Ini adalah sebuah novel filsafat romantis. Pembaca yang budiman, jika Anda mengharapkan buku sejarah, silakan letakkan naskah ini dan carilah lontar-lontar kuno di perpustakaan. Jika Anda mengharapkan buku filsafat murni, mungkin lebih baik Anda membaca langsung Politics karya Aristoteles (meskipun saya jamin, terjemahan bahasa Jawanya belum tentu lebih mudah dipahami daripada cerita ini). Buku ini bukan salah satu dari keduanya. Buku ini adalah, maafkan saya, sebuah "lelucon serius" yang lahir dari kegelisahan seorang pengagum wayang yang juga kebetulan membaca banyak buku filsafat.
Kisah yang Anda pegang ini adalah sebuah eksperimen: mempertemukan dunia pewayangan Nusantara dengan logika Barat, memaksa para kesatria dan dewa-dewi duduk di bangku kuliah Aristoteles, dan, yang paling penting, menertawakan diri kita sendiri. Karena bukankah politik yang paling kejam seringkali bisa dilucuti oleh tawa? Dan bukankah kebodohan yang paling keras kepala seringkali membutuhkan logika yang lebih keras lagi?
Karna, tokoh yang selama ini kita kenal sebagai "kumbakarna" atau "centeng" Duryudana, saya angkat menjadi simbol transformasi: dari otot menjadi otak, dari alat menjadi pemikir, dari pengikut menjadi pemimpin. Perjalanannya dari Astina ke Athena dan kembali lagi adalah cermin dari perjalanan yang kita semua, sebagai bangsa, sebagai masyarakat, mungkin perlu lakukan: berani belajar dari luar, tetapi tidak kehilangan akar; berani mengkritik tradisi, tetapi tidak membuang kebijaksanaan; berani mencintai, tetapi tidak mengorbankan keadilan.
Tentu saja, semua tokoh dalam buku ini, baik yang bernama Karna, Sengkuni, Duryudana, maupun Dursilawati, adalah fiksi belaka. Tidak ada kemiripan dengan tokoh pewayangan yang sesungguhnya, atau jika ada, itu hanya kebetulan belaka (dan mungkin karena saya terlalu sering menonton wayang kulit).
Selamat membaca, selamat tertawa, dan jika Anda menemukan sebuah silogisme yang mengganjal, ingatlah: kebenaran sejati selalu bisa dijelaskan dengan jelas. Jika sesuatu hanya bisa dijelaskan dengan bahasa rumit dan berbelit-belit, mungkin memang tidak ada isinya.
CopyRight
Prakata
DAFTAR ISI
Babak 1 Dua Gigi Yuyutsu dan Sebuah Kesalahpahaman Entomologis
Babak 2 Seni Memutar Otak di Bawah Tekanan Tinju
Babak 3 Persiapan Keberangkatan dan Pelajaran Kilat Sebelum Terbang
Babak 4 Kelas Bisnis Qatar Airways dan Pramugari Lebanon
Babak 5 Kedatangan di Athena dan Kesan Pertama pada Lyceum
Babak 6 Peripatetik Perdana dan Tes Masuk ala Ki Aristoteles 53
Babak 7 Abiogenesis Spontanea, Ketiga Daging Busuk Menjadi Guru Politik
Babak 8 Retorika, Ethos, Pathos, Logos, dan Perburuan Si Sophis Tua
Babak 9 Praktikum Retorika, Debat Latihan, dan Kekalahan Memalukan
Babak 10 Silogisme, Matematika Pikiran yang Tak Terbantahkan
Babak 11 Silogisme Lanjutan, Membongkar Premis Tersembunyi
Babak 12 Kategorisari, Seni Meletakkan Masalah pada Kotaknya
Babak 13 Etika, Mencari Jalan Tengah di antara Dua Kutub
Babak 14 Politeia versus Demokrasi, Jalan Ketiga yang Mengejutkan
Babak 15 Ujian Akhir dan Permintaan 100 Kilogram Emas
Babak 16 Boarding dan Secangkir Sampanye
Babak 17 Pengakuan di Ketinggian 35.000 Kaki
Babak 18 Argumen Pertama Yuyutsu, Senjata Konta dan Kemustahilan Membunuh Jayadrata
Babak 19 Argumen Kedua Yuyutsu, Dursilawati Bukanlah Objek yang Bisa Diklaim
Babak 20 Argumen Ketiga Yuyutsu, Diplomasi, Bukan Senjata
Babak 21 Babat Alas di Mentaok dan Mimpi tentang Kerajaan Baru
Babak 22 Argumen Pamungkas Yuyutsu, Cinta Sejati Tidak Dimulai dengan Pembunuhan
Babak 23 Pendaratan dan Sebuah Surat untuk Dursilawati
Babak 24 Kedatangan di Istana dan Wajah-wajah yang Tidak Terduga
Babak 25 Tantangan Diumumkan dan Wajah-wajah Memerah
Babak 26 Persiapan Debat dan Penentuan Aturan Main
HARI PERTAMA DEBAT
Babak 27 Tema Pertama, Politeia versus Demokrasi
Babak 28 Tema Kedua Persamaan Gender
Babak 29 Tema Ketiga Emansipasi Perempuan
Babak 30 Tema Keempat – Silogisme Induktif dan Deduktif, Pertarungan Logika
HARI KEDUA DEBAT
Babak 31 Tema Kelima – Klasifikasi Flora dan Fauna
Babak 32 Tema Keenam – Bentuk-bentuk Negara Terbaik dan Terburuk
HARI KETIGA DEBAT
Babak 33 Tema Ketujuh Bentuk Negara Paling Realistis untuk Negeri Pewayangan Internasional
Babak 34 Tema Kedelapan Apakah Dewa Itu Riil atau Sekadar Mitos?
Babak 35 Tema Kesembilan Mengapa Athena Lebih Maju Ketimbang Sparta
Babak 36 Tema Kesepuluh Mengapa Proyek Makan Siang Gratis di Negeri Mahjong Menuai Kritik
Babak 37 Keputusan Duryudana dan Nasib 100 Kilogram Emas ANTAM
Babak 38 Surat yang Ditulis Malam Itu
Babak 39 Karna dan Dursilawati Dipanggil oleh Duryudana
Kisah yang Anda pegang ini adalah sebuah eksperimen: mempertemukan dunia pewayangan Nusantara dengan logika Barat, memaksa para kesatria dan dewa-dewi duduk di bangku kuliah Aristoteles, dan, yang paling penting, menertawakan diri kita sendiri. Karena bukankah politik yang paling kejam seringkali bisa dilucuti oleh tawa? Dan bukankah kebodohan yang paling keras kepala seringkali membutuhkan logika yang lebih keras lagi?
Karna, tokoh yang selama ini kita kenal sebagai "kumbakarna" atau "centeng" Duryudana, saya angkat menjadi simbol transformasi: dari otot menjadi otak, dari alat menjadi pemikir, dari pengikut menjadi pemimpin. Perjalanannya dari Astina ke Athena dan kembali lagi adalah cermin dari perjalanan yang kita semua, sebagai bangsa, sebagai masyarakat, mungkin perlu lakukan: berani belajar dari luar, tetapi tidak kehilangan akar; berani mengkritik tradisi, tetapi tidak membuang kebijaksanaan; berani mencintai, tetapi tidak mengorbankan keadilan.
Tentu saja, semua tokoh dalam buku ini, baik yang bernama Karna, Sengkuni, Duryudana, maupun Dursilawati, adalah fiksi belaka. Tidak ada kemiripan dengan tokoh pewayangan yang sesungguhnya, atau jika ada, itu hanya kebetulan belaka (dan mungkin karena saya terlalu sering menonton wayang kulit).
Selamat membaca, selamat tertawa, dan jika Anda menemukan sebuah silogisme yang mengganjal, ingatlah: kebenaran sejati selalu bisa dijelaskan dengan jelas. Jika sesuatu hanya bisa dijelaskan dengan bahasa rumit dan berbelit-belit, mungkin memang tidak ada isinya.
DAFTAR ISI
ImprintCopyRight
Prakata
DAFTAR ISI
Babak 1 Dua Gigi Yuyutsu dan Sebuah Kesalahpahaman Entomologis
Babak 2 Seni Memutar Otak di Bawah Tekanan Tinju
Babak 3 Persiapan Keberangkatan dan Pelajaran Kilat Sebelum Terbang
Babak 4 Kelas Bisnis Qatar Airways dan Pramugari Lebanon
Babak 5 Kedatangan di Athena dan Kesan Pertama pada Lyceum
Babak 6 Peripatetik Perdana dan Tes Masuk ala Ki Aristoteles 53
Babak 7 Abiogenesis Spontanea, Ketiga Daging Busuk Menjadi Guru Politik
Babak 8 Retorika, Ethos, Pathos, Logos, dan Perburuan Si Sophis Tua
Babak 9 Praktikum Retorika, Debat Latihan, dan Kekalahan Memalukan
Babak 10 Silogisme, Matematika Pikiran yang Tak Terbantahkan
Babak 11 Silogisme Lanjutan, Membongkar Premis Tersembunyi
Babak 12 Kategorisari, Seni Meletakkan Masalah pada Kotaknya
Babak 13 Etika, Mencari Jalan Tengah di antara Dua Kutub
Babak 14 Politeia versus Demokrasi, Jalan Ketiga yang Mengejutkan
Babak 15 Ujian Akhir dan Permintaan 100 Kilogram Emas
Babak 16 Boarding dan Secangkir Sampanye
Babak 17 Pengakuan di Ketinggian 35.000 Kaki
Babak 18 Argumen Pertama Yuyutsu, Senjata Konta dan Kemustahilan Membunuh Jayadrata
Babak 19 Argumen Kedua Yuyutsu, Dursilawati Bukanlah Objek yang Bisa Diklaim
Babak 20 Argumen Ketiga Yuyutsu, Diplomasi, Bukan Senjata
Babak 21 Babat Alas di Mentaok dan Mimpi tentang Kerajaan Baru
Babak 22 Argumen Pamungkas Yuyutsu, Cinta Sejati Tidak Dimulai dengan Pembunuhan
Babak 23 Pendaratan dan Sebuah Surat untuk Dursilawati
Babak 24 Kedatangan di Istana dan Wajah-wajah yang Tidak Terduga
Babak 25 Tantangan Diumumkan dan Wajah-wajah Memerah
Babak 26 Persiapan Debat dan Penentuan Aturan Main
HARI PERTAMA DEBAT
Babak 27 Tema Pertama, Politeia versus Demokrasi
Babak 28 Tema Kedua Persamaan Gender
Babak 29 Tema Ketiga Emansipasi Perempuan
Babak 30 Tema Keempat – Silogisme Induktif dan Deduktif, Pertarungan Logika
HARI KEDUA DEBAT
Babak 31 Tema Kelima – Klasifikasi Flora dan Fauna
Babak 32 Tema Keenam – Bentuk-bentuk Negara Terbaik dan Terburuk
HARI KETIGA DEBAT
Babak 33 Tema Ketujuh Bentuk Negara Paling Realistis untuk Negeri Pewayangan Internasional
Babak 34 Tema Kedelapan Apakah Dewa Itu Riil atau Sekadar Mitos?
Babak 35 Tema Kesembilan Mengapa Athena Lebih Maju Ketimbang Sparta
Babak 36 Tema Kesepuluh Mengapa Proyek Makan Siang Gratis di Negeri Mahjong Menuai Kritik
Babak 37 Keputusan Duryudana dan Nasib 100 Kilogram Emas ANTAM
Babak 38 Surat yang Ditulis Malam Itu
Babak 39 Karna dan Dursilawati Dipanggil oleh Duryudana
Penulis
Seta Basri
Editor
Tim ALGACAN Self Publishing
vii ; 701 hlm.; 14 x 20 cm
SINOPSIS
Karna adalah "centeng", julukan yang melekat padanya selama bertahun-tahun mengabdi sebagai tukang pukul Duryudana. Meskipun putra Batara Indra dan kakak tertua Pandawa, ia hanya dianggap alat: dipanggil saat ada ancaman, diabaikan saat ada rapat politik. Namun sebuah kesalahpahaman entomologis, di mana Yuyutsu menyebut filsuf Aristoteles tetapi Karna mendengar "nyamuk Anopeles", mengubah segalanya. Setelah meninjunya, Yuyutsu mengirim Karna belajar ke Athena selama sembilan bulan.
Kembali sebagai murid Ki Aristoteles, Karna tidak lagi membawa pedang, ia membawa logika, retorika, dan silogisme. Di Astina, ia menantang Sengkuni dalam debat publik sepuluh tema besar: dari politeia versus demokrasi, persamaan gender, emansipasi, hingga bentuk negara paling realistis untuk negeri pewayangan. Debat tiga hari itu mengguncang istana, membongkar korupsi seratus kilogram emas ANTAM, mengasingkan Sengkuni, dan, yang tak terduga, mempertemukan Karna dengan Dursilawati, adik Duryudana yang selama ini bersembunyi di balik tirai.
Surat-surat berbalas di tengah reformasi. Cinta tumbuh di antara logika dan keberanian. Namun Duryudana memberi syarat: mereka harus membuktikan diri dengan memimpin provinsi termiskin, Waralaba Province. Tiga tahun. Target mustahil. Jika berhasil, restu pernikahan mereka akan diberikan. Buku pertama ini adalah awal dari petualangan intelektual, politik, dan romansa, di mana otak ternyata lebih tajam dari pedang, dan cinta sejati tidak pernah dimulai dengan pembunuhan. </sb>

Posting Komentar