Demokrasi Mumet Togog Kritik Filsuf Barat

Demokrasi, sejak ia dilahirkan dari rahim kota-kota Yunani Kuno, selalu mengandung paradoks yang tak terpecahkan. Ia menjanjikan kekuasaan di tangan rakyat, namun seketika juga membutuhkan struktur, hierarki, dan pengambilan keputusan yang efisien. Ia mewartakan kesetaraan, tetapi praktiknya selalu saja melahirkan elit-elit baru yang entah bagaimana berkuasa atas nama rakyat. Di satu masa ia didengungkan sebagai akhir dari sejarah, sistem terbaik yang bisa dicapai umat manusia. Di masa lain, ia justru dipertanyakan: apakah yang disebut demokrasi ini benar-benar milik rakyat, atau sekadar prosedur periodik untuk melegitimasi mereka yang sudah lama berkuasa? Dialog imajiner yang kini hadir di tangan pembaca lahir dari kegelisahan yang sama: apa sesungguhnya demokrasi itu? Dan, yang lebih penting, untuk siapa ia bekerja?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tiga arsitek teori demokrasi modern dihadirkan dalam sebuah perdebatan substantif yang tak kenal kompromi. Mereka adalah Jean-Jacques Rousseau, sang pemimpi dari Jenewa yang percaya bahwa kedaulatan tak dapat diwakilkan; John Locke, peletak dasar liberalisme Inggris yang membela demokrasi perwakilan sebagai benteng hak-hak alamiah; dan Joseph Schumpeter, ekonom Austria yang dengan dingin membedah ilusi demokrasi klasik dan menyajikan wajah demokrasi modern yang sesungguhnya: kompetisi di antara elite politik. Mereka bertiga mewakili tiga kutub pemikiran yang hingga hari ini terus membayangi setiap diskusi tentang demokrasi: idealisme, realisme konstitusional, dan skeptisisme elit.

Demokrasi Mumet, Korupsi Mantep: Togog dan Bilung jadi saksi perdebatan filsafat politik Barat. Kritik sosial terhadap demokrasi modern.

Rousseau datang dengan amarah suci seorang nabi. Baginya, demokrasi bukanlah soal memilih wakil setiap beberapa tahun, melainkan soal kehadiran rakyat secara langsung dalam membentuk general will, kehendak umum yang selalu benar, yang selalu berpihak pada kepentingan bersama. Wakil, dalam pandangannya, adalah pengkhianat yang tak terhindarkan: mereka mengambil alih kedaulatan yang bukan miliknya, dan dengan itu membelenggu rakyat dalam ilusi kebebasan. Betapa puitis gagasannya, dan betapa berbahayanya jika dihadapkan pada realitas. Di sisi lain, Locke, jauh lebih tenang, jauh lebih praktis, menolak romantisme itu. Manusia, katanya, memiliki hak-hak yang tak bisa dicabut: hidup, kebebasan, dan properti. Pemerintahan ada untuk melindungi hak-hak itu, bukan untuk menciptakan moralitas kolektif baru. Karena itu, demokrasi harus dijalankan secara perwakilan, dengan konstitusi yang membatasi, dengan pemisahan kekuasaan yang mencegah tirani, dan dengan hak rakyat untuk memberontak jika pemerintah mengkhianati kepercayaan.

Lalu datang Schumpeter, dengan sosiologi dan ekonominya yang tajam, menertawakan kedua pendahulunya. Kalian, katanya, terjebak dalam ilusi abad ke-18. Rakyat tidak pernah benar-benar memerintah. Rakyat memilih, ya, tetapi pilihan mereka dibentuk, dikonstruksi, dimanipulasi oleh partai politik, media, dan mesin propaganda. Demokrasi bukanlah ekspresi kehendak rakyat, melainkan metode untuk merekrut pemimpin melalui persaingan memperebutkan suara. Ini bukan pemerintahan rakyat; ini adalah pemerintahan politisi yang disetujui rakyat. Dengan jujur, bahkan mungkin sinis, Schumpeter menyodorkan cermin bagi siapa pun yang masih percaya pada dongeng demokrasi klasik.

Namun, dialog ini tidak hanya mempertemukan tiga pemikir besar Eropa. Ada suara lain yang dengan sengaja dihadirkan: Togog, sang punakawan tua dari tradisi pewayangan Jawa. Tubuhnya ringkih, wajahnya keriput, mulutnya yang lebar sering menyeringai sinis. Ia bukan filsuf; ia hanyalah abdi para raksasa, pelayan para penguasa yang zalim. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Selama ribuan tahun, Togog bertugas bukan untuk melayani kejahatan, melainkan untuk mengingatkan: di setiap keputusan raja yang congkak, ada rakyat kecil yang menderita; di setiap klaim tentang kehendak umum, ada suara-suara yang dibungkam. Kritik Togog menjadi jembatan yang menghubungkan diskursus demokrasi Eropa dengan realitas kuasa yang sering terlupakan: bahwa demokrasi, betapapun indahnya ia dirumuskan dalam risalah-risalah tebal, akhirnya harus diukur dari seberapa ia mendengarkan mereka yang paling lemah, Togog, Bilung, dan jutaan manusia tanpa nama.

Format dialog sengaja dipilih bukan semata-mata sebagai gaya, melainkan sebagai penghormatan terhadap tradisi filsafat yang telah berusia dua ribu tahun. Sejak Plato menuliskan Sokrates berdebat di agora Athena, dialog telah menjadi medium yang memungkinkan ide-ide bertarung secara hidup, tidak beku dalam monolog. Di sini, pembaca tidak disuguhi kesimpulan yang tertutup. Tidak ada pemenang mutlak. Rousseau tidak sepenuhnya dikalahkan oleh realisme Schumpeter; Locke pun tidak dibiarkan menang tanpa luka. Justru dalam ketegangan yang tak terselesaikan itulah letak nilai pendidikan dari dialog ini. Ia mengajak kita untuk terus bertanya: mungkinkah kita membangun demokrasi yang memiliki jiwa Rousseau, yang percaya pada kapasitas moral warga negara; tulang Locke, yang membatasi kekuasaan dengan hukum; dan otak Schumpeter, yang membaca realitas politik tanpa ilusi; tanpa kehilangan suara Togog yang kritis dan rendah hati?

Dialog ini juga tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan tanggapan terhadap kegelisahan zaman: krisis demokrasi yang melanda banyak negara, bangkitnya populisme, kemerosotan kepercayaan terhadap parlemen dan partai politik, serta perasaan bahwa suara rakyat semakin tidak berarti di tengah pusaran kepentingan elite global. Dalam konteks itu, kembali kepada pemikiran para pendiri teori demokrasi bukanlah tindakan nostalgik, melainkan upaya untuk menemukan kembali akar-akar filosofis yang mungkin telah kita lupakan. Dan menghadirkan Togog adalah pengakuan bahwa tradisi pemikiran Nusantara pun memiliki sumbangan berharga dalam perenungan tentang kuasa, keadilan, dan suara hati nurani.

Akhirnya, kepada pembaca disampaikan undangan: masuki ruang debat abadi ini, dengarkan argumentasi mereka, rasakan ketegangannya, dan barangkali Anda akan menemukan bahwa di antara tiga pemikir besar itu, Togog-lah yang paling lantang menyuarakan apa yang selama ini kita pendam. Selamat membaca, dan selamat bergulat dalam sunyi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah usai.

Bayangkan sebuah ruangan besar tanpa dinding, di mana kabut waktu berputar-putar seperti asap dupa. Di dalamnya telah berkumpul tiga sosok yang pemikirannya membentuk fondasi demokrasi modern. Jean-Jacques Rousseau duduk dengan wajah muram namun mata berbinar, jari-jarinya terus-menerus memainkan bulu angsa yang telah kering tintanya. Di hadapannya, John Locke bersandar tenang dengan setumpuk naskah "Two Treatises of Government" di pangkuannya, sesekali menyesap teh dari cangkir porselen yang entah dari mana datangnya.
 
Sementara itu, Joseph Schumpeter, dengan setelan jas abad ke-20 yang rapi, mondar-mandir sambil memegang kertas-kertas berisi grafik dan diagram ekonomi yang rumit. Dan di sudut ruangan, entah bagaimana bisa berada di sana, duduklah Togog, si punakawan tua dengan wajah penuh keriput, mata sayu namun tajam, mulutnya yang lebar sesekali menguap lebar, didampingi anaknya, Bilung, yang tampak kebingungan.

BABAK I: PEMBUKAAN DEBAT

TOGOG

(menggaruk kepalanya yang botak, menyeringai lebar):
"Wah, wah, wah... Togog tidak mengerti mengapa Togog ada di sini. Tempat ini bukan tempat untuk punakawan seperti Togog. Ini tempat para begawan pemikir, para resi dari negeri seberang. Togog hanya pelayan raksasa, hanya abdi dari para durjana. Tapi karena sudah terlanjur nyasar di sini, Togog akan mendengarkan saja. Siapa tahu ada wejangan yang bisa Togog bawa pulang untuk majikan Togog yang keras kepala itu."

BILUNG
 
(menarik-narik lengan Togog):
"Pak, kita ini di mana, Pak? Aku takut. Orang-orang ini kelihatan pintar-pintar semua. Nanti kita disuruh-suruh lagi kayak sama Prabu Niwatakawaca, gimana?"

TOGOG
 
(menepuk kepala Bilung pelan):

"Diam, Bilung. Togog saja yang bicara. Kau dengarkan baik-baik. Siapa tahu kau bisa belajar sesuatu. Meskipun Togog ragu kau akan mengerti apa-apa."

ROUSSEAU
 
(berdeham, berdiri dengan gestur dramatis):

"Saudara-saudaraku! Aku, Jean-Jacques Rousseau, warga Jenewa, hadir di sini untuk membela satu kebenaran yang telah terkubur oleh peradaban yang busuk ini: bahwa kedaulatan tidak bisa diwakilkan! Bahwa manusia dilahirkan bebas, namun di mana-mana ia terbelenggu! "Man is born free, and everywhere he is in chains" (Rousseau, The Social Contract 1).

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana apa yang disebut 'demokrasi' di Inggris, negeri yang begitu dibanggakan Tuan Locke di sini, adalah lelucon belaka! Rakyat Inggris hanya bebas pada hari pemilihan. Setelah itu, mereka kembali menjadi budak, menjadi bukan apa-apa! "The people of England regards itself as free; but it is grossly mistaken; it is free only during the election of members of parliament. As soon as they are elected, slavery overtakes it, and it is nothing" [Bangsa Inggris mengaku dirinya bebas, namun alangkah kelirunya. Bebas hanya ketika memilih anggota parlemen. Begitu yang terpilih duduk, rantai perbudakan segera melilit, dan rakyat pun sirna tak bersisa ] (Rousseau, The Social Contract 141).

LOCKE
 
(meletakkan cangkir tehnya dengan tenang, tersenyum tipis):
"Sahabatku Rousseau, kau selalu dengan retorika yang membara. Tapi retorika tidak bisa menggantikan logika. Engkau berbicara tentang perbudakan, tentang belenggu. Tapi katakan padaku, bagaimana mungkin seluruh rakyat, petani, pandai besi, pedagang, nelayan, meninggalkan pekerjaan mereka setiap hari untuk berkumpul di alun-alun kota mendiskusikan undang-undang? Apakah perut mereka akan kenyang dengan pidato? Apakah anak-anak mereka akan terawat dengan debat konstitusional?"

SCHUMPETER
 
(berhenti mondar-mandir, menyelipkan kacamatanya):
"Tuan-tuan, jika boleh aku menengahi... Kalian berdua terjebak dalam romantisme abad ke-18. Izinkan aku, Joseph Schumpeter, seorang ekonom yang lebih memahami realitas abad ke-20, untuk menunjukkan bahwa apa yang kalian sebut demokrasi, baik versi langsung maupun perwakilan, adalah mitos belaka. Demokrasi yang sesungguhnya berlangsung di Amerika, di Inggris, di Prancis modern, bukanlah demokrasi massa. Ia adalah demokrasi elit. "Democracy is not government by the people, but government approved by the people. It is a method by which individuals acquire power through competitive struggle for votes" [Demokrasi bukanlah kendali rakyat, melainkan kekuasaan yang diamininya. Ia sekadar panggung perebutan kursi: siapa menang suara, dia memegang kendali.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 269)."

TOGOG

(tertawa terbahak-bahak, suaranya bergema aneh):
"Hua ha ha ha! Lucu! Sungguh lucu! Togog baru mendengar tiga orang pintar berbicara, dan sudah terlihat masalahnya. Tuan Rousseau ingin semua orang jadi raja atas dirinya sendiri. Tuan Locke ingin rakyat memilih raja setiap beberapa tahun sekali. Dan Tuan Schumpeter... ah, Tuan Schumpeter ini jujur. Dia bilang terus terang bahwa yang jadi raja ya elitnya, rakyat cuma tepuk tangan. Tapi Togog mau tanya: apa bedanya ketiga sistem ini dengan kerajaan-kerajaan yang Togog kenal? Bukankah ujung-ujungnya selalu ada yang memerintah dan yang diperintah? Lalu di mana demos, di mana kratos, yang kalian banggakan itu?"

Keheningan sejenak. Ketiga filsuf itu saling berpandangan. Locke menghela napas panjang. Schumpeter terkekeh kecil. Rousseau mengepalkan tinjunya.


BABAK II: ROUSSEAU MEMBANGUN ARGUMENTASI DEMOKRASI LANGSUNG

ROUSSEAU

(matanya menyala-nyala, suaranya bergetar penuh semangat):
"Togog yang bijak, dan aku mengakui kebijaksanaanmu yang lahir dari kesederhanaan, pertanyaanmu tepat mengenai sasaran. Tapi izinkan aku menjelaskan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa setiap warga negara harus setiap hari berkumpul di alun-alun seperti yang dituduhkan Tuan Locke. Aku bukan orang gila. Aku tahu bahwa ada petani yang harus membajak sawah, ada pandai besi yang harus menempa logam, ada ibu-ibu yang harus mengasuh anak. "Sovereignty cannot be represented for the same reason that it cannot be alienated; it consists essentially in the general will, and will cannot be represented; it is either itself or something else; there is no middle ground" [Kedaulatan tidak bisa diwakilkan, sama seperti ia tidak bisa diserahkan begitu saja. Sebab, kedaulatan itu intinya adalah kehendak bersama, dan kehendak tidak bisa diwakilkan. Ia harus utuh sebagai dirinya sendiri, atau bukan apa-apa. Tidak ada kompromi.] (Rousseau, The Social Contract 153).
Tapi dengarkan baik-baik. Kedaulatan tidak bisa diwakilkan, tapi PELAKSANAAN kedaulatan bisa didelegasikan! Inilah yang tidak dipahami oleh para pengkritikku. Pemerintah, aku menyebutnya 'magistratur', adalah badan yang melaksanakan hukum. Tapi hukum itu sendiri harus dibuat oleh rakyat secara langsung! "The legislative power belongs to the people and can belong only to it... The executive power cannot belong to the generality of the people as legislature or sovereign because it consists wholly of particular acts which are not within the competence of the law" [Wewenang membuat undang-undang ada di tangan rakyat, dan hanya rakyat yang berhak memegangnya... Adapun wewenang menjalankan undang-undang tidak boleh dipegang langsung oleh seluruh rakyat yang sama, sebab pelaksanaan itu selalu berupa tindakan-tindakan khusus yang tak bisa diatur oleh rumusan hukum yang bersifat umum] (Rousseau, The Social Contract 101).

Jadi beginilah sistem yang kubayangkan: Rakyat berkumpul secara periodik, mungkin beberapa kali dalam setahun, untuk memutuskan hal-hal mendasar. Mereka memutuskan: 'Inilah hukum yang akan mengatur kami.' Setelah itu, magistrat yang ditunjuk, bukan dipilih sebagai wakil permanen, tapi ditunjuk sebagai pelaksana sementara, menjalankan hukum itu. Para magistrat ini adalah pegawai rakyat, bukan tuan rakyat! "The deputies of the people are not and cannot be its representatives; they are merely its agents and cannot conclude anything definitively" [Orang-orang yang dikirim rakyat ke parlemen sejatinya bukan wakil rakyat, dan memang tidak bisa menjadi wakil. Mereka cuma pesuruh rakyat, dan karena itu mereka tidak berhak memutuskan apa pun secara mengikat.] (Rousseau, The Social Contract 153).

LOCKE
 
(menggeleng-gelengkan kepala):

"Rousseau, Rousseau... Engkau terus berbicara tentang 'general will' atau kehendak umum ini. Tapi katakan padaku: apa itu kehendak umum? Bagaimana ia ditemukan? Apakah ia selalu benar? Dan bagaimana dengan mereka yang tidak setuju? Apakah mereka akan dipaksa untuk 'bebas' seperti yang kau tulis dengan terkenal itu? "Whoever refuses to obey the general will shall be compelled to do so by the whole body. This means nothing less than that he will be forced to be free" [Siapa pun yang menolak tunduk pada kehendak bersama akan dipaksa oleh seluruh komunitas. Dengan kata lain, ia akan dipaksa untuk merdeka] (Rousseau, The Social Contract 28). Bukankah ini kedok untuk tirani mayoritas yang mengatasnamakan 'kehendak umum'?"

SCHUMPETER
 
(menyela dengan nada sinis):

"Tuan Locke, Anda terlalu sopan. Biarkan saya yang lebih blak-blakan. Tuan Rousseau, sistem Anda adalah utopia yang berbahaya. Anda mengasumsikan bahwa rakyat memiliki pengetahuan dan ketertarikan yang cukup untuk membuat keputusan politik yang rasional. Realitasnya? "The typical citizen drops down to a lower level of mental performance as soon as he enters the political field. He argues and analyzes in a way which he would readily recognize as infantile within the sphere of his real interests. He becomes a primitive again" [Begitu masuk ke gelanggang politik, warga biasa biasanya kehilangan daya pikir tajamnya. Cara berdebat dan menimbang persoalannya jadi kekanak-kanakan, hal yang pasti diakuinya sendiri sebagai tidak dewasa ketika sedang mengurus urusan hidup yang sesungguhnya. Ia pun kembali ke naluri primitifnya] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 262).
Rakyat biasa tidak peduli dengan detail kebijakan perdagangan atau hubungan diplomatik. Mereka peduli dengan harga roti, keamanan jalanan, dan apakah anak mereka bisa sekolah. Meninggalkan keputusan-keputusan rumit kepada mereka adalah resep untuk bencana!"

TOGOG
 
(menguap lebar, lalu menggaruk dagunya yang panjang):

"Hmm... Togog mulai mengerti sekarang. Tuan Rousseau ini seperti Batara Ismaya. Ideal, mulia, tapi naif. Beliau ingin manusia-manusia biasa berubah menjadi dewa-dewa yang selalu bijak dalam mengambil keputusan bersama. Togog sudah lama hidup, sudah ribuan tahun mengabdi pada raksasa-raksasa. Togog tahu persis: manusia itu kebanyakan mengikuti nafsunya, bukan akal budinya. Ketika Tuan Rousseau mengatakan bahwa kehendak umum selalu benar... apakah Tuan yakin? Apakah Tuan tidak mempertimbangkan bahwa rakyat bisa dimanipulasi? Dibohongi? Diadu domba? Coba Tuan lihat majikan Togog, para raksasa itu. Mereka selalu mengaku mewakili 'kehendak rakyat' ketika menyerang kerajaan Amarta. Padahal rakyat sendiri tidak pernah ditanya. Bagaimana Tuan mencegah penyalahgunaan seperti ini?"

BILUNG
 
(tiba-tiba bersuara, membuat semua orang terkejut):

"Pak Togog, aku jadi ingat waktu kita disuruh Prabu Niwatakawaca untuk meyakinkan rakyat bahwa menyerang kahyangan itu demi kebaikan bersama. Padahal kita tahu itu cuma ambisi beliau saja. Apakah itu yang disebut kehendak umum?"

TOGOG
 
(menghela napas):

"Nah, itu dia. Bahkan Bilung yang bodoh pun bisa melihat masalahnya."

ROUSSEAU
 
(wajahnya memerah, tapi suaranya tetap terkendali):

"Togog yang terhormat, pertanyaanmu sangat tajam, dan aku menghargainya. Tapi kau dan Tuan Schumpeter membuat kesalahan yang sama: kalian mengacaukan 'kehendak umum' (general will) dengan 'kehendak semua orang' (will of all). Ini adalah perbedaan yang FUNDAMENTAL!

"There is often a great deal of difference between the will of all and the general will. The latter considers only the common interest, while the former considers private interest and is only a sum of particular wills" [Ada jurang perbedaan antara keinginan semua orang dan kehendak bersama. Kehendak bersama hanya memikirkan kepentingan umum, sedangkan keinginan semua orang cuma memikirkan kepentingan pribadi, sehingga ia tak lebih dari sekadar penjumlahan hasrat-hasrat individual.] (Rousseau, The Social Contract 44).
Kehendak semua orang adalah jumlah dari kepentingan pribadi masing-masing warga. Jika kau tanya pada seratus orang: 'Apakah kau ingin pajakmu diturunkan?', mungkin sembilan puluh akan menjawab ya. Itu adalah kehendak semua orang. Tapi kehendak umum adalah jawaban terhadap pertanyaan: 'Apakah penurunan pajak ini baik untuk kesejahteraan bersama dalam jangka panjang?' Dan untuk menemukan ini, rakyat harus dididik, harus diangkat moralitasnya, harus memahami bahwa menjadi warga negara berarti kadang-kadang mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.

Aku mengakui, rakyat bisa salah. Tapi itulah mengapa aku menekankan pentingnya pendidikan kewarganegaraan, pentingnya agama sipil (civil religion) yang mempersatukan, pentingnya sensus bersama yang melampaui sensus pribadi. "In order for the general will to be well expressed, it is important that there should be no partial society within the state" [Supaya kehendak bersama bisa tersuarakan dengan jernih, tidak boleh ada kelompok-kelompok kepentingan yang terpisah-pisah di dalam negara.] (Rousseau, The Social Contract 45).

Dan mengenai penyalahgunaan oleh para raksasa, seperti yang diceritakan Togog, justru itulah mengapa aku menentang demokrasi perwakilan! Karena dalam sistem perwakilan, para 'wakil' itu bisa mengklaim dirinya sebagai suara rakyat tanpa benar-benar bertanya pada rakyat! Mereka menjadi 'raksasa-raksasa' baru yang mengatasnamakan rakyat!"

LOCKE
 
(berdiri dari kursinya, suaranya tenang namun tegas):

"Sahabatku, kau terus kembali pada idealisme yang indah. Tapi sejarah tidak berjalan seperti itu. Bahkan di kota-kota Yunani kuno yang sering kau kagumi, demokrasi langsung sering berubah menjadi tirani massa. Sokrates dihukum mati oleh suara mayoritas! Apakah itu kehendak umum? Atau itu pembunuhan berdarah dingin yang dilakukan oleh massa yang termanipulasi?

Lagipula, dalam negara modern yang wilayahnya luas, bukan negara kota seukuran Jenewa, bagaimana kau mengumpulkan semua warga? Apakah para petani di provinsi terpencil harus berjalan berhari-hari ke ibukota? Dan siapa yang akan merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diputuskan? Bukankah perumus pertanyaan itu sudah memiliki kekuasaan yang sangat besar?"

SCHUMPETER
 
(menambahkan dengan antusias):

"Tepat sekali! Inilah yang dalam ilmu politik modern disebut sebagai 'agenda-setting power'. Siapa yang menentukan apa yang akan didiskusikan, ia sudah setengah memenangkan perdebatan. "The will of the people is the product and not the motive power of the political process" [Kehendak rakyat itu sesungguhnya hasil jadi dari proses politik, bukan motor yang menggerakkannya.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 263).

Opini publik tidak jatuh dari langit, Tuan Rousseau. Ia dibentuk! Dibentuk oleh media, oleh partai politik, oleh para demagog! 'Kehendak umum' Anda yang suci itu dalam praktiknya adalah hasil rekayasa dari mereka yang mengontrol informasi dan agenda. Di Amerika Serikat, partai-partai politik tidak merespons kehendak rakyat. Merekalah yang menciptakan apa yang dianggap sebagai kehendak rakyat. "Parties... are not, as classical doctrine would have us believe, groups of men who intend to promote the public welfare upon some principle on which they are all agreed. A party is a group whose members propose to act in concert in the competitive struggle for political power" [Partai politik bukanlah kumpulan orang yang tulus ingin memajukan kesejahteraan umum berdasarkan prinsip yang mereka sepakati, seperti yang digambarkan ajaran klasik. Partai sebenarnya hanyalah kelompok yang anggota-anggotanya kompak bergerak dalam persaingan memperebutkan kekuasaan politik.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 283)."

BABAK III: LOCKE MEMPERTAHANKAN DEMOKRASI PERWAKILAN

LOCKE
 
(berjalan ke tengah ruangan, meletakkan tangannya di dada, berbicara dengan suara yang tenang namun penuh wibawa):

"Saudara-saudara sekalian, dan Togog yang bijak. Izinkan aku sekarang menjelaskan dengan lebih sistematis mengapa demokrasi perwakilan, yang oleh Rousseau disebut sebagai 'belenggu', justru adalah bentuk pemerintahan yang paling sesuai dengan kodrat manusia dan realitas masyarakat.

Pertama-tama, kita harus kembali pada konsep dasarku tentang keadaan alamiah (state of nature) dan kontrak sosial. Manusia dalam keadaan alamiah memiliki hak-hak alamiah: hak atas hidup, kebebasan, dan properti. "Man being born... hath by nature a power not only to preserve his property, that is, his life, liberty, and estate, against the injuries and attempts of other men, but to judge of and punish the breaches of that law in others" [Sejak lahir, setiap manusia secara alamiah punya hak untuk mempertahankan apa yang dimilikinya, nyawanya, kebebasannya, dan hartanya, dari serangan atau gangguan pihak lain. Bukan cuma itu, ia juga berhak menilai dan menghukum siapa pun yang melanggar hak-hak itu.] (Locke, Two Treatises of Government 272).

Namun, ada masalah dalam keadaan alamiah: setiap orang menjadi hakim bagi dirinya sendiri. Ini tidak efisien dan rawan penyalahgunaan. Karena itu, manusia bersepakat untuk membentuk masyarakat politik. Mereka menyerahkan SEBAGIAN, bukan seluruh, hak mereka kepada komunitas. "The only way whereby anyone divests himself of his natural liberty and puts on the bonds of civil society is by agreeing with other men to join and unite into a community" [Satu-satunya jalan untuk menanggalkan kebebasan liar dan masuk ke dalam ikatan masyarakat beradab adalah melalui kesepakatan sukarela dengan orang-orang lain: bersatu padu membentuk komunitas.] (Locke, Two Treatises of Government 330).
Perhatikan kata-kataku: menyerahkan SEBAGIAN. Hak asasi tetap ada. Pemerintah dibentuk untuk melindungi hak-hak itu, bukan untuk menciptakan hak baru. Pemerintah adalah wali amanat (trustee) dari rakyat. Jika pemerintah melanggar kepercayaan ini, rakyat berhak untuk membubarkannya. Inilah hak revolusi! "Whenever the legislators endeavor to take away and destroy the property of the people, or to reduce them to slavery under arbitrary power, they put themselves into a state of war with the people, who are thereupon absolved from any further obedience" [Begitu para pembuat undang-undang berusaha merampas dan menghancurkan hak milik rakyat, atau menjerumuskan mereka ke dalam perbudakan di bawah kekuasaan zalim, mereka sendiri yang menyulut perang dengan rakyat. Dan pada saat itu, rakyat tidak lagi terikat untuk patuh sedikit pun.] (Locke, Two Treatises of Government 411)."

ROUSSEAU
 
(memotong dengan suara pedas):

"Indah sekali retorika Anda, Tuan Locke. Tapi dalam praktiknya, apa yang terjadi? Rakyat memilih wakil-wakil mereka setiap empat atau lima tahun sekali. Setelah itu, para wakil ini menjadi tuan-tuan baru. Mereka membuat undang-undang yang menguntungkan diri mereka sendiri. Mereka duduk di parlemen dan melupakan siapa yang mengutus mereka. Dan rakyat? Mereka pulang ke rumah, kembali ke pekerjaan mereka, dan menjadi bukan apa-apa selama empat tahun ke depan!

Engkau mengatakan bahwa pemerintahan adalah wali amanat. Tapi bagaimana rakyat mengontrol wali amanat ini di antara pemilu? Dengan petisi? Dengan demonstrasi? Bukankah itu pengakuan bahwa sistemnya sendiri tidak bekerja? Sistem Anda, Tuan Locke, hanya menciptakan aristokrasi elektoral. Para wakil terpilih menjadi kelas penguasa baru yang terpisah dari rakyat!"

LOCKE
 
(menggeleng sabar):

"Rousseau, kau melebih-lebihkan. Dalam sistem perwakilan yang kuanjurkan, ada pemisahan kekuasaan yang jelas. Kekuasaan legislatif, yang membuat undang-undang, memang dipegang oleh wakil-wakil terpilih. Tapi itu tidak berarti mereka bisa berbuat sewenang-wenang. Ada batasan-batasan konstitusional! "The legislative power is the supreme power in every commonwealth... yet it is not, nor can possibly be, absolutely arbitrary over the lives and fortunes of the people" [Di setiap negara, wewenang membuat undang-undang memang kekuasaan paling tinggi. Tapi itu bukan berarti para pembuat undang-undang bisa seenaknya bermain-main dengan nyawa dan harta rakyat, sama sekali tidak.] (Locke, Two Treatises of Government 357).

Pertama, legislatif harus memerintah berdasarkan hukum yang telah dipublikasikan dan berlaku sama untuk semua, bukan berdasarkan dekrit-dekrit sewenang-wenang. Kedua, hukum-hukum ini harus dirancang untuk kebaikan rakyat. Ketiga, legislatif tidak boleh menaikkan pajak atas properti rakyat tanpa persetujuan rakyat. Keempat, legislatif tidak boleh mentransfer kekuasaan membuat undang-undang kepada pihak lain.

Dan yang paling penting: rakyat memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengganti legislatif jika mereka bertindak bertentangan dengan kepercayaan yang diberikan. "The people shall be judge... who have a right to resume their original liberty and by the establishment of a new legislative provide for their own safety and security" [Rakyatlah hakim tertingginya. Merekalah yang berhak merebut kembali kemerdekaan asali mereka, lalu membentuk lembaga perwakilan baru demi menjamin keselamatan dan perlindungan mereka sendiri.] (Locke, Two Treatises of Government 427).

Ini bukan aristokrasi elektoral, Rousseau. Ini adalah pemerintahan konstitusional dengan checks and balances!"

SCHUMPETER
 
(bertepuk tangan pelan, dengan nada mengejek):

"Bravo, Tuan Locke. Teori yang indah. Sayangnya, praktiknya tidak seindah itu. Mari kita bicara fakta. Di Inggris abad ke-19, sebelum reformasi pemilu, hanya sebagian kecil penduduk yang bisa memilih. Bahkan setelah reformasi, partisipasi politik tetap elitis.
Teori klasik demokrasi, baik versi Anda maupun versi Rousseau, mengasumsikan bahwa rakyat memiliki preferensi politik yang jelas, rasional, dan independen. Ini adalah fiksi! "The classical theory... attributed to the electorate an altogether unrealistic degree of initiative which practically amounted to ignoring leadership" [Ajaran klasik tentang demokrasi menaruh harapan berlebihan pada pemilih, seolah-olah mereka punya inisiatif mandiri yang besar. Kenyataannya, ini sama saja dengan menutup mata terhadap peran penting kepemimpinan politik.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 270).
Dalam realitasnya, rakyat tidak membentuk opini politik secara mandiri. Opini mereka dibentuk oleh politisi, partai, dan media. Prosesnya bukan bottom-up, tapi top-down! Partai-partai politik tidak mengekspresikan kehendak rakyat yang sudah ada sebelumnya. Mereka MENCIPTAKAN kehendak rakyat melalui propaganda, kampanye, dan manipulasi psikologis!

"The psychotechnics of party management and party advertising, slogans and marching tunes, are not accessories. They are the essence of politics" [Segala teknik psikologis dalam mengelola partai, mulai dari iklan politik, slogan-slogan, sampai lagu mars kampanye, bukan cuma hiasan. Itulah inti dari politik yang sesungguhnya.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 283).

Dan Anda, Tuan Locke, berbicara tentang checks and balances. Tapi siapa yang duduk di lembaga-lembaga checks and balances itu? Elit! Mereka berasal dari kelas sosial yang sama, bersekolah di sekolah yang sama, bergaul di klub yang sama. Checks and balances menjadi permainan di antara para elit untuk membagi-bagi kekuasaan di antara mereka sendiri!"

TOGOG
 
(terbahak-bahak sambil memukul-mukul lututnya):

"Hua ha ha! Togog semakin mengerti sekarang! Jadi begini: Tuan Rousseau ingin semua orang jadi raja bergantian. Tuan Locke ingin orang-orang memilih raja setiap beberapa tahun, tapi raja itu harus taat pada aturan main yang sudah ditentukan. Dan Tuan Schumpeter bilang: 'Ah, kalian semua naif! Yang jadi raja sebenarnya ya elitnya! Rakyat cuma disuruh milih di antara kandidat yang sudah disiapkan!'

Tapi Togog punya pertanyaan untuk Tuan Locke: Tuan bilang ada checks and balances, ada konstitusi yang membatasi. Tapi siapa yang menafsirkan konstitusi? Bukankah penafsir konstitusi itu sendiri bagian dari elit? Dan bukankah dalam sejarah, konstitusi bisa ditafsirkan macam-macam sesuai kepentingan penafsirnya?

Contoh kecil saja: Di tanah Jawa, ada yang namanya 'sabda pandita ratu'. Artinya, ucapan raja adalah hukum. Tapi raja sendiri terikat oleh adat istiadat. Nah, ketika raja ingin melakukan sesuatu yang melanggar adat, dia tinggal menafsirkan adat itu secara berbeda. Dia bilang: 'Adat mengatakan begini, tapi maksud sebenarnya adalah begitu.' Dan jadilah keinginan raja sebagai adat baru!

Apakah konstitusi dalam sistem Tuan Locke tidak mengalami nasib yang sama? Ditafsirkan oleh para elite sesuai kepentingan mereka?"

LOCKE
 
(terdiam sejenak, mengakui ketajaman pertanyaan itu):

"Togog, kearifanmu dari dunia wayang sungguh mengejutkanku. Kau menyentuh masalah yang sangat fundamental: interpretasi konstitusi. Aku akui, tidak ada sistem yang sempurna. Selalu ada celah untuk penyalahgunaan.

Tapi justru di sinilah pentingnya checks and balances yang kuat! Aku menganjurkan agar kekuasaan membuat undang-undang, kekuasaan melaksanakan undang-undang, dan kekuasaan menghakimi, termasuk menafsirkan konstitusi, dipisahkan. "It may be too great a temptation to human frailty... for the same persons who have the power of making laws to have also in their hands the power to execute them" [Amat riskan menggoda kelemahan manusia... jika orang yang sama yang berwenang menyusun undang-undang juga menggenggam kekuasaan untuk menjalankannya.] (Locke, Two Treatises of Government 365).

Di Inggris, kami memiliki tradisi common law yang panjang. Para hakim tidak hanya menafsirkan hukum, tapi juga terikat oleh preseden-preseden sebelumnya. Ini membatasi kesewenang-wenangan interpretasi. Dan parlemen sendiri adalah lembaga perwakilan yang anggotanya berasal dari berbagai daerah dan kepentingan. Mereka akan saling mengawasi. Faksi-faksi yang berbeda akan saling mengimbangi. "The different opinions and contrary interests... make the variety that is in civil societies" [Perbedaan pandangan dan benturan kepentingan itulah yang melahirkan kemajemukan dalam setiap masyarakat beradab.] (Locke, An Essay Concerning Human Understanding).

Dan ingatlah: dalam sistemku, rakyat tetap memiliki hak tertinggi untuk memberontak jika semua mekanisme checks and balances ini gagal! "The people are at liberty to provide for themselves by erecting a new legislative" [Rakyat berhak menyelamatkan diri mereka sendiri dengan cara membentuk lembaga perwakilan yang baru] (Locke, Two Treatises of Government 428)."

ROUSSEAU
 
(berdiri dengan mata menyala-nyala):

"Hak untuk memberontak! Itu adalah pengakuan kegagalan, Tuan Locke! Engkau mengakui bahwa seluruh sistemmu bisa gagal, dan solusinya adalah kembali pada keadaan alamiah, revolusi, kekacauan, perang saudara! Apakah ini yang kau tawarkan sebagai 'sistem yang stabil'?

Dan perhatikan bahasa yang kau gunakan: 'faksi-faksi', 'kepentingan-kepentingan yang berbeda'. Engkau menerima perpecahan dalam masyarakat sebagai sesuatu yang normal, bahkan diinginkan! Bagiku, faksi-faksi adalah penyakit dalam tubuh politik! Mereka mendistorsi kehendak umum menjadi kehendak parsial! "When factions arise... the general will becomes mute. Everyone, under the guise of the public interest, pursues his own private interest" [Begitu kelompok-kelompok kepentingan mulai menjamur, suara kehendak bersama pun lenyap. Semua orang berlomba-lomba menyamar sebagai pembela kepentingan umum, padahal sejatinya sibuk mengurus keuntungan diri sendiri.] (Rousseau, The Social Contract 45).

Inilah mengapa aku menekankan bahwa dalam negara yang sehat, tidak boleh ada perkumpulan-perkumpulan parsial. Warga negara harus berpikir sendiri-sendiri, tidak sebagai anggota kelompok tertentu, sehingga mereka bisa menemukan kehendak umum yang sejati! Jika terpaksa ada perkumpulan, jumlahnya harus banyak dan kecil-kecil, supaya tidak ada satu pun yang mendominasi."

SCHUMPETER
 
(tertawa keras):

"Tidak boleh ada perkumpulan parsial? Tidak boleh ada partai politik? Tidak boleh ada kelompok kepentingan? Tuan Rousseau, ini bukan demokrasi! Ini adalah kediktatoran yang menyamar! Anda ingin menghilangkan semua kelompok yang bisa menjadi penyeimbang kekuasaan negara. Anda ingin individu yang terisolasi berhadapan langsung dengan kehendak umum yang abstrak, yang pada praktiknya akan ditafsirkan oleh mereka yang berkuasa!

"The picture of the electorate... which the classical doctrine has drawn is that of masses of individuals who, at regular intervals and under the spur of the electioneering activities of the parties, wake up from their normal state of apathy to pass judgment on the great questions of the day" [Ajaran klasik membayangkan para pemilih sebagai kumpulan individu yang, secara berkala dan berkat gebyar kampanye partai, tiba-tiba melek dari sikap cuek mereka sehari-hari, lalu turun memberi vonis atas soal-soal besar bangsa] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 273).

Ini tidak realistis! Dalam masyarakat modern, manusia selalu berorganisasi. Mereka membentuk serikat pekerja, asosiasi pengusaha, kelompok agama, organisasi petani. Dan justru melalui organisasi-organisasi inilah mereka bisa menyuarakan kepentingannya secara efektif! Jika Anda melarang ini semua, yang terjadi bukanlah demokrasi langsung yang murni, melainkan mobilisasi massa oleh negara!"

TOGOG
 
(mengangguk-angguk, matanya yang sayu tiba-tiba tampak lebih tajam):

"Togog setuju dengan Tuan Schumpeter dalam hal ini. Tuan Rousseau, gagasan Anda tentang 'tidak boleh ada perkumpulan parsial' terdengar sangat berbahaya. Di dunia wayang, para raksasa sering menggunakan alasan serupa. Mereka bilang: 'Jangan ada yang membentuk kelompok sendiri-sendiri! Semua harus tunduk pada satu komando! Satu kehendak! Satu tujuan!' Dan tahukah Anda? Kehendak yang satu itu ternyata adalah kehendak sang raksasa sendiri!

Bilung, kau ingat waktu kita mengabdi pada Prabu Dasamuka di Alengka? Bagaimana dia selalu bilang bahwa Alengka butuh persatuan, tidak boleh ada oposisi? Dan semua yang membantah dianggap pengkhianat?"

BILUNG
 
(mengangguk takut-takut):

"Iya, Pak. Waktu itu ada punggawa yang protes karena kebijakan perang terus-menerus membuat rakyat kelaparan. Dia langsung dihukum mati dengan tuduhan memecah belah persatuan Alengka."

ROUSSEAU
 
(wajahnya tegang, suaranya meninggi):

"Kalian salah paham! Aku tidak berbicara tentang kediktatoran! Aku berbicara tentang masyarakat di mana warga negara benar-benar bebas karena mereka tidak terjebak dalam kepentingan kelompok! Ketika kau memilih sebagai anggota serikat pekerja, kau memilih berdasarkan kepentingan serikat pekerja. Ketika kau memilih sebagai anggota gereja, kau memilih berdasarkan kepentingan gereja. Kapan kau memilih sebagai WARGA NEGARA? Kapan kau memikirkan KEPENTINGAN BERSAMA?

"Each of us puts his person and all his power in common under the supreme direction of the general will; and in a body we receive each member as an indivisible part of the whole" [Setiap orang menyerahkan diri dan seluruh kekuatannya untuk dikelola bersama, di bawah tuntunan kehendak umum. Dalam kesatuan itu, kita menyambut setiap anggota sebagai bagian utuh yang tak terpisahkan dari seluruh tubuh masyarakat.] (Rousseau, The Social Contract 24).

Ini adalah kontrak sosial yang sejati! Setiap orang menyerahkan dirinya kepada komunitas, dan sebagai gantinya ia menjadi bagian yang tak terpisahkan dari komunitas itu. Tidak ada lagi 'kepentingan serikat pekerja' versus 'kepentingan pengusaha'. Yang ada hanyalah 'kepentingan kita bersama sebagai warga negara'.

Dan Togog, mengenai ceritamu tentang Alengka... itu adalah contoh penyalahgunaan, bukan argumen melawan prinsipku. Dasamuka menggunakan bahasa persatuan untuk menindas. Tapi dia tidak menciptakan kehendak umum yang sejati. Dia tidak bertanya pada rakyatnya! Dia tidak mengadakan majelis di mana setiap warga negara bisa bersuara! Yang dia lakukan adalah kediktatoran yang menyamar sebagai persatuan!"


BABAK IV: SCHUMPETER DAN DEMOKRASI SEBAGAI KOMPETISI ELIT

SCHUMPETER
 
(berdiri di tengah ruangan, mengambil posisi seperti dosen yang akan memberikan kuliah):

"Cukup! Aku sudah cukup mendengarkan perdebatan kalian tentang ideal-ideal demokrasi yang tidak pernah terwujud dan mungkin tidak akan pernah terwujud. Izinkan aku sekarang menjelaskan realitas demokrasi sebagaimana ia benar-benar beroperasi di abad ke-20.
Aku tidak berbicara tentang apa yang SEHARUSNYA terjadi. Aku berbicara tentang apa yang SESUNGGUHNYA terjadi. Dan apa yang sesungguhnya terjadi di negara-negara yang disebut demokratis, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, adalah bahwa demokrasi adalah sebuah METODE, bukan sebuah TUJUAN. Demokrasi adalah mekanisme untuk memilih pemimpin, bukan pemerintahan oleh rakyat.

"The democratic method is that institutional arrangement for arriving at political decisions in which individuals acquire the power to decide by means of a competitive struggle for the people's vote" [Demokrasi itu pada dasarnya adalah cara melembagakan proses pengambilan keputusan politik, di mana orang-orang meraih kekuasaan untuk memutuskan dengan bertarung secara kompetitif demi meraup suara rakyat.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 269).

Perhatikan kata-kataku: 'individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan melalui persaingan kompetitif untuk mendapatkan suara rakyat.' Ini mirip dengan pasar ekonomi! Politisi adalah pengusaha yang menjual produk kebijakan. Pemilih adalah konsumen yang memilih produk mana yang mereka sukai. Partai politik adalah perusahaan yang mengorganisir produksi dan pemasaran produk-produk kebijakan. Dan pemilu adalah transaksi di mana suara ditukar dengan janji-janji kebijakan."

ROUSSEAU
 
(melompat dari kursinya, wajahnya merah padam):

"Ini penghinaan terhadap martabat politik! Anda mereduksi kewarganegaraan, panggilan paling mulia manusia, menjadi sekadar transaksi jual beli! Anda menyamakan warga negara dengan konsumen di pasar! Apakah keadilan bisa dibeli? Apakah kebebasan bisa ditawar? Apakah kedaulatan bisa dijual dalam obral pemilu?"

LOCKE
 
(juga terlihat terganggu, meskipun lebih terkendali):

"Tuan Schumpeter, meskipun aku berbeda pendapat dengan Rousseau tentang banyak hal, aku harus setuju bahwa analogi pasar Anda terlalu reduksionis. Pemerintahan bukanlah bisnis. Tujuan politik bukanlah keuntungan, melainkan kebaikan bersama. "The great and chief end, therefore, of men's uniting into commonwealths and putting themselves under government is the preservation of their property" [Jadi, alasan paling mendasar mengapa manusia membentuk negara dan tunduk pada pemerintah sebenarnya cuma satu: demi melindungi hak milik mereka, yaitu nyawa, kebebasan, dan harta benda.] (Locke, Two Treatises of Government 350). Dan yang kumaksud dengan 'property' bukan hanya harta benda, melainkan kehidupan, kebebasan, dan apa yang menjadi milik setiap manusia."

SCHUMPETER
 
(tersenyum sinis):

"Ah, romantisme. Kalian terjebak dalam ilusi abad ke-18. Tuan Locke, Anda mengatakan tujuan pemerintahan adalah perlindungan properti. Tapi dalam praktiknya, pemerintah modern mengelola ekonomi, menyediakan layanan sosial, mengatur perdagangan internasional, menjalankan program luar angkasa. Apakah rakyat biasa memahami kompleksitas kebijakan moneter? Apakah mereka tahu detail perjanjian perdagangan internasional? Tentu tidak! Mereka hanya tahu apakah ekonomi sedang baik atau buruk. Apakah harga-harga stabil atau naik. Apakah ada lapangan kerja atau pengangguran.
"Thus the typical citizen drops down to a lower level of mental performance as soon as he enters the political field" [Jadi, begitu masuk ke gelanggang politik, warga biasa biasanya langsung kehilangan ketajaman berpikirnya.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 262).

Dan ini bukan karena rakyat bodoh. Ini karena politik adalah bidang yang jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Seorang petani tahu segalanya tentang tanahnya, tanamannya, cuaca, harga gabah. Tapi apakah dia tahu tentang implikasi perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa terhadap sektor pertanian? Apakah dia mengikuti negosiasi-negosiasi di World Trade Organization? Tentu tidak! Dia punya pekerjaan yang lebih penting: memastikan panennya berhasil, memberi makan keluarganya!

Dan di sinilah letak kebijaksanaan demokrasi perwakilan yang sesungguhnya. Bukan rakyat yang memerintah, itu mitos. Tapi rakyat memilih siapa yang akan memerintah. Dan para pemimpin ini bersaing untuk mendapatkan dukungan rakyat. Persaingan ini, seperti persaingan di pasar, memaksa mereka untuk setidaknya memperhatikan kepentingan rakyat. Jika tidak, mereka akan kalah dalam pemilu berikutnya.

"Democracy does not mean and cannot mean that the people actually rule in any obvious sense of the terms 'people' and 'rule.' Democracy means only that the people have the opportunity of accepting or refusing the men who are to rule them" [Demokrasi bukan berarti rakyat yang memegang kendali pemerintahan secara langsung. Dalam praktiknya, demokrasi cuma memberi rakyat kesempatan untuk mengatakan ya atau tidak kepada orang-orang yang akan memimpin mereka.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 284)."

TOGOG

(mengangguk-angguk, wajahnya yang penuh keriput tampak muram):

"Togog sekarang benar-benar mengerti. Jadi demokrasi modern, yang kalian banggakan di Barat, sebenarnya adalah sistem di mana rakyat biasa seperti Togog dan Bilung ini tidak benar-benar berkuasa. Kami cuma disuruh memilih siapa yang akan menjadi majikan kami untuk beberapa tahun ke depan. Setelah itu, terserah majikan itu mau berbuat apa. Kalau kami tidak suka, ya sudah, tunggu pemilu berikutnya.

Tapi Togog mau tanya, Tuan Schumpeter: Bukankah ini mirip dengan kerajaan-kerajaan di zaman Togog dulu? Bedanya, kalau di zaman Togog, rajanya ditentukan oleh keturunan. Kalau di sistem Tuan, rajanya ditentukan oleh pemilu. Tapi ujung-ujungnya sama: yang memerintah adalah segelintir orang, dan rakyat kebanyakan hanya bisa menerima atau menolak, itupun kalau mereka berani. Di zaman Togog, rakyat yang tidak suka pada raja bisa memberontak. Di sistem Tuan, rakyat yang tidak suka bisa memilih oposisi. Apakah ini benar-benar kemajuan?"

BILUNG
 
(menggaruk kepala):

"Jadi Pak Togog, demokrasi itu sebenarnya cuma ganti majikan secara teratur? Bukannya merdeka dari majikan?"

TOGOG
 
(menepuk bahu Bilung):

"Pertanyaan bagus, Bilung. Pertanyaan yang sangat bagus."

SCHUMPETER
 
(menatap Togog dengan campuran rasa hormat dan kekesalan):

"Togog yang terhormat, Anda menyederhanakan argumen saya secara berlebihan. Tapi saya akui, ada benarnya juga. Namun, perbedaannya sangat FUNDAMENTAL. Dalam monarki tradisional, rakyat tidak punya mekanisme formal untuk mengganti penguasa. Pemberontakan adalah tindakan ilegal yang bisa dihukum mati. Dalam demokrasi modern, rakyat bisa mengganti penguasa secara damai, teratur, dan konstitusional.

"The principle of democracy then means merely that the reins of government should be handed to those who command more support than do any of the competing individuals or teams" [Jadi, prinsip demokrasi sesungguhnya cuma ini: kendali pemerintahan diberikan kepada pihak yang berhasil menggalang dukungan lebih besar dibandingkan para pesaingnya.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 273).

Dan yang lebih penting: dalam monarki, tidak ada persaingan untuk mendapatkan dukungan rakyat. Raja memerintah karena dia lahir sebagai raja. Dia tidak perlu peduli apakah rakyatnya menderita atau tidak, selama penderitaan itu tidak memicu pemberontakan. Tapi dalam demokrasi, para pemimpin HARUS bersaing untuk mendapatkan suara. Mereka harus mendengarkan, setidaknya sampai batas tertentu, apa yang diinginkan rakyat. Jika tidak, mereka akan diganti.

Apakah ini sistem yang sempurna? Tentu tidak! Tapi ini adalah sistem yang LEBIH BAIK dari alternatif-alternatifnya. Seperti yang dikatakan Winston Churchill: 'Demokrasi adalah bentuk pemerintahan terburuk, kecuali semua bentuk lain yang pernah dicoba.'"

ROUSSEAU
 
(berdiri, mengepalkan tinjunya, suaranya bergetar oleh kemarahan yang tertahan):

"LEBIH BAIK? Anda menyebut sistem yang mereduksi manusia menjadi sekadar pemilih setiap empat tahun sebagai 'lebih baik'? Sistem di mana warga negara hanya menjadi penonton dalam drama politik yang dimainkan oleh para elit? Di mana 'kehendak rakyat' diproduksi secara massal oleh mesin-mesin propaganda partai?

"Sovereignty cannot be represented, for the same reason that it cannot be alienated. It consists essentially in the general will, and will does not admit of representation. It is either itself or something else. There is no middle ground" [Kedaulatan tidak bisa diwakilkan, sama persis seperti ia tak bisa begitu saja diserahkan kepada orang lain. Soalnya, kedaulatan itu intinya adalah kehendak bersama, dan kehendak macam apa yang bisa diwakilkan? Ia harus utuh sebagai dirinya sendiri. Kalau tidak, ia bukan apa-apa. Tidak ada tawar-menawar di sini..] (Rousseau, The Social Contract 153).

Apa yang Anda gambarkan, Tuan Schumpeter, bukanlah demokrasi. Itu adalah aristokrasi elektoral. Oligarki dengan wajah manusiawi. Para pemimpin bersaing untuk mendapatkan kekuasaan, dan rakyat hanya menjadi alat legitimasi bagi persaingan itu.

Dan Tuan Locke, sistem perwakilan Anda tidak jauh lebih baik. Anda mengklaim bahwa wakil rakyat adalah wali amanat. Tapi dalam praktiknya, begitu terpilih, mereka menjadi independen. Mereka memilih berdasarkan kepentingan mereka sendiri, atau kepentingan partai mereka, atau kepentingan donor kampanye mereka, bukan berdasarkan kepentingan konstituen yang memilih mereka.
 
"The people of England thinks it is free. It is greatly mistaken. It is free only during the election of Members of Parliament. Once they are elected, it is enslaved, it is nothing" [Orang Inggris merasa diri mereka merdeka, padahal salah besar. Kemerdekaan mereka cuma berlaku selama proses pemilu berlangsung. Setelah wakil rakyat terpilih, mereka langsung diperbudak lagi dan kehilangan seluruh artinya.] (Rousseau, The Social Contract 141)."

BABAK V: KRITIK TOGOG YANG MENUKIK

TOGOG

(berdiri perlahan, tubuhnya yang kurus dan tua bergerak dengan keanggunan yang tak terduga. Suaranya tiba-tiba terdengar lebih dalam, lebih berwibawa, seolah-olah ia bukan sekadar punakawan tua, melainkan seorang begawan yang menyimpan kebijaksanaan ribuan tahun):

"Saudara-saudaraku dari negeri seberang... Izinkan Togog, seorang abdi tua dari dunia wayang, untuk berbicara. Togog sudah mendengarkan dengan sabar perdebatan kalian. Togog sudah memperhatikan argumen-argumen kalian yang canggih, teori-teori kalian yang rumit, kutipan-kutipan dari buku-buku tebal yang mungkin lebih berat dari tubuh Togog sendiri.
Tapi semakin Togog mendengarkan, semakin Togog merasa bahwa kalian semua, dan Togog minta maaf karena harus berkata jujur, telah jatuh ke dalam lubang yang sama. Apakah kalian tahu lubang apa itu?"

Keheningan. Ketiga filsuf itu saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab.

TOGOG
 
(tersenyum lebar, mulutnya yang lebar semakin melebar, memperlihatkan gusi yang ompong):

"Kalian semua terjebak dalam asumsi bahwa demokrasi adalah tentang PROSEDUR. Tentang MEKANISME. Tentang BAGAIMANA keputusan dibuat. Tuan Rousseau bicara tentang majelis langsung. Tuan Locke bicara tentang pemilu perwakilan. Tuan Schumpeter bicara tentang kompetisi elit. Tapi tidak ada dari kalian yang bertanya: apa TUJUAN dari semua ini? Untuk apa kita berdemokrasi?

Togog teringat pada satu percakapan dengan kakak Togog, Semar, atau seperti yang sering ia sebut dirinya, Batara Ismaya. Kami berdua adalah penjelmaan dewa. Kami memilih jalan yang berbeda. Semar memilih mengabdi pada para ksatria, pada kebenaran. Togog... Togog memilih mengabdi pada para raksasa, pada angkara murka.

Tapi ketahuilah: tugas Togog bukanlah membantu kejahatan. Tugas Togog adalah MENGINGATKAN. Setiap kali majikan Togog, entah itu Dasamuka, Niwatakawaca, atau siapapun, hendak melakukan kejahatan, Togog selalu berkata: 'Tuanku, apakah ini bijaksana? Apakah ini adil? Apakah ini akan membawa kebahagiaan bagi rakyat?' Dan Togog selalu diabaikan. Selalu ditertawakan. Kadang bahkan dipukuli.

Tapi Togog tidak berhenti. Karena Togog tahu: sejahat-jahatnya makhluk, selalu ada kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Selalu ada momen, sekecil apapun, di mana hati nurani berbicara. Dan tugas Togog adalah menjadi suara hati nurani itu.
Sekarang Togog bertanya pada kalian: dalam sistem demokrasi yang kalian banggakan, di manakah tempat untuk suara seperti Togog? Di manakah tempat untuk pengingat? Untuk kritik yang tidak populer? Untuk kebenaran yang tidak menyenangkan?

Tuan Rousseau, dalam sistemmu, apakah suara Togog akan didengar? Ataukah Togog akan dianggap sebagai 'kehendak parsial' yang mengganggu 'kehendak umum'? Bukankah dalam sistemmu, siapa pun yang berbeda pendapat dengan mayoritas akan dipaksa untuk 'bebas'? Bukankah itu berarti Togog akan dipaksa untuk mengakui bahwa kejahatan majikan Togog adalah 'kehendak umum'?

Tuan Locke, dalam sistemmu, Togog mungkin bisa memilih wakil setiap beberapa tahun. Tapi setelah itu, Togog tidak punya suara. Apakah wakil-wakil itu akan mendengarkan Togog? Atau mereka akan mendengarkan donor kampanye mereka? Atau partai mereka? Atau ambisi mereka sendiri? Engkau bicara tentang hak revolusi sebagai jalan terakhir. Tapi bukankah itu pengakuan bahwa seluruh sistemmu gagal mendengarkan suara-suara seperti Togog?

Dan Tuan Schumpeter... Tuan adalah yang paling jujur. Tuan mengakui bahwa demokrasi hanyalah kompetisi di antara elit. Tapi dengan mengakuinya, Tuan juga menjustifikasinya. Tuan mengatakan bahwa inilah realitas, dan kita harus menerimanya. Tapi Togog tidak bisa menerima! Togog menolak untuk menerima bahwa nasib rakyat kebanyakan hanyalah menjadi penonton dalam drama yang dimainkan oleh para elit!

Kalian bertiga... Kalian seperti tiga orang buta yang sedang memeriksa seekor gajah. Tuan Rousseau memegang belalainya dan berkata: 'Demokrasi itu seperti ular yang panjang.' Tuan Locke memegang kakinya dan berkata: 'Demokrasi itu seperti pohon yang kokoh.' Tuan Schumpeter memegang ekornya dan berkata: 'Demokrasi itu seperti tali yang kecil dan tidak berarti.' Masing-masing dari kalian benar tentang bagian yang kalian pegang. Tapi tidak ada yang melihat gajahnya secara keseluruhan!"

ROUSSEAU
 
(wajahnya pucat, suaranya lebih pelan dari sebelumnya):

"Togog... Kau menuduhku akan menindas suara-suara yang berbeda. Itu tuduhan yang serius. Tapi bukankah aku sudah menjelaskan bahwa kehendak umum bukanlah kehendak mayoritas? Bahwa kehendak umum adalah apa yang terbaik untuk semua, terlepas dari berapa banyak yang mendukungnya? Dan bahwa dalam majelis, setiap warga negara harus berpikir sendiri-sendiri, bukan mengikuti kelompoknya?"

TOGOG
 
(menggelengkan kepala):

"Tuan Rousseau, itulah justru masalahnya. Anda berbicara tentang warga negara yang berpikir sendiri-sendiri. Tapi manusia tidak hidup sendiri-sendiri! Manusia hidup dalam komunitas. Dalam keluarga. Dalam kampung. Dalam jaringan hubungan sosial yang rumit. Ketika Anda meminta setiap orang untuk 'berpikir sendiri-sendiri', Anda sebenarnya meminta mereka untuk melepaskan diri dari semua ikatan sosial mereka. Dan apa yang tersisa? Individu yang terisolasi, yang mudah dimanipulasi oleh siapa pun yang menguasai panggung!

Di pengalaman Togog, tidak ada yang namanya 'berpikir sendiri-sendiri'. Ketika rakyat berkumpul di alun-alun, selalu ada yang bersuara paling lantang. Selalu ada yang paling karismatik. Selalu ada yang paling ditakuti. Dan orang-orang akan mengikuti mereka, bukan karena mereka setuju, tapi karena mereka takut terlihat berbeda. Inilah yang terjadi di Alengka. Inilah yang terjadi di Kerajaan Astina. Dan Togog curiga, inilah yang juga terjadi di mana-mana, termasuk di Jenewa atau Paris!"

LOCKE
 
(mengusap dagunya, merenung):

"Togog, aku mengakui kebijaksanaanmu. Tapi bukankah dalam sistemku, justru ada ruang untuk suara-suara seperti milikmu? Faksi-faksi yang berbeda bisa saling mengimbangi. Jika Togog memiliki ide yang baik, Togog bisa membentuk kelompok sendiri, mencari pendukung, dan mempengaruhi kebijakan melalui saluran-saluran yang tersedia. Bukankah itu lebih baik daripada sistem Rousseau yang mencurigai semua kelompok?"

TOGOG
 
(tertawa kecil):

"Tuan Locke... Togog hanyalah seorang abdi tua. Togog tidak punya uang untuk membentuk partai. Togog tidak punya koneksi untuk mencari pendukung. Togog tidak punya pendidikan untuk berdebat dengan kaum terpelajar. Apakah suara Togog bisa bersaing dengan suara orang-orang kaya? Dengan suara para tuan tanah? Dengan suara para pedagang besar?
Anda berbicara tentang 'saluran yang tersedia'. Tapi saluran itu dibangun oleh elit, untuk elit, dan dikendalikan oleh elit. Togog mungkin bisa berbicara. Tapi apakah Togog akan didengar? Atau suara Togog hanya akan menjadi angin lalu, tenggelam dalam hiruk-pikuk persaingan antar faksi yang lebih kuat?

Dan Anda berbicara tentang hak revolusi sebagai jalan terakhir. Tapi revolusi, Tuan Locke, adalah kekerasan. Darah. Kehancuran. Apakah itu jalan yang Anda tawarkan kepada Togog? Apakah Togog harus menunggu sampai penderitaan begitu tak tertahankan sehingga tidak ada jalan lain kecuali mengangkat senjata melawan pemerintah yang seharusnya melayani Togog?"

SCHUMPETER
 
(yang sedari tadi menyimak dengan ekspresi ironis, akhirnya angkat bicara):

"Togog, saya menghargai kritik Anda. Sungguh, saya menghargainya. Tapi izinkan saya bertanya balik: apa alternatifnya? Anda mengkritik sistem kami bertiga. Tapi apa yang Anda tawarkan? Jika demokrasi langsung tidak realistis, demokrasi perwakilan penuh dengan distorsi, dan demokrasi elit adalah oligarki terselubung... lalu apa solusinya? Kembali ke monarki? Atau anarki?"

TOGOG
 
(duduk kembali, menatap ketiga filsuf itu dengan mata tuanya yang sayu namun tajam):
"Itulah pertanyaan yang tepat, Tuan Schumpeter. Dan Togog harus jujur: Togog tidak punya jawaban yang sempurna. Togog hanyalah seorang abdi tua. Bukan seorang filsuf. Bukan seorang negarawan.

Tapi Togog tahu apa yang salah. Dan mengetahui apa yang salah adalah langkah pertama menuju perbaikan. Kalian bertiga telah mengidentifikasi masalah-masalah penting:
Tuan Rousseau benar: representasi selalu mengandung distorsi. Ada jurang antara kehendak rakyat dan apa yang dilakukan oleh 'wakil' mereka.

Tuan Locke benar: rakyat tidak bisa memerintah setiap hari. Harus ada mekanisme pendelegasian kekuasaan yang praktis.

Tuan Schumpeter benar: dalam praktiknya, demokrasi selalu dikelola oleh segelintir elit.
Tapi kalian semua melewatkan satu hal: DEMOKRASI BUKANLAH HANYA TENTANG PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Demokrasi, jika ia ingin bermakna, harus menjadi CARA HIDUP. Sebuah budaya. Sebuah kebiasaan untuk mendengarkan, menghormati, dan mempertimbangkan suara orang lain, TERUTAMA suara-suara yang lemah, yang terpinggirkan, yang tidak populer.

Di dunia wayang, ada istilah: 'Manunggaling Kawula Gusti'. Bersatunya rakyat dan pemimpin. Ini bukan berarti rakyat larut dalam kehendak pemimpin. Bukan pula pemimpin larut dalam kehendak rakyat. Tapi keduanya berada dalam harmoni, saling mendengarkan, saling mengingatkan, saling melengkapi.

Apakah ini mungkin? Togog tidak tahu. Dalam ribuan tahun Togog mengabdi pada para raksasa, Togog belum pernah melihatnya terjadi. Tapi Togog terus berharap. Karena tanpa harapan, untuk apa kita hidup?"

BABAK VI: DISKUSI TENTANG PENDIDIKAN DAN KESADARAN POLITIK

Keheningan panjang. Ketiga filsuf itu merenungkan kata-kata Togog. Rousseau adalah yang pertama memecah kesunyian.

ROUSSEAU
 
(suaranya kini lebih lembut, lebih kontemplatif):

"Togog, kau menyentuh sesuatu yang sangat fundamental. Aku menghabiskan banyak waktu dalam hidupku memikirkan tentang pendidikan, tentang bagaimana membentuk warga negara yang baik. Dalam bukuku Emile, aku menulis: 'We are born weak, we need strength; we are born destitute, we need assistance; we are born stupid, we need judgment. All that we lack at birth, all that we need when we come to man's estate, is the gift of education' [Kita lahir dalam keadaan lemah, maka kita perlu kekuatan. Lahir tanpa bekal, maka kita perlu uluran tangan. Lahir tanpa pengetahuan, maka kita perlu pertimbangan. Semua yang tak kita bawa sejak lahir, dan semua yang kita butuhkan ketika dewasa, cuma bisa kita dapatkan lewat pendidikan.] (Rousseau, Emile 6).

Demokrasi langsung yang kubayangkan tidak bisa berjalan tanpa warga negara yang terdidik. Warga negara yang memahami bahwa kebebasan bukanlah sekadar melakukan apa yang diinginkan, melainkan melakukan apa yang seharusnya dilakukan demi kebaikan bersama. Inilah mengapa aku begitu menekankan pentingnya 'agama sipil', bukan dalam arti agama yang dogmatis, tapi seperangkat nilai bersama yang mengikat warga negara. 'There is therefore a purely civil profession of faith, the articles of which it is up to the sovereign to fix... not exactly as religious dogmas, but as sentiments of sociability, without which it is impossible to be a good citizen or a faithful subject' [Jadi, negara perlu menetapkan semacam ikrar sipil, bukan sebagai ajaran agama yang baku, melainkan sebagai nilai-nilai kebersamaan yang wajib dijunjung. Tanpa ini, tidak mungkin seseorang bisa menjadi warga negara yang baik ataupun rakyat yang taat.] (Rousseau, The Social Contract 150).
Tanpa ini, demokrasi akan runtuh menjadi pertarungan kepentingan pribadi. Tanpa ini, rakyat akan mudah dimanipulasi oleh para demagog. Tanpa ini, kebebasan akan berubah menjadi lisensi, dan lisensi akan berubah menjadi tirani.

Aku mengakui, Togog, bahwa dalam sistemku ada bahaya tirani mayoritas. Tapi itulah mengapa pendidikan sangat penting. Warga negara harus dididik untuk bisa membedakan antara kehendak umum yang sejati dan kehendak mayoritas yang hanya merupakan jumlah dari kepentingan-kepentingan pribadi."

TOGOG
 
(mengangguk pelan):

"Pendidikan... ya, Togog mengerti pentingnya pendidikan. Tapi Tuan Rousseau, siapa yang akan mendidik para pendidik? Siapa yang akan menentukan apa yang diajarkan? Dan bukankah kontrol atas pendidikan adalah kekuasaan yang sangat besar? Jika Tuan memberikan kekuasaan untuk mendidik warga negara kepada negara, bukankah itu berarti negara bisa membentuk warga negara sesuai dengan keinginannya? Dan jika negara bisa membentuk warga negara, apa bedanya dengan tirani yang paling halus?

Togog teringat pada satu cerita. Di sebuah kerajaan di timur, ada seorang raja yang sangat bijaksana. Dia membangun sekolah-sekolah di seluruh negeri. Dia mewajibkan semua anak untuk bersekolah. Rakyat memujanya. Tapi tahukah apa yang diajarkan di sekolah-sekolah itu? Bahwa raja adalah titisan dewa. Bahwa melawan raja adalah dosa besar. Bahwa kemiskinan adalah takdir dan pemberontakan adalah kejahatan. Apakah ini pendidikan? Atau indoktrinasi?

Di negeri Tuan, siapa yang menentukan 'agama sipil'? Siapa yang menulis 'profesi iman sipil' itu? Jika itu ditentukan oleh penguasa, bahkan oleh mayoritas, bukankah itu berbahaya bagi minoritas? Apakah Togog, sebagai abdi raksasa, akan dipaksa untuk mengakui bahwa majikan Togog adalah jahat, meskipun Togog tahu bahwa di dalam kejahatannya, masih ada secercah kebaikan?"

ROUSSEAU
 
(terdiam, lalu menghela napas panjang):

"Itu pertanyaan yang sulit, Togog. Sangat sulit. Aku tidak bisa menyangkal bahwa ada bahaya dalam memberikan kekuasaan pendidikan kepada negara. Tapi apa alternatifnya? Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada keluarga? Kepada gereja? Kepada pasar? Masing-masing memiliki kepentingannya sendiri. Masing-masing akan membentuk anak sesuai dengan kepentingannya.

Aku tidak punya jawaban yang sempurna. Yang bisa kukatakan adalah: pendidikan harus membebaskan, bukan membelenggu. Pendidikan harus mengajarkan anak untuk BERPIKIR, bukan untuk MENURUT. 'The only moral lesson which is suited for childhood and the most important for any age is never to hurt anybody' [Hanya ada satu pelajaran moral yang pantas untuk anak-anak, dan pelajaran yang sama juga yang paling penting untuk semua umur: jangan pernah menyakiti orang lain.] (Rousseau, Emile 104).

Tapi aku akui: antara ideal dan realitas, selalu ada jurang yang lebar."

LOCKE

(menimpali dengan penuh semangat):

"Justru karena itu aku menekankan pentingnya pendidikan yang toleran dan liberal! Dalam Some Thoughts Concerning Education, aku menulis bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berbudi, bukan sekadar manusia yang terpelajar. 'Virtue is harder to be got than knowledge of the world; and if lost in a young man, is seldom recovered' [Menanamkan budi pekerti itu jauh lebih susah daripada sekadar membekali anak muda dengan wawasan dunia. Begitu luntur, akhlak baik itu nyaris mustahil dikembalikan.] (Locke, Some Thoughts Concerning Education 64).

Dan dalam A Letter Concerning Toleration, aku menekankan bahwa negara tidak boleh memaksakan keyakinan tertentu kepada warganya. 'The care of souls is not committed to the civil magistrate, any more than to other men... because the power of the magistrate consists only in outward force; but true and saving religion consists in the inward persuasion of the mind' [Perkara iman dan keselamatan jiwa bukanlah urusan pejabat negara, sama seperti bukan urusan sembarang orang. Sebab, kekuasaan pemerintah cuma bisa memaksa secara fisik. Sementara itu, iman yang sejati tumbuh dari dalam hati, dari keyakinan batin yang tidak bisa dipaksakan.] (Locke, A Letter Concerning Toleration 27).

Negara harus melindungi hak warga negara untuk berpikir dan berkeyakinan sesuai dengan hati nuraninya. Inilah fondasi dari masyarakat yang bebas! Dan dalam sistemku, pendidikan tidak dimonopoli oleh negara. Keluarga, gereja, dan komunitas memiliki peran masing-masing. Keragaman ini adalah kekuatan, bukan kelemahan!"

SCHUMPETER
 
(tertawa kecil, matanya berkilat sinis):

"Toleransi, pendidikan liberal, budi pekerti... Indah sekali. Tapi Tuan Locke, Anda hidup di abad ke-17. Sejak saat itu, kita telah belajar banyak tentang bagaimana opini dibentuk. Pendidikan liberal yang Anda banggakan tidak menjamin bahwa orang akan menjadi warga negara yang kritis dan independen.

Justru sebaliknya! Orang-orang berpendidikan tinggi sekalipun bisa menjadi korban propaganda. Mereka bisa rasional dalam urusan pribadi mereka, dalam bisnis, dalam karir, tapi irasional dalam urusan politik. Mereka membaca surat kabar yang mengkonfirmasi prasangka mereka. Mereka bergaul dengan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Mereka terjebak dalam apa yang sekarang disebut sebagai 'echo chambers', ruang gema di mana mereka hanya mendengar pendapat yang sama dengan pendapat mereka sendiri.
Dan inilah masalahnya: demokrasi modern TIDAK BISA berjalan dengan asumsi bahwa warga negara akan menjadi pemikir independen yang rasional. Justru sebaliknya, demokrasi modern berjalan dengan mengelola IRASIONALITAS massa! 'The will of the people is the product and not the motive power of the political process' [Kehendak rakyat itu sebetulnya hasil jadi dari proses politik, bukan mesin yang menggerakkannya.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 263).

Saya tidak mengatakan bahwa ini ideal. Saya hanya mengatakan bahwa ini adalah realitas. Dan kebijakan harus didasarkan pada realitas, bukan pada utopia!"

TOGOG
 
(mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan):

"Togog sekarang melihat dengan lebih jelas. Ada tiga posisi di sini.

PERTAMA, posisi Tuan Rousseau: warga negara harus dididik untuk menjadi pemikir independen yang bisa menemukan 'kehendak umum'. Tapi siapa yang mendidik? Dan bagaimana memastikan bahwa pendidikan itu membebaskan, bukan mengindoktrinasi?
KEDUA, posisi Tuan Locke: biarkan pendidikan beragam. Biarkan keluarga, agama, komunitas masing-masing mendidik dengan cara mereka sendiri. Tapi bukankah ini akan menciptakan masyarakat yang terfragmentasi, di mana masing-masing kelompok hidup dalam dunianya sendiri, tanpa ada kesamaan nilai?
KETIGA, posisi Tuan Schumpeter: sudahlah, jangan berharap terlalu banyak pada rakyat. Mereka akan selalu irasional dalam politik. Karena itu, demokrasi hanyalah mekanisme untuk memilih elit yang akan memerintah. Tapi bukankah ini pesimisme yang berbahaya? Bukankah ini menyerah pada ketidakmungkinan demokrasi yang sejati?
Togog teringat pada kata-kata Semar, kakak Togog. Semar sering berkata: 'Kebenaran itu ada di dalam hati setiap manusia. Tapi menemukannya butuh perjuangan. Dan menyuarakannya butuh keberanian.' Mungkin, mungkin, demokrasi bukanlah tentang menemukan sistem yang sempurna. Mungkin demokrasi adalah tentang terus-menerus mencari, terus-menerus memperbaiki, terus-menerus mendengarkan suara-suara yang berbeda, termasuk suara-suara seperti Togog yang sering diabaikan."


BABAK VII: KRITIK ATAS DEMOKRASI PERWAKILAN DAN JAWABAN LOCKE


ROUSSEAU
 
(kembali berdiri, suaranya kini lebih tajam, seolah kata-kata Togog telah membangkitkan kembali semangat militannya):

"Togog, kau mengatakan bahwa demokrasi adalah tentang 'terus-menerus mencari'. Aku setuju! Tapi pencarian itu tidak bisa dilakukan jika rakyat hanya menjadi penonton! Pencarian itu hanya bisa dilakukan jika rakyat TERLIBAT secara langsung!
Dan di sinilah aku harus kembali mengkritik sistem perwakilan Tuan Locke. Dengarkan aku baik-baik, Tuan Locke, karena kali ini aku akan menggunakan argumen yang lebih fundamental.

Anda mengatakan bahwa rakyat menyerahkan SEBAGIAN hak mereka kepada komunitas melalui kontrak sosial. Tapi perhatikan: begitu rakyat memilih wakil-wakil mereka, wakil-wakil itu menjadi PEMBUAT KEPUTUSAN yang independen. Mereka tidak terikat secara hukum untuk mengikuti kehendak konstituen mereka. Mereka bisa memilih sesuai hati nurani mereka, atau sesuai kepentingan mereka.

Apa artinya ini? Artinya, kedaulatan telah BERPINDAH dari rakyat kepada parlemen! Rakyat tidak lagi berdaulat. Parlemen-lah yang berdaulat! 'The English people thinks it is free. It is greatly mistaken. It is free only during the election of Members of Parliament. Once they are elected, it is enslaved, it is nothing' [Rakyat Inggris merasa dirinya merdeka. Tapi mereka salah besar. Mereka cuma merdeka ketika memilih wakil di parlemen. Setelah wakil itu terpilih, mereka langsung terbelenggu dan kehilangan seluruh arti.] (Rousseau, The Social Contract 141).

Dan perhatikan lebih lanjut: dalam sistem Anda, Tuan Locke, tidak ada mekanisme bagi rakyat untuk MEMAKSA wakil-wakil mereka agar bertindak sesuai dengan kehendak konstituen. Anda berbicara tentang pemilu berikutnya sebagai hukuman. Tapi pemilu berikutnya masih empat atau lima tahun lagi! Sementara itu, wakil-wakil itu bisa membuat undang-undang yang merugikan rakyat, mereka bisa berperang, mereka bisa menaikkan pajak, mereka bisa melakukan apa saja! Dan rakyat tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu, atau memberontak!

Bukankah ini kegilaan? Bukankah ini pengkhianatan terhadap prinsip dasar demokrasi? 'The idea of representation is modern; it comes to us from feudal government, from that iniquitous and absurd system which degrades humanity and dishonors the name of man' [Ide tentang wakil rakyat itu produk zaman modern. Akarnya justru dari sistem feodal, sistem yang zalim, konyol, dan melecehkan martabat manusia, sekaligus mempermalukan nama kita sebagai manusia.] (Rousseau, The Social Contract 153)."

LOCKE
 
(berdiri menghadapi Rousseau, wajahnya tenang namun suaranya tegas):

"Rousseau, kau terus menggunakan kata-kata yang keras: 'perbudakan', 'pengkhianatan', 'kegilaan'. Tapi kau terus mengabaikan realitas praktis!

Pertama, dalam sistem perwakilan, wakil-wakil rakyat TIDAK independen secara absolut. Mereka tunduk pada hukum, sama seperti warga negara lainnya. Mereka tidak bisa membuat undang-undang yang melanggar hak-hak asasi. Mereka tidak bisa bertindak di luar konstitusi. 'The legislative power is the supreme power in every commonwealth... yet it is not, nor can possibly be, absolutely arbitrary over the lives and fortunes of the people' [Di setiap negara, wewenang membuat undang-undang memang memegang tampuk tertinggi. Tapi bukan berarti para pembuatnya boleh bermain-main seenaknya dengan nyawa dan harta rakyat, sama sekali tidak bisa dibenarkan.] (Locke, Two Treatises of Government 357).

Kedua, rakyat tidak hanya memiliki hak untuk memilih. Mereka juga memiliki hak untuk DIPILIH. Setiap warga negara, setidaknya setiap warga negara yang memenuhi syarat, bisa mencalonkan diri menjadi wakil. Ini berarti parlemen bukanlah institusi yang tertutup. Ia terbuka bagi siapa saja yang mendapat dukungan rakyat.

Ketiga, dalam sistem yang kuanjurkan, ada mekanisme checks and balances yang membatasi kekuasaan parlemen. Kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif dipisahkan. Mereka saling mengawasi. Tidak ada satu pun yang bisa bertindak sewenang-wenang.

Dan keempat, dan ini yang paling penting, rakyat memiliki HAK REVOLUSI. Jika parlemen bertindak melampaui batas-batas konstitusional, jika mereka melanggar hak-hak asasi rakyat, jika mereka menjadi tirani... maka rakyat berhak untuk membubarkan parlemen dan membentuk pemerintahan baru! 'Whenever the legislators endeavor to take away and destroy the property of the people, or to reduce them to slavery under arbitrary power, they put themselves into a state of war with the people, who are thereupon absolved from any further obedience' [Begitu para pembuat undang-undang mencoba merampas hak milik rakyat atau memperbudak mereka di bawah kekuasaan tirani, saat itu pula mereka menyatakan perang terhadap rakyatnya sendiri. Dan rakyat pun tak lagi terikat untuk patuh sedikit pun.] (Locke, Two Treatises of Government 411)."

SCHUMPETER
 
(menyela dengan suara keras):

"Tuan Locke! Tuan Locke! Anda terus kembali pada 'hak revolusi' ini seolah-olah itu adalah fitur, bukan bug! Revolusi adalah KEGAGALAN sistem, bukan bagian dari sistem! Jika sebuah mobil dirancang dengan baik, Anda tidak perlu mengatakan: 'Jika mobil ini mogok, Anda bisa mendorongnya.' Anda merancang mobil itu agar TIDAK mogok!

Dan tentang pemisahan kekuasaan: di Amerika Serikat, negara yang paling setia menerapkan prinsip Anda, apa yang terjadi? Presiden bisa memveto undang-undang Kongres. Kongres bisa meng-impeach Presiden. Mahkamah Agung bisa membatalkan undang-undang. Semua ini terlihat indah di atas kertas. Tapi dalam praktiknya, yang terjadi adalah kebuntuan politik! Gridlock! Masing-masing cabang kekuasaan saling menghalangi, dan rakyat menderita karena tidak ada yang bisa bertindak!

Belum lagi bahwa para hakim, yang seharusnya independen, ternyata memiliki preferensi politik mereka sendiri. Di Amerika, hakim agung dicalonkan oleh Presiden dan dikonfirmasi oleh Senat. Ini adalah proses POLITIS! Dan begitu diangkat, mereka menjabat seumur hidup! Mereka tidak bisa diganti oleh rakyat! Apakah ini demokrasi?"

TOGOG
 
(tertawa lagi, kali ini lebih pelan, lebih sinis):

"Hua ha ha... Togog semakin mengerti sekarang. Jadi di Amerika, negara yang dibanggakan sebagai 'demokrasi tertua di dunia', yang terjadi adalah: rakyat memilih Presiden dan Kongres. Tapi begitu terpilih, mereka tidak bisa berbuat banyak karena saling menghalangi. Dan ada sembilan orang tua, Mahkamah Agung, yang tidak dipilih rakyat tapi bisa membatalkan undang-undang yang dibuat oleh wakil rakyat. Dan rakyat tidak bisa berbuat apa-apa sampai pemilu berikutnya, atau sampai salah satu dari sembilan orang tua itu meninggal dan diganti.

Togog tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Ini seperti menonton wayang di mana dalangnya terus berganti-ganti, tapi ceritanya tetap sama: yang kecil tetap menderita, yang besar tetap berkuasa.

Bilung, kau masih ingat lakon 'Petruk Dadi Ratu'? Di mana Petruk, si punakawan, tiba-tiba menjadi raja?"

BILUNG
 
(matanya berbinar):

"Ingat, Pak! Waktu itu Petruk jadi raja karena mendapat pusaka dari Batara Guru. Tapi dia malah jadi raja yang zalim. Dia lupa diri. Dia malah menyiksa rakyat. Dan akhirnya dia dikutuk kembali menjadi rakyat biasa."

TOGOG
 
(mengangguk):

"Nah, itu dia. Dalam lakon itu, ada pelajaran penting: siapa pun yang berkuasa, bahkan orang baik sekalipun, bisa berubah menjadi zalim. Kekuasaan itu seperti candu. Sekali kau mencicipinya, kau ingin lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Sekarang Togog bertanya: dalam sistem kalian, bagaimana mencegah agar para wakil rakyat, yang awalnya mungkin orang baik, tidak berubah menjadi 'Petruk Dadi Ratu'? Bagaimana mencegah agar kekuasaan tidak mengkorupsi mereka? Tuan Locke bicara tentang checks and balances. Tapi bukankah checks and balances itu sendiri dijalankan oleh manusia-manusia yang juga bisa terkorupsi?"

BABAK VIII: REFLEKSI TENTANG KEKUASAAN DAN KORUPSI

LOCKE
 
(menghela napas panjang, wajahnya tampak lelah):

Togog, kau menyentuh masalah yang tidak bisa dihindari dalam semua sistem politik: korupsi oleh kekuasaan. Aku tidak naif. Aku tahu bahwa manusia, semua manusia, memiliki kelemahan. 'The frailty of human nature' adalah sesuatu yang selalu aku perhitungkan.
Justru karena itulah aku merancang sistem dengan checks and balances. Justru karena itulah aku memisahkan kekuasaan. Bukan karena aku percaya bahwa para pemimpin akan selalu baik, tapi JUSTRU karena aku tahu mereka bisa menjadi buruk! 'It may be too great a temptation to human frailty, apt to grasp at power, for the same persons who have the power of making laws to have also in their hands the power to execute them' [Amat riskan menggoda kelemahan manusia, yang memang gila kuasa, kalau orang yang sama yang berwenang menyusun undang-undang juga menggenggam kekuasaan untuk menjalankannya.] (Locke, Two Treatises of Government 365).

Sistemku dirancang dengan asumsi bahwa manusia itu egois dan rakus kekuasaan. Karena itu, kekuasaan harus dipecah-pecah. Harus ada yang mengawasi. Harus ada yang mengimbangi. Ini bukan desain yang indah. Tapi ini desain yang REALISTIS.

Dan kau benar: checks and balances juga dijalankan oleh manusia yang bisa terkorupsi. Tapi setidaknya, untuk mengkorupsi seluruh sistem, kau harus mengkorupsi BANYAK orang di BANYAK institusi. Ini lebih sulit daripada mengkorupsi satu orang atau satu institusi. 'The best fence against rebellion is the frame of government so constituted as not to afford temptation to it' [Cara paling ampuh mencegah pemberontakan adalah dengan merancang sistem pemerintahan yang tidak mengundang rakyat untuk memberontak.] (Locke, Two Treatises of Government 226).

Inilah keunggulan sistem perwakilan dengan checks and balances: ia membuat penyalahgunaan kekuasaan menjadi LEBIH SULIT. Tidak mustahil, tapi lebih sulit."

ROUSSEAU
 
(berdiri, berjalan ke arah Locke, menatapnya langsung):

"Tuan Locke, Anda mengatakan bahwa sistem Anda dirancang untuk manusia yang egois. Di sinilah letak perbedaan fundamental kita. Saya merancang sistem saya untuk manusia yang BISA menjadi baik. Untuk manusia yang memiliki potensi untuk melampaui egoisme mereka dan menemukan kehendak umum.

Anda menyerah pada egoisme manusia. Anda mengakomodasinya. Anda mendesain sistem yang MENERIMA bahwa manusia akan selalu egois. Tapi dengan melakukan itu, Anda justru MEMPERKUAT egoisme itu! Sistem Anda memberi sinyal kepada warga negara: 'Silakan egois. Silakan kejar kepentingan pribadimu. Nanti, melalui mekanisme checks and balances, egoisme kalian akan saling mengimbangi dan entah bagaimana akan menghasilkan kebaikan bersama.'

Ini adalah sihir ala Adam Smith! 'Invisible hand'! Tapi dalam politik, 'invisible hand' ini tidak bekerja! Yang terjadi bukanlah kebaikan bersama, melainkan dominasi oleh mereka yang paling kuat, paling kaya, paling berpengaruh!

Saya percaya bahwa manusia bisa lebih baik dari itu. Saya percaya bahwa melalui pendidikan, melalui partisipasi langsung dalam pengambilan keputusan, melalui pengalaman menjadi warga negara yang berdaulat, manusia bisa BELAJAR untuk mengatasi egoisme mereka. Mereka bisa BELAJAR untuk memikirkan kepentingan bersama. 'The passage from the state of nature to the civil state produces a very remarkable change in man, by substituting justice for instinct in his conduct and giving his actions the morality they previously lacked' [Ketika manusia melangkah dari keadaan alamiah menuju masyarakat beradab, terjadilah perubahan besar: tindakannya tak lagi didorong oleh naluri buta, melainkan oleh rasa keadilan. Perbuatan yang tadinya cuma dorongan insting kini punya bobot moral yang sebelumnya tak ada.] (Rousseau, The Social Contract 29).

Demokrasi langsung bukan hanya metode pengambilan keputusan. Ia adalah SEKOLAH untuk menjadi warga negara! Setiap kali seorang warga negara hadir di majelis, setiap kali ia mendengarkan argumen orang lain, setiap kali ia memberikan suaranya berdasarkan pertimbangan tentang kebaikan bersama, ia sedang BELAJAR. Ia sedang bertransformasi dari makhluk egois menjadi warga negara yang bermoral!"

SCHUMPETER
 
(berdiri, bertepuk tangan perlahan dengan nada mengejek):

"Indah! Sungguh indah! Tuan Rousseau, Anda seharusnya menjadi penyair, bukan filsuf politik! 'Demokrasi sebagai sekolah kewarganegaraan'... 'Transformasi dari makhluk egois menjadi warga negara yang bermoral'... Puisi yang luar biasa!

Tapi katakan pada saya: di mana buktinya? Di mana contoh historis bahwa partisipasi politik mentransformasi manusia menjadi lebih baik? Yang saya lihat justru sebaliknya! Partisipasi politik seringkali memperkuat prasangka, memperdalam kebencian, mempertajam konflik!
Lihatlah revolusi-revolusi yang terinspirasi oleh ide-ide Anda! Revolusi Prancis! Betapa banyak darah yang tertumpah! Betapa banyak 'musuh rakyat' yang dipenggal di bawah guillotine! Dan semua ini dilakukan atas nama 'kehendak umum'!

"The classical theory of democracy... attributed to the electorate an altogether unrealistic degree of initiative which practically amounted to ignoring leadership" [Teori klasik soal demokrasi menaruh harapan berlebihan pada pemilih, seolah mereka punya inisiatif besar sendiri. Padahal, itu sama saja dengan menutup mata terhadap peran penting para pemimpin politik.] (Schumpeter, Capitalism, Socialism and Democracy 270).

Realitasnya, partisipasi politik TIDAK mentransformasi manusia menjadi malaikat. Justru sebaliknya: politik seringkali mengeluarkan sisi terburuk dari manusia. Kebencian, iri hati, keserakahan, haus kekuasaan. Dan dalam kerumunan massa, dalam majelis langsung yang Anda impikan, sisi terburuk ini menjadi-jadi. Massa bisa menjadi buas. Massa bisa menghakimi tanpa proses. Massa bisa membunuh tanpa rasa bersalah!

Saya bukan mengatakan bahwa demokrasi tidak berharga. Saya mengatakan bahwa kita harus REALISTIS tentang apa itu demokrasi. Demokrasi adalah mekanisme untuk mengganti pemerintah tanpa pertumpahan darah. Demokrasi adalah sistem di mana para elit bersaing untuk mendapatkan dukungan rakyat. Demokrasi BUKAN transformasi manusia menjadi warga negara ideal. Demokrasi hanyalah cara untuk mengelola konflik dan pergantian kekuasaan secara damai!"

TOGOG
 
(yang sedari tadi diam, tiba-tiba berdiri dan berbicara dengan suara yang dalam dan bergema):

"Tuan Schumpeter... Togog menghormati kejujuran Tuan. Tapi Togog ingin bertanya: jika demokrasi hanya sekadar mekanisme untuk mengganti elit secara damai... apa artinya bagi Togog? Bagi Bilung? Bagi rakyat kecil yang tidak akan pernah menjadi bagian dari elit?
Apakah hidup kami hanya bernilai sebagai pemilih setiap empat atau lima tahun? Apakah suara kami hanya penting ketika para elit membutuhkan legitimasi? Setelah itu, apakah kami hanya perlu diam, bekerja, membayar pajak, dan berharap bahwa para elit tidak terlalu rakus?

Tuan Rousseau mungkin naif. Tapi setidaknya Tuan Rousseau PERCAYA pada kami. Setidaknya Tuan Rousseau berpikir bahwa Togog dan Bilung bisa menjadi lebih dari sekadar pemilih. Setidaknya Tuan Rousseau melihat kami sebagai MANUSIA, bukan sebagai angka dalam kalkulasi politik.

Tuan Locke juga percaya pada kami, setidaknya, pada hak kami untuk memberontak jika pemerintah menjadi terlalu zalim. Itu adalah pengakuan bahwa kami memiliki martabat, bahwa kami bukan sekadar budak.

Tapi Tuan Schumpeter... Tuan tidak percaya pada kami. Tuan melihat kami sebagai massa yang irasional, yang mudah dimanipulasi, yang tidak mampu membuat keputusan politik yang baik. Tuan mereduksi demokrasi menjadi prosedur, dan warga negara menjadi konsumen politik. Apakah ini visi yang layak dipertahankan?"

SCHUMPETER
 
(terdiam, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak goyah):

"Togog... Anda membuat saya merasa... tidak nyaman. Mungkin Anda benar. Mungkin saya terlalu sinis. Mungkin saya telah kehilangan sesuatu yang penting dalam usaha saya untuk menjadi 'realistis'.

Tapi izinkan saya membela diri. Saya tidak mengatakan bahwa rakyat TIDAK BERHARGA. Saya mengatakan bahwa ekspektasi kita terhadap rakyat harus REALISTIS. Jika kita mengharapkan rakyat untuk menjadi filsuf-raja yang selalu memikirkan kebaikan bersama, kita akan kecewa. Dan kekecewaan itu bisa berbahaya, ia bisa mengarah pada sinisme total, pada penolakan terhadap demokrasi itu sendiri.

Saya percaya pada demokrasi. Sungguh, saya percaya. Tapi saya percaya pada demokrasi sebagai METODE, bukan sebagai AGAMA. Demokrasi adalah cara untuk memilih pemimpin dan mengganti mereka secara damai. Itu sudah cukup. Itu sudah LEBIH dari cukup. Itu sudah merupakan pencapaian peradaban yang luar biasa!

Tidak perlu menambahkan harapan-harapan utopis tentang transformasi manusia. Tidak perlu membebani demokrasi dengan tugas untuk menciptakan 'manusia baru' yang bebas dari egoisme. Cukup biarkan demokrasi menjadi apa adanya: cara untuk mengelola kekuasaan tanpa saling membunuh."

BABAK IX: MENUJU SINTESIS? REFLEKSI TOGOG TENTANG JALAN TENGAH

TOGOG
 
(duduk kembali, wajahnya yang penuh keriput tampak bersinar oleh kebijaksanaan yang aneh):

"Togog sekarang mengerti posisi kalian bertiga. Dan Togog bisa melihat kebenaran dalam masing-masing posisi, serta kelemahannya.

Tuan Rousseau: Anda mengingatkan kami bahwa demokrasi harus memiliki JIWA. Bahwa ia bukan sekadar prosedur, melainkan panggilan moral. Bahwa warga negara bukan sekadar pemilih, melainkan makhluk yang memiliki martabat dan kapasitas untuk memikirkan kebaikan bersama. Kelemahan Anda adalah Anda terlalu optimis tentang kapasitas manusia. Anda meremehkan betapa sulitnya mengatasi egoisme. Anda tidak memberikan cukup perhatian pada bahaya tirani mayoritas yang mengatasnamakan 'kehendak umum'.

Tuan Locke: Anda mengingatkan kami bahwa demokrasi harus memiliki TULANG. Bahwa ia membutuhkan institusi, prosedur, checks and balances. Bahwa kekuasaan harus dibatasi, karena manusia, semua manusia, rentan terhadap godaan kekuasaan. Kelemahan Anda adalah Anda terlalu percaya bahwa checks and balances bisa mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Anda meremehkan bagaimana para elit bisa memanipulasi institusi untuk kepentingan mereka sendiri.

Tuan Schumpeter: Anda mengingatkan kami bahwa demokrasi harus memiliki OTAK. Bahwa ia harus didasarkan pada analisis yang dingin dan realistis tentang bagaimana politik benar-benar bekerja, bukan pada ilusi tentang bagaimana seharusnya ia bekerja. Kelemahan Anda adalah Anda mereduksi demokrasi menjadi sekadar prosedur. Anda kehilangan dimensi moral dan aspirasional dari demokrasi. Anda menyerah pada elitisme dan menerima bahwa rakyat biasa tidak akan pernah benar-benar berdaulat.

Togog sekarang ingin mengajukan sebuah pertanyaan: mungkinkah kita mengambil yang terbaik dari masing-masing posisi? Mungkinkah kita membangun demokrasi yang memiliki JIWA dari Rousseau, TULANG dari Locke, dan OTAK dari Schumpeter?
Sebuah demokrasi yang mengakui bahwa rakyat memiliki kapasitas untuk menjadi warga negara yang bermoral, tapi juga realistis tentang keterbatasan manusia?

Sebuah demokrasi yang memiliki institusi yang kuat untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, tapi juga membuka ruang bagi partisipasi langsung rakyat?

Sebuah demokrasi yang dipimpin oleh para pemimpin yang kompeten, tapi para pemimpin itu benar-benar bertanggung jawab kepada rakyat, bukan hanya setiap empat atau lima tahun, tapi setiap saat?"

BILUNG
 
(menarik lengan Togog, berbisik):

"Pak Togog, maaf mengganggu. Tapi bukankah itu yang selalu dibilang oleh Eyang Semar? Tentang 'Manunggaling Kawula Gusti'? Bahwa pemimpin dan rakyat harus menyatu? Bukan berarti rakyat yang memerintah, bukan juga pemimpin yang berkuasa mutlak. Tapi keduanya berjalan bersama?"

TOGOG
 
(menepuk kepala Bilung, tersenyum bangga):

"Kau benar, Bilung. Untuk sekali ini, kau benar."

ROUSSEAU
 
(merenung, lalu berbicara dengan suara pelan):

"'Manunggaling Kawula Gusti'... Penyatuan rakyat dan pemimpin... Itu menarik. Dalam konsepku tentang kedaulatan rakyat, sebenarnya tidak ada pemisahan antara rakyat dan pemimpin. Rakyat ADALAH pemimpin. Kedaulatan tidak bisa didelegasikan. Pemerintah hanyalah pelaksana dari kehendak umum yang ditetapkan oleh rakyat.

Tapi aku mengakui, dalam masyarakat yang besar dan kompleks, rakyat tidak bisa setiap saat berkumpul. Harus ada semacam... 'kawula' yang menjalankan pemerintahan sehari-hari. Tapi mereka harus benar-benar menjadi 'kawula', pelayan, bukan 'gusti', tuan."

LOCKE
 
(mengangguk):

"Dan di situlah checks and balances penting. Untuk memastikan bahwa para 'kawula' tidak berubah menjadi 'gusti'. Tapi aku juga mengakui bahwa checks and balances saja tidak cukup. Harus ada partisipasi aktif dari rakyat. Harus ada civil society yang kuat. Harus ada pers yang bebas. Harus ada pendidikan yang membebaskan."

SCHUMPETER
 
(tertawa kecil, tapi kali ini tawanya lebih hangat, kurang sinis):

"Dan harus ada pengakuan bahwa kepemimpinan itu penting. Bahwa seseorang harus membuat keputusan. Bahwa demokrasi tidak berarti bahwa semua orang terlibat dalam semua keputusan. Tapi juga pengakuan bahwa para pemimpin itu harus terus-menerus diingatkan, seperti yang dilakukan Togog pada majikan raksasanya, bahwa kekuasaan mereka adalah titipan, bahwa mereka harus mempertanggungjawabkannya, bahwa ada suara-suara yang harus mereka dengarkan meskipun suara-suara itu tidak memiliki kekuatan politik yang besar."

TOGOG
 
(berdiri, membungkuk hormat kepada ketiga filsuf itu):

"Tuan-tuan... Togog hanyalah seorang abdi tua. Togog tidak tahu apakah sintesis ini mungkin. Togog hanya tahu bahwa di dunia wayang, pertunjukan terus berlanjut. Lakon berganti lakon. Dalang berganti dalang. Tapi selalu ada Togog. Selalu ada Bilung. Selalu ada suara-suara yang mengingatkan, mengkritik, mempertanyakan.

Mungkin, mungkin, itulah esensi demokrasi yang sejati. Bukan prosedur. Bukan institusi. Tapi KESEDIAAN UNTUK MENDENGARKAN. Kesediaan untuk mendengarkan suara-suara yang berbeda. Terutama suara-suara yang lemah. Suara-suara yang tidak populer. Suara-suara yang mengganggu kenyamanan kita.

Tuan Rousseau mengajarkan kami untuk mendengarkan 'kehendak umum'. Tuan Locke mengajarkan kami untuk mendengarkan 'hak-hak individu'. Tuan Schumpeter mengajarkan kami untuk mendengarkan 'realitas'. Tapi Togog ingin menambahkan: kita juga harus mendengarkan 'hati nurani'. Hati nurani yang ada dalam diri setiap manusia, bahkan dalam diri para raksasa yang paling jahat sekalipun.

Dan di situlah letak tugas Togog. Togog akan terus menjadi pengingat. Togog akan terus menjadi suara yang tidak didengarkan. Tapi Togog tidak akan berhenti. Karena siapa tahu... suatu hari nanti... seseorang akan mendengarkan."

EPILOG: TOGOG, BILUNG, DAN KEHIDUPAN YANG TERUS BERJALAN

Kabut waktu kembali berputar. Ruangan tanpa dinding itu mulai memudar. Rousseau, Locke, dan Schumpeter mulai menghilang, kembali ke zaman mereka masing-masing. Yang tertinggal hanyalah Togog dan Bilung, duduk bersila di atas tanah kosong.

BILUNG
 
(setelah keheningan panjang):

"Pak... Apa yang kita dapat dari perdebatan tadi? Aku masih bingung. Mereka bertiga pintar-pintar semua. Tapi kok mereka tidak sepakat? Terus mana yang benar?"

TOGOG
 
(tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang botak):

"Bilung, Bilung... Kau masih muda. Masih berpikir bahwa dalam hidup ini selalu ada yang benar dan yang salah. Hitam dan putih. Tapi dunia ini penuh warna abu-abu. Kebenaran itu seperti kunang-kunang di malam hari. Ia berkelap-kelip. Sekejap terlihat, sekejap hilang.
Tuan Rousseau benar: manusia harus berusaha menjadi warga negara yang baik, yang memikirkan kepentingan bersama. Tapi Tuan Locke juga benar: manusia itu lemah, dan karena itu kekuasaan harus dibatasi. Dan Tuan Schumpeter juga benar: dalam praktiknya, demokrasi selalu dikelola oleh segelintir orang.

Tapi ada satu hal yang mereka tidak cukup tekankan: demokrasi bukan hanya tentang siapa yang berkuasa dan bagaimana keputusan dibuat. Demokrasi adalah tentang BAGAIMANA KITA MEMPERLAKUKAN SESAMA MANUSIA. Apakah kita mendengarkan mereka? Apakah kita menghormati mereka? Apakah kita memberi mereka ruang untuk berbicara, meskipun kita tidak setuju dengan mereka?

Itulah pelajaran yang Togog dapat hari ini. Dan itulah yang akan Togog bawa pulang. Kepada para raksasa yang Togog layani. Kepada siapa pun yang mau mendengarkan."

BILUNG
 
(mengangguk, meskipun wajahnya masih menunjukkan kebingungan):

"Jadi... kita akan terus menjadi abdi raksasa? Kita tidak akan mencoba mengubah sistem?"

TOGOG
 
(berdiri, merentangkan tangannya yang kurus):

"Kita akan terus melakukan apa yang selalu kita lakukan, Bilung. Kita akan mengingatkan. Kita akan mengkritik. Kita akan menjadi suara hati nurani, meskipun tidak ada yang mendengarkan. Karena siapa tahu... Siapa tahu suatu hari nanti, suara kita akan membuat perbedaan.

Dan ingatlah, Bilung: dalam setiap lakon wayang, selalu ada Togog dan Bilung. Selalu ada suara yang mengingatkan bahwa kekuasaan harus digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kepentingan pribadi. Selalu ada suara yang mempertanyakan: 'Apakah ini adil? Apakah ini bijaksana? Apakah ini akan membawa kebahagiaan bagi rakyat?'

Mungkin, mungkin, itulah demokrasi yang sejati. Bukan tentang sistem. Bukan tentang prosedur. Tapi tentang KESEDIAAN UNTUK TERUS BERTANYA. Tentang KESEDIAAN UNTUK TERUS MENDENGARKAN. Tentang KESEDIAAN UNTUK TERUS MENGINGATKAN.

Dan sekarang, ayo pulang. Malam sudah larut. Besok kita harus kembali mengabdi pada majikan kita. Siapa tahu besok adalah harinya ketika nasihat kita akhirnya didengarkan."
Togog dan Bilung berjalan menjauh, dua sosok kecil yang hilang dalam kabut waktu. Tapi suara mereka, suara pengingat, suara hati nurani, terus bergema. Mungkin tidak didengarkan. Tapi setidaknya, ia ada. Dan selama ia ada, masih ada harapan.

TAMAT


REFERENSI

Locke, John. A Letter Concerning Toleration. 1689.
Locke, John. An Essay Concerning Human Understanding. 1689.
Locke, John. Some Thoughts Concerning Education. 1693.
Locke, John. Two Treatises of Government. 1689.
Rousseau, Jean-Jacques. Emile, or On Education. 1762.
Rousseau, Jean-Jacques. The Social Contract. 1762.
Schumpeter, Joseph. Capitalism, Socialism and Democracy. 1942.
Catatan
Dialog imajiner ini disusun berdasarkan pemikiran asli dari Rousseau, Locke, dan Schumpeter sebagaimana tercermin dalam karya-karya primer mereka. Karakter Togog dan Bilung diadaptasi dari tradisi pewayangan Jawa. Interpretasi dan sintesis yang dihadirkan bersifat fiksional dan dimaksudkan sebagai refleksi filosofis, bukan representasi akurat dari pandangan masing-masing tokoh sejarah.


Sinopsis


Sebuah perdebatan abadi tentang makna demokrasi dihadirkan dalam dialog imajiner yang mempertemukan tiga filsuf politik besar Eropa dengan satu suara dari dunia wayang Nusantara. Jean-Jacques Rousseau, dengan semangat militannya, membela demokrasi langsung: kedaulatan sejati tidak bisa diwakilkan, dan warga negara harus hadir sendiri membentuk kehendak umum. John Locke menawarkan demokrasi perwakilan sebagai jalan tengah yang realistis, rakyat memilih wakil, konstitusi membatasi kekuasaan, dan checks and balances mencegah tirani. Sementara itu, Joseph Schumpeter membongkar kedua ilusi itu dengan diagnosa tajam: demokrasi modern tak lebih dari kompetisi elite politik memperebutkan suara rakyat yang sering kali irasional dan mudah dimanipulasi.

Di tengah pertarungan argumen yang sengit, hadir Togog, punakawan tua pengabdi para raksasa dalam tradisi pewayangan Jawa. Dengan kearifan sederhana namun menusuk, ia membongkar kelemahan masing-masing teori: idealisme Rousseau yang rawan menjadi tirani mayoritas, optimisme Locke terhadap institusi yang mudah dibajak elite, dan sinisme Schumpeter yang menyerah pada elitisme. Togog mengingatkan bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur, melainkan kesediaan untuk mendengarkan suara-suara kecil yang sering terpinggirkan. Dialog ini tidak menawarkan jawaban final, melainkan laboratorium pemikiran tentang bagaimana demokrasi bisa memiliki jiwa moral, tulang institusional, dan otak realistis, tanpa kehilangan hati nurani. </sb>

Jika Anda perlu file PDF artikel ini, silakan unduh di:

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama