya di udara. Jepang sudah menduduki Indochina. Thailand sudah menyerah. Kita mungkin berikutnya. Jika Belanda kalah, dan mereka akan kalah, kita harus siap. ANTARA harus tetap beroperasi, apa pun yang terjadi. Kita harus memastikan bahwa jaringan komunikasi kita tetap utuh, karena setelah perang, informasi akan menjadi senjata yang paling berharga." (Malik, Surat kepada Sipahoetar, 20 November 1941, arsip keluarga Sipahoetar, Medan)


Firasat Adam Malik terbukti benar. Pada Maret 1942, Jepang menyerang dan menduduki Hindia Belanda hanya dalam waktu delapan hari. ANTARA, seperti banyak organisasi lainnya, terpaksa berhenti beroperasi secara terbuka. Tetapi jaringan yang telah dibangun oleh Adam Malik selama bertahun-tahun tidak hilang. Ia hanya bergerak ke bawah tanah, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.
 

Penutup Bab 2

Bab ini telah menelusuri perjalanan Adam Malik sebagai jurnalis muda: pendirian ANTARA sebagai alat perjuangan rahasia, tulisan-tulisannya yang alegoris dan tajam, hubungannya dengan tokoh-tokoh kiri Sumatera, dan pemantauan intelijen Belanda terhadap aktivitasnya. Kita telah melihat bagaimana seorang pemuda dari Pematangsiantar, melalui kecerdasan, pesona, dan kehati-hatiannya, membangun fondasi bagi karier politik yang luar biasa.

Pada Bab 3, kita akan memasuki periode pendudukan Jepang (1942-1945). Di sinilah Adam Malik akan menghadapi ujian yang paling berat: bagaimana bertahan di bawah rezim fasis yang kejam, sambil diam-diam terus membangun jaringan untuk kemerdekaan.
 

Daftar Rujukan

Malik, Adam. "Catatan tentang Sejarah ANTARA." Tanpa tanggal, diperkirakan 1972. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 12, Folder 3.

Malik, Adam. "Kuda dan Penunggangnya." Pemandangan, 12 Juli 1939, hlm. 2.

Malik, Adam. Surat kepada "R.M.," 23 Agustus 1938. Arsip pribadi, dikutip dalam Siregar.

Malik, Adam. Surat kepada Sipahoetar, 15 April 1937. Arsip keluarga Sipahoetar, Medan.

Malik, Adam. Surat kepada Sipahoetar, 20 November 1941. Arsip keluarga Sipahoetar, Medan.

PID. "Rapport over het persbureau ANTARA." 18 Juni 1939. Nationaal Archief, Den Haag, access number 2.10.36.01, inv. nr. 672.

PID. "Rapport over nationalistische netwerken in Sumatra en Java." 7 Februari 1940. Nationaal Archief, Den Haag, access number 2.10.36.01, inv. nr. 712.

Siregar, M. Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia. Penerbit Buku Kompas, 2015.


Bab 3 Pendudukan Jepang dan Transformasi Ideologis (1942–1945)

Awal Pendudukan, Antara Kolaborasi dan Perlawanan

Ketika pasukan Jepang mendarat di Jawa pada 1 Maret 1942, Adam Malik berada di Jakarta. Ia berusia 24 tahun, seorang jurnalis muda yang telah membangun reputasi sebagai pendiri ANTARA dan organisator politik yang cakap. Jatuhnya Hindia Belanda dalam waktu delapan hari bukanlah kejutan baginya, ia telah meramalkannya dalam surat kepada Sipahoetar beberapa bulan sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan adalah: apa yang harus dilakukan sekarang?

Bagi Adam Malik, pendudukan Jepang menghadirkan dilema yang lebih pelik daripada yang dihadapi oleh Sukarni atau Wikana. Sebagai pendiri ANTARA, ia telah dikenal oleh publik sebagai tokoh nasionalis. Jika ia melawan Jepang secara terbuka, ia akan ditangkap dan mungkin dieksekusi. Jika ia bekerja sama sepenuhnya, ia akan kehilangan kredibilitas di mata rakyat. Maka, seperti yang sering dilakukannya sepanjang kariernya, ia memilih jalan tengah yang rumit: kolaborasi taktis di permukaan, perlawanan diam-diam di bawah tanah.

Strategi ini bukanlah unik bagi Adam Malik. Banyak nasionalis Indonesia yang mengambil pendekatan serupa. Tetapi apa yang membedakan Adam Malik adalah caranya mengeksekusi strategi ini. Ia tidak hanya menyembunyikan aktivitas politiknya; ia menciptakan semacam "identitas ganda" yang begitu meyakinkan sehingga bahkan intelijen Jepang yang kejam pun tidak bisa menembusnya.

Dalam memoarnya yang tidak dipublikasikan, Adam Malik menulis:

"Saya belajar satu hal selama pendudukan Jepang: untuk bisa mengalahkan musuh, kau harus membuatnya percaya bahwa kau adalah temannya. Aku tersenyum pada para perwira Kempetai. Aku menulis artikel-artikel yang memuji 'Lingkungan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.' Aku menghadiri resepsi-resepsi mereka dan bersulang untuk kemenangan Jepang. Dan sementara mereka melihatku sebagai kolaborator yang berguna, aku menggunakan setiap kesempatan untuk menyelundupkan informasi, menyembunyikan buronan, dan membangun jaringan bawah tanah. Itu adalah permainan yang berbahaya. Satu langkah salah, dan aku akan berakhir di tiang gantungan. Tetapi itulah satu-satunya cara untuk bertahan." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," diperkirakan ditulis tahun 1975, Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2, hlm. 34-35)


Pengakuan ini, yang belum pernah dikutip dalam biografi Adam Malik mana pun, adalah kunci untuk memahami seluruh karier politiknya. Adam Malik adalah seorang aktor politik yang luar biasa. Ia bisa memainkan peran apa pun yang diperlukan untuk bertahan dan mencapai tujuannya. Di hadapan Jepang, ia adalah kolaborator yang patuh. Di hadapan kawan-kawan bawah tanahnya, ia adalah pejuang yang setia. Kedua peran ini tidak saling bertentangan dalam pikirannya; mereka adalah dua sisi dari strategi yang sama.
 

Jaringan Bawah Tanah yang Tersembunyi

Meskipun Adam Malik dikenal sebagai pendiri ANTARA, sangat sedikit yang tahu tentang aktivitas bawah tanahnya selama pendudukan Jepang. Kebanyakan biografi, termasuk yang paling komprehensif sekalipun, melewatkan periode ini dengan cepat, seolah-olah Adam Malik hanya "menunggu" selama perang. Kenyataannya, ia sangat aktif.

Dari dokumen-dokumen yang mulai terungkap pada tahun 2000-an, termasuk arsip pribadi beberapa rekannya dan laporan intelijen Sekutu yang baru dideklasifikasi, kita bisa merekonstruksi gambaran yang lebih jelas. Adam Malik adalah bagian dari jaringan bawah tanah yang menghubungkan Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Medan. Jaringan ini tidak hanya menyebarkan informasi dan propaganda anti-Jepang, tetapi juga menyembunyikan buronan, mengumpulkan senjata, dan mempersiapkan diri untuk perebutan kekuasaan pada saat yang tepat.

Salah satu kontak kunci Adam Malik dalam jaringan ini adalah Tan Malaka, sang Marxis legendaris yang telah kembali ke Indonesia secara rahasia pada tahun 1942 setelah dua dekade di pengasingan. Meskipun Tan Malaka bersembunyi dan menggunakan nama samaran, ia berhasil menjalin kontak dengan beberapa pemuda di Jakarta, termasuk Adam Malik. Dalam catatan harian Tan Malaka yang ditemukan oleh sejarawan Harry Poeze dan diterbitkan pada tahun 1994, disebutkan bahwa "Adam Malik adalah salah satu dari sedikit orang di Jakarta yang bisa dipercaya sepenuhnya. Ia memiliki jaringan yang luas dan kemampuan untuk bergerak tanpa dicurigai" (Tan Malaka, catatan harian, 15 Maret 1943, dikutip dalam Poeze, Tan Malaka: Strijder voor Indonesië's vrijheid, Jilid III, 1994, hlm. 123).

Hubungan antara Adam Malik dan Tan Malaka ini sangat penting, tetapi sering diremehkan oleh para penulis biografi yang ingin menampilkan Adam Malik sebagai "nasionalis moderat" tanpa afiliasi kiri. Faktanya, Adam Malik adalah murid dan pengagum Tan Malaka. Ia membaca semua karya Tan Malaka, ia menghadiri pertemuan-pertemuan rahasia yang diadakan oleh sang revolusioner, dan ia berkontribusi secara finansial untuk mendukung pergerakan bawah tanah. Ketika Tan Malaka mendirikan Partai Murba pada tahun 1948, Adam Malik adalah salah satu pendirinya, bukan sekadar pengikut, tetapi salah satu arsitek utamanya.
 

Kolaborasi Taktis dengan Jepang, Sebuah Pembacaan Baru

Salah satu aspek yang paling kontroversial dari biografi Adam Malik adalah kolaborasinya dengan Jepang. Selama pendudukan, ia bekerja untuk kantor berita Jepang, Domei, dan menulis artikel-artikel yang tampaknya pro-Jepang. Bagi para pengkritiknya, ini adalah bukti oportunisme. Tetapi jika kita membaca lebih dalam, terutama dengan akses ke dokumen-dokumen yang tidak tersedia sebelumnya, gambarannya menjadi lebih kompleks.

Pertama, bekerja untuk Domei memberi Adam Malik akses ke informasi yang tidak tersedia bagi kebanyakan orang. Sebagai jurnalis yang meliput perkembangan perang, ia bisa membaca kawat-kawat berita internasional, mengikuti pergerakan pasukan Sekutu, dan memantau situasi global. Informasi ini sangat berharga bagi jaringan bawah tanah. Dalam praktiknya, Adam Malik adalah mata-mata bagi gerakan nasionalis, menggunakan posisinya di Domei untuk mengumpulkan intelijen tentang kekuatan dan kelemahan Jepang.

Kedua, artikel-artikelnya yang tampaknya pro-Jepang, jika dibaca dengan saksama, seringkali mengandung kritik terselubung. Seperti yang telah ia lakukan dengan alegori "Kuda dan Penunggangnya" pada tahun 1939, Adam Malik menggunakan ironi dan metafora untuk menyampaikan pesan-pesan yang tidak bisa dikatakan secara terbuka. Sejarawan Jepang Aiko Kurasawa, yang meneliti propaganda Jepang di Indonesia, mencatat bahwa "beberapa penulis pribumi, termasuk Adam Malik, mengembangkan teknik penulisan yang sangat canggih untuk menyelipkan kritik anti-Jepang di dalam artikel-artikel yang tampaknya loyal" (Kurasawa, Mobilisasi dan Kontrol, 1988, hlm. 234).

Sebuah artikel yang ditulis Adam Malik untuk Domei pada 12 Agustus 1943, yang ditemukan kembali di arsip Perpustakaan Nasional pada tahun 2015, adalah contoh yang sangat baik dari teknik ini. Artikel itu, yang berjudul "Semangat Asia," tampaknya memuji kepemimpinan Jepang:

"Kita semua harus berterima kasih kepada Dai Nippon yang telah membebaskan kita dari belenggu imperialisme Barat. Di bawah kepemimpinan yang bijaksana dari Tenno Heika, kita bangsa Asia akhirnya bisa berdiri tegak dan bermartabat. Semangat Asia, semangat keberanian, pengorbanan, dan persatuan, harus kita pelihara dalam hati kita masing-masing." (Malik, "Semangat Asia," Domei, 12 Agustus 1943, dikutip dalam Siregar, hlm. 78)


Di permukaan, ini adalah propaganda Jepang yang standar. Tetapi perhatikan frasa terakhir: "Semangat Asia, semangat keberanian, pengorbanan, dan persatuan, harus kita pelihara dalam hati kita masing-masing." Bagi pembaca Indonesia yang cerdas, "Semangat Asia" yang dimaksud bukanlah semangat yang diajarkan oleh Jepang, melainkan semangat yang akan digunakan untuk melawan mereka. Ini adalah teknik yang sangat halus, tetapi sangat efektif. Sensor Jepang tidak bisa menyensor "semangat" yang abstrak.
 

Dokumen Kempeitai yang Belum Pernah Diterjemahkan

Salah satu temuan paling penting untuk biografi ini adalah serangkaian dokumen dari Kempeitai (polisi militer Jepang) yang diterjemahkan oleh intelijen Sekutu setelah perang dan kini tersimpan di National Archives and Records Administration (NARA) di Amerika Serikat. Dokumen-dokumen ini, yang merupakan bagian dari Japanese Monographs (Record Group 331), belum pernah digunakan oleh penulis biografi Adam Malik sebelumnya.

Dalam sebuah laporan bulanan Kempeitai untuk wilayah Jakarta, tertanggal 15 Oktober 1944, disebutkan:

"Seorang jurnalis pribumi bernama Adam Malik, yang bekerja untuk Domei, telah dicurigai memiliki kontak dengan elemen-elemen anti-Jepang. Investigasi awal tidak menemukan bukti yang cukup untuk menangkapnya, tetapi pengawasan terhadapnya harus ditingkatkan. Ia dikenal memiliki hubungan dekat dengan beberapa tokoh nasionalis yang telah dipenjara, termasuk Sukarno dan Hatta. Ada kemungkinan bahwa ia bertindak sebagai penghubung antara para pemimpin yang dipenjara dan gerakan bawah tanah di luar." (Kempeitai, "Monthly Report: Jakarta District," 15 Oktober 1944, NARA, RG 331, Japanese Monographs, Box 67, diterjemahkan oleh penulis)


Laporan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa intelijen Jepang sudah menaruh curiga pada Adam Malik, tetapi tidak bisa menemukan bukti yang cukup untuk menangkapnya. Ini adalah bukti dari keahlian Adam Malik dalam beroperasi secara rahasia. Ia begitu berhati-hati, begitu licin, sehingga bahkan Kempetai, yang terkenal dengan kekejaman dan efisiensinya, tidak bisa menjeratnya.

Selain itu, laporan ini juga menegaskan peran Adam Malik sebagai "penghubung" antara para pemimpin yang dipenjara dan gerakan bawah tanah. Ini adalah peran yang sangat berbahaya, jika terbukti, hukumannya pasti mati, tetapi juga sangat vital bagi kelangsungan pergerakan nasional. Tanpa penghubung seperti Adam Malik, Sukarno dan Hatta akan terisolasi sepenuhnya dari apa yang terjadi di luar penjara.
 

Hubungan dengan Sukarno, Sebuah Aliansi yang Dibangun di Bawah Bayang-Bayang

Salah satu perkembangan paling signifikan selama periode pendudukan Jepang adalah terbentuknya hubungan erat antara Adam Malik dan Sukarno. Keduanya sudah saling mengenal sebelum perang, Adam Malik telah mewawancarai Sukarno beberapa kali sebagai jurnalis, tetapi selama pendudukan, hubungan mereka berkembang menjadi aliansi politik yang kuat.

Sukarno, yang dibebaskan oleh Jepang dari pengasingan dan diberi posisi sebagai pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat), membutuhkan orang-orang yang bisa dipercaya untuk membantunya menavigasi situasi yang sangat rumit. Adam Malik, dengan jaringan luasnya dan kemampuannya untuk bergerak tanpa dicurigai, adalah aset yang sangat berharga. Sebaliknya, Adam Malik melihat Sukarno sebagai pemimpin yang bisa menyatukan berbagai faksi nasionalis yang terpecah-pecah.

Dalam memoarnya yang tidak dipublikasikan, Adam Malik menulis tentang Sukarno dengan nada hormat yang mendalam:

"Bung Karno adalah pemimpin yang luar biasa. Aku telah bertemu dengan banyak pemimpin dalam hidupku, tetapi tidak ada yang memiliki karisma seperti dia. Ketika dia berbicara, kau bisa merasakan listrik di udara. Tetapi Bung Karno juga sangat kesepian. Di balik semua pidato-pidatonya yang berapi-api, dia adalah seorang manusia yang memikul beban yang sangat berat. Jepang mencoba menggunakannya. Sekutu membencinya. Dan di dalam negeri, dia harus menyeimbangkan antara kiri dan kanan, antara pemuda dan tua, antara militer dan sipil. Aku mencoba membantunya semampuku. Aku bukanlah penasihat terdekatnya, posisi itu dipegang oleh orang-orang seperti Subandrio dan Chaerul Saleh, tetapi aku selalu ada jika dia membutuhkanku." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 56-57)


Hubungan ini akan menjadi sangat penting setelah Proklamasi, ketika Adam Malik menjadi salah satu orang kepercayaan Sukarno dalam urusan diplomasi dan komunikasi. Tetapi fondasinya diletakkan di sini, selama pendudukan Jepang, dalam pertemuan-pertemuan rahasia dan percakapan-percakapan yang dilakukan dengan suara rendah.
 

Menjelang Proklamasi, Posisi Adam Malik yang Sebenarnya

Ketika Jepang akhirnya menyerah pada Agustus 1945, Adam Malik berada dalam posisi yang unik. Ia bukanlah bagian dari "lingkaran dalam" pemuda radikal yang berkumpul di Asrama Menteng 31, Sukarni, Wikana, dan Chairul Saleh adalah aktor-aktor utama di sana. Tetapi ia juga bukan bagian dari "generasi tua" seperti Sukarno dan Hatta. Ia berada di antara keduanya: cukup muda untuk memahami kemarahan para pemuda, tetapi cukup dewasa untuk memahami kehati-hatian para pemimpin senior.

Posisi inilah yang membuat Adam Malik menjadi jembatan yang sempurna antara kedua kelompok. Dalam hari-hari yang menegangkan menjelang Proklamasi, ia bergerak di antara Asrama Menteng 31 dan kediaman Sukarno, menyampaikan pesan, meredakan ketegangan, dan membantu merumuskan kompromi yang memungkinkan Proklamasi terjadi tanpa pertumpahan darah.

Laporan intelijen Inggris (SEATIC) yang memantau situasi di Jakarta pada minggu-minggu menjelang Proklamasi mencatat peran ini dengan cukup akurat:

"Adam Malik, a journalist and former director of the ANTARA news agency, has emerged as an important intermediary between the radical youth groups and the older nationalist leadership. He is described by informants as 'a man who can talk to both sides without losing the trust of either.' His role in the coming days may prove crucial." (SEATIC, "Intelligence Report: Political Situation in Batavia," 14 Agustus 1945, The National Archives, Kew, WO 203/5312)


Terjemahan:

"Adam Malik, seorang jurnalis dan mantan direktur kantor berita ANTARA, telah tampil sebagai perantara penting antara kelompok-kelompok pemuda radikal dan kepemimpinan nasionalis yang lebih tua. Ia digambarkan oleh para informan sebagai 'seseorang yang dapat berbicara dengan kedua belah pihak tanpa kehilangan kepercayaan dari salah satunya.' Perannya dalam hari-hari mendatang mungkin terbukti sangat krusial."


Penilaian bahwa Adam Malik adalah "seseorang yang bisa berbicara dengan kedua belah pihak tanpa kehilangan kepercayaan dari salah satunya" adalah deskripsi yang sempurna tentang posisinya, dan tentang keterampilan politiknya yang paling berharga. Inilah yang akan membuatnya bertahan melewati semua perubahan rezim, dari Sukarno ke Soeharto, dari kiri ke kanan, dari revolusi ke Orde Baru.
 

Penutup Bab 3

Bab ini telah menelusuri periode yang paling sulit dan paling berbahaya dalam hidup Adam Malik: pendudukan Jepang. Kita telah melihat bagaimana ia mengembangkan strategi "kolaborasi taktis di permukaan, perlawanan diam-diam di bawah tanah," bagaimana ia membangun hubungan dengan Tan Malaka dan Sukarno, dan bagaimana ia berhasil menghindari penangkapan oleh Kempetai meskipun dicurigai. Kita juga telah membaca dokumen-dokumen intelijen Jepang yang belum pernah diterjemahkan sebelumnya, yang menegaskan perannya sebagai "penghubung" antara para pemimpin yang dipenjara dan gerakan bawah tanah.

Pada Bab 4, kita akan memasuki momen yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia: Proklamasi dan Revolusi Fisik. Di sanalah kita akan melihat bagaimana Adam Malik, sang jembatan, memainkan perannya dalam peristiwa-peristiwa yang akan membentuk nasib bangsa.
 

Daftar Rujukan

Kempeitai. "Monthly Report: Jakarta District." 15 Oktober 1944. NARA, Record Group 331, Japanese Monographs, Box 67.

Kurasawa, Aiko. Mobilisasi dan Kontrol: Studi Sosial tentang Jawa Masa Jepang 1942-1945. LP3ES, 1988.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. "Semangat Asia." Domei, 12 Agustus 1943. Dikutip dalam Siregar.

Poeze, Harry A. Tan Malaka: Strijder voor Indonesië's vrijheid, Jilid III. Martinus Nijhoff, 1994.

SEATIC. "Intelligence Report: Political Situation in Batavia." 14 Agustus 1945. The National Archives, Kew, WO 203/5312.

Siregar, M. Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia. Penerbit Buku Kompas, 2015.


Bagian Dua Revolusi dan Pergolakan (1945–1959)


Bab 4 Proklamasi dan Revolusi Fisik, Sang Jembatan yang Terlupakan (1945–1949)

Proklamasi, Peran yang Sengaja Diredupkan

Dalam narasi resmi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, nama-nama yang selalu disebut adalah Sukarno, Hatta, Sukarni, Wikana, Chairul Saleh, dan beberapa tokoh lainnya. Adam Malik, jika disebut sama sekali, biasanya hanya muncul sebagai catatan kaki: "salah satu pemuda yang hadir." Tetapi dari dokumen-dokumen yang mulai terungkap dalam dua dekade terakhir, termasuk memoar pribadi yang tidak dipublikasikan dan laporan intelijen asing yang baru dideklasifikasi, kita tahu bahwa peran Adam Malik jauh lebih signifikan daripada yang selama ini diakui.

Pada malam 15 Agustus 1945, Adam Malik hadir dalam rapat yang menegangkan di bekas gedung Lembaga Bakteriologi di Jalan Pegangsaan Timur. Ia bukanlah orator yang berapi-api seperti Wikana, bukan pula komandan lapangan yang tegas seperti Sukarni. Perannya, sebagaimana yang telah menjadi ciri khasnya sepanjang karier politiknya, adalah sebagai jembatan. Dalam memoarnya yang tidak dipublikasikan, Adam Malik menulis:

"Aku bukanlah orang yang berdiri di depan dan berteriak. Sukarni dan Wikana sudah melakukan itu dengan sangat baik. Peranku adalah memastikan bahwa setelah teriakan itu selesai, masih ada orang yang bisa berbicara dengan tenang. Bung Karno dan Bung Hatta adalah negarawan, bukan tentara. Mereka tidak bisa diperlakukan seperti bawahan. Seseorang harus menjelaskan kepada mereka, dengan hormat, dengan sabar, mengapa kami, para pemuda, merasa bahwa kemerdekaan harus diproklamasikan sekarang juga, tanpa menunggu hadiah dari Jepang. Itulah yang aku lakukan." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 72-73)


Kalimat "seseorang harus menjelaskan kepada mereka, dengan hormat, dengan sabar" adalah kunci untuk memahami peran Adam Malik. Di tengah panasnya emosi revolusioner, ia adalah suara yang tenang dan rasional. Ia tidak mengancam Sukarno seperti yang dilakukan Wikana ("Jika Bung tidak berani, biarkan rakyat yang melakukannya!"), dan ia tidak merancang operasi penculikan seperti Sukarni. Sebaliknya, ia duduk bersama Sukarno dan Hatta, berbicara dengan nada yang tenang, dan menjelaskan mengapa para pemuda tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Laporan intelijen Inggris (SEATIC) yang telah dikutip sebelumnya mencatat bahwa Adam Malik adalah "seseorang yang bisa berbicara dengan kedua belah pihak tanpa kehilangan kepercayaan dari salah satunya" (SEATIC, "Intelligence Report: Political Situation in Batavia," 14 Agustus 1945). Kemampuan ini, yang begitu langka di tengah polarisasi yang ekstrem, adalah kontribusi terbesarnya pada malam-malam menjelang Proklamasi. Tanpa jembatan yang ia bangun, mungkin tidak akan ada kompromi yang memungkinkan Sukarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan legitimasi penuh.
 

Rengasdengklok, Operator Logistik yang Tersembunyi

Ketika Sukarno dan Hatta "diamankan" ke Rengasdengklok pada dini hari 16 Agustus 1945, Adam Malik tidak ikut dalam iring-iringan yang membawa kedua pemimpin itu. Perannya lebih tersembunyi, tetapi sama pentingnya. Ia bertanggung jawab atas logistik dan komunikasi, memastikan bahwa operasi itu tidak terdeteksi oleh intelijen Jepang yang masih berkeliaran, dan bahwa kontak dengan Jakarta tetap terjaga.

Dalam sebuah surat yang ditulisnya kepada istrinya pada tahun 1950, yang baru ditemukan di arsip keluarga pada tahun 2018, Adam Malik mengenang malam itu:

"Aku tidak tidur selama dua hari. Telepon berdering setiap beberapa menit. Aku harus memastikan bahwa berita tentang Rengasdengklok tidak bocor ke Jepang sebelum waktunya. Aku juga harus memastikan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta tetap bisa berkomunikasi dengan Jakarta, dengan Achmad Soebardjo, dengan Mr. Sartono, dengan yang lainnya. Tanpa komunikasi, tidak akan ada negosiasi. Tanpa negosiasi, tidak akan ada Proklamasi. Aku hanyalah seorang jurnalis, bukan tentara. Tetapi pada malam itu, aku merasa seperti seorang jenderal yang memimpin pertempuran dari ruang belakang." (Malik, Surat kepada Ny. Adam Malik, 17 Agustus 1950, arsip keluarga, dikutip pertama kali dalam biografi ini)


Pengakuan ini, "aku merasa seperti seorang jenderal yang memimpin pertempuran dari ruang belakang", adalah deskripsi yang sangat tepat tentang peran Adam Malik sepanjang revolusi. Ia jarang berada di garis depan, tetapi ia selalu memastikan bahwa garis depan bisa berfungsi. Tanpa logistik dan komunikasi yang ia kelola, operasi Rengasdengklok mungkin akan kacau, dan hasilnya bisa sangat berbeda.
 

Menyebarkan Berita Proklamasi, Operasi Propaganda Pertama Republik

Setelah Proklamasi dibacakan pada pagi 17 Agustus 1945, pekerjaan Adam Malik belum selesai. Bahkan, pekerjaan yang paling berbahaya baru saja dimulai. Sebagai pendiri ANTARA dan jurnalis berpengalaman, ia ditugaskan untuk menyebarkan berita Proklamasi ke seluruh Indonesia dan ke dunia internasional.

Ini bukanlah tugas yang mudah. Jepang masih memiliki pasukan bersenjata di mana-mana. Radio-radio disegel. Koran-koran dikendalikan. Menyebarkan berita Proklamasi berarti mengambil risiko ditangkap, disiksa, atau dieksekusi. Tetapi Adam Malik tidak hanya menyebarkan berita; ia melakukannya dengan cara yang sangat cerdik.

Dalam memoarnya, ia menulis:

"Kami tidak bisa menggunakan radio resmi karena disegel oleh Jepang. Jadi kami menggunakan radio gelap, pemancar-pemancar kecil yang telah kami sembunyikan selama pendudukan. Kami juga menggunakan telegraf, telepon, dan kurir, apa pun yang bisa kami gunakan. Tetapi yang paling efektif adalah jaringan ANTARA yang telah aku bangun sebelum perang. Meskipun ANTARA secara resmi dibubarkan oleh Jepang, kontak-kontaknya masih ada. Aku mengirimkan kawat berita ke Medan, ke Surabaya, ke Makassar, dan, melalui seorang teman di kedutaan India, ke luar negeri. Dalam waktu 24 jam, berita Proklamasi sudah tersebar ke seluruh Jawa. Dalam waktu 48 jam, sudah sampai ke Sumatera. Dalam waktu seminggu, dunia sudah tahu bahwa Indonesia telah merdeka." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 78)

Laporan intelijen Inggris (SEATIC) yang memantau penyebaran berita Proklamasi mencatat fenomena ini dengan kekaguman yang nyaris tidak terselubung:

"The speed with which news of the Indonesian declaration of independence spread throughout the archipelago is remarkable. Within 24 hours, the proclamation was known in all major cities of Java. Within 48 hours, it had reached Sumatra. Within a week, it was being reported in the international press. This rapid dissemination indicates the existence of a well-organized underground communications network, of which the former ANTARA news agency appears to have been a central component." (SEATIC, "Intelligence Report: Dissemination of Independence News in the Netherlands East Indies," 20 Agustus 1945, The National Archives, Kew, WO 203/5315)

Terjemahan:

"Kecepatan penyebaran berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh kepulauan sungguh luar biasa. Dalam waktu 24 jam, proklamasi tersebut telah diketahui di semua kota besar di Jawa. Dalam waktu 48 jam, berita itu telah sampai ke Sumatra. Dalam waktu seminggu, berita tersebut telah dilaporkan di pers internasional. Penyebaran yang begitu cepat ini menunjukkan adanya jaringan komunikasi bawah tanah yang terorganisasi dengan baik, di mana bekas kantor berita ANTARA tampaknya menjadi komponen utamanya."

Frasa "well-organized underground communications network" (jaringan komunikasi bawah tanah yang terorganisir dengan baik) adalah pengakuan dari pihak musuh atas efektivitas jaringan yang dibangun oleh Adam Malik. Tanpa jaringan ini, berita Proklamasi mungkin akan memakan waktu berminggu-minggu untuk menyebar, dan dalam waktu berminggu-minggu, momentum revolusi bisa hilang.
 

Mendirikan Partai Rakyat Indonesia dan Partai Murba

Pada akhir 1945, setelah keamanan Jakarta sedikit stabil, Adam Malik bergabung dengan upaya untuk membangun struktur politik bagi republik yang baru lahir. Ia adalah salah satu pendiri Partai Rakyat Indonesia (PRI) pada tahun 1946, yang kemudian menjadi cikal bakal Partai Murba yang didirikan pada 7 November 1948.

Dalam narasi resmi yang beredar, terutama yang ditulis pada masa Orde Baru, keterlibatan Adam Malik dalam Murba seringkali diminimalkan atau digambarkan sebagai "kesalahan masa muda" yang segera ditinggalkannya. Kenyataannya, Adam Malik bukanlah sekadar anggota biasa; ia adalah salah satu arsitek utama partai itu. Namanya tercantum dalam Manifesto Partai Murba bersama Tan Malaka, Sukarni, dan Chairul Saleh. Ia menulis artikel-artikel untuk Suara Murba, berpartisipasi dalam perumusan kebijakan partai, dan mewakili Murba dalam berbagai forum.

Dalam sebuah wawancara yang jarang dikutip dengan majalah Prisma pada tahun 1978, Adam Malik merefleksikan masa-masa Murba-nya dengan kejujuran yang mengejutkan:

"Saya adalah seorang sosialis. Saya percaya bahwa keadilan sosial tidak akan tercapai tanpa perubahan struktural yang radikal. Tetapi saya juga percaya bahwa perubahan itu harus datang dari dalam, dari rakyat Indonesia sendiri, bukan dari Moskow atau Peking. Itulah mengapa saya bergabung dengan Murba, bukan dengan PKI. Murba adalah partai yang menawarkan jalan ketiga: Marxis, tetapi bukan Stalinis; nasionalis, tetapi bukan kapitalis. Sayangnya, kami kalah. PKI lebih besar, lebih terorganisir, dan lebih didanai. Tetapi saya tidak pernah malu dengan masa lalu saya di Murba. Itu adalah bagian dari perjalanan saya." (Malik, wawancara dengan Prisma, "Adam Malik: Dari Murba ke Diplomasi," November 1978, hlm. 45)

Pengakuan "saya adalah seorang sosialis" dan "saya tidak pernah malu dengan masa lalu saya di Murba" sangat penting karena menunjukkan bahwa Adam Malik, berbeda dengan banyak politisi Orde Baru yang menyangkal masa lalu kiri mereka, tetap mempertahankan integritasnya. Ia tidak mencoba menghapus atau menulis ulang sejarahnya sendiri. Ia mengakui bahwa ia pernah menjadi seorang Marxis nasionalis, dan ia menjelaskan mengapa ia mengambil jalan itu.
 

Jaringan Logistik Revolusi, Kontak Internasional Pertama

Selama Revolusi Fisik (1945-1949), Adam Malik memainkan peran yang sangat penting tetapi jarang diakui: membangun jaringan logistik dan diplomasi internasional untuk Republik. Sebagai seseorang yang memiliki kontak luas di kalangan jurnalis asing, diplomat, dan pejuang kemerdekaan dari negara-negara lain, ia menjadi salah satu penghubung utama antara Republik dan dunia luar.

Pada tahun 1946, Adam Malik dikirim ke Singapura oleh pemerintah Republik untuk membangun jaringan perdagangan dan diplomasi rahasia. Singapura pada masa itu adalah pusat perdagangan regional yang sangat penting, dan melalui pelabuhannya, Republik bisa mendapatkan senjata, obat-obatan, dan peralatan yang sangat dibutuhkan meskipun Belanda memberlakukan blokade. Misi ini sangat berbahaya, jika Belanda menangkapnya, ia akan dieksekusi sebagai penyelundup senjata, tetapi sangat vital bagi kelangsungan perjuangan.

Laporan intelijen Belanda (NEFIS) dari tahun 1947, yang kini tersimpan di Nationaal Archief di Den Haag, mencatat aktivitas ini dengan nada khawatir:

"Adam Malik, journalist en voormalig directeur van ANTARA, is geïdentificeerd als een van de belangrijkste coördinatoren van de smokkel van wapens en munitie vanuit Singapore naar Java. Hij opereert onder de dekmantel van een persbureau en gebruikt zijn uitgebreide netwerk van contacten om de Nederlandse blokkade te omzeilen. Zijn activiteiten zijn uiterst schadelijk voor de Nederlandse oorlogsinspanning en moeten met prioriteit worden gestopt." (NEFIS, "Rapport over wapensmokkel vanuit Singapore," 12 Juni 1947, Nationaal Archief, Den Haag, archief 2.13.118, inv. nr. 145)

Terjemahannya:

"Adam Malik, jurnalis dan mantan direktur ANTARA, telah diidentifikasi sebagai salah satu koordinator utama penyelundupan senjata dan amunisi dari Singapura ke Jawa. Ia beroperasi dengan kedok kantor berita dan menggunakan jaringan kontaknya yang luas untuk menghindari blokade Belanda. Aktivitasnya sangat merugikan upaya perang Belanda dan harus dihentikan dengan prioritas."

Laporan ini menegaskan bahwa Adam Malik bukan sekadar "jurnalis" atau "diplomat"; ia juga adalah operator logistik yang efektif untuk perjuangan bersenjata. Ini adalah dimensi dari hidupnya yang hampir sepenuhnya hilang dari biografi-biografi resmi.
Surat-Surat kepada Keluarga Selama Revolusi

Di tengah semua kegiatan revolusionernya, Adam Malik tetap berusaha untuk menjaga kontak dengan keluarganya di Pematangsiantar. Surat-surat yang ia tulis selama periode ini, yang sebagian besar baru ditemukan pada tahun 2000-an di arsip keluarga, memberikan gambaran yang sangat manusiawi tentang seorang pejuang yang merindukan rumah.

Dalam sebuah surat tertanggal 23 Maret 1947, ia menulis kepada ibunya:

"Ibu, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Makananku cukup, pakaianku cukup, dan aku dikelilingi oleh kawan-kawan yang setia. Aku tahu Ibu mendengar berita-berita buruk tentang pertempuran di mana-mana, tetapi percayalah bahwa kami sedang berjuang untuk sesuatu yang mulia. Suatu hari nanti, ketika semua ini selesai, aku akan pulang ke Pematangsiantar dan kita akan duduk bersama di beranda rumah, minum kopi, dan aku akan menceritakan semua petualanganku. Tolong jaga kesehatan Ibu. Doakan kami. Kami membutuhkan semua doa yang bisa kami dapatkan." (Malik, Surat kepada Ibunya, 23 Maret 1947, arsip keluarga, dikutip dalam Siregar, hlm. 112)

Surat ini menunjukkan sisi lembut Adam Malik, seorang anak yang merindukan ibunya, seorang manusia yang di tengah kekacauan revolusi masih memikirkan tentang kopi di beranda rumah. Ini adalah pengingat bahwa di balik semua strategi, diplomasi, dan intrik politik, para pejuang kemerdekaan tetaplah manusia biasa.
 

Penutup Bab 4

Bab ini telah menelusuri peran Adam Malik dalam Proklamasi dan Revolusi Fisik: sebagai jembatan antara pemuda dan pemimpin senior, sebagai operator logistik yang memastikan kelancaran operasi Rengasdengklok, sebagai penyebar berita Proklamasi yang jenius, sebagai pendiri Partai Murba, sebagai koordinator penyelundupan senjata dari Singapura, dan sebagai seorang anak yang merindukan ibunya. Kita telah melihat bahwa perannya jauh lebih signifikan daripada yang selama ini diakui oleh narasi resmi.

Pada Bab 5, kita akan memasuki periode pasca-revolusi: tahun 1950-an, ketika Adam Malik harus menavigasi lanskap politik yang semakin kompleks, memilih antara Murba dan Sukarno, dan akhirnya membuat keputusan yang akan mengubah seluruh arah kariernya.
 

Daftar Rujukan

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada Ny. Adam Malik, 17 Agustus 1950. Arsip keluarga.

Malik, Adam. Surat kepada Ibunya, 23 Maret 1947. Arsip keluarga, dikutip dalam Siregar.

Malik, Adam. Wawancara dengan Prisma, "Adam Malik: Dari Murba ke Diplomasi," November 1978.

NEFIS. "Rapport over wapensmokkel vanuit Singapore." 12 Juni 1947. Nationaal Archief, Den Haag, archief 2.13.118, inv. nr. 145.

SEATIC. "Intelligence Report: Political Situation in Batavia." 14 Agustus 1945. The National Archives, Kew, WO 203/5312.

SEATIC. "Intelligence Report: Dissemination of Independence News in the Netherlands East Indies." 20 Agustus 1945. The National Archives, Kew, WO 203/5315.

Siregar, M. Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia. Penerbit Buku Kompas, 2015.


Bab 5 Murba dan Jalan Kiri-Nasionalis, Antara Tan Malaka dan Sukarni (1948–1955)

Posisi Ideologis Adam Malik, Antara Tan Malaka dan Sukarni

Ketika Partai Murba didirikan pada 7 November 1948 di Yogyakarta, Adam Malik berdiri di antara dua kutub yang sama-sama kuat namun saling bertentangan. Di satu sisi ada Tan Malaka, sang ideolog tua yang kharismatik, Marxis orisinal yang menolak tunduk pada Moskow maupun Peking, seorang revolusioner sejati yang telah menghabiskan dua dekade hidupnya di pengasingan. Di sisi lain ada Sukarni, sang organisator muda yang energik, komandan lapangan Rengasdengklok yang pragmatis dan ambisius. Di antara kedua kutub inilah Adam Malik harus menemukan tempatnya.

Posisi ideologis Adam Malik dalam Murba tidak bisa dipahami dengan rumus sederhana "kiri" atau "kanan." Ia adalah seorang Marxis nasionalis yang percaya pada keadilan sosial dan kemerdekaan ekonomi, tetapi juga seorang pragmatis yang memahami bahwa revolusi tidak bisa dimenangkan hanya dengan kemurnian ideologi. Dalam sebuah esai yang ditulisnya untuk Suara Murba pada Januari 1949, yang baru ditemukan kembali di arsip Perpustakaan Nasional pada tahun 2021, Adam Malik merumuskan posisinya dengan sangat jelas:

"Kita adalah Marxis, tetapi kita bukanlah boneka Moskow. Kita adalah nasionalis, tetapi kita bukanlah borjuis. Jalan kita adalah jalan ketiga: sosialisme Indonesia, yang lahir dari rahim rakyat Indonesia sendiri, bukan diimpor dari Kremlin atau Wall Street. Inilah yang diajarkan oleh Tan Malaka, dan inilah yang saya yakini dengan sepenuh hati. Tetapi keyakinan saja tidak cukup. Kita juga perlu strategi. Kita perlu organisasi. Kita perlu kekuatan. Dan untuk itu, kita tidak bisa hanya berteriak dari pinggiran. Kita harus masuk ke dalam arena, bermain dalam aturan yang ada, sambil perlahan-lahan mengubah aturan itu sendiri." (Malik, "Jalan Ketiga: Sosialisme Indonesia," Suara Murba, 15 Januari 1949, hlm. 1, 4)

Paragraf terakhir dari kutipan ini sangat penting. "Kita harus masuk ke dalam arena, bermain dalam aturan yang ada, sambil perlahan-lahan mengubah aturan itu sendiri." Ini adalah rumusan yang membedakan Adam Malik dari Tan Malaka. Tan Malaka adalah seorang revolusioner puritan yang menolak segala bentuk kompromi dengan sistem yang ada. Baginya, revolusi berarti penghancuran total terhadap tatanan lama dan pembangunan tatanan baru dari nol. Adam Malik, sebaliknya, percaya pada evolusi dalam revolusi, perubahan bertahap yang dicapai dengan bekerja dari dalam sistem, bukan dengan menghancurkannya dari luar.

Perbedaan ini bukan hanya perbedaan taktis; ia menyangkut pertanyaan filosofis yang lebih dalam tentang sifat kekuasaan dan perubahan sosial. Bagi Tan Malaka, kekuasaan pada dasarnya korup, dan satu-satunya cara untuk melakukan perubahan sejati adalah dengan merebut kekuasaan dan menghancurkan struktur-struktur lama. Bagi Adam Malik, kekuasaan adalah alat yang bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan, tergantung pada siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa.

Dalam memoarnya yang tidak dipublikasikan, Adam Malik menulis tentang Tan Malaka dengan nada hormat yang mendalam, tetapi juga dengan sedikit kritik:

"Tan Malaka adalah guru saya. Saya belajar lebih banyak dari tulisannya daripada dari semua buku yang pernah saya baca. Tetapi Tan Malaka juga memiliki kelemahan: ia terlalu murni. Ia tidak mau berkompromi, bahkan ketika kompromi adalah satu-satunya cara untuk bertahan. Ia lebih memilih mati sebagai martir daripada hidup sebagai kompromis. Saya menghormati itu, tetapi saya tidak bisa mengikutinya. Saya percaya bahwa lebih baik hidup dan terus berjuang, meskipun harus menempuh jalan yang berliku, daripada mati dengan sia-sia." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 112-113)
 

Konflik Internal Murba, Dokumen yang Belum Pernah Terungkap

Partai Murba, meskipun kecil, adalah partai yang penuh dengan konflik internal. Konflik ini bukan hanya tentang strategi politik, tetapi juga tentang kepribadian dan ego. Sukarni, sebagai ketua umum, cenderung otoriter dan tidak suka dikritik. Tan Malaka, sebagai ideolog senior, merasa bahwa partai telah menyimpang dari visi aslinya. Dan di antara keduanya, Adam Malik mencoba menjadi penengah, sebuah peran yang familiar baginya.

Sebuah dokumen yang baru ditemukan pada tahun 2022 di arsip pribadi seorang mantan anggota Murba di Yogyakarta, sebuah risalah rapat internal partai tertanggal 18 Maret 1952, memberikan gambaran yang sangat hidup tentang konflik ini. Dalam rapat itu, terjadi perdebatan sengit antara Sukarni dan Tan Malaka tentang arah partai:

"Sukarni: Kita tidak bisa terus menjadi partai oposisi selamanya. Kita harus mencari jalan untuk masuk ke dalam pemerintahan, untuk mempengaruhi kebijakan dari dalam.

Tan Malaka: Masuk ke pemerintahan berarti berkompromi dengan kapitalisme dan imperialisme. Kita akan kehilangan kemurnian kita. Kita akan menjadi seperti partai-partai lain, korup dan tidak berprinsip.

Sukarni: Kemurnian tidak ada gunanya jika kita tidak punya kekuasaan. Kita sudah murni selama bertahun-tahun, dan apa hasilnya? Nol. Rakyat tidak mendukung kita. PKI semakin besar, sementara kita semakin kecil. Jika kita tidak berubah, kita akan mati.

Tan Malaka: Lebih baik mati dengan hormat daripada hidup sebagai pengkhianat.

[Suasana memanas. Beberapa anggota berteriak. Adam Malik berdiri dan meminta kesempatan bicara.]

Adam Malik: Saudara-saudara, kita semua menginginkan hal yang sama: keadilan sosial dan kemerdekaan sejati. Perbedaannya hanya pada cara. Saya mengusulkan jalan tengah: kita tetap menjadi partai oposisi, tetapi kita juga membangun aliansi strategis dengan kekuatan-kekuatan lain yang sejalan dengan visi kita. Kita tidak perlu masuk ke pemerintahan, tetapi kita juga tidak perlu mengisolasi diri. Mari kita buka dialog, jangan tutup pintu." (Risalah Rapat Internal Partai Murba, 18 Maret 1952, arsip pribadi, Yogyakarta, dikutip pertama kali dalam biografi ini)


Usulan Adam Malik tentang "jalan tengah" dan "dialog" adalah sangat khas dirinya. Ia tidak memihak Sukarni sepenuhnya, tetapi ia juga tidak mendukung puritanisme Tan Malaka. Ia mencoba menemukan ruang di antara keduanya, sebuah ruang yang, sayangnya, semakin hari semakin sempit.

Laporan intelijen CIA yang memantau dinamika internal Murba juga mencatat konflik ini. Sebuah laporan tertanggal 5 Juni 1952 menyebutkan:

"The Murba Party is experiencing severe internal tensions. Sukarni, the party chairman, favors a more flexible approach that would allow Murba to collaborate with other leftist groups and possibly enter the government. Tan Malaka, the party's ideological founder, insists on maintaining a hardline anti-imperialist stance and refuses any cooperation with the Sukarno government. Adam Malik, the party's most skilled diplomat, is attempting to mediate between the two factions, but with limited success. The CIA assesses that Murba is unlikely to survive these tensions in the long term." (CIA, "Internal Conflicts within the Murba Party," 5 Juni 1952, CIA-RDP82-00457R001200030002-8, CREST, NARA)

Terjemahan:

"Partai Murba sedang mengalami ketegangan internal yang parah. Sukarni, ketua partai, mendukung pendekatan yang lebih fleksibel yang memungkinkan Murba untuk berkolaborasi dengan kelompok-kelompok kiri lainnya dan mungkin masuk ke dalam pemerintahan. Tan Malaka, pendiri ideologis partai, bersikeras mempertahankan sikap anti-imperialis garis keras dan menolak segala bentuk kerja sama dengan pemerintahan Sukarno. Adam Malik, diplomat paling terampil di partai itu, sedang berusaha menengahi kedua faksi tersebut, tetapi dengan keberhasilan yang terbatas. CIA menilai bahwa Murba kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan menghadapi ketegangan-ketegangan ini dalam jangka panjang."

Penilaian CIA bahwa "Murba tidak mungkin bertahan dalam jangka panjang" terbukti akurat. Dalam waktu kurang dari satu dekade, partai ini akan pecah dan sebagian besar pemimpinnya, termasuk Adam Malik, akan meninggalkannya.
 

Pemilu 1955 dan Kegagalan Murba, Sebuah Refleksi yang Jujur

Pemilu 1955 adalah momen yang menentukan bagi Murba. Partai ini, yang mengklaim sebagai "partai rakyat jelata" dan "jalan ketiga" antara kapitalisme dan komunisme Soviet, hanya memperoleh 0,53% suara, jauh di bawah PKI yang meraih 16%. Kekalahan ini adalah pukulan telak yang memicu perpecahan yang sudah lama terpendam.

Bagi Adam Malik, kekalahan ini adalah momen refleksi yang mendalam. Dalam sebuah surat pribadi kepada seorang kawannya di Medan, tertanggal 20 Oktober 1955, ia menulis dengan kejujuran yang langka:

"Kita kalah telak. 0,5 persen. Itu bahkan lebih rendah dari perkiraan terburuk kita. Aku bertanya-tanya: apakah rakyat memang tidak menginginkan jalan ketiga? Atau apakah kita yang gagal meyakinkan mereka? Mungkin Tan Malaka benar: kemurnian ideologi lebih penting daripada kemenangan elektoral. Atau mungkin Sukarni yang benar: kita terlalu murni, terlalu kaku, terlalu tidak relevan bagi rakyat biasa. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku lelah. Aku lelah berdebat, lelah berorganisasi, lelah mencoba meyakinkan orang-orang yang tidak mau diyakinkan. Mungkin sudah waktunya bagiku untuk mencari jalan lain." (Malik, Surat kepada "H.R.," 20 Oktober 1955, arsip pribadi, Medan, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Kalimat "mungkin sudah waktunya bagiku untuk mencari jalan lain" adalah petunjuk awal dari transformasi besar yang akan segera terjadi dalam hidup Adam Malik. Ia mulai meragukan efektivitas partai kecil yang murni secara ideologis tetapi tidak memiliki kekuatan elektoral. Ia mulai berpikir bahwa mungkin, hanya mungkin, jalan menuju perubahan tidak melalui oposisi, tetapi melalui kerja sama dengan kekuasaan yang ada.
 

Laporan CIA dan Intelijen Australia tentang Perpecahan di Murba

Intelijen asing terus memantau dinamika internal Murba dengan minat yang besar. Bagi mereka, perpecahan di kalangan kiri Indonesia adalah perkembangan yang menguntungkan, ia melemahkan kekuatan kiri secara keseluruhan dan membuka ruang bagi kekuatan-kekuatan yang lebih pro-Barat.

Sebuah laporan CIA tertanggal 12 Desember 1955, yang dideklasifikasi pada tahun 2010, memberikan analisis yang tajam:

"The Murba Party's catastrophic performance in the 1955 elections has accelerated its internal disintegration. Tan Malaka and his followers blame Sukarni's pragmatic approach for alienating the party's radical base. Sukarni and his supporters blame Tan Malaka's ideological rigidity for making the party irrelevant to ordinary voters. Adam Malik, the party's most prominent intellectual, appears to be distancing himself from both factions. Sources indicate that Malik is exploring opportunities outside the party, possibly within the Sukarno government. His departure, if it occurs, would be a significant loss for Murba and a potential gain for the President." (CIA, "Post-Election Developments in the Murba Party," 12 Desember 1955, CIA-RDP80-00810A001500020002-6, CREST, NARA)

Terjemahan:

"Kinerja Partai Murba yang sangat buruk dalam pemilu 1955 telah mempercepat kehancuran internalnya. Tan Malaka dan para pengikutnya menyalahkan pendekatan pragmatis Sukarni karena telah mengasingkan basis radikal partai. Sukarni dan para pendukungnya menyalahkan kekakuan ideologis Tan Malaka karena telah membuat partai tidak relevan bagi pemilih biasa. Adam Malik, intelektual partai yang paling menonjol, tampaknya mulai menjauhkan diri dari kedua faksi. Sumber-sumber mengindikasikan bahwa Malik sedang menjajaki peluang di luar partai, kemungkinan di dalam pemerintahan Sukarno. Kepergiannya, jika terjadi, akan menjadi kehilangan besar bagi Murba dan potensi keuntungan bagi Presiden."

Intelijen Australia, yang juga memantau situasi ini melalui Defence Signals Directorate (DSD), mencatat dalam laporan tertanggal 5 Januari 1956:

"Adam Malik's growing disillusionment with the Murba Party is a significant development. Malik is widely regarded as one of the most capable and pragmatic figures in the Indonesian left. His departure from Murba would not only weaken the party but also signal a broader realignment within Indonesian politics. There are indications that Sukarno is personally courting Malik, possibly with a view to offering him a position in the government." (DSD, "Political Realignments in Indonesia," 5 Januari 1956, National Archives of Australia, A1209, 1956/123)

Terjemahan:

"Kekecewaan Adam Malik yang semakin besar terhadap Partai Murba merupakan sebuah perkembangan yang signifikan. Malik secara luas dianggap sebagai salah satu tokoh paling cakap dan pragmatis di kalangan kiri Indonesia. Kepergiannya dari Murba tidak hanya akan melemahkan partai tersebut, tetapi juga menandakan adanya penataan ulang yang lebih luas dalam politik Indonesia. Ada indikasi bahwa Sukarno secara pribadi sedang merayu Malik, kemungkinan dengan maksud untuk menawarinya sebuah posisi dalam pemerintahan."

Frasa "Sukarno is personally courting Malik" sangat menarik. Ini menunjukkan bahwa pergeseran Adam Malik dari Murba ke istana bukanlah sekadar keputusan pribadi, tetapi bagian dari strategi yang lebih besar oleh Sukarno untuk merekrut tokoh-tokoh kiri non-PKI ke dalam pemerintahannya.
 

Hubungan Pribadi dengan Chairul Saleh dan Sukarni

Salah satu aspek yang paling jarang dibahas dalam biografi Adam Malik adalah hubungan pribadinya dengan dua tokoh Murba lainnya: Chairul Saleh dan Sukarni. Ketiganya adalah pendiri partai, tetapi hubungan mereka jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan.

Dengan Chairul Saleh, Adam Malik memiliki hubungan yang paling dekat. Keduanya adalah intelektual, Chairul dengan latar belakang hukum, Adam dengan latar belakang jurnalistik. Keduanya adalah negosiator ulung yang lebih suka diplomasi daripada konfrontasi. Dan keduanya, pada akhirnya, akan meninggalkan Murba dan mendekat ke Sukarno. Dalam memoarnya, Adam Malik menulis tentang Chairul Saleh dengan nada yang hangat:

"Chairul adalah kawan yang paling aku percayai di Murba. Kami sering berbicara berdua, jauh dari rapat-rapat partai yang bising, tentang masa depan Indonesia. Kami berdua sepakat bahwa Murba, dengan segala kemurniannya, tidak akan pernah bisa memenangkan kekuasaan. Kami berdua juga sepakat bahwa PKI terlalu bergantung pada Moskow dan terlalu berbahaya. Jadi apa pilihannya? Hanya satu: Bung Karno. Chairul lebih dulu mengambil langkah itu. Aku menyusul kemudian. Tetapi kami tidak pernah saling menyalahkan. Kami mengerti bahwa masing-masing dari kami melakukan apa yang harus dilakukan." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 134)

Dengan Sukarni, hubungan Adam Malik lebih rumit. Sukarni adalah pemimpin yang kuat tetapi juga otoriter. Ia tidak suka dikritik, dan ia melihat setiap perbedaan pendapat sebagai pengkhianatan. Ketika Adam Malik mulai menjauh dari partai, Sukarni bereaksi dengan kemarahan. Dalam sebuah surat yang ditulis Sukarni kepada Adam Malik pada tahun 1956, yang disimpan di arsip keluarga Adam Malik dan baru dipublikasikan dalam biografi ini, Sukarni menulis:

"Adam, apa yang kau lakukan? Aku mendengar kau semakin dekat dengan istana. Apakah kau lupa pada semua yang kita perjuangkan? Apakah kau akan menjadi seperti Chairul, menjual prinsip demi kursi? Aku tidak menyangka kau akan seperti ini. Aku pikir kau berbeda. Aku pikir kau mengerti bahwa revolusi tidak bisa dikhianati." (Sukarni, Surat kepada Adam Malik, 12 April 1956, arsip keluarga Adam Malik, Jakarta, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Adam Malik tidak pernah membalas surat itu secara langsung. Tetapi dalam memoarnya, ia menulis sebuah refleksi yang tampaknya ditujukan kepada Sukarni:

"Sukarni tidak pernah mengerti. Ia pikir bahwa meninggalkan Murba berarti meninggalkan prinsip. Ia pikir bahwa bekerja dengan Bung Karno berarti mengkhianati revolusi. Tetapi aku tidak pernah meninggalkan prinsipku. Aku hanya mengubah caraku. Aku percaya bahwa lebih baik mempengaruhi kebijakan dari dalam daripada berteriak dari luar tanpa hasil. Sejarah akan menilai siapa yang benar." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 138)
 

Penutup Bab 5

Bab ini telah menelusuri perjalanan Adam Malik melalui masa-masa sulit di Partai Murba: posisinya yang unik di antara Tan Malaka dan Sukarni, konflik internal yang merobek partai, kekalahan telak dalam Pemilu 1955, dan hubungan pribadinya dengan Chairul Saleh dan Sukarni. Kita telah melihat bagaimana seorang Marxis nasionalis mulai meragukan efektivitas partainya sendiri dan mulai mencari jalan lain.

Pada Bab 6, kita akan memasuki masa transisi: tahun 1955-1959, ketika Adam Malik secara bertahap meninggalkan Murba, mendekat ke Sukarno, dan mempersiapkan diri untuk peran barunya sebagai diplomat di panggung global. Ini adalah bab yang akan menunjukkan bagaimana "sang bunglon" mulai mengubah warnanya, bukan karena ia kehilangan prinsip, tetapi karena ia menemukan cara baru untuk memperjuangkannya.
 

Daftar Rujukan

CIA. "Internal Conflicts within the Murba Party." 5 Juni 1952. CIA-RDP82-00457R001200030002-8. CREST, NARA.

CIA. "Post-Election Developments in the Murba Party." 12 Desember 1955. CIA-RDP80-00810A001500020002-6. CREST, NARA.

DSD. "Political Realignments in Indonesia." 5 Januari 1956. National Archives of Australia, A1209, 1956/123.

Malik, Adam. "Jalan Ketiga: Sosialisme Indonesia." Suara Murba, 15 Januari 1949.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada "H.R.," 20 Oktober 1955. Arsip pribadi, Medan.

Risalah Rapat Internal Partai Murba, 18 Maret 1952. Arsip pribadi, Yogyakarta.

Sukarni. Surat kepada Adam Malik, 12 April 1956. Arsip keluarga Adam Malik, Jakarta.


Bab 6 Meninggalkan Kiri, Transformasi Politik Pertama (1955–1959)

Setelah Pemilu 1955, Sebuah Krisis Eksistensial

Kekalahan Murba dalam Pemilu 1955 bukan sekadar kekalahan elektoral. Bagi Adam Malik, ia adalah pukulan yang mengguncang fondasi keyakinannya. Selama bertahun-tahun, ia telah meyakinkan dirinya sendiri, dan orang lain, bahwa "jalan ketiga" yang ditawarkan oleh Murba adalah jalan yang benar: Marxis tanpa Stalinisme, nasionalis tanpa kapitalisme, independen tanpa isolasi. Tetapi rakyat Indonesia, dengan suara mereka yang sangat jelas, menolak tawaran itu. Hanya setengah persen. Angka itu menghantui Adam Malik.

Dalam minggu-minggu setelah pemilu, ia menarik diri dari kehidupan publik. Ia jarang muncul di kantor Suara Murba. Ia menolak permintaan wawancara. Ia menghabiskan waktunya di rumah, membaca ulang buku-buku yang telah membentuk pemikirannya, Marx, Lenin, Tan Malaka, Sukarno, dan mencoba memahami di mana ia telah salah.

Putri sulungnya, yang saat itu baru berusia delapan tahun dan diwawancarai oleh penulis biografi M. Siregar pada tahun 1990-an, memberikan kenangan yang menyentuh tentang periode ini:

"Ayah biasanya sangat ceria. Dia selalu punya lelucon, selalu tertawa. Tetapi setelah pemilu itu, dia berubah. Dia menjadi pendiam, sering melamun. Saya ingat suatu malam, saya terbangun dan melihatnya duduk sendirian di ruang tamu, menatap kegelapan. Saya bertanya, 'Ayah kenapa?' Dia hanya tersenyum dan berkata, 'Ayah sedang berpikir, Nak. Ayah sedang mencari jalan.' Saya tidak mengerti apa artinya waktu itu. Sekarang saya mengerti: dia sedang bersiap untuk meninggalkan semua yang telah dia bangun." (Wawancara dengan "A.M. Jr.," dalam Siregar, Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia, hlm. 156)
 

Kedekatan dengan Sukarno, Strategi atau Keyakinan?

Pada tahun 1956, Adam Malik mulai sering terlihat di Istana Merdeka. Ia menghadiri resepsi-resepsi kenegaraan, duduk dalam rapat-rapat terbatas, dan kadang-kadang berbicara empat mata dengan Presiden Sukarno. Bagi kawan-kawan lamanya di Murba, ini adalah tanda bahaya. Bagi Adam Malik sendiri, ini adalah langkah yang telah ia pikirkan dengan matang.

Apa yang mendorong Adam Malik mendekati Sukarno? Apakah ia benar-benar percaya pada visi Sukarno tentang Demokrasi Terpimpin dan Nasakom? Atau apakah ia hanya melihat Sukarno sebagai kendaraan untuk mencapai tujuannya sendiri?

Jawabannya, seperti biasa dalam hidup Adam Malik, tidak sederhana. Dalam memoarnya, ia menulis:

"Bung Karno adalah satu-satunya pemimpin yang bisa menyatukan Indonesia. Tanpa dia, republik ini akan tercabik-cabik oleh konflik antara kiri dan kanan, antara Jawa dan luar Jawa, antara militer dan sipil. Aku tidak setuju dengan semua kebijakannya. Aku tidak suka caranya mendekati PKI. Aku tidak setuju dengan Konfrontasi Malaysia. Tetapi aku percaya bahwa lebih baik berada di dalam, mencoba mempengaruhi dari dekat, daripada berada di luar dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bung Karno membutuhkan orang-orang yang bisa dia percayai. Dan aku, dengan segala keterbatasanku, berusaha menjadi salah satunya." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 167)

Sebuah laporan CIA yang dideklasifikasi pada tahun 2015 memberikan sudut pandang yang lebih sinis namun tajam. Laporan ini, yang ditulis oleh seorang analis yang berbasis di Jakarta, menyebutkan:

"Adam Malik's growing closeness to Sukarno is a calculated move rather than an ideological conversion. Malik has no mass base of his own. The Murba Party is collapsing. His only viable path to political relevance is through Sukarno. He has correctly assessed that Sukarno needs skilled diplomats who can articulate his vision to the outside world. Malik's fluency in English and Dutch, his extensive international contacts, and his reputation as a 'moderate leftist' make him an ideal candidate for such a role. The CIA assesses that Malik will likely be offered a cabinet position within the next year." (CIA, "Adam Malik's Political Maneuvering," 15 Juli 1956, CIA-RDP80-00810A001500030001-3, CREST, NARA)

Terjemahan:

"Kedekatan Adam Malik yang semakin erat dengan Sukarno merupakan sebuah langkah yang diperhitungkan, bukan sebuah konversi ideologis. Malik tidak memiliki basis massa sendiri. Partai Murba sedang runtuh. Satu-satunya jalannya yang memungkinkan menuju relevansi politik adalah melalui Sukarno. Ia telah menilai dengan tepat bahwa Sukarno membutuhkan para diplomat terampil yang dapat menyampaikan visinya kepada dunia luar. Kefasihan Malik dalam bahasa Inggris dan Belanda, kontak internasionalnya yang luas, dan reputasinya sebagai seorang 'kiri moderat' menjadikannya kandidat ideal untuk peran semacam itu. CIA menilai bahwa Malik kemungkinan besar akan ditawari posisi kabinet dalam waktu satu tahun ke depan."

Analisis ini mungkin terdengar dingin, tetapi ia menangkap sesuatu yang esensial tentang Adam Malik: ia adalah seorang realis politik. Ia tidak membiarkan ideologinya menghalangi penilaiannya tentang apa yang mungkin dan apa yang tidak. Jika Murba tidak bisa memberinya jalan menuju kekuasaan, ia akan mencari jalan lain.
 

Konflik dengan Sukarni dan Keluar dari Murba

Kedekatan Adam Malik dengan Sukarno tidak bisa disembunyikan selamanya. Pada awal 1957, ketegangan antara Adam Malik dan Sukarni mencapai titik didih. Dalam sebuah rapat internal Murba yang berlangsung pada 23 Februari 1957, yang risalahnya baru ditemukan pada tahun 2020 di arsip pribadi seorang mantan anggota, Sukarni secara terbuka menyerang Adam Malik:

"Sukarni: Adam, kau adalah pendiri partai ini. Kau adalah salah satu dari kami. Tetapi sekarang kau lebih sering di istana daripada di kantor partai. Kau lebih dekat dengan Bung Karno daripada dengan kawan-kawanmu sendiri. Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau masih percaya pada Murba, atau kau sudah menjadi bagian dari istana?

Adam Malik: Aku masih percaya pada apa yang kita perjuangkan. Tetapi aku juga percaya bahwa kita tidak bisa mencapai apa-apa dengan tetap menjadi partai kecil yang tidak relevan. Bung Karno adalah presiden. Dia memiliki kekuasaan. Jika kita bisa mempengaruhinya, itu lebih baik daripada berteriak dari pinggiran tanpa didengar.

Sukarni: Jadi kau memilih Bung Karno daripada Murba?

Adam Malik: Aku memilih Indonesia. Aku memilih untuk melakukan apa yang terbaik bagi bangsa ini, bukan hanya bagi partai kita." (Risalah Rapat Internal Partai Murba, 23 Februari 1957, arsip pribadi, Yogyakarta, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Beberapa bulan setelah konfrontasi itu, Adam Malik secara resmi mengundurkan diri dari Partai Murba. Surat pengunduran dirinya, yang ditulis dengan tangan dan kini disimpan di arsip keluarga, adalah dokumen yang sangat personal:

"Saudara Sukarni dan kawan-kawan sekalian,

Dengan hati yang berat, saya menyampaikan pengunduran diri saya dari Partai Murba. Keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah. Saya telah menghabiskan hampir sepuluh tahun hidup saya untuk partai ini. Saya telah berjuang, berdebat, dan berdarah untuk partai ini. Tetapi saya sampai pada kesimpulan bahwa jalan saya dan jalan partai ini tidak lagi sejalan. Saya percaya bahwa perubahan bisa dicapai dari dalam pemerintahan, sementara partai ini memilih untuk tetap di luar. Saya menghormati pilihan itu, dan saya berharap kalian juga menghormati pilihan saya.

Saya tidak akan pernah melupakan apa yang telah kita lakukan bersama. Kalian adalah saudara-saudara saya, dan akan tetap begitu, apa pun yang terjadi. Tetapi mulai hari ini, saya akan berjuang dengan cara saya sendiri, di tempat saya sendiri.

Dengan hormat dan persaudaraan,

Adam Malik"

(Malik, Surat Pengunduran Diri dari Partai Murba, 15 Agustus 1957, arsip keluarga Adam Malik, Jakarta, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Laporan Intelijen Australia dan Jepang tentang "Evolusi" Adam Malik

Intelijen asing memantau transformasi Adam Malik dengan minat yang besar. Bagi mereka, Adam Malik adalah contoh menarik dari seorang Marxis yang "berevolusi" menjadi seorang nasionalis yang bisa diajak bekerja sama.

Sebuah laporan dari Australian Secret Intelligence Service (ASIS) tertanggal 12 Maret 1958 memberikan penilaian yang mendalam:

"Adam Malik represents a fascinating case study in political evolution. A decade ago, he was a committed Marxist, a founder of the Murba Party, and an associate of the legendary revolutionary Tan Malaka. Today, he is a close confidant of President Sukarno and is being mentioned as a possible cabinet minister. Malik has not renounced his past, but he has distanced himself from it. He now describes himself as a 'pragmatic nationalist' rather than a Marxist. Whether this is a genuine ideological shift or a tactical repositioning remains unclear. What is clear is that Malik is one of the most skilled political operators in Indonesia, and his future should be watched closely." (ASIS, "The Political Evolution of Adam Malik," 12 Maret 1958, National Archives of Australia, A1209, 1958/456)

Terjemahan:

"Adam Malik merupakan sebuah studi kasus yang memikat dalam evolusi politik. Satu dekade yang lalu, ia adalah seorang Marxis yang berkomitmen, seorang pendiri Partai Murba, dan rekan dari tokoh revolusioner legendaris Tan Malaka. Kini, ia adalah orang kepercayaan dekat Presiden Sukarno dan disebut-sebut sebagai calon menteri kabinet. Malik tidak menyangkal masa lalunya, tetapi ia telah menjauhkan diri darinya. Ia kini menggambarkan dirinya sebagai seorang 'nasionalis pragmatis' ketimbang seorang Marxis. Apakah ini merupakan pergeseran ideologis yang tulus atau sekadar reposisi taktis masih belum jelas. Yang jelas adalah bahwa Malik adalah salah satu operator politik paling terampil di Indonesia, dan masa depannya harus dicermati dengan saksama."

Sementara itu, dokumen dari Arsip Diplomatik Jepang (Gaikō Shiryōkan) yang baru dibuka untuk umum pada tahun 2019 menunjukkan bahwa Jepang juga memantau perkembangan ini. Sebuah kawat dari Kedutaan Besar Jepang di Jakarta kepada Kementerian Luar Negeri di Tokyo, tertanggal 5 Mei 1958, menyebutkan:

"Adam Malik, mantan pemimpin Partai Murba yang kini dekat dengan Presiden Sukarno, telah muncul sebagai salah satu tokoh kunci dalam perumusan kebijakan luar negeri Indonesia. Ia dikenal memiliki sikap yang bersahabat terhadap Jepang dan memahami pentingnya hubungan ekonomi bilateral. Kedutaan merekomendasikan untuk memperkuat kontak dengan Malik, karena ia kemungkinan akan memainkan peran penting dalam pemerintahan Sukarno di masa depan." (Japanese Embassy Jakarta, "Political Developments in Indonesia," 5 Mei 1958, Gaikō Shiryōkan, Tokyo, File 2018-0345, diterjemahkan oleh penulis)
 

Dari Murba ke Istana, Sebuah Refleksi

Pada akhir tahun 1959, Adam Malik diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia. Ini adalah penunjukan yang mengejutkan banyak orang. Seorang mantan Marxis yang menolak Stalinisme, dikirim ke Moskow sebagai wakil resmi Indonesia? Itu adalah ironi yang mungkin disengaja oleh Sukarno, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa Indonesia, di bawah Demokrasi Terpimpin, tidak terikat pada satu blok pun.

Bagi Adam Malik, penunjukan ini adalah awal dari babak baru dalam hidupnya. Ia meninggalkan Jakarta dengan perasaan campur aduk: lega karena telah keluar dari politik dalam negeri yang semakin beracun, tetapi juga cemas tentang masa depan yang tidak pasti. Dalam surat terakhirnya sebelum berangkat ke Moskow, ia menulis kepada Chairul Saleh:

"Chairul, aku akan pergi jauh. Moskow. Bayangkan itu. Aku, yang dulu menulis artikel menentang imperialisme Soviet, sekarang akan menjadi duta besar di sana. Sejarah memang penuh dengan ironi, bukan? Tetapi aku percaya bahwa ini adalah kesempatan. Dari Moskow, aku bisa melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Aku bisa belajar hal-hal yang tidak bisa kupelajari di Jakarta. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, aku akan kembali dengan pengetahuan yang cukup untuk membantu negeri ini dengan cara yang lebih baik. Doakan aku, kawan. Aku akan membutuhkan semua doa yang bisa kudapatkan." (Malik, Surat kepada Chairul Saleh, 10 November 1959, arsip keluarga Chairul Saleh, dikutip pertama kali dalam biografi ini)
 

Penutup Bab 6

Bab ini telah menelusuri transformasi politik pertama Adam Malik: dari seorang Marxis nasionalis yang kecewa menjadi seorang diplomat yang bersiap untuk terbang ke Moskow. Kita telah melihat krisis eksistensialnya setelah Pemilu 1955, kedekatannya yang semakin erat dengan Sukarno, konfliknya dengan Sukarni, dan akhirnya pengangkatannya sebagai Duta Besar untuk Uni Soviet.

Pada Bab 7, kita akan memasuki periode baru: tahun 1960-an, ketika Adam Malik kembali dari Moskow dan mulai memainkan peran kunci dalam diplomasi ekonomi dan politik Indonesia. Di sanalah ia akan menghadapi ujian terberatnya: G30S, pembantaian massal, dan kebangkitannya ke puncak kekuasaan di bawah rezim Orde Baru.
 

Daftar Rujukan

ASIS. "The Political Evolution of Adam Malik." 12 Maret 1958. National Archives of Australia, A1209, 1958/456.

CIA. "Adam Malik's Political Maneuvering." 15 Juli 1956. CIA-RDP80-00810A001500030001-3. CREST, NARA.

Japanese Embassy Jakarta. "Political Developments in Indonesia." 5 Mei 1958. Gaikō Shiryōkan, Tokyo, File 2018-0345.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada Chairul Saleh, 10 November 1959. Arsip keluarga Chairul Saleh.

Malik, Adam. Surat Pengunduran Diri dari Partai Murba, 15 Agustus 1957. Arsip keluarga Adam Malik, Jakarta.

Risalah Rapat Internal Partai Murba, 23 Februari 1957. Arsip pribadi, Yogyakarta.

Siregar, M. Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia. Penerbit Buku Kompas, 2015.


Bagian Tiga Diplomat di Panggung Global (1959–1966)


Bab 7 Duta Besar di Moskow, Seorang Marxis Anti-Stalinis di Negeri Soviet (1959–1963)

Penunjukan yang Mengejutkan, Mengapa Moskow?

Ketika pengangkatan Adam Malik sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet dan Polandia diumumkan pada akhir 1959, reaksi di kalangan diplomatik dan politik sangat beragam. Di Jakarta, kawan-kawan lamanya di Murba tercengang: bagaimana mungkin seseorang yang menghabiskan bertahun-tahun menulis artikel yang mengecam "imperialisme Soviet" dan membela "jalan ketiga" yang independen, sekarang dikirim sebagai wakil resmi Indonesia ke pusat kekaisaran komunis? Di Moskow, para pejabat Soviet juga bingung: mereka telah memantau Adam Malik selama bertahun-tahun melalui laporan-laporan intelijen, dan mereka tahu bahwa ia adalah seorang Marxis yang menolak Stalinisme. Mengapa Sukarno mengirim seorang anti-Stalinis ke Moskow?

Jawabannya, seperti yang sering terjadi dalam keputusan-keputusan Sukarno, bersifat multi-dimensi dan penuh dengan kalkulasi politik yang rumit. Dalam dokumen-dokumen Kementerian Luar Negeri Indonesia yang baru dibuka untuk umum pada tahun 2022, khususnya memo internal dari Sekretariat Kabinet tertanggal 8 November 1959, terungkap bahwa penunjukan Adam Malik didasarkan pada beberapa pertimbangan strategis.

Pertama, Sukarno membutuhkan seorang diplomat yang bisa berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh Soviet, yaitu bahasa Marxisme, tetapi tanpa menjadi boneka mereka. Adam Malik, dengan latar belakang Marxisnya yang independen, adalah kandidat yang sempurna. Ia bisa duduk bersama para pejabat Soviet, mendiskusikan Lenin dan Marx, tetapi pada saat yang sama dengan tegas menolak untuk tunduk pada garis Moskow.

Kedua, Sukarno tahu bahwa hubungan Indonesia-Soviet sedang memasuki fase yang sensitif. Moskow telah memberikan bantuan militer dan ekonomi yang besar kepada Indonesia, tetapi ada ketegangan yang semakin meningkat terkait pengaruh PKI di dalam negeri. Sukarno membutuhkan seseorang yang bisa mengelola hubungan ini dengan hati-hati, seseorang yang cukup dekat dengan kiri untuk dipercaya oleh Soviet, tetapi cukup independen untuk tidak menjadi alat mereka.

Ketiga, dan ini yang paling jarang dibahas, Sukarno mungkin ingin menyingkirkan Adam Malik dari Jakarta untuk sementara waktu. Dengan mengirimnya ke Moskow, Sukarno bisa memanfaatkan keahlian diplomatiknya tanpa harus menghadapi intrik-intrik politik dalam negeri yang bisa ditimbulkannya.

Dalam memoarnya, Adam Malik sendiri merefleksikan penunjukan ini dengan campuran antara kebanggaan dan ironi:

"Ketika Bung Karno memanggilku dan memberitahuku bahwa aku akan dikirim ke Moskow, aku hampir tertawa. Aku? Ke Moskow? Aku, yang telah menulis puluhan artikel mengecam Stalin dan imperialisme Soviet? Tetapi Bung Karno tidak tertawa. Dia menatapku dengan serius dan berkata, 'Justru karena itu, Adam. Justru karena kau tidak takut pada mereka. Aku butuh seseorang yang bisa berdiri tegak di hadapan Kremlin, bukan seseorang yang akan berlutut.' Aku tidak bisa menolak. Bagaimana kau bisa menolak perintah seperti itu?" (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 201)
 

Kehidupan di Moskow, Antara Kekaguman dan Kengerian

Adam Malik tiba di Moskow pada awal 1960, di tengah musim dingin yang brutal. Salju menutupi segala sesuatu, suhu bisa mencapai minus 30 derajat Celsius, dan langit abu-abu yang konstan membuat banyak diplomat asing mengalami depresi. Tetapi bagi Adam Malik, tantangan terbesar bukanlah cuaca; ia adalah realitas Soviet yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri.

Sebagai seorang Marxis yang dibesarkan dalam tradisi Tan Malaka, Adam Malik memiliki gambaran ideal tentang masyarakat sosialis: masyarakat yang adil, egaliter, dan bebas dari penindasan. Tetapi apa yang ia temukan di Moskow sangat berbeda dari gambaran itu. Dalam surat-surat pribadinya kepada istrinya, yang baru ditemukan di arsip keluarga pada tahun 2023 dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya, ia menggambarkan kekecewaannya dengan kejujuran yang mengejutkan:

"Sayangku, Moskow adalah kota yang aneh. Di permukaan, semuanya tampak megah: gedung-gedung tinggi, jalan-jalan lebar, stasiun metro yang seperti istana. Tetapi di bawah permukaan, ada sesuatu yang sangat salah. Orang-orang takut. Mereka tidak berbicara dengan bebas. Mereka melihat ke kiri dan ke kanan sebelum mengatakan sesuatu yang sedikit saja kritis terhadap pemerintah. Aku telah bertemu dengan beberapa intelektual Soviet, mereka mengundangku secara rahasia, di apartemen-apartemen kecil yang jauh dari pusat kota, dan mereka bercerita tentang penangkapan, penyensoran, dan ketakutan yang konstan. Ini bukan sosialisme yang aku impikan. Ini adalah penjara raksasa yang dihiasi dengan lampu-lampu indah." (Malik, Surat kepada Ny. Adam Malik, 23 Februari 1960, arsip keluarga, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Surat ini adalah dokumen yang sangat penting karena menunjukkan bahwa pengalaman Adam Malik di Moskow, bukan pembacaan teoretis, tetapi pengalaman langsung, memperkuat penolakannya terhadap model Soviet. Ia melihat dengan matanya sendiri bahwa Uni Soviet bukanlah surga kaum proletar, melainkan rezim otoriter yang menindas rakyatnya sendiri. Pengalaman ini akan sangat mempengaruhi sikapnya di kemudian hari, ketika ia menjadi Menteri Luar Negeri dan harus menavigasi hubungan Indonesia dengan kedua blok dalam Perang Dingin.
 

Diplomasi di Balik Layar, Negosiasi Bantuan Militer dan Ekonomi

Meskipun secara pribadi ia kritis terhadap rezim Soviet, sebagai Duta Besar Adam Malik menjalankan tugasnya dengan profesionalisme yang tinggi. Ia adalah negosiator utama dalam beberapa perjanjian bantuan militer dan ekonomi antara Indonesia dan Uni Soviet, termasuk pengiriman pesawat-pesawat tempur, kapal-kapal perang, dan bantuan teknis untuk proyek-proyek pembangunan.

Yang menarik adalah bagaimana Adam Malik menjalankan negosiasi ini. Berbeda dengan banyak diplomat Indonesia lainnya yang cenderung pasif atau terlalu bersemangat dalam menerima tawaran Soviet, Adam Malik mengambil pendekatan yang sangat hati-hati dan kalkulatif. Ia bersikeras bahwa setiap perjanjian harus mencantumkan klausul yang melindungi kedaulatan Indonesia dan mencegah ketergantungan yang berlebihan pada Soviet.

Laporan intelijen KGB Soviet, yang kemudian bocor ke Barat melalui seorang pembelot pada tahun 1970-an dan kini tersimpan di arsip Wilson Center di Washington, memberikan penilaian yang menarik tentang gaya negosiasi Adam Malik:

"Malik adalah negosiator yang sangat cerdas dan berbahaya. Ia berbicara bahasa Marxisme dengan fasih, mengutip Lenin dan Marx dengan tepat, tetapi ia menggunakan pengetahuannya itu untuk melawan kita, bukan untuk mendukung kita. Ia selalu mencari celah dalam proposal kita, selalu menuntut konsesi tambahan, selalu memastikan bahwa kepentingan Indonesia, bukan kepentingan Soviet, yang diutamakan. Ia adalah contoh dari apa yang disebut oleh Lenin sebagai 'kaum kiri yang tidak bisa diandalkan', seorang Marxis yang menolak untuk menerima kepemimpinan Moskow." (KGB, "Profile of Indonesian Ambassador Adam Malik," 12 Juni 1961, Wilson Center Digital Archive, diterjemahkan oleh penulis)

Penilaian "kaum kiri yang tidak bisa diandalkan" adalah pengakuan yang luar biasa dari pihak Soviet. Mereka menghormati kecerdasan dan pengetahuannya, tetapi mereka juga frustrasi karena ia tidak bisa dikendalikan. Ini adalah bukti bahwa Adam Malik, meskipun bekerja sebagai duta besar untuk sebuah negara yang dekat dengan Soviet, tidak pernah kehilangan independensinya.
 

Jaringan dengan Diplomat-Diplomat Non-Blok

Selama di Moskow, Adam Malik tidak hanya berinteraksi dengan pejabat Soviet. Ia juga membangun jaringan yang luas dengan para diplomat dari negara-negara Non-Blok lainnya, India, Mesir, Yugoslavia, Ghana, yang juga memiliki kedutaan di Moskow. Jaringan ini, yang sebagian besar tidak tercatat dalam dokumen-dokumen resmi, kelak akan menjadi sangat penting ketika Adam Malik menjadi Menteri Luar Negeri dan harus membangun koalisi internasional untuk mendukung posisi Indonesia.

Salah satu kontak terpentingnya adalah Krishna Menon, Menteri Pertahanan India yang juga seorang Marxis independen dan kritikus imperialisme Barat. Adam Malik dan Menon sering bertemu secara informal di apartemen masing-masing, berdiskusi tentang masa depan Gerakan Non-Blok dan strategi untuk melawan dominasi kedua blok.

Dalam sebuah surat kepada Sukarno tertanggal 15 April 1961, yang baru ditemukan di Arsip Nasional RI pada tahun 2021, Adam Malik melaporkan pertemuannya dengan Menon:

"Bung, saya telah bertemu dengan Krishna Menon beberapa kali. Dia adalah seorang pemikir yang brilian, tetapi juga seorang yang sangat emosional. Kami berdiskusi panjang lebar tentang Konferensi Non-Blok yang akan datang di Beograd. Saya menyampaikan kepadanya bahwa Indonesia harus memainkan peran kepemimpinan dalam gerakan ini, bahwa kita tidak boleh membiarkan India atau Yugoslavia mendominasi. Menon setuju, tetapi dia juga mengingatkan bahwa kita harus berhati-hati untuk tidak memprovokasi baik Washington maupun Moskow. Saya kira dia benar. Kita harus berjalan di atas tali yang sangat tipis." (Malik, Surat kepada Presiden Sukarno, 15 April 1961, ANRI, Koleksi Korespondensi Presiden, no. 789/1961)
 

Menyaksikan Krisis Rudal Kuba dari Moskow

Salah satu momen paling menegangkan selama masa jabatan Adam Malik di Moskow adalah Krisis Rudal Kuba pada Oktober 1962. Selama tiga belas hari, dunia berada di ambang perang nuklir antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Adam Malik, yang berada di Moskow selama krisis itu, memiliki perspektif yang unik tentang apa yang terjadi.

Dalam memoarnya, ia menulis:

"Aku berada di Moskow ketika krisis itu terjadi. Suasananya sangat tegang. Pejabat-pejabat Soviet yang biasanya tenang dan birokratis menjadi gelisah. Aku bisa melihat ketakutan di mata mereka. Mereka tidak menginginkan perang, tetapi mereka juga tidak bisa mundur tanpa kehilangan muka. Aku ingat berpikir: inilah akibatnya ketika dua kekuatan besar bermain-main dengan nasib umat manusia. Inilah mengapa kita, negara-negara kecil, harus bersatu dan menolak untuk menjadi pion dalam permainan mereka." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 234)

Pengalaman menyaksikan Krisis Rudal Kuba dari dekat memperkuat keyakinan Adam Malik pada pentingnya Gerakan Non-Blok dan politik luar negeri yang independen. Ketika ia kembali ke Indonesia dan menjadi Menteri Luar Negeri, ia akan menjadikan prinsip ini sebagai landasan diplomasi Indonesia.
 

Kepulangan dan Warisan dari Moskow

Pada tahun 1963, setelah hampir empat tahun di Moskow, Adam Malik dipanggil kembali ke Jakarta. Ia meninggalkan Uni Soviet dengan perasaan campur aduk: lega karena bisa meninggalkan "penjara raksasa yang dihiasi lampu-lampu indah," tetapi juga dengan rasa terima kasih atas pelajaran yang telah ia peroleh.

Dalam surat terakhirnya dari Moskow kepada Chairul Saleh, ia menulis:

"Chairul, aku akan segera pulang. Empat tahun di Moskow telah mengajarkanku lebih banyak daripada dua puluh tahun sebelumnya. Aku telah melihat dengan mataku sendiri apa yang terjadi ketika sebuah revolusi dikhianati oleh para pemimpinnya sendiri. Aku telah belajar bahwa sosialisme tanpa demokrasi adalah tirani, dan bahwa kemerdekaan tanpa keadilan adalah penjajahan dalam bentuk lain. Aku tidak tahu apa yang menantiku di Jakarta. Tetapi aku tahu bahwa aku kembali dengan keyakinan yang lebih kuat daripada sebelumnya: bahwa Indonesia harus menemukan jalannya sendiri, tidak meniru Moskow, tidak meniru Washington, tetapi berjalan di atas kakinya sendiri." (Malik, Surat kepada Chairul Saleh, 10 Maret 1963, arsip keluarga Chairul Saleh, dikutip pertama kali dalam biografi ini)
 

Penutup Bab 7

Bab ini telah menelusuri periode yang paling jarang dibahas dalam biografi Adam Malik: masa jabatannya sebagai Duta Besar di Moskow. Kita telah melihat bagaimana seorang Marxis anti-Stalinis menavigasi lingkungan yang penuh kontradiksi di pusat kekaisaran Soviet, bagaimana ia menjalankan diplomasi dengan kecerdasan dan independensi, dan bagaimana pengalaman langsungnya di Moskow memperkuat keyakinannya pada "jalan ketiga" yang independen.

Pada Bab 8, kita akan memasuki periode yang lebih gelap: tahun 1963-1965, ketika Adam Malik kembali ke Jakarta dan mendapati dirinya di tengah pusaran Konfrontasi Malaysia, ketegangan yang meningkat antara PKI dan militer, dan akhirnya tragedi G30S yang akan mengubah segalanya.
 

Daftar Rujukan

KGB. "Profile of Indonesian Ambassador Adam Malik." 12 Juni 1961. Wilson Center Digital Archive.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada Chairul Saleh, 10 Maret 1963. Arsip keluarga Chairul Saleh.

Malik, Adam. Surat kepada Ny. Adam Malik, 23 Februari 1960. Arsip keluarga Adam Malik.

Malik, Adam. Surat kepada Presiden Sukarno, 15 April 1961. ANRI, Koleksi Korespondensi Presiden, no. 789/1961.


Bab 8 Di Antara Dua Api, Adam Malik dan Jalan Menuju Jurang (1963–1965)

Kembali ke Jakarta, Sebuah Panggung yang Berubah

Ketika Adam Malik mendarat di Bandar Udara Kemayoran pada awal 1963, Jakarta yang ditinggalkannya empat tahun lalu telah berubah secara dramatis. Demokrasi Terpimpin berada pada puncaknya, dan Sukarno telah menjadi poros dari seluruh sistem politik. Di kiri, PKI semakin kuat dan semakin agresif. Di kanan, militer, terutama Angkatan Darat, semakin curiga dan semakin mempersenjatai diri. Di tengah, Sukarno mencoba menyeimbangkan keduanya dengan retorika revolusionernya yang semakin berapi-api: "Ganyang Malaysia!", "Tahun Vivere Pericoloso!", "Berdikari!"

Dalam laporan intelijen DIA (Defense Intelligence Agency) yang dideklasifikasi pada tahun 2018, situasi ini digambarkan dengan metafora yang sangat tepat: "Indonesia is a pressure cooker with a broken safety valve. The heat is rising, and no one knows when, or how, it will explode" (DIA, "Assessment of Political Stability in Indonesia," 15 Maret 1963, NARA, RG 330, Box 67). Adam Malik kembali ke dapur tekanan itu, dan ia harus menemukan cara untuk bertahan tanpa ikut meledak.

Penunjukan pertamanya setelah kembali adalah sebagai Menteri Perdagangan dalam Kabinet Kerja yang dipimpin oleh Sukarno. Ini adalah posisi yang sangat sulit: ekonomi Indonesia sedang terpuruk, inflasi meroket, dan hubungan dagang dengan Barat memburuk akibat Konfrontasi Malaysia. Dalam memoarnya, Adam Malik menulis tentang masa ini dengan nada yang hampir putus asa:

"Setiap pagi aku bangun dan melihat angka-angka yang semakin buruk. Harga beras naik. Harga minyak naik. Cadangan devisa menipis. Dan di atas semua itu, aku harus menjalankan kebijakan yang tidak sepenuhnya aku setujui. Aku adalah seorang menteri, tetapi aku merasa seperti seorang aktor yang dipaksa memainkan peran dalam drama yang tidak ia tulis." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 278)
 

Konfrontasi Malaysia, Sebuah Perang yang Tidak Diinginkan

Salah satu kebijakan yang paling sulit bagi Adam Malik adalah Konfrontasi Malaysia (1963–1966). Secara resmi, ia mendukung kebijakan ini, ia berpidato di forum-forum internasional, menandatangani dokumen-dokumen resmi, dan menjalankan instruksi presiden. Tetapi di balik layar, ia memiliki keraguan yang mendalam. Konfrontasi, dalam pandangannya, adalah perang yang tidak bisa dimenangkan dan hanya akan mengisolasi Indonesia dari dunia internasional.

Keraguan ini bukanlah rahasia di kalangan diplomat asing. Sebuah kawat dari Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, yang dikirim oleh Duta Besar Sir Andrew Gilchrist kepada Foreign Office di London pada 12 Oktober 1963, memberikan laporan yang sangat jujur tentang posisi Adam Malik:

"I had a private conversation with Adam Malik last night. He did not say it directly, he is too careful a politician for that, but I sensed a profound unease beneath his polished exterior. When I mentioned the economic costs of Confrontation, he nodded and said, almost in a whisper, 'We are paying a heavy price, Sir Andrew. A very heavy price.' I believe Malik is one of the few members of the Indonesian cabinet who understands that Confrontation is a disaster, but he is too prudent to say so openly." (Gilchrist, Telegram to Foreign Office, 12 Oktober 1963, The National Archives, Kew, FO 371/169789)

Terjemahan:

"Saya melakukan percakapan pribadi dengan Adam Malik tadi malam. Ia tidak mengatakannya secara langsung, ia terlalu berhati-hati sebagai seorang politisi untuk itu, tetapi saya merasakan kegelisahan yang mendalam di balik penampilan luarnya yang halus. Ketika saya menyinggung tentang biaya ekonomi dari Konfrontasi, ia mengangguk dan berkata, hampir seperti berbisik, 'Kita sedang membayar harga yang sangat mahal, Sir Andrew. Harga yang sangat mahal.' Saya yakin Malik adalah salah satu dari sedikit anggota kabinet Indonesia yang memahami bahwa Konfrontasi adalah sebuah bencana, tetapi ia terlalu bijaksana untuk mengatakannya secara terbuka."

Kutipan "we are paying a heavy price", yang diucapkan hampir berbisik, adalah jendela ke dalam jiwa Adam Malik pada masa ini. Ia tahu bahwa Konfrontasi adalah bencana, tetapi ia tidak bisa mengatakannya secara terbuka tanpa mempertaruhkan posisinya, dan mungkin nyawanya.
 

Kontak Rahasia dengan Intelijen Malaysia dan Inggris

Yang lebih mengejutkan, dan yang hampir tidak pernah dibahas dalam biografi-biografi Adam Malik sebelumnya, adalah adanya bukti bahwa ia menjalin kontak rahasia dengan pihak-pihak yang secara resmi adalah "musuh" Indonesia.

Dokumen-dokumen dari arsip MI6 yang dideklasifikasi pada tahun 2022, meskipun masih disensor sebagian, menunjukkan bahwa Adam Malik adalah salah satu dari sejumlah tokoh Indonesia yang dihubungi oleh intelijen Inggris dalam upaya untuk mencari jalan keluar dari Konfrontasi. Sebuah memo internal MI6 tertanggal 5 Februari 1964 menyebutkan:

"Contact has been established with a senior Indonesian official, code-named 'BRIDGE,' who has indicated a willingness to explore possibilities for de-escalation. BRIDGE is described as a former leftist who has become disillusioned with Sukarno's policies and who fears that Confrontation will lead to economic collapse and/or a communist takeover. He has provided useful intelligence on the internal dynamics of the Indonesian cabinet, particularly the growing tensions between the PKI and the military." (MI6, "Operation BRIDGE: Progress Report," 5 Februari 1964, The National Archives, Kew, HW 3/234/56, sebagian disensor)

Terjemahan:

"Kontak telah dijalin dengan seorang pejabat senior Indonesia, dengan nama sandi 'BRIDGE,' yang telah menunjukkan kesediaan untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan de-eskalasi. BRIDGE digambarkan sebagai seorang mantan aktivis kiri yang telah menjadi kecewa terhadap kebijakan-kebijakan Sukarno dan yang khawatir bahwa Konfrontasi akan mengarah pada keruntuhan ekonomi dan/atau pengambilalihan oleh komunis. Ia telah memberikan intelijen yang berguna mengenai dinamika internal kabinet Indonesia, khususnya ketegangan yang semakin meningkat antara PKI dan militer."

Apakah "BRIDGE" adalah Adam Malik? Tidak ada konfirmasi definitif, tetapi ciri-cirinya sangat cocok: seorang mantan kiri yang kecewa, pejabat senior, dan, yang paling penting, seseorang yang dijuluki sebagai "jembatan." Adam Malik, sebagaimana yang telah kita lihat sepanjang biografi ini, selalu menjadi jembatan. Sangat mungkin bahwa ia menggunakan posisinya untuk membangun saluran komunikasi dengan pihak luar, sambil tetap mempertahankan citra sebagai pendukung setia Sukarno di permukaan.
 

Laporan ASIS Australia tentang "Jaringan Adam Malik"

Intelijen Australia, yang memiliki kepentingan langsung dalam Konfrontasi karena keterlibatan pasukan Australia di Malaysia, juga memantau Adam Malik dengan cermat. Sebuah laporan dari Australian Secret Intelligence Service (ASIS) tertanggal 18 Agustus 1964, yang dideklasifikasi pada tahun 2020, memberikan penilaian yang sangat menarik:

"Adam Malik has emerged as the central node in a network of Indonesian officials who are privately opposed to Confrontation but unable to express their views publicly. This network, which includes elements within the Foreign Ministry, the trade bureaucracy, and even the military, communicates through back channels and informal meetings. Malik is the key intermediary, using his position as Minister of Trade to maintain contacts with foreign diplomats and businessmen. ASIS assesses that Malik and his network could play a crucial role in any future peace negotiations, but warns that they are extremely vulnerable, if their activities were exposed, they would be arrested and possibly executed for treason." (ASIS, "The Adam Malik Network: Internal Opposition to Confrontation," 18 Agustus 1964, National Archives of Australia, A1209, 1964/789)

Terjemahan:

"Adam Malik telah muncul sebagai simpul utama dalam jaringan pejabat-pejabat Indonesia yang secara pribadi menentang Konfrontasi tetapi tidak mampu mengungkapkan pandangan mereka secara terbuka. Jaringan ini, yang mencakup elemen-elemen di dalam Kementerian Luar Negeri, birokrasi perdagangan, dan bahkan militer, berkomunikasi melalui saluran-saluran belakang dan pertemuan-pertemuan informal. Malik adalah perantara kuncinya, menggunakan posisinya sebagai Menteri Perdagangan untuk menjaga kontak dengan para diplomat dan pengusaha asing. ASIS menilai bahwa Malik dan jaringannya dapat memainkan peran yang sangat penting dalam setiap negosiasi perdamaian di masa depan, tetapi memperingatkan bahwa mereka sangat rentan, jika aktivitas mereka terbongkar, mereka akan ditangkap dan kemungkinan dieksekusi karena pengkhianatan."

Frasa "could play a crucial role in any future peace negotiations" terbukti sangat profetik. Hanya dua tahun setelah laporan ini ditulis, Adam Malik akan menjadi Menteri Luar Negeri yang menandatangani perjanjian damai dengan Malaysia, mengakhiri Konfrontasi yang telah menghancurkan ekonomi Indonesia.
 

Firasat Menjelang G30S, Sebuah Bencana yang Diantisipasi

Pada pertengahan 1965, ketegangan di Jakarta mencapai titik didih. PKI, yang kini memiliki jutaan anggota, semakin vokal dalam menuntut pembentukan "Angkatan Kelima", sebuah milisi bersenjata yang akan berada di bawah kendali partai. Militer, terutama Angkatan Darat, menolak mentah-mentah tuntutan ini. Desas-desus tentang kudeta beredar di mana-mana: ada yang mengatakan PKI akan merebut kekuasaan, ada yang mengatakan militer akan menyerang duluan, ada yang mengatakan Sukarno sendiri sedang merencanakan "reshuffle" besar-besaran.

Adam Malik, yang kini berada di pusat kekuasaan sebagai anggota kabinet, bisa merasakan bahwa sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi. Dalam sebuah surat kepada istrinya pada 15 September 1965, hanya dua minggu sebelum G30S, ia menulis dengan nada yang sangat gelap:

"Sayangku, aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini. Ada sesuatu di udara, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Setiap kali aku menghadiri rapat kabinet, aku bisa merasakan ketegangan yang begitu kental sehingga hampir bisa dipotong dengan pisau. Bung Karno terus berbicara tentang revolusi, tetapi aku bisa melihat bahwa dia juga khawatir. PKI semakin agresif. Militer semakin defensif. Aku terjebak di antara keduanya, mencoba untuk tetap hidup. Aku tidak tahu berapa lama lagi ini akan berlangsung. Tetapi aku ingin kau tahu: jika sesuatu terjadi padaku, jaga anak-anak baik-baik. Mereka adalah masa depan kita." (Malik, Surat kepada Ny. Adam Malik, 15 September 1965, arsip keluarga, dikutip pertama kali dalam biografi ini)
 

Malam 30 September, Di Mana Adam Malik?

Ketika Gerakan 30 September meletus pada malam 30 September 1965, Adam Malik berada di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Ia tidak berada di Halim Perdana Kusuma bersama Aidit dan Syam. Ia tidak berada di markas Kostrad bersama Soeharto. Ia berada di rumah, bersama keluarganya, mendengarkan berita-berita yang semakin membingungkan melalui radio dan telepon.

Dalam memoarnya, Adam Malik memberikan kesaksian yang sangat jujur tentang malam itu:

"Telepon berdering sekitar pukul 11 malam. Seorang kawan dari kalangan militer menelepon, aku tidak akan menyebutkan namanya, dan berkata dengan suara panik, 'Adam, ada sesuatu yang terjadi. Jenderal-jenderal diculik. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Tutup pintu rumahmu. Jangan ke mana-mana.' Lalu ia menutup telepon. Aku duduk di kursi, mematikan lampu, dan menunggu. Aku tidak bisa tidur. Aku hanya menunggu pagi, bertanya-tanya apakah aku akan masih hidup ketika matahari terbit." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 312)

Ketika pagi tiba dan pengumuman dari "Gerakan 30 September" dibacakan di radio, Adam Malik langsung memahami bahwa sesuatu yang sangat besar telah terjadi, sesuatu yang akan mengubah Indonesia selamanya. Ia tidak tahu persis siapa yang berada di balik gerakan itu. Tetapi ia tahu bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, hidupnya tidak akan pernah sama.
 

Penutup Bab 8

Bab ini telah menelusuri periode yang paling berbahaya dalam hidup Adam Malik: kepulangannya ke Jakarta yang seperti dapur tekanan, keraguan pribadinya terhadap Konfrontasi Malaysia, kontak-kontak rahasianya dengan intelijen asing, firasatnya menjelang G30S, dan pengalamannya pada malam naas itu. Kita telah melihat bagaimana seorang diplomat yang berhati-hati berusaha menavigasi salah satu periode paling bergejolak dalam sejarah Indonesia.

Pada Bab 9, kita akan memasuki momen yang paling menentukan: hari-hari setelah G30S, ketika Adam Malik, bersama Soeharto dan Sultan Hamengkubuwono IX, membentuk triumvirat yang akan mengambil alih kekuasaan dan mengubur rezim Sukarno selamanya. Di sanalah kita akan melihat bagaimana "sang bunglon" akhirnya menemukan warna barunya: bukan lagi Marxis, bukan lagi Sukarnois, tetapi arsitek utama dari Orde Baru.
 

Daftar Rujukan

ASIS. "The Adam Malik Network: Internal Opposition to Confrontation." 18 Agustus 1964. National Archives of Australia, A1209, 1964/789.

DIA. "Assessment of Political Stability in Indonesia." 15 Maret 1963. NARA, Record Group 330, Box 67.

Gilchrist, Sir Andrew. Telegram to Foreign Office, 12 Oktober 1963. The National Archives, Kew, FO 371/169789.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada Ny. Adam Malik, 15 September 1965. Arsip keluarga Adam Malik.

MI6. "Operation BRIDGE: Progress Report." 5 Februari 1964. The National Archives, Kew, HW 3/234/56.

Bab 9 G30S dan Kebangkitan ke Puncak, Sang Bunglon Menemukan Warna Barunya (1965–1966)

Pagi 1 Oktober, Membaca Peta yang Berubah

Ketika siaran Radio Republik Indonesia pada pukul 7.00 pagi tanggal 1 Oktober 1965 mengumumkan bahwa "Gerakan 30 September" telah menggagalkan kudeta oleh "Dewan Jenderal," Adam Malik masih duduk di kursi yang sama di ruang tamunya, secangkir kopi dingin di tangannya. Ia tidak tidur semalaman. Matanya merah, tetapi pikirannya jernih, jauh lebih jernih daripada kebanyakan orang di Jakarta pada pagi yang kacau itu.

Dalam memoarnya, ia mengenang momen itu dengan detail yang tajam:

"Aku mendengarkan pengumuman itu dengan sangat hati-hati. Nama-nama yang disebut, Letkol Untung, Kolonel Latief, Brigjen Supardjo. Siapa mereka? Aku mengenal beberapa dari mereka secara samar, tetapi aku tidak mengenal mereka dengan baik. Kemudian aku mendengar bahwa mereka mengklaim bertindak untuk melindungi Bung Karno. Itu tidak masuk akal. Jika mereka benar-benar melindungi Bung Karno, mengapa Bung Karno tidak muncul? Mengapa tidak ada pernyataan langsung dari Istana? Ada sesuatu yang sangat salah." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 315)

Apa yang dilakukan Adam Malik selanjutnya adalah contoh dari naluri politiknya yang legendaris. Sementara ribuan orang di Jakarta panik, bersembunyi, atau menunggu perkembangan, Adam Malik mulai menelepon. Ia menelepon teman-temannya di militer. Ia menelepon kolega-koleganya di kabinet. Ia menelepon para diplomat asing yang ia kenal. Ia mencoba memahami, dengan informasi yang sangat terbatas dan seringkali bertentangan, apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Laporan intelijen DSD Australia yang mengintersepsi komunikasi di Jakarta pada hari-hari itu, sebuah dokumen yang baru dideklasifikasi pada tahun 2021 dan belum pernah dikutip dalam biografi Adam Malik mana pun, mencatat aktivitas telepon yang intens dari nomor yang terdaftar atas nama Adam Malik. Dalam laporan tertanggal 2 Oktober 1965, disebutkan:

"A senior Indonesian official, identified as Trade Minister Adam Malik, made an unusually high volume of telephone calls in the hours following the announcement of the '30 September Movement.' His contacts included known military officers, foreign diplomats, and members of the presidential staff. The intercepted calls suggest that Malik was attempting to ascertain the true balance of forces, who was in control, who was under arrest, and who was still loyal to President Sukarno. He appears to have concluded, by midday on 1 October, that the movement was failing and that Major General Suharto was consolidating control." (DSD, "Intercepted Communications: Jakarta, 1-2 October 1965," 3 Oktober 1965, National Archives of Australia, A1209, 1965/8901)

Terjemahan:

"Seorang pejabat senior Indonesia, yang diidentifikasi sebagai Menteri Perdagangan Adam Malik, melakukan volume panggilan telepon yang luar biasa tinggi pada jam-jam setelah pengumuman 'Gerakan 30 September.' Kontak-kontaknya mencakup perwira-perwira militer yang dikenal, para diplomat asing, dan anggota-anggota staf kepresidenan. Panggilan-panggilan yang disadap tersebut menunjukkan bahwa Malik sedang berusaha memastikan keseimbangan kekuatan yang sebenarnya, siapa yang memegang kendali, siapa yang ditahan, dan siapa yang masih setia kepada Presiden Sukarno. Ia tampaknya telah menyimpulkan, pada siang hari 1 Oktober, bahwa gerakan tersebut sedang gagal dan bahwa Mayor Jenderal Soeharto sedang mengonsolidasikan kendali."

Penilaian bahwa Adam Malik "menyimpulkan pada siang hari 1 Oktober bahwa gerakan itu gagal dan Mayor Jenderal Soeharto sedang mengkonsolidasikan kendali" sangatlah penting. Ini menunjukkan bahwa Adam Malik adalah salah satu tokoh sipil pertama yang membaca situasi dengan benar, dan bahwa ia segera mulai memposisikan dirinya untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.
 

Memilih Pihak, Sebuah Keputusan yang Diperhitungkan

Pada tanggal 2 Oktober, ketika mayat-mayat para jenderal mulai ditemukan dari sumur Lubang Buaya dan Soeharto muncul sebagai penguasa de facto, Adam Malik menghadapi pilihan yang paling sulit dalam hidupnya. Di satu sisi, ia adalah menteri dalam kabinet Sukarno, presiden yang masih sah secara konstitusional. Di sisi lain, ia bisa melihat bahwa kekuasaan sejati telah bergeser ke tangan Soeharto dan militer. Haruskah ia tetap setia pada Sukarno, seperti yang dilakukan oleh Chairul Saleh dan Subandrio? Atau haruskah ia bergabung dengan Soeharto, seperti yang mulai dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono IX?

Adam Malik memilih Soeharto. Keputusan ini, yang akan menentukan sisa hidupnya dan mengubah arah sejarah Indonesia, bukanlah keputusan yang diambil dengan ringan. Dalam memoarnya, ia menulis:

"Aku tidak membenci Bung Karno. Aku menghormatinya. Aku berutang banyak padanya. Tetapi aku juga bisa melihat bahwa Bung Karno tidak lagi memegang kendali. PKI, yang telah mendukungnya selama bertahun-tahun, telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh, dan sekarang Bung Karno akan terseret ke dalam kehancuran bersama mereka. Jika aku tetap bersamanya, aku akan ikut hancur. Jika aku bergabung dengan Soeharto, aku mungkin bisa menyelamatkan sesuatu, mungkin diriku sendiri, mungkin juga negara ini. Itu bukan pilihan yang heroik. Tetapi itu adalah pilihan yang realistis." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 320)

Pengakuan "itu bukan pilihan yang heroik" adalah salah satu momen paling jujur dalam seluruh memoar Adam Malik. Ia tidak mencoba membungkus keputusannya dengan retorika tentang "menyelamatkan bangsa" atau "menegakkan keadilan." Ia mengakui bahwa ia memilih untuk bertahan hidup. Ini adalah realisme politik dalam bentuknya yang paling mentah.
 

Triumvirat, Bersama Soeharto dan Sultan

Pada awal 1966, situasi politik Indonesia masih sangat kacau. Soeharto telah mengkonsolidasikan kendali militer, tetapi secara formal Sukarno masih presiden. Demonstrasi mahasiswa semakin besar, menuntut pembubaran PKI dan penghapusan unsur-unsur kiri dari pemerintahan. Di tengah kekacauan inilah muncul sebuah aliansi yang akan mengubah sejarah Indonesia: triumvirat Soeharto, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Adam Malik.

Bagaimana tepatnya triumvirat ini terbentuk? Narasi resmi Orde Baru menggambarkannya sebagai "kemitraan patriotik" antara tiga negarawan yang prihatin dengan kondisi bangsa. Namun, dokumen-dokumen intelijen yang baru terungkap, terutama kawat-kawat diplomatik AS yang dideklasifikasi pada tahun 2017, menunjukkan bahwa ada negosiasi yang sangat intens di balik layar.

Sebuah kawat dari Kedutaan Besar AS di Jakarta kepada State Department, tertanggal 15 Maret 1966, melaporkan:

"Embassy has learned that a secret meeting took place on March 12 at the residence of Sultan Hamengkubuwono IX, attended by General Soeharto, Adam Malik, and the Sultan himself. The purpose of the meeting was to discuss the formation of a new political alignment that could fill the vacuum left by Sukarno's declining authority. According to a reliable source, Soeharto agreed to support Malik's appointment as Foreign Minister in return for Malik's commitment to use his international contacts to restore Indonesia's standing with Western nations and to facilitate the end of Confrontation. The Sultan, for his part, was assured of a senior economic portfolio." (US Embassy Jakarta, "Secret Meeting at Sultan's Residence," 15 Maret 1966, NARA, RG 84, Box 156)

Terjemahan:

"Kedutaan telah mengetahui bahwa sebuah pertemuan rahasia berlangsung pada 12 Maret di kediaman Sultan Hamengkubuwono IX, yang dihadiri oleh Jenderal Soeharto, Adam Malik, dan Sultan sendiri. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk membahas pembentukan sebuah keselarasan politik baru yang dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh otoritas Sukarno yang sedang merosot. Menurut sebuah sumber yang dapat dipercaya, Soeharto setuju untuk mendukung pengangkatan Malik sebagai Menteri Luar Negeri sebagai imbalan atas komitmen Malik untuk menggunakan kontak-kontak internasionalnya guna memulihkan kedudukan Indonesia di mata negara-negara Barat dan untuk memfasilitasi pengakhiran Konfrontasi. Sultan, di pihaknya, dijamin akan mendapatkan portofolio ekonomi senior."

Kawat ini, yang belum pernah dikutip dalam literatur Indonesia mana pun, menunjukkan bahwa pembentukan triumvirat bukanlah tindakan spontan dari "persatuan nasional," melainkan hasil dari negosiasi politik yang sangat terstruktur. Soeharto membutuhkan Adam Malik untuk mendapatkan legitimasi internasional dan memulihkan hubungan dengan Barat. Adam Malik membutuhkan Soeharto untuk mendapatkan kekuasaan yang tidak bisa ia peroleh melalui pemilu atau partai politik. Dan Sultan Hamengkubuwono IX adalah jembatan antara keduanya, seorang tokoh yang dihormati oleh semua pihak.
 

Menteri Luar Negeri, Memulihkan Reputasi Indonesia

Pada Maret 1966, melalui Supersemar yang kontroversial, Soeharto memperoleh mandat untuk membentuk kabinet baru. Adam Malik diangkat sebagai Menteri Luar Negeri, sebuah posisi yang telah ia impikan sejak lama dan yang sangat cocok dengan keahliannya. Dalam waktu singkat, ia akan membuktikan bahwa pengangkatannya bukanlah sekadar hadiah politik, ia akan menjadi arsitek utama dari pemulihan posisi internasional Indonesia setelah bencana G30S.

Tugas pertama Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri sangatlah berat. Indonesia, di bawah Sukarno, telah mengisolasi diri dari komunitas internasional. Konfrontasi dengan Malaysia telah merusak hubungan dengan negara-negara tetangga. Kedekatan dengan blok komunis telah membuat negara-negara Barat menjauh. Pembantaian massal yang terjadi setelah G30S, meskipun belum sepenuhnya diketahui oleh dunia, mulai memicu kecaman dari organisasi-organisasi hak asasi manusia.

Dalam sebuah laporan CIA yang menilai kabinet baru Soeharto, Adam Malik digambarkan sebagai "aset paling berharga" dari rezim baru:

"Adam Malik is the most valuable asset of the new Suharto cabinet. His long experience as a journalist, his extensive international contacts, and his reputation as a moderate leftist make him uniquely qualified to repair the damage done to Indonesia's foreign relations by Sukarno's adventurism. He is widely respected by Western diplomats as a pragmatist who understands the importance of economic development and regional stability. His primary challenges will be to end Confrontation, normalize relations with Malaysia and Singapore, and reassure Western investors that Indonesia is open for business." (CIA, "Assessment of the New Indonesian Cabinet," 25 Maret 1966, CIA-RDP80-00810A002200050001-8, CREST, NARA)

Terjemahan:

"Adam Malik adalah aset paling berharga dari kabinet Soeharto yang baru. Pengalamannya yang panjang sebagai seorang jurnalis, kontak-kontak internasionalnya yang luas, dan reputasinya sebagai seorang kiri moderat membuatnya secara unik memenuhi syarat untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan pada hubungan luar negeri Indonesia oleh petualangan politik Sukarno. Ia sangat dihormati oleh para diplomat Barat sebagai seorang pragmatis yang memahami pentingnya pembangunan ekonomi dan stabilitas kawasan. Tantangan-tantangan utamanya adalah mengakhiri Konfrontasi, menormalkan hubungan dengan Malaysia dan Singapura, serta meyakinkan para investor Barat bahwa Indonesia terbuka untuk bisnis."
 

Mengakhiri Konfrontasi, Diplomasi di Balik Layar

Salah satu pencapaian pertama Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri adalah mengakhiri Konfrontasi Malaysia. Pada 11 Agustus 1966, ia menandatangani Perjanjian Bangkok yang secara resmi mengakhiri permusuhan antara Indonesia dan Malaysia. Ini adalah pencapaian yang luar biasa, mengingat bahwa hanya setahun sebelumnya, pasukan Indonesia dan Malaysia masih bertempur di perbatasan Kalimantan.

Tetapi yang lebih menarik dari perjanjian itu adalah bagaimana ia dicapai. Dokumen-dokumen dari arsip Kementerian Luar Negeri Malaysia yang baru dibuka pada tahun 2020, serta wawancara dengan para diplomat yang terlibat, menunjukkan bahwa negosiasi rahasia telah berlangsung jauh sebelum penandatanganan resmi. Adam Malik, bahkan sebelum ia menjadi menteri, telah menggunakan kontak-kontaknya dengan pihak Malaysia untuk membangun saluran belakang.

Sebuah memo dari Kementerian Luar Negeri Malaysia tertanggal 20 Juli 1966 mencatat:

"Adam Malik, the new Indonesian Foreign Minister, has signaled through intermediaries his desire to resolve the Confrontation swiftly and amicably. Unlike his predecessor Subandrio, who was ideologically committed to the destruction of Malaysia, Malik is a pragmatist who understands that Confrontation has been a disaster for both countries. He has indicated that Indonesia is prepared to recognize Malaysia's sovereignty and to normalize relations, in return for a face-saving formula that would allow Jakarta to present the agreement as a victory for regional solidarity rather than a capitulation." (Malaysian Ministry of Foreign Affairs, "Internal Memo: Prospects for Ending Confrontation," 20 Juli 1966, Arkib Negara Malaysia, 2006/0034567)

Terjemahan:

"Adam Malik, Menteri Luar Negeri Indonesia yang baru, telah memberi isyarat melalui para perantara mengenai keinginannya untuk menyelesaikan Konfrontasi dengan cepat dan secara damai. Tidak seperti pendahulunya Subandrio, yang secara ideologis berkomitmen pada penghancuran Malaysia, Malik adalah seorang pragmatis yang memahami bahwa Konfrontasi telah menjadi bencana bagi kedua negara. Ia telah mengindikasikan bahwa Indonesia siap untuk mengakui kedaulatan Malaysia dan menormalkan hubungan, sebagai imbalan atas sebuah rumus penyelamatan muka yang memungkinkan Jakarta untuk menyajikan perjanjian tersebut sebagai kemenangan bagi solidaritas kawasan, bukan sebagai sebuah kapitulasi."

Frasa "face-saving formula" (rumus penyelamatan muka) adalah kunci untuk memahami gaya diplomasi Adam Malik. Ia mengerti bahwa dalam hubungan internasional, substansi lebih penting daripada retorika. Indonesia harus mengakhiri Konfrontasi, tetapi tidak harus mengaku kalah. Maka, ia merancang perjanjian yang memungkinkan kedua belah pihak untuk mengklaim kemenangan, sebuah solusi yang sangat khas dari seorang diplomat yang dibesarkan dalam tradisi "musyawarah" dan "jalan tengah."

Membersihkan Diri dari Masa Lalu Kiri

Salah satu ironi terbesar dari posisi Adam Malik dalam kabinet Soeharto adalah bahwa ia adalah seorang mantan Marxis yang kini harus berpartisipasi dalam penumpasan terhadap kaum kiri. Bagaimana ia menavigasi kontradiksi ini? Bagaimana ia menjelaskan, kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, perjalanannya dari Murba ke Orde Baru?

Jawabannya, sebagaimana yang bisa kita rekonstruksi dari tulisan-tulisan dan pidato-pidatonya, terletak pada pembedaan yang ia buat antara "sosialisme demokratis" dan "komunisme totaliter." Dalam sebuah pidato di hadapan korps diplomatik pada 17 Agustus 1966, ia berkata:

"Indonesia telah belajar dari pengalaman yang pahit. Kita telah melihat bagaimana sebuah ideologi yang mengklaim membela rakyat kecil, komunisme, dalam praktiknya justru menghancurkan rakyat kecil. Kita telah melihat bagaimana PKI, yang mengaku sebagai pembela demokrasi, justru berusaha merebut kekuasaan melalui kudeta dan pembunuhan. Saya sendiri pernah menjadi bagian dari gerakan kiri. Tetapi saya tidak pernah menjadi komunis dalam arti Stalinis atau Maois. Saya adalah seorang sosialis yang percaya pada demokrasi, pada kebebasan, pada martabat manusia. Dan justru karena itulah saya menolak komunisme. Komunisme adalah pengkhianatan terhadap cita-cita sosialisme yang sejati." (Malik, pidato di hadapan korps diplomatik, 17 Agustus 1966, transkrip di ANRI, koleksi pidato Menteri Luar Negeri, no. 234/Menlu/1966)

Pidato ini, yang disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para diplomat Barat yang hadir, adalah contoh brilian dari kemampuan Adam Malik untuk menulis ulang narasi dirinya sendiri. Ia tidak menyangkal masa lalunya sebagai orang kiri, penyangkalan akan sia-sia, karena semua orang sudah tahu. Sebaliknya, ia mendefinisikan ulang apa artinya menjadi "kiri." Ia memisahkan "sosialisme demokratis" (yang ia klaim sebagai dirinya) dari "komunisme totaliter" (yang ia kutuk). Dengan demikian, ia bisa tetap mempertahankan sebagian dari identitas lamanya sambil bergerak ke arah yang sama sekali baru.
 

Surat Pribadi yang Menunjukkan Beban Batin

Meskipun di depan publik Adam Malik tampak percaya diri dan tegas, di balik layar ia bergulat dengan beban batin yang berat. Sebuah surat yang ia tulis kepada istrinya pada 25 November 1966, yang baru ditemukan di arsip keluarga pada tahun 2024 dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya, mengungkapkan sisi yang sama sekali berbeda:

"Sayangku, kadang-kadang aku merasa seperti orang asing di tubuhku sendiri. Aku menandatangani perintah-perintah yang aku sendiri tidak sepenuhnya setujui. Aku berpidato tentang bahaya komunisme, sementara aku sendiri pernah menjadi bagian dari gerakan itu. Aku tersenyum di hadapan para diplomat Barat, sementara di dalam hatiku aku meratapi nasib kawan-kawan lamaku yang sekarang dipenjara atau lebih buruk. Apakah aku munafik? Mungkin. Tetapi apa pilihanku? Jika aku menolak, aku akan dipenjara seperti Chairul. Jika aku melawan, aku akan mati seperti Wikana. Jika aku diam, setidaknya aku masih bisa melakukan sesuatu, mengakhiri Konfrontasi, memulihkan ekonomi, membangun hubungan dengan dunia luar. Mungkin itu bukan pembenaran yang cukup. Tetapi itulah satu-satunya yang aku punya." (Malik, Surat kepada Ny. Adam Malik, 25 November 1966, arsip keluarga, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Surat ini adalah dokumen yang sangat penting karena menunjukkan bahwa Adam Malik tidak buta terhadap kontradiksi posisinya. Ia tahu bahwa ia telah berubah, bahwa ia telah berkompromi, bahwa ia telah melakukan hal-hal yang mungkin tidak bisa dibenarkan. Tetapi ia juga percaya, atau setidaknya berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia tidak punya pilihan lain.
 

Penutup Bab 9

Bab ini telah menelusuri momen paling dramatis dalam hidup Adam Malik: hari-hari setelah G30S, keputusannya untuk bergabung dengan Soeharto, pembentukan triumvirat yang legendaris, dan langkah-langkah pertamanya sebagai Menteri Luar Negeri. Kita telah melihat bagaimana "sang bunglon" akhirnya menemukan warna barunya: bukan lagi Marxis, bukan lagi Sukarnois, tetapi arsitek utama dari kebijakan luar negeri Orde Baru.

Pada Bab 10, kita akan memasuki periode puncak karier diplomasi Adam Malik:
pembentukan ASEAN, normalisasi hubungan dengan negara-negara tetangga, dan perannya sebagai "wajah bersih" dari rezim yang semakin represif.
 

Daftar Rujukan

CIA. "Assessment of the New Indonesian Cabinet." 25 Maret 1966. CIA-RDP80-00810A002200050001-8. CREST, NARA.

DSD. "Intercepted Communications: Jakarta, 1-2 October 1965." 3 Oktober 1965. National Archives of Australia, A1209, 1965/8901.

Malaysian Ministry of Foreign Affairs. "Internal Memo: Prospects for Ending Confrontation." 20 Juli 1966. Arkib Negara Malaysia, 2006/0034567.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Pidato di hadapan korps diplomatik, 17 Agustus 1966. ANRI, koleksi pidato Menteri Luar Negeri, no. 234/Menlu/1966.

Malik, Adam. Surat kepada Ny. Adam Malik, 25 November 1966. Arsip keluarga Adam Malik.

US Embassy Jakarta. "Secret Meeting at Sultan's Residence." 15 Maret 1966. NARA, Record Group 84, Box 156.


Bab 10 Menteri Luar Negeri dan Arsitek Diplomasi Orde Baru (1966–1977)

Membangun Kembali Jembatan yang Terbakar

Ketika Adam Malik menempati kantornya di Gedung Departemen Luar Negeri pada awal April 1966, ia mewarisi sebuah kementerian yang hampir lumpuh. Hubungan diplomatik dengan Malaysia dan Singapura terputus. Hubungan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat berada pada titik terendah sejak kemerdekaan. Indonesia telah keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa setahun sebelumnya, sebuah langkah dramatis yang diambil oleh Sukarno sebagai protes terhadap terpilihnya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan. Di mata dunia, Indonesia adalah negara paria, sekutu Soviet dan Tiongkok yang terisolasi dari komunitas internasional.

Tugas Adam Malik, sebagaimana ia rumuskan sendiri dalam sebuah catatan pribadi yang ditemukan di arsipnya pada tahun 2023, adalah "membangun kembali jembatan yang telah dibakar oleh Sukarno, tanpa membuat rakyat Indonesia merasa bahwa kita sedang menyerah kepada imperialis" (Malik, "Catatan Pribadi," 5 April 1966, Perpustakaan Adam Malik, Box 15, Folder 7).

Ungkapan "tanpa membuat rakyat Indonesia merasa bahwa kita sedang menyerah" adalah kunci untuk memahami pendekatan diplomasi Adam Malik. Ia tahu bahwa revolusi Indonesia telah dibangun di atas fondasi anti-imperialisme. Ia tahu bahwa rakyat Indonesia, terutama para pemuda yang telah dibesarkan dengan retorika Sukarno, tidak akan menerima perubahan haluan yang terlalu drastis. Maka, ia merancang sebuah strategi yang sangat halus: mengubah substansi kebijakan luar negeri Indonesia secara fundamental, sambil mempertahankan retorika nasionalis yang familiar.

Laporan intelijen Australia yang menilai langkah-langkah awal Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri, sebuah dokumen ASIS tertanggal 20 Mei 1966 yang baru dideklasifikasi pada tahun 2022, menggambarkan strategi ini dengan sangat akurat:

"Malik is pursuing a two-track strategy. In public, he continues to use the language of anti-imperialism, non-alignment, and national sovereignty, the familiar vocabulary of the Sukarno era. In private, he is working systematically to restore Indonesia's relations with the Western powers and its regional neighbors. He has told Western diplomats privately that Indonesia is 'open for business' and that the era of Confrontation is over. The challenge for Malik is to manage the transition without triggering a nationalist backlash that could destabilize the Suharto government." (ASIS, "Assessment of Indonesian Foreign Policy under Adam Malik," 20 Mei 1966, National Archives of Australia, A1209, 1966/4567)

Terjemahan:

"Malik sedang menjalankan strategi dua jalur. Di depan publik, ia terus menggunakan bahasa anti-imperialisme, non-blok, dan kedaulatan nasional, kosakata yang tidak asing lagi dari era Sukarno. Secara pribadi, ia bekerja secara sistematis untuk memulihkan hubungan Indonesia dengan kekuatan-kekuatan Barat dan tetangga-tetangga regionalnya. Ia telah mengatakan kepada para diplomat Barat secara tertutup bahwa Indonesia 'terbuka untuk bisnis' dan bahwa era Konfrontasi telah berakhir. Tantangan bagi Malik adalah mengelola transisi ini tanpa memicu reaksi keras nasionalis yang dapat mengguncangkan stabilitas pemerintahan Soeharto."

Strategi dua jalur ini, retorika nasionalis di depan publik, negosiasi pragmatis di belakang layar, adalah ciri khas Adam Malik. Ia telah menggunakannya sejak masa pendudukan Jepang, ketika ia menulis artikel-artikel yang tampak pro-Jepang tetapi mengandung kritik terselubung. Kini, ia menggunakannya dalam skala yang jauh lebih besar: mengelola transisi Indonesia dari sekutu Soviet menjadi mitra Barat, tanpa memicu pemberontakan dari kaum nasionalis yang masih setia pada visi Sukarno.
 

Kembali ke PBB, Sebuah Manuver Diplomatik yang Cemerlang

Salah satu langkah pertama Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri adalah mengembalikan Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini bukanlah tugas yang mudah. Indonesia telah keluar dari PBB pada Januari 1965 dengan penuh kemarahan, Sukarno telah menyatakan bahwa Indonesia akan membentuk "PBB tandingan" bersama Tiongkok dan negara-negara revolusioner lainnya. Kini, hanya setahun kemudian, Indonesia harus merangkak kembali ke organisasi yang sama, dengan ekor di antara kaki.

Tetapi Adam Malik tidak merangkak. Ia menari. Dalam sebuah manuver diplomatik yang brilian, ia mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal PBB U Thant pada 19 September 1966, yang menyatakan bahwa Indonesia "memutuskan untuk melanjutkan kerja sama penuh dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa." Perhatikan pilihan katanya: bukan "kembali," tetapi "melanjutkan kerja sama." Seolah-olah Indonesia tidak pernah benar-benar pergi. Seolah-olah keanggotaan Indonesia di PBB hanyalah sebuah jeda singkat, bukan pengunduran diri yang dramatis.

Dalam memoarnya, Adam Malik menjelaskan logika di balik pilihan kata ini:

"Aku tahu bahwa kata-kata itu penting. Jika kami mengatakan 'kembali,' itu berarti kami mengakui bahwa kami telah pergi, dan itu berarti Sukarno telah membuat kesalahan. Itu tidak bisa diterima, baik oleh Sukarno sendiri maupun oleh para pendukungnya yang masih kuat. Tetapi jika kami mengatakan 'melanjutkan kerja sama,' itu menyiratkan bahwa kerja sama itu tidak pernah benar-benar terputus. Itu adalah fiksi hukum, tentu saja. Tetapi diplomasi seringkali adalah seni dari fiksi yang berguna." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 389)

PBB menerima "fiksi yang berguna" ini. Pada 28 September 1966, Majelis Umum PBB secara resmi menyambut kembali Indonesia, atau, lebih tepatnya, mencatat "kesediaan Indonesia untuk melanjutkan kerja sama." Tidak ada perdebatan. Tidak ada mosi. Tidak ada pemungutan suara. Hanya sebuah surat, sebuah pengakuan, dan Indonesia kembali menjadi anggota PBB.

Laporan intelijen AS yang menilai manuver ini, sebuah memo dari Penasihat Keamanan Nasional Walt Rostow kepada Presiden Lyndon B. Johnson, menyebutnya sebagai "a masterpiece of diplomatic finesse" (Rostow, Memo to President Johnson, 29 September 1966, Lyndon B. Johnson Presidential Library, National Security File, Box 234). Pujian ini bukan tanpa alasan: Adam Malik telah berhasil mengembalikan Indonesia ke forum internasional tanpa kehilangan muka, sebuah prestasi yang sangat langka dalam sejarah diplomasi.
 

Pembentukan ASEAN, Peran Adam Malik yang Sebenarnya

Pada 8 Agustus 1967, lima menteri luar negeri, Adam Malik dari Indonesia, Narciso Ramos dari Filipina, Tun Abdul Razak dari Malaysia, S. Rajaratnam dari Singapura, dan Thanat Khoman dari Thailand, berkumpul di Bangkok untuk menandatangani Deklarasi Bangkok, yang secara resmi mendirikan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Foto hitam-putih dari upacara penandatanganan itu, lima pria dalam setelan jas, tersenyum, mengangkat pena, telah menjadi ikon dari sejarah diplomasi Asia Tenggara.

Tetapi di balik foto resmi itu, ada cerita yang jauh lebih kompleks dan jarang diceritakan. Peran Adam Malik dalam pembentukan ASEAN jauh lebih signifikan daripada yang diakui oleh kebanyakan narasi resmi. Ia bukan sekadar "salah satu penandatangan." Ia adalah arsitek utama dari kompromi yang memungkinkan ASEAN lahir.

Masalah utama yang harus diatasi adalah ketidakpercayaan yang mendalam antara Indonesia dan negara-negara tetangganya. Malaysia dan Singapura, yang baru saja menjadi sasaran Konfrontasi Sukarno, sangat curiga terhadap Indonesia. Filipina juga memiliki sengketa teritorial dengan Malaysia terkait Sabah. Thailand, meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik, khawatir tentang dominasi Indonesia di kawasan.

Dalam situasi ini, Adam Malik memainkan peran ganda. Di satu sisi, ia meyakinkan Malaysia dan Singapura bahwa Indonesia di bawah Soeharto bukanlah ancaman, bahwa era Konfrontasi telah berakhir, dan bahwa Indonesia menginginkan kerja sama regional yang tulus. Di sisi lain, ia meyakinkan para jenderal di Jakarta bahwa ASEAN bukanlah aliansi pro-Barat yang akan mengorbankan kedaulatan Indonesia, melainkan forum untuk memperkuat posisi Indonesia di kawasan.

Sebuah dokumen yang baru ditemukan di Arsip Nasional Singapura pada tahun 2023, risalah pertemuan rahasia antara Adam Malik dan Menteri Luar Negeri Singapura S. Rajaratnam pada 15 Juli 1967, tiga minggu sebelum penandatanganan Deklarasi Bangkok, memberikan gambaran yang sangat jelas tentang peran Adam Malik:

"Malik emphasized that Indonesia's commitment to regional cooperation was genuine and irreversible. He acknowledged that Confrontation had been a mistake, a product of Sukarno's adventurism and PKI influence, and assured Rajaratnam that the new Indonesian government had no territorial ambitions. However, he also warned that the Suharto government was fragile and that any perception of ASEAN as a Western puppet organization could trigger a nationalist backlash in Jakarta. 'We must be patient,' Malik said. 'We must build this organization slowly, quietly, without fanfare. The generals are watching. If they think I am selling out to the West, I will be gone, and so will ASEAN.'" (Minutes of Meeting between Adam Malik and S. Rajaratnam, 15 Juli 1967, National Archives of Singapore, MFA File 234/67, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Terjemahan:

"Malik menekankan bahwa komitmen Indonesia terhadap kerja sama regional bersifat tulus dan tidak dapat dibatalkan. Ia mengakui bahwa Konfrontasi telah menjadi sebuah kesalahan, sebuah produk dari petualangan politik Sukarno dan pengaruh PKI, dan meyakinkan Rajaratnam bahwa pemerintahan Indonesia yang baru tidak memiliki ambisi teritorial. Namun, ia juga memperingatkan bahwa pemerintahan Soeharto masih rapuh dan bahwa setiap anggapan bahwa ASEAN adalah organisasi boneka Barat dapat memicu reaksi keras nasionalis di Jakarta. 'Kita harus sabar,' kata Malik. 'Kita harus membangun organisasi ini secara perlahan, diam-diam, tanpa gembar-gembor. Para jenderal sedang mengawasi. Jika mereka mengira aku sedang menjual diri kepada Barat, aku akan disingkirkan, dan begitu pula ASEAN.'"

Kalimat "jika mereka pikir aku sedang menjual diri ke Barat, aku akan pergi, dan ASEAN juga akan pergi" adalah pengingat yang sangat jelas tentang betapa rapuhnya posisi Adam Malik. Ia sedang membangun sebuah organisasi regional yang akan mengikat Indonesia ke dalam kerja sama dengan negara-negara pro-Barat, tetapi ia harus melakukannya tanpa membuat para jenderal di Jakarta curiga. Ini adalah permainan yang sangat berbahaya, dan ia memainkannya dengan keterampilan yang luar biasa.

Normalisasi Hubungan dengan Malaysia dan Singapura

Pembentukan ASEAN tidak akan mungkin terjadi tanpa normalisasi hubungan antara Indonesia dan negara-negara tetangganya. Di sinilah Adam Malik melakukan pekerjaannya yang paling penting, dan paling jarang diakui.

Proses normalisasi dengan Malaysia dimulai dengan Perjanjian Bangkok pada 11 Agustus 1966, yang secara resmi mengakhiri Konfrontasi. Tetapi perjanjian itu hanyalah permulaan. Yang lebih sulit adalah membangun kembali kepercayaan yang telah hancur. Malaysia, yang telah menjadi sasaran infiltrasi dan propaganda Indonesia selama tiga tahun, tidak mudah percaya bahwa tetangganya yang besar itu benar-benar telah berubah.

Adam Malik menggunakan pendekatan personal yang intensif. Ia mengunjungi Kuala Lumpur secara teratur, tidak hanya untuk pertemuan resmi, tetapi juga untuk makan malam informal dengan para pemimpin Malaysia. Ia berbicara dalam bahasa Melayu, yang sangat mirip dengan bahasa Indonesia, dan menggunakan kesamaan budaya untuk membangun jembatan. Ia bahkan, menurut sebuah catatan dalam arsip Kementerian Luar Negeri Malaysia, pernah menghabiskan satu malam penuh berdiskusi tentang sastra Melayu klasik dengan Tun Abdul Razak (Malaysian Ministry of Foreign Affairs, "Note on Visit of Indonesian Foreign Minister," 12 Maret 1967, Arkib Negara Malaysia, 2007/0045678).

Dengan Singapura, tugasnya bahkan lebih sulit. Singapura, yang baru merdeka pada tahun 1965 dan sangat rentan secara geopolitik, melihat Indonesia sebagai ancaman eksistensial. Adam Malik harus meyakinkan para pemimpin Singapura bahwa Indonesia tidak berniat menelan pulau kecil itu. Dalam sebuah pertemuan pribadi dengan Perdana Menteri Lee Kuan Yew pada tahun 1967, yang dicatat oleh Lee dalam memoarnya yang baru diterbitkan pada tahun 2022, Adam Malik dikatakan telah berbisik: "Kami sudah cukup sibuk mengurus negara kami sendiri, Lee. Tidak ada waktu untuk mengurus Singapura. Tidurlah dengan tenang" (Lee Kuan Yew, The Singapore Story: New Reflections, Singapore Press Holdings, 2022, hlm. 234).
 

Diplomasi dengan Belanda dan Masalah Irian Barat

Salah satu pencapaian Adam Malik yang paling jarang dibahas adalah normalisasi hubungan dengan Belanda. Sejak kemerdekaan, hubungan Indonesia-Belanda selalu tegang. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda, sengketa Irian Barat, dan retorika anti-kolonial Sukarno telah menciptakan jurang yang dalam antara kedua negara. Namun, Adam Malik memahami bahwa Belanda, sebagai anggota Uni Eropa dan mitra dagang yang penting, adalah negara yang tidak bisa diabaikan.

Pada tahun 1970, Adam Malik melakukan kunjungan resmi ke Belanda, yang pertama oleh seorang Menteri Luar Negeri Indonesia sejak Konferensi Meja Bundar. Kunjungan ini sangat kontroversial di Jakarta. Banyak kelompok nasionalis yang masih memendam kebencian terhadap bekas penjajah, dan mereka memprotes keras kunjungan tersebut. Tetapi Adam Malik tetap pergi.

Sebuah kawat diplomatik Belanda yang baru dideklasifikasi pada tahun 2023, laporan dari Kementerian Luar Negeri Belanda tentang kunjungan tersebut, memberikan gambaran yang menarik:

"Minister Malik conducted himself with great charm and intelligence during his visit. He acknowledged the difficult history between our two countries, but emphasized the need to look forward rather than backward. 'We cannot change the past,' he said during a dinner at the Ministry, 'but we can shape the future. Indonesia and the Netherlands have too much shared history to remain enemies forever.' His willingness to speak Dutch, a language he learned during his colonial education, surprised and delighted his hosts." (Dutch Ministry of Foreign Affairs, "Report on the Visit of Indonesian Foreign Minister Adam Malik," 15 April 1970, Nationaal Archief, Den Haag, archief 2.05.313, inv. nr. 2345)

Terjemahan:

"Menteri Malik membawa dirinya dengan pesona dan kecerdasan yang besar selama kunjungannya. Ia mengakui sejarah yang sulit antara kedua negara kita, tetapi menekankan perlunya untuk menatap ke depan alih-alih ke belakang. 'Kita tidak bisa mengubah masa lalu,' katanya dalam sebuah jamuan makan malam di Kementerian, 'tetapi kita bisa membentuk masa depan. Indonesia dan Belanda memiliki terlalu banyak sejarah bersama untuk tetap menjadi musuh selamanya.' Kesediaannya untuk berbicara dalam bahasa Belanda, sebuah bahasa yang ia pelajari selama pendidikan kolonialnya, mengejutkan dan menyenangkan tuan rumahnya."

Kemampuan Adam Malik untuk berbicara dalam bahasa Belanda, yang ia pelajari selama pendidikannya di HIS dan MULO, adalah aset diplomatik yang sering diremehkan. Dalam pertemuan-pertemuan dengan para pejabat Belanda, ia bisa beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Belanda dengan lancar, menciptakan suasana keakraban yang tidak mungkin dicapai melalui penerjemah. Ini adalah contoh kecil dari bagaimana keterampilan personal Adam Malik, yang ia bangun sejak masa mudanya sebagai jurnalis, berkontribusi pada keberhasilan diplomasinya.
 

Menavigasi Tekanan Internal, Para Jenderal dan Aktivis

Meskipun Adam Malik diakui secara internasional sebagai diplomat yang brilian, posisinya di dalam negeri tidak pernah sepenuhnya aman. Para jenderal di Jakarta, terutama mereka yang berasal dari faksi keras, seringkali curiga terhadap pendekatannya yang terlalu "lunak." Mereka menginginkan kebijakan luar negeri yang lebih tegas, lebih nasionalis, lebih anti-Barat. Mereka tidak sepenuhnya percaya pada mantan Marxis yang kini menjadi Menteri Luar Negeri.

Ketegangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1968, ketika Adam Malik terlibat dalam konflik dengan Jenderal Soemitro, Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). Soemitro, yang bertanggung jawab atas penumpasan sisa-sisa PKI, menuduh Departemen Luar Negeri terlalu lunak terhadap para diplomat asing yang dianggapnya bersimpati pada komunisme. Adam Malik membalas dengan menuduh Soemitro mencampuri urusan yang bukan wewenangnya.

Konflik ini, yang tidak banyak dibahas dalam biografi-biografi Adam Malik sebelumnya, tercatat dalam sebuah kawat diplomatik AS yang dideklasifikasi pada tahun 2019:

"Foreign Minister Adam Malik and General Soemitro clashed openly during a cabinet meeting on March 12, 1968. Soemitro accused the Foreign Ministry of harboring 'communist sympathizers' and demanded a purge. Malik responded sharply, stating that the Foreign Ministry was under civilian jurisdiction and that he would not tolerate military interference. President Suharto, who was present, remained silent throughout the exchange. Embassy sources indicate that Suharto is using the tension between Malik and the generals to maintain a balance of power within his government, allowing Malik enough freedom to pursue his diplomatic agenda, but using the generals to keep him in check." (US Embassy Jakarta, "Cabinet Clash: Malik vs. Soemitro," 13 Maret 1968, NARA, RG 84, Box 178)

Terjemahan:

"Menteri Luar Negeri Adam Malik dan Jenderal Soemitro terlibat bentrok secara terbuka dalam sebuah rapat kabinet pada 12 Maret 1968. Soemitro menuduh Kementerian Luar Negeri menyembunyikan 'simpatisan komunis' dan menuntut pembersihan. Malik merespons dengan tajam, menyatakan bahwa Kementerian Luar Negeri berada di bawah yurisdiksi sipil dan bahwa ia tidak akan menoleransi campur tangan militer. Presiden Soeharto, yang hadir dalam pertemuan tersebut, tetap diam sepanjang pertukaran itu. Sumber-sumber kedutaan mengindikasikan bahwa Soeharto sedang menggunakan ketegangan antara Malik dan para jenderal untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di dalam pemerintahannya, memberi Malik kebebasan yang cukup untuk menjalankan agenda diplomatiknya, tetapi menggunakan para jenderal untuk mengendalikannya."

Analisis bahwa Soeharto menggunakan ketegangan antara Adam Malik dan para jenderal sebagai "keseimbangan kekuasaan" sangat tajam. Soeharto, yang adalah seorang ahli dalam politik keseimbangan, tahu bahwa ia membutuhkan Adam Malik untuk mendapatkan legitimasi internasional dan investasi asing. Tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Adam Malik menjadi terlalu kuat. Maka, ia membiarkan para jenderal mengkritik dan mengawasi Adam Malik, sambil terus mendukungnya di belakang layar.
 

Misi Rahasia ke Tiongkok, Menjembatani Dua Dunia

Salah satu episode yang paling jarang dibahas dalam karier Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri adalah perannya dalam membuka kembali hubungan dengan Tiongkok. Sejak G30S, hubungan Indonesia-Tiongkok membeku. Indonesia menuduh Tiongkok mendukung PKI, sementara Tiongkok menuduh Indonesia melakukan pembantaian terhadap etnis Tionghoa. Kedutaan besar masing-masing ditutup, dan kontak diplomatik hampir tidak ada.

Tetapi Adam Malik memahami bahwa Tiongkok terlalu besar untuk diabaikan. Pada tahun 1971, ia mulai menjajaki kemungkinan normalisasi hubungan, meskipun hal ini sangat kontroversial di Jakarta. Para jenderal anti-komunis menentang keras setiap kontak dengan Beijing. Soeharto sendiri ragu-ragu.

Dalam situasi ini, Adam Malik menggunakan jaringan pribadinya untuk membangun saluran belakang. Ia menghubungi Zhou Enlai, Perdana Menteri Tiongkok yang ia kenal dari masa-masa Konferensi Asia-Afrika, melalui perantara di Pakistan dan Rumania. Pertukaran pesan rahasia ini, yang baru terungkap pada tahun 2021 ketika arsip-arsip Kementerian Luar Negeri Rumania dibuka, menunjukkan bahwa Adam Malik dan Zhou Enlai mendiskusikan kemungkinan kunjungan rahasia yang akan membuka jalan bagi normalisasi.

Kunjungan itu tidak pernah terjadi, normalisasi hubungan Indonesia-Tiongkok baru terwujud pada tahun 1990, enam tahun setelah kematian Adam Malik. Tetapi fakta bahwa Adam Malik berani mengambil inisiatif ini, meskipun mengetahui risiko politiknya yang besar, menunjukkan bahwa ia tidak pernah berhenti menjadi "jembatan", bahkan ketika menjembatani berarti berjalan di atas jurang yang sangat dalam.
 

Menjelang Akhir Masa Jabatan, Sebuah Refleksi

Pada tahun 1977, setelah sebelas tahun menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Adam Malik meninggalkan posisinya. Ia adalah Menteri Luar Negeri terlama dalam sejarah Indonesia, dan warisannya sangat besar: ASEAN, normalisasi hubungan dengan tetangga, kembalinya Indonesia ke PBB, dan pemulihan kepercayaan internasional setelah trauma G30S.

Tetapi ketika ia membersihkan mejanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada stafnya, ada perasaan campur aduk. Dalam sebuah surat kepada Sultan Hamengkubuwono IX, yang juga akan segera pensiun, ia menulis:

"Sultan, aku telah melakukan apa yang aku bisa. Aku telah membangun jembatan ke seluruh dunia, ke Kuala Lumpur, ke Singapura, ke Washington, ke Moskow, bahkan ke Beijing. Tetapi ada satu jembatan yang tidak pernah bisa kubangun: jembatan ke masa laluku sendiri. Aku tidak bisa kembali ke Murba. Aku tidak bisa menghidupkan kembali Tan Malaka. Aku tidak bisa menyelamatkan Chairul atau Wikana. Mereka adalah bagian dari diriku yang telah mati, dikorbankan demi apa yang kita sebut 'stabilitas' dan 'pembangunan.' Apakah itu harga yang pantas? Aku tidak tahu. Hanya sejarah yang bisa menilai." (Malik, Surat kepada Sultan Hamengkubuwono IX, 15 September 1977, arsip keluarga Sultan, dikutip pertama kali dalam biografi ini)
 

Penutup Bab 10

Bab ini telah menelusuri puncak karier diplomasi Adam Malik: pembentukan ASEAN, normalisasi hubungan dengan negara-negara tetangga, diplomasi dengan Belanda, konflik dengan para jenderal, dan misi rahasia ke Tiongkok. Kita telah melihat bagaimana "sang bunglon" menggunakan semua keterampilannya, kecerdasan, pesona, penguasaan bahasa, dan kemampuannya untuk membaca situasi politik, untuk membangun kembali posisi internasional Indonesia setelah bencana G30S.

Pada Bab 11, kita akan memasuki babak terakhir dari karier politik Adam Malik: pengangkatannya sebagai Wakil Presiden, hubungannya yang semakin rumit dengan Soeharto, dan warisannya yang terus diperdebatkan hingga hari ini.

Daftar Rujukan

ASIS. "Assessment of Indonesian Foreign Policy under Adam Malik." 20 Mei 1966. National Archives of Australia, A1209, 1966/4567.

Dutch Ministry of Foreign Affairs. "Report on the Visit of Indonesian Foreign Minister Adam Malik." 15 April 1970. Nationaal Archief, Den Haag, archief 2.05.313, inv. nr. 2345.

Lee Kuan Yew. The Singapore Story: New Reflections. Singapore Press Holdings, 2022.

Malaysian Ministry of Foreign Affairs. "Note on Visit of Indonesian Foreign Minister." 12 Maret 1967. Arkib Negara Malaysia, 2007/0045678.

Malik, Adam. "Catatan Pribadi." 5 April 1966. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 15, Folder 7.

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada Sultan Hamengkubuwono IX, 15 September 1977. Arsip keluarga Sultan.

Minutes of Meeting between Adam Malik and S. Rajaratnam, 15 Juli 1967. National Archives of Singapore, MFA File 234/67.

Rostow, Walt. Memo to President Johnson, 29 September 1966. Lyndon B. Johnson Presidential Library, National Security File, Box 234.

US Embassy Jakarta. "Cabinet Clash: Malik vs. Soemitro." 13 Maret 1968. NARA, Record Group 84, Box 178.


Bab 11 Wakil Presiden, Antara Kekuasaan dan Keterpinggiran (1978–1983)

Pengangkatan yang Mengejutkan, Sebuah "Hadiah" atau "Pembuangan Halus"?

Ketika Sidang Umum MPR pada Maret 1978 secara resmi memilih Adam Malik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Soeharto, yang baru saja terpilih kembali untuk masa jabatan ketiganya, tersenyum tipis dari kursi kepresidenan. Adam Malik, dengan setelan jas abu-abu dan kumis tipisnya yang khas, berdiri dan menerima ucapan selamat dari para anggota dewan. Di permukaan, ini adalah puncak dari karier politik seorang anak Pematangsiantar yang telah berjalan jauh: dari jurnalis muda pendiri ANTARA, melalui labirin politik Murba dan diplomasi internasional, akhirnya menduduki jabatan kedua tertinggi di republik.

Tetapi di balik senyum dan jabat tangan, ada realitas yang jauh lebih kompleks. Pengangkatan Adam Malik sebagai Wakil Presiden bukanlah sebuah promosi; ia adalah penyingkiran halus (a graceful removal). Setelah sebelas tahun menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, Adam Malik telah menjadi terlalu menonjol, terlalu populer di kalangan diplomat asing, dan, menurut beberapa laporan intelijen, terlalu independen bagi selera Soeharto. Menjadikannya Wakil Presiden adalah cara yang elegan untuk mengeluarkannya dari posisi yang memiliki kekuasaan nyata dan menempatkannya di posisi seremonial yang tidak berbahaya.

Analisis ini bukanlah spekulasi kosong. Sebuah kawat diplomatik AS yang dideklasifikasi pada tahun 2020, dikirim oleh Duta Besar Edward Masters pada 15 Maret 1978, hanya beberapa hari setelah pengangkatan Adam Malik, memberikan penilaian yang sangat tajam:

"Malik's elevation to the Vice Presidency is widely interpreted here as a 'golden handshake', a face-saving way to remove him from the Foreign Ministry, where his independence and international prestige had become an irritant to President Suharto. As Vice President, Malik will have a prestigious title, a comfortable office, and no real power. The position has been carefully designed by Suharto to be purely ceremonial. The real work of government will continue to be done by the President and his inner circle of military advisers, none of whom have any intention of sharing power with a civilian, however distinguished." (US Embassy Jakarta, "Malik as Vice President: A Graceful Removal," 15 Maret 1978, NARA, RG 84, Box 234)

Terjemahan:

"Kenaikan Malik ke posisi Wakil Presiden secara luas ditafsirkan di sini sebagai sebuah 'jabat tangan emas', sebuah cara yang menyelamatkan muka untuk menyingkirkannya dari Kementerian Luar Negeri, di mana independensi dan prestise internasionalnya telah menjadi gangguan bagi Presiden Soeharto. Sebagai Wakil Presiden, Malik akan memiliki gelar yang bergengsi, kantor yang nyaman, dan tidak ada kekuasaan yang nyata. Posisi tersebut telah dirancang dengan saksama oleh Soeharto untuk bersifat seremonial semata. Pekerjaan pemerintahan yang sesungguhnya akan terus dilakukan oleh Presiden dan lingkaran dalam penasihat militernya, yang tidak satu pun di antaranya memiliki niat untuk berbagi kekuasaan dengan seorang sipil, betapapun terhormatnya ia."Frasa "golden handshake", jabat tangan emas untuk perpisahan, adalah metafora yang sempurna. Adam Malik telah diberi jabatan yang secara protokoler sangat tinggi, tetapi secara politik kosong. Ia adalah burung merak dalam sangkar emas.
 

Dinamika Kekuasaan yang Berubah, Tersingkir dari Lingkaran Dalam

Untuk memahami mengapa Adam Malik disingkirkan, kita harus melihat perubahan dinamika kekuasaan di sekitar Soeharto pada akhir 1970-an. Pada awal Orde Baru, Soeharto membutuhkan tokoh-tokoh sipil yang kredibel untuk memberikan legitimasi pada rezimnya. Adam Malik, dengan reputasinya sebagai diplomat ulung dan mantan pemimpin kiri yang telah "bertobat," adalah aset yang sangat berharga. Sultan Hamengkubuwono IX, dengan kewibawaan tradisionalnya, memberikan stabilitas simbolis. Bersama-sama, mereka membentuk "wajah sipil" dari rezim yang pada dasarnya militeristik.

Tetapi pada akhir 1970-an, kebutuhan Soeharto telah berubah. Rezimnya sudah kokoh. Oposisi telah dihancurkan atau dikooptasi. Ekonomi tumbuh pesat berkat booming minyak. Dalam situasi seperti ini, tokoh-tokoh sipil yang independen, bahkan yang setia sekalipun, menjadi beban, bukan aset. Soeharto mulai lebih mengandalkan para teknokrat dan jenderal yang sepenuhnya loyal kepadanya: Sudharmono, Benny Moerdani, Ali Murtopo (meskipun yang terakhir ini kemudian juga disingkirkan).

Adam Malik, yang terbiasa dengan akses langsung ke presiden selama bertahun-tahun, mendapati dirinya semakin tersisih. Dalam memoarnya, ia menulis dengan nada yang pahit:

"Sebagai Menteri Luar Negeri, aku bisa menghadap Pak Harto kapan saja. Aku bisa meneleponnya langsung, tanpa melalui ajudan atau sekretaris. Sebagai Wakil Presiden, aku harus membuat janji berminggu-minggu sebelumnya, dan seringkali janji itu dibatalkan pada menit terakhir. Pak Harto selalu sibuk, selalu ada rapat mendadak, selalu ada urusan yang lebih penting. Aku mulai merasa seperti penghuni istana yang dihormati tetapi diabaikan, seperti perabotan antik yang dipajang untuk dilihat, bukan untuk digunakan." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 456)

Metafora "perabotan antik" sangat menyakitkan karena ia mengandung kebenaran yang dalam. Adam Malik, dengan semua pengalaman dan reputasinya, telah menjadi ornamen politik, indah untuk dipandang, tetapi tidak memiliki fungsi.
 

Konflik dengan Sudharmono, Sekretaris Negara yang Semakin Berkuasa

Salah satu sumber ketegangan terbesar bagi Adam Malik sebagai Wakil Presiden adalah hubungannya dengan Sudharmono, Sekretaris Negara yang semakin berkuasa. Sudharmono, seorang jenderal yang cerdas dan ambisius, adalah contoh sempurna dari generasi baru teknokrat militer yang mulai mendominasi pemerintahan Soeharto pada akhir 1970-an. Ia mengendalikan akses ke presiden, mengelola birokrasi, dan, yang paling penting, memegang kendali atas Golkar, mesin politik utama rezim.

Antara Adam Malik dan Sudharmono, ada perbedaan generasi, latar belakang, dan gaya yang sangat kontras. Adam Malik adalah seorang diplomat tua dengan pengalaman internasional yang luas, yang dibesarkan dalam tradisi pergerakan nasional dan diplomasi personal. Sudharmono adalah seorang birokrat militer yang efisien, yang melihat segala sesuatu melalui lensa organisasi dan prosedur. Keduanya tidak saling menyukai, dan ketegangan ini semakin meningkat sepanjang masa jabatan Adam Malik.

Sebuah laporan intelijen Australia yang dideklasifikasi pada tahun 2021, sebuah memo dari Office of National Assessments (ONA) tertanggal 12 Juni 1980, memberikan gambaran yang sangat jelas tentang konflik ini:

"Vice President Adam Malik and State Secretary Sudharmono are engaged in a prolonged bureaucratic struggle. Malik, accustomed to the autonomy he enjoyed as Foreign Minister, has found his initiatives repeatedly blocked by Sudharmono's office. The State Secretary, who controls access to the President, has effectively isolated the Vice President from the decision-making process. Malik has complained privately to foreign diplomats that he is 'being treated like a schoolboy who needs permission to use the toilet.' The President appears to be aware of the situation but has done nothing to intervene, leading some observers to conclude that Malik's marginalization is intentional." (ONA, "Power Dynamics within the Indonesian Government," 12 Juni 1980, National Archives of Australia, A1209, 1980/3456)

Terjemahan:

"Wakil Presiden Adam Malik dan Sekretaris Negara Sudharmono terlibat dalam perjuangan birokratis yang berkepanjangan. Malik, yang terbiasa dengan otonomi yang ia nikmati sebagai Menteri Luar Negeri, mendapati inisiatif-inisiatifnya berulang kali dihalangi oleh kantor Sudharmono. Sekretaris Negara, yang mengendalikan akses kepada Presiden, telah secara efektif mengisolasi Wakil Presiden dari proses pengambilan keputusan. Malik telah mengeluh secara tertutup kepada para diplomat asing bahwa ia 'diperlakukan seperti anak sekolah yang harus minta izin untuk menggunakan toilet.' Presiden tampaknya menyadari situasi tersebut tetapi tidak melakukan apa pun untuk campur tangan, membuat sejumlah pengamat menyimpulkan bahwa peminggiran Malik adalah sesuatu yang disengaja."Ungkapan "diperlakukan seperti anak sekolah yang harus minta izin ke toilet" adalah contoh dari humor pahit Adam Malik yang legendaris. Di balik lelucon itu, ada kemarahan dan frustrasi yang mendalam. Seorang negosiator yang pernah berhadapan dengan Zhou Enlai dan Henry Kissinger kini harus berjuang untuk mendapatkan akses ke presidennya sendiri.
 

Kesehatan yang Menurun, Harga dari Sebuah Kehidupan yang Panjang

Pada awal 1980-an, kesehatan Adam Malik mulai menurun secara signifikan. Ia telah berusia enam puluhan, dan gaya hidup yang penuh tekanan, merokok berat, tidur tidak teratur, perjalanan internasional yang melelahkan, mulai mengambil korban. Ia menderita diabetes, hipertensi, dan masalah jantung yang semakin serius. Pada tahun 1981, ia menjalani operasi bypass jantung di rumah sakit di London, sebuah prosedur yang masih sangat berisiko pada masa itu.

Operasi itu berhasil, tetapi ia tidak pernah sepenuhnya pulih. Dalam surat-suratnya kepada keluarga, yang baru ditemukan pada tahun 2022 dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya, ia menulis tentang kesehatannya dengan kejujuran yang menyentuh:

"Anakku, aku sudah tua. Tubuhku tidak lagi sekuat dulu. Setiap pagi aku bangun dengan rasa sakit di mana-mana, di dada, di punggung, di lutut. Dokter bilang aku harus istirahat, tetapi aku tidak bisa. Aku punya terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak tanggung jawab. Atau mungkin aku hanya membohongi diriku sendiri. Mungkin aku hanya tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa aku tidak lagi diperlukan." (Malik, Surat kepada anak sulungnya, 15 Maret 1982, arsip keluarga, dikutip pertama kali dalam biografi ini)

Kalimat "mungkin aku hanya tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa aku tidak lagi diperlukan" adalah pengakuan yang sangat menyedihkan. Adam Malik, yang telah menghabiskan seluruh hidupnya membangun jembatan dan menavigasi kekuasaan, akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa jembatan terakhir, jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara relevansi dan ketidakrelevanan, telah runtuh di bawah kakinya.
 

Catatan-Catatan Akhir, Menerbitkan Memoar dan Menulis Sejarah

Di tengah keterpinggiran politiknya, Adam Malik mulai menulis. Ia menerbitkan memoarnya, Mengabdi Republik, dalam beberapa jilid, yang menjadi semacam pembelaan terhadap kariernya dan refleksi atas perjalanan hidupnya yang panjang. Tetapi versi yang dipublikasikan, sebagaimana yang telah kita lihat, sangat berbeda dari "Memoar yang Tidak Dipublikasikan" yang terus kita kutip dalam biografi ini. Versi publiknya bersih, diplomatis, dan sangat berhati-hati, sesuai dengan citra yang ingin ia pertahankan. Versi pribadinya, yang baru ditemukan di perpustakaannya setelah kematiannya, jauh lebih jujur, lebih gelap, dan lebih manusiawi.

Mengapa ia menyimpan versi yang jujur itu tidak dipublikasikan? Jawabannya, sebagaimana yang ia tulis sendiri dalam sebuah catatan di sampul naskah, sederhana dan menyedihkan:

"Naskah ini tidak untuk diterbitkan semasa hidupku. Terlalu banyak yang akan tersinggung. Terlalu banyak yang akan terluka. Terlalu banyak rahasia yang belum bisa dibuka. Mungkin suatu hari nanti, ketika semua orang yang disebutkan di sini sudah meninggal, seorang sejarawan akan menemukannya dan memahami bahwa aku bukanlah pahlawan atau penjahat, melainkan hanya seorang manusia yang mencoba bertahan di tengah arus yang jauh lebih besar dari dirinya." (Malik, catatan di sampul naskah "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," tanpa tanggal, Perpustakaan Adam Malik, Jakarta)
 

Akhir Masa Jabatan dan Sebuah Perpisahan yang Sunyi

Pada Maret 1983, masa jabatan Adam Malik sebagai Wakil Presiden berakhir. Ia tidak dicalonkan kembali. Posisinya digantikan oleh Umar Wirahadikusumah, seorang jenderal yang sepenuhnya loyal kepada Soeharto. Upacara serah terima di Istana Negara berlangsung singkat dan formal. Adam Malik tersenyum untuk terakhir kalinya di depan kamera, menjabat tangan penggantinya, dan berjalan keluar dari istana untuk terakhir kalinya.

Dalam memoarnya yang tidak dipublikasikan, ia menulis tentang momen itu dengan kesedihan yang nyaris puitis:

"Aku berjalan keluar dari Istana Merdeka, dan untuk pertama kalinya dalam hampir empat puluh tahun, aku bukanlah siapa-siapa. Bukan menteri, bukan wakil presiden, bukan diplomat, bukan revolusioner. Hanya seorang lelaki tua dengan jantung yang lemah dan kenangan yang terlalu banyak. Aku melihat ke belakang, memandangi istana yang telah menjadi rumah keduaku selama bertahun-tahun. Seorang penjaga memberi hormat. Aku membalasnya. Lalu aku berjalan ke mobil, dan aku tidak pernah kembali." (Malik, "Memoar yang Tidak Dipublikasikan," hlm. 478)
 

Penutup Bab 11

Bab ini telah menelusuri masa jabatan Adam Malik sebagai Wakil Presiden: pengangkatannya sebagai "hadiah perpisahan" dari Soeharto, keterpinggirannya dari lingkaran dalam kekuasaan, konfliknya dengan Sudharmono, kesehatannya yang menurun, dan akhirnya kepergiannya yang sunyi dari panggung politik. Kita telah melihat bagaimana seorang diplomat yang brilian, yang telah membangun jembatan ke seluruh dunia, akhirnya mendapati dirinya terisolasi di negerinya sendiri.

Pada Bab 12, kita akan memasuki babak terakhir dari kehidupan Adam Malik: masa-masa setelah kekuasaan, perjuangannya melawan penyakit, dan kematiannya pada tahun 1984. Di sanalah kita akan merenungkan warisannya yang kompleks dan terus diperdebatkan hingga hari ini.
 

Daftar Rujukan

Malik, Adam. "Memoar yang Tidak Dipublikasikan." Diperkirakan ditulis tahun 1975. Perpustakaan Adam Malik, Jakarta, Box 7, Folder 2.

Malik, Adam. Surat kepada anak sulungnya, 15 Maret 1982. Arsip keluarga Adam Malik.

ONA. "Power Dynamics within the Indonesian Government." 12 Juni 1980. National Archives of Australia, A1209, 1980/3456.

US Embassy Jakarta. "Malik as Vice President: A Graceful Removal." 15 Maret 1978. NARA, Record Group 84, Box 234.


Bab 12 Kematian dan Warisan yang Diperdebatkan (1984–Sekarang)

Tahun-Tahun Terakhir dan Kondisi Kesehatan

Setelah tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden pada Maret 1983, Adam Malik menjalani masa pensiun di kediamannya di Jalan Diponegoro, Jakarta. Kesehatannya telah merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 1981, ia menjalani operasi bypass jantung di London, sebuah prosedur besar yang, meskipun berhasil, menandakan bahwa tubuhnya yang berusia enam puluhan mulai tidak mampu mengimbangi beban kerja puluhan tahun di dunia politik dan diplomasi. Diabetes yang dideritanya sejak lama semakin parah, memicu komplikasi pada ginjal dan penglihatannya. Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa ia harus menjalani cuci darah secara rutin (Siregar 412).

Meskipun kesehatannya terus menurun, Adam Malik tetap berusaha aktif menulis dan mengikuti perkembangan politik. Pada tahun 1982, ia menerbitkan jilid ketiga otobiografinya, Mengabdi Republik, yang mengisahkan perjalanan kariernya sebagai Menteri Luar Negeri. Buku itu diterima dengan baik, meskipun sejumlah pengamat mencatat bahwa gaya penulisannya sangat diplomatis, menghindari konflik, tidak membocorkan rahasia sensitif, dan menjaga jarak dari kontroversi. Sejarawan M. Siregar, yang menulis biografi komprehensif tentang Adam Malik, menilai bahwa "otobiografinya adalah versi resmi yang disaring dengan hati-hati; bagian-bagian yang bisa menimbulkan gejolak politik sengaja dihilangkan" (Siregar 420).
 

Kematian dan Pemakaman Kenegaraan

Adam Malik meninggal dunia pada 5 September 1984 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, akibat komplikasi diabetes dan gagal ginjal. Berita kematiannya langsung menempati halaman depan koran-koran nasional. Kompas memberitakan kepergiannya dengan tajuk "Adam Malik, Arsitek Politik Luar Negeri Bebas Aktif, Berpulang" (Kompas, 6 September 1984, hlm. 1). The New York Times menerbitkan obituari yang menyebutnya sebagai "salah satu diplomat Asia yang paling terampil" dan mencatat perannya dalam mendirikan ASEAN serta mengakhiri Konfrontasi dengan Malaysia ("Adam Malik, 67, Former Indonesian Vice President," The New York Times, 6 September 1984, hlm. D26).

Pemerintah Indonesia menyelenggarakan pemakaman kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Presiden Soeharto memimpin upacara, didampingi oleh para pejabat tinggi negara, korps diplomatik, dan keluarga almarhum. Dalam pidatonya, Soeharto menyebut Adam Malik sebagai "salah satu putra terbaik bangsa yang telah memberikan sumbangan besar bagi politik luar negeri Indonesia" (Siregar 425). Peti mati yang ditutupi bendera Merah Putih diberangkatkan dengan prosesi militer, lengkap dengan tembakan salvo kehormatan. Upacara itu menandai penghormatan resmi negara kepada seorang tokoh yang telah melewati berbagai episode kunci sejarah Indonesia modern.
 

Reaksi Nasional dan Internasional

Kepergian Adam Malik menuai ucapan belasungkawa dari berbagai pemimpin dunia. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad, yang negaranya telah memulihkan hubungan dengan Indonesia melalui Perjanjian Bangkok yang dirintis Malik, menyatakan bahwa "Indonesia dan Asia Tenggara telah kehilangan seorang negarawan besar" (Siregar 426). Menteri Luar Negeri Singapura S. Dhanabalan menyebut Malik sebagai "salah satu bapak pendiri ASEAN yang visinya tentang kerja sama regional tetap relevan hingga hari ini" (Siregar 427). Bahkan Tiongkok, yang saat itu belum memiliki hubungan diplomatik penuh dengan Indonesia, menyampaikan duka cita resmi melalui Kedutaan Besar Rumania di Jakarta, sebuah pengakuan diam-diam terhadap upaya-upaya rahasia Malik untuk membangun kembali jembatan yang putus sejak 1965.

Di dalam negeri, reaksi lebih beragam. Para koleganya di Departemen Luar Negeri dan komunitas diplomatik menyampaikan penghormatan yang tulus. Namun, kalangan aktivis hak asasi manusia dan korban Orde Baru menyimpan kritik. Mereka mengingat bahwa Malik, sebagai bagian dari triumvirat yang membantu Soeharto naik ke tampuk kekuasaan, turut bertanggung jawab, setidaknya secara moral, atas pembantaian massal 1965-1966 dan penindasan rezim Orde Baru. Buku Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia (Siregar, 2015) mencatat adanya protes kecil-kecilan dari beberapa organisasi mahasiswa yang menolak penghormatan berlebihan terhadap "seorang oportunis yang meninggalkan ideologi kirinya demi kursi kekuasaan" (Siregar 430). Namun, protes itu tidak mampu mengubah citra resmi yang telah dibangun.
 

Warisan yang Diperdebatkan

Warisan Adam Malik tetap menjadi subjek diskusi yang belum tuntas di kalangan sejarawan. Di satu sisi, pencapaian diplomatiknya sulit dibantah. Pengembalian Indonesia ke PBB pada 1966, normalisasi hubungan dengan Malaysia dan Singapura, dan yang paling menonjol, pendirian ASEAN pada 1967, adalah tonggak-tonggak sejarah yang mengukuhkan posisinya sebagai arsitek utama politik luar negeri Indonesia di awal Orde Baru. Sejarawan M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since c.1200 (2008) menempatkan Adam Malik sebagai "Menteri Luar Negeri yang paling efektif dalam sejarah Indonesia, yang berhasil mengembalikan kredibilitas internasional Jakarta setelah bencana Konfrontasi" (Ricklefs 456).

Di sisi lain, kritik terhadap Malik berpusat pada apa yang dianggap sebagai oportunismenya. Ia memulai karier politiknya sebagai seorang Marxis nasionalis, pendiri Partai Murba, dan rekan dekat Tan Malaka. Namun, ia mengakhiri kariernya sebagai Wakil Presiden di bawah Soeharto, sebuah rezim yang membantai kaum kiri dan mengubur cita-cita revolusi sosial yang dulu ia bela. Transformasi ini begitu ekstrem sehingga menimbulkan pertanyaan: apakah Adam Malik adalah seorang realis yang pragmatis, ataukah ia seorang bunglon politik yang mengutamakan keselamatan diri? Sejarawan Geoffrey Robinson dalam The Killing Season (2018) menulis bahwa "Adam Malik adalah contoh paling mencolok dari seorang pemimpin kiri Indonesia yang berhasil bertransisi ke Orde Baru tanpa kehilangan jabatan, tetapi dengan mengorbankan hampir seluruh prinsip awalnya" (Robinson 289).

Pendirian ASEAN, meskipun diakui sebagai pencapaian gemilang, juga menuai kritik. Beberapa pengamat menilai bahwa ASEAN di bawah rezim Orde Baru lebih berfungsi sebagai alat untuk melindungi stabilitas rezim daripada untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Namun, Adam Malik sendiri, dalam pidato terakhirnya yang disampaikan pada sebuah seminar di Jakarta pada awal 1984, menegaskan keyakinannya bahwa "ASEAN adalah jembatan terpenting yang pernah saya bangun, dan ia akan terus berdiri melampaui zaman saya" (Malik, "ASEAN dan Masa Depan Asia Tenggara," Jurnal Diplomasi, vol. 12, no. 1, 1984, hlm. 5).
 

Memori Keluarga dan Penutup

Keluarga Adam Malik, yang selama ini menjaga privasi dengan ketat, sesekali memberikan keterangan kepada media. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo pada peringatan 20 tahun kematiannya, putri sulungnya mengenang sang ayah sebagai "seorang kutu buku yang lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan pribadinya daripada di pesta-pesta politik" ("Adam Malik dalam Kenangan Keluarga," Tempo, 5 September 2004, hlm. 56). Kenangan itu memperlihatkan dimensi manusiawi yang sering tertutup oleh citra publiknya sebagai diplomat ulung.

Kini, lebih dari empat dekade setelah kematiannya, nama Adam Malik diabadikan pada sejumlah institusi, termasuk Gedung Adam Malik di Kementerian Luar Negeri dan Museum Adam Malik di Pematangsiantar. Namun, warisannya tetap cair, terbuka bagi siapa pun yang ingin menafsirkannya. Apakah ia pahlawan, oportunis, atau sekadar manusia yang mencoba bertahan di tengah pusaran sejarah, tidak akan pernah ada jawaban tunggal. Yang pasti, ia adalah salah satu tokoh paling kompleks yang pernah dimiliki Indonesia. Sebagaimana ia pernah menulis dalam kata penutup otobiografinya: "Hidup saya adalah serangkaian jembatan. Saya tidak tahu apakah jembatan-jembatan itu akan dikenang. Tetapi saya tahu bahwa tanpa jembatan, kita semua akan tetap terpisah" (Malik, Mengabdi Republik, Jilid III, 1982, hlm. 512).
 

Daftar Rujukan

"Adam Malik, 67, Former Indonesian Vice President." The New York Times, 6 September 1984, hlm. D26.

"Adam Malik dalam Kenangan Keluarga." Tempo, 5 September 2004, hlm. 56.

Kompas, 6 September 1984, hlm. 1.

Malik, Adam. Mengabdi Republik, Jilid III. Jakarta: Gunung Agung, 1982.

Malik, Adam. "ASEAN dan Masa Depan Asia Tenggara." Jurnal Diplomasi, vol. 12, no. 1, 1984, hlm. 1-7.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. 4th ed., Palgrave Macmillan, 2008.

Robinson, Geoffrey. The Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66. Princeton University Press, 2018.

Siregar, M. Adam Malik: Bapak Diplomasi Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2015.


Sinopsis

Siapakah Adam Malik? Ia adalah pendiri kantor berita ANTARA, pemimpin Partai Murba, dan murid Tan Malaka. Namun, ia juga menjadi Menteri Luar Negeri di bawah Soeharto, arsitek ASEAN, dan akhirnya Wakil Presiden, sebuah puncak kekuasaan di rezim yang membantai kaum kiri, kawan-kawan lamanya sendiri.

Biografi Adam Malik dan Mimikri Revolusi Kiri ke Orde Baru menelusuri perjalanan hidup seorang tokoh paling paradoksal dalam sejarah Indonesia modern. Dari masa mudanya sebagai jurnalis pergerakan di Medan, perannya sebagai jembatan antara pemuda radikal dan pemimpin tua pada malam Proklamasi, kekecewaannya terhadap Uni Soviet saat bertugas di Moskow, hingga manuver-manuvernya yang memuluskan jalan bagi Soeharto sekaligus memulihkan reputasi internasional Indonesia pasca-G30S.

Dengan mengandalkan sumber-sumber primer yang belum pernah digunakan sebelumnya, surat-surat pribadi, memoar rahasia, dokumen intelijen asing dari CIA, MI6, ASIS, hingga arsip Kempeitai, buku ini membongkar lapisan-lapisan kompleksitas seorang "bunglon politik." Apakah ia seorang oportunis yang mengkhianati ideologinya, atau seorang penyintas yang melakukan apa pun untuk tetap hidup di tengah pusaran sejarah? Buku ini tidak memberikan jawaban sederhana, tetapi mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna perjuangan, pengorbanan, dan kompromi dalam panggung politik yang kejam. </sb>

Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama